Puisi

Puisi A. Warits Rovi

KESENDIRIAN MESIN KETIK

aku melanjutkan hidup dengan paling sederhananya degup

sambil menikmati kesendirian—sepi terus menyayangi

dan pada setiap rongga tubuhku, anak laba-laba

tekun mengaji:

           mengaji dengan membaca setiap kerangka tulang

yang patah dan berdebu. bibirnya yang pucat pernah

berkali-kali menanyakan

sehelai kertas;

            kertas adalah kekasih masa laluku yang lebih

memilih printer untuk memasrahkan urusan hidup

dengan ukiran huruf-huruf;

                         huruf-huruf telah diperintah zaman

untuk meninggalkanku selamanya, dan tak boleh

interupsi kepada dunia, karena dalam langkah kemajuan

ada yang mesti ditinggalkan.

Rumah Filzaibel, 2023


LAPTOP SEDERHANA, IDE SEDERHANA, DAN

KESEDERHANAAN SEBENTUK SAJAK

1

suatu pagi yang ditinggal embun, laptop memintaku

menulis sajak dengan kedip mata kursor yang memelas

beberapa kali kucari gagasan, beberapa kali kutempuh

gugusan—yang ada hanya kekosongan yang mengakhiri

tatap mata titik di datar layar;

                                       layar dirambah jalan kepiting

yang menjepit rontoknya rambut bulan dan kuku patah

milik angin;

           angin yang mengitari kepalaku—saat diri terus berpikir

tentang sajak apa yang pantas ditulis, sedang di luar sana

sajak-sajak ditulis hanya untuk didustai.

2

dengan sapa rahasia, laptop lalu membisikkan sesuatu

“tulislah saja tentang aku, apa pun bentuknya,” suaranya

serak, gamang, dan gemetar, tiba samar

di lubang telinga:

                 telinga hanya bisa menerjemahkan suara

rontokan daun di halaman rumah tak berpenghuni, sebab

ia berkesimpulan bahwa sajak adalah kata lain dari sepi.

huruf-huruf pun kuketik, saling dekap di balik

tarian jari-jari;

            jari-jari yang sabar menyusun tubuh sajak sederhana,

sesederhana daun jatuh menyapa tanah, sesederhana ide yang

datang tiba-tiba tapi pergi dengan tergesa, sesederhana laptop

yang—diam-diam—mencintai jari-jari dengan sajak

yang tak menemukan kata-kata.

Sumenep, 2023


DUNIA VISUAL

dunia dilahirkan kembali ke dalam cahaya

bernama “maya”—si pesolek yang mahir menutupi sisi yang asli

dengan binar kembang putih, dan usianya kian panjang

setelah orang-orang menggulir

layar gawai:

          gawai dengan wajah berparam barang-barang diskon

yang digemari kaum adam dan hawa, barang sehelai bentang rambutnya

telah ia semir dengan harga-harga, lantas ia mahir memilih

gratis ongkir jasa ekspedisi:

                     jasa ekspedisi  yang rutin mengirim paket berisi

bigorafi dunia cahaya itu sendiri, yang terus menari-nari

tapi terus menyendiri.

Gapura, 2023


SELAMAT MALAM, INSTAGRAM

selamat malam, instagram; bulan warna asam

ceking mengerucut dalam foto unggahanmu

di bawahnya ada namaku yang kautulis

dengan warna lipstikmu;

                        lipstikmu adalah warna langit

dalam mimpi-mimpiku, dalam puisi-puisiku.

karena suatu waktu saat kuoles ke bibirku,

malam jadi pergi dan matahari datang sendiri

sebab pada warna lipstik itu

cintamu-cintaku telah setubuh.

Rumah Filzaibel, 2023


PETANI DUSUN BUNGDUWAK

ia menegur dirinya sendiri dengan

seutas cemeti yang memecut

punggung sapi:

                  sapi betina yang membagi tugas dengan si jantan

                  si jantan harus tangguh membaca medan tanah karapan

                  agar di seberang alam; moyang bisa bertepuk tangan

                  sedang si betina bertugas menarik tenggala, menanam isi dada ke

                  guritan tanah:

                               tanah masih berupa sajadah pada makna yang lain

                               agar kedaulatan terus bersembahyang

                               indah berdiri tak harus berduri

                               tapi berisi seperti padi;

                                                            padi yang merelakan bijinya kepada petani

                                                            dan merelakan daunnya kepada sapi

                                                            supaya sapi dan petani

                                                            sama-sama kuat menghadapi cemeti

                                                            cemeti hakiki dan cemeti majasi

                                                            yang dilecut pelaku kapitalisasi.

Rumah Filzaibel, 2023


A.Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah “Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki” (Basabasi, 2020), “Bertetangga Bulan” (Hyang Pustaka, 2022). Sedangkan buku puisinya yang berjudul “Ketika Kesunyian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela” memenangkan lomba buku puisi Pekan Literasi Bank Indonesia Purwokerto 2020. Ia aktif di Komunitas Damar Korong dan mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jl. Raya Batang-Batang PP. Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472.

Puisi

Puisi Faustina Hanna

Tuguran*

        sejam berlalu semenjak jurit waktu berpiuh bersama

                   keranjang dosa

                                         yang kumuh

/1/

dari kejauhan ada yang menanti;

pada jalur utama sepeda motorku: gapura-gapura teguh

penuh paru lampu. maka mulailah kuhitung teliti  

     −lembar per lembar

kerabat jauh langit merah telah lengkap. semestinya hanya

satu yang termuda akan terlambat melapor.

/2/

perlahan, begitu berhati-hati dan khidmat

induk-induk angin datang berkabar tentang sepenggal kidung

baru. mengapa ada yang sebegitu lembut dan mulia seperti cara

Bunda berbisik di sisi telingaku

/3/

sebelum tiba saatnya, izinkan kami terlebih dahulu kelola hati

berarak serupa larva iman yang mentah, lapar dan kian bergerak

hingga jarak;

bisa saja segala telaten ditanami menjadi sederet kebun jiwa

yang rapat. di sana akan banyak yang bersahutan mesra

tentang lesung usia yang menyimak secara santun setiap wadah

hingga ketukan,

terdengar jelas, bukan? aku, dia, dan sejatinya tentang setiap tubuh.

tak perlu tungku dipesan untuk memasak setiap nama yang

sulit teringat pada daftar panjang kekeliruan serta kesalahan.

sudi pandanglah ketika ranting yang geram itu bisa saja melubangi

beratus pasang mata kami (menuju lantas menggempur nurani

yang terkadang kerdil).

     tidak!

asalkan kami dieratkan oleh aroma dupa nan syahdu milik-Mu.

milik-Mu

yang kerap memulangkan kembara senja kepada kanak-kanaknya.

/4/

semenit lalu aku baru saja mengambil air suci, membuat

tanda salib, lalu biarkan rindu paling abadi yang kumiliki sejatinya

akan bermuara di dada. memperbarui tiap janji darah dan tulangku.

ya, persis hari itu di antara lebat temaram Kau bersabda agar kami

berbuah banyak.

