
Melihat Kampung Halaman
Tempat tinggalku di antara dua kota yang sedang berpelukan: aku sesak
Terhimpit: beri (ruang) agar aku bernapas.
Sekali waktu, aku masih melihat pekarangan kosong
Bershaf-shaf rapi di pinggir jalan itu
(Memoriam) hilang menjelma bangunan rapat
Kampung halamanku menjelma labirin.
Brebes, 2023
Taman yang hilang
Ke manakah rindu ini berumah?
Ketika aku dan kau tak lagi bisa mencium wangi bunga bawang
Rindu ini menjadi tak ramah
Setelah puluhan hektar tak lagi menjadi sawah.
Brebes, 2023.
Tempat terindah yang tidak kita punya
Rerumputan basah membasuh tapak kaki kaum petani
Di atas tanah, butir-butir air ikhlas jatuh: tulus mengalir.
Langit biru muda siang itu,
Mengundang alur angin menghantar senyum untuk ladang sawah.
Kini engkau berpidato
Tentang Negeri yang pernah kita dambakan.
Sesuatu yang engkau makan,
Tak perlu konsolidasi kebohongan.
Sesuatu yang kau minum,
Tak perlu persekusi kebenaran.
Kedaulatan hanya asap sisa pembakaran
Yang raib entah ke mana.
Garis senyum di pipimu
Ingin kurasi: melayar kesejahteraan.
Brebes, 2023.
Lima menit di lampu merah klampok
aku berkendara di jalan dulu,
dari losari ke Tepi randusanga.
Sebuah bangunan membesar dan bangunan lain menciut
aroma bawang goreng dan bau telur asin masak
Tukang parkir dengan celana robek, suara ambulan dari hulu ke hilir
Jalanan yang bergelombang, sepasang pengamen tua; itu-itu saja
Dan pengamen lain dengan sound sebesar koper; masih itu juga orangnya
Aku berkendara di jalan dulu
aku melihat samar bunga yang tak kunjung mekar
atau kota ini tak pernah berubah, serupa dulu?
Brebes, 2023.
Matahari yang hilang
Setelah sore datang; matahari pulang,
Meninggalkan rona merah di kursi taman.
Tas dan buku hariannya tertinggal,
Mungkin saja catatan; nasib para petani yang ia jemur.
Aku benar-benar takut membukanya, rahasia terdalam.
Ternyata hanya; tas kecil berisi nota, surat dan cicilan utang.
Matahari telah pulang
Ia bisa saja kembali, tapi akankah datang juga ke kursi taman
Dan berjanji memberi terang jalan kemakmuran pada petani..
Matahari telah pulang
Dan nasib petani menjadi gelap.
Brebes, 2023.
Kota kecil
kutemui lagi siang dan malam yang sama;
langit berwarna resah, juga mereka
yang kadang lebih ramah dari cuaca
Dan papan-papan reklame yang meriah,
bimbang menyapaku dalam jalanan:
“bagaimana kabarmu selama ini di kota yang semakin panas?”
di setiap ruas jalan yang berlubang
mengenang bilik-bilik desa, masih juga
aku kerap kesasar mencari kesejahteraan
yang luput dari rapuh ingatan.
sedikit kuingat cerita seorang kawan
hampir dua tahun yang silam
: ia masih terus membicarakan kemerdekaan
tetapi kotaku hanyalah serpihan kecil
yang telah lama dilupakan
dari dongeng revolusi
di beranda negeri
Brebes, 2023.
Anam Mushthofa, seorang buruh. Pernah menulis buku bersama judul “Problematika Generasi Milenial”(2019). Menyukai jelajah alam.
