Puisi

Puisi Agus Widiey

Surat yang Kehilangan Alamatnya

Maafkan kerinduanku, dik.

Bila kau harus kuberi tahu

Kota ini menyimpan kesunyianku,

Dan entah kesunyianmu jugakah?

Kini tinggal sisa-sisa kenangan.

Setelah jarak yang katanya hanya dapat diraba angan

Pelan-pelan menebas harapan demi harapan.

Atau barangkali masih ada,

Hal-hal lain yang berharga untuk kita jadikan alamat,

Agar kita bisa kembali pada keselamatan takdir

Meski masa lalu akan melahirkan banjir kerinduan

Dan masa depan menyimpan beragam kegelisahan.

Yogyakarta, 2023


Sebuah Bencana di Masa Lalu

     –Nabi Nuh AS

Telah ia tumpahkan banjir melebihi air mata perempuan

Yang bertahun-tahun menyimpan kesunyian juga kerinduan.

Bagi mereka yang bertuhan pada sosok berhala

Yang mereka cipta dan menganggapnya maha atas segala.

Tiba-tiba Nuh datang

Berbekal sebuah kapal

Dengan niat membawa

Mereka dari duka peristiwa.

“Bismillahi Majreha Wa Mursaha”

Tapi mereka yang mencari Tuhannya sendiri

Tanpa mengikuti catatan nabi,

Bahkan putranya yang bernama Kan’an

Hanyut diantara kesesatan

Karena menolak suatu ajaran

Yang telah dititahkan tuhan

Hingga akhirnya tenggelam

Dalam maut kesedihan.

Tuhan, apakah iman yang ilmiah

Masih kalah ketimbang yang alamiah?

Yogyakarta, 2023


Falsafah Waktu

Demi waktu yang tak pernah tertata dengan rapi

Aku menolak, bila ia hanya diukur dengan angka-angka

Sebab kerangka jam yang kita pandang

Dalam hidup nyaris tak akan pernah sama.

Misal kita berjalan di atas bumi Malioboro

Berbekal cinta dan rindu yang meluap di dada

Sungguh pertemuan adalah kebahagiaan tak terhingga

Bahkan mengutuk waktu yang terasa cepat berlalu

Apabila waktu harus menuntut kita jadi masalalu.

Sebaliknya, misal kita tak sengaja bertemu lagi di Vredeburg

Sebagai mantan kekasih yang saling memendam rasa dendam

Sungguh satu jam akan terasa seperti satu abad lamanya.

Maka, tak ada waktu yang menyimpan kebahagiaan

Kecuali napas kita sedang menghirup peristiwa istimewa

Juga tak ada waktu yang menyimpan malapetaka

Kecuali napas kita sedang menghembuskan peristiwa duka.

Yogyakarta, Desember, 2023


Selamat Membaca, Ibu

; Minatun

Minggu lalu puisiku dimuat

Orang-orang mengucapkan selamat

Tapi aku akan merasa lebih bahagia

Jika ibu jadi pembaca pertama.

Sering kali aku teringat

Pada kecerobohanku sendiri

Dan ibulah yang kerap mengajari

Agar memilih sesuatu dengan cermat.

–Sebagaimana ketika ibu membelikan baju

Dengan ukuran pas, dan sesuai warna kesukaanku–

Maka dari itu,

Aku belajar memilih kata

Dengan hemat dan cermat

Agar pengamat ikut merasa nikmat.

Selamat membaca, ibu

Kutulis puisi ini untukmu.

Yogyakarta, 2023


Falsafah Tuhan

Sebab mata  

Yang terlihat di hadapan kaca

Hanya mampu

Menatap yang ada di hadapanku.

Sedang hati

Yang nyaris tak kuketahui

Mampu menatap dan merasakan

Yang ada di luar nalar pikiran.

Mata yang di luar

Dekat cara ia menatap

Hati yang di dalam

Jauh cara ia menatap.

;begitulah cara kerja mata dan hati, kekasih.

Yogyakarta, 2024


Agus Widiey, Lahir di Sumenep, 17 Mei. Menulis Puisi, Cerpen, Cernak, Cermis, dan Resensi. Tulisannya tersebar di pelbagai media baik lokal maupun nasional. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pernah memenangkan lomba cipta puisi yang diselenggarakan Majelis Sastra Bandung (2021). Anggota di komunitas Damar Korong(Sumenep).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *