mengartikan
pelukan
ingat
malam itu: aku memelukmu. sebuah cara mengucap cinta tanpa kata-kata. tubuhku
beku dan suaraku sepi seperti ditelan bumi. tapi saksikan, dadaku berteriak.
seolah ada sesuatu yang retak. di dalamnya ada diriku yang lain berdoa. semoga
aku bagian dari kamu.
aku sengaja mencintaimu untuk kau
sia-siakan
aku sengaja mencintaimu untuk kau sia-siakan
seumpama jendela yang setia mengamatimu
melangkah pergi dan kembali
meski yang kau tuju adalah pintu
cukup aku menjadi jerawat
yang menolak tumbuh di wajahmu
agar kau tak malu dan berpaling
saat berhadapan dengan cermin dan orang lain
aku sengaja mencintaimu di dalam masa lalu yang jauh
masa di mana tak mungkin jemarimu menyentuh
membicarakan
hari ini
sejak
kamu ambil hatiku, aku merasakan segalanya. tak ada lagi kata ‘pinjam’ mulai
saat ini. buku-buku itu juga milikmu. lengan yang merengkuhmu seperti merengkuh
diri sendiri. mata yang menatapmu adalah kebutaanku terhadap orang lain.
hari
ini aku meniadakan diri. kamu meniadakan dirimu. untuk satu, kita perlu hilang
di tubir waktu. lalu hadir sebagai diri lain. bukan angin, bukan aku juga bukan
kamu.
mempertanyakan
keabadian
apa
yang dipersoal? segalanya kita kenal dan tak ada yang bakal kekal. sapamu
kemarin hanya angin. bumi yang bijak suatu hari akan retak. kita memang pernah
membaca madah. puisi sapardi tentang waktu yang fana dan kita abadi. tapi usia
manusia tak bisa setua puisi atau waktu itu sendiri.
apa
yang akan kamu abadikan? segalanya meluncur deras bagai hujan. atau bagai
sungai yang tawar cepat lepas ke asin lautan.
bukan
aku mengutukmu jadi bongkahan batu.
makhluk dungu yang tak pandai mengenang sesuatu. hanya, kita lahir untuk
titik nadir. kita tenggelam dalam ada tapi tak sungguh-sungguh ada.
belajar
yang lain
dalam
bahasan lain, otak kita terbagi jadi tiga. pertama untuk mengenang, kedua untuk
menjalani hari ini, ketiga untuk merencanakan masa depan. aku bermimpi
kehilangan otak pertama dan kamu membicarakan tak punya otak ketiga. kita
menjalani hari ini di ruang dan waktu yang sama.
selamat malam, istri orang
selamat
malam, istri orang
ada
gelombang di matamu
seperti
ingin tumpah ke daratan
apakah
hari-hari kau jajaki tak sederhana
seperti
hari yang kumiliki
pagi
dengan kopi di meja
menghadap
jendela
dan
buku-buku yang
menceritakan
banyak hal
selamat
malam, istri orang
begitu
tua wajahmu
lebih
tua ketimbang usianya
apakah
kenangan begitu berat kautanggung:
ketika
itu pernah aku jadi pacarmu
ketika
itu pernah aku datang sebagai tamu
di
hari
pernikahanmu
selamat
malam
apalah arti pernikahan dengan
lain orang
jika
aku mungkin masih kau kenang?
nama lain kesedihan
/1/
nama lain dari kesedihan
adalah air mata perempuan
yang lahir dan mengalir
dari dada remuk redam
jika ia sungai
luka-luka akan diseretnya
dengan arus rumit
menuju ke arah yang
menanam rasa sakit
/2/
nama lain dari kesedihan
adalah penantian panjang
di hadapannya: waktu melambat
bosan dan gelisah meledak
serpih-perihnya terserak
menyesaki ruang tunggu
sementara kabar darimu
telah bosan mengetuk pintu telingaku
/3/
nama lain dari kesedihan
adalah kesendirian
maafkan
maafkan kenakalanku:
mencuri namamu
dan kuserahkan
kepada tuhan
maafkan kemalasanku:
menyia-nyiakan waktu
dengan tidak mengerjakan apa-apa
kecuali duduk di sampingmu
dan membicarakan segalanya
maafkan kebodohanku:
menganggap semua ilmu pengetahuan
tidak perlu kutahu
kecuali dirimu
dingin benar udara di sini
dingin benar udara di sini
di luar, pohon-pohon berlarian
seperti ke arah masa silam
masa di mana ketakutan-ketakutan
kualamatkan
di kaca jendela kereta
embun menyublim
dan aku di dalamnya
membeku
sambil menatapmu
sedang memandang
kelebat pohon-pohon itu
kau berkata pelan
ketika kereta baru setengah
jam berjalan:
rebahlah di pundakku
pakailah jaketmu
udara dari ac
jauh lebih berbahaya
ketimbang jatuh cinta
aku tak butuh memakai jaket
atau merebahkan kepala
aku ingin menciummu
dan menantang bahaya dari
keduanya:
jatuh cinta
dingin udara
mencemburui
waktu
aku lelaki pencemburu, perempuanku
terlebih kepada waktu
ia mengubah bentuk wajahmu jadi tua
tulang-tulangmu jadi renta
kakimu jadi lelah melangkah
sedang ia masih berlari dan terus berlari
seperti anak kecil
yang tak mengerti
bagaimana perihnya menjadi dewasa
orang-orang berusaha menghitung waktu
menciptakan jam dan tanggalan
dan perhitungan-perhitungan lain
jam di lenganmu mati
dan kau tak menemukan apa-apa
selain semua itu sia-sia
tanggalan di rumahmu
selalu tidak mampu menghitung
kurun waktu dua tahun
atau lebih
aku bisa mencegah siapa pun
yang ingin merebutmu
tapi bagaimana jika itu waktu?
ia bisa saja mendatangimu
sebagai ketiadaan
menyeretmu perlahan-lahan
ia bisa saja mendatangi kita
sebagai kelupaan
kau melupakanku dan aku melupakanmu
atas dasar terlalu berat mengingat

Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di
Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan puisi bagi remaja DIY.
Tulisannya pernah di koran Tempo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Republika,
Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Lampung Pos, dll.



kereen
kalimatnya sederhana tapi bagus dan gak kehilangan makna