Cerpen

Menikah

Cerpen Septi Rusdiyana

“Bagaimana? Berhasil?” tanyaku pada Rena, sembari menyerahkan sekaleng minuman dingin dan sebungkus keripik kentang. Ia meraih keduanya tanpa menjawab pertanyaanku lebih dulu. Desis bunyi soda saat kaleng dibuka mengiringi pandangan Rena, pada Sirih Gading yang bertengger rimbun di tepi kolam ikan milikku.

“Lebih sulit dari urusan perceraian kemarin, Dis,” jawab Rena usai meneguk minuman.

Aku duduk di sebelah Rena. Mengikuti arah pandang mata itu, sekadar mengisi jeda waktu antara senyap suasana sore, dan riuhnya pikiranku sendiri. Sampai detik ini, aku masih saja tidak berhasil menemukan alasan mengapa Rena bersikeras untuk menikah lagi.

“Gadis, apa kau punya asuransi?” tanya Rena tiba-tiba.

Otakku nge-lag. Selama ini asuransi yang pernah kumiliki hanya BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan. Itu pun kini sudah tak berguna sejak aku resmi menjadi pengangguran tiga bulan lalu. Dana simpanan sudah dicairkan, sepertinya hampir habis untuk bayar kontrakan dan hidup sehari-hari. Setelah kupikir-pikir, aku baru sadar jika selama ini aku tak pernah menabung.

“Aku mau jadi kodok.”

Belum sempat aku menanggapi bab asuransi, pernyataan Rena membuat otakku kembali waspada.

Rena mengawali cerita dengan membuka keripik kentang. Suapan demi suapannya tampak kaku, seolah gerakan itu mengisyaratkan kejengkelan.

“Aku ingin melompat bebas. Bersama diriku. Aku tak butuh siapa dan apa pun lagi. Pria baik hati hanya tercipta di dongeng. Kalaupun lahir di dunia, mereka tak disisakan untukku.”

Rena memalingkan pandangan dari kolam ke wajahku. Ia berhenti menjejalkan keripik kentang ke mulutnya, “Bagaimana kalau kita berdua menikah? Aku bisa menghidupi dirimu yang penuh kemalangan ini. Kau tak perlu berubah, jadilah seperti biasa: Gadis yang menyayangi, menemani dan mendengar bualanku. Kita bahkan tak butuh sex karena kita sama-sama membencinya, bukan?” ungkap Rena serius. Aku hampir percaya. Tapi sebelum aku bereaksi, Rena kembali bicara.

“Berjanjilah padaku, Dis. Tetaplah melajang. Aku tidak mau kau merasakan apa yang kualami,” ralat Rena seperti ia baru saja tersadar akan sesuatu.

Perubahan tiba-tiba itu tidak membuatku terkejut. Aku sangat mengenal Rena. Meski di luar ia tampak serampangan dan ceplas-ceplos, aku tahu ucapannya bukan omong kosong. Ia kecewa. Mungkin perasaan dan jiwanya sudah terlanjur terluka sangat dalam.

Aku membalas tatapannya dengan senyuman. Rena mulai menyalakan rokok di bibirnya. Kalau sudah begitu, biasanya ia tak ingin lagi diganggu. Aku cukup duduk menemani. Kadang, diam bukan berarti tak peduli. Bagi kami, diam justru menjadi titik tertinggi untuk memahami bahwa tidak selamanya penderitaan butuh validasi.

Ingatanku melayang saat aku menjadi bridesmaid di hari pernikahan Rena. Wajahnya kala itu begitu cerah. Seolah yakin bahwa bersama suaminya, sisa usia Rena akan habis dengan penuh kebahagiaan. Setidaknya itulah yang kupercaya karena selepas menikah, Rena ikut suaminya ke Jakarta. Kami tak pernah lagi berkabar. Hingga dua tahun kemudian, Rena mendatangi kontrakanku.

“Apa malam ini aku boleh tidur di rumahmu?” tanya Rena saat itu. Tubuhnya lusuh. Wajahnya sekusut rambutku. Tentu aku menyambutnya tanpa banyak bertanya. Aku ingat hanya bisa memasakkannya mi instan usai membiarkan Rena mandi dan berganti pakaian.

“Besok, tolong temani aku,” pinta Rena terdengar seperti titah yang tak berani aku bantah, apalagi kupertanyakan.

