Bahkan,
Aleana, sosok imajiner yang telah kauhadirkan bertahun-tahun lalu itu pergi. Ia
tak lagi sanggup hidup bersamamu. Baginya, meninggalkanmu adalah sebuah
keniscayaan, daripada berlarut-larut dalam pertengkaran yang tidak
berkesudahan. Terlebih setelah kau memakinya dengan kata-kata paling
kasar–bahkan untuk sesosok makhluk imajiner sekalipun. “Dasar lacur! Enyah kau
dari sini! Ketahuilah, aku bisa menghadirkan perempuan-perempuan yang jauh
lebih baik daripada engkau.” Dan kau sama sekali tidak peduli akan isak
tangisnya.

Hujan
menderas. Di rumahmu kini, cuma sunyi yang tersisa. Serta dingin yang larut
bersama angin yang merangsek masuk melalui celah-celah ventilasi dan
menyentuhmu berkali-kali. Engkau menekur. Sesekali menenggelamkan wajah di
kedua telapak tanganmu. Dan, petir yang menggelegar dan bersahut-sahutan di
luar sana membuatmu cemas. Membayangkan Aleana kuyup menggigil ketakutan entah
di mana. Bisa saja ia tengah terlunta-lunta di pinggir jalan, meringkuk di lantai
kotor di sebuah rumah kosong yang atapnya bocor, atau mungkin juga, Aleana
terperangkap di bekas gudang tua bersama para penjahat kambuhan yang sedang
merencanakan kejahatannya matang-matang. Apa pun itu, semuanya adalah mungkin.
Aleana belum pernah sekali pun pergi jauh dari sini. Dan pula, ia takut sekali
pada gemuruh petir yang saling bersahutan seperti malam ini. Setiap kali petir
terdengar, Aleana terhenyak, lalu meneteskan air mata dan mendekapmu erat-erat.
Ia kerap merasa petir itu memang ditujukan kepadanya.

Hujan
tak kunjung reda. Rasa sesal berhamburan memenuhi rongga dada. Menyesakkan.
Sungguh, kau telah berlaku jahat pada Aleana. Apalagi, kala ingatan kali
pertama kau berjumpa dengan dirinya muncul dalam benakmu. Di sudut pekarangan
belakang rumah, di atas potongan kayu jati berukuran besar yang tergeletak di
tepian kolam yang dipenuhi ikan-ikan koi, kau duduk membisu dengan batin
nelangsa. Perasaanmu remuk. Setelah sebelumnya kau terpaksa menanda-tangani
surat perceraian itu. Istri yang teramat kaucintai itu akhirnya pergi. Ia lebih
memilih berada dalam pelukan laki-laki lain ketimbang pelukan hangat yang
senantiasa kauberikan untuknya selama menjadi suami. “Tiga tahun yang sia-sia,”
kau berkata lirih.

Lama
kau menatap ikan-ikan yang berenang ke sana-kemari lalu menyembul dan
berkomat-kamit menunggu taburan pakan yang biasa kauberikan. Kau tidak
menggubris permohonan ikan-ikan koi itu sama sekali. Di benakmu, kau mengenang
impian-impian dahulu, ketika kau melamarnya. “Menualah bersama, kelak kita
saksikan anak-anak kita mengasuh cucu-cucu kita di sebuah lereng perbukitan
yang luas, hijau, dan landai. Mereka berkejar-kejaran disertai derai tawa
kebahagiaan. Dan kau, duduk bersisian bersamaku di hamparan rumput seraya
menikmati keindahan senja,” ujarmu selepas petang itu. Namun, tadi, impian itu
seketika sirna. Hanya ada sunyi dan gemericik air yang menggelincir jatuh
mengenai batu-batu berlumut yang tersusun rapi di sekeliling kolam. Dan suara
gemericik itu, membuat perasaanmu semakin tertumbuk-tumbuk.

