Cerpen

Perihal Lesuika

Cerpen Jeli Manalu

Begitu lonceng bunyi, anak-anak menghambur ke luar. Para mama-papa yang datang menjemput, hari ini atau kapan saja, tak satu pun pernah terlihat berjalan kaki. Papa Riz menggunakan motor trail. Mama Moan pakai motor matic. Tuk yang sambil makan keripik sukun menunggu mobil warna jus buah naga. Seandainya Mama Nef mengantar-jemput Lesuika dengan kendaraan.

Apa di luar pagar gerimis lagi?—gerimis datang sejak pagi buta, saat adik bayi menangis sebab ingin menyusu namun Mama Nef belum mendengarkannya. Lesuika berdiri dekat kaktus sebelah kantor guru. Tangan dijulurkan ke depan, gerimis ternyata tidak ada. Gerimis reda sepuluh menit lalu. Dan Mama Nef, mungkin akan muncul sebentar lagi. Dengan payung ungu, dan sandal jepit yang mempermudah langkah kaki. Langkah kaki Mama Nef cepat-cepat dan berkesan tergesa tetapi Mama Nef bilang itu termasuk santai karena ke banyak tempat ia sudah sangat terbiasa berjalan kaki.

Hei, Lesuika. Cepat ke sini. Nanti adik bayi nangis.

Mama Nef sering berbicara begitu. Sepasang kaki Lesuika bergerak cepat menuju Mama Nef. Mereka harus buru-buru pulang demi adik bayi yang tidak Mama Nef bawa bila kebetulan sedang tidur.

Sekolah sepi. Guru-guru sudah tak ada. Bunyi sandal jepit Mama Nef beradu dengan jalanan tak kunjung muncul di luar pagar. Jerit suaranya juga belum. Apa adik bayi sedang sangat rewel sehingga Mama Nef perlu lebih banyak waktu untuk menidurkannya? Kadang Mama Nef berjalan keliling kompleks agar adik bayi bisa tertidur. Pernah Mama Nef menggendong adik bayi sambil berjalan-jalan setengah hari hanya karena adik bayi tidak mau dilepas.

Saat ini Lesuika semakin mengantuk dan lapar. Waktu istirahat ia memang ke kantin makan mi sop pedas campur bakwan bersama Riz dan Moan. Ia juga dapat lima lembar keripik sukun dari Tuk. Lalu permen dari temannya yang lain. Hanya saja perut Lesuika lekas-lekas sekali minta diisi makanan sebab ke sekolah berjalan kaki membuat pencernaannya ikut gesit bekerja. Ia pernah cerita kepada Mama Nef tentang perkataan gurunya, orang yang banyak bergerak metabolisme tubuhnya juga berjalan cepat, itulah mengapa ia berharap sekali bisa diantar-jemput dengan kendaraan seperti teman-temannya agar cepat tiba di rumah dan langsung duduk di meja makan, menghabiskan sepiring-dua piring nasi dengan tiga ekor ikan puyuh tanpa kepala, lalu minum teh manis dingin, lalu pisang, atau biskuit yang mungkin masih tersedia dalam kaleng Khong Guan di atas lemari.

Lesuika meninggalkan kaktus lalu bersandar di tembok kantor guru yang persis menghadap pagar sekolah. Di tembok itu ia menahan kantuk, ia tak boleh tertidur karena ditakutkan Mama Nef memanggilnya dari luar pagar sementara ia tak bisa mendengarnya. Agar tidak tertidur, ia mengambar-gambar di buku. Ia buat dirinya berada dalam boncengan Mama Nef—bagaimana postur tubuh Mama Nef saat berkendara di tengah keramaian: Tegang, menciut seperti orang kedinginan—Lesuika belum pernah lihat Mama Nef berkendara. Mama Nef pakai helm, Lesuika pakai helm. Ia suka helm warna jus buah naga seperti mobil keluarga Tuk. Tuk pernah memberikan Lesuika jus buah naga yang dibawanya dari rumah. Warnanya cantik. Rasanya enak. Seandainya ia diantar-jemput Mama Nef pakai kendaraan, pastilah ada yang Lesuika banggakan kepada teman sekolahnya. Mereka punya satu sepeda dan satu motor yang selalu terpakir di garasi. Dua benda itu bisa membawanya jalan-jalan hanya ketika papa pulang.

“Kenapa kamu tidak diantar Mama Nef pakai kendaraan?” tanya Tuk suatu hari.

Lesuika ingin bilang, namun lekas-lekas menutup mulut. Ia tak mau Mama Nef jadi olok-olokan di sekolah. Teman-temannya selalu cerita membanggakan mengenai orangtua mereka yang jago berkendara. Papa Riz muda seorang pembalap—Riz pernah memamerkan foto-foto papanya ketika berada di sirkuit. Selain antar-jemput sekolah, Moan bilang mamanya selalu memboncengnya pakai motor matic. Keliling kota. Ke dokter gigi. Ke tukang pangkas rambut. Sedangkan Tuk tak diragukan lagi. Ia anak beruntung yang hanya tinggal duduk dalam mobil ber-AC sambil makan keripik sukun lalu tanpa sadar sudah tiba depan pintu rumah.

“Bila diantar-jemput pakai motor, perutmu pasti tidak cepat-cepat lapar,” sahut Riz.

“Bajumu juga tidak cepat-cepat bau keringat,” sambung Moan.

Di pekarangan sekolah angin menerpa dahan-dahan kaktus. Di rumah Mama Nef menepuk-nepuk bokong adik bayi. Gerimis halus-halus muncul dan melayang ke tembok kantor guru. Lesuika belum tertidur. Ia berharap Mama Nef segera muncul dengan payung ungu, sandal jepit yang mempermudah langkah kaki lalu dari luar pagar Mama Nef menjeritkan nama Lesuika.

“Kalau Mama Nef tidak bisa berkendara, kenapa tidak sewa orang antar-jemput kamu?”

Tahun lalu, ada orang yang bersedia antar-jemput Lesuika. Orang itu berhenti karena hamil dan sekarang sibuk mengurus bayi. Bila diantar tukang ojek, Mama Nef tak percaya. Ia cemas barangkali saja si tukang ojek mengiming-imingi Lesuika makanan padahal ada maksud lain di belakangnya

Lagi pula, jarak rumah ke sekolah tidak jauh. Hanya 15 menit berjalan kaki, Mama Nef mencoba membela diri dari ketidakmampuannya berkendara. Masalah Lesuika, ia malu dilihat teman-temannya selalu berjalan cepat dan tergesa. Dan hal paling tidak ia suka bajunya jadi anyir keringat padahal hari masih pagi. Tetapi kata Mama Nef lagi Lesuika tak perlu merasa minder. Berjalan kaki bagus juga untuk tubuh Lesuika yang gampang sekali bertambah gemuk.

