Cerpen

Alarm

Cerpen Sara Sujana

Tak ada suara alarm, tak ada suara anak-anak yang bernyanyi riang. Aku justru terkejut karena terbangun dalam kesunyian.

Lain dari biasanya.

Meski tak sama seperti hari-hari sebelumnya, namun satu benda yang selalu dan pasti akan kucari setiap bangun dari tidur pulas semalaman, satu benda yang biasa kusimpan rapat di bawah bantal, hanyalah satu: ponselku.

Satu, aku selalu terbangun karena tersentak suara alarm dari ponselku. Dua, aku harus mengecek aplikasi perpesanan, lagi-lagi dari benda yang sama.

Namun kini, di mana itu? Jelas sekali kalau alarm yang harusnya berdering dari sana, pagi ini tidak melaksanakan tugasnya seperti hari-hari lalu.

“Nina…Nin!” teriakku, gusar.

Nina itu nama istriku.

Tak ada jawaban.

Sepi, sunyi.

***

Matahari telah menggantung tinggi di seperempat langit dan cahayanya masuk melalui celah-celah tirai putih di kamar. Aku beranjak dari pembaringan.

Di mana ponselku?

Sial! Jam berapa ini? Mestinya alarm di ponsel itu berbunyi pukul tujuh, membuatku jenggirat dari tempat tidur dan buru-buru meraba ke bawah bantal, mengambil si ponsel dan mematikan alarmnya, bergegas untuk mandi, sarapan, mengantar anak-anak ke sekolah dan melesat ke kantor melawan kemacetan.

Sial! Ada meeting jam sembilan pagi ini!

***

Melangkah aku keluar kamar, namun seketika kakiku terhenti di depan pintu yang menghubungkan living room dengan ruang makan sambil kutengok dua kamar di depan living room itu, kamar kakak adik yang bersebelahan dan selalu berantakan setiap pagi karena keduanya sibuk mengaduk lemari demi mencari seragam dan atau menyiapkan buku pelajaran. Kini rapi, sepi, kosong. Rumah cluster yang selalu ramai ini terasa ada di ujung bumi.

Pandangku terlempar pada jam dinding bulat yang menempel di ruang makan. Jam sembilan kurang, kurang sepuluh atau lima belas, entah!

Kenapa Nina tidak membangunkanku? Sudah jelas aku telat, kini aku harus bolos kerja dan…

Ah, di mana Nina dan anak-anak?

Di mana ponselku?

***

Dua malam lalu, Nina bilang kalau dia tak sanggup jika harus resign, mungkin dia akan mengajukan permohonan kepada perusahaan untuk boleh bekerja di rumah.

Jawabku, “Terserah kamu saja.”

Dan tadi malam, Nina pun bilang, “Andre, kalau memang itu yang kamu mau, supaya aku fokus mengurus anak-anak di rumah dan undur dari pekerjaan, mungkin akan kupertimbangkan. Aku bisa menyibukkan diri di rumah dengan membuat konten. Aku suka memasak, aku bisa memasak apa saja lalu menjadikannya konten di Instagram.”

Jawabku, “Terserah kamu saja.”

Yang terjadi di malam-malam sebelumnya, hanyalah pertengkaran-pertengkaran panjang setelah anak-anak tertidur nyaman di pembaringan.

***

Pada akhirnya kutemukan ponselku di atas meja makan.

Aplikasi perpesanan pribadi antara aku dan seseorang, masih terbuka.

Alin : Selamat tidur sayang. Jangan lupa besok pagi meeting jam 9.

Andre : Selamat tidur juga sayang. Ok, siap.

Alin : Jangan lupa taruh hp di bawah bantal!

***

Termangu kini aku, kembali ke kamar, menatap kosong pada setiap sudut ruangan.

Jam di ponsel menunjuk pada angka sembilan kurang tiga. Sudah terlambat untuk meeting, sudah terlambat untuk mencari Nina atau anak-anak.

Sudah jelas semuanya. Keributan demi keributan yang terjadi selama enam bulan terakhir, aku yakin, hari ini kami sudah sama-sama menemukan jalan.

Dua jam yang lalu, sebelum alarm di ponsel itu membangunkanku atau mungkin justru saat alarm itu berteriak dan aku tidak menyadarinya, Nina telah lebih dulu mengambil ponselku, persis di bawah bantal tempatku melabuhkan kepala semalaman. Lalu ia membuka kuncinya dengan ujung jari telunjukku dan menemukan segala macam bukti yang menguatkannya untuk pergi.

Tak ada pertengkaran lagi, Nina pun tak ingin membangunkanku demi amarahnya.

Sebab, kuyakin, Nina juga memang ingin pergi.

Inilah yang terjadi pada akhirnya di antara segala macam perselisihan yang menguatkan alasan untuk perpisahan. Istriku sudah tak tahan, pun aku memilih perselingkuhan. Jadi pagi ini, aku hanya terduduk di ujung ranjang sambil terus menerus berpikir : “sudah, kan?“

Alarm di ponsel berbunyi, tepat pukul 9. Untuk yang satu ini pun aku tahu, tentu Nina yang menyetelnya demikian.


Sara Sujana, dari Yogyakarta. Suka kopi, kadang sehari tiga kali. Instagram: @sarasujana46.

Cerpen

Urusan Kita Belum Selesai

Cerpen Yeni Kartikasari

Sebenarnya, di mana Jon? Urusanku belum kelar. Ada banyak perkara yang ingin kubicarakan. Sekarang, aku sudah terkapar di sini, diliputi penyesalan setebal kabut yang menghalau pandangku. Secepat mungkin, aku harus bertemu dengannya.

“Jon!”

Di sekitarku, seperti kebanyakan orang yang tampak gamang, aku berusaha mencari Jon. Kuedar pandang ke segala penjuru—barangkali ia berada tak jauh dari sini. Tak lama, kabut berangsur naik, awan-awan tersibak memunculkan sengatan matahari. Setelah mataku berhasil melihat, di padang berpasir ini, mengapa wajah semua orang begitu aneh dan asing? Di antara mereka ada yang tak punya mata, mulut, dan telinga. Adapula tangan, kaki, dan kepalanya buntung.

“Jono! Temui aku, Jon! Aku temanmu! Aku…” Aku lupa nama dan aku tak kenal siapapun di sini. Semua orang tampak cacat dan buruk rupa. Begitu pun diriku. Walaupun, ragaku utuh, tapi kulitku sehitam arang.

“Muncullah, Jon! Kau di mana?”

Ketika aku melihat tubuh manusia setengah hewan, ragu apabila kusebut salah satu dari orang-orang yang berkepala anjing, babi, atau ular itu sebagai Jon. Seingatku dulu Jon pernah bilang bahwa orang yang selalu berbuat baik, tak akan mungkin dibangkitkan pada hari akhir dengan bentuk buruk. Aku sendiri tahu, Jon orang baik. Dulu, ia sering datang ke majelis ilmu dan selawat. Kepada siapapun, aku kerap melihat Jon memberi wejangan tentang pentingnya salat dan membaca kitab bagi seorang muslim.

Setelah kupikir, mustahil jika Jon berada di dekat sini. Aku berlari menerjang orang-orang di sekitarku sambil membawa keyakinan bahwa mungkin sekarang, Jon berada di suatu tempat bersama orang-orang yang semasa hidupnya takut dosa. Mungkin di ujung sana, Jon sedang bersama orang-orang yang tubuhnya utuh bercahaya dan tak merasa udara sepanas ini. Aku sangat yakin karena Jon memang orang baik. Aku ingin bersamanya. Semoga Jon masih mengenaliku.

“Tolong, Jon! Selamatkan aku!”

Lama tak ada jawaban, aku berhenti, lalu mencoba melihat tubuhku—keringatku terus mengalir. Tapi, aku masih bisa mengendalikan diri di tengah orang-orang yang sedang berguling-guling atau berlari menabrak satu sama lain. Oh Tuhan, apakah ini yang dimaksud Jon bahwa kelak manusia akan berterbangan seperti laron? Jika benar, seharusnya aku juga kebingungan dan lari tunggang-langgang mirip mereka.

Tentu aku berpikir seperti itu karena semasa di dunia, aku jarang beribadah dan bersedekah seperti Jon. Selain tak punya waktu dan tak punya banyak uang, aku malas berurusan dengan kegiatan agama, terlebih jika itu disaksikan banyak orang. Aku tak mau disebut-sebut alim, apabila sedang melakukan hal-hal baik, sementara apabila aku sedang mabuk, aku risih mendapat omongan buruk dari masyarakat.

Namun, jika memang aku sedang ingin beribadah dan bersedekah, aku lebih memilih sembunyi-sembunyi. Kata Jon, pahala tidak ditentukan dari banyaknya orang yang melihat. Aku setuju itu. Jika sempat, diam-diam aku menggelar sajadah di kamar—bersembayang sekhusyuk mungkin, meski aku tak benar-benar percaya Tuhan. Terkadang, juga kubuka kitab—membaca satu dua huruf arab yang bergandang-gandeng, kemudian kututup kembali lantaran tak tahan terbata-bata. Kalau lewat jalan raya, kerap kujatuhkan juga uang receh—harap-harap ada yang mengambil, walau itu cuma sedikit.

Hanya itu yang mampu kulakukan. Tak bisa dibandingkan dengan Jon yang celengan pahalanya begitu besar. Jon rajin beribadah, bersedekah, dan selalu berbuat baik. Aku ingat ia begitu mulia karena mau mengajakku datang ke majelis selawat. Untuk pertama kali dalam hidupku yang tidak terlalu menyenangkan ini, mencoba mendatangi acara itu, aku terpukau mendengar suara pemimpin selawat yang kelewat merdu. Orang itu bersyair panjang sambil menengadahkan tangannya dan mengajak penonton menirukannya. Berbeda dengan acara pengajian yang ceramahnya selalu membuatku mengantuk, aku justru ingin menangis memperhatikan semua orang serempak mengucapkan syair yang tidak bisa kuikuti. Kala itu, aku menoleh ke arah Jon. Jon menatapku tersenyum.

“Kau hapal semua?” tanyaku

“Tidaklah. Cuma beberapa.”

“Aku tidak tahu lagu-lagu, kecuali Ya Rasulallah.”