Kau
merutuk. Hingga amarah yang sedari tadi kautahan-tahan, memuncak. Kebencian
pada laki-laki yang telah merebut istrimu itu membulat. Dan, rasa kecewa pada
bekas istrimu, lamat-lamat menjadi purna. Kau bersumpah; tidak lagi menaruh
harap dan mencintai perempuan mana pun selain perempuan yang tengah kaulamunkan
sekarang. Kau membayangkan seseorang dengan kecantikan sempurna–anggun, begitu
kau menyebutnya. Kecantikan yang jauh melebihi kecantikan yang dipunyai mantan
istrimu itu. Dengan dagu yang tirus, bibir yang tipis, lesung pipi yang menitik
cantik di kedua pipinya yang ranum, rambut hitam kemilau lurus terurai
menggapai pinggulnya yang menawan, dan sepasang mata yang teduh. Perempuan yang
sedang kaubayangkan saat ini laksana seorang dewi. Dan ia hanya akan
menambatkan cintanya kepada dirimu seorang. Kau akan menghadirkannya.
Memanggilnya turun dari atas sana. Dari bintang yang paling benderang. Tiada
yang boleh menggoyahkan keinginanmu ini. Kau meyakinkan diri. Bukankah
seseorang yang tengah terluka batinnya, permintaannya akan nyaring terdengar
oleh para penghuni langit? Dan mereka kelak berbondong-bondong merayu Sang
Pencipta agar berkenan mengabulkan permintaan tersebut? Bukankah hal itu sering
dipertuturkan oleh para alim yang mengaku dekat dengan Tuhan? “Maka,
sekaranglah waktunya,” pintamu sungguh-sungguh, “biarkan dia datang menemuiku.”

Cahaya
putih mengerlap dari balik bintang paling benderang. Kemudian cahaya itu turun
perlahan bak penerjun yang telah mengembangkan parasutnya. Sesekali angin
mendorong-dorong cahaya itu turun lebih cepat. Dan, sesekali pula, cahaya itu
seolah-olah hanya berputar-putar saja di tengah cakrawala. Kau berharap. Dan
kian berharap agar cahaya itu lekas menghampirimu. Hingga gurat senyum
pelan-pelan mulai terlukis di wajahmu. Cahaya itu makin mendekat. Perempuan
yang tadi kaulamunkan, ada dalam kerubungan cahaya putih bersih itu, dan dia
balas tersenyum. “Aku Aleana, hadir memenuhi panggilanmu,” sapa perempuan itu
merdu.

Gelegar
petir membuatmu tersadar. Kau mondar-mandir. Berharap Aleana tidak benar-benar
pergi. Berharap Aleana cuma sembunyi. Sebentar-sebentar kau mematung di ruang
tamu, lalu beralih ke ruang tengah, kemudian menuju dapur dan mengintip dari
jendela mengawasi pekarangan belakang rumah, lalu kembali lagi ke ruang tamu.
Mengempaskan dirimu; terduduk lesu di atas sofa. Di luar, hujan tetap deras.

“Aleana,
maafkan aku,” lagi-lagi kautenggelamkan wajah, “kembalilah,” bisikmu lemah.

Seharusnya
caci maki itu memang tak perlu kaulontarkan. Seharusnya kau lebih bisa menahan
diri. Akan tetapi, sejak kau mendapati Aleana memandang kagum pada kolega
bisnis yang baru saja kaukenal itu, hatimu panas. Kau terbakar cemburu. Bahkan,
meski dua bulan telah berlalu, kau tetap sulit melupakan bagaimana Aleana
menatap laki-laki yang baru kali pertama berkunjung ke rumahmu itu. Tatapan
kagum Aleana mengingatkan kau pada seseorang. Seseorang yang diam-diam menyukai
salah seorang atasan di perusahaan tempat ia bekerja. Seseorang yang tega
membiarkan perasaanmu hancur berantakan. Seseorang yang pergi meninggalkanmu
sepuluh tahun silam. Seseorang yang telah menjejakkan luka di lubuk hati paling
dalam. Luka yang akhirnya membuat kau tak lagi bisa berpikiran jernih tatkala
mengingat tatapan kagum Aleana pada malam itu. Padahal, betapa pun Aleana
memandanginya, bukankah kolega bisnismu itu tak akan pernah mampu menjangkau
Aleana? Bukankah Aleana diperuntukkan buatmu seorang?