“Lesuika!”

Payung ungu dan sepasang sandal jepit Mama Nef menyeberang ke arah sekolah. Saat itu adik bayi tidak terlihat bersama Mama Nef.

“Lesuika,” panggilnya.

Gerimis makin menggila.

“Lesuika, kamu di mana?”

“Cepatlah berlari, Lesuika!” ***

Riau, Mei 2023


Jeli Manalu senang menulis dan berkebun. Ia lahir di Padangsidimpuan pada 2 Oktober, dan saat ini tinggal di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018 dan “Kucing Penunggu Susteran dan Cerita-cerita Lainnya” tahun 2022.

Cerpen

Gaun Hijau Botol

Cerpen Jeli Manalu

Nirara berdiri tepat di depan sebuah toko, ketika notifikasi WhatsApp membuat getaran dalam saku jaketnya. Ia membuka pesan itu sesaat setelah mengalihkan pandangan dari gaun hijau botol yang dipakai patung berambut ikal, seperti rambutnya. Isi pesan dalam ponselnya, menjelaskan pada hari raya Natal akan datang seorang pastor tamu. Si pembuat pesan, yakni ketua paduan suara, mengatakan tahun ini harus lebih semarak dan meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Kelompok paduan suara akan mengenakan baju seragam.

Membaca pesan itu, di mana seruan ketua merupakan keharusan terlebih telah didukung anggota lainnya, harapan Nirara tentang Natal dengan gaun hijau botol yang menggembirakan hati pupus seketika. Mengenakan seragam, membeli baju jadi ataupun menjahitkannya, itu artinya ada pengeluaran tambahan di bulan yang sama. Sementara, sejak gaun hijau botol dipajang pemilik toko, di mana Nirara dapat melihatnya setiap pergi dan pulang bekerja hampir seminggu lamanya, karena telanjur naksir namun belum tiba tanggal gajian, ia membujuk majikannya supaya diberi pinjaman demi menyerahkan sejumlah uang kepada pemilik toko sebagai tanda jadi, sehingga gaun itu tidak dijualkan kepada orang yang barangkali berminat membelinya. Dan sekarang, setelah mendapatkan maklumat penting di hari yang genting, selain tak dapat memiliki gaun hijau botol, kemungkinan kehilangan uang tanda jadi sebagai kompensasi karena membatalkan pesanan turut mengganggu pikirannya. Jika harus mengambil gaun bersamaan dengan baju seragam, itu mustahil lagi. Ia tidak punya cadangan uang. Rekeningnya sudah lama tak ada isi. Bila dulu belanja-belanja perkara gampang, pada kehidupannya sekarang, segala sesuatu terasa sulit.

Belakangan, sebelum tiba masa gajian, ia membuat catatan esktra ketat terhadap nominal yang hendak diterimanya. Sesudah uang di tangan, ia langsung membelanjakannya untuk kebutuhan sebulan penuh, hanya menyisakan kebutuhan lauk-pauk yang dibeli per dua hari. Token listrik, beras, minyak sayur, serta isi ulang gas 3 kilo berlabel “hanya untuk masyarakat miskin.”

Ia bimbang, juga mulai bersedih. Ingatan akan gaun berwarna hijau, yang pernah dibelikan Tona, suaminya pada Natal pertama saat mereka baru berumah tangga, hadir dalam lamunannya.

“Buka dan lihatlah. Nama warnanya, hijau botol,” kata Tona, waktu itu.

Hijau botol. Seperti warna botol kaca muatan 620 ml, tempat bir bergambar bintang. Hijau yang gelap. Atau seperti warna kasula pada masa minggu biasa dalam liturgi—Tona mengatakan itu merupakan warna kesukaannya, juga Nirara.

Lelaki itu mengaku senang ketika Nirara mulai memasukkan kepalanya ke lorong gaun. Saat Nirara merentangkan kedua tangan dan menggerak-gerakkan badan, Nirara merasakan tangan Tona membantu Nirara membetulkan di bagian dada sampai pinggul. Gaun itu kemudian Nirara tahu berbahan katun lembut, namun sedikit tebal. Dalam cermin ia melihat dirinya yang sedang mengenakan gaun berkerah lebar, di mana pada sepertiga bagian ujungnya terdapat lubang-lubang mungil menyerupai gambar hati. Panjang gaun setengah betisnya. Risleting di bagian belakang. Ketika hendak mengenakannya untuk merayakan malam Natal di gereja, Nirara meminta tolong pada Tona supaya mengancingkannya. Tona memegang kepala risleting, tapi ia berkata agak kesulitan melakukannya. Ia menarik ke atas, lalu menurunkannya lagi sebelum benar-benar mencapai puncak, ia bilang resletingnya mungkin perlu diberi lilin sedikit supaya lincah gigitannya.

“Jangan bercanda, nanti kita terlambat,” protes Nirara.

Lama-lama, mereka malah saling mencumbu, sampai-sampai tiba di gereja tepat ketika pastor berkotbah di altar cintanya Tuhan tentang kelahiran bayi Yesus. Dan sebulan setelahnya, Nirara mengandung anak pertama, meski pada usia kehamilan tujuh minggu ia mengalami keguguran.

Di depan toko yang ramai oleh lalu lalang pengunjung, tiba-tiba, penyesalan kecil timbul di dada Nirara. Barangkali, bila tidak terlalu memikirkan prinsip hidup tentang masa depan kesendiriannya apabila sudah ditinggal mati Tona, sejak lama, yakni tidak mau seperti tetangganya yang memilih hidup sepi saja sejak ditinggal mati kekasih hatinya, bisa jadi, Nirara tidak sedilema sekarang ini. Ia tidak perlu menghapus keinginan pribadi atas nama kebersamaan. Sepanjang lima tahun, ia sudah mengikuti segenap aturan tak tertulis di kelompok paduan suara—wujud nyata dari sebuah kekompakan, begitu para anggota menamainya. Menjahitkan kebaya lengkap dengan roknya saat uskup berkunjung. Membeli sepatu pantofel merah ketika ada pertandingan kor antar stasi. Membayar kaos bersablon nama paduan suara saat berwisata rohani ke luar pulau, topi lebar ala perempuan bangsawan Inggris, membayar tiket, membeli syal ungu, membeli celana berwarna sama, bergantian mentraktir bila tiba hari ulang tahun, dan lain-lain dan lain-lain.

