Puisi

Puisi Gandhang Kandhiridho

Tujuh Fragmen Penghabisan

1.

pada sebuah jalan tersembunyi

akhirnya kau temukan

dirimu yang sempat hilang

jalan yang mengarah ke tempat

dengan pintu yang terbuka

untuk kau masuki

tempat yang berisi percakapan-percakapan

silam yang berdebu untuk ditelusuri

kini menemukan kepingan utuh

kepingan wajah yang merekah

muncul terangkai satu persatu

peristiwa demi peristiwa menyembul

ke permukaan

dan kepekatan mulai terurai warnanya

sementara ruang kosong

tadinya penuh tanda tanya

kini kembali terisi

sekalipun itu tak cukup kuat

kalahkanmu dari rasa sunyi.

2024

2.

perlahan kepalaku mulai melupakan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama bercokol menghantuiku sepanjang malam dalam beberapa tahun belakangan ini.

aku tidak tahu ini gejala apa.

kata sebagian orang, ini pertanda baik, sekaligus dalam waktu bersamaan bisa jadi adalah pertanda buruk.

itu kata mereka, atau lebih tepatnya, konon.

namun satu hal, aku, tetap seperti biasa.

tidak merasa baik atau sebaliknya.

yang terjadi justru sikap apatisku atas sekelilingku, bahkan untuk diri sendiri semakin menjadi-jadi.

kupikir orang-orang akan melihat dengan kacamata tersebut.

tapi setelah kupikir-pikir lagi ini sama saja menyimpulkan secara konyol akan hal remeh-temeh.

maksudku, aku tidak perlu lagi menggubris anggapan mereka akan ini.

termasuk apa yang mereka sematkan padaku.

bisa dibilang, dalam derajat tertentu aku cenderung sepakat pada yang terakhir.

lucu, bukan?

dan menurutku ini sangat lucu.

aku lebih suka disebut seseorang yang lucu, atau orang yang suka melucu.

hanya saja tidak untuk orang lain.

2023

3.

terkadang aku merasa seperti seorang yang gemar menulis puisi panjang-panjang kepada kekasihnya.

namun ujung-ujungnya kalimat yang tertulis tidak bisa dibaca sama sekali.

aku tidak mengerti kenapa aku menuliskannya.

sementara pilihan untuk menekan tombol “berhenti” sangat terbuka lebar di depan mata.

bahkan kadangkala aku seperti seorang yang gemar mencipta sajak-sajak pendek yang ujung-ujungnya hanya didengar sekilas untuk akhirnya lesap pada ruang kealpaan.

aku tidak tahu kenapa kalimat-kalimat pendek itu tercetus di kepalaku berulang-kali.

seakan hanya bisa berhenti setelah mataku terpejam dalam pelukan mimpi.

sedangkan bisa saja aku menekan tombol “cukup” yang sebetulnya hanya berjarak hitungan senti.

tapi entah kenapa aku merasa itu tidak perlu.

paling tidak untuk sementara waktu.

2023

4.

setelah percakapan terakhir itu

kau hanya berbicara pada dirimu sendiri

angin berembus dingin

bayangan tubuh yang pergi

ruangan yang gelap

menyelimutimu dari kekalahan

setiap orang pernah kehilangan, paling tidak

sekali dalam hidup mereka.

dan bagian terburuk dari episode itu

adalah mencari cermin yang sama

melalui cermin yang lain

meskipun telah retak.

2024

5.

tak ada apa-apa di sini

tak ada tawa renyah

tak ada wajah polos

tak ada cerita-cerita yang patut dibanggakan

tak ada apa-apa

bahkan jika mungkin ada

tak lebih dari selubung

itu pun makin memudar

sisa rahasia dirimu

jadi apalagi? pergilah!

aku telah habis gairah

kepalaku dipenuhi sejarah

berisi suara-suara darimu

yang menjelma asing di telingaku.

2024

6.

hargailah setiap momentum.

sebab ia hanya datang sekali seumur hidupmu:

perjalanan, peristiwa, pelajaran,

orang-orang baru, orang-orang lama,

yang asing dan yang dikenal.

dalam satu kilasan di sebuah tikungan jalan,

atau di emperan pertokoan karena terjebak hujan,

atau di sebuah antrian ruang tunggu yang terkadang membuat kita gusar.

meskipun sekejap, hargailah.

sebab itu semua akan menjelma kenangan di arsip laci ingatan kita.

2023

7.

kenangan tak pernah bergerak maju.

ia selalu berhenti di belakang sana.

hidup tidak menuntutmu membawa seluruh kenangan itu di sini.

ia hanya menyediakan setangkup ruang kecil yang sesekali bisa dijenguk sebentar

untuk kemudian sebagai penanda bahwa peristiwa itu telah berlalu.

2023


Gandhang Kandhiridho, lahir dan berdomisili di Surakarta. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi. Buku puisi yang sudah terbit; Rahim Waktu (2021) & Separuh Wajahku Bulan (2023).