“Nanti juga tahu. Yang penting suatu saat bisa dapat payung nabi.”

“Payung nabi?”

“Ya. Orang yang suka selawat akan dapat payung nabi di hari akhir.”

“Meski aku pemabuk?”

“Meski kau pemabuk.”

Akhirnya, sebulan sekali, aku sering mengikuti Jon ke acara majelis selawat di kota-kota terdekat. Terkadang kami berangkat berdua, tapi lebih sering Jon membonceng teman perempuannya. Walaupun di depan panggung, tempat laki-laki dan perempuan dipisah, Jon lebih suka berbincang dengan teman perempuannya setelah acara selesai, sementara aku dibiarkan sendiri sampai kemudian kita bertemu lagi di kos. Di perjalanan pulang, aku sering mampir di angkringan untuk makan malam, atau jika benar-benar kesepian, aku nekat mlipir ke terminal membeli bir. Sebab aku belum bisa untuk tidak meneguknya sama sekali.

Sampai suatu kali, ketika aku benar-benar ingin bertanya perihal hukum membawa perempuan ke majelis selawat, padahal keduanya belum menikah, Jon justru bermuka masam dan menyerangku dengan pertanyaan beruntun.

“Apa salahnya? Kau tak suka? Kenapa kauurus hidup orang?”

“Loh, aku cuma tanya.”

“Aku ajak dia biar sama-sama masuk surga. Sama seperti aku ajak kamu. Malah sebelum aku nawarin kamu, dia udah sering ikut majelis dulu.”

“Kenapa kau marah?”

“Siapa yang marah?”

“Kau tak sadar dengan nada bicaramu?”

“Apa?”

Sejak kejadian itu, aku tak pernah mengikuti Jon ke majelis selawat. Namun, masih sempat beberapa kali aku bertanya kepada Jon, apakah manusia bisa menentukan dirinya masuk surga atau neraka. Mengingat jawaban Jon tak pernah memihak, untuk hari-hari berikutnya, ketika kami berpapasan di kos, kami hanya bertegur sapa seperlunya.

Mata Jon selalu nyalang menatapku. Ia selalu bertanya, “Apa?” Setiap kami bertemu. Aku memilih diam karena apa yang keluar dari mulutku dapat menjadi penyebab pertengkaran. Seperti, ketika jam tiga malam Jon baru pulang ke kos dengan leher merah-merah mirip gigitan serangga, aku yang pada saat itu bertanya, “Dari mana?” langsung disahut dengan kata-kata kotornya.

“Anjing! kenapa kauurus hidup orang!”

Kalimat itu cukup kuat melukai hatiku. Esoknya, aku pindah kos. Jelas aku marah. Tapi, aku tak bisa meluapkannya. Aku tahu setiap laki-laki memerlukan perempuan untuk menemani hidupnya.

Enam bulan setelah itu, kami lulus kuliah dan tak pernah bertemu lagi. Jon pulang ke kampung halamannya, sementara itu aku sudah berencana melanjutkan hidup bersama kekasihku. Usai menikah, istriku bilang bahwa aku harus memperbanyak selawat. Hal itu bukan supaya masuk surga, melainkan untuk mendapatkan syafaat. Aku tahu apa itu syafaat. Syafaat adalah sebuah pertolongan seperti payung nabi yang pernah Jon katakan.

Seiring istriku bicara bahwa di hari kebangkitan nanti, terdapat golongan yang tidak kepanasan, meskipun matahari setinggi satu mil di atas kepala, sebab seorang nabi telah memberikan payung terhadap umatnya, sontak aku teringat segala kebaikan Jon. Jon adalah orang pertama yang mengenalkanku pada dunia majelis selawat. Aku menduga, kelak Jon pasti menjadi salah satu orang yang mendapatkan syafaat. Maka, alangkah buruk bagiku, jika aku menjauhinya dan tak pernah meminta maaf kepadanya. Aku ingin bertemu Jon.

“Azka?” suara lembut itu masuk ke telingaku. Ya, Azka adalah namaku. Siapa yang membisikkannya?” Kini ingatanku terpecah-pecah. Aku tak sadar sudah berlari sejauh mana. Kakiku keram. Aku melihat tubuhku—semuanya tetap hitam. Mulai kurasakan mulutku berbicara, tetapi aku benar-benar tak menggerakannya.

Jon! Teriakku dalam batin. Belum sempat aku menyusun ingatan tentang apa yang terjadi dalam hidupku, aku dikejutkan oleh manusia berbadan ular yang menggelepar di tanah. Manusia setengah ular itu semakin mendekatiku dan dalam sekejap ia melilit tubuhku. Aku takut. Namun, aku bisa cepat melepaskan diri, lari tunggang-langgang melewati orang-orang, seolah-olah aku dapat menembus mereka.

Beberapa saat, aku tidak tahu mengapa aku berhenti di tempat yang tak lagi berhawa panas. Keringatku hilang. Seluruh badanku sejuk. Kupandang langit, tiada lagi matahari setinggi satu mil di atas kepala.***


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo.

Cerpen

Di Sebuah Kafe Tempat Aku Menemukan Kekasihku

Cerpen Aprilia Nurmala Dewi

Dingin menyusup masuk melewati pori-pori kulitku, jauh ke dalam hingga ke tulang-tulang. Bukan dingin seperti apa yang kurasa saat kubuka jendela pada suatu pagi di musim dingin di Interlaken. Bukan, bukan seperti itu. Dingin itu mencekam. Dingin yang hanya kurasakan saat kuinjakkan kaki di kafe itu. Sebuah kafe tempat aku menemukan kekasihku.

***

Kekasihku bukanlah jenis perempuan yang membuat laki-laki jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukan pula seseorang yang pada umumnya ingin ditunggu di ujung altar pernikahan. Namun, menurutku, saat dia menyesap vodka-nya, lalu mengisap rokok dalam-dalam, kemudian membuang pandangan jauh ke Danau Thun, dia begitu menarik.

Pemandangan itu kudapati saat pertama berkunjung ke sebuah kafe bernuansa kastil yang muram. Kehadirannya membuat hari-hari di musim dingin itu lebih cerah. Dia akan datang ke kafe itu pada sore hari mengenakan mantel hitam dan duduk di tempat yang sama seolah-olah meja di sudut ruangan itu memang hanya untuknya. Pandangan kosongnya membuat dia terlihat putus asa.

Kami adalah dua orang putus asa yang akhirnya saling mengisi.

Dia pernah mengatakan ingin mengakhiri hidupnya.

“Mungkin sebaiknya aku mati di ujung sebuah pisau,” katanya pada suatu malam saat kami berbaring sambil memandangi api yang menjilat kayu perapian di rumahku.

Dia bilang dia mengasah sebuah pisau setiap saat, sama halnya dengan waktu yang mengasah lukanya. Kian hari kian menyakitkan. Sebuah luka entah apa. Dia tidak mengatakannya kepadaku.

Sementara aku kembali ke Interlaken setelah perpisahan yang menyakitkan dengan seorang perempuan baik-baik. Perempuan yang tidak menyesap vodka dan tidak merokok. Dia hanya berselingkuh.

Sejak perpisahan itu, aku pikir, hubungan dengan perempuan hanyalah kesia-siaan. Namun, godaan untuk melakukannya kembali baru muncul ketika melihat kekasihku di kafe.

***

Pada musim semi, saat air tenang Danau Thun yang kehijauan memantulkan sinar matahari dan bunga-bunga di tepiannya tumbuh dengan indah, aku menghadiahinya sebuah gaun berwarna merah muda. Aku pikir dia harus lebih bersemangat.

Aku bosan melihatnya mengenakan pakaian hitam dan bermuram hati. Ya, aku berhasil membuatnya lebih banyak tersenyum. Maka demi membuat kekasihku tersenyum, aku menambah hadiah. Gaun merah muda terasa kurang.

Dari satu gaun ke gaun lain. Hingga kemudian memberinya perhiasan terdengar lebih memuaskan. Tidak hanya aku, tentu dia juga. Aku bisa melihat binar matanya. Semangat hidup yang kembali menyala dan membuatnya melupakan mati di ujung pisau.

Dari satu perhiasan ke perhiasan lain meningkat menjadi ingin memberikannya apa saja agar lebih sering tersenyum. Seolah-olah semangat hidupku datang dari senyumnya. Aku kembali tergila-gila kepada seorang perempuan.

Sayangnya, entah mulai kapan aku merasa dia menjadi lebih haus. Sialnya, dia menjadi sangat haus dan aku menjadi sangat lelah.

Musim semi berganti musim panas. Musim panas berganti musim gugur. Dan, pada suatu hari saat tanaman anggur menguning, jalan-jalan dipenuhi daun berguguran, kami terserang rasa bosan. Dia mulai merengek untuk sesuatu yang tidak jelas. Aku tidak tahu apakah itu terlalu cepat.

Makin hari dia makin haus dan aku merasa bahwa lubang dalam dirinya yang perlu kuisi hanyalah keinginannya terhadap hadiah-hadiah yang kupersembahkan. Kami tidak lagi hangat satu sama lain.

***

Kekasihku masih menyesap vodka dan mengisap rokoknya dalam-dalam. Namun, kali ini, bagiku dia tidak semenarik musim dingin yang lalu. Aku berpikir itu sangat jahat, perasaanku sangat jahat hingga suatu hari dia membanting pintu rumahku dengan sekuat tenaga, sekuat rasa bosannya. Setelah hari itu, dia tidak lagi datang ke kafe atau ke rumahku. Aku melihatnya di tempat lain bersama pria yang lain.

Perempuan yang menyesap vodka atau tidak, sama saja. Mereka mengkhianatiku, mengkhianati uang yang sudah kuhabiskan, mengkhianati waktu yang sudah kuberikan, dan tentu saja mengkhianati perasaan yang kupikir itu cinta.

Musim dingin kali ini terasa lebih dingin meski salju tidak setebal biasanya. Aku baru merasa hangat saat membayangkan wajahnya yang mencebik dingin. Wajah dingin yang pura-pura tidak mengenaliku saat kami berpapasan.

“Bukankah dia kekasihmu, Tom? Mengapa dia tidak menyapamu? Lalu, bukankah pria yang bersamanya itu tidak terlihat seperti seorang kerabat?”