Saat itu, tiga minggu setelah Tona tiada, Nirara segera membuat keputusan. Pengurus gereja ditemui, dan berkata jika dirinya berniat menjadi anggota paduan suara. Kehadirannya disambut dengan penuh suka cita. Pertemuan selanjutnya setelah dirinya resmi bergabung, ia mengadakan jamuan makan malam di rumahnya. Bulan-bulan setelahnya ia lalui dalam kebersamaan. Empat kali Natal tak satu pun ia lewati dengan perasaan seorang diri, meski sejak kepergian Tona, hari-hari ia lalui dalam kemerosotan ekonomi.

Ia memang tidak terlalu peduli ketika tak pernah lagi membeli kepiting gendut-gendut untuk dijadikan sup kincung pedas, walau itu sekadar mengenang ulang tahun pernikahannya dengan Tona di masa lalu. Ia mengisi waktu dengan latihan vokal. Tampil di hari Minggu sebagai pemazmur atau pemimpin lagu, juga peserta kor. Menyanyi di pesta pernikahan, hingga upacara kematian. Dan ini mestinya Natal kelima dirinya merupakan bagian dari komunitas itu.

Natal memang belum waktunya walau Desember sudah merayap. Natal masih seminggu lagi, meski orang sudah ramai keluar-masuk toko pakaian, memilih model dan warna yang disuka, mencoba apakah kekecilan atau kebesaran hingga membawanya ke rumah dengan hati senang. Natal memang belum tiba, meski beberapa perempuan paruh baya yang datang tanpa ditemani seseorang, tampak menghadiahi diri mereka dengan satu atau dua pasang baju untuk menghindarkan hati dari nelangsa.

Nirara sebentar berpikir, jangan-jangan si tetangga, yang hidupnya terkesan menyedihkan karena menutup diri dari semua kemungkinan membahagiakan, saat ini justru lebih bersuka cita ketimbang dirinya. Bisa jadi perempuan itu, ada datang membeli gaun kesukaan di toko sama dengan Nirara tanpa diketahui. Perempuan yang selalu menutup pintu, dan tiap sore masih menyeduh dua gelas teh lalu duduk di balkon menatap matahari hingga tenggelam mungkin saja sedang bersenang-senang dengan pikiran serta keinginannya sendiri. Tak perlu merasa terganggu harus mengenakan baju ini atau sepatu itu. Model rambut ini, atau apakah gunanya sebuah topi dan syal, atas nama sebuah kekompakan tanpa peduli apakah perempuan paruh baya seharusnya tak perlu bekerja terlampau keras setelah ditinggal mati pasangan hidupnya demi itu semua.

“Apa gaunnya akan diambil sekarang?” tanya pemilik toko, sewaktu Nirara melangkah ragu-ragu di antara kerumunan di mulut pintu, dan matanya terpaku pada gaun hijau botol dikenakan patung berambut ikal, seperti rambut miliknya yang tak ingin ia ubah, meski teman-teman di paduan suara beberapa sudah meluruskan serta mewarnai rambut mereka untuk persiapan Natal meriah bersama pastor tamu.

“Banyak orang menanyai gaun ini. Tapi sepertinya, hanya kaulah yang beruntung mendapatkannya,” kata pemilik toko lagi.

Nirara berusaha tersenyum, belum tahu harus menjawab apa. Ia tentu mengerti perasaan pemilik toko, mengharapkan supaya barang dagangannya cepat habis, sehingga dapat menuntaskan keinginan pribadi menjelang Natal. Sejak dirinya hanya berdiri sesudah membaca maklumat penting dari ketua paduan suara, ia sesekali memperhatikan bila si pemilik toko menawarkan pakaian dengan warna atau corak berbeda ketika pengunjung ingin mencoba gaun pilihannya.

“Aku akan membungkusnya sekarang,” ujar pemilik toko, ia memiringkan tubuh patung supaya lebih mudah melepas gaun.

“Tapi aku belum punya uang. Maksudku, aku gajian tiga hari lagi.” Nirara mencoba berkelit.  

Pemilik toko melongo. Wajahnya tidak menunjukkan kesan marah, pun tak tampak bersedih. Dan Nirara, hanya berdiri saja menyaksikan pintu toko mulai ditutup, hari sudah sangat malam. Keesokan hari saat akan berangkat dan pulang bekerja, Nirara tak pernah lagi melihat toko itu buka. Begitu pula hari kedua dan ketiga seperti dijanjikannya, pun hari-hari berikutnya.

Nirara mengaktifkan ponselnya, dan mencoba menghubungi nomor yang tertera di pelat nama toko. Menunggu teleponnya diangkat pemilik nomor, Nirara menggeser-geser layar ponselnya. Ia buka galeri, mencari foto dirinya mengenakan gaun hijau botol, ketika sempat mencobanya di ruang ganti saat pertama kali datang ke toko.

Si pemilik nomor belum juga mengangkat telepon dari Nirara. Nirara mencoba menghubungi sekali lagi, sambil jarinya terus mencari foto gaun hijau botol di galeri ponsel. Saat bersamaan, lonceng gereja terdengar liris di tempat jauh. Malam pukul 19.00. Natal bersama pastor tamu, barangkali sudah dimulai.***

Riau, Desember 2021


Jeli Manalu, senang menulis dan berkebun. Ia lahir di Padangsidimpuan pada 2 Oktober dan saat ini tinggal di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018.

Cerpen

Kepiting Merah

Cerpen Jeli Manalu

Tirai awalnya ragu-ragu dan sempat menolak ajakan berlibur ke pantai dari Lumut, suaminya, tepat di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh. Saat itu, Tirai berkata, bila pada bulan September, badai yang tak selalu disertai hujan suka datang seperti sebuah kejutan.  

“Ketinggian ombak bisa mencapai empat meter,” katanya.

Tirai juga sempat menunjukkan satu berita media daring melalui layar ponselnya. Saat bersamaan, sembari masih memikirkan tentang ombak yang bisa datang tiba-tiba itu, sisi lain dirinya perlahan membayangkan bagaimana seandainya ketika berlibur di pantai nanti ada seekor kepiting merah muncul dari dasar lautan menghampiri dirinya—pastilah itu akan jadi peristiwa menyenangkan. Dalam pikirannya yang mulai berharap itu, ia membiarkan dirinya merasakan kaki-kaki si kepiting dari punggung tangan bergerak terus ke kedua paha telanjangnya, dan ia, sudah sangat lama memimpikannya. Cuaca ekstrem, atau, menunda bermain-main dengan kepiting karena mencemaskan situasi yang bahkan belum tentu terjadi? Dan bagaimana bila ini juga merupakan momen terakhirnya bersama Lumut. Lumut lebih tua darinya. Selisih lima belas tahun. Dan Tirai percaya, orang yang lebih tua pastilah lebih dulu matinya.