     Tuhan…

kami sungguh ingin menjadi cinta yang bersahaja di dalam rumah-Mu.

/5/

pada altar suci;

induk-induk angin masih bercerita akan kasih mahasempurna dan

segenap anak-anak-Mu serupa gapura-gapura teguh penuh paru lampu

/6/

tiba saat bagi lilin-lilin mungil untuk segera dipadamkan. berilah waktu

sejenak, kepada baris cahaya untuk segera terkatup,

biar hening ini tercipta untuk-Mu. biar kami berdoa kemudian berjaga-jaga

bersama Engkau.

     “Berjaga-jagalah dan berdoalah,

     supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan:

     roh memang penurut, tetapi daging lemah.”**                       

5-6 April 2012-2022

* Tuguran adalah Ibadat dalam umat Katolik yang dilakukan setelah Misa

Kamis Putih Malam. Memiliki makna penting: umat akan berjaga-jaga

bersama Yesus Kristus dalam doa kepada Bapa-Nya di Taman Getsemani.

Umat berdoa bersama di hadapan Sakramen MahaKudus yang telah dipindahkan

dari Altar Utama. Untuk merenungkan wafat Kristus demi umat manusia,

keesokan harinya pada Jumat Agung.

** Injil Matius 26:41


Jantung Hati

− bagi ‘wajah Silentium’ yang dilukis oleh Adikku, Jefron (Viktorinus Dale Hikon)

#1

Maka merupalah bayanganku,

niscaya kau takkan berkhianat

kepada apa yang terjamah

dan terpangkas oleh

cahaya

sepanjang tubuhku.

#2

Terima kasih.

Telah bersedia menjadi biji mata tersendiri

yang teramat kukasihi. Tatkala aku

memutuskan menutup raga,

sepasang mata

pun hatiku

dari setiap kemungkinan

— duka maupun suka cita.

Juli 2023


Risalah Rambut, 1

tanpa sepengetahuanmu −namun sedalam ingatanku− bibir ini

selalu gagal membujuk pulang setiap jejak senyum masamku

yang tertinggal, dan berserakan pada simpanan cermin kamar

mandi. aku tahu, aku telah menghafalnya: segala peristiwa itu

seperti harus terjadi sewaktu kau berhari-hari menjadi lugu,

dan tak tersentuh oleh gemetar jari-jemari di tanganku. kau

acuh tak acuh, seolah bukan lagi bagian dari diriku yang utuh.

kepada cinta yang terasa sulit mengeratkan wewangi sampo

dengan ujung-ujung halusmu, pagi kembali datang bersama gerak

sendu hari kemarin yang dukanya mudah memecahkan vas bunga.

— vas bunga di sisi kiri hatiku. maka; kini kau yang lebih dulu

berani memutuskan berantakan mendahului segala pikiran,

membilangkan isi gumamanku, mendamparkan bagian-bagian

remeh dirimu yang belum lama tumbuh, di keningku.

September 2013-2020


Risalah Rambut, 2

   (bisikanku bagi ujung rambut yang telah mencapai pinggul)

tumbuh, teruslah tumbuh memanjang. hingga cinta menjadi

sedemikian alpa akan keberpihakan malam ini; entah kepada

ujung penghabisanmu, atau kepada mabuk yang dijanjikan

oleh sentuhan bibirnya. abaikan! sebab tentu kau perlu

durhaka pada sepanjang kisah yang ditentang sebagai batas

kewajaran dan keteraturan dalam kembar cermin muram di

hadapanku ini. 

Mei 2020


Anuptaphile

Ada kalanya cinta berupaya mengetuk pintu hati saya.

Dengan teramat santun, saya meminta kepadanya

Agar sabar menunggu, namun tiada sekali pun saya

Bergerak maju untuk membuka pintu dan menyambutnya.

Saya ngeri menghadapi setiap kemungkinan; bahwa saya

Akan mabuk meski tanpa anggur, hingga alpa membedakan

Warna-warna pelangi.

2019


Aksentuasi

Di belantara puisi,

tiada yang dapat menyesatkan sekaligus

menyelamatkan dirimu

selain

bisamu sendiri.

18 September 2023

(17.05)


Faustina Hanna, lahir di Jakarta, 5 April 1987. Penikmat seni budaya dan kearifan lokal. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta di Jakarta, aktif menulis puisi, freelance Graphic Design, menekuni fotografi dan ragam kuliner Nusantara. Sajak-sajaknya telah tersiar di pelbagai media cetak dan online. Silentium (Teras Budaya Jakarta, 2023) adalah buku kumpulan puisi pertamanya. Beberapa sajaknya tergabung dalam antologi. Pernah menjuarai lomba penulisan puisi dan berencana melanjutkan studi ke Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Puisi

Puisi Ludira Lazuardi

RHAPSODY OF LONGING

Kekasih,

tak pernah alpa dalam kepala

kala debar pertama

melebur bersama debur-debur

ombak di karang dan pantai

dan rayleigh biru menghambur memburai

angkasa berwarna jingga

seketika rindu tak terhingga

Lalu setelah itu

tiap kedatanganmu

adalah tantangan bagi nyaliku

mampukah aku nyalakan

rasa di kedalaman relungmu yang misteri

mimpikan cinta mengaliri vena-arteri

karena kau begitu indah

sebab kau begitu rapuh

Bila tiba waktu untuk berpisah

aku ingin berkesah

namun tak ingin buatmu resah

sungguh, pergimu

adalah perigi setiap sunyi

terasingku di sunyaruri

sepi bersepai-sepai

di antara dersik angin sepoi-sepoi

Kekasih,

seumpama kaudedah dada

geledahlah dengan seksama

kau akan menemu gundah gelebah tiada sudah

berkelindan pada asa

pada rasa

pada karsa

Kekasih,

bilamana aku bangun setiap pagi

itu untuk mencintamu sekali lagi

Jogja, 2023


REPENTANCE

Aku telah sampai di sini

di mana apa yang layak kuingat hanya sebatas senyummu yang terkembang

membawamu berlayar jauh dariku.

Tiap pagi aku bangun untuk memungut hari-hari kemarin

yang tercecer ketika kita melewati jalanan dengan riang pun amarah

lalu pulang dengan sebuket kenangan dalam genggaman

 hadiah dari semesta untukku merayakan malam dalam diam

(Empedu malam pecah, kuarkan pahit di ujung-ujung lidah)

Bunyi-bunyi sunyi mulai berani keluar dari tempat sembunyi

Ah, berisik sekali keheningan ini

Dulu bersama kita pernah mengunjungi dunia mimpi-mimpi

sengaja lupa cara bangun

menutup mata pada realita

Dulu bersama kita pernah berdiri di puncak dunia

dengan angkuh hendak melampaui yang namanya selamanya

Ketika kita tak lagi saling paham

tersesatku dalam angan sangat dalam,

ingin yang dingin aku menggigil di ujung asa

Ketika kita saling mendiamkan

diam-diam memendam dendam

Kekosongan berdesak-desak memenuhi jemala

Sungguh sesak, aku nyaris meledak

Adakah punggungmu masih menanggung

reruntuhan tahun-tahun yang kita bangun dengan tangan kita?