Seorang kawan yang bersama denganku berpapasan dengannya pun merasa janggal. Terlalu janggal hingga aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan kawanku itu.

Rasa bosan yang bersarang di jiwaku pun rupanya mulai menjelma benci. Maka kuputuskan untuk memenuhi salah satu keinginannya untuk terakhir kali.

***

Aku meminta dia datang ke kafe itu sekali lagi. Kuiming-imingi dia dengan mengatakan akan kupenuhi sebuah permohonannya sejak lama. Dasar rakus, dia tidak menolak. Aku bahkan mendengar desahan menggoda di ujung kalimatnya sebelum menutup telepon.

Darahku mendidih melihatnya datang menghampiri tanpa rasa bersalah. Hal itu membuat suhu tubuhku memanas. Kukatakan bahwa aku ingin dia memohon terlebih dahulu. Sekali lagi, dia tidak menolak. Maka kukeluarkan pisau, yang telah kuasah semalam, dari sebuah kantong berbahan kulit rusa .

Akhirnya kulihat lagi bagaimana dia memohon. Memohon-mohon sebelum kukabulkan satu hal yang pernah menjadi keinginannya. Kuselesaikan tugasku dengan cepat. Bahkan tidak kuberi dia kesempatan sedetik pun untuk menyesali rintihan permohonannya yang memuakkan.

Pertemuan itu adalah yang terakhir. Setelah itu aku tidak lagi menginjakkan kaki di sana. Di sebuah kafe tempat aku menemukan kekasihku. Diam, dingin, dan membeku.***


Aprilia Nurmala Dewi, ibu dua putra spesial sekaligus abdi negara yang senang menulis. Lahir di Ujung Pandang dan berdomisili di Sinjai.

Puisi

Puisi Hamzah

Desimal

Mula dari nol
hitung berulang
setelah sembilan
sepuluh jari-jemari
meletakkan zaman
berbuku-buku
berbilang negara
atau res publica
diukur tonggak
satu, dua, tiga.

Sembilan, sepuluh depa
dan usia diejanya
jiwa-jiwa dijatah,
disiapkan; ditentukan.

Karanganyar, 2022


Jenaka

Kembang hijau begitu bungah
nalarnya menjalar beriring angin
bersetelan mahkota, kasut, topeng, dan galah
berseru, “wahai berdiang di angan dan ingin!”

Karanganyar, 2022

Sibak

Mulanya hela nafas begitu jernih.
Kristal-kristal es berhembus
Angin Utara dan Udara Dingin
lembah di sela-sela lereng.
Dibawanya tarikan nafas masa,
waktu, dan musim bersampir
biji-biji disemai oleh ratu
di bawah pertiwi dan tanahnya.
Harusnya desah nafas dihela
kusir-kusir berkumis salju
mengantar gugur dan semi
anak-anak tahun. Diseretnya
dua hingga empat perumpamaan
musim dengan mata panah pada
belikat bernafas setengah terengah,

Angin adalah bedebah
kembar dari waktu.”

Karanganyar, 2022


Kelelahan

Pukul delapan pagi, dia bawa sebuntal mimpi ke kamar mandi,
mimpi-mimpi itu menyisakan kantung matanya, dunia begitu mudah
dihadapi oleh sabun, sampo, pasta gigi, dan conditioner. Begitu dibilas,
luruhlah mimpi-mimpi dan tirai dahinya dibuka oleh air dingin
menjerang harap-harap kucing tersisa dari kantuknya semalam.

Saking marahnya dia, hilangnya satu buntal itu menukar limpitan
bibir terkulum berhias jigong berengut tajam
berseling umpat-umpatan, bahwa:
dia harus memanaskan motornya,                   matahari belum tinggi benar
orang dan mesin yang berkejaran,                   serta alasan agar nyawa bulan itu
tetap utuh.

Dihadapinya layar, mesin, layar, mesin, layar
dengan mesin ia berlayar mengubah nasibnya
agar tidak dijera angan-angan, katanya.
Pukul lima sore, badannya bergetah.
Di tengah mesin dan manusia,
dia melihat mataharinya terbenam.

Karanganyar, 2022


Lob

Empat sudut bingkai kamera,
kehidupan ada dalam kolong lapar
tempat-tempat tercerabut
oleh perasaan lupa. Dinas adalah
wilayahnya luput, luas di mana lepra
meratu lela.

Karanganyar, 2022


Hamzah lebih suka menyebut dirinya bermatra jamak seperti larik Walt Whitman. Poliglot yang beraspirasi menjadi polimatis ini dapat ditemui di https://hamzah.id/

Cerpen

Obituari untuk Ayah

Cerpen Edellweiss London

Baru beberapa jam lalu jenazah ayah dikebumikan, tetapi beberapa sanak saudara sudah berani menyinggung tentang penerus perusahaan di depanku. Sungguh tak punya sopan-santun. Malas menaggapi Paman dan Bibi, aku melipir menjauh.

Aku membuka kantor ayah yang terletak di ujung koridor. Lengang. Kepalaku berdenyut hebat dan mataku terasa berat karena terlalu banyak menangis. Dengan kaki berat, aku menghampiri kursi goyang ayah lalu duduk di sana. Punggungku menggoyang sandaran kursi beberapa kali. Kala ayunan menjadi konstan, mataku mulai terpejam. Ingatan tentang ayah, ibu dan apa yang terjadi di antara mereka mulai berkelebat.

Mati memang tidak membawa harta, tapi tetap saja orang-orang kaya dimakamkan di tempat yang berbeda dengan rakyat jelata. Ayahku, Sastrowijoyo, adalah seorang ningrat keturunan keraton. Sebelum meninggal, ayah telah mempersiapkan tanah berharga ratusan juta untuk dijadikan pusara keluarga.

Makam ayah berada di pekuburan mewah, bersanding tepat di sebelah makam ibu. Mereka sehidup-semati, rupanya. Mengingat betapa tidak akur mereka berdua semasa hidup, aku sungguh tak menyangka jika ayah akan begitu cepat menyusul ibu.

Aku ingat, menjelang kematian ibu, ayah berbisik di telinga ibu sembari terisak, “Aku tak bisa hidup tanpamu, Utari.”

Ternyata kata-kata itu bukan isapan jempol belaka. Ibu baru berpulang kurang dari dua bulan lalu, dan sekarang ayah menyusulnya. Hatiku yang susah payah bertahan selepas kematian ibu, kini harus kembali koyak. Sesak, dan kehilangan memang tak pernah terasa lapang.

Aku kini tinggal seorang diri. Rasanya hampir tak percaya, aku telah menjadi yatim piatu dalam waktu singkat. Jika bukan karena para pelayat itu, aku menyangsikan ayah sudah tak bersamaku lagi.

Berbeda dengan ibu yang selalu mendukungku, semasa hidup ayah adalah pengkritik terbesarku. Walau aku dan ayah sering bersitegang, namun kematiannya terasa seperti tembakan peluru yang meninggalkan lubang di dadaku.

***

Bunyi ketukan pintu membuatku membuka mata. “Masuk,” kataku.

Sesaat kemudian kepala laki-laki itu tersembul dari balik pintu. Aku mengenalinya sebagai pelayan setia ayah.

“Ada apa?” tanyaku ketus. Aku agak sebal karena dia tak membiarkanku beristirahat barang sejenak.

Pelayan setia ayah mengangguk hormat. Dia menghampiri dudukku lalu mengatakan sesuatu dengan sangat pelan, “Nyuwun sewu, Panjenengan diaturi menulis obituari untuk menghormati mendiang bapak.”

Aku tertegun untuk beberapa saat, lalu menggumam, “Obituari?”

Inggih, obituari yang indah. Sama seperti yang Panjenengan tulis untuk mendiang Ndoro Putri.” Laki-laki di hadapanku itu berkata sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia memang biasa menyapa ibuku dengan sebutan Ndoro Putri.

Saat kematian ibu, aku memang menulis obituari sepanjang tiga halaman yang begitu menyentuh. Aku banyak bercerita tentang kebaikan ibu, juga waktu-waktu yang kami lewatkan berdua. Bahkan aku sempat melihat ayah menitikkan air mata saat membacanya.

“Harus?” tanyaku menyelidik.

Inggih, Mbak. Kita akan menerbitkannya di website perusahaan. Juga, mengirimnya ke beberapa surat kabar.”

“Apa yang harus kutulis dalam obituari tentang ayah? Dari mana aku harus memulainya?” tanyaku pada pelayan setia ayah yang hampir tak pernah kusebut namanya itu.

Dia mematut ujung alisnya, tampak berpikir sebentar. “Mungkin, Mbak Ayu bisa memulainya dari cerita masa kecil, atau kenangan indah bersama bapak.”

Tak ayal, jawaban pelayan setia ayah malah membuatku tercenung. Bagaimanapun, ayah tidak sama dengan ibu. Jika dirunut jauh ke belakang, kehadiran ayah selama ini lebih banyak memberiku kemarahan. Dia memang tak pernah melakukan kekerasan fisik, namun mentalku terjerembab hingga dasar jurang akibat perilakunya, juga beragam intimidasinya yang terasa mengekang.

Bagaimana aku bisa menulis obituari untuknya, jika apa yang paling kuingat adalah saat dia membawa seorang anak laki-laki ke dalam rumah kami?

“Dia Gada, adikmu. Mulai sekarang akan tinggal bersama kita,” jelas ayah dengan begitu lugas.

Aku masih tujuh tahun ketika itu. Otak kecilku masih bingung mencerna, bagaimana mungkin tiba-tiba aku punya adik yang hampir sama besar dengan diriku?

Gada berumur enam tahun pada saat itu. Dia hanya berjarak satu tahun lebih muda dari aku. Sehingga ibu meraung berhari-hari mengetahui fakta bahwa ayah menghianatinya saat usia pernikahan mereka baru berjalan beberapa tahun.

Sejak kehadiran Gada di rumah kami, ibu jadi sering menangis. Dari mulutnya, berbagai sumpah-serapah untuk ayah seringkali terdengar. Ayah hanya diam membisu. Ayah membawa pulang bukti perselingkuhannya tanpa pernah mengungkap siapa perempuan itu.

Kala ibu bertanya panjang lebar dengan emosi berapi-api, ayah hanya menjawab pendek, “Tak perlu diperpanjang, perempuan itu sudah mati.”