“O-ok,” jawab Tirai, kemudian—ia benar-benar sudah mengenyahkan pikiran buruk tentang cuaca. Kelak bila tiba masa kesendiriannya, ia tak lagi dihantui perasaan bersalah sebab selalu teringat tidak memenuhi pemintaan terakhir Lumut, yaitu berlibur ke pantai tepat di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh.

Selain itu, ia juga tidak ingin seperti Nuna. Lansia pemurung, tetangganya, yang hatinya direnggut sepi serta kehilangan api hidup akibat ditinggal mati suami. Membiarkan rambut lurus dan lebatnya menjadi kusut berpilin, juga rontok. Pada baju hitamnya, yang sudah lama tidak diganti, tampak bintik-bintik ketombe. Satu gigi depannya pun dibiarkan rompal tak dipasang yang baru. Tirai tidak mau seperti Nuna. Ia ingin masa depan kesendiriannya nanti berjalan sempurna. Ia sudah punya konsep tentang itu.

Sesudah mendengar kata ya dari Tirai, tentang istrinya itu tidak lagi ragu untuk menerima ajakannya berlibur ke pantai di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh, Lumut bergegas ke mobilnya. Kado yang sudah dipersiapkan ia sembunyikan ke bagasi. Ia berencana memberikannya nanti dengan cara membuka kotak kado, lalu menuntun isinya bergerak-gerak ke arah Tirai. Dan ia akan membiarkan Tirai merasa kado itu—seekor kepiting—datangnya dari kedalaman laut. Sebab ia tahu, istrinya menyukai momen bertemu kepiting ketika berlibur ke pantai.

Warna laut sama dengan langit ketika mereka tiba di sana. Biru, kesukaan Tirai. Hempasan angin juga tidak terlalu keras seperti pemberitaan media daring bulan September. Tak jauh dari tempat Tirai berdiri ia melihat para remaja membuat pola di atas pasir. Gambar manusia. Lelaki dan perempuan. Di sebelah gambar itu mereka buat gambar satu lagi. Lelaki berlari ke arah pepohonan yang ranting-rantingnya melambai. Si perempuan mengangkat ujung gaunnya hingga setinggi paha dan dengan rambut diterjang badai mengikuti serpihan ombak pulang ke tengah laut.

Tirai belum melepas sweter panjangnya sewaktu menyaksikan gambar-gambar itu dibuat para remaja. Dan tak lama setelahnya, ia berdecak kagum pada ombak yang bergerak ke luar. Ombak yang ia lihat kali itu datangnya serupa gorden berwarna cokelat susu serta berumbai. Saat gorden menghadang gambar buatan para remaja, serempak mereka berseru. Sedangkan Tirai melangkah mundur karena gugup, dan sekali lagi, ia memang sudah begitu lama tidak pernah ke pantai.

“Tidak apa-apa!” teriak Lumut dari titik yang tidak terlampau jauh, untuk menenangkan hati Tirai.

“Hei, aku bahkan menyukainya,” balas Tirai, ia tidak ingin terlihat ketakutan sedikit pun. Ia juga berbicara keras-keras agar suaranya tak habis ditelan angin.

Kemudian ia memperhatikan Lumut yang sedang tidur-tiduran. Lelaki ini memang sungguh sudah tua, batinnya. Lengan Lumut bergelambir. Pipinya melorot. Uban, kerutan, juga bercak-bercak kehitaman pada kulit. Tirai membayangkan hari-hari pertama ketika nanti ditinggal mati lelaki itu. Ia mungkin masih menyeduh teh sebanyak dua cangkir—sebuah kebiasaan yang tak mungkin lepas dalam sekejap. Bila terjadi demikian, pada hari berikutnya ia akan mengganti jenis minumannya menjadi air kelapa muda campur krim kental manis, minuman yang sering ia nikmati sebelum menikah dulu. Hal lain, seandainya ia pergi ke pasar lalu pedagang langganan menyadari ada yang kurang kemudian membuka obrolan: tumben sendirian—biasanya diantar suami—ia juga mesti mengubah kebiasaan. Yaitu, mulai mencoba berbelanja di tempat baru. Pagi hari juga ia akan mengganti rutinitas, dari membaca berita media daring menjadi joging. Joging dengan rambut dikucir tinggi seperti gadis remaja. Sepatu merah muda. Beha berbusa, yang membuat payudara tampak montok.

Setelah sendiri nanti ia tidak mau rapuh serta kehilangan hasrat hidup. Ia justru semakin aktif berkegiatan. Belajar bermain TikTok dengan anak-anak muda di kompleks tempat tinggalnya. Ikut membahas herbal awet muda di komunitas ibu-ibu. Juga ikut bergosip-gosip kecil untuk mempererat tali persahabatan khas perempuan. Janda atau duda mana yang baru menikah lagi. Siapa baru ditinggal pasangan namun sudah punya pacar untuk diajak ke pantai.

Tepatnya, Tirai tidak mau seperti Nuna. Selain tak mengurus tubuh, Nuna juga membiarkan rumah layaknya tak berpenghuni. Tumpahan bubur nasi terakhir suaminya di taplak meja berwarna burgundi dibiarkan mengerak. Setiap sore duduk di balkon, tempat favorit ia dan suaminya biasa memandang matahari terbenam ditemani dua gelas teh ungu dari seduhan kembang telang yang diberi perasan lemon, dan ia tak merasa risih ketika salah satunya hanya dicicipi semut. Bila nanti Lumut sungguh telah tiada, Tirai tidak mau seperti tetangganya itu.

Ia bisa saja mencari keberadaan Frater, mantan kekasihnya. Bila bertemu, ia akan mengajaknya menikmati air kelapa muda ditambah krim kental manis. Dan saat itu, mungkin ia boleh bertanya: apa kamu pernah punya kekasih lagi setelah hubungan kita berakhir waktu itu, di tepi pantai, yang biru, dan sejak itu, aku kehilangan kepiting gendut dan sedikit genit?

Sejak berpisah, Tirai dengan Frater memang tak sekalipun pernah berjumpa lagi. Dulu, sekitar tujuh bulan menjadi kekasih Frater, setiap minggunya, Tirai pasti memasak kepiting. Dan kepiting-kepiting yang akan dimasak itu selalu Tirai pesan kepada Lumut.