Puisi

Puisi Gandang Kandirido

Epifani

kesunyian datang

meringkus keterasingan

menyergap kebisuan

seiring gelap malam.

tubuh ini ringkih

berjalan makin tertatih

menangkap sosok di retak cermin

sorot matanya kulihat letih.

kekosongan pada akhirnya

menemukan jalan pulangnya sendiri

sekalipun sebatas tafsir ulang

dari sejarah yang sengaja dibenam kedalam

sajak-sajak gagak hitam.

epifani! epifani!

aku ingatkan selalu padamu

untuk jangan mati terlalu dini!

sebab mimpi-mimpi kini lupa

merangkai dirinya sendiri.

(2022)


Sepenggal Ingatan di Hari Lain

Di hari lain terkadang aku

masih ingat akanmu

kadang-kadang tak utuh

kadang-kala cuma

selintas bayangan

yang mengabur dan

samar

seperti adegan ganjil

dalam sebuah film bisu

tak bersuara.

(2023)


Semesta Kepalamu

Setelah hujan barangkali

Segala hal yang keluar dari mulutku

Akan dipenuhi huruf-huruf

dengan sayap Icarus

Sebelum nantinya terbang rendah

Mengitari semesta kepalamu

Dan bermukim di dalam sana

Sepanjang musim berganti.

(2023)


Diam Segala Ucap

bukan pulangmu yang buatku sekarat

tapi sepimulah yang datang

begitu rambat

lalu dari dalam sunyi gelap

diam-diam menyelinap

segala ucap

entah jadi ratap

entah jadi senyap

entah jadi apa-apa yang mungkin

akan mengendap.

(2022)


Pada Sebuah Pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita tak lagi duduk bercerita

Sambil rasakan ombak kecil menerpa

Pukuli kedua telapak kaki

Pada sebuah pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita tak lagi bicara apa-apa

Sekalipun cuma bertukar sapa

Apalagi berbincang tentang suatu masa

Yang lewat dan yang akan tiba

Pada sebuah pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita saling berjalan menjauh

Dan tak mungkin menoleh lagi.

(2022)


Pada Beku Wajahnya Aku Menemukan Tebing

Curam

Terjal

Menganga

Jalan menujunya

Nyaris

Sepi tak habis

Habis.

(2022)


Aku Katakan Kepadamu Seperti Apa Sepi yang Membunuh Itu

Mula-mulanya ia merangkulmu

Seperti kawan lama

Bertandang ke rumah

Bertamu tanpa memberimu

Kabar lebih dulu

Kemudian ia mendekapmu

Seperti seorang kekasih

Dimana dari wajahnya kau yakin

Dialah satunya-satunya orang

Yang akan kau lihat

Setiap pagi

Setiap kau bangun

Dari tempat tidurmu

Lalu entah oleh apa

Seperti bayangan

Ia menyelinap

Mengendap-endap

Pergi ke dalam

Mengambil pisau dan

Menikammu saat lengah

Setelah tersadar

Kau cium gelagat janggal

Dari sebuah kedatangan.

Solo, 2022


Pada Apa-Apa yang Mungkin

Kini kita hanya bisa bersandar pada apa-apa yang mungkin

Hanya bisa bersandar pada apa-apa yang terlihat mustahil

Maka untuk semua waktu yang pernah nyaris itu

Sesekali jenguklah ruangan yang membeku kini

Fragmen fragmen yang tak lagi membicarakan percakapan–percakapan kecil

Percakapan sederhana

Kalaupun harus dipecah, pecahlah

menjadi bagian-bagian kecil

Bahkan jika harus menyelam, selamilah

Sekalipun harus ke jurang paling dasar

Paling dalam

Paling sukar

Dan tak terbahasakan

Oleh kata-kata.

Solo, 2022


Lautan Ini Kembali Tenang

langit menghangat

sore menguning

cahaya keemasan tak lagi

merah membakar pucat

wajah seseorang

Lautan ini kembali tenang

meski deru-debur ombak itu

pernah menggulung tubuhnya

sampai tenggelam

di kegelapan paling dasar.

Lautan ini kembali tenang

Tiada lagi gemuruh badai itu

yang sempat hantam-karamkan

seluruh kehidupan

di kedua matanya yang redup.

(2022)


Gandang Kandirido, lelaki insomnia. Berdomisili di kota kelahiran, Surakarta, Jawa Tengah. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi.

Puisi

Puisi Gandhang Kandhiridho

Wajah Mematung

kulihat seraut wajah mematung

dengan nasib terkatung-katung

pada bayangan lorong gelap

menyingkap tabir tak terungkap

“di sini tatapan sinis adalah lumrah,” ucapmu

“sebab kemurungan terlalu lama digelar

dan secuil senyuman kecut

telah menjadi kegilaan yang ramah.”

“lantas kenapa kau masih berdiri angkuh?” tanyaku, “sedang singgasana berduri tak kunjung kau rengkuh?”

“entahlah, aku sudah mencoba,” jawabmu

“dari mengibas tanganku sampai buntung

hingga melilitkan lidahku untuk dipasung

hanyalah kekosongan yang kudapat,

dan pada gelapnya lorong inilah

aku bisa merasakan kegetiran yang kudambakan

menikmati sepi yang meringkik dengan merayapinya

menikmati sunyi yang merangkak dengan merasukinya.”