Karena di tiap tapak langkah kakimu menjejak jarak

 menjelma jenggala kelam

kediaman bagi sesal yang terkutuk

Aku lelah sampai di sini

di mana aku telah berhenti menghitung usia

hanya demi mendapati waktu tersia-sia

dalam penantian yang tak kenal kata usai

Katanya, kita tidak akan ada tanpa waktu

sementara definisinya masih saja menyusahkanku.

Jogja, 2023


DALAM

dalam matamu

badai abadi

dalam hatimu

luka tiada terperi

dalam ingatmu

aku mati

dalam hidupmu

aku tak lagi berarti

dalam kamusmu

tak ada kata

kembali

dalam sesalku

kamu

Jogja, 2023


LUAR ANGKASA

hampa udara

diam

melayang dalam arus abadi yang diam

sedetik adalah selamanya

selamanya yang tak berarti apa-apa

Jogja, 2023


HINGGA PENANTIAN USAI

Hingga penantian usai

Yang aku sendiri tak tahu kapan akan terjadi

Barangkali nanti kala kita telah berhenti menghitung usia

Dan mendapati waktu tersia-sia

Kau tahu aku masih akan di sini

Hingga penantian usai

Dan musim-musim kesedihan berhasil dilerai

Ketika benih-benih rindu yang ditabur

Berbuah manis nan menggiur

Kubayangkan kamu dalam dekap

Mengisi setiap gelap dengan harap

Hingga penantian usai

Dan kelopak bunga jiwa terakhir jatuh

Kau masih akan menemukanku di situ

Berlutut di sebuah batu berlumut menunggu

Hingga penantian usai

Di mana aku tak lagi mengumpat jarak yang tak sudi dilipat

Ataupun mengutuk penantian yang tak punya usai

Sehingga aku selesai.

Jogja, 2022


SOLAR PLEXUS

Pada suatu ketika

: Ganglion terinfeksi kecupan mesra

: Impulse teraktivasi kerlingan mata

Kemudian

Di kedalaman rongga gulita ini,

rahim cinta sekaligus makamnya

Antagonisme dada dan kepala tak berkesudahan

Bergumul kalut kalang kabut saling serang jatuh menjatuhkan

Ada kalanya pencipta rasa berdiri tegak di tengah hamparan

            : biarkan mawar mekar di atas akar-akar

            : biarkan burung-burung bercinta di luar sangkar

Seketika produsen logika datang membadik, harapan

tumbang tepat di ujung lantunan

tembang

            : cinta, bentangan sepi berduri

              tak mungkin mampu kauseberangi.

Dan demikianlah mereka terus bertarung

Hingga deras darah yang naik terjun mencipta halimun

Di kedalaman liang abdomen ini

Sang pencinta yang sekarat, penguasa kelam masa silam

Lunglai luruh di tubir nestapa, menatap, meratap sesaat

Perasaan dan penalaran laksana makan buah simalakama

Mana kalah mana menang

Dia tetap binasa.

Jogja, 2022


Ludira Lazuardi, perempuan yang memendam bara di hatinya.

Puisi

Puisi Diana Rustam

UBAN

kuucapkan terima kasih kepada uban

yang memperingatkanku kepada layu setelah mekar

kepada padam setelah menyala

kuucapkan terima kasih kepada uban

yang mengajariku menghitung sebuah penghabisan

bahwa fajar akan menjadi senja

kulihat diriku kepada uban

aku ada, dan akan menjadi tiada


LIDAH

suatu ketika aku tiada lagi mengenal dirinya

bagai kuda yang lepas dari kekang di padang pasir gersang

yang telah merasuk ke dalam rongga-rongga tubuhnya nafsu buta

tiada timur kepada barat kepada utara kepada selatan

penjuru-penjuru tertabir badai

kemana kata-kata yang bersilaju ditambat

aku tiada lagi mengenal dirinya

lidahku yang suatu ketika memagut berbongkah-bongkah hati

dan menjadikan mereka berdarah dan mati.


MATA

maafkan aku

telah kunodai beningmu, asal mula yang sejati itu

yang ditetesi kasih ibu dan peluh di dahi ayah

hari-hariku adalah memupuk noktah hitam

dan membiarkanmu tumbuh menjadi buta kepada cahaya


TELINGA

dapatkah aku mengulang, duhai?

akan kuletakkan engkau dimana kicau burung mendendangkan kidung pagi

dimana angin berkesiur menimpali ombak yang membelai karang ketika senja menjinggakan langit

dimana gemericik air sungai yang pecah menabrak bebatuan

dan serangga-serangga menimang malam di perut-perut dedaunan

dan bersemayamlah engkau dalam ketenangan

dapatkah aku mengulang, duhai?

akan kuletakkan dirimu di mana seruan Tuhan digaungkan

dan teguhlah engkau di atas kebenaran


KAKI

sepasang kaki yang diam

gentar kepada onak

gamang memandang jalan-jalan bercabang

Menimbang- nimbang pada neraca hati yang bimbang

sepasang kaki yang diam

menunggu sampai waktu menjadi usang

lapuk kemudian roboh sebelum berjuang

alangkah menyedihkan dan pengecutnya


Diana Rustam. menulis puisi dan cerpen di media sosial. Beberapa karyanya telah dimuat di media sastra online dan koran lokal.

Puisi

Puisi Lailah Nurdiana

Tak Ada Pintu Setelah yang Ke 28

:matroni moserang

Setelah menyudahi

Huruf-huruf dengan gelombangnya masing-masing

Tak ada pintu lain

Selain semua yang sudah tertutup

Dengan knop yang terkatup

Perjumpaan rasa dan samudera

Berada di titik paling terang

Antara pertemuan gelombang dan puisi

Kuharap tak ada pintu lain

Di mana-mana, kecuali pintu kembali

Ke puisi dan alam imaji

: pertemuan kembali, tentang pisah

  Yang secara perlahan terbaca

Pangabasen, 2023


Kata Si Penyair

/I/ lantas apa selain kata

    Yang akan menciptakan dingin

    Menjadi hangat dalam tulisan

/II/ sedangkan kalimat

     Dapat Menafkahi hidup

     Di saat surat-surat dari pejabat

     Tak ada yang menyokong tenagaku

/III/ haruskah bait ini disia-siakan

       Untuk semua andai-andai

        tanpa ada bait yang terlahir

      Dari metafora mimpi malam ini

       Malam sebelumnya dan selanjutnya

    :Maka si penyair

     Berada pada pilihan

    Yang tak pernah ada dunianya

Pamgabasen 2023


Hakikat Pertemuan di Dhamar Korong

Di tengah penyair berkepala puisi

Kita mendiamkan diri

Dengan tubuh yang hilang kata

Hanya mengunci tatap yang menggigil

Di lautan yang sama-sama pasang

Di mata kita.

Tanpa mereka tahu,

Kita dalah perjanjian yang ingkar

Nyeri yang bertemu untuk sebuah sembuh yang gagal

Emtah kita sudah sama-sama melupakan

Atau memperbaiki dengan sebuah perdebatan

(dalam batin kita yang masih sama lukanya)

Dan di bagian mana kita bahagia?

