Manna,
lelaki kurus dan pendiam yang selalu memiliki hasil panen terbaik di kampung
kami. Dulunya ia bocah yang sangat menyenangkan dan ceria. Kini,  ia nyaris seperti patung. Hanya sesekali ia
terlihat berbicara pada tanaman-tanamannya.

Langit
ungu tua membuat sore itu tampak murung. Udara kering. Angin berhembus tak
tentu, meniupkan debu-debu. Matahari masih enggan pulang meski langit hitam
mulai bergulung datang. Musim kemarau belum undur. Manna menatap halaman depan
rumahnya yang dipenuhi kuncup-kuncup bulat kemerahan, kuncup-kuncup ranum buah
naga. Beberapa masih merupa kembang dengan kelopak yang gugur di
pangkal-pangkal dahan. Mungkin bulan depan buah-buah naga merah yang tumbuh
lebat itu bisa dipanen. Ia akan memetik satu per satu buah yang ranum itu dengan
gunting besar yang telah ia siapkan.

Manna
suka membaca buku dan bertanam. Kepada dua benda itulah seolah ia bisa tenggelam
kapan saja. Aku masih ingat suatu ketika di masa kanak-kanak, ia membaca buku di
pasar loak, pasar di perbatasan desa. Bapak kadang menyuruhku membeli tembakau
ke pasar. Aku mengajak Manna, Didu, dan Baji. Keramaian pasar membuat kami
selalu merasa harus mengunjunginya, setidaknya dua minggu sekali. Meski Bapak
tidak menyuruh membeli tembakau pun, akhirnya kami akan tetap pergi ke sana.
Sesekali kami menonton sirkus monyet dengan ular yang melingkar-lingkar di
kepala pawangnya. Melihat penjual obat yang menyembuhkan berbagai penyakit
hanya dengan mengoleskan salep atau meminum ramuan yang dijualnya dalam
botol-botol kecil dengan akar-akar di dalamnya. Keramaian itulah yang kami
cari.

Di
pasar kami berpisah, dan berkumpul di tempat pertama, yaitu di mulut pasar, di
dekat kusir-kusir bendi. Manna selalu mendatangi pedagang buku. Ia betah
berjam-jam di lapak buku loak yang sebagian bukunya telah menguning dan apak.
Suatu saat ia membaca buku cerita tentang arwah putri raja yang menjelma ikan
setelah memakan buah merah. Arwah putri raja itu menjelma seekor ikan besar
yang tinggal di dasar laut. Manna tergila-gila pada buku itu hingga sepanjang
jalan pulang ia mengulang-ulang ceritanya. Kami bosan mendengarnya sementara ia
terus nyerocos menceritakan kisah
itu. Satu-satunya orang yang sabar mendengar ceritanya adalah Bu Guru, seorang
pendatang yang juga suka bercerita di depan kelas. Kami selalu menyimak cerita
Bu Guru tentang tempat tinggalnya, atau tentang negeri-negeri lain di luar
sana.

Siang
itu seperti biasa, kami bertemu kembali di mulut pasar. Semua sudah berkumpul,
kecuali Manna. Hari semakin siang, dan kami harus tiba di rumah sebelum Asar. Tapi
aku merasa Manna di lapak buku. Aku putuskan untuk ke sana. Benar  saja, aku melihatnya. Ia gelisah. Matanya
menatap ke arah penjual buku. Dengan cepat ia memasukkan buku ke dalam kausnya
yang lusuh dan kebesaran. Pedagang buku tak mengetahuinya. Ia sedang berbincang
dengan pemilik warung di sebelah lapaknya. Aku nyaris tak percaya Manna mencuri
buku.

Aku
menghampirinya. Ia pucat, dan tanganku ikut  gemetaran. Kami berjalan lurus, tak berani menoleh
ke belakang. Sepanjang perjalanan, aku dan Manna sama-sama bungkam. Hanya Baji
dan Didu yang bercerita tentang peramal yang datang hari itu.

Keesokan
harinya, Manna membawa buku berjudul “Menanam Jagung” ke sekolah. Dari mana kau memperoleh buku itu, Manna? tanya
Bu Guru. Manna diam menunduk. Di kampung kami yang sangat miskin, membeli buku,
sekalipun buku loak adalah hal yang tidak wajar. Kepemilikan buku sangat
mencurigakan. Seolah tahu dari mana buku itu diperoleh, Bu Guru tidak
memarahinya. Baiklah, hari ini kita menanam
jagung bersama-sama.

Bu
Guru  menugaskan setiap anak menggali
tanah dan menanam biji-biji jagung yang telah disiapkan. Setiap anak mendapat
sepuluh bibit jagung. Bergantian kami memupuk dan menyiramnya sebelum dan
setelah pelajaran usai secara bergantian, namun hanya pohon jagung milik Manna
yang tumbuh sempurna. Jagung-jagungnya tumbuh lebat, nyaris tiga hingga empat
pokok jagung di tiap pohonnya. Bu Guru 
memuji hasil panennya. Ia ditugasi menanam jagung di kebun sekolah,
sebidang tanah yang masih kosong di belakang sekolah. Tak hanya jagung, ia juga
menanam cabai, jahe, dan beberapa tanaman lain. Bu Guru  lagi-lagi memujinya. Ia bangga. Sejak saat
itu ia tahu, baginya bertanam adalah sebuah suratan.

Sore
itu langit semakin gelap sempurna. Manna, lelaki pendiam itu masih menatap
halaman depan rumahnya, pada batang-batang buah naga yang kasar dan kersik
berduri itu. Ia takjub, tak menyangka tanaman itu tumbuh dengan cepat. Halaman
yang dulunya lengang menjadi penuh dan gelap. Tanaman itu memenuhi halamannya
dengan kuncup-kuncup merah yang semakin lama semakin membesar. Sebagian
dahannya menjalari pagar dan bahkan beberapa tampak mengoler melintas keluar
pagar. Ia tak henti-hentinya membelalakkan mata setiap kali menatap duri-duri
yang tumbuh di sepanjang dahannya. Tanaman itu tumbuh mendesak ke arah mana
saja. Halaman rumahnya seolah menjadi hutan kecil yang tak terawat.
Batang-batang bersilangan mengabaikan perasaan ngeri yang melapisi dirinya
setiap kali menatap hutan kecil liar di hadapannya.

Ia
ingat kisah yang dibaca dari buku yang dicurinya, putri raja berubah menjadi
ikan setelah memakan buah merah. Ia hidup abadi dalam lautan sebagai ratu para
ikan. Ia ingat hari ketika Bu Guru pergi. Bersama pendatang yang lain Bu Guru
pergi ke arah sungai. Dengan terburu Bu Guru memberikan pesan padanya agar ia
menanam bibit buah merah di halaman sekolah. Tanamlah tanaman berduri di halaman, agar tak lagi mudah orang-orang
merusak tanamanmu. Tanaman berduri itu akan menjagamu.
Bu Guru  berlari ke arah sungai dan menceburkan diri
ke sungai karena kejaran orang-orang. Arus sungai sangat deras. Beberapa kali
penduduk di kampung nyaris mati di batang sungai itu.

Sore
semakin gelap. Manna menutup pintu rapat-rapat. Langit hitam sempurna jatuh di
halaman. Ia tak pernah melupakan hari itu, hari ketika Bu Guru memintanya
mengantarkan jagung pada pedagang buku loak. Bu Guru memintanya memberikan
jagung pada pedagang buku sebagai ganti dari buku yang dicurinya. Guru itu mengajarimu mencuri? tanya
seseorang yang duduk tak jauh dari lapak buku. Mereka memang benar-benar pencuri ulung! Tak hanya tanah dan kebun yang
mereka ambil! Anak-anak kita pun mereka ajari menjadi maling!

Lelaki
itulah yang mengejar Bu Guru hingga ke tubir sungai. Lelaki dengan parang terhunus
yang menghabisi semua tanaman di halaman sekolah. Beberapa hari setelah hari
itu, orang-orang mengejar dan menyerang para pendatang. Lelaki itu pulalah yang
merusak seluruh tanaman Manna. Sejak saat itu Manna menjadi pendiam. Ia hanya
bicara seperlunya saja, dan terkadang kulihat ia berbicara pada
tanaman-tanamannya.

Suatu
ketika ia melihat lelaki itu duduk di pinggir sungai, lelaki yang menghunus
parang dan merusak tanamannya. Lelaki itu sedang menunggui baju-bajunya yang
dijemur di atas semak-semak daun peniti. Manna menghampiri lelaki yang matanya
setengah memejam tertidur itu dan mendorongnya ke arah mata air. Lelaki
setengah tertidur itu jatuh ke arah sungai. Ia yakin arusnya yang deras membuat
lelaki itu tenggelam dalam waktu sekejap. Tak pernah ada orang yang selamat di
arus sederas itu. Di hilir, orang-orang menemukan jenazahnya tiga hari
kemudian. Orang-orang mengatakan ia jatuh ke mata air saat ia mengejar salah
satu pakaian yang tertiup angin.

Angin
sore berdesir kering, menjatuhkan kelopak bunga-bunga. Sesekali buah-buah
mungil yang masih rawan itu bergerak dimainkan angin. Manna menutup pintu,
merebahkan diri di kasur. Ia mengambil buku cerita tentang putri raja yang
berubah menjadi ikan di bawah bantal. Aku tahu, Manna mengambil buku itu saat
mencurinya, dan menyimpannya di punggung, di balik kausnya yang kebesaran. Ia
tidak mengakuinya di depan Bu Guru sebagaimana ia tidak pernah mengakui yang ia
lakukan kepada lelaki itu. Sering ia menghibur diri, bahwa Bu Guru telah
menjelma seekor ikan dan menjadi guru bagi ikan-ikan di sungai, dan lelaki itu
menjadi salah satu muridnya.

Rumah
Ladam, Desember 2017


Karisma Fahmi Y,
lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah
dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah
Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah
Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin
Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi.
Tinggal di Solo. Buku terbarunya Pemanggil
Hujan dan Pembaca Kematian
(Basabasi, 2017), dan satu
cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.