Perkembangan naskah lakon yang diterbitkan menjadi sebuah buku dalam
satu tahun dapat dikatakan sangat lemah. Tak banyak penerbit, baik indie maupun
mayor, yang mau bergerak di lingkaran yang sepi pembeli. Selain itu, seorang
penulis lakon drama juga harus memutar otak bagaimana caranya agar naskah yang
ada bisa enak dibaca. Sebab, di dalam teks lakon, tokoh-tokoh yang dihadirkan untuk
sebuah pementasan harus mampu hidup
dengan tanda yang dapat dihapus dan menggerakkan sebuah hubungan yang dalam
antara premis dan lapis.

Tapi tidak. Tidak untuk premis dan lapis yang dibawa buku naskah lakon Di Seberang Sana karya Yusril Ihza. Ia justru hidup dari naskah yang
sudah ada: Bulan Bujur Sangkar karya
Iwan Simatupang. Yang menjadikannya tampak berbeda adalah pergeseran peran
sutradara: bukan lagi sebagai pemegang tunggal pementasan. Ia turut serta
sebagai salah satu tokoh dan hadir sepenuhnya untuk menimbulkan kesan lain agar teks tak hanya bergerak ke satu arah.
Lakon di dalamnya berangkat dari celah latar panggung yang gelap: dalam salah satu
adegan, tokoh Sang Sutradara berusaha menghentikan tokoh Sang Aktor untuk sekali
lagi menggali keaktorannya dan kembali mempertanyakan bagaimana jika ternyata
kematian seorang tokoh bukanlah puncak dari pertunjukan, di balik panggung beberapa
belas menit menjelang pentas dimulai. Dan sialnya, hal itu justru berkembang
menjadi argumen (atau racauan?) yang tidak mudah dipatahkan.
Sang Sutradara menganggap semua itu percuma adanya, sebab dalam naskah
dikatakan, cinta harus memahami bahwa dirinya fana dan
tunggal. Ada gerak lambat yang coba
disampaikan. Ada rasionalitas yang ditunjukkan untuk melahirkan sesuatu. Tapi mungkin
itu belum cukup kuat
untuk mengaitkan iman dengan laku dan kehendak melalui proses “berpikir”. Salah
satu kutipan:
…..
AKTOR
Bulan
Bujur Sangkar mengancamku untuk mengimani sesuatu yang
tidak aku yakini kebenarannya. Bulan
Bujur Sangkar memaksaku untuk mengatakan “Aku membunuh, oleh sebab itu aku ada!”.
SUTRADARA
Apa perlunya kau
benar-benar merasakan kematian atau ingin memotong pembuluh darahmu sendiri
hanya untuk sebuah pertunjukan?
AKTOR
Orang Tua dan kematian,
keduanya bergelayutan di tiang gantungan. Tentang nasib yang ditanggalkan atau
sekadar permainan untuk menghibur kegalauan absurditas selama 60 tahun lamanya.
Itulah aku, sebagai tokoh utama pada pertunjukan malam ini.
…
(hal. 8)
Tampaknya melalui dialog antara Aktor dan Sutradara itu mengatakan bahwa
naskah Bulan Bujur Sangkar karya Iwan
Simatupang, yang akan diperankan,
lahir dalam keadaan absurd. Sebab perlawanan di balik tirai normalnya hanya
bisa dilakukan aktor secara terbatas: dengan diam atau membangunkan rasa takut.
Tapi
di dalam teks, Yusril tidak tertarik untuk memilih
keduanya. Ia malah
meletakkan lakon baru di batas antara yang riil dan yang subtil dari lakon yang
sudah ada.
Lakon Di Seberang Sana tidak
hanya menawarkan kerangka berpikir
tertentu dalam melihat bagaimana jalin-kelindan
antara manusia sebagai pelaku yang berkehendak dengan kenyataan kesehariannya,
tetapi juga hubungan timbal balik
itu bisa seiring dalam upaya
mendialogkan antara gagasan teks
dengan kenyataan dalam kehidupan.
Sebagai orang yang menghidupi teater, Yusril tidak hanya melakukan
strategi “manipulatif” yang artistik, tetapi juga
bagaimana pemikiran tentang pencarian makna dari
kematian yang
memiliki banyak tanda berujung pada kepasrahan diurai sedemikian rupa. Tentu saja, praktik keyakinan semacam itu perlu juga
dibaca sebagai teknik permainan berdasarkan metode dan sistem pementasan.
Coba kita cermati batas antara teks itu kembali. Dengan memandang laku
dengan keraguan, Sang Aktor sadar akan kehidupan di luar teater yang tragis; ia
menganggap Sang Sutradara bukanlah seseorang yang paling tahu tentang peran
yang diciptakannya. Bisa kita lihat, Sang Aktor—sang aktor yang bukan lagi dari naskah Iwan Simatupang—telah melihat dari dekat, bahwa panggung adalah
kontradiksi. Sementara itu Sang Sutradara kita, dalam keyakinannya yang lurus, ia
tak pernah berubah. Tak akan pernah berubah.
Bagian paling ganjil dan menggelikan dalam buku lakon itu adalah dengan menyuguhkan
perbincangan kaku, misalnya, dengan mengutip harakiri untuk berserah pada
kematian dan disambut dialog lempeng adanya—dan di beberapa titik, pembaca pun jadi terjebak pada
keberulangan. Ikatan dialog antar tokoh lebih diperkuat di beberapa tik-tok
sebelum naskah usai. Sebagai contoh kata Sang
Sutradara: “Pada
akhirnya, kau masih belum bisa memaknai kehidupan di atas panggung. Kalau
begitu, aku akan mengakhiri pertunjukan ini tanpa tepuk tangan. Selamat malam.” (hal. 20)
Kenapa dialog antar tokoh yang ditulis seakan-akan bersifat problematis?
Bisa jadi, melalui buku
lakon drama ini, Yusril ingin menjadikan
eksistensi sebagai subjek wacana dan secara bersamaan memberikan kesadaran baru tentang bentuk-bentuk kematian.
Bagaimana pun juga ada sesuatu yang tidak akan selesai, yang menyebabkan lakonnya tidak utuh: motif yang ditawarkan naskah Bulan Bujur
Sangkar sebagai pondasi penciptaan memiliki
standar ganda. Meskipun, saya pikir, itu hanya salah satu sebabnya.
Namun, terlepas dari hal itu, para pengkhusyuk sastra-teater, khususnya
wilayah Jawa Timur, kini setidaknya telah mengantongi satu nama baru dari kota
Surabaya: Yusril Ihza, seorang pemuda yang menulis naskah drama, yang akan
menambah variasi bacaan kita di babak baru percaturan dunia sastra-teater.

Rizki Amir lahir di Sidoarjo, 1995. Terlibat dalam Komunitas Rabo Sore. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Rahasia Pasar (2017). Terpilih sebagai penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2017. Selain menulis, sebagian waktunya juga digunakan untuk berdagang.

1 Komentar