Puisi

Puisi Anam Mushthofa

Melihat Kampung Halaman

Tempat tinggalku di antara dua kota yang sedang berpelukan: aku sesak

Terhimpit: beri (ruang) agar aku bernapas.

Sekali waktu, aku masih melihat pekarangan kosong

Bershaf-shaf rapi di pinggir jalan itu

(Memoriam) hilang menjelma bangunan rapat

Kampung halamanku menjelma labirin.

Brebes, 2023


Taman yang hilang

Ke manakah rindu ini berumah?

Ketika aku dan kau tak lagi bisa mencium wangi bunga bawang

Rindu ini menjadi tak ramah

Setelah puluhan hektar tak lagi menjadi sawah.

Brebes, 2023.


Tempat terindah yang tidak kita punya

Rerumputan basah membasuh tapak kaki kaum petani

Di atas tanah, butir-butir air ikhlas jatuh: tulus mengalir.

Langit biru muda siang itu,

Mengundang alur angin menghantar senyum untuk ladang sawah.

Kini engkau berpidato

Tentang Negeri yang pernah kita dambakan.

Sesuatu yang engkau makan,

Tak perlu konsolidasi kebohongan.

Sesuatu yang kau minum,

Tak perlu persekusi kebenaran.

Kedaulatan hanya asap sisa pembakaran

Yang raib entah ke mana.

Garis senyum di pipimu

Ingin kurasi: melayar kesejahteraan.

Brebes, 2023.


Lima menit di lampu merah klampok

aku berkendara di jalan dulu,

dari losari ke Tepi randusanga.

Sebuah bangunan membesar dan bangunan lain menciut

aroma bawang goreng dan bau telur asin masak

Tukang parkir dengan celana robek, suara ambulan dari hulu ke hilir

Jalanan yang bergelombang, sepasang pengamen tua; itu-itu saja

Dan pengamen lain dengan sound sebesar koper; masih itu juga orangnya

Aku berkendara di jalan dulu

aku melihat samar bunga yang tak kunjung mekar

atau kota ini tak pernah berubah, serupa dulu?

Brebes, 2023.


Matahari yang hilang

Setelah sore datang; matahari pulang,

Meninggalkan rona merah di kursi taman.

Tas dan buku hariannya tertinggal,

Mungkin saja catatan; nasib para petani yang ia jemur.

Aku benar-benar takut membukanya, rahasia terdalam.

Ternyata hanya; tas kecil berisi nota, surat dan cicilan utang.

Matahari telah pulang

Ia bisa saja kembali, tapi akankah datang juga ke kursi taman

Dan berjanji memberi terang jalan kemakmuran pada petani..

Matahari telah pulang

Dan nasib petani menjadi gelap.

Brebes, 2023.


Kota kecil

kutemui lagi siang dan malam yang sama;

langit berwarna resah, juga mereka

yang kadang lebih ramah dari cuaca

Dan papan-papan reklame yang meriah,

bimbang menyapaku dalam jalanan:

“bagaimana kabarmu selama ini di kota yang semakin panas?”

di setiap ruas jalan yang berlubang

mengenang bilik-bilik desa, masih juga

aku kerap kesasar mencari kesejahteraan

 yang luput dari rapuh ingatan.

sedikit kuingat cerita seorang kawan

hampir dua tahun yang silam

: ia masih terus membicarakan kemerdekaan

tetapi kotaku hanyalah serpihan kecil

yang telah lama dilupakan

dari dongeng revolusi

di beranda negeri

Brebes, 2023.


Anam Mushthofa, seorang buruh. Pernah menulis buku bersama judul “Problematika Generasi Milenial”(2019). Menyukai jelajah alam.