aku melanjutkan hidup dengan paling sederhananya degup
sambil menikmati kesendirian—sepi terus menyayangi
dan pada setiap rongga tubuhku, anak laba-laba
tekun mengaji:
mengaji dengan membaca setiap kerangka tulang
yang patah dan berdebu. bibirnya yang pucat pernah
berkali-kali menanyakan
sehelai kertas;
kertas adalah kekasih masa laluku yang lebih
memilih printer untuk memasrahkan urusan hidup
dengan ukiran huruf-huruf;
huruf-huruf telah diperintah zaman
untuk meninggalkanku selamanya, dan tak boleh
interupsi kepada dunia, karena dalam langkah kemajuan
ada yang mesti ditinggalkan.
Rumah Filzaibel, 2023
LAPTOP SEDERHANA, IDE SEDERHANA, DAN
KESEDERHANAAN SEBENTUK SAJAK
1
suatu pagi yang ditinggal embun, laptop memintaku
menulis sajak dengan kedip mata kursor yang memelas
beberapa kali kucari gagasan, beberapa kali kutempuh
gugusan—yang ada hanya kekosongan yang mengakhiri
tatap mata titik di datar layar;
layar dirambah jalan kepiting
yang menjepit rontoknya rambut bulan dan kuku patah
milik angin;
angin yang mengitari kepalaku—saat diri terus berpikir
tentang sajak apa yang pantas ditulis, sedang di luar sana
sajak-sajak ditulis hanya untuk didustai.
2
dengan sapa rahasia, laptop lalu membisikkan sesuatu
“tulislah saja tentang aku, apa pun bentuknya,” suaranya
serak, gamang, dan gemetar, tiba samar
di lubang telinga:
telinga hanya bisa menerjemahkan suara
rontokan daun di halaman rumah tak berpenghuni, sebab
ia berkesimpulan bahwa sajak adalah kata lain dari sepi.
huruf-huruf pun kuketik, saling dekap di balik
tarian jari-jari;
jari-jari yang sabar menyusun tubuh sajak sederhana,
sesederhana daun jatuh menyapa tanah, sesederhana ide yang
datang tiba-tiba tapi pergi dengan tergesa, sesederhana laptop
yang—diam-diam—mencintai jari-jari dengan sajak
yang tak menemukan kata-kata.
Sumenep, 2023
DUNIA VISUAL
dunia dilahirkan kembali ke dalam cahaya
bernama “maya”—si pesolek yang mahir menutupi sisi yang asli
dengan binar kembang putih, dan usianya kian panjang
setelah orang-orang menggulir
layar gawai:
gawai dengan wajah berparam barang-barang diskon
yang digemari kaum adam dan hawa, barang sehelai bentang rambutnya
telah ia semir dengan harga-harga, lantas ia mahir memilih
gratis ongkir jasa ekspedisi:
jasa ekspedisi yang rutin mengirim paket berisi
bigorafi dunia cahaya itu sendiri, yang terus menari-nari
tapi terus menyendiri.
Gapura, 2023
SELAMAT MALAM, INSTAGRAM
selamat malam, instagram; bulan warna asam
ceking mengerucut dalam foto unggahanmu
di bawahnya ada namaku yang kautulis
dengan warna lipstikmu;
lipstikmu adalah warna langit
dalam mimpi-mimpiku, dalam puisi-puisiku.
karena suatu waktu saat kuoles ke bibirku,
malam jadi pergi dan matahari datang sendiri
sebab pada warna lipstik itu
cintamu-cintaku telah setubuh.
Rumah Filzaibel, 2023
PETANI DUSUN BUNGDUWAK
ia menegur dirinya sendiri dengan
seutas cemeti yang memecut
punggung sapi:
sapi betina yang membagi tugas dengan si jantan
si jantan harus tangguh membaca medan tanah karapan
agar di seberang alam; moyang bisa bertepuk tangan
sedang si betina bertugas menarik tenggala, menanam isi dada ke
guritan tanah:
tanah masih berupa sajadah pada makna yang lain
agar kedaulatan terus bersembahyang
indah berdiri tak harus berduri
tapi berisi seperti padi;
padi yang merelakan bijinya kepada petani
dan merelakan daunnya kepada sapi
supaya sapi dan petani
sama-sama kuat menghadapi cemeti
cemeti hakiki dan cemeti majasi
yang dilecut pelaku kapitalisasi.
Rumah Filzaibel, 2023
A.Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah “Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki” (Basabasi, 2020), “Bertetangga Bulan” (Hyang Pustaka, 2022). Sedangkan buku puisinya yang berjudul “Ketika Kesunyian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela” memenangkan lomba buku puisi Pekan Literasi Bank Indonesia Purwokerto 2020. Ia aktif di Komunitas Damar Korong dan mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jl. Raya Batang-Batang PP. Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472.
(bisikanku bagi ujung rambut yang telah mencapai pinggul)
tumbuh, teruslah tumbuh memanjang. hingga cinta menjadi
sedemikian alpa akan keberpihakan malam ini; entah kepada
ujung penghabisanmu, atau kepada mabuk yang dijanjikan
oleh sentuhan bibirnya. abaikan! sebab tentu kau perlu
durhaka pada sepanjang kisah yang ditentang sebagai batas
kewajaran dan keteraturan dalam kembar cermin muram di
hadapanku ini.
Mei 2020
Anuptaphile
Ada kalanya cinta berupaya mengetuk pintu hati saya.
Dengan teramat santun, saya meminta kepadanya
Agar sabar menunggu, namun tiada sekali pun saya
Bergerak maju untuk membuka pintu dan menyambutnya.
Saya ngeri menghadapi setiap kemungkinan; bahwa saya
Akan mabuk meski tanpa anggur, hingga alpa membedakan
Warna-warna pelangi.
2019
Aksentuasi
Di belantara puisi,
tiada yang dapat menyesatkan sekaligus
menyelamatkan dirimu
selain
bisamu sendiri.
18 September 2023
(17.05)
Faustina Hanna, lahir di Jakarta, 5 April 1987. Penikmat seni budaya dan kearifan lokal. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta di Jakarta, aktif menulis puisi, freelance Graphic Design, menekuni fotografi dan ragam kuliner Nusantara. Sajak-sajaknya telah tersiar di pelbagai media cetak dan online. Silentium (Teras Budaya Jakarta, 2023) adalah buku kumpulan puisi pertamanya. Beberapa sajaknya tergabung dalam antologi. Pernah menjuarai lomba penulisan puisi dan berencana melanjutkan studi ke Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Sisa tubuhmu yang tak bernyawa, Kaku dalam rengkuhanku.
Baju-baju yang kupakai
Sudah serupa daun yang lusuh
Di tanah yang tanpa wajah
Hai malaikat kecilku
Kulepas tubuhmu Bersama maut
Dengan Nasib yang abadi
:dan selepas menidurkanmu
Tak ayal mimpiku kambuh
Tentang kau yang pergi
Saat jam berkelana
Tak sesuai keinginanannya sendiri.
Gapura, 2023
Lailah Nurdiana, lahir di Sumenep juruan laok batu putih, sekarang masih duduk di bangku Ma Al-Huda, merupakan santri aktif di PP Miftahul Huda Gapura Timur, penggiat sastra di komonitas sanggar 7 KEJORA dan komunitas sanggar Dhamar Korong, mulai menulis sejak duduk di bangku MTs Al-Huda II. Karyanya bisa ditemui di media nasional dan lokal. Email: [email protected]dan Instagram: @_xdynaaa
dan udara dingin hanya sanggup menggantung di kusen jendela
lalu menyelinap ke pahaku
lalu ke telingamu
september dan bulan-bulan di matamu
sudah terlalu gelap
aku sedang lupa
pada warna bola matamu
pada garis bibir
pada merk rokok kesukaanmu
pada coklat
pada schubert
pada sepenuhnya
dan pada
udara dingin di sekitarmu
meski tanganku
belum juga fasih meraba kehilangan
meraba ketiadaan
mataku penuh bulan-bulan abu
yang menetas jadi kepedihan
sementara kau sudah terbang jauh dari kepalaku
ke luar angkasa
ke luar aku
ke luar bulan
di ruang terjauh di tubuhmu
yang tak ada kita
kau sedang apa?
2023
Death Ceremony
1
o kekasih hati yang tak pernah kuberi nama
kau bisa pergi hari ini
dari napas
dan denyut nadi
sebab maut sangat erat di tanganku
menggantikan genggamanmu
sebab maut sangat dekat
di bawah kulitku
mencium dadaku sebagai kekasih yang baru
hingga aku sangat lekat
dan tak pernah ingin lepas
aku takut kau cemburu
2
di depan matamu aku ingin meleleh,
menjadi ketiadaan
sementara dalam kekosongan itu
aku masih bisa melihatmu
bersedih dan
memeluk lutut
3
hey, kau seperti anak kecil
yang kehilangan mainan
sini aku ajari cara bermain
kuberi tangan kiri yang gemetar
dan tangan kanan yang keibuan
serta kedua pahaku yang pucat tapi hangat
kau betah tidur di sana, kan?