Lumut waktu itu berprofesi sebagai pedagang seafood. Kepiting-kepiting yang Tirai beli akan dijadikan sup dengan tambahan bumbu kincung yang tinggal dipetik saja di belakang rumahnya. Jika hujan datang disertai angin sehingga Tirai malas keluar rumah, ia tinggal menelepon Lumut. Tak perlu menunggu lama, Lumut sudah berdiri di depan rumah Tirai dengan sekresek kepiting gendut-gendut, serta masih lincah menjelajahi celemek yang dikenakan Tirai. Hingga suatu hari ketika sebulan penuh Tirai tak ada kabar lalu di hati Lumut tumbuh sepotong rasa kangen, tiba-tiba, Tirai datang menemuinya, dan bertanya apakah Lumut mau jadi pacar Tirai. Tirai bercerita bila dirinya dengan Frater sudah putus. Frater masuk biara lagi supaya tiga tahun berikutnya bisa menjadi pastor. Kau tidak bersedih, tanya Lumut, sekadar memastikan. Waktu itu Tirai menjawab tidak terlalu. Ia tahu Lumut menyukai dirinya sejak lama, dan yakin lelaki itu pasti berusaha menghangatkan hatinya.

“Tirai, kemarilah,” teriak Lumut. Ia sudah tak sabar untuk membuka kado supaya Tirai segera menghampirinya.

Tirai berlari datang, dan segera melepas sweter panjangnya. Sebelum berbaring di samping Lumut dan menerima ciuman lelaki itu, sebentar ia memandanginya. Lengan, pipi, uban, dan bercak-bercak kehitaman pada kulit Lumut kian kentara. Ketika rasa sedih sedikit menyusup ke hati Tirai, ia cepat-cepat menghempaskannya. Kemudian memusatkan pikiran pada rancangan masa depan kesendiriannya.

“Kepiting merah!” teriak Tirai. Refleks bibirnya lepas dari bibir Lumut. Sedangkan angin bertiup kencang menerbangkan rambutnya. Juga botol-botol air mineral mereka yang sudah kosong terombang-ambing dalam pelukan arus ombak.

Seekor kepiting hitam kemerahan namun Tirai menganggapnya berwarna merah. Kepiting itu ia biarkan menggapai-gapai punggung tangannya, lalu bergerak miring melampaui kedua pahanya yang telanjang.

Para remaja yang menggambar dua manusia di atas pasir sudah tak ada. Hati Tirai sempat bertanya ke mana mereka pergi, tapi buru-buru ia tebak sendiri jawabannya. Mungkin mereka sudah puas bermain di pantai lalu lapar dan pulang. Atau mereka mendapat telepon bahwa nenek-kakek mereka baru saja mengembuskan napas terakhirnya.

Tirai memandangi laut lagi, dan untuk kesekian kali ia melihat gelombang air serupa gorden berwarna cokelat susu serta berumbai, megah, dan tingginya mencapai empat meter atau lebih ia tidak tahu persisnya.  

“Ya Tuhan, mestinya kita membawa keranjang tadi!” Tirai berteriak takjub tidak hanya mendapatkan seekor kepiting merah tapi juga menyaksikan ikan-ikan seolah menyerahkan diri.

Ia lalu membentangkan sweter panjangnya dan meletakkan kepiting di sana. Karena begitu asyik menangkapi ikan-ikan ia tak menyadari badai angin tak disertai hujan sudah menghempas-hempaskan bulan September, bulan ulang tahun pernikahan mereka.

Ia juga tak mendengar teriakan Lumut yang sudah semakin jauh meninggalkan bibir pantai. Ia, sekarang menuju kedalaman laut mengejar kepiting merah yang meninggalkan sweternya.****

Riau, April 2021


Jeli Manalu, senang menulis dan berkebun. Ia lahir di Padangsidimpuan pada 2 Oktober, dan saat ini tinggal di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018.

Cerpen

Kabar dari Jauh

Cerpen Jeli Manalu

Kujual tiga puluh ekor ayam, empat puluh ekor bebek, dan dua ekor anjing kesayangan. Uang hasil penjualannya kubelikan dua ekor anak lembu. Jadi, apakah sudah ada calon kakakku itu, Abang?

Hari-hari berlalu setelahnya. Musim juga berganti. Pepohonan menggugurkan daun, tumbuh lagi dan gugur lagi. Saat Natal tiba, Salomo pulang dari perantauan dan Anggoni yang tinggal di kampung menyambutnya dengan hati gembira. Tetapi malam itu satu peristiwa menegangkan terjadi. Salomo anak paling tua. Empat bulan lagi usianya genap tiga puluh enam tahun. Dua saudari mereka telah lebih dahulu berumahtangga, dan masing-masing sudah memiliki keturunan. Anggoni sendiri anak bungsu, tengah menjalin hubungan dengan seorang perempuan, dan orangtua sang perempuan acap kali menyuruh anak gadisnya menanyakan Anggoni kapan akan mempersunting putri mereka.

“Menikahlah, Abang,” satu kalimat yang terlontar pelan namun memantul seperti bola keras di kepala Salomo—itu perkataan dari adik kesayangannya, Anggoni, yang kemudian menyebabkan sebuah ledakan di rongga dada Salomo.

Malam itu, di tengah rapat keluarga serta bola-bola lampu yang dipasang pada pohon cemara tampak indah bercahaya, Salomo tertunduk memandangi pusaran kopi hitam di bagian atas cangkir. Ia berpikir apakah ke dalam gelas kopinya ia perlu menambahkan satu sendok gula lagi, atau sesekali perlu memvariasikannya dengan krimer kental manis—supaya hidup sedikit lebih manis? Ah ya, belum sempat Salomo memutuskan yang mana dari keduanya, Anggoni bicara lagi, “Kupikir sudah waktunya Abang berumahtangga.”

Dengan bibir bergetar Salomo menjawab bila sampai hari itu juga, belum ada perempuan yang mau diajak hidup bersamanya.

“Aku tak percaya. Abang itu ganteng, tidak perokok, tidak peminum, rajin pula ke gereja. Pokoknya, menikahlah Abang.”

Salomo membisu, tidak tahu dengan cara apa lagi dirinya menjelaskan kenyataan itu.

“Soal dana, kubantu pun nanti. Abang jangan khawatir,” Anggoni melanjutkan kata-kata yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya, meski saat itu, ia tidak menjelaskan tentang dana yang dimaksud adalah dua ekor anak lembu yang sudah ia beli dan rawat dua tahun.

Mendengar Anggoni menyinggung soal uang, Salomo kian geram. Ia merasa adiknya itu bukan saja mendesaknya perihal menikah tetapi sudah sampai pada tahap merendahkan dirinya soal mata pencaharian. Lantas, Salomo menyarankan adiknya itu agar berhenti mengusik hatinya dengan lebih baik mengurus kehidupan masing-masing saja. Dan di hadapan segelas kopi yang belum ditambahkan apakah gula atau krimer kental manis serta di sudut rumah bola-bola lampu yang dipasang pada pohon cemara bersinar indah Salomo meninggalkan rapat keluarga. Ia menemui kegelapan malam agar tak seorang pun melihat betapa sakit dirinya, lalu esok harinya ia pergi padahal semua orang seharusnya berkumpul untuk bergembira bersama.