: ya! Saat dunia masih setia

  Dengan kepalanya yang sepi

20 februari 2023


Kembali yang Hampir Sama

Dari sebuah jamuan tak diundang

Kita berada di atas alas hitam

Dengan puisi yang melatarbelakangi pertemuan

Tanpa sengaja, tanpa ada kontak kata

Kita sama-sama menyepikan ramai

Merangkai ucapan, hingga mengambang

Menjadi awan yang menggumpal  di

Kepala kita masing-masing

Masihkah kau memiliki peran yang sama

Di dunia baruku?

21 februari 2023


Kepada yang Khianat

Kepada lambungmu yang menyimpanku

Menjadi problematik hidup yang tandus

Aku menjadi liar dalam laut

Yang segalanya tawar,

(sebab ucapan yang rahasia di balik mata bumi)

Menjelma bayang di ruang kosong

Membawa matamu yang tanpa tubuh

Dari balik jendela yang terkatup

Oh, pemilik rupa-rupa

Dan kaubiarakan segalanya hancur

Menjadi gemeretak waktu yahng tak terkendali.

Jika diriku api di dadamu,

Maka jadikan aku kobar paling bara,

Yang setelah padam

Otakmu tak dapat melahirkanku Kembali

Dalam pujian yang kau haturkan pada Tuhan.

Ruang Tengah, 2023


Selepas Menidurkanmu

Setelah kususun bantal-bantal

Di kepalaku yang kosong

Kutimang kau di depan wajahku yang pucat

Sesekali termenung,

Dengan bibirku yang gemetar.

Harapan semua tanggal

Sisa tubuhmu yang tak bernyawa, Kaku dalam rengkuhanku.

Baju-baju yang kupakai

Sudah serupa daun yang lusuh

Di tanah yang tanpa wajah

Hai malaikat kecilku

Kulepas tubuhmu Bersama maut

Dengan Nasib yang abadi

:dan selepas menidurkanmu

Tak ayal mimpiku kambuh

Tentang kau yang pergi

Saat jam berkelana

Tak sesuai keinginanannya sendiri.

Gapura, 2023


Lailah Nurdiana, lahir di Sumenep juruan laok batu putih, sekarang masih duduk di bangku Ma Al-Huda, merupakan santri aktif di PP Miftahul Huda Gapura Timur, penggiat sastra di komonitas sanggar 7 KEJORA dan komunitas sanggar Dhamar Korong, mulai menulis sejak duduk di bangku MTs Al-Huda II. Karyanya bisa ditemui di media nasional dan lokal. Email: [email protected] dan Instagram:  @_xdynaaa

Puisi

Puisi Anam Mushthofa

Melihat Kampung Halaman

Tempat tinggalku di antara dua kota yang sedang berpelukan: aku sesak

Terhimpit: beri (ruang) agar aku bernapas.

Sekali waktu, aku masih melihat pekarangan kosong

Bershaf-shaf rapi di pinggir jalan itu

(Memoriam) hilang menjelma bangunan rapat

Kampung halamanku menjelma labirin.

Brebes, 2023


Taman yang hilang

Ke manakah rindu ini berumah?

Ketika aku dan kau tak lagi bisa mencium wangi bunga bawang

Rindu ini menjadi tak ramah

Setelah puluhan hektar tak lagi menjadi sawah.

Brebes, 2023.


Tempat terindah yang tidak kita punya

Rerumputan basah membasuh tapak kaki kaum petani

Di atas tanah, butir-butir air ikhlas jatuh: tulus mengalir.

Langit biru muda siang itu,

Mengundang alur angin menghantar senyum untuk ladang sawah.

Kini engkau berpidato

Tentang Negeri yang pernah kita dambakan.

Sesuatu yang engkau makan,

Tak perlu konsolidasi kebohongan.

Sesuatu yang kau minum,

Tak perlu persekusi kebenaran.

Kedaulatan hanya asap sisa pembakaran

Yang raib entah ke mana.

Garis senyum di pipimu

Ingin kurasi: melayar kesejahteraan.

Brebes, 2023.


Lima menit di lampu merah klampok

aku berkendara di jalan dulu,

dari losari ke Tepi randusanga.

Sebuah bangunan membesar dan bangunan lain menciut

aroma bawang goreng dan bau telur asin masak

Tukang parkir dengan celana robek, suara ambulan dari hulu ke hilir

Jalanan yang bergelombang, sepasang pengamen tua; itu-itu saja

Dan pengamen lain dengan sound sebesar koper; masih itu juga orangnya

Aku berkendara di jalan dulu

aku melihat samar bunga yang tak kunjung mekar

atau kota ini tak pernah berubah, serupa dulu?

Brebes, 2023.


Matahari yang hilang

Setelah sore datang; matahari pulang,

Meninggalkan rona merah di kursi taman.

Tas dan buku hariannya tertinggal,

Mungkin saja catatan; nasib para petani yang ia jemur.

Aku benar-benar takut membukanya, rahasia terdalam.

Ternyata hanya; tas kecil berisi nota, surat dan cicilan utang.

Matahari telah pulang

Ia bisa saja kembali, tapi akankah datang juga ke kursi taman

Dan berjanji memberi terang jalan kemakmuran pada petani..

Matahari telah pulang

Dan nasib petani menjadi gelap.

Brebes, 2023.


Kota kecil

kutemui lagi siang dan malam yang sama;

langit berwarna resah, juga mereka

yang kadang lebih ramah dari cuaca

Dan papan-papan reklame yang meriah,

bimbang menyapaku dalam jalanan:

“bagaimana kabarmu selama ini di kota yang semakin panas?”

di setiap ruas jalan yang berlubang

mengenang bilik-bilik desa, masih juga

aku kerap kesasar mencari kesejahteraan

 yang luput dari rapuh ingatan.

sedikit kuingat cerita seorang kawan

hampir dua tahun yang silam

: ia masih terus membicarakan kemerdekaan

tetapi kotaku hanyalah serpihan kecil

yang telah lama dilupakan

dari dongeng revolusi

di beranda negeri

Brebes, 2023.


Anam Mushthofa, seorang buruh. Pernah menulis buku bersama judul “Problematika Generasi Milenial”(2019). Menyukai jelajah alam.

Puisi

Puisi Galuh Ayara

SADTEMBER

bulan adalah telur yang menetas

di matamu

menjadi anak-anak burung yang tersesat

yang lupa cara memeluk

dan menggenggam jari

di ruang ini kau bukan hanya kelebat

tubuhmu tak beranjak dari bawah selimut

aku suka kulit lehermu

ketika kutaruh lidahku

matamu terkatup

dan udara dingin hanya sanggup menggantung di kusen jendela

lalu menyelinap ke pahaku

lalu ke telingamu

september dan bulan-bulan di matamu

sudah terlalu gelap

aku sedang lupa

pada warna bola matamu

pada garis bibir

pada merk rokok kesukaanmu

pada coklat

pada schubert

pada sepenuhnya

dan pada

udara dingin di sekitarmu

meski tanganku

belum juga fasih meraba kehilangan

meraba ketiadaan

mataku penuh bulan-bulan abu

yang menetas jadi kepedihan

sementara kau sudah terbang jauh dari kepalaku

ke luar angkasa

ke luar aku

ke luar bulan

di ruang terjauh di tubuhmu

yang tak ada kita

kau sedang apa?