4
kau bilang
lebih baik jadi ibu
dari pada jadi tuhan
dalam pelukan ibu
kau tidak akan diberi dua pilihan
ke sorga atau ke neraka
dalam pelukanku
kau bisa nakal seperti anak kecil
yang minta susu
2023
Ruang Kosong
ada yang berdarah di mataku
ketika aku sampai pada satu halaman
yang hitam
sementara teh mulai dingin
aku terpejam
membiarkan angin pagi merasuk ke tubuhku seperti iblis yang dibenci
lalu aku dibawa pada satu lelaki
dia pernah mencium leherku ketika masih bayi
tiba-tiba kepalaku sakit luar biasa
aku terbangun kemudian
di sebuah ruang kosong berupa pelukan seseorang yang tak punya wajah
aku boleh menangis, katanya
sebab ia telah siapkan seluruh kekosongannya untuk aku penuhi
tapi aku tak punya apa pun untuk diberi
2023
Pertunjukan Malam
setiap malam tubuhku jadi dua
satu mayat satu bayi punya sayap
tapi bahkan tidak tahu cara bergerak dan beranjak
aku merawat mereka dengan penderitaan yang–
tumbuh di kepalaku
seperti rambut seseorang yang wangi roti panggang keju
seseorang itu yang suka alice in wanderland
yang wajahnya pucat dan beku
setelah aku bercerita tentang
mayat dan bayi
yang–
tak perlu kuberi makan
selain susu yang berubah jadi darah
dan napas
yang menetes dari punggung tuhan
yang
gelap tapi gemerlap
lalu segalanya lenyap;
tubuh dan waktu
2023
Pengantar Tidur
tuhan menjaga jariku yang gemetar
setiap malam setelah
lagu-lagu lullaby
berdenging dan berdengung
dari sebuah telepon genggam
lalu tubuhku retak
lantah jadi seribu pecahan
mengubur roda waktu yang
terus bergerak ke depan
setelah itu
aku lupa wujud tubuhku
dan kehidupan
tak bisa lagi kuraba
2023
Galuh Ayara, suka menulis cerpen dan puisi. Karya-karyanya dimuat di beberapa media. Menulis dua buku; ‘Nyanyian Origami’ (2020) dan ‘Pohon Insomnia’ (2023).
sesungguhnya, kau sedang menjalani karma, anakku, kata Gotama.
sebagaimana ibumu yang membisu bagai batu, maka jadilah ia tugu batu
nafsu berebut cupu, menjelmakan kebajikan jadi bebendhu.
Atas perintah Gotama pula, ia pergi ke tepian Mandirda
mengambanglah tubuhnya tanpa busana di atas tirta
kini ia kera yang merupa katak: nyantaka
dengan penuh harap, terbebas dari karma
Sampai pada suatu ketika, Manikmaya di atas Andini melihatnya
menggelegak birahi, dan jatuhlah setitik kama di atas daun
daun mengambang, mengalun pelan di atas tirta
yang mengantar masuk ke mulutnya
dan tumbuhlah di tubuhnya – tubuh baru
kelak, sang putra lahir, pun dalam wujud kera
tetapi ia, tersebab karma telah purna
kembali menjadi jelita.
Surakarta, Maret, 2022
Supata Drupadi
Dadu yang dilempar dan jatuh di tengah meja nasib ketakberuntungan
adalah awal mula petaka. Dan, perempuan itu menolak menyebutnya sebagai takdir.
Ia, antara luka dan bermandi ludah, barangkali sempat
berpikir: apakah setiap lelaki adalah jelmaan dari sepotong
lintah atau segumpal nanah?
Sebab nyatanya, setelah ia diperebutkan bak piala dalam perlombaan
di negeri ramandanya, Pancala,
sekarang jadi taruhan dalam perjudian oleh kelima suaminya
: Pandawa
Mendadak terdengar gelegar tawa seratus rupa iblis
membuat telinganya begitu pekak
Lelaki memang diciptakan dari lempung, juga otak dan hatinya
Ia ingin meneriakkan itu, tetapi keburu sadar rambutnya
yang panjang, sudah terurai. Kain jarit setengah terburai, nyaris dirinya telanjang
dan kembali terdengar tawa seratus iblis.
Adalah Dursasana yang menggelegak birahi yang telah menjambak rambutnya
mengurai sanggulnya, tetapi
gagal menelanjanginya.
Ia menahan tangis, namun kesedihannya menjelma sungai
beriak mantra yang menggema sampai ke padang Kurusetra, kelak.
Ia yang mengucap sumpah: tak menyanggul rambutnya, sampai
ajal menemu sang durjana, dan ia akan meminum darahnya!
Surakarta, Maret 2022
Palgunadi
Aku adalah murid yang mencari guru
katamu pada sebongkah batu yang kau pahat
menyerupai Drona
Sejak hari itu, hingga berpuluh purnama kemudian,
kau berlatih kanuragan
merentang sejauh mungkin gendewa
membidikkan jumparing pada mata hidup
yang kian miring.
Tapi kau tahu, tak ada yang boleh mengungguli Arjuna
sebagaimana kata Drona, tersebab akan menjadi
senapati dalam kancah baratayuda yang sudah diramalkan itu.
maka pada sebuah senja yang mokal, sebongakah batu itu
mendadak bisa bicara.
: gerangan apa yang membuat dirimu
bisa sedemikian sakti, anakku, Palgunadi ya
Bambang Ekalaya?
Adalah Manik Sotyaning Ampal, guru. Kau berkata
takzim penuh hormat, sembari menunjukkan
ibu jarimu
Tak sebiji zarah pun ada syakwasangka
di hatimu.
: bahwa, misalnya, seseorang telah bersembunyi
di balik patung Drona.
O, lalu apa yang seharusnya dilakukan seorang murid
terhadap gurunya?
Menghormatinya. Mematuhi perintahnya.
Dan apakah diperkenankan seorang
guru meminjam pusaka milik muridnya?
Tetapi, Manik Sotyaning Ampal tak bisa lepas dari ibu jarimu.
Tak ada cara lain. Kau mesti memotong ibu jari sendiri
demi menghormat pada sang guru.
Memotong ibu jari, adalah menghabisi hidupmu.
Sebuah suara yang entah datang dari mana
mungkin dari ceruk paling jauh dalam jiwamu.
Tetapi, menghormat seorang guru jauh lebih mulia.
Kau abai pada suara itu. Abai pada keselamatan hidupmu.
Dan dengan sebilah belati, maka kau potong jempol tanganmu
tanpa mengaduh
: tak ada tetes darah
terimalah, Guru. Kau berkata. Suaramu bergetar
tetapi mendadak dadamu berlubang
namun yang muncrat adalah cahaya, yang lalu menggumpal
membawamu terbang ke langit
Kelak, dalam gaduh baratayuda
kau manjing di raga Destrajumena
memenggal kepala Drona yang tengah kalap
tersebab kematian Aswatama, di tengah medan Kurusetra.
Solo, Desember 2022
Aswatama
Aku telah menerima takdirku yang terlahir bukan sebagai ksatria
maka betapa pun besar inginku, aku tak layak berdiri di barisan depan
meramaikan pesta darah di Kurusetra.
Begitupun, aku juga telah menerima takdirku yang lain: cinta
tapi betapa celaka hidupku, kau tak ditakdirkan untukku
Ah, Banowati yang molek yang lincah serupa srigunting
Betapa aku merindu padamu
Padamu
Hanya padamu
Bahkan manakala aku tahu lelananging jagat, lelaki paling kurang ajar
di seluruh dunia itu, telah memesonamu, yang datang
menyelinap mengendap mencecap birahimu
di belakang Duryudana yang tolol.
O, pernikahanmu yang banal yang tak masuk akal
sesungguhnya telah batal.
Tapi mengapa tak juga engkau menangkap isyaratku
yang menyimpan selaksa resah
: rupanya sihir cinta telah melenakan semesta
Tetapi betapa celaka hidupku – betapa malang nasibmu
Banowati.
Justru aku-lah yang merenggut hidupmu
Tetapi kau harus tahu, setelah panah bayi Parikesit menghujam dadaku
Maka sesungguhnya saat itu pula cinta kita bertaut
Solo, Oktober 2019
Duka Duryudana
Ini bukan tentang negeri yang bakal hancur
tetapi hatiku yang lebur
ratap Duryudana pada bayangan sendiri di cermin
yang muram
perempuan itu bernama Surtikanti
yang telah mengepung hatinya dengan
seribu satu panah cinta yang berlesatan
dari setiap inci tubuh sang kekasih
cinta hanya sampai di ambang nyata
tersebab Surtikanti lebih memilih
Karna
Duryudana, sekalipun memendam luka perih
tetap mengalah
merelakannya melabuhkan cinta kepada putra Adirata
Maka Banowati perempuan molek yang binal
sebagai penggantinya
tetapi cinta sang raja betapa sial
perempuan itu bermain mata dengan Arjuna
yang nakal
Apakah aku masih sanggup menampung luka?