Pada perjalanan sendu yang entah ke mana arahnya kali itu, Salomo terus mengutuki nasib. Ia ingat kisah cintanya yang tak pernah berjalan mulus. Gara-gara ditolak gadis pada masa SMA, ia jadi siswa yang tak bisa diatur. Ia memakan uang SPP dan suka cabut dari kelas. Kata orang yang pernah melihatnya hingga melapor ke guru mengatakan, ia jadi preman di sekitaran toko dan berlagak sebagai juru parkir atau tukang pungut uang kebersihan. Saat mendapat surat panggilan dari sekolah hingga terancam tak bisa mengikuti ujian akhir karena tidak membayar SPP, ibunya panik namun berupaya mencari jalan keluar dengan menjual dua karung buah kopi tanpa sepengetahuan bapak.

Sepanjang merantau dan menjadi orang baik, Salomo sering memikirkan bagaimana kelak ia akan menikah. Ia mulai rajin bertanya tentang besaran sinamot (mahar) untuk anak gadis orang yang profesinya sebagai perawat. Ia pun makin sering menghadiri berbagai undangan adat yang datang padanya. Ragam serta kualitas ulos juga ia pelajari: mana buatan pabrik dan mana hasil tenunan. Ia merasa seandainya kelak menemukan jodoh, dirinya yang sudah merantau lama dan konon di telinga orang bekerja di sebuah perusahaan asing itu kurang pantas saja bila pernikahannya dirayakan terlalu biasa—ia tidak ingin masyarakat sekampung bicara macam-macam ke depannya.

Pernah persiapannya mencapai tujuh puluh persen. Tanpa ada firasat Salomo mendapati hatinya teriris. Mulanya ia menghadiri satu undangan dari kerabat. Di sana, di acara yang dihadirinya itu, ia saksikan kekasihnya bermesraan dengan lelaki lain. Kekasihnya merangkul erat tangan lelaki lain itu. Dilihatnya lelaki lain itu masih kalah ganteng ketimbang dirinya. Apa kurangku, apa salahku?—ia bertanya pada hati yang lebam.Kata-kata makian sempat terlontar dari bibirnya.Hampir saja ia melayang untuk membanting tubuh lelaki lain itu namun apa daya, si perempuan, toh tak menjadikannya sebagai pusat tujuan.

Saat begitu galau, ia rajin menulis status di facebook. Banyak akun menaruh simpati akan keadaannya, termasuk adiknya, Anggoni mengirim emoji mata yang menangis. Di sisi lain, waktu itu, Salomo tidak tahu kalau Anggoni sebetulnya sudah tak sabar menunggu Salomo supaya menikah secepatnya, agar abangnya itu jangan pula ia langkahi sebagaimana dilakukan dua saudari mereka—Anggoni cemas seandainya itu ia lakukan maka dalam bayangannya Salomo bisa-bisa bernasib sial, yakni tidak mendapatkan jodoh sampai ubanan, dan Anggoni, tak ingin itu terjadi. Ia ingin Salomo bahagia selamanya. Akan tetapi Salomo tidak mengerti hutan hati Anggoni, adik kesayangannya itu. Ia tidak tahu bila Anggoni sudah merasa terdesak agar segera mengakhiri masa lajang. Ia tidak tahu Anggoni berada dalam kegelisahan yang apabila terlalu lama menunda untuk melamar, gadis pujaannya dikhawatirkan malah diembat orang—ada satu teman Anggoni ditinggal menikah sang pacar karena merasa digantung meski alasan temannya itu jelas, yakni menyelesaikan studi di luar negeri yang bersisa tak lebih dari sepuluh bulan.

Sejak rapat keluarga ketika pulang merayakan Natal di kampung yang membuat keduanya sama-sama terluka itu, setahun lamanya Salomo dan Anggoni saling menghindar. Tidak menelepon dan tidak saling berkirim pesan. Suatu hari sewaktu Salomo mengaktifkan lagi aplikasi messenger-nya, ada pesan yang mengakibatkan perasaannya sulit untuk didefinisikan. Pesan itu sudah dua tahun dikirim, pesan ketika dirinya masih akur-akurnya dengan Anggoni, pesan ketika ia belum putus cinta dengan perempuan yang berprofesi sebagai perawat, pesan yang tidak tahu bagaimana itu bisa lolos dari perhatian Salomo.

Kujual tiga puluh ekor ayam, empat puluh ekor bebek, dan dua ekor anjing kesayanganku untuk membeli dua ekor anak lembu, supaya ketika mereka besar nanti, bisa kita pergunakan untuk lauk daging pada masing-masing pesta pernikahan kita. Jadi, apakah sudah ada calon kakakku itu, Abang?

Salomo menyesal. Bibirnya bergetar menyadari kebaikan hati sang adik yang ternyata telah menyiapkan banyak untuk pernikahan mereka kelak. Ia menyesali pertengkaran yang tak menghasilkan apapun itu. Seandainya waktu itu ia tidak langsung tersinggung. Seandainya ia membiarkan adiknya mengutarakan maksud terlebih dahulu, sehingga ia paham akan orangtua kekasih dari adiknya sudah mendesak Anggoni supaya menikahi putri mereka. Salomo kini bersedih. Dalam pikirkannya sekarang hanyalah memperbaiki hubungan dengan sang adik, lebih tepatnya ia merestui Anggoni agar menikah lebih dahulu.

“Halo. Bapak?”

“Ya, aku.”

“Bagaimana kabar Anggoni?”

“Kau tidak tahu kabar?”

“Kabar? Kabar apa?”

“Sudah berapa lama kau tidak mau bicara dengannya?”

Salomo diam, menebak apa yang sedang terjadi.

“Kalian berkelahi lagi, kan?”

“Sudah lama ia tidak meneleponku.”

“Kalau ia tak meneleponmu, kaulah yang meneleponnya.”

Salomo tersentak dengan ponsel yang masih menempel di telinga, belum pernah ia dengar suara bapak ketus begitu. Biasanya bapak senang bercanda. Kali ini bapak terkesan menyerang seakan Salomo sudah melakukan kesalahan yang amat fatal.

Salomo lalu membuka facebook dan mencari nama Anggoni yang sudah sempat ia unfollow itu. Ia gulir ke bawah, ketemu foto adiknya. Posisinya duduk. Kedua tangan beserta dahi bertumpu di lutut. Pose dalam foto itu diambil dari samping. Dibuat gambar lembu sebagai bingkainya. Di bagian tengahnya terdapat tulisan. Salomo men-zoom-in supaya bisa membacanya.