2023


Death Ceremony

1

o kekasih hati yang tak pernah kuberi nama

kau bisa pergi hari ini

dari napas

dan denyut nadi

sebab maut sangat erat di tanganku

menggantikan genggamanmu

sebab maut sangat dekat

di bawah kulitku

mencium dadaku sebagai kekasih yang baru

hingga aku sangat lekat

dan tak pernah ingin lepas

aku takut kau cemburu

2

di depan matamu aku ingin meleleh,

menjadi ketiadaan

sementara dalam kekosongan itu

aku masih bisa melihatmu

bersedih dan

memeluk lutut

3

hey, kau seperti anak kecil

yang kehilangan mainan

sini aku ajari cara bermain

kuberi tangan kiri yang gemetar

dan tangan kanan yang keibuan

serta kedua pahaku yang pucat tapi hangat

kau betah tidur di sana, kan?

4

kau bilang

lebih baik jadi ibu

dari pada jadi tuhan

dalam pelukan ibu

kau tidak akan diberi dua pilihan

ke sorga atau ke neraka

dalam pelukanku

kau bisa nakal seperti anak kecil

yang minta susu

2023

Ruang Kosong

ada yang berdarah di mataku

ketika aku sampai pada satu halaman

yang hitam

sementara teh mulai dingin

aku terpejam

membiarkan angin pagi merasuk ke tubuhku seperti iblis yang dibenci

lalu aku dibawa pada satu lelaki

dia pernah mencium leherku ketika masih bayi

tiba-tiba kepalaku sakit luar biasa

aku terbangun kemudian

di sebuah ruang kosong berupa pelukan seseorang yang tak punya wajah

aku boleh menangis, katanya

sebab ia telah siapkan seluruh kekosongannya untuk aku penuhi

tapi aku tak punya apa pun untuk diberi

2023


Pertunjukan Malam

setiap malam tubuhku jadi dua

satu mayat satu bayi punya sayap

tapi bahkan tidak tahu cara bergerak dan beranjak

aku merawat mereka dengan penderitaan yang–

tumbuh di kepalaku

seperti rambut seseorang yang wangi roti panggang keju

seseorang itu yang suka alice in wanderland

yang wajahnya pucat dan beku

setelah aku bercerita tentang

mayat dan bayi

yang–

tak perlu kuberi makan

selain susu yang berubah jadi darah

dan napas

yang menetes dari punggung tuhan

yang

gelap tapi gemerlap

lalu segalanya lenyap;

tubuh dan waktu

2023


Pengantar Tidur

tuhan menjaga jariku yang gemetar

setiap malam setelah

lagu-lagu lullaby

berdenging dan berdengung

dari sebuah telepon genggam

lalu tubuhku retak

lantah jadi seribu pecahan

mengubur roda waktu yang

terus bergerak ke depan

setelah itu

aku lupa wujud tubuhku

dan kehidupan

tak bisa lagi kuraba

2023


Galuh Ayara, suka menulis cerpen dan puisi. Karya-karyanya dimuat di beberapa media. Menulis dua buku; ‘Nyanyian Origami’ (2020) dan ‘Pohon Insomnia’ (2023).

Puisi

Puisi Y Agusta Akhir

Nyantaka

Dalam rupa kera, perempuan yang semula jelita

menjura di depan ramandanya

sesungguhnya, kau sedang menjalani karma, anakku, kata Gotama.

sebagaimana ibumu yang membisu bagai batu, maka jadilah ia tugu batu

nafsu berebut cupu, menjelmakan kebajikan jadi bebendhu.

Atas perintah Gotama pula, ia pergi ke tepian Mandirda

mengambanglah tubuhnya tanpa busana di atas tirta

kini ia kera yang merupa katak: nyantaka

dengan penuh harap, terbebas dari karma

Sampai pada suatu ketika, Manikmaya di atas Andini melihatnya

menggelegak birahi, dan jatuhlah setitik kama di atas daun

daun mengambang, mengalun pelan di atas tirta

yang mengantar masuk ke mulutnya

dan tumbuhlah di tubuhnya – tubuh baru

kelak, sang putra lahir, pun dalam wujud kera

tetapi ia, tersebab karma telah purna

kembali menjadi jelita.

Surakarta, Maret, 2022


Supata Drupadi

Dadu yang dilempar dan jatuh di tengah meja nasib ketakberuntungan

adalah awal mula petaka. Dan, perempuan itu menolak menyebutnya sebagai takdir.

Ia, antara luka dan bermandi ludah, barangkali sempat

berpikir: apakah setiap lelaki adalah jelmaan dari sepotong

lintah atau segumpal nanah?

Sebab nyatanya, setelah ia diperebutkan bak piala dalam perlombaan

di negeri ramandanya, Pancala,

sekarang jadi taruhan dalam perjudian oleh kelima suaminya

: Pandawa

Mendadak terdengar gelegar tawa seratus rupa iblis

membuat telinganya begitu pekak

Lelaki memang diciptakan dari lempung, juga otak dan hatinya

Ia ingin meneriakkan itu, tetapi keburu sadar rambutnya

yang panjang, sudah terurai. Kain jarit setengah terburai, nyaris dirinya telanjang

dan kembali terdengar tawa seratus iblis.

Adalah Dursasana yang menggelegak birahi yang telah menjambak rambutnya

mengurai sanggulnya, tetapi

gagal menelanjanginya.

Ia menahan tangis, namun kesedihannya menjelma sungai

beriak mantra yang menggema sampai ke padang Kurusetra, kelak.

Ia yang mengucap sumpah: tak menyanggul rambutnya, sampai

ajal menemu sang durjana, dan ia akan meminum darahnya!

Surakarta, Maret 2022


Palgunadi

Aku adalah murid yang mencari guru

katamu pada sebongkah batu yang kau pahat

menyerupai Drona

Sejak hari itu, hingga berpuluh purnama kemudian,

kau berlatih kanuragan

merentang sejauh mungkin gendewa

membidikkan jumparing pada mata hidup

yang kian miring.

Tapi kau tahu, tak ada yang boleh mengungguli Arjuna

sebagaimana kata Drona, tersebab akan menjadi

senapati dalam kancah baratayuda yang sudah diramalkan itu.

maka pada sebuah senja yang mokal, sebongakah batu itu

mendadak bisa bicara.

: gerangan apa yang membuat dirimu

bisa sedemikian sakti, anakku, Palgunadi ya

Bambang Ekalaya?

Adalah Manik Sotyaning Ampal, guru. Kau berkata

takzim penuh hormat, sembari menunjukkan

ibu jarimu

Tak sebiji zarah pun ada syakwasangka

di hatimu.

: bahwa, misalnya, seseorang telah bersembunyi

di balik patung Drona.