Bayangannya mendadak retak di cermin
Dan Baratayuda yang kian dekat gaungnya
menghampar di matanya
: Setelah satu demi satu saudaranya gugur
Banowati, ah, betapa malang
keris Aswatama menancap di dadanya.
Solo, Desember 2022
Duka Kunthi
Siapa yang paling berduka melihat darah menetes di Kurusetra?
adalah ibu yang melahirkan rahasia-rahasia yang tak
kuasa membendung air mata
mengeja takdir yang penuh galaba
: Baratayudha
dalam kecamuk sawala sesama wangsa
ibu tak akan menakar siapa salah
siapa benar. darah yang tumpah, bukan milik siapa-siapa
setiap darah yang menetes, adalah darah ibu juga, anak-anakku!
adalah Basukarna, ksatria malang sejak dilahirkan
dilahirkan sebagai akibat mantra Adityarhedaya pemberian Duwarsa
tetapi kehamilan adalah aib
maka ibu melarungnya di Gangga yang murung
lalu kutukan demi kutukan, dari seorang Brahmana,
Parasurama hingga Mahaguru Drona
sebelum akhirnya Pasopati Janaka merenggut
hidupnya. dan kesedihan, tak akan bagai katak yang menyanyi riang
di musim penghujan
dan duka ibu mana lagi yang kau dustakan selain
dari kematian seorang anak yang digalang saudara sendiri?
setiap ibu hanya melahirkan kesucian
tak seorang pun bisa lebih memahami
yang dirasakan ibu, selain ibu sendiri
bahkan dewa-dewa
juga Kresna, sang penjaga takdir itu
ibu tetap berduka atas kematian Basukarna
betapapun mencoba
derana
Surakarta, Februari 2022
Y Agusta Akhir, tinggal di Solo. Pernah belajar di Institut Seni (ISI) Surakarta. Menyukai dunia literasi. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Karyanya tersebar di media lokal maupun nasional, serta media online.
bata-bata itu mungkin tak ingin mengimajinasikan dirinya
sebagai gumpalan-gumpalan salju, tatkala Tuan Irapati
hantamkan kepada prajurit Majapahit yang terus menyerbu
tapi Tuan hanya bermaksud mendinginkan murka prajurit,
“tak ada salju, bata pun jadi!” batin Tuan, barangkali
sedang di genggaman tangan Tuan, bongkahan bata
masihlah bersikeras mengeraskan dirinya;
ia tak mengerti mencairkan tubuh sendiri,
mencairkan hati prajurit apa lagi
tapi Tuan hanya bermaksud mencairkan murka prajurit,
“tak ada salju, bata pun jadi!” batin Tuan, berulangkali
hantam! hantam! hantam!
“toh, bata, kau juga berwarna putih, bukan?”
gumam Tuan tatkala kian digigilkan gamang
tatkala Tuan kian tersudut di ujung pengejaran
/kepung/
sungguh kami tak ‘kan pernah mampu
membayangkan, Tuan, tak ‘kan mampu,
gerangan apa kaki Tuan melaju ke situ:
ke tempat dialamatkannya mautmu itu!
sebab barang tentu, Tuan, barang tentu
tiada lagi haribaan paling lindung
setelah panas lelava cemas kadung menggunung
dalam dada Tuan yang kadung linglung
o Tuan yang linglung, Tuan Iramenggala yang teramat linglung
: adakah tulah paling pahit dari gerombol prajurit Majapahit
malainkan Tuan telah terkepung
melainkan Tuan telah terkepung?
/bloran/
maka barangkali tidak ada seekor vertebrata paling setia
melainkan hanya Belo Anak Jaran yang sudi memberikan
punggungnya; untuk kemudian Tuan Gantarpati kendara
“tapi aku yakin,” batin Tuan, “Anak Jaran yang pintar
ialah yang tak membawa Tuannya ke mana pun, kecuali
menyerahkan kepada prajurit yang tengah mengejar!”
Anak Jaran yang pintar rupanya lebih memikirkan peradaban;
ia mengenyahkan Tuannya demi menyediakan dirinya
untuk sebuah dukuh dengan menjelma sebuah nama
dengan begitu ia akan selalu hidup & akan tetap hidup
sepanjang zaman & sepanjang peradaban
selamanya hidup sebagai Belo Anak Jaran
selamanya hidup sebagai nama Dukuh Bloran
/surawana/
di rahim belantara hutan Surabawana, Tuan,
sintru yang wingit menolak satru yang sengit
(pamali Tuan Irabuwana & prajurit Majapahit)
“maka tiada lagi persatruan musti diabadikan!”
di rahim belantara hutan Surabawana, Tuan,
Tuan membangun kerajaan dari kesunyian,
o meski tak semegah dalam benak sejarah—
sebagai sebuah markah Tuan pernah singgah
sedang Trunajaya memilih untuk menghilang:
melesat entah ke telatah liyan
melesat entah ke telatah liyan
Pare, 01-03-2023
Memorabilia Candi Surawana
: kerinduan pada Raja Hayam Wuruk
1.
pada Saka Tiga Badan &
Bulan (1283) Waisaka:
Raja Hayam Wuruk—
yang padanya rakyat
patuh & tunduk—tengah
melawati & melewati
sepanjang jangkauan kelana,
lalu mengantukkan
ujung jangkahnya di
telatah Surabawana,
demi membaringkan
kantuk, bermalam di
Candi Wishnubhawanapura,
sebelum kemudian
sinar fajar mengantar
Ia kembali ke istana
2.
(tibalah kemudian Raja
Hayam Wuruk di istana)
maka setelah itu, tiada lagi
malam semanis rembulan
madu, selain malam bersama
Raja Hayam Wuruk kala itu,
lantaran, malam-malam
setelahnya—bagi candi batu itu
—hanyalah malam-malam
bersama angin tajam
yang cuma paham
memahatkan
dingin kerinduan
paling candu; pada
dinding tubuh batunya
yang kian mengerang
& mengeras itu
sementara
kesepian malam,
kesepian malam masihlah
satu-satunya selimut
paling rawan; akan
tajam angin malam
yang memahatkan
dingin kerinduan,
sepanjang zaman
sepanjang peradaban—
hingga kini zaman kita datang!
“o adakah kini Hayam Wuruk
juga berkenan kembali datang?”
3.
kini, setelah abad-abad
lelah merengkuh waktu:
rindu yang begitu candu
telah membatu pada
tubuh candi batu itu,
hingga seluruh
tubuh candi batu itu
adalah rindu,
adalah rindu!
Pare, 07-03-2023
Candi Tegawangi Mengharumi Ingatan Kami
: Bhre Matahun
& orang-orang menamai Tegawangi, dahulu,
dahulu sekali, setelah tiga orang anak lahir dari rahim waktu
menimang hidupnya di telatah itu, lalu mengubah
segala yang beraroma sunyi menjadi wangi—
menjadi bakal singgasana bersemayamnya sebuah candi
maka pada Sraddha 12 Warsa Pendharmaan
Sri Ratu Matahun di Kusumapura:
alkisah, Tuhan sendirilah yang
memetik setangkai bunga dari Surgaloka
lalu dijatuhkannya ke dalam jagat
atman para pendiri candi sewangi tiga,
sewangi bunga, sewangi dupa,
sewangi api kremasi yang memandikan
daksha Sri Ratu dari segala dosha
sebelum kemudian ia bertakhta
di dalam tenteram kesuwungan moksha
& kini, masih ada yang dapat kami rasakan
serupa sesuatu yang tak letih mengulurkan tangan
ke dalam liang-liang kepala kami; serupa kisah
masa silam -yang tulus menaburkan
kelopak bunga mewangi—
adalah taburan kisah sejarah Candi Tegawangi, yang masih
setia mengharumi ingatan kami
setia mengharumi ingatan kami
masih
Pare, 05-03-2023
Binatang-binatang yang Masih Terkenang
di Pertigaan Patung Kuda Macan
: Tawang
/piton kembang & kera/
dukuh kami punya pesulap kondang, ia berumah
tepat di sudut tenggara pertigaan
pada suatu Pagelaran Agustusan, pernah ia
menyetrika sendiri punggung anak gadisnya yang masih belia
di atas panggung di depan sekalian pemirsa, namun
ia menganggap hal itu bukanlah suatu siksa, lantaran tiadanya
torehan luka bahkan rasa
& ia dapat mengeluarkan dari kotak pandora kosong miliknya
beberapa uang kertas serta logam
& berbagai macam jajan pasar: apem, lemper, bikang, pisang,
pakaian dalam, pembalut wanita,
& kemudian ia lempar-lempar ia bagikan ke sekalian pemirsa
di kotak pandora yang lain, ia memiliki seekor piton kembang,
terkadang ia kandangkan di depan rumah, & seringkali
membikin orang terhenyak ketakutan saat melintasi pertigaan,
di samping kandang itu, ia memelihara pula seekor kera jantan
yang ia ikatkan di pohon rambutan: kemudian
ia jadikan mereka berdua sepasang saudara saling menyayangi
& pesulap itu sangat menyayangi mereka, menyayangi
/sapi/
dulu, tetangga kami berduka, setelah seekor sapi
miliknya lolos dari kandang & berlarian melintasi pertigaan
lalu melanggar pengendara sepeda motor sehabis
mengambil air mujarab dari suatu sumur
di dukuh nun jauh
orang itu mencari sembuh, ia malah terjatuh,
sementara si sapi rubuh & orang-orang menuntunnya
ke bawah pohon mangga yang teduh di
sekitar pertigaan lantaran kakinya yang pincang
tiba malam mengguyur sekujur dukuh
sapi itu hanya merebah tubuh, kakinya yang pincang
tiada lagi bisa digunakan untuk berdiri
bahkan berjalan bahkan berlarian
malam meradang & membakar pertigaan,
orang-orang dukuh kami ramai-ramai berjuang menggotong
tubuh gempal sapi itu ke atas bak pick-up,
pemilik sapi menjualnya kepada penjagal
dengan separuh harga semula
& ia masih berduka
/burung & kucing/
pohon mangga sekitar pertigaan telah ditebang,
pemilik tanah itu mendirikan bangunan, lalu menyewakan,
lalu jadilah sebuah toko burung & kucing beserta pakannya
dari cerita Luis Sepúlveda yang kita baca, kita dapat mengetahui bahwa:
kucing yang baik hati mengajari anak burung untuk dapat terbang sebab
induk burung tidak lagi dapat mengajarinya setelah terbang & jatuh akibat
tumpahan minyak kapal tanker di laut melengketkan bulu-bulu sayapnya
di situ, di toko itu, kucing-kucing begitu pemalu & tidak ada
pula burung terbang & jatuh akibat tumpahan minyak kapal
tanker di laut melengketkan bulu-bulu sayapnya
di situ, di toko itu, tidak ada burung-burung
yang boleh terbang bebas, tidak ada
semua pakan sudah tersedia
/kuda & macan/
beberapa tahun silam, di pertigaan itu,
seorang pematung menaruh sepasang
karyanya dalam wujud binatang:
sisi utara untuk kuda
sisi selatan untuk macan
tak lama si pematung pergi dari dukuh kami,
kami menduga, barangkali:
kedua patung itu adalah reinkarnasi dari
binatang-binatang pada gunungan wayang
di situ, di pertigaan itu, ia menaruhnya
sebagai penjaga dukuh kami yang purwa
Pare, 14-02-2023
Lampu-lampu Menggelantung & Bercahaya
di Sepanjang Jalan Dahlia
kita mulai dari selatan, memasuki mulut gang kecil yang
terbuka lebar, kita menyebut ini Jalan Dahlia ketika kita
membiarkan ini jalan terus menelan kita ke utara
sembari menyaksikan lampu-lampu yang
menggelantung & bercahaya
terkadang, aku suka membayangkan, lampu-lampu itu
seperti buah-buah yang menggelantung
di dada langit sana; bintang-bintang ranum yang mampu
menggelegakkan gairah para penujum kuna,
lalu penujum itu, penujum itu adalah kita,
adalah kita yang begitu mendamba nasib bahagia
senantiasa baka, o senantiasa baka
namun terkadang, aku juga suka membayangkan,
Jalan Dahlia tak ubahnya Taman Sorga
di tengah kota kecil kita, lalu lampu-lampu itu &
kabel-kabel itu: adalah sepasang Apel & Ular,
sedang tiang-tiangnya Pohon Kehidupan,
namun di sini, di sini tidak ada sepasang Hawa & Adam,
tidak ada, hanyalah ada berpasang-pasang mata
pedestrian juga pengayuh sepeda; mata yang
senantiasa memakan pijaran lampu-lampu bercahaya
o betapa lampu-lampu itu bercahaya kuning
begitu tulus mengecupkan cahayanya sampai ke kening
pada setiap pedestrian juga pengayuh sepeda,
sampai mereka tiada ingin berpaling
dari gang kecil di tengah kota Panglerenan kita—
dari gang kecil bernama Dahlia,
o bernama Dahlia
Pare, 10-02-2023
Dzikron Rachmadi, lahir dan berdomisili di Pare, Kabupaten Kediri. Pernah belajar di PAI FTIK Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri. IG: @_dzikroch.