Suatu pagi, aku begitu bahagia karena Tuhan masih memberiku kesempatan menolong orang yang lagi kesusahan. Ada yang menggedor-gedor pintu mencari lembu untuk dimasak di sebuah pesta sebab ia tahu aku memiliki apa yang mereka butuhkan. Dua orang yang datang pagi itu tampak begitu memelas. Wajahnya tak tega untuk kutolak. Mereka menawariku dengan harga satu setengah kali lipat atas dua ekor lembuku. Kata mereka, hewan yang mereka persiapkan mendadak pingsan lalu mati dalam perjalanan. Aku pun memenuhi permintaan mereka, mengira seandainya hal serupa menimpaku menjelang pesta pernikahanku kelak—bila itu terjadi, seseorang mungkin sudi membantu karena aku sudah terlebih dahulu melakukanya. Sehari kemudian, setelah daging lembu itu dimasak lalu diantarkan kepadaku sebagai ucapan terima kasih dan aku memakannya begitu lahap karena masakan itu sangat enak, aku baru tahu kalau yang menikah itu ternyata calon istriku.***

Riau, 2017-2020


Jeli Manalu, lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Ia saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya Kisah Sedih Sepasang Sepatu tahun 2018.

Cerpen

Di Kedai Nori

Cerpen Jeli Manalu

Tampak awan sedang turun. Tak lama setelahnya, gerimis seukuran biji sawi yang berlapis-lapis, jatuh dan melayang membasahi ujung meja. Tuan Am, begitu Nori menyebutnya, menggeser duduk ke bagian dalam kedai. Ia paham gerimis seperti itu. Meski tidak selalu menjadi hujan deras, namun durasi yang panjang sering membuat jalan tanah bercampur batu menuju stasi di pedalaman desa licin.

Tujuh bulan lalu ketika baru dipindahtugaskan ke paroki yang sekarang, dalam situasi seperti itu, pernah suatu kali ia memaksakan berangkat. Masih setengah perjalanan, motor trail-nya tergelincir sewaktu mengelakkan cekungan tanah. Selanjutnya terhempas ke tepian, menyusul terguling ke rawa. Motor trail-nya menginap di antara lumpur dan eceng gondok, sedangkan dirinya berjalan kaki sejauh empat kilo. Ah, tidak. Tidak lagi. Saya tidak mau lagi itu terjadi, batin Tuan Am, yang saat peristiwa itu, ia ingat bagaimana kondisinya berhari-hari. Dengkul nyeri bercampur panas akibat tertusuk duri pandan hutan. Siku lecet. Dahi hingga pelipis memar. Ia kemudian demam, dan dengan perasaan sedih membatalkan misa hari Minggu sebanyak dua kali.

Gerimis seukuran biji sawi namun tebal serta bercampur angin menuntun Tuan Am memesan minuman. “Sudah ada kopi?” tanyanya lebih dahulu, sembari melepas jaket lalu meletakannya di sandaran kursi.

Nori, si pemilik kedai menjawab, “Belum.”

Tuan Am sudah pernah mendengar cerita tentang dua bulan ini Nori tidak lagi dikirimi biji kopi oleh petani langganan. Sekilas Tuan Am menangkap, si petani kopi langganan kehilangan semangat untuk apa saja, termasuk mengerjakan ladang. Ia ditinggal pergi perempuan yang dicintai. Rumor beredar mengatakan, si perempuan naik perahu menuju pulau seberang karena tidak tabah hidup serba terbatas di desa, dan katanya, bahkan pernah terlihat makan malam romantis dengan entah siapa.

Apa beberapa orang memang tercipta senang mencari kenyamanan dari satu hati ke hati lainnya? pikir Tuan Am. Gerimis yang menerobos jendela seolah menampar di pipinya. Kiri, juga kanan. Penuh semua wajahnya. Ia meninju dada dan buru-buru mengucap doa tobat: ia mengaku telah berdosa dalam pikiran. Saya sungguh berdosa, katanya. Setelah mengatakan amin paling pelan yang tak terdengar bahkan oleh gerimis, dengan ujung jari ia menarik rokok sebatang. Ia isap rokok itu sambil meluruskan pikiran. Ia menyadari, tak boleh berkesimpulan terhadap permasalahan orang: sebab yang berada di luar hanya tahu luarnya saja, tidak akan pernah mengerti kejadian utuhnya. Dan apabila ada konflik, baik ringan maupun besar, sejatinya, ia hanya perlu mengunci pintu, menyalakan lilin, lalu membicarakannya pada Tuhan.

“Ya sudah kalau begitu, cokelat panas lagi. Tambahkan gula sedikit ya, Nori.”

Kata, “ya” sayup-sayup di telinga Tuan Am.

No-ri. N-O-R-I. Tuan Am mengeja. Sempat ia ragu, apa tadi sungguhan menyebut nama si pemilik kedai? No-ri, ucapnya, sekali lagi. Sebentar senyumnya rekah. Ia juga menggigit ujung kunci motor trail, kemudian merasakan dirinya aneh.  

Dari arah dapur terdengar denting sendok. Lalu aroma cokelat menghampiri meja Tuan Am yang di sananya ia mulai khidmat mengetuk-ngetuk meja.

Ada mobil hijau berhenti di depan kedai. Dari dalamnya muncul suara yang Tuan Am tebak itu suara Ariel Noah duet dengan, apakah itu vokal BCL—Bunga Citra Lestari? Tanya hati Tuan Am. Ia merasa suara serak-serak merdu itu milik BCL, perempuan yang lima bulan lalu kehilangan suami tercintanya: …. Aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia. Aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia—Tuan Am menyanyikannya lagi, dan saat itu pula wajahnya berubah murung.

Pada bola matanya tampak semacam jala kemerahan. Bibirnya bergetar. Rokok yang diletakkan di atas asbak menyerupai sayap kupu-kupu padam dan dingin. Kesedihan tumpah di meja beraroma cokelat, beraroma kenangan.

Sepuluh tahun lalu saat bertugas di Paroki A dan usia Tuan Am waktu itu baru 34, hati serta pikirannya pernah diwarnai Lumi Ceri. Lumi Ceri seorang seniman: ia mendapat proyek membuat mural di sepanjang bangunan gereja bagian dalam—sebelumya, Lumi Ceri dikenalkan juru masak pastoran kepada Tuan Am. Tuan Am takjub bagaimana tangan serta jiwa Lumi Ceri lebur dalam dinding yang tadinya hanya putih kosong berubah jadi potongan-potongan kisah dalam kitab suci. Tuan Am merasa, belum pernah dirinya bertemu orang seistimewa Lumi Ceri. Ia juga ingat sudah berjanji menolak perempuan berkunjung ke hatinya. Ini bukan perasaan suka, cuma kagum, katanya pada diri sendiri menyangkal sesuatu yang bergejolak kuat.