Begitulah, karena ibunda Gada mati muda, ayah membawa anak laki-laki itu ke rumah kami. Aku yang tadinya menikmati segala fasilitas dan kasih sayang sebagai putri tunggal, sejak saat itu harus rela berbagi.

Ibu adalah tipe perempuan Jawa yang menjunjung tinggi kehormatan. Dia bertindak dengan keanggunan seorang aristokrat. Ibu dibesarkan di tengah keluarga priayi yang tersohor. Perceraian seringkali dianggap aib, maka ibu memilih tetap mendampingi ayah. Ibu memang memaafkan Ayah, namun tak pernah menerima Gada sebagai anaknya.

Ayah berusaha bersikap adil dengan memberi Gada semua fasilitas yang kudapatkan. Sedangkan Ibu, hanya akan mengutamakan kepentinganku tanpa pernah peduli pada anak tirinya.

Gada bersekolah di sekolah yang sama denganku. Namun aku enggan mengakui dia sebagai adikku. Di sekolah, kami berlakon seperti tak saling kenal. Ibuku pun tak mau mengakui Gada sebagai anaknya dan menolak mengurus segala keperluan anak laki-laki ayah. Ibu hampir tak pernah berbicara pada Gada kecuali marah. Ibu juga tak pernah membiarkan Gada makan semeja dengan kami.

Gada anak yang cerdas. Dia cepat mengerti bahwa kehadirannya tak diterima oleh siapa pun di rumah, kecuali ayah. Dia tak pernah berisik, dan menerima segala caci-maki yang kulontarkan untuknya. Dia tak pernah membalas sumpah-serapahku selama bertahun-tahun, sejak kami masih kecil hingga dewasa. Namun segala penerimaannya justru membuatku merasa muak. Gada telah membuatku merasa menjadi orang jahat.

Sebagai satu-satunya anak perempuan, ayah tak pernah mempercayaiku. Ayah selalu memasang Gada di sebelahku. Gada hampir tak punya keinginan sendiri. Apa yang dia lakukan hanyalah menuruti perintah ayah. Ke mana pun aku pergi, Gada menjagaku. Dia akan mengantarku ke sana kemari, menungguku dalam diam, lalu menjemputku dengan senyuman. Dia mengerjakan apa pun yang kusuruh, termasuk membeli pembalut saat aku tengah datang bulan.

Jika aku dan ibu pergi berbelanja, Gada akan dengan patuh berjalan di belakang, membawakan seluruh belanjaan yang kami beli. Jika kami mampir ke restoran, dia akan duduk menjauh, tidak akan makan kalau tidak disuruh. Jika ibu berbaik hati menyuruhnya makan, Gada akan memesan menu paling murah. Perbuatan yang membuatku makin membencinya karena dia sok menderita.

Ayah memberikan semua uangnya kepada ibu, mewariskan semua aset perusahaannya kepadaku, namun dia memberikan seluruh hatinya kepada Gada. Bahkan ayah sendiri yang mengajari Gada menyetir mobil. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan untuk aku.

“Kau tak boleh menyetir, biar Gada yang mengantarmu,” begitu kata ayah, membuatku semakin muak.

Ibu hidup untuk aku, ayah hidup untuk Gada. Begitulah keluarga kami terbelah. Ibu dan ayah kerap berdebat karena ibu bersikeras mendahulukan kepentinganku, sedang ayah kerap meminta belas kasihan ibu agar Gada mendapat sesuatu yang sama sepertiku.

Aku tumbuh menjadi perempuan dewasa yang egois. Gada tumbuh menjadi lelaki yang tak punya daya juang. Sekali lagi, dia membuatku membencinya karena telah menempatkanku menjadi penjahat.

Menulis obituari untuk ayah, tak mungkin menafikan kehadiran Gada. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa Gada adalah putra kandung ayah. Di luaran, ayah mengakui Gada sebagai anak angkatnya. Hanya kepada aku dan ibu saja, seorang Sastrowijoyo, pejabat publik yang merangkap pengusaha kayu, mengakui bahwa dia memiliki anak lain di luar nikah. Aku dan ibu mengunci rapat mulut kami. Bagiku dan ibu, kehormatan keluarga adalah nomor satu.

Aku bangkit dari kursi goyang, ganti menghampiri pelayan setia ayah lalu membisikkan sesuatu di telinganya, “Bagaimana kalau kau saja yang menulis obituari untuk ayah? Lagipula, kau juga anaknya, kan, Gada.” ***


Edellweiss London adalah penggiat literasi di Rumah Baca Cerdas Institute A. Malik Fadjar, Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang aktif menulis di grup kepenulisan Nulis Aja Dulu, anggota klub menulis Tiga Strata, dan militan eksklusif di Terus Saja Tulis. Penulis tinggal di Malang, Jawa Timur.

Cerpen

Lelaki Berjubah Putih

Cerpen Pasini

Hujan tak kunjung reda. Sepertinya langit nelangsa dengan seisi bumi yang cukup lama dicengkeram kuasa kemarau dan tergerak menyudahinya. Tapi rerimbun pohon beringin tempat aku berteduh sungguh penuh kasih. Tak setitik pun air yang diperbolehkan menetes di kemejaku.

Pada sisi jalan berbeda, di bawah pohon beringin yang lain, seorang lelaki berjubah putih meneduhkan juga tubuhnya. Ia tersenyum menatapku. Aku mengangguk takzim, sebelum kemudian mataku kembali menekuni bulir-bulir air langit yang jatuh dan mengenai apa saja. Menimpa atap gedung dan meruntuhkan kesombongannya. Menimpa besi dan meninggalkan jejak karat. Melarutkan debu pada jalan aspal dan bebatuan. Serta memupus dahaga tetumbuhan yang menangguk rindu sampai semusim penuh. Beberapa hari ke depan, kelopak bunga akan tersenyum dengan indahnya.

Aku menjadi teringat akan sebuah senyum pula. Milik seorang gadis kecil. Hidupnya belum tercemari legamnya dunia sehingga hanya meminta lalu terkabulkan yang ia tahu. Dan sebaiknya memang begitu. Biarlah kesusahan hanya milik orang-orang dewasa dan jangan dikenalkan pada anak-anak sebelum waktu mereka tiba.

“Sebuah boneka beruang ya, Yah. Yang besar,” pinta gadis itu tadi pagi.

Aku mengangguk sembari mengembalikan senyumnya dengan lebih manis. Lalu kuangkat tubuhnya tinggi-tinggi, hendak kudekatkan dengan langit. Tempat di mana semua orang menggantungkan doa dan harapan. Bahkan ia masih memelihara senyumnya di beranda dengan pandangan mengikuti angkutan berwarna kuning yang membawaku pergi. Sampai kemudian tubuh mungil gadis itu digantikan dengan pohon palem, pohon akasia, pohon pakis, dan pohon bebungaan di tepi sepanjang jalan menuju pabrik sepatu tempat aku bekerja.

Lelaki berjubah putih tak ada di tempat teduhnya. Mungkin ia menerobos hujan dan tak jenak menunggunya sampai sedikit reda.  Begitu pun senyum gadis kecilku. Mereka sama-sama hilang. Berganti dengan senyum kecutku. Aku membuka tas kerja berwarna hitam untuk sebuah tujuan memberi keyakinan bahwa memang hanya ada amplop tipis di dalamnya.

Sebagian besar isi amplop itu telah berganti dengan senyum seorang lelaki tua berbaju lusuh. Karena perutnya kenyang sekarang. Besok ia bisa memeluk tubuh istri juga cucu. Setelah selama ini menumpuk rindu demi rindu hingga memenuhi setiap sekat, lorong, dan bilik hatinya. Tak ada ruang untuk rasa yang lain. Tak ada keinginan selain bertemu orang-orang terkasih. Tapi sayang keinginan itu selama ini ibarat benda antik tergadai yang belum mampu ia tebus kembali.

Aku sibuk merangkai kalimat yang tepat  untuk kusampaikan pada istriku di rumah. Juga gadis kecil kami. Aku tidak ingin membuat  kecewa tentu saja. Bahkan selama ini aku sanggup melakukan apa pun demi memelihara senyum mereka.

Mungkin istriku akan mendiamkan aku. Atau melontarkan kemarahan. Lalu mengubah kebiasaan secangkir kopi di pagi hari dengan air putih. Mau tidak mau memutar otak agar sisa uang belanja bulan kemarin cukup untuk sampai bulan depan. Daging, telur, diganti dengan tahu dan tempe. Jamur tiram, ikan, diganti dengan kangkung dan bayam. Lalu suasana meja makan akan berubah dingin. Tidak ada gelak tawa. Tidak ada bual cerita. Menghikmati isi piring masing-masing dan tidak disambi tanya: liburan ke mana enaknya akhir pekan. Atau: rilis film terbaru apa di bioskop.

Tapi bagaimana dengan gadis kecilku? Bisakah matanya dibuka pada rupa-rupa dunia sementara yang ada di otaknya hanyalah boneka, keripik kentang, pesta ulang tahun yang meriah, serta gaun berumbai? Apa yang kusebutkan sebagai kesusahan lelaki tua yang menahan lapar dan berpakaian lusuh lagi robek, akan dianggapnya sebagai dongeng belaka sebagaimana isi komik yang istriku bacakan untuknya di ambang waktu tidur. Di kehidupan nyata, peristiwa semacam itu mana mungkin ada.

Sayang, langit prematur menutup kran air yang tercurah ke bumi. Padahal aku belum menemukan patah-patah kata yang tepat. Tapi senja keburu hadir dengan sisa-sisa hujan berupa genangan air di badan jalan yang berlubang. Mau tidak mau aku harus bergegas pulang. Aku tidak mungkin menghindari rumah layaknya prajurit perang yang kalah.

   Sebuah mobil putih menepi. Dikendarai lelaki tua berjubah putih. Ingatanku melayang pada beberapa puluh menit silam, seseorang yang juga meneduhkan tubuhnya di bawah kerimbunan dedaunan pohon. Tetapi aku tidak begitu meyakininya. Karena bisa saja keduanya adalah orang berbeda.

 “Naiklah. Saya akan mengantar Kisanak sampai tujuan,” tawarnya dengan senyum laksana cahaya.