Masih kau sebut durikah beskap hijau tua tak bergigi itu—seraya terus bersembunyi dari mata licik orang iseng tengah malam—sedang harummu, amboi, laksana kawinnya setandan pisang matang dengan nenas madu, apel merah dan mangga harum manis; yang memanggil-manggil janin mungil di perut ibu muda yang mulai kepayahan berjalan. Terberkatilah kuning dagingmu yang mencolok itu, meski sumpah akibat putih getah darahmu acap pula membuat kami waswas semata. Tetapi benarkah moyangmu lahir dari hujan yang rajin menuruni hutan raya India? Atau sebenarnya kau hanya biji belaka yang tekun menjalar kemana suka? Lihat, betapa kaya kau pada segala guna; sampai keringat batang jisimmu, jubah pendeta Buddha tampak kian berwarna. Kini, pantaskah wajah kau muram percuma bila legit tubuhmu kami lahap gembira?
Akasia 11CT
Belenggu
Bagai ikan dalam lemari pendingin; serupa kapuk yang ditekan-tekan ke dalam kasur maupun bantal muda pengantin. Bersusun-susun kami; tak pantas sekadar menyepadan jenjang kaki barang sejenak. Pun telah kami minta sedikit luas padang gurun atau secuil lebat rimba raya. Akan tetapi lancip daun pendengar senyata tak kuasa menerima maklumat dukacita. Lihat, tinja siapa itu? Mana ada tinja di sini!Itu busuk kaki kami yang menempel di lantai. Amboi, betah nian kita mengejami; bukan main lalai mereka mendiami, arca itu mungkin adalah kami yang pemalu lagi buta-tuli. Sememangnya engkaukah yang terkurung atau kaulah semestinya Gitamara nan bengis lagi erat menggigit?
Akasia 11CT
Lepas
Jikalau kau patuh menyeluruh
Alamat luput berita buruk
Luruslah jalan ke semenanjung
Lapanglah tanjak ke gunung
Apabila madah kau jaga
Isyarat rantai sungkan memasung
Mestilah lengang kabar burung
Pastilah lancar niat meluncur
Ke selokan sukma muara Sang Raja.
Akasia 11CT
Puisi
Bilamana engkau enggan bertamu. Atau kedua kaki terlampau lejar tamasya ke rimbun anggur yang menggantung. Cukup ceritakan saja bagaimana budi pekerti mampu lolos dari sergapan tentara waham.
Sungguh, betapa benci kami pada kisah siluman serigala. Itu sebab datuk moyang kami senang belaka menuturkannya kali berulang. Dan kuping kami teramat tekun menakzimkannya; seraya terus bibir berdoa semoga jauh pergi marabahaya.
Mungkin bisa jadi kami risih. Dimasuki keruwetan yang sebetulnya bukan semata keinginan kami. Namun kenapa engkau rajin pula turut-menurut, sehingga putih daging dan hitam darah kami mudah percuma tersamarkan.
Barangkali kita musti tutup mulut sekejap: menunggu paus biru dilahirkan sekali lagi atau reinkarnasi si jalang hadir memilah-memilih; menyambung-memotong apa-apa yang patut dan elok tangan tuliskan serta lidah bunyikan.
Setakat ini, masihkah kau jantan menghakimi—suntingan ini benar puisi atau sekadar curahan hati?
Akasia 11CT
Belajar Ikhlas dari Buku Buku
Berjilid-jilid buku lolos mencatat cara adiluhung memasukinya; menyelaminya. Supaya yang rusak parah segera embus pergi tak perlu kembali. Akan tetapi alangkah benua tubuhnya, mungkin juga luas semesta; sehingga tak pernah genap kita menaklukinya. Maka muncul dan terus muncul kitab-kitab segar membahas-mengulitinya. Sampai kita luput mendedahkan ibu bapak kitab dari segala kitab yang sesungguhnya ialah obat bagi ragam penyebab.
Akasia 11CT
Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Puisi-puisinya ada yang ditolak redaksi ada yang dimuat redaksi. Buku kumpulan puisinya “Pertanyaan yang Menyelinap” akan segera terbit. Akun Facebook: Ilham Wahyudi dan Instagram: @ilhamwahyudi_ilham