(pelan-pelan ia melangkah pergi dan hilang ke dalam bayangan)

kini berbalik aku melihat wajahku sendiri

dalam wajah yang mematung itu.


Wajah

/1/

ribuan sembilu menyayat waktu

tangisan pilu bertalu-talu

lalu mengutuk

untuk memburu

wajah itu

/2/

pada sekeping cermin

yang disapu angin

kulihat wajah dingin

yang berwarna asin

wajahku, wajahmu atau wajah kita?


Hutan Beton

di kota ini bagiku

semua hal terasa asing

sedikit sekali yang tersisa

selain rimbun hutan beton

yang menjulang subur

di tengah kejomplangan

menghampar sepanjang pelupuk mata.


Hujan Kenangan

hujan ialah segala bait kenangan

yang tergeletak di tepian jalan

untuk dikunyah-kunyah

menjadi seperlima irisan jeruk

dalam sewadah es batu

yang dikupas di landasan kayu

lalu dituang ke mangkok kuah kari rasa keju

dengan beceknya bulir-bulir padi

dan diseruput tanpa puisi.


Ngopi Sederhana

aku ingin ngopi

dengan sederhana

tanpa gula

tanpa susu

tanpa kamu di sisiku.


Kecemasan

pada akhirnya semua memang kembali ke awal

ketika deru cemas di panas paling cadas

melahirkan percakapan yang menguap di udara

seperti sebuah pilihan yang kita pilih

meski tidak benar-benar kita pilih

bagaikan langkah maju dalam keanehan

yang mengaduk prasangka hari depan

seperti rumor bising dalam kegilaan

yang berembus dengan ketidakpastian

semua mengendap bersama pertanda buruk.


Histeria

seorang lelaki dengan raut sumringah tanpa keraguan

berjalan mantap menuju lapangan penjagalan

tempat dimana ia akan dipenggal bersama teman-teman seperjuangan

sesampai di sana ia bergumam lirih “betapa beruntungnya mereka yang tak ambil bagian.”

lalu tiba giliran, ia melangkah tegap naik ke panggung pemancungan seperti tanpa tekanan

saat algojo siap mengayunkan pedang, seluruh penonton pada kelabakan

melihat kejadian aneh di luar perkiraan, bukannya leher lelaki itu yang diserahkan

tetapi kelaminnya sendiri yang sudah tegang yang ia sodorkan

setegang penonton yang menyaksikan.

ia menyodorkan pada algojo yang siap menebas sembari berjabat tangan

penonton kelimpungan dan algojo sempat gelagapan

bahkan ada beberapa penonton yang jumpalitan

tetapi penonton dan algojo langsung sigap menguasai keadaan

apa yang sebenarnya ia bicarakan pada algojo ketika jabat tangan?

dan apa yang sedang mereka rencanakan?

sejurus kemudian terdengar desas-desus yang mengatakan;

ternyata mereka telah membuat perjanjian dengan suatu persyaratan

bahwa algojo akan menghentikan pembantaian

asalkan lelaki itu bersedia dan mampu menggantikan peran

dan tanpa babibu lagi ia setuju mengabulkan

lalu di luar dugaan penonton histeris ketakutan.


Matanya Meleleh

cahaya sore yang merambat

ke ruangan itu seakan enggan

menerpa parasnya yang memantulkan

ketenangan dan kerahasiaan

semesta

seiring matanya yang meleleh

bersama cemas

yang hinggap

dan mengendap

di sebutir peluh

ah… apapun itu

aku suka matamu.


Pada Sebuah Pagi

/1/

selamat bertandang ke rumah, hujan

makhluk di bumi sudah rindu

menyambutmu pulang.

/2/

senyummu dingin mengering

raib ditelan pagi menyingsing.

/3/

untuk apa susah payah menikam dadaku sendiri

bila mata itu telah lebih dulu membunuhku

mata itu adalah milikmu.


Hanyut

cakrawala terbakar hitam dalam

mendung itu

seakan mengiringi kepulanganku

yang kalah kuyup sepanjang jalan

di jalan aku menemui segala ketimpangan:

dari traffic light mati

lampu jalan yang redup

selokan mampet

lalu lintas macet

yang mengisyaratkan aku tuk berhenti

pada trotoar licin yang tergenang

berlumpur penuh lubang

sampai akhirnya kutemukan senyummu

yang mengambang

hanyut terbawa luapan

sungai hujan.


Gandhang Kandhiridho, lahir pada 4 April. Berdomisili di kota kelahiran, Surakarta, Jawa Tengah. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi. Buku antologi puisi pertamanya berjudul “Rahim Waktu” (Teras Budaya Jakarta, 2021) dengan menggunakan nama pena “Dan Hermit”. Dalam waktu dekat (2022) sedang menyiapkan buku antologi puisi keduanya. Bisa dihubungi surel: [email protected] dan Instagram @gandha_ng