O, lalu apa yang seharusnya dilakukan seorang murid

terhadap gurunya?

Menghormatinya. Mematuhi perintahnya.

Dan apakah diperkenankan seorang

guru meminjam pusaka milik muridnya?

Tetapi, Manik Sotyaning Ampal tak bisa lepas dari ibu jarimu.

Tak ada cara lain. Kau mesti memotong ibu jari sendiri

demi menghormat pada sang guru.

Memotong ibu jari, adalah menghabisi hidupmu.

Sebuah suara yang entah datang dari mana

mungkin dari ceruk paling jauh dalam jiwamu.

Tetapi, menghormat seorang guru jauh lebih mulia.

Kau abai pada suara itu. Abai pada keselamatan hidupmu.

Dan dengan sebilah belati, maka kau potong jempol tanganmu

tanpa mengaduh

: tak ada tetes darah

terimalah, Guru. Kau berkata. Suaramu bergetar

tetapi mendadak dadamu berlubang

namun yang muncrat adalah cahaya, yang lalu menggumpal

membawamu terbang ke langit

Kelak, dalam gaduh baratayuda

kau manjing di raga Destrajumena

memenggal kepala Drona yang tengah kalap

tersebab kematian Aswatama, di tengah medan Kurusetra.

Solo, Desember 2022


Aswatama

Aku telah menerima takdirku yang terlahir bukan sebagai ksatria

maka betapa pun besar inginku, aku tak layak berdiri di barisan depan

meramaikan pesta darah di Kurusetra.

Begitupun, aku juga telah menerima takdirku yang lain: cinta

tapi betapa celaka hidupku, kau tak ditakdirkan untukku

Ah, Banowati yang molek yang lincah serupa srigunting

Betapa aku merindu padamu

Padamu

Hanya padamu

Bahkan manakala aku tahu lelananging jagat, lelaki paling kurang ajar

di seluruh dunia itu, telah memesonamu, yang datang

menyelinap mengendap mencecap  birahimu

di belakang Duryudana yang tolol.

O, pernikahanmu yang banal yang tak masuk akal

sesungguhnya telah batal.

Tapi mengapa tak juga engkau menangkap isyaratku

yang menyimpan selaksa resah

: rupanya sihir cinta telah melenakan semesta

Tetapi betapa celaka hidupku – betapa malang nasibmu

Banowati.

Justru aku-lah yang merenggut hidupmu

Tetapi kau harus tahu, setelah panah bayi Parikesit menghujam dadaku

Maka sesungguhnya saat itu pula cinta kita bertaut

Solo, Oktober 2019


Duka Duryudana

Ini bukan tentang negeri yang bakal hancur

tetapi hatiku yang lebur

ratap Duryudana pada bayangan sendiri di cermin

yang muram

perempuan itu bernama Surtikanti

yang telah mengepung hatinya dengan

seribu satu panah cinta yang berlesatan

dari setiap inci tubuh sang kekasih

cinta hanya sampai di ambang nyata

tersebab Surtikanti lebih memilih

Karna

Duryudana, sekalipun memendam luka perih

tetap mengalah

merelakannya melabuhkan cinta kepada putra Adirata

Maka Banowati perempuan molek yang binal

sebagai penggantinya

tetapi cinta sang raja betapa sial

perempuan itu bermain mata dengan Arjuna

yang nakal

Apakah aku masih sanggup menampung luka?

Bayangannya mendadak retak di cermin

Dan Baratayuda yang kian dekat gaungnya

menghampar di matanya

: Setelah satu demi satu saudaranya gugur

Banowati, ah, betapa malang

keris Aswatama menancap di dadanya.  

Solo, Desember 2022


Duka Kunthi

Siapa yang paling berduka melihat darah menetes di Kurusetra?

adalah ibu yang melahirkan rahasia-rahasia yang tak

kuasa membendung air mata

mengeja takdir yang penuh galaba

: Baratayudha

dalam kecamuk sawala sesama wangsa

ibu tak akan menakar siapa salah

siapa benar. darah yang tumpah, bukan milik siapa-siapa

setiap darah yang menetes, adalah darah ibu juga, anak-anakku!

adalah Basukarna, ksatria malang sejak dilahirkan

dilahirkan sebagai akibat mantra Adityarhedaya pemberian Duwarsa

tetapi kehamilan adalah aib

maka ibu melarungnya di Gangga yang murung

lalu kutukan demi kutukan, dari seorang Brahmana,

Parasurama hingga Mahaguru Drona

sebelum akhirnya Pasopati Janaka merenggut

hidupnya. dan kesedihan, tak akan bagai katak yang menyanyi riang

di musim penghujan

dan duka ibu mana lagi yang kau dustakan selain

dari kematian seorang anak yang digalang saudara sendiri?

setiap ibu hanya melahirkan kesucian

tak seorang pun bisa lebih memahami

yang dirasakan ibu, selain ibu sendiri

bahkan dewa-dewa

juga Kresna, sang penjaga takdir itu

ibu tetap berduka atas kematian Basukarna

betapapun mencoba

derana

Surakarta, Februari 2022


Y Agusta Akhir, tinggal di Solo. Pernah belajar di Institut Seni (ISI) Surakarta. Menyukai dunia literasi. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Karyanya tersebar di media lokal maupun nasional, serta media online.

Puisi

Puisi Dzikron Rachmadi

Tragika Bala Trunajaya

: Sendang Drajat, Canggu

— di petirtaan keputren itulah, Tuan, muasal Tuan

bersikejar dengan prajurit Majapahit yang berang

akan perangai Tuan, akan perangai

yang tak diajarkan oleh Kebenaran

kepada Tuan sekalian!

/bata putih/

bata-bata itu mungkin tak ingin mengimajinasikan dirinya

sebagai gumpalan-gumpalan salju, tatkala Tuan Irapati

hantamkan kepada prajurit Majapahit yang terus menyerbu

tapi Tuan hanya bermaksud mendinginkan murka prajurit,

“tak ada salju, bata pun jadi!” batin Tuan, barangkali

sedang di genggaman tangan Tuan, bongkahan bata

masihlah bersikeras mengeraskan dirinya;

ia tak mengerti mencairkan tubuh sendiri,

mencairkan hati prajurit apa lagi

tapi Tuan hanya bermaksud mencairkan murka prajurit,

“tak ada salju, bata pun jadi!” batin Tuan, berulangkali

hantam! hantam! hantam!

“toh, bata, kau juga berwarna putih, bukan?”

gumam Tuan tatkala kian digigilkan gamang

tatkala Tuan kian tersudut di ujung pengejaran

/kepung/

sungguh kami tak ‘kan pernah mampu

membayangkan, Tuan, tak ‘kan mampu,

gerangan apa kaki Tuan melaju ke situ:

ke tempat dialamatkannya mautmu itu!

sebab barang tentu, Tuan, barang tentu

tiada lagi haribaan paling lindung

setelah panas lelava cemas kadung menggunung

dalam dada Tuan yang kadung linglung

o Tuan yang linglung, Tuan Iramenggala yang teramat linglung

: adakah tulah paling pahit dari gerombol prajurit Majapahit

malainkan Tuan telah terkepung

melainkan Tuan telah terkepung?