Dalam piring, cangkir, asbak, dan pada sebatang rokok Lumi Ceri justru selalu muncul. Kadang kedatangannya dengan wajah sehangat cokelat. Kadang dengan sepasang mata sendu yang di dalamnya adalah hutan, dan dalam hutan itu Tuan Am melihat sebatang pohon berbuah lebat dan hampir saja ia memetiknya.

Suatu hari ia pergi retret. Ia merenungkan kembali pilihan hidup di mana dirinya tidak boleh menikah, meski jauh sebelum itu, orangtuanya memang pernah kurang merestui. Ia kemudian tekun berdoa novena[1]—ia katakan: bukankah hanya kau, hai Maria, ibu Yesus, dan ia, ibu yang telah melahirkan saya, perempuan yang boleh mengisi hati ini? Lalu mengapa sekarang ada yang hadir? Dalam doa tak sungkan Tuan Am mengaku berdebar tiap memikirkan Lumi Ceri. Rok kembang sepanjang betis yang bergoyang saat Lumi Ceri bergerak. Kemeja yang lengannya digulung sehingga Tuan Am bisa menyaksikan langsung kulit tangan Lumi Ceri. Atau syal hijau tua yang ketika akan melukis Lumi Ceri melepasnya dari leher dan meletakkannya di sandaran kursi—suatu hari, Tuan Am menyentuh syal itu, memegangnya dengan hati gelisah, namun saat itulah ia tahu aroma parfum Lumi Ceri perpaduan melati, jeruk, dan mungkin itu cokelat?

Sebotol cokelat selalu ada dalam tas Lumi Ceri. Pernah Lumi Ceri membagi Tuan Am. Ambil saja untuk Anda Pastor, katanya. Lumi Ceri bilang bibir Tuan Am tampak kering, dan napasnya saat bicara menandakan Tuan Am butuh minum. Tuan Am ingat dirinya menolak: ia bilang tidak sedang haus, menutupi hati yang mengatakan: nanti kekasihmu marah. Tapi Lumi Ceri malah bilang tidak ada yang akan marah.

Sejak itu Tuan Am semacam menantikan kapan Lumi Ceri menawarinya lagi sebotol cokelat. Apa ia membawanya dalam tas, atau adakah ia telah menyiapkan dari rumah untuk saya pribadi—Tuan Am tertawa, malu memikirkan dirinya yang mulai ke-geer-an. Untuk meredam perasaan itu, dirinya yang bijaksana berkata kepada dirinya yang kurang bijaksana: dasar Am tidak tahu diri, kau ini seorang pastor. Dilarang jatuh cinta, ingat itu! Sesudahnya ia mengucap doa tobat: Saya mengaku …. Saya berdosa dengan pikiran, dan perbuatan (?) Ah tidak kan, Tuhan. Saya tidak sedang berbuat dosa—ia meralat pada kata ‘perbuatan’. Namun di akhir doa, ia selalu bermohon agar jangan dimasukkan ke dalam pencobaan: agar hatinya jangan sampai menginginkan Lumi Ceri.

Tapi situasi memperindah bangunan gereja membuat kesempatan bertemu Lumi Ceri tak terhindarkan. Di lain sisi Lumi Ceri merasa terharu diperlakukan amat sopan oleh seorang imam, seorang pastor, yang kadang ia menemukan gelas bekas minumnya sudah menggantung bersih di rak—Tuan Am mencucinya selagi Lumi Ceri sibuk. Selain itu peralatan lukis Lumi Ceri juga sering dirapikan. Lumi Ceri merasa dicintai karenanya. Siapa saya, dalam hati ia berkata: hanya seorang hamba. Kebahagiaan pun melingkupinya.

Selesai membuat mural, yang salah satunya tentang Perkawinan di Kana, melalui juru masak pastoran Tuan Am mendengar kabar Lumi Ceri membatalkan pertunangan dengan sang kekasih. Malam harinya tunangan Lumi Ceri datang ke mimpi Tuan Am. Awan turun, gerimis jatuh. Tunangannya itu antara sedih dan murka. Dengan kuda hitam ia menuju Tuan Am, dan tampaklah sebilah pedang berkilat-kilat di tangannya.

Meski kedatangan itu hanya mimpi, Tuan Am tetap membicarakannya dengan Lumi Ceri. Lumi Ceri mengaku jatuh hati padanya. Tuan Am meyakinkan Lumi Ceri itu tidak benar. Itu tidak benar. Kamu hanya mencintai tunanganmu, katanya berkali-kali. Tapi Anda juga menyukai saya bukan, Lumi Ceri mendesak. Tuan Am gundah namun ia membohongi dirinya dan Lumi Ceri. Lumi Ceri bilang tidak mencintai tunangannya, itu hanya perjanjian antara orangtua kedua belah pihak saat mereka masih kecil. Tuan Am tetap meyakinkan Lumi Ceri bila perasaannya yang sekarang tidak benar. Setelahnya Tuan Am meninggalkan Lumi Ceri. Lumi Ceri berlari memeluk Tuan Am dari belakang. Seseorang dari kisi jendela ruang masak melihat peristiwa itu sebagai sebuah kebenaran. 

“Cokelatnya sudah sangat dingin, Tuan Am. Mari diminum dulu,” ujar Nori, membuyarkan Tuan Am dari ingatan.

“Ini tisu. Mata Tuan basah dan merah.”

Tuan Am kikuk, merasa malu ketahuan.

“Gerimis juga sudah reda,” tambah Nori.

Di luar sana Tuan Am melihat hari sudah mulai gelap. Tampak kunang-kunang terbang ke kebun sawi di samping kedai. Meski perjalanan hampir dua jam dan harus pelan-pelan menuju stasi di pedalaman desa, Tuan Am mengerti tidak mungkin menumpang tidur di kedai Nori.  

Tuan Am menyalakan motor trail-nya. Ia bunyikan “pip” saat roda mulai bergerak. Pada kaca spion yang masih diterangi lampu, ia melihat Nori berdiri sambil memegang sesuatu dalam botol dan itu mengingatkannya akan cokelat sepuluh tahun lalu. Dan seketika itu pula, dalam pikiran Tuan Am menyanyi Ariel Noah dan Bunga Citra Lestari: aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia. ***

Riau, Juli 2020


Jeli Manalu, saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018. Buku keduanya “Semangkuk Sup Bayam untuk Tuhan” sedang proses terbit.


[1] Doa sembilan hari berturut-turut untuk memohon suatu wujud kepada Tuhan.