 “Terima kasih, Pak. Maaf saya tidak ada ongkos. Lagi pula rumah saya tidak terlalu jauh. Tidak sampai satu jam jalan juga sampai.”

 “Bukankah Anda sudah membayarnya tadi?”

Aku bingung. Tapi sepasang kakiku buru-buru naik, mendahului  kepalaku yang bahkan masih sibuk mencerna, apa maksud dari kata-katanya barusan. Bagai otak dan rangka tubuhku tidak terhubung dalam satu jalinan koordinasi. Seperti ada yang menggerakkan sendi-sendiku tapi itu bukan perintah pikiranku sendiri. Aku terduduk kikuk pada jok hitam yang licin dan mengkilat. Sepanjang perjalanan, lelaki tua itu banyak tersenyum. Kami hanya bicara seperlunya.

 “Tidakkah waktu Bapak terbuang hanya dengan mengantarkan saya?”

“Tidak ada kebaikan yang percuma. Semua ada hitungannya.” Lalu ia tersenyum lagi.

Aku diturunkan tepat di halaman, sebelum kemudian mobil dan pengemudinya segera menghilang dari pandangan. Tas kerjaku melorot dan nyaris jatuh. Sampai tidak menyadarinya karena sibuk melamun.  Aku hendak membetulkan posisinya pada pundak setelah terlebih dulu menautkan bagian kancing yang agak terbuka. Tanpa sengaja tanganku menyentuh amplop. Padat dan menggelembung. Aku terkesiap.  Ada  lembar-lembar merah.  Jumlah yang mencengangkan. Tubuhku sampai bergetar.

Sesampainya di dalam rumah, tidak pernah kulihat istriku sebahagia ini sebelumnya. Untung ia tidak bertanya dari mana uang sebanyak itu berasal. Karena  memang bukan jawaban atas kemungkinan itu yang kupersiapkan. Aku justru sudah dalam keadaan siaga untuk beberapa hal yang buruk. Bahkan semisal ia mengusirku dan menyuruh tidur di emperan toko karena pulang tanpa membawa sebagian besar uang gajian.

“Gusti…” lirihku dalam zikir.

Menjelang malam, hujan kembali turun dengan derasnya.  Aku terjaga sampai dini hari, tapi tak kunjung menemukan jawaban dari berondong pertanyaan yang menyerang batok kepala. Beranjak pagi aku baru tertidur. Lelaki tua dengan baju yang lusuh mendatangiku dalam mimpi.

***

 “Tiga kali sehari itu jumlah yang berlebihan, Nak. Sekali sehari, tapi setiap hari, itu sudah cukup.” Lelaki tua itu terkekeh.

Beberapa saat sebelumnya, lelaki tua itu melontarkan kegetirannya lewat kisah seorang bocah piatu yang ditinggal berpulang ibunya kala bertaruh nyawa melahirkannya ke dunia. Ayah si bocah berlimpah ke perempuan baru. Menumpahkan tanggung jawab sepenuhnya atas anak tersebut pada dirinya dan istrinya yang merupakan orang tua dari perempuan yang meninggal setelah melahirkan itu.

Ketika lelaki tua pergi merantau, cucunya baru berusia tiga bulan. Tapi dalam foto terakhir yang dikirim istrinya dari kampung halaman, bocah itu sudah setinggi pangkal paha orang dewasa. Punya rahang kotak semirip dirinya. Rambut lurus serupa istrinya. Dan mata bulat milik mendiang anaknya.

Dalam surat yang menyertai foto, istrinya menyebutkan bahwa bocah itu begitu pandai bicara. Banyak bertanya. Sampai ia susah menjawabnya. Semisal tanya, apakah surga itu tempat yang teramat jauh sampai-sampai ibunya harus menempuh waktu yang lama untuk bisa menemuinya tapi belum juga tiba sampai hari ini. Atau tanya, kapan kakek membawa pulang mobil-mobilan yang nenek  janjikan.

Ini adalah kota besar yang keras. Tidak memberikan ruang yang lapang bagi seorang tua dan tanpa keahlian. Meski begitu lelaki tua itu pantang menengadahkan tangan. Pagi-pagi sekali ia sudah mendorong gerobaknya  mengitari komplek perumahan, perkantoran, dan gedung-gedung pabrik. Memungut sisa-sisa limbah yang bisa menjadi rupiah. Besi tua, kaleng bekas minuman, botol plastik.

“Berapa lama Bapak tidak pulang?”

“Tiga setengah tahun.”

Dijawabnya dengan mata keras berkedip, menahan sesuatu agar jangan sampai jatuh. Aku tidak bisa membayangkan itu aku yang tidak bertemu istri dan anakku.

Awalnya aku hanya ingin segera pulang ke rumah. Setengah hari kerja di tanggal muda. Beberapa rencana telah berada di kerangka kepala. Tapi baru beberapa pijak meninggalkan muka gedung, pandanganku singgah pada seorang lelaki tua. Duduk mematung di sisi jalan dengan gerobak sampah di dekatnya. Matanya menatap gerobak bakso, gerobak siomay, dan gerobak ketoprak yang sibuk berlalu-lalang. Acuh melewatinya.

Kuraba amplop cokelat tua yang baru saja diangsurkan bagian keuangan. Beberapa kepentingan saling berperang: boneka beruang, beras, susu, lelaki tua, bayar kontrakan, air ledeng, lalu lelaki tua lagi. Siklus berulang beberapa kali seiring wajah cerah langit yang bertukar kepada muram. Setelah beberapa lama, barulah wajah layu lelaki tua di hadapanku itu keluar sebagai pemenangnya.

 “Saya kira ini cukup untuk ongkos jalan. Belilah mobil-mobilan. Juga kebaya berenda untuk istri Bapak. Sisanya buat pegangan.”

Tanpa kata lelaki tua itu menatapku. Tubuhnya langsung kaku. Ia bagai bukan manusia melainkan patung yang terbuat dari butir-butir pasir lalu dicampur semen dan diguyur bulir-bulir air. Sejenak kemudian mata lelaki tua itu mengembun, tangannya bergetar.

 “Cepatlah Bapak cari tiket kereta atau bus. Cuacanya sungguh tidak bersahabat…”

Ujung kalimatku disambung dengan titik-titik gerimis. Tapi untung saja kami masih sempat berpelukan. Aku berlari dan mencari tempat berteduh. Tak sempat memastikan ke arah mana lelaki tua berbaju lusuh itu mendorong gerobak sampahnya.***


Pasini, mitra BPS Kabupaten Ngawi sebagai tenaga entri data. Menulis cerpen yang pernah tersiar di sejumlah media cetak dan daring. Salah satu cerpennya masuk sebagai nominasi cerpen terbaik dalam Anugerah Sastramedia 2022.

Cerpen

Kucing Hitam

Cerpen Septi Rusdiyana

Kepalaku berdenyut-denyut. Jantungku memompa darah begitu cepat. Tubuhku panas. Kurasa semakin lama semakin panas, berbarengan dengan pori-pori kulitku yang kian membesar. Aku berlari menuju kamar mandi, mengambil handuk, menggigitnya kuat. Sepertinya aku akan mati. Aku ingat, sebelum ini aku sempat bertemu dengan seorang perempuan saat hendak menceburkan diri ke sungai. “Lompatlah, maka jasadmu akan lenyap dimakan buaya,” ucapnya. Aku urung. Kupikir dengan terjun ke sana, aku akan mati tenggelam. Esok harinya jasadku mengambang dan ditemukan warga untuk dikubur secara layak. Jika ucapan perempuan itu benar, maka tubuhku akan hancur. Kematian yang jauh dari unsur keindahan.

Perempuan itu berlalu. Meletakkan karung di tanah, menghempaskan bokongnya di batu kali. Aku mengikuti. Duduk di sebelahnya. Terlihat ia merogoh sesuatu dari kantong kemeja lusuh, nihil. Berpindah ke celana jeans biru sobek, ada puntung rokok sisa separuh. Ia kebingungan mencari korek api. Aku mengambil sebungkus rokok yang masih tersegel dan pemantik dari dalam tas. Ia menerima uluranku dengan tersenyum. “Maaf, aku tidak pernah berterima kasih untuk sesuatu yang tak kuminta,” balas perempuan itu. Ia menyalakan puntung sisa miliknya sendiri. “Sebutlah keinginanmu. Anggap saja itu barter dengan sebungkus rokok berikut korek api darimu,” lanjutnya lagi.

Angin berembus dari utara, membawa aroma tak sedap menyeruak lubang hidungku. Kurasa baunya berasal dari tubuh perempuan itu. Kombinasi dari keringat mengering yang entah sudah berapa lama tak tersentuh air, ditambah dengan kencing dan kotoran manusia yang juga mengering. Aku berjingkat saat seekor kecoa terbang dari rambut gimbalnya. Membuatku lupa kalau sebelumnya hendak muntah. “Maaf,” kataku. Aku khawatir menyinggung perasaannya. Ia terlihat mengambil sesuatu dari karung kumal. Menyerahkan sebotol kecil berisi cairan keruh yang tinggal seperempatnya.

“Ambil dan pergilah!” perintah perempuan itu. Aku memperhatikan tangan dekil dengan kuku panjang menghitam penuh kotoran. Aku ragu. “Habiskan. Kamu akan menemukan jawaban dari kegelisahanmu. Ingatlah satu hal, jangan pernah menyakiti atau kamu tidak akan pernah selamat,” lanjutnya. Aku meraih botol itu tanpa berpikir lagi.

Rasa sakit yang terus bertambah membawaku kembali sadar. Perempuan itu mungkin telah meracuniku. Seharusnya aku tidak begitu mudah mempercayainya. Sial, kepalaku berdenyut kuat serasa hendak meledak. Aku menggigit handuk lebih keras untuk menahan teriakan. Tubuhku menghangat. Semakin lama, sakit itu berangsur pergi. Aku lemas, lalu tertidur.

Seseorang seperti sedang mengelus tubuhku. Nyaman sekali. Kalau bukan karena perutku meronta, rasanya aku urung membuka mata.