Sejak hari itu, aku selalu ada untuk Rena. Aku menemaninya ke rumah sakit. Rena menjalani pemeriksaan sekaligus visum yang pada akhirnya berhasil membuatnya cerai dari suami. Keluarga besar Rena mengutuknya. Aku menjadi saksi betapa kisah Rena semacam drama Cina yang kutonton hampir setiap malam. Rena tak mengeluh. Ia tak pernah takut pada keputusan yang sudah diambil. Rena juga tak berniat agar bisa reinkarnasi dan hidup kembali ke masa lalu, untuk balas dendam pada mantan suami serta keluarganya.

“Aku lapar, apa kau masih punya mi instan?” Pertanyaan Rena membuyarkan lamunanku.

“Sepiring nasi dan semangkok sop brokoli pun ada. Aku tak semiskin itu, sampai hanya ada makanan instan saja di rumah.”

Rena terkekeh. Tapi aku tahu ia tidak sedang mengejekku. Rena tampak tidak baik-baik saja. Bagiku, Rena seperti sebuah lukisan picisan yang gagal dipamerkan. Rena mungkin berhasil keluar dari pernikahan yang ia anggap neraka. Tapi ia masih terpenjara pada penyesalan dan ketidakpuasan akan dirinya sendiri.

Apa yang ia coba lakukan sekarang hanya caranya menghibur diri. Kadang, lelah bisa memacu adrenalin yang lain. Termasuk hal absurd yang baru saja dilakukan Rena hari ini. Ia pergi ke kantor catatan sipil untuk bertanya syarat-syarat mendaftar pernikahan bagi dirinya, dengan dirinya sendiri.

“Mereka semua tolol. Tidak punya pikiran terbuka,” kata Rena di antara denting suara sendok garpu di atas piring. Kami melanjutkan obrolan di meja makan.

“Atau bisa jadi kamulah yang dianggap tolol oleh mereka,” sahutku.

“Aku hanya ingin menyelamatkan asetku. Bagaimanapun aku masih punya saham dan harta yang harus kulindungi.”

“Begitu ya?”

“Kau tahu, Gadis, pria yang dulu kucintai dengan membabi buta, rupanya punya utang segunung sebelum menikah denganku. Atas nama cinta dan penerimaan tulus, pada akhirnya akulah yang menutup utang itu.” Rena mengambil kerupuk dan menggigitnya.

“Dasar brengsek! Dia pintar mencuci otakku. Aku terperdaya. Lagi-lagi, atas nama cinta dan pengabdian, aku harus melayani hasratnya yang tak biasa. Kekuatannya seperti tak habis-habis. Aku terus dipaksa hingga nyeri tak terperi itu akhirnya melantakkan kepercayaanku padanya. Aku melawan dengan sisa harapan. Lalu keberanian dan kekuatan besarku muncul, justru di saat dia tuntas menghajarku.”

Hatiku ngilu mendengar Rena bercerita. Aku tak berani menanggapi.

“Tapi sudahlah. Semua telah berlalu. Bagiku hal itu hanya luka kecil seperti kena sundutan rokok,” lanjut Rena lagi.

“Oh ya, Dis…..,” Rena menjeda bicara. Seperti tiba-tiba ingat sesuatu.

Aku menatapnya.

“Di kantor catatan sipil tadi, ada seorang lelaki yang terus melihatku. Dia tidak ikut-ikutan menertawai atau menasihatiku. Dia hanya menyaksikan pertikaian kami. Entahlah, Dis, rasanya hatiku hangat waktu itu. Seperti pelukanmu. Ya, benar. Rasanya sama seperti pelukanmu. Dan kurasa, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa tidak terlalu sial hari ini.”

Rena menyunggingkan senyum yang mungkin, baru kali ini kulihat kembali, sejak ia mengetuk pintu kontrakanku malam itu.

“Apa kau jatuh cinta?” tanyaku usai jeda sunyi terlalu lama.

Rena gelagapan. Wajahnya memerah. “Sinting!” umpatnya padaku.

Aku menatap punggung Rena yang kian menjauh. “Obatmu, jangan lupa diminum sebelum tidur,” teriakku sebelum tubuh Rena hilang di balik kamar. Mungkin, malam ini Rena sudah tidak butuh lagi obat itu.

Sekarang, akulah yang cemas. Apa benar aku harus melajang seumur hidupku? Atau sebaiknya mengikuti jejak Rena dan menjadi kodok. Ah, mungkin benar ucapan Rena. Aku harus mulai berpikir tentang asuransi. Setidaknya aku masih punya sesuatu yang pantas dilindungi. Meski bukan untuk siapa-siapa.***

____________________

Septi Rusdiyana

Tinggal di Yogyakarta. Penyuka cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *