Cerpen

Terkapar

Cerpen M. Arif Budiman

Sudah hampir satu jam tubuh Pras terkapar di trotoar. Tak ada satu pun orang yang berani menyentuhnya. Orang-orang beranggapan ia telah mati. Tidak. Pras tidak mati. Ia hanya tertidur. Rasa kantuk yang mendera membuatnya tertidur seketika.

Anehnya, Pras melihat tubuhnya sendiri yang terkapar dan menjadi pusat perhatian orang. Ia duduk tertegun dengan kedua kaki dirapatkan ke dada. Ia berpikir, bagaimana mungkin semudah itu ia mengatupkan kelopak mata dan terkapar begitu saja.

Ini bukan hal pertama bagiPras.Sudah banyak cara yang dilakukan Pras untuk mengobati penyakitnya. Mulai meditasi, yoga, fitness, minum obat penghilang rasa kantuk, hingga obat pencegah katapleksi. Namun dari semuanya itu tak ada satu pun yang dapat mengatasi penyakitnya.Pras tetap tertidur dimanapun ia merasa mengantuk.

Melihat penyakit suaminya bertambah parah, Maya berinisitif untuk membawa Pras ke dokter saraf. Menurut pemeriksaan dokter,Pras terserang penyakit narkolepsi, sejenis penyakit saraf yang menyerang sistem pengaturan tidur. Penyakit tersebut membuat si penderita merasakan kantuk yang tak tertahankan. Bahkan acap kali berhalusinasi seperti mendengar suara orang memanggil.

Dari hari ke hari Prassemakin jenuh dengan penyakit yang dideritanya. Ia merasa penyakitnya sudah sangat keterlaluan mendikte hidupnya. Untuk kedua kalinya, ia putuskan mengunjungi dokter. Kali ini Pras datang sendiri tanpa ditemani istrinya.

“Saya sudah lakukan berbagai cara untuk mengobatinya, Dok. Termasuk mengonsumsi obat yang dokter berikan. Tapi hasilnya nihil. Saya masih tetap tertidur dimanapun saya berada. Ini sudahketerlaluan, seolah sengaja ingin menjatuhkan nama saya di depan publik. Bahkan saya menduga penyakit ini tengah mengincar jabatan saya di kantor. Ini tak boleh dibiarkan, Dokter. Molong sembuhkan penyakit saya ini. Saya tak ingin, karier yang selama ini saya bangun dari bawah runtuh begitu saja.”

“Saya harap Anda tetap tenang. Saya tahu apa yang harus saya lakukan. Saya akan mengobati Anda lebih serius, tapi ada syaratnya.”

“Syaratnya apa, Dok?”

“Anda harus menginap di sini beberapa malam dan tak boleh pulang sebelum saya izinkan.”

“Tapi, bagaimana dengan pekerjaan saya, Dok? Jangan-jangan ketika saya izin kerja, penyakit ini akan mengambil posisi saya di kantor.”

Dokter tersenyum, “Anda tak perlu khawatir. Saya sudah siapkan segalanya agar penyakit Anda tetap di tempat ini. Sebaiknya Anda pulang untuk mempersiapkannya.”

Esok harinya, Prasmengunjungi dokterdiantar istrinya, Maya.

“Anda sudah siap menjalani terapi?” tanya dokter.

“Siap, Dok,” jawab Pras antusias.

“Baik. Sebelum saya melakukan pengobatan, saya akan mengecek seluruh kegiatan ketika Anda tertidur. Nantinya Anda akan kami pasang alat untuk mengecek gelombang otak, napas, oksigen dan jantung Anda.”

Setelah Pras menyanggupi perkataan dokter, ia pun diajak ke sebuah ruangan.Pada awalnya Pras merasa takut dengan kondisi ruangan itu. Namun karena desakan keinginan untuk sembuh yang luar biasa dari dalam dirinya, juga desakan istrinya, ia pun menepis rasa takut itu. Ia menaiki ranjang periksa.

“Sebaiknya Anda minum obat tidur ini untuk membantu Anda cepat tertidur.”

Prasmengangguk, meski ada rasa heran di hatinya. Heran karena ia inginmengobati penyakit yangselalu tertidur, tapi malahminum obat tidur.

Setelah Pras terlelap, dokter mulai memasang alat perekam otak. Beberapa kabel penghubung mulai direkatkan pada titik-titik tertentu di kepala Pras. Mulai dari pelipis, pipi, kening, dagu hingga pangkal leher. Tak lupa selang oksigen terselip di kedua lubang hidup.

Tak butuh waktu lama, segala macam aktivitas dalam tidur Pras pun terekam oleh komputer. Diawali bangun tidur di pagi hari, mandi, sarapan, memakai sepatu, naik taksi, turun taksi, bersalaman dengan beberapa rekan kerja, naik lift, keluar lift, masuk ruang kerja, duduk santai, membuka berkas-berkas, membuka laptop, mengecek angka-angka yang tersusun dalam program exel, mengubah angka-angka itu menjadi lebih besar nominalnya, lebih besar, dan lebih besar lagi. Lantas membuka ponselnya, membaca WA ucapan ‘terima kasih’ beserta emotikon setangkup tangan, membaca laporan SMS internet banking transfer dengan nominal uang memiliki sembilan ‘nol’, kembali membaca WA ucapan ‘sayang’ dengan emotikon bibir dan sepasang daun waru merah muda, keluar kantor, naik taksi, check in hotel, masuk kamar nomor 69,check out hotel, naik taksi, pulang, bertemu Maya, dan menyembunyikan peristiwa-peristiwa. Tiba-tiba gambar pada layar komputer berhenti menayangkan frame-frame perjalanan Pras dalam tidurnya.

Seketika itu Pras terbangun. Namun kembali ia dapati melihat tubuhnya terkapar. Ia juga melihat dokter saraf dan istrinya, Maya. Dokter saraf tampak sedang mencopoti kabel-kabel pada kepala Pras, sementara Maya tampak terisak. Seusai mencopoti kabel-kabel dan selang oksigen pada Pras, dokter sarafdengan dibantu Maya membopong Pras ke kursi roda dan memasukkan ke dalam mobil. Mereka membawa tubuh Pras pergi membelah malam.

Di sudut kota, dokter dan Maya menurunkan Pras di trotoar dan meninggalkannya begitu saja. Pras mencoba memanggil mereka, tapi sia-sia. Pras tertegun melihat tubuhnya sendiri. Ia tak habis pikir mengapa merekaseperti tak memedulikannya. Pras mencoba membangunkan tubuhnya, tapi tak bisa. Hingga pagi, tubuh Pras masih terkapar di trotoarmenjadi perhatian pengguna trotoar, namun tak ada satu pun orang yang mencoba membangunkannya. Pras tak bisa kembali ke tubuhnya. Ia tak tahu doktertelah menyuntikkan arsenik ke dalam tubuh Pras atas permintaan Maya.

***

Kudus, Maret 2018


M.Arif Budiman, lahir di Pemalang 5 November 1985. Suka menulis puisi dan cerpen. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.

Buku, Resensi

Kuasa Seksualitas Kita

oleh Vera Safitri

Bagaimanapun, peradaban manusia diciptakan oleh seksualitas kita yang rumit. Seksualitas menciptakan bahasa, hubungan kekerabatan, penguasaan alat dan teknologi, norma, hukum, politik, struktur, hingga sistem ekonomi masyarakat kita.

Bisa jadi, kita akan berdiri dengan tegak kepala saat menghadapi argumen bahwa manusia terlahir dengan seperangkat kebebasan dan kesetaraan. Bahwa peran gender serta posisi perempuan dan laki-laki sekadar hasil konstruksi sosial saja. Sebuah hal yang diimani banyak masyarakat industrial modern, serta menjadi penguat banyak gagasan yang melindungi sekaligus mengacaukan gaya bermanusia kita lewat cetusan Hak Asasi Manusia.

Tapi bagaimana kalau sebaliknya? Bagaimana kalau kebebasan dan kesetaraan yang agung itulah hasil konstruksi besar-besaran kita? Dan peran gender serta posisi perempuan memang terjadi oleh rentetan persoalan seksualitas-reproduksi yang biologis dan masuk akal? Kita pasti lemas dan terbelalak, bahkan sampai marah.

Jared Diamond, sekali lagi merepotkan dirinya sendiri dengan berusaha menjawab pelbagai keganjilan kemanusiaan kita soal seksualitas dan reproduksi itu. Lewat bukunya, Why Sex is Fun: Evolution of Human Reproduction yang dalam edisi Bahasa Indonesia terbitan KPG dijuduli,  Evolusi Reproduksi Manusia (2019). Kita patut curiga, perubahan judul yang dilakukan KPG ini adalah demi menghalau imaji pembaca yang mengira buku ini sebagai buku panduan seks. Jared sendiri pun telah mewanti-wanti hal ini lewat kata pengantar yang ditulisnya.

“Buku ini tidak akan mengajari anda posisi-posisi baru untuk menikmati hubungan seks atau membantu anda mengurangi rasa tidak nyaman akibat kram ketika menstruasi atau menopause. Membaca buku ini juga tidak akan mengobati sakit hati akibat mengetahui pasangan anda berselingkuh. Tapi buku ini mungkin dapat membantu anda untuk mengerti, mengapa tubuh anda bertingkah laku sebagaimana sekarang” (hlm. xi).

Dengan begitu, tinggallah sisa judul serius, yang megah dan membosankan. Itu sama seriusnya dengan keteguhan Jared menggunakan pendekatan biologis-antropologis pada buku-bukunya, termasuk pada bukunya kali ini.  Melalui Evolusi Reproduksi Manusia,  Jared menjelentrehkan betapa sistem masyarakat manusia di bumi ini sangat berurusan dengan kesenjangan biologis dan penalaran fisiologis yang bukan hanya merobek-robek skripsiku seputar gender dan perempuan, tapi juga mengusik kedamaian dan heroisme feminis yang tegar sentosa berdiri di tengah-tengah kita sejak lama.

Di telinga kita yang modern, kita tentu tidak ingin mendengar tuduhan Jared bahwa, secara evolusioner, laki-laki dan perempuan tidak banyak berkembang mengenai pembagian kerja: “Laki-laki selalu lebih menghabiskan waktu memburu hewan-hewan besar, sementara perempuan mengumpulkan makanan berupa tumbuhan dan hewan kecil, serta mengurus anak. Pembagian kerja serupa bertahan dalam masyarakat industrial modern” (hlm 131). Karena kedua pernyataan Jared itu justru lebih terdengar seperti, kalau alasan biologis yang selama ini tidak kita percayai, nyata berkuasa dalam banyak segi sosial kita dan bahwa kromosom x dan y yang kita miliki diam-diam membangun maskulinitas-feminitasnya yang menyebalkan.

Jared Diamond bukanlah satu-satunya tersangka atas gonjang-ganjing ini, kita ingat ada Yuval Noal Harari (Sapiens, 2011) dan Ivan Illich (Matinya Gender, 1998) yang juga mengurusi hal serupa. Yuval Noah Harari malah sempat menyebut manusia memiliki gen patriarkis. Baginya dalam banyak hal, kesenjangan biologis antara laki-laki dan perempuan dengan sengaja telah membentuk sistem yang timpang. Tapi tentu masyarakat modern seperti kita ogah diusik dengan kenyataan seperti itu. Bertahun-tahun kita menyalahkan konstruksi sosial-budaya atas kenyataan pahit yang ditimbulkan patriarki. Beribu penelitian sudah dilakukan demi mengusir keraguan kita soal itu. Kita sekuat tenaga menyangkal bagian-bagian biologis ikut berperan dalam ketimpangan ini. Sehingga segala penjelasan Jared mengenai seksualitas dan reproduksi kita itu menggenapi pertanyaan besar yang sempat dilemparkan Yuval lewat buku Sapiens: “Jika sistem patriarkis didasari oleh mitos-mitos yang tak berdasar biologis, maka apa yang menyebabkan sistem itu menjadi sedemikian universal dan stabil?” (hlm. 190).[]


Vera Safitri Esais dan ilustrator anak, baru saja merampungkan skripsinya sebagai mahasiswi Sosiologi, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Puisi

Puisi Jihan Suweleh

Fibromyalgia

Seperti mati

aku tertidur

dalam ngilu

sekujur tubuh

lelah mencekik

tulang begitu sakit

bertahun-tahun

aku budak tangis

apa yang kuingat

pudar perlahan

kecemasan, ketakutan

kepalaku menahan

luka dalam obat

kesembuhan

bukan antidepresan

kepercayaan

bukan penenang

sementara

persis tidurku

yang berhari-hari

tak berdaya

meski terlihat sehat

katakan bahwa aku akan sembuh

aku akan sembuh

tanpa pertanyaan:

benarkah kausakit?

leherku, pundakku

punggung, dada

kaki, tangan

melingkar kesakitan

aku tak sanggup bangun

dari tempat tidur

terlelap dalam hidup

yang mematikanku

setiap saat aku bertanya

mengapa aku terlalu payah

mengapa aku selalu lelah

meski tak berbuat apa-apa

aku ingin membeli energi

untuk tulangku

yang melulu ngilu

menyembilu


Trauma

Kenangan masa kecil

gelap dipejam

terbingkai pada mata

hadiah Papa Mama

membentuk benda tajam

di dalam kamar.


Waktu

Di magrib yang dingin

Kita sepotong bibir ranting

Di subuh yang sejuk

Kita sepasang kaki berteluk

Jarak menggigit bayangmu

Gemeletuk nyaring di kupingku

Tiada yang mampu menjarah waktu

Kau telah meniggalkanku, dan berlalu

Kenangan kutelan

Sendirian

Rindu mengudus

Dalam kardus

Sampai jumpa di lain hari

Ketika kau belum menjadi orang lain


Panggung Tangis di Mata Ibu

Aku melihat matamu, Ibu

menggerakkan kesedihan

menjadi seni pertunjukan

Setiap menyentuh panggung

aku melihat tangismu

pada tirai, pada lampu yang berderet

dan akan menyinariku

mendapat tepukan dari tangan

yang bukan dirimu

Tata rias yang teroles di wajahku

menyatu dengan kulit

sebagai duka yang kaulempar

tanpa lebih dulu kautatap

dan kostum-kostum yang kukenakan

adalah pertanyaan atas kesedihanmu

yang tak pernah sanggup kaujawab:

betulkah mimpiku adalah lukamu?

Aku rindu bersandar di dadamu

mendengar sunyi yang berdarah

hening yang memeluk kehampaan

tanpa air susu yang keluar

sebagai tali antara kita

Adakah yang tidak kuketahui

dari masa lalumu, Ibu

selain payudaramu

tak sanggup mengeluarkan

apapun kecuali kesedihan

Adakah yang tidak kuketahui

dari masa laluku

sehingga yang kuingat hanya

Ibu mengurungku dalam diam

dan memukulku ketika aku lari

ke luar rumah

Di panggung berkilap-kilap

aku patung dalam matamu

wajah-wajah gembira di depan sana

adalah tangismu yang menolak

kepergianku

tetapi, Ibu, tidak ada jalan yang buruk

di atas panggung

meski panggung yang kita lewati

berbeda.


Pada Sebuah Televisi

Aku ingin meninggal di dalam FTV

menjadi air mata penonton setia

yang bersembunyi

pada nasib buruk sendiri.

Mereka melihatku sebagai perempuan

simpanan suami orang

merebut hak anak-anak tak berdosa

korban kegagalan rumah tangga.

Satu kali saja aku menjadi pemenang

meski menyakiti istri orang

anak orang, dan harga diri orang

yang rela melakukan apapun untukku

dan meninggalkan siapapun demi aku.

Kelak ketika aku kecelakaan

karena sibuk teriak-teriak

demi memperlambat durasi

kesedihan pada ujung takdir,

aku pasti bertobat dan meraung-raung

minta maaf pada Tuhan

sekalian tak menyangka, ya ampun

perempuan yang menyakitiku

adalah penolong hidupku.

Dan aku meninggal setelah memohon

agar mereka kembali bersatu

biar penonton tidak terlalu membenciku

lalu mendapat petuah hidup

dari kisah orang-orang baik.

Aku ingin meninggal di dalam FTV

menjadi teman bagi kesepian ibu-ibu

dan hiburan untuk orang

yang gemar tertawa

lewat judul-judul panjang

tak masuk akal.


Meminta Pertolongan

                    Mengenangmu.
                    Tolong aku.

Sajak-sajak yang kita tulis
Berhamburan dalam tangis
Rindu terjatuh pada patuh
Menjalar sebagai luka lebar
Di matamu yang jauh dari mataku
Senduku yang sendu pada sendumu
Sepanjang tahun lalu

Tengah malam kita menjadi terang di layar ponsel
Dan gelap di dada sendiri
Menutupi semua yang kita pahami
Dengan pertanyaan seputar duka sandiwara

Pagi hari kita menjadi kotoran kambing
Yang menolak mengerak
Membantah disebut sampah

Siang hari kita menjelma harta
Yang tidak membuat kaya
Siapa-siapa

Sore yang merah
Bergantian di bibir kita
Dan kau basahi dengan hujan dari mulutmu
Sobek seluruh aku

Tolong.

Mengenangmu adalah darah
Yang tak henti keluar di kepala

Mengenangmu adalah sedih
Yang selalu ada dalam puisi
Tanpa bisa kupahami


Kepada Tubuh yang Runtuh

Kautahu, tidak ada yang ingin menjadi gila
seperti kita yang tidak meminta lahir dari rahim siapa-siapa.

Napas membusuk
lebih busuk dari bangkai tikus
yang kaupandang sepanjang hari
menunggu pulang tiba

Di selatan Jakarta, orang-orang bekerja
menatapmu sebagai manusia
tanpa otak, tanpa dada, tanpa wajah
berdatangan meminta telinga untuk cerita sedih mereka

Pertanyaan datang pergi
semacam kontes di televisi
yang kausimak tiap hari
sebagai hiburan selain sinetron perselingkuhan

Rasa iba kaututup
demi membungkam kesedihanmu sendiri
luka duka kaubiar turun
dalam dirimu menuju doa yang entah didengar kapan

Terik melingkar di tubuh kita
setiap malam di atas ranjang
basah menahan nyeri
yang takut diketahui

Siapa punya luka lebih besar
di antara kita
siapa punya darah lebih kotor
di antara kita
bagimu menjadi gila adalah kesalahan
dan ketololan dan keegoisan dan kesia-siaan dalam hidup

Tetapi, tidak ada yang ingin menjadi gila
tidak ada yang ingin tersesat dalam dirinya sendiri
dan kaulupa, kita sudah mengalaminya
bahkan berdoa, “Tuhan, pulangkan kami,

tanpa rantai besi di tubuh ini.”


Bilur

Kau terbungkus plastik
tubuh biru, lebam, kaku
di tanah basah
kunci menyembul
menjadi barang bukti
terkubur

Pernah kita bersatu
suka dalam luka
tanpa minta sudah

Akhirnya jasadmu
lepas juga
disambut angin
yang menggiring bau anyir

Masih terekam nyerimu
bunyi jerit di ruang itu
menjadi nyanyian di bibir kita
takut menuju takluk
pada malam deras keringat

Di mana kemanusiaan, kaubilang
Di mana letak otakmu, perempuan murahan, kata mereka

Cambuk menari
di punggung dan pahamu

Kini giliranku
menyusul kebebasanmu.


Tidur

musik-musik sendu

menyentuh

kasur yang lembut

dan kosong

bersih

dari tangis

menguar luka tanpa darah

jatuh sebagai batu

jatuh sebagai lagu

dengan lirik kehilangan

Ibu


Wajah yang Terbakar di Stasiun Manggarai

Aku lupa bertanya padamu

bagaimana cara terbaik

menyelamatkan cinta

dari sakit hati

Di peron dua aku menunggu

bertahun-tahun, berganti baju

wajah yang tetap suram

rambut yang tetap kelam

mengibas masa lalu dari tanganmu

dari napasmu

dari tangismu

dalam sunyiku

Entah apa yang membuat diriku

menyebutmu masa lalu

sementara kita tak pernah berpisah

sekaligus tak pernah bersama

darahmu

dalam

darahku

Aku melihat restoran berjejer

seperti kelaparanmu

yang belum mampu kausampaikan

kecuali dalam rengek dan ba-bi-bu

hujan pernah menyapu kita

tetapi menghangatkan dalam peluk

yang kita eratkan

kemarau pernah mendinginkan kita

bersama bising kereta dan bau keringat

para penumpang ketika kauhilang

dan aku menjerit mencarimu

meski aku tahu kau adalah aku

Anakku, suatu saat entah di mana

kita akan kembali bersama

naik kereta menuju rumah

aku menenteng banyak kardus

tetapi takkan pernah kubiarkan

tubuhmu terjatuh, tersenggol tubuh

orang lain ketika kereta rel listrik berhenti

dan penumpang seperti binatang buas

yang membakar wajahku dengan api

kebencian tanpa sanggup kutahan


Jihan Suweleh, lahir di Gorontalo, 14 Desember 1994.

Cerpen

Cinta Terlarang

Cerpen Anggoro Kasih

Aku membuka jendela kamar hotel, membiarkan angin yang dibawa oleh pekat malam masuk membelai tubuhku. Kulihat bulan bulat sempurna berwarna perak seperti mata serigala, bertengger mesra di langit malam tanpa bergerak seperti terperangkap dalam bingkai jendela. Kupandangi bulan itu beberapa saat. Sebagai pengganti rasa gelisahku menunggu pujaan hatiku yang tak juga kunjung tiba.

Kini aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Kunyalakan televisi sekadar mengusir sepi. Aku sudah menutup jendela dan membiarkan bulan perak berada di luar sana sendirian. Sudah pukul sebelas malam. Tak ada lagi kabar darinya selain pesan yang dia kirimkan sekitar satu jam yang lalu “Sabar ya, aku pasti datang menemuimu.”

Aku cemas memikirkannya. Ingin sekali aku mengirim pesan atau menelepon untuk mengobati rasa cemasku. Namun selalu urung. Pikiranku berkecamuk, mungkin dia sedang mencari alasan kepada istrinya agar bisa pergi. Mungkin juga dia sedang meninabobokan anaknya. Maklum, anak keduanya masih berusia balita. Atau mungkinhal buruk terjadi; istrinya memergoki obrolan mesraku dengannya dichatt roomWhatsApp. Untuk yang terakhir ini, aku selalu mengingatkan dia agar menghapus obrolan kami begitu menemu ujung percakapan. Tapi aku tahu dia sering teledor dan pelupa. Semoga saja ini hanya prasangka burukku. Semoga saat ini dia sedang sibuk menyetir, membelah jalanan macet yang memang selalu padat di malam minggu seperti sekarang untuk menuju ke sini.

Aku mengganti saluran televisi berkali-kali. Berharap menemukan acara yang tepat untuk mengusir rasa gelisahku, namun gagal. Akhirnya aku beranjak dari tempat tidur, berjalan mondar-mandir seperti induk ayam kehilangan telur. Sementara ponselku masih saja diam tak bersuara. Aku benar-benar benci situasi seperti itu. Kenapa untuk melepas rindu saja begitu merepotkan? “Arrghh.” Aku menggerutu pelan.

Kamar hotel ini berukuran delapan kali delapan, dilengkapi fasilitas lengkap layaknya hotel bintang lima. Mungkin sudah tiga kali aku memesan hotel ini untuk melepas rindu dengannya. Namun bukan di hotel ini saja kami biasa bercinta. Kami sering pindah-pindah hotel untuk menghindari terbongkarnya perselingkuhan kami. Sebagai direktur perusahaan yang cukup punya nama, aku bisa saja sewaktu-waktu bertemu dengan client atau kenalan. Seperti dua minggu lalu saat aku berjalan dengan kekasihku menuju kamar yang telah kupesan, aku bertemu dengan rekan bisnisku.

“Sedang apa Anda di sini?” pertanyaan itu keluar usai kami bertegur sapa dan berjabat tangan.

“Biasa, urusan bisnis,” jawabku enteng. Lalu aku mengenalkan kekasihku. Tak ada sedikit pun kecurigaan yang muncul dari raut wajah rekanku. Dia memang belum tahu banyak mengenai diriku, terlebih tentang hubunganku dengan kekasihku. Tentang hal itu, tentu saja aku bersyukur.

Semenjak kejadian itu, aku dan Dudut, begitu biasa aku memanggil kekasihku, memutuskan untuk tidak berjalan bersamaan saat masuk dan keluar hotel. Dudut menangbukanlah nama aslinya, melainkan panggilan sayangku padanya. Kupanggil demikian karena dia gendut. Namun aku tak pernah mempermasalahkan itu hinggamenyuruhnya untuk diet. Bagiku gendut itu lucu, dan yang terpenting, sangat hangat untuk kupeluk. Sampailah waktunya banyak orang yang mencurigai hubungan kami, dan karenanya kami sering mendengar desas-desus yang beredar tentang kisah asmara kami. Karena aku dan Dudut sudah sama-sama berkeluarga, maka semenjak itu, kami memutuskan untuk bermain lebih hati-hati.

Seperti sungai yang berhulu, kisah ini juga berawal. Aku mengenal Dudut dari temanku bernama Widy. Saat itu semua berjalan wajar dan biasa. Saat itu aku sedang merasakan sakit hati hingga menenggelamkanku pada lautan derita yang kelam. Kekasihku sebelumnya saat itu bilang kalau hubungan kami harus berakhir. Seperti seorang pejalan yang terjerembab ke dalam lubang hitam secara tiba-tiba. Aku kaget dan tidak bisa terima. Ketidakterimaan itu terasa menyakitkan, terlebih karena datangnya tiba-tiba hingga aku sulit menerimanya. Sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiranku hal itu akan terjadi. Widy adalah orang pertama yang menenangkanku. Memberiku semangat untuk perlahan bangkit dari lubang hitamku. Saat itu aku seperti manusia tanpa harapan. Manusia yang selalu mencoba memungkiri kenyataan hingga hanya menyisakan kepedihan.

Ombak akan terus bergulung dan kisahku juga terus berjalan. Selain Widy, juga ada Dudut yang sering menemaniku selama dalam masa remuk, dia ada  membawa air dan udara sejuk. Aku merasa bersyukur karena memiliki mereka, terlebih Dudut, karena itu aku dan Dudut menjadi dekat, bahkan hubungan kami menjadi mesra.

“Kamu jangan terlalu dekat dengan Riben. Lebih baik kau menjauh dia,” ucap Widy padaku. Riben adalah nama asli Dudut. Saat aku mencari tahu alasan kenapa aku harus menjauhi Riben, Widy menjawab kalau Riben telah jatuh hati padaku dan hal itu katanya bisa membuatku tidak jadi lepas dari dunia kelam yang saat itu dia nilai mulai kulepaskan.

***

“Kamu sudah lama? Maaf aku baru selesai mandi. Habisnya kamu gak ada kabar,” ucapku usai membuka pintu.

Tanpa banyak kata, Dudut masuk dan memelukku erat, dia mendekapku seperti seorang tuan yang takut burung merpatinya lepas. Sementara tangannya sibuk memeluk dan membelaiku, dia gunakan kaki kanannya untuk menutup pintu.

“Aku rindu,” ucapnya manja di samping telingaku. Handuk yang kugunakan juga sudah terlepas. Bibirnya kini menyapu daun telinga dan leherku. Dia seolah tak mau melewatkan setiap incinya. Sementara tangannya sibuk membelai dan meremas dadaku. Tangan itu perlahan turun, menepuk pelan bokongku. Kurasakan bibirnya semakin liar bermain. Lidah kami beradu. Dia memang pandai memancing dan membuat nafsuku bangun dan berapi.

Hanya ada suara televisi dan nafas yang beradu. Tidak lagi terasa dingin udara AC meski kami sudah sama-sama telanjang. Justru tubuhku terasa panas saat tangan Dudut dengan gemas mamainkan kemaluanku. Aku dibuatnya malayang.

“Lakukan cepat, aku sudah tak tahan lagi,” ucapku yang lebih terdengar seperti desahan yang mengemis.

Perlahan, kemudian cepat dan semakin cepat si jagoannya menusukku. Menghentak-hentak, membuatku menjerit pelan beradu dengan suara decitan tempat tidur. Tubuhnya rebah di sisiku setelah senjatanya memuntahkan hasratnya.

“Aku sayang kamu,” ucapnya usai mengecup keningku. Kami tidur berhadapan. Tanganku membelai wajahnya. Ingin sekali kubawa wajah itu kemana pun aku pergi.

Pekat semakin mengikat malam gelap. Aku berdiri menghadap ke luar jendela, memandangi bulan bulat perak masih berada di tempat yang sama seperti enggan pergi. Rasanya aku juga ingin seperti bulan itu. Berada di sini bersama Dudut lebih lama lagi. Namun itu jelas tidak mungkin. Hidup memang sering menyebalkan. Usai merapikan kemejanya, Dudut memelukku dari belakang. Aku tahu dia juga ingin berada di dekatku lebih lama. Tapi kami tahu sama tahu, kami harus segera pulang, karena istri kami sama-sama telah meninggalkan banyak riwayat panggilan di ponsel kami masing-masing.

***


Anggoro Kasih, lahir dan menetap di Karanganyar, Jawa Tengah. Pernah menuntut ilmu di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia UNS. Sekarang aktif di Komunitas Sastra Kamar Kata.

Buku, Resensi

Antologi Kenangan dalam Bangun Pagi (semoga) Bahagia

oleh Indah Darmastuti

“Tugas seorang pemimpin adalah:

 membuat rakyatnya bangun pagi bahagia”

Kalimat pembuka itu diletakkan di halaman awal, di bawah foto tiga laki-laki dalam buku lakon bersampul paduan hitam dan krem. Sepertinya Eswe, si Penulis lakon ingin meyakinkan pada siapa pun bahwa kebahagiaan itu penting dan hak setiap umat sehingga ia mencantumkannya sebagai salah satu tugas seorang pemimpin (ideal).

Tetapi dalam 9 naskah plus 1 prolog dengan tokoh tiga pemuda: Bas, Bob, dan Frank itu lebih banyak mengobrolkan tentang kesedihan juga kenangan-kenangan pahit, bahkan luka yang diproduksi dalam keluarga yang semestinya menjadi salah satu sumber utama kebahagiaan sebelum para tokoh itu masuk pada kancah masyarakat dan bagian dari sebuah bangsa yang bergolak pada 1997-1998 semasa mereka remaja. Mereka seumuran dan berkawan dekat.

Buruknya Hubungan Keluarga

Tiga tokoh itu punya akar kepahitan yang ditanam oleh orangtua yang buruk menurut ukuran pada umumnya. Tokoh Bas bermasalah dengan ibunya. Entah ada persoalan apa sehingga  ibu mengutuk anaknya sedemikian rupa. “Pergi dari rumah ini! jadilah gelandangan […]” dan “Matilah seperti bangkai tikus, tak ada yang akan menangisimu […]” (hal. 35 dan 36).

Pun pada tokoh Frank yang bertengkar dengan ayahnya. “Frank, kamu bukan anakku, kamu anak kelelawar malam yang tersesat menghamili ibumu.” Pada puncak pertengkaran itu, tiba-tiba ayah Frank bertanya “Apa cita-citamu, Nak?” / “Seniman teater,” dan seperti ayah yang buruk, ia langsung menghakimi anaknya dengan mengatakan bahwa masa depan Frank buram seperti kertas dan ayahnya bilang: “Lebih baik kamu mati sekarang, Frank.” (hal 38-39).

Bob tak jauh beda. Ia mendapat pesan dari neneknya sesaat sebelum meninggal: “Jadilah jahat sebelum orang lain mengajarimu kejahatan, sebab kejahatan yang orisinil datang dari hati nuranimu. Kejahatanmu akan lebih berkwalitas dari seorang kriminal atau koruptor. Sekalipun persoalan keluarga semacam itu ada, aku membayangkan betapa berat untuk meraih kebahagiaan itu, apalagi kalau itu menjadi salah satu tugas seorang yang memimpin.

Saya mencurigai, ada apa dengan Eswe sehingga memilih menghadirkan orang tua (ibu, ayah, nenek) yang buruk menurut pandangan umum. Saya katakan begitu, karena siapa tahu itu baik menurut beberapa kalangan karena satu dan lain hal.

Penyebutan tokoh-tokoh terkenal

Memang tak selalu naskah lakon ada kandungan alur cerita, plot, konflik dan tematik khusus yang mengarah pada sebuah titik seperti novel. Seperti dalam buku lakon ini, kita bisa menyimak obrolan tiga bersahabat tentang apa saja sebelum akhirnya mereka dibawa ke persoalan yang akan diangkat oleh Eswe: Reformasi. Tetapi perihal peristiwa 1998 itu hanya satu bagian saja, selebihnya tetap mengangkat obrolan-obrolan anak muda pada zamannya. 

Salah satu tema obrolan tiga tokoh itu selain tentang cita-cita, mereka mengungkap tokoh-tokoh yang mereka kagumi. Bas yang disumpahi ibunya itu mempunyai tokoh idola: Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Christina Marta Tiahahu, R.A. Kartini, Laksamana Malahayati, Bunda Theresa, Panglima Polim dan Nabi Muhammad SAW. Kecuali Kanjeng Nabi Muhamaad dan Panglima Polim, tokoh yang dikagumi Bas semuanya Pe..rem..pu..an. Benarkah tak ada konflik psikologi tokoh Bas pada makhluk perempuan dan sosok ibu? Di sini tak ada penjelasan tentang mengapa ia yang mempunyai hubungan buruk dengan ibu, sangat mengagumi tokoh-tokoh perempuan. Atau barangkali Bas merindukan sosok ibu yang baik dan penuh kasih sehingga ia mengambil tokoh idola perempuan?

Frank—si anak kelelawar itu mengagumi Sukarno, Hatta, Syahrir dan Helen Keller. Sekali lagi, selain Helen Keller, tokoh yang dikagumi Frank adalah la..ki..la..ki.. tak ada trauma atau gejolak psikologi pada tokoh Frank. Entah mengapa tokoh Frank itu mengagumi Helen Keller yang difabel netra-rungu-wicara. Barangkali karena Helen Keller juga pengamat politik. Tetapi di sini tetap tak ada penjelasan, mengapa tokoh Frank yang mempunyai hubungan buruk dengan ayahnya itu justru mengagumi sosok laki-laki atau Frank merindukan sosok ayah yang mendukung dan mengayominya sehingga ia mengidolakan tokoh laki-laki.    

Lalu, Bob yang mendapat pesan dari nenek ajar menjadi penjahat berkualitas itu mengagumi Suharto dan Tan malaka dengan alasan: Tan pemikir komunis, sedang Suharto berhasil mengkomuniskan banyak orang. Satir yang pas. Di sini tampak sekali salah satu kekuatan Eswe untuk melontarkan kritik pada sebuah peristiwa dengan cara berada di antara dua kutub yang berlawanan.

Lagu Daerah

Dituliskan dalam teks, peristiwa berkumpulnya tokoh Bas, Bob dan Frank adalah 1997-1998 ketika Penataran P4 menjadi agenda wajib diikuti oleh setiap remaja garapan “pabrik” orde baru untuk setiap warga negara yang mengaku nasionalis dan berpancasila. Yang salah satu mata pelajarannya adalah mengenal lagu-lagu daerah: O Ina Ni Keke, Gambang Suling, Soleram, Apuse.

Mereka tak menyanyikan lagu pop atau dangdut yang mungkin bisa dipakai untuk menandai lagu-lagu apa saja yang hit pada masa itu. Tetapi ada tambahan daftar lagi mereka di luar lagu daerah, yaitu: Darah Juang karya John Tobing, lagu tema perjuangan menumbangkan tiran kala itu

Peristiwa serius yang terjadi di negeri ini disampaikan dengan jenaka, dan tak lupa Eswe menyatir apa yang terjadi setelah reformasi: setelah berjuang menggulingkan tiran kakak-kakak mahasiswa yang kala itu melakukan protes akan menangguk keuntungan dengan mendapat bagian kursi-kursi senayan.

Cerita lain yang disentil oleh Eswe adalah tokoh Bob (pengagum Suharto garis keras) Frank dan Bas yang mendukung reformasi tetapi tetap mementingkan persahabatan. Belum ada Facebook memang, tetapi sangat mungkin mereka tidak saling blokir karena di sini mereka bertiga tetap bersatu jualan ikat kepala bertuliskan reformasi. Eswe menangkap ada peristiwa nyempil di sini, bukan menampilkan tokoh sok hero yang berorasi bak politisi karbitan.

Buku naskah panggung ini, mencoba hadir memenuhi takdirnya bahwa pementasan, betapa pun  serius dan berat tema yang diangkat, upaya untuk menghibur dan kelayakan ditonton tetap harus dipikirkan matang. 

Naskah ini ditutup dengan obrolan mereka bertiga tentang evaluasi hidup mereka. Mengevaluasi cita-cita yang selama ini sempat mereka genggam sebagai remaja produk orde baru plus keluarga hancur.

Bob yang semula bercita-cita mati muda, berubah ingin menjadi penjagal sapi. Frank yang semula ingin menjadi seniman teater, beralih keinginan menjadi peternak ikan dan membuka usaha odong-odong. Yang paling pilu adalah Bas, karena kuncinya ada di sini, ketika Frank bertanya “Apa cita-citamu, Bas?”

“Aku hanya ingin bangun tidur bahagia, Frank.” [hal 98]

Pada akhirnya kebahagiaan itu harus dicari sendiri, dikaisnya dari sisa-sisa umur dan paparan persahabatan atau apa pun yang akan terjadi dalam hidupnya. Siapa pun berhak bahagia, termasuk ia yang pernah dikutuk ibunya.  []


Indah Darmastuti, tinggal di Solo. Anggota komunitas Sastra Pawon-Solo. Pendiri Difalitera situs sastra suara untuk difabel netra. yang bisa diakses dan diunduh secara gratis di http://www.difalitera.org atau bisa diakses di spotify.

Puisi

Puisi Seruni Unie

Move On

1.

Dengan atau tanpamu

duniaku

masih lembut kenyal

2.

Tak apa aku sendiri

sebab dadaku

ranum diksi

3.

Pergilah jauh

hasrat tak lagi luluh

di hadapanmu

Solo, 2016/2018


Kamar Penyair

Sepi  tak wangi

hanya bayangan diri

sibuk onani

Solo, 2019


Sebuah Puisi (Tak) Horny 

1/

Kau buat aku horny

pada sapamu

yang rendah hati

2/

Gairahku sontak menggelinjang

saat tuturmu

sopan

3/

Kapan bertemu

ingin kuhibahkan

seluruh  kecupku

Solo, 2018


Jumpa

Kueja tekun

adamu

sebelum matahari pikun

Solo, 2018/2019


Epilog Rumah Lama

1.

Di Kamar

cat dinding mengelupas

mirip cinta yang kandas

2.

Di Ruang Tamu

senyum bapak membiru

pamit padaku

3.

Di Dapur

cinta ibu melebur

dalam sambal dan sayur

4. 

Di Halaman

setangkai mawar

mengucap selamat tinggal

Solo, 2016/2018


08569***

Kau tinggalkan

Nada tulalit

Sebagai isyarat pamit

Solo, 2019


Fragmen Secangkir Kopi

1/

Akulah ampas

dalam kopimu

yang ditinggal tak ikhlas

2/

Seperti selir

menunggu kecup bibir

tak henti zikir

3/

Maka reguklah

sesukamu

sebelum dingin waktuku

Solo, 2019


Bro

Di waktu cingkrang

Aku pernah kasmaran

Padamu, adam

Solo, 2019   


Seruni Unie, penikmat puisi asal Solo.