
Serenada Hitam
hari itu, orang-orang lupa tanggal berapa
mereka bernyanyi memanggil arwah-arwah
ketakutan berlari tersuruk-suruk mencari ceruk
pepohonan gemetar debu-debu bertuba
siapa bisa menggambarkan maut menyentuh pundak kanak-kanak?
seperti lilin-lilin redup menyala
menyanyikan happy birthday
lantas padam begitu saja
namun serenada-serenada hitam itu tetap saja kita lagukan
sambil membayangkan perjalanan tamasya ke kubur kelam
serenada hitam dinyanyikan, ikan-ikan menangis
burung-burung gagak memekik, sajak-sajak menggelepar
membayangkan wali-wali suci sembunyi di perut paus hitam
2023
Siapa yang Dimuliakan, Siapa yang Dilupa
siapa yang dilupa?
Saat waktu berkelok begitu lembut dan syahdu melaju
dengan meneteskan peluh seperti tetes air mata duyung
keramat menyesali usia
menuju entah perbatasan mana
: disitulah mereka berbaring, mendelik dalam gelap
menangisi puisi-puisi meratapi bunyi.
tinggal doa samar yang gemetar
tersesat di wilayah senja kala.
siapa yang dimuliakan?
segala sunyi, segala yang luruh atau segala yang kembali ke subuh?
matahari sepanjang hari, bulan sepanjang awan
di jalanan masih terdengar raung klakson bersahutan
daun-daun rontok, ranting-ranting berpatahan, segala angin mendesing
: tak ada bilik lain, cuma sepetak ruang membeku dan keraskan
seluruh frase, bunyi dan kilat matamu.
menyerpih tanpa suara hanya desah
mendesiskan kenangan yang segera melapuk
dan putus di tengah-tengah bait sebelum sempat ditulis!
ini bukan akhir puisi sebab segala kata telah dipingit dan disingitkan
tak hanya di kitab-kitab wasiat nan keramat tapi juga disematkan di pusara-pusara
bahkan daun-daun di cecabang sudah menuliskannya sebagai penanda musim
puisi telah menjadi bayang-bayang raksasa menguntit siapa saja
yang melenggang atau bergegas
pun pada sumuk yang mengambang di udara
puisi tak lahir untuk mati namun berpikir untuk jalan kekal yang abai pada waktu
boleh saja semua tak peduli atau menumbuhkannya seperti pohon hayat
yang berbenih dan akarnya berurat ke pusar semesta dan runcing rantingnya
tempat hinggap burung-burung keagungan menyanyikan misteri zaman.
Ngawi, maret 2023
Memoria Desa
/1/
ingin kulihat kembali kisah-kisah lama berikut peta-petanya
tempat para brahmana dan petapa-petapa sakti menuliskan
coretan-coretan usang serupa relief pada dinding ingatan
di sinilah muasal sejarah ditafsir, dicatat, dan dirajut waktu dengan gemericik air sungai mengarus jauh menuju muara hati menjalar ke akar-akar pohon jati, berdenyut ke batang, dahan, ranting, hingga putik daun-daun melangitkan harapan lewat cericit emprit dan bekur dekukur merentang lantangkan doa-doa mumbul ke langit
/2/
: ah, peta-peta itu tak lagi bisa kubaca
seperti arus tak mungkin bakal kembali ke hilir
cuma sisa bekas ingatan, seperti lagu-lagu cengeng tempo dulu
memuja-muja rindu yang bergegas berlalu
kali-kali jernih tak lagi jadi rumah meditasi
tak akan ada lagi wali menjagai gemericiknya
batang ranting pohon kaku sendiri menatap langit asing dengan matahari lain.
tembang-tembang kinanti dan asmaradana dikubur bersama dalang-dalang silih berganti mati
kidung-kidung selawat dan barjanji telah dilipat lampu
: semua bagai tamu mencakapkan masa lalu
lantas berdiri satu-satu beranjak pergi tanpa melambai
apalagi bertukar cinderamata
/3/
kebekuan asing merongga di pelupuk mata dan ingatan
rembulan tak lagi menyimpan kemurnian
hutan-hutan tak lagi jadi pohon hayat
semua hanya milik masa silam
seperti aksara-aksara purba di primbon kuno.
Ngawi, 2023
Hujan dengan Garis Putus-Putus
langkah tersaruk-saruk
kita tetap enggan menepi
dari hujan dengan garis putus-putus
sore terperangkap sabda-sabda gaib
milik para penyair penuh rindu kemarau
menghirup aroma apu di jalan-jalan mengabu
hujan tak reda-reda
kita tetap enggan menepi
dari hujan sore hari
terperangkap sabda-sabda
gaib para penyair mengerang pada kemarau
di sana kepedihan terus berulang
tercipta dari reruntuhan kota
seperti piatu tanpa
cinta
2023
Sepanjang Malam Pintu Diketuk
sepanjang malam pintu diketuk
tamu-tamu asing membawa oleh-oleh
sekeranjang air mata
: inilah ranum untuk penanda mereka yang diabai waktu!
hujan tak lagi tumbuhkan benih yang disemai
di jarum arloji bau peluhmu bertik tok
meratap-ratap pada doa yang sia-sia
seperti perempuan renta tak berdaya
di depan jendela termangu memintal kalender
seperti menjahit luka menyambut dengus si maut
Nov, 2023

Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April. Tulisannya berupa puisi, esai, artikel dan cerpen dipublikan berbagai media. Beberapa kali menerima penghargaan di bidang kesastraan, antara lain: Penghargaan Seniman dan Budayawan Berprestasi Jatim dari Pemprov. Jatim (2002), Sayembara Penulisan Buku pengayaan Tingkat Nasional dari perpusbuk (2003, 2007, 2010, 2016, 2017), Penghargaan Sutasoma, Kategori Guru Sastra Berdedikasi dari Balai bahasa Jatim (2013), Penghargaan Sastrawan Pendidik Tingkat Nasional dari Pusat Pembinaan bahasa (2013), Sayembara Buku Puisi Terbaik Nasional versi HPI 2016, dll. Buku puisi terbarunya SULUK PANGRACUTAN dari KAMPUNG PARA ARWAH (2023), QASIDAH LANGIT, QASIDAH BUMI (2023) dan buku tunggal lainnya. Selain menulis juga pernah bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di SMA 2 Ngawi.