“Kamu pasti lapar. Makanlah.” Suara pria yang kukenal mengagetkanku. Suamiku benar-benar kurang ajar. Ia sudah tidak waras. Beraninya memberiku makanan kucing. Aku memandangnya marah. Aneh, aku hanya bisa mengeong. Semakin marah, eonganku semakin nyaring. Ada apa ini? Tunggu, kenapa suamiku terlihat sangat besar? Jangan-jangan cairan itu adalah ramuan memperkecil ukuran tubuh. Ini tidak benar. Aku diperalat. “Jangan marah. Aku tidak akan menyakitimu,” lanjut suamiku. Ia mengelus puncak kepalaku lembut. Seperti tersihir, aku akhirnya menghabiskan sekaleng makanan basah di hadapanku. Aku tidak bisa menahan diri untuk menjilat kedua tanganku saking nikmatnya. Oh, tidak. Aku berbulu. Tubuhku penuh bulu panjang berwarna hitam. Aku bahkan tidak memiliki tangan. Gegas aku berlari menuju kamar. Melompat naik ke meja rias. Aku syok melihat pantulan wujudku dari cermin. Aku seekor kucing.

***

Hampir tiga kali dua puluh empat jam aku menjadi kucing. Sepertinya aku mulai terbiasa, termasuk telah terbiasa menerima perlakuan lembut dari suamiku. Tak apa, setidaknya aku tahu suamiku cukup penyayang. Aku salah sangka selama ini. Ia berubah sejak menikah. Sebulan resmi menjadi suami istri, ia sama sekali belum menyentuhku. Lelah bekerja adalah alasan andalannya. Ia mengatakan akan menjamahku di waktu yang tepat dan istimewa. Aku menyesal kenapa harus kabur dari rumah seminggu lalu, hanya karena aku menginginkannya, namun tetap mendapat penolakan. Padahal, saat itu aku sudah berdandan sangat seksi. Aku merasa terhina. Seakan suamiku sendiri jijik terhadapku. Hingga aku memutuskan ingin mengakhiri hidup.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku sudah kelaparan, suamiku belum juga pulang. Aku melompat ke sana kemari. Berjalan mengelilingi rumah. Mlungker di karpet dengan malas setelah bosan. Tidak lama terdengar suara pintu dibuka. Aku berlari ke depan. Mendekat ke kaki suamiku.

“Kemarilah, aku tahu kamu pasti lapar,” ucap suamiku. Ia membuka kaleng makanan kucing basah dan disodorkan padaku. Aku menyantap dengan lahap. Setelah kaleng itu kosong, aku berlari menuju sofa. Bermaksud menghambur ke pelukan suamiku yang sedang menonton televisi. Sayangnya aku terlambat menyadari. Rupanya pria yang bersandar di sofa bukanlah suamiku, melainkan rekannya. Tubuhku terlanjur naik ke paha, ia menarikku lekat. Mengelus-elusku dengan lembut. Aku salah tingkah, seakan telah berselingkuh dengan membiarkan pria lain menyentuh tubuhku. Namun aku tidak bisa kabur. Setiap kali ingin melepaskan diri, pria itu terus meraihku kembali. Sepintas aku sempat melirik ke wajahnya. Ya Tuhan, ia sangat tampan. Jauh lebih tampan dari suamiku. Aku justru mulai menikmati sentuhan tangan kekarnya. Maafkan aku, Sayang. Tanpa sengaja aku telah mengkhianatimu.

Suamiku datang membawa dua botol minuman kaleng. Satu untuk rekannya, satu lagi untuknya sendiri. Semua tampak normal, sesaat sebelum akhirnya teman pria suamiku meraih kalung dari leher untuk membaca namaku. Seketika tubuhku dihempaskan ke lantai. Aku berdiri mematung melihat keduanya.

“Kamu mencintai istrimu, hah?” Pria itu bertanya marah. Suamiku terlihat kebingungan. Ia berusaha menjelaskan kepada teman prianya. Jantungku seakan berhenti berdetak saat mendengar suamiku mengatakan tidak pernah mencintaiku. Alasannya menikah adalah demi menutupi kebenaran yang sesungguhnya. Aku syok saat tiba-tiba suamiku meraih kepala teman prianya dan melumat bibirnya mesra. Usai melepas pagutan, suamiku mengatakan bahwa ia sungguh mencintai pria di hadapannya itu. Ini sungguh gila. Aku marah kepada suamiku. Sebelum sempat keduanya mengulang ciuman panasnya lagi, aku melompat ke tubuh teman pria suamiku dan menggigit lehernya. Cairan berwarna merah itu membuat mulutku terasa asin. Refleks suamiku meraih tubuhku. Dimasukkannya aku ke kandang dengan kasar. Aku mengeong berisik di dalam jeruji besi.

“Tunggu di sini! Kamu akan menerima akibat dari perbuatanmu pada kekasihku,” ancam suamiku dengan suara mengerikan sebelum berlalu ke kamar. Tak lama ia muncul membawa perlengkapan P3K untuk merawat luka teman prianya.

Semalaman aku gelisah. Sama sekali mataku tak terpejam. Aku merutuki diriku karena telah salah mencintai. Aku diperdaya suamiku sendiri. Ia bahkan tega melakukan percumbuan dahsyat di depan mataku. Suara-suara itu terus berputar di telinga, seolah mengejekku. Inilah alasan mengapa selama ini suamiku tak pernah menaruh ketertarikan pada tubuhku. Sungguh menjijikkan. Saat aku masih menyesali nasib, tanpa sadar sebuah tangan mencengkeram leherku. Suamiku membawaku ke dapur dengan marah. Tubuhku ia banting di atas meja. Gegas diraihnya pisau daging, diangkatnya tinggi ke udara.

“Matilah kau!” umpat suamiku. Sebelum pisau mengayun ke leherku, aku sempat teringat kembali ucapan perempuan gimbal itu. Jikapun aku mati justru lebih baik karena aku tak repot-repot melakukannya sendiri. Dan yang pasti aku tak pernah menyesalinya.***


Septi Rusdiyana, penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga dengan dua putri cantik bernama Negar dan Nala.

Cerpen

Seribu Ekor Tikus

Cerpen Erwin Setia

Semuanya dimulai dari kamar, ketika ia melihat seekor tikus berderap cepat di sela rak buku. Tikus itu gesit sekali, lekas lenyap dari pandangan sebelum ia benar-benar melihat keseluruhan wujud si tikus. Yang jelas tikus itu besar dan hitam. Dua keterangan itu sudah cukup untuk membuat siapa pun mengerti kejijikan sekaligus kemuakan macam apa yang ditanggungnya. Dengan mata mendelik, melangkah hati-hati menuju rak buku, ia menggebrak-gebrak rak seraya memperhatikan sekeliling kamar. Tikus itu tidak kelihatan di mana pun. Hanya dari atap kamarnya yang punya banyak celah (dari sanalah tikus-tikus keluar-masuk) ia mendengar samar-samar cericit tikus. Ia kembali ke kursi, mengempaskan bokongnya sambil tetap memendam kekesalan kepada si tikus, dan ia terlompat dari tempat duduk saat mendapati si tikus sedang melata di atas meja kerjanya, meniti lembaran kertas catatannya tanpa rasa bersalah, lalu melesat ke kolong meja, dan kembali lenyap dari pandangan. Satu-satunya yang ia syukuri adalah ia tidak mematahkan punggung kursinya.

Jika kau berpikir itu adalah satu-satunya hari Eriko mengalami nasib sial macam itu, kau keliru. Tapi jika kau berpikir pengalaman semacam itu mengubah hidupnya, kau agak benar. Sebab sejak itulah ia menjalani hidup dengan lebih hati-hati dan mawas diri. Ia tidak lagi sembarangan berjalan lurus tanpa menengok kanan-kiri-atas-bawah. Ia tidak lagi mengabaikan dunia seperti sebelumnya. Ia kini begitu peduli pada dunia, pada hal-hal di sekelilingnya. Dan karena ia terlalu peduli pada dunia ia jadi tahu hal-hal yang seharusnya tak perlu ia ketahui. Misalnya fakta bahwa di area tempatnya tinggal yang terdiri atas 300 rumah, setidaknya ada 1.000 ekor tikus! Dari mana ia tahu soal itu? Tentu saja dari pengamatannya pada dunia.

Ketika ia pergi ke luar rumah, dengan berjalan kaki ataupun mengendarai sepeda motor, matanya ia gunakan lebih maksimal daripada yang sudah-sudah. Ia melihat banyak orang asing. Ia melihat tanaman-tanaman yang tak ia ketahui namanya, tapi ia kagumi bentuknya. Ia melihat rumah-rumah berderet, rumah-rumah yang sejak bertahun-tahun lalu tetap di situ-situ saja, padahal para penghuninya berpindah-pindah. Saat melihat rumah-rumah inilah, Eriko memperhatikan dinding luar rumah dan tempat sempah beton yang biasanya terletak di tepi luar pagar. Di salah satu rumah yang dindingnya dirambati oleh tanaman keriting dengan tata letak berantakan ia melihat seekor tikus besar dan hitam merambat di dinding seperti atlet panjat tebing. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain, ke sebuah tempat sampah di rumah seberangnya. Kali ini muncul seekor tikus besar dan hitam (lagi-lagi besar dan hitam) sedang menggerogoti sesuatu di dalam tempat sampah. Segera ia memalingkan matanya ke arah lain, tapi ke mana pun matanya menuju, yang ia lihat adalah tikus-tikus! Tikus-tikus yang ia lihat memang tidak berkumpul berombongan seperti sekumpulan tentara sedang berbaris. Ia hanya melihat tikus itu satu per satu, tapi di berbagai tempat, di semua tempat yang dicapai matanya. Ia yakin tikus-tikus yang ia lihat itu—walaupun bentuk dan ukurannya mirip—adalah tikus-tikus yang berbeda. Ia menaksir dalam sebuah rumah pasti ada setidaknya 3-4 ekor tikus yang menetap. Jika dikalikan 300 (yaitu jumlah rumah di area perumahan ini), berarti ada sekurangnya 1.000 ekor tikus di area tempatnya tinggal! Pemikiran itu membuatnya bergidik. Waktu itu ia bergegas kembali ke rumah dengan kepala menunduk dan sesekali memejamkan mata. Tapi tetap saja, sebelum tiba di rumah, ia sempat melihat beberapa ekor tikus melintas di jalanan atau menclok di tembok sebuah rumah yang tak sengaja ia lihat.

Apakah ini adalah halusinasi? Apakah ini adalah mimpi? Eriko sempat menduganya demikian. Namun ia mengonfirmasi apa-apa yang dilihatnya kepada ibu, bapak, tetangga, dan anak-anak yang biasa bermain di sekitar rumahnya.

“Kau tidak salah lihat, Eriko. Ibu juga belakangan ini lihat tikus di mana-mana.”

“Betul! Bapak juga lihat tikus setiap hari, bahkan di televisi! Ini bukan majas, Eriko. Bapak sungguh-sungguh lihat ada tikus lewat di atas TV waktu bapak nonton acara debat politik!”

“Ya, Mas Eriko. Saya bahkan langsung beli perangkap tikus ketika sadar ada banyak tikus mondar-mandir di dalam rumah. Percaya nggak, Mas Eriko, di malam pertama saya pasang perangkap tikus, saya langsung dapat tiga ekor tikus! Tiga ekor, Mas Eriko. Besar-besar dan hitam-hitam.”

“Aku juga liat tikus, Kak Eriko. Aku kejar tikus itu, terus tikus itu malah kabur. Aku pukul tikus itu pake sapu, tikus itu lari ketakutan. Aku ingin habisi tikus-tikus itu, Kak Eriko. Tapi tikus-tikus itu kok nggak abis-abis ya? Malah makin banyak.”

Tanggapan ibu, bapak, tetangga, dan anak kecil itu cuma membuat hati Eriko makin dongkol. Sebab semua itu menambah terang segalanya, menambah jelas kenyataan yang terhampar di hadapan Eriko. Ini bukan halusinasi. Ini bukan mimpi. Tikus-tikus itu benar ada. Semua orang menyadarinya. Semua orang mengetahuinya. Dan tikus-tikus itu ada dalam jumlah banyak. Bahkan kini Eriko merasa seribu adalah perkiraan jumlah yang terlampau sedikit. Namun ada satu hal yang mengganjal bagi Eriko. Kenapa orang-orang di sekitarnya tampak biasa-biasa saja dengan kehadiran 1.000 ekor tikus (kemungkinan besar lebih dari itu) di area ini. Mereka tidak terlihat gelisah atau ketakutan dengan kenyataan itu. Mereka seakan-akan menganggap keberadaan tikus-tikus itu wajar belaka, sama wajarnya dengan matahari yang terbit tiap pagi. Padahal, bagi Eriko ini sama sekali bukan hal wajar. Seribu ekor tikus! Bagaimana mungkin itu bisa dianggap hal biasa?

Lantas muncullah sebuah gagasan di kepalanya. Eriko berpikir orang-orang di sekelilingnya tidak menganggap serius maraknya tikus karena mereka tidak mengetahui fakta sebenarnya. Ia yakin tak banyak di antara mereka yang sadar bahwa jumlah keseluruhan tikus yang ada di area ini mencapai 1.000 ekor, bahkan lebih. Soal jumlah, Eriko beberapa kali mendebat dirinya sendiri. Tidak mungkin sampai 1.000 ekor, sebab boleh jadi tikus yang dilihatnya di rumah-rumah yang berbeda adalah tikus yang sama. Katakanlah seekor tikus bisa menyatroni empat sampai lima rumah dalam sehari. Dengan total 300 rumah, jadi, paling banyak hanya ada 60-75 ekor tikus di area ini. Pikiran alternatif itu sempat membuat kengeriannya berkurang sampai suatu siang ia pergi ke luar rumah untuk membeli lauk pauk. Ia mengendarai sepeda motor. Ia terkejut saat mendapati tiga sampai empat ekor tikus berdiam seolah menontonnya di setiap muka rumah yang ia lewati. Meskipun untuk pergi ke warung makan ia hanya perlu melewati beberapa rumah, Eriko melewati semua rumah untuk memverifikasi pikiran buruknya. Dan di tiap muka rumah yang ia lewati, memang betul-betul ada tiga sampai empat ekor tikus! Ia memutari perumahan sampai dua kali dan menghitung ulang jumlah tikus yang ada di tiap muka rumah. Tidak salah lagi. Jumlahnya memang 1.000 ekor tikus!

Lantaran semua sudah jelas, ia melakukan gagasan itu: memberitahu orang-orang bahwa ada 1.000 ekor tikus di area ini.

Tak ada yang menganggap serius kata-kata Eriko. Bahkan saat Eriko menceritakan soal ia melihat tiga sampai empat ekor tikus berdiam di muka setiap rumah pada suatu siang, semua orang tertawa, menganggapnya sedang melontarkan lelucon. Ibu dan bapaknya juga tertawa, tawa mereka lebih keras dari orang-orang lain.

“Kau tidak perlu membawa cerita-cerita yang kautulis ke dalam kehidupan nyata, Eriko.”

“Betul! Sebaliknya, seharusnya kehidupan nyata inilah yang kaubawa ke dalam cerita-cerita yang kautulis, Eriko.”

Demikian ucapan ibu dan bapaknya kepada Eriko setelah tawa terbahak-bahak mereka berhenti.

Eriko ingin menyahuti ibu dan bapaknya, menjelaskan kepada mereka bahwa apa yang ia katakan bukanlah karangan, apalagi khayalan. Semua yang ia ceritakan adalah kenyataan, senyata dirinya dan benda-benda di sekelilingnya. Tapi tak mudah bagi Eriko untuk memberikan penjelasan semacam itu. Apalagi peristiwa tikus-tikus berdiam di depan muka setiap rumah cuma terjadi sekali dan anehnya saat itu tak ada orang yang menyadari kejadian itu selain dirinya sendiri. Seolah-olah pada siang itu semua orang disibukkan oleh perkara lain sehingga tak sempat menyaksikan keajaiban—atau tepatnya keanehan—itu.

Karena semua orang memilih untuk menertawakannya, Eriko tak mau merepotkan diri memaksa mereka untuk memercayai matematikanya, bahwa ada 1.000 ekor tikus (boleh jadi lebih, mengingat tikus-tikus itu lebih cepat beranak-pinak daripada mati) di area ini. Seandainya mereka mau setuju pada hitung-hitungan Eriko, pastilah mereka akan menjadi lebih hati-hati dan waspada. Mereka tidak akan menganggap sepele keberadaan tikus-tikus itu. Mereka tidak akan hanya sebatas memasang perangkap atau menyebar racun. Mereka akan melakukan lebih dari itu. Mungkin melakukan pemusnahan massal dengan alat penyemprot atau kerja bakti membersihkan lingkungan supaya tikus-tikus pergi ke tempat lain. Tapi kalaupun tikus-tikus itu berkurang, atau bahkan menghilang, lantas kenapa? Apa bedanya 1.000 ekor tikus dengan 100 ekor tikus atau 10 ekor tikus atau 1 ekor tikus atau tidak ada tikus?

Pikiran filosofis itu menggelayuti kepala Eriko malam ini, di tempat dari mana semuanya berawal. Ia sedang duduk di atas kursinya, menatap laptop yang baru saja dimatikan, dan kini matanya melirik ke arah rak buku yang berada di samping meja kerjanya. Apa itu benda hitam-besar yang bergerak-gerak di bawah rak? Apakah seekor tikus? Ia tidak mengeceknya. Ia memalingkan mata dan membayangkan bisa jadi itu cuma halusinasinya, atau perasaannya, atau mungkin itu cuma kaleng, sebuah bola, kantong plastik, seekor kucing, meskipun tidak tertutup kemungkinan bahwa itu adalah… tiba-tiba Eriko terlonjak dari kursinya, dan kali ini punggung kursinya patah. Tentu saja Eriko telah melihat sesuatu melintas di atas meja kerjanya. Tapi sebaiknya kita tak perlu tahu itu apa.***

Tambun Selatan-Bekasi, 16 November 2023


Erwin Setia lahir pada 14 September. Penulis lepas. Aktif menulis karya fiksi dan esai. Tinggal di Bekasi. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Seperti Melihat Jurang

Cerpen Yeni Kartikasari

Dua bulan setelah kebakaran itu, aku suka pergi ke taman. Tidak ada alasan lain, kecuali aku ingin menatap gumpalan awan di langit. Sebab, gumpalan awan itu mampu membuatku tenang dan damai. Biasanya awan-awan itu turun perlahan mendekatiku, menyelimuti pandanganku dengan kabut putih sampai tubuhku terasa melayang. Namun, kali ini berbeda, awan yang turun begitu kelabu, bergulung-gulung menghampiriku—membuat mataku menerobos asap hitam yang kedalamannya melebihi jurang tak berdasar.

“Siapa kau?” tanyaku.

Dari kejauhan, sebuah bayangan bergerak-gerak ke arahku. Aku ingin berteriak, tapi tak bisa. Aku ingin beranjak, tapi tak mampu. Air wajahku dingin, jantungku berdegup kencang.

“Kang?” sapa suara itu sebelum telingaku berdenging.

Dari lembut suaranya dan aroma kasturi yang kucium, aku menyadari kehadiran istriku. Sungguh, sudah lama aku tak bertemu. Setiap hari aku menanggung sepi, sendirian saja menjalani kehidupan yang tak cepat berakhir.

“Ci?” tanyaku.

Tak ada sepatah kata yang bisa kudengar. Aku tak tahu, ia membalas sapaanku atau tidak. Seiring pendengaranku yang memekak, potongan-potongan peristiwa di hari paling nahas itu terlintas.

Kala itu, aku dan Cici belum lama menikah, belum sempat benar-benar mencurahkan cinta, menjelang surup rumah kami dihantam ledakan. Di ruang tamu, aku bersama keluargaku terkena runtuhan dinding, sementara istriku menjerit-jerit terjebak api di dapur. Aku ingin menolongnya, tapi aku sulit bergerak. Beberapa saat, aku melihat istriku disergap segerombolan lelaki dan dibopong ke tepi rumah. Aku sangat takut. Kuteriaki mereka sebagai bajingan dan kuserapahi habis-habisan. Ketika aku bisa keluar dari himpitan tembok, kucari istriku dengan tubuh penuh luka koyak dan kaki pincang.

Sungguh, aku hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya ketika mendapati istriku terkapar tanpa sehelai pakaian. Detik itu, lekas kupeluk sekujur tubuhnya yang lebam dan pangkal pahanya yang terus mengalir darah. Aku masih berharap ia hidup, meski separuh keyakinanku benar-benar diliputi keraguan.