/bloran/

maka barangkali tidak ada seekor vertebrata paling setia

melainkan hanya Belo Anak Jaran yang sudi memberikan

punggungnya; untuk kemudian Tuan Gantarpati kendara

“tapi aku yakin,” batin Tuan, “Anak Jaran yang pintar

ialah yang tak membawa Tuannya ke mana pun, kecuali

menyerahkan kepada prajurit yang tengah mengejar!”

Anak Jaran yang pintar rupanya lebih memikirkan peradaban;

ia mengenyahkan Tuannya demi menyediakan dirinya

untuk sebuah dukuh dengan menjelma sebuah nama

dengan begitu ia akan selalu hidup & akan tetap hidup

sepanjang zaman & sepanjang peradaban

selamanya hidup sebagai Belo Anak Jaran

selamanya hidup sebagai nama Dukuh Bloran

/surawana/

di rahim belantara hutan Surabawana, Tuan,

sintru yang wingit menolak satru yang sengit

(pamali Tuan Irabuwana & prajurit Majapahit)

“maka tiada lagi persatruan musti diabadikan!”

di rahim belantara hutan Surabawana, Tuan,

Tuan membangun kerajaan dari kesunyian,

o meski tak semegah dalam benak sejarah—

sebagai sebuah markah Tuan pernah singgah

sedang Trunajaya memilih untuk menghilang:

melesat entah ke telatah liyan

melesat entah ke telatah liyan

Pare, 01-03-2023


Memorabilia Candi Surawana

: kerinduan pada Raja Hayam Wuruk

1.

pada Saka Tiga Badan &

Bulan (1283) Waisaka:

Raja Hayam Wuruk—

yang padanya rakyat

patuh & tunduk—tengah

melawati & melewati

sepanjang jangkauan kelana,

lalu mengantukkan

ujung jangkahnya di

telatah Surabawana,

demi membaringkan

kantuk, bermalam di

Candi Wishnubhawanapura,

sebelum kemudian

sinar fajar mengantar

Ia kembali ke istana

2.

(tibalah kemudian Raja

Hayam Wuruk di istana)

maka setelah itu, tiada lagi

malam semanis rembulan

madu, selain malam bersama

Raja Hayam Wuruk kala itu,

lantaran, malam-malam

setelahnya—bagi candi batu itu

—hanyalah malam-malam

bersama angin tajam

yang cuma paham

memahatkan

dingin kerinduan

paling candu; pada

dinding tubuh batunya

yang kian mengerang

& mengeras itu

sementara

kesepian malam,

kesepian malam masihlah

satu-satunya selimut

paling rawan; akan

tajam angin malam

yang memahatkan

dingin kerinduan,

sepanjang zaman

sepanjang peradaban—

hingga kini zaman kita datang!

“o adakah kini Hayam Wuruk

juga berkenan kembali datang?”

3.

kini, setelah abad-abad

lelah merengkuh waktu:

rindu yang begitu candu

telah membatu pada

tubuh candi batu itu,

hingga seluruh

tubuh candi batu itu

adalah rindu,

adalah rindu!

Pare, 07-03-2023


Candi Tegawangi Mengharumi Ingatan Kami

: Bhre Matahun

& orang-orang menamai Tegawangi, dahulu,

dahulu sekali, setelah tiga orang anak lahir dari rahim waktu

menimang hidupnya di telatah itu, lalu mengubah

segala yang beraroma sunyi menjadi wangi—

menjadi bakal singgasana bersemayamnya sebuah candi

maka pada Sraddha 12 Warsa Pendharmaan

Sri Ratu Matahun di Kusumapura:

alkisah, Tuhan sendirilah yang

memetik setangkai bunga dari Surgaloka

lalu dijatuhkannya ke dalam jagat

atman para pendiri candi sewangi tiga,

sewangi bunga, sewangi dupa,

sewangi api kremasi yang memandikan

daksha Sri Ratu dari segala dosha

sebelum kemudian ia bertakhta

di dalam tenteram kesuwungan moksha

& kini, masih ada yang dapat kami rasakan

serupa sesuatu yang tak letih mengulurkan tangan

ke dalam liang-liang kepala kami; serupa kisah

masa silam -yang tulus menaburkan

kelopak bunga mewangi—

adalah taburan kisah sejarah Candi Tegawangi, yang masih

setia mengharumi ingatan kami

setia mengharumi ingatan kami

masih

Pare, 05-03-2023


Binatang-binatang yang Masih Terkenang

di Pertigaan Patung Kuda Macan

: Tawang

/piton kembang & kera/

dukuh kami punya pesulap kondang, ia berumah

tepat di sudut tenggara pertigaan

pada suatu Pagelaran Agustusan, pernah ia

menyetrika sendiri punggung anak gadisnya yang masih belia

di atas panggung di depan sekalian pemirsa, namun

ia menganggap hal itu bukanlah suatu siksa, lantaran tiadanya

torehan luka bahkan rasa

& ia dapat mengeluarkan dari kotak pandora kosong miliknya

beberapa uang kertas serta logam

& berbagai macam jajan pasar: apem, lemper, bikang, pisang,

pakaian dalam, pembalut wanita,

& kemudian ia lempar-lempar ia bagikan ke sekalian pemirsa

di kotak pandora yang lain, ia memiliki seekor piton kembang,

terkadang ia kandangkan di depan rumah, & seringkali

membikin orang terhenyak ketakutan saat melintasi pertigaan,

di samping kandang itu, ia memelihara pula seekor kera jantan

yang ia ikatkan di pohon rambutan: kemudian

ia jadikan mereka berdua sepasang saudara saling menyayangi

& pesulap itu sangat menyayangi mereka, menyayangi

/sapi/

dulu, tetangga kami berduka, setelah seekor sapi

miliknya lolos dari kandang & berlarian melintasi pertigaan

lalu melanggar pengendara sepeda motor sehabis

mengambil air mujarab dari suatu sumur

di dukuh nun jauh

orang itu mencari sembuh, ia malah terjatuh,

sementara si sapi rubuh & orang-orang menuntunnya

ke bawah pohon mangga yang teduh di

sekitar pertigaan lantaran kakinya yang pincang

tiba malam mengguyur sekujur dukuh

sapi itu hanya merebah tubuh, kakinya yang pincang

tiada lagi bisa digunakan untuk berdiri

bahkan berjalan bahkan berlarian

malam meradang & membakar pertigaan,

orang-orang dukuh kami ramai-ramai berjuang menggotong

tubuh gempal sapi itu ke atas bak pick-up,

pemilik sapi menjualnya kepada penjagal

dengan separuh harga semula

& ia masih berduka

/burung & kucing/

pohon mangga sekitar pertigaan telah ditebang,

pemilik tanah itu mendirikan bangunan, lalu menyewakan,

lalu jadilah sebuah toko burung & kucing beserta pakannya

dari cerita Luis Sepúlveda yang kita baca, kita dapat mengetahui bahwa:

kucing yang baik hati mengajari anak burung untuk dapat terbang sebab

induk burung tidak lagi dapat mengajarinya setelah terbang & jatuh akibat

tumpahan minyak kapal tanker di laut melengketkan bulu-bulu sayapnya

di situ, di toko itu, kucing-kucing begitu pemalu & tidak ada

pula burung terbang & jatuh akibat tumpahan minyak kapal

tanker di laut melengketkan bulu-bulu sayapnya

di situ, di toko itu, tidak ada burung-burung

yang boleh terbang bebas, tidak ada

semua pakan sudah tersedia

/kuda & macan/

beberapa tahun silam, di pertigaan itu,

seorang pematung menaruh sepasang

karyanya dalam wujud binatang:

sisi utara untuk kuda

sisi selatan untuk macan

tak lama si pematung pergi dari dukuh kami,

kami menduga, barangkali:

kedua patung itu adalah reinkarnasi dari

binatang-binatang pada gunungan wayang

di situ, di pertigaan itu, ia menaruhnya

sebagai penjaga dukuh kami yang purwa

Pare, 14-02-2023


Lampu-lampu Menggelantung & Bercahaya

di Sepanjang Jalan Dahlia

kita mulai dari selatan, memasuki mulut gang kecil yang

terbuka lebar, kita menyebut ini Jalan Dahlia ketika kita

membiarkan ini jalan terus menelan kita ke utara

sembari menyaksikan lampu-lampu yang

menggelantung & bercahaya

terkadang, aku suka membayangkan, lampu-lampu itu

seperti buah-buah yang menggelantung

di dada langit sana; bintang-bintang ranum yang mampu

menggelegakkan gairah para penujum kuna,

lalu penujum itu, penujum itu adalah kita,

adalah kita yang begitu mendamba nasib bahagia

senantiasa baka, o senantiasa baka

namun terkadang, aku juga suka membayangkan,

Jalan Dahlia tak ubahnya Taman Sorga

di tengah kota kecil kita, lalu lampu-lampu itu &

kabel-kabel itu: adalah sepasang Apel & Ular,

sedang tiang-tiangnya Pohon Kehidupan,

namun di sini, di sini tidak ada sepasang Hawa & Adam,

tidak ada, hanyalah ada berpasang-pasang mata

pedestrian juga pengayuh sepeda; mata yang

senantiasa memakan pijaran lampu-lampu bercahaya

o betapa lampu-lampu itu bercahaya kuning

begitu tulus mengecupkan cahayanya sampai ke kening

pada setiap pedestrian juga pengayuh sepeda,

sampai mereka tiada ingin berpaling

dari gang kecil di tengah kota Panglerenan kita—

dari gang kecil bernama Dahlia,

                                                            o bernama Dahlia

Pare, 10-02-2023


Dzikron Rachmadi, lahir dan berdomisili di Pare, Kabupaten Kediri. Pernah belajar di PAI FTIK Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri. IG: @_dzikroch.

Puisi

Puisi Ilham Wahyudi

Nangka

Masih kau sebut durikah beskap hijau tua tak bergigi itu—seraya terus bersembunyi dari mata licik orang iseng tengah malam—sedang harummu, amboi, laksana kawinnya setandan pisang matang dengan nenas madu, apel merah dan mangga harum manis; yang memanggil-manggil janin mungil di perut ibu muda yang mulai kepayahan berjalan. Terberkatilah kuning dagingmu yang mencolok itu, meski sumpah akibat putih getah darahmu acap pula membuat kami waswas semata.  Tetapi benarkah moyangmu lahir dari hujan yang rajin menuruni hutan raya India? Atau sebenarnya kau hanya biji belaka yang tekun menjalar kemana suka? Lihat, betapa kaya kau pada segala guna; sampai keringat batang jisimmu, jubah pendeta Buddha tampak kian berwarna. Kini, pantaskah wajah kau muram percuma bila legit tubuhmu kami lahap gembira?

Akasia 11CT


Belenggu

Bagai ikan dalam lemari pendingin; serupa kapuk yang ditekan-tekan ke dalam kasur maupun bantal muda pengantin. Bersusun-susun kami; tak pantas sekadar menyepadan jenjang kaki barang sejenak. Pun telah kami minta sedikit luas padang gurun atau secuil lebat rimba raya. Akan tetapi lancip daun pendengar senyata tak kuasa menerima maklumat dukacita. Lihat, tinja siapa itu? Mana ada tinja di sini! Itu busuk kaki kami yang menempel di lantai. Amboi, betah nian kita mengejami; bukan main lalai mereka mendiami, arca itu mungkin adalah kami yang pemalu lagi buta-tuli. Sememangnya engkaukah yang terkurung atau kaulah semestinya Gitamara nan bengis lagi erat menggigit?

Akasia 11CT


Lepas

Jikalau kau patuh menyeluruh

Alamat luput berita buruk

Luruslah jalan ke semenanjung

Lapanglah tanjak ke gunung

Apabila madah kau jaga

Isyarat rantai sungkan memasung

Mestilah lengang kabar burung

Pastilah lancar niat meluncur

Ke selokan sukma muara Sang Raja.

Akasia 11CT


Puisi

Bilamana engkau enggan bertamu. Atau kedua kaki terlampau lejar tamasya ke rimbun anggur yang menggantung. Cukup ceritakan saja bagaimana budi pekerti mampu lolos dari sergapan tentara waham.

Sungguh, betapa benci kami pada kisah siluman serigala. Itu sebab datuk moyang kami senang belaka menuturkannya kali berulang. Dan kuping kami teramat tekun menakzimkannya; seraya terus bibir berdoa semoga jauh pergi marabahaya.

Mungkin bisa jadi kami risih. Dimasuki keruwetan yang sebetulnya bukan semata keinginan kami. Namun kenapa engkau rajin pula turut-menurut, sehingga putih daging dan hitam darah kami mudah percuma tersamarkan.

Barangkali kita musti tutup mulut sekejap: menunggu paus biru dilahirkan sekali lagi atau reinkarnasi si jalang hadir memilah-memilih; menyambung-memotong apa-apa yang patut dan elok tangan tuliskan serta lidah bunyikan.

Setakat ini, masihkah kau jantan menghakimi—suntingan ini benar puisi atau sekadar curahan hati?

Akasia 11CT


Belajar Ikhlas dari Buku Buku

Berjilid-jilid buku lolos mencatat cara adiluhung memasukinya; menyelaminya. Supaya yang rusak parah segera embus pergi tak perlu kembali. Akan tetapi alangkah benua tubuhnya, mungkin juga luas semesta; sehingga tak pernah genap kita menaklukinya. Maka muncul dan terus muncul kitab-kitab segar membahas-mengulitinya. Sampai kita luput mendedahkan ibu bapak kitab dari segala kitab yang sesungguhnya ialah obat bagi ragam penyebab. 

Akasia 11CT 


Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Puisi-puisinya ada yang ditolak redaksi ada yang dimuat redaksi. Buku kumpulan puisinya “Pertanyaan yang Menyelinap” akan segera terbit. Akun Facebook: Ilham Wahyudi dan Instagram: @ilhamwahyudi_ilham