Hujan
mereda. Kegelisahan dalam pikiranmu justru sebaliknya. “Aleana… Aleana…,”
kau terus memanggilnya. Hujan benar-benar reda. Dari balik jendela, kau menatap
ke arah jalan. Lengang. Tidak ada Aleana di luar sana. Kau harus mencarinya,
hati kecilmu berkata. Ya, kau harus segera mencarinya. Lalu kau menuju garasi,
menyalakan mesin, menunggu beberapa saat hingga mesin itu menghangat, kemudian
melaju menerobos kesunyian malam. Di balik kemudi, di sepanjang perjalanan yang
entah, kau berpikir keras di mana kau bisa menemukan Aleana. Dan, terkadang,
kau memperlambat laju mobil tatkala melihat seorang perempuan yang sedang
menyusuri jalan guna memastikan apakah perempuan itu Aleana atau bukan. Namun,
berkali-kali kau mencoba, semua sia-sia. Tidak satu pun dari
perempuan-perempuan yang kaulihat tadi adalah Aleana. Kau menepi. Berpikir
sekeras-kerasnya; ke mana harus mencari ia?

Rembulan
bulat penuh. Cahaya putihnya teduh menyandar di penglihatanmu. “Cukup lama kau
tak menikmatiku lagi,” bujuk rayunya semilir terdengar dalam kalbu.
“Gerayangilah aku. Aku rindu,” rembulan itu memaksa.

“Aku…,
ah, sudah lama sekali rasanya,” suara dalam batinmu menyahut. Ada keinginan
yang menggumpal dari lubuk hati untuk mencumbui rembulan itu lagi. Menjilati
keindahannya dengan tatapan-tatapan serakah. Melumat habis kesyahduannya
sehingga ketika kau memejamkan mata, wajahnya yang berseri-seri itu akan tetap
tinggal dan menemani. Sebagaimana dahulu, di atas tebing itu, tebing yang
terletak di utara kota tidak jauh dari tempat tinggalmu berada.

Lantas
kau teringat, kau pernah bercerita kepada Aleana tentang rembulan dan tebing
itu, tentang malam yang terlampau indah, tentang kebahagiaan. Dan, Aleana ingin
kau mengajaknya ke sana, namun selalu kauhindari. Sebab, di sana, adalah tempat
di mana kau ketika itu menebar impian-impian itu dan menancap harap.

“Setidaknya,
untuk satu kali, bawalah aku ke sana.”

Buru-buru
kaunyalakan mesin. Melaju menuju tebing itu.

“Aku
akan menjemputmu, Aleana.”

Kau
melesat. Jalanan basah dan licin tak lagi kaupedulikan. Di benakmu, hanya
terpatri satu keinginan: segera membawanya pulang. Dengan yakin kauterabas setiap
persimpangan jalan yang sunyi, tikungan panjang, dan tanjakan yang kini semakin
sering kautemui. Kau benar-benar tidak peduli. Kau bahkan menambah kecepatan.
“Aleana… Aleana…,” sebutmu berkali-kali.

Pada
pemberhentian terakhir, kau bergegas turun dari mobil dan berlari. Memacu
langkah melewati jalan setapak yang basah dan liat, serta tumbuhan liar yang
sebagiannya berduri dan seakan-akan hendak menghalangi laju kakimu yang mulai
terasa hangat. Kau terus berlari tergopoh menuju atas tebing. Hingga kau
melihat, Aleana benar-benar ada di ujung sana. Berdiri persis di bibir tebing.
Ia menunduk. Menekuri kedalaman jurang. Tetapi, Aleana tidak sendiri. Ia
bersama seorang lelaki yang tidak engkau kenal. Mereka berpegangan tangan. Dan,
mereka sama-sama meneteskan air mata. “Aleana….”

Aleana
tidak menjawab. Ia seperti tuli. Begitu pula dengan laki-laki itu, ia tak
bereaksi sama sekali. Kau mendekat. “Aleana….”

Mereka
tetap diam.

“Aleana…!”

Mereka
tetap diam.

Kau
menyeru. Meneriakkan namanya berulang kali. Namun, Aleana tetap diam. Begitu
pula dengan laki-laki itu, ia bergeming. Lalu kau bersimpuh di dekatnya. Akan
tetapi, percuma. Tatkala kedua lututmu menyentuh tanah, Aleana dan laki-laki
itu terjun dari bibir tebing. Mereka tetap berpegangan tangan. Sementara
rembulan di atas sana seakan tiada peduli, ia kembali memaksa, “Gerayangilah
aku lagi. Sungguh, aku teramat sangat merindukanmu.”***


Abdullah Salim
Dalimunthe
, tinggal di Bandung. Gemar menulis
cerpen.