Tertatih-tatih, istriku kugendong keluar rumah. Kuabaikan sejenak keluargaku yang sedang bersusah payah menyelamatkan diri. Aku berjalan cepat melewati mereka dan berusaha meminta bantuan orang lain, tetapi tetangga-tetangga di sekitar rumah tampak gamang dan berusaha menjauh.

“Tolong! Tolong kami! Antar kami ke rumah sakit!” desakku kala itu, kepada warga yang menyembunyikan ketakutannya dengan kedua tangan terkatup di mulut. “Bantu orangtuaku juga. Mereka di dalam. Tolong!”

Hingga akhirnya, aku hanya bisa menyimpan dendam setelah istri dan keluargaku terkubur. Sehari setelah peristiwa itu, kudatangi kantor polisi meminta keadilan. Kepada para polisi, aku menyalahkan mereka dan orang-orang yang tak sigap memberi bantuan. Kuceritakan pula, betapa kejinya perbuatan segerombolan lelaki itu dan orang yang telah melempar ledakan. Padahal aku tidak punya salah. Keluargaku tidak pantas dijadikan sasaran kesalahan.

“Mereka buat hidup saya sengsara, Pak! Tolong!”

Namun, polisi justru memalingkan muka. Kupaksa mereka mengusut pelaku, tapi aku justru digebuk berulang kali.

“Kami tidak ikut campur,” kata salah seorang dari mereka.

Mendengar ungkapan itu, aku menyesal pernah lahir sebagai pribumi. Belum genap dua puluh tahun tanah air ini memerdekakan rakyatnya, aku merasa hak kemanusiaan keluargaku bagaikan sampah.

“Bajingan!” umpatku.

Sejak peristiwa itu, hidupku kosong. Dan, kekosongan itulah yang kini benar-benar kembali kurasakan.

Asap hitam berputar ke arahku. Membelit tubuhku. Dan, semakin lama bergerak ke atas, menciptakan udara paling dingin. Ketika mataku menjadi kabur, tetapi pendengaranku berangsur pulih, lamat-lamat sampailah gema suara itu kepadaku, “Kang, seberapa besar cintamu?”

Seberapa besar? batinku. Sampai Cici menjadi istriku, memang aku belum pernah menjawab pertanyaan itu. Bahkan kali ini, aku masih belum menemukan pengibaratan yang sepadan. Jujur saja, aku tak suka mengatakan cinta, tetapi langsung menunjukkannya. Maka, sering kuajak ia jalan-jalan, menonton di bioskop, dan membaca koran. Aku juga mengajarinya berbahasa inggris dan menceritakan kepadanya tentang kisah-kisah masa lalu. Sengaja kulakukan itu, sebab aku tahu, sebagai perempuan Cici harus punya pengalaman dan pengetahuan luas.

“Kang?” sapanya lagi.

Alih-alih ingin menjawab, tenggorokanku seperti menelan duri. Aku terbatuk-batuk, tapi tak ada suara.

Seiring dengan tubuhku yang mulai melemas, hatiku bergetar saat terbayang masa-masa aku pindah rumah dan menjalani hari-hari yang malang. Sudah dua bulan, hampir setiap waktu, tak bisa terhitung berapa kali mendiang istriku berkeliaran di benak. Aku kerap mendengarnya memanggil namaku, datang mencolek pinggangku, dan diam-diam seperti memeluk tubuhku. Sering pula aku merasa ia tersenyum, melambai-lambaikan tangannya, dan sesekali menggodaku agar aku berlari mengejarnya.

Pernah suatu masa, di dalam rumah, aku mengejarnya sampai ke pintu, namun saat aku mencoba meraih tangannya, ia lenyap dan tiba-tiba berpindah di dekat bingkai jendela. Dari sinar matahari yang terlalu silau, tubuh istriku tampak seperti siluet perempuan berambut panjang dengan gaun pendek yang teramat anggun. Ia terlihat menawan. Aku sungguh bahagia, meski setelahnya aku tetap menyadari bahwa semua itu bagaikan aku sedang berjalan-jalan di siang bolong dan melihat genangan air dari kejauhan.

Maka, aku memaklumi diriku sendiri, jika di taman ini, saat aku duduk di kursi paling ujung, di bawah deretan ketapang kencana, dan di antara warna-warni tumbuhan pacar air, aku kerap mengenang masa-masa terindah bersama istriku. Aku selalu membayangkan ketika kami duduk di dekat danau sambil makan kue keranjang yang begitu legit dan kenyal. Istriku mengatakan kue keranjang akan lebih nikmat jika dicampur parutan kelapa. Baginya, rasa kue itu akan jadi gurih dan ada asin-asinnya. Aku ingat saat itu kami tertawa karena kami teringat dengan ongol-ongol, jajanan dari tepung sagu yang mirip dengan kue keranjang, apabila kue itu benar-benar diberi parutan kelapa. Dan, tawa kami semakin lepas, ketika Cici bilang bahwa kue keranjang adalah sanak saudara dari dodol.

Pembicaraan itu selalu terngiang, sampai ketika aku memandang langit, aku merasa istriku sedang ada di atas sana. Maka, aku senang sekali saat awan-awan itu turun perlahan mendekatiku, menyelimuti pandanganku dengan kabut putih sampai tubuhku terasa melayang. Ada ketenangan dan kedamaian yang kurasakan, meski aku tak bisa melihatnya ada.

Namun kali ini, jangankan untuk merasakan ketenangan dan kedamaian, tanpa tanda-tanda ganjil sebelumnya, gumpalan awan yang biasa kutatap menjadi begitu kelabu. Aku gusar melihat sergahan asap hitam, gerak bayang-bayang, suara-suara, aroma kasturi, dan pendengaran serta penglihatanku yang mendadak tak berfungsi.

“Kau di mana, Ci?” gumamku.

Ketika aku hendak berjalan, mencari sosok yang kuyakini sebagai istriku, asap hitam semakin bergulung-gulung, sebelum pada akhirnya menyebar, dan membuatku tergelincir ke jurang.***


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo. Menyukai ice cream dan cokelat.

Cerpen

Makan Pagi Paling Indah

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Sepiringnasi goreng iga bakar disajikan Ratih. Sepasang mata Pak Jo terbelalak. Rasa lapar dan  selera makannya bangkit. Tak terkendali seperti masa kanak-kanak. Di restoran hotel itu Ratih duduk menghadap meja kayu jati, berseberangan dengan Pak Jo. Semua orang menyapa Pak Jo. Ia  seorang guru besar, pembicara dalam forum seminar. Lelaki setengah baya itu  hanya memperhatikan Ratih, perempuan beralis tebal, dengan rambut sebahu, berkacamata minus setengah. Di hadapan Pak Jo, perempuan  itu menjaga kesopanan.   

“Kau suka masak nasi goreng?” tanya Pak Jo pada Ratih, seorang dosen muda, kandidat doktor.

Ratih memandangi Pak Jo, promotor disertasinya, dengan jenaka.

Lelaki setengah baya itu iseng bertanya tentang makan pagi kesukaan Ratih. Ia selalu memasak nasi goreng pada pagi hari, tetapi tak pernah memenuhi seleranya, Anak  gadisnya, Sekar, sebelum menikah, kadang memasak nasi goreng untuknya, tetapi terlalu banyak sayur.  

“Saya sering masak nasi goreng untuk sarapan suami,” kata Ratih.

“Apa suamimu bersyukur?” Pak Jo merasa perlu mengajukan pertanyaan ini. Ia masih ingat akan perangai  Sekar,  yang selalu menuntutnya mengucapkan rasa terimakasih ketika menyajikan sepiring nasi goreng yang penuh sayur dan cenderung hambar.   

“Ia pandai memuji masakan istri,”  kata Ratih, tenang.

“Apa dia tak pernah meminta sarapan lain, selain nasi goreng?”

“Sesekali ia minta nasi goreng pete,” kata Ratih. Ia mengingat perilaku suaminya yang jenaka saat makan nasi goreng pete. “Aroma pete membuatnya lahap makan.”

“Istriku dulu suka masak nasi goreng babat gongso. Tak seorang pun bisa menandingi kelezatannya. Nasi  goreng iga bakar yang kita makan ini, kalah lezat dengan masakan istriku.”

Berceritalah Pak Jo  pada Ratih mengenai kelezatan  nasi goreng sapi, nasi goreng kambing, nasi goreng ikan asin, nasi goreng kornet, nasi goreng sambal cumi pete, nasi goreng udang, nasi goreng magelangan, nasi goreng padang, dan nasi goreng thailand. Mereka bertukar cerita, dan tak ingin diganggu siapa pun. Orang-orang yang mengenal Pak Jo menyapa, tetapi tak pernah berani bergabung ke mejanya. Lelaki setengah baya itu menikmati makan pagi yang lezat, setelah sepuluh tahun tak pernah merasakannya, sejak istrinya meninggal.  Sepasang mata Ratih menampakkan cahaya ketakjuban selama sarapan, dan lelaki setengah baya itu merasa nikmat tiap sendok nasi goreng iga bakar. Tiap teguk kopi terasa lezat dalam cecapan ujung lidahnya.  

***

Usaimenjadi pembicara di hotel, menjelang sore Pak Jo meninggalkan ruang seminar. Berlari-lari kecil Ratih mengajak  suaminya menemui Pak Jo di pelataran hotel, dekat air mancur, kolam ikan, dan taman. Seorang lelaki kurus, rambut gondrong, berkacamata tebal, menyalami Pak Jo.

“Ini suamiku,” kata Ratih, “seorang wartawan.”

Tercium  bau keringat dan rokok yang menyengat. Pak Jo teringat akan kesukaan lelaki ini makan nasi goreng pete.  Ia menahan senyum, tak bisa berbincang lama dengan Ratih dan suaminya.  Ia bergegas ke ruang parkir mobil. “Sampai besok, kita bertemu di ruang ujian promosi doktor!”

Meninggalkan hotel di pinggir kota, lelaki setengah baya itu memasuki pelataran rumah yang senyap. Tanaman-tanamannya layu, beberapa hari tak disiram. Ia membuka pintu rumah, dan seekor kucing berlarian mengikuti langkahnya.

Malam itu Pak Jo suntuk membaca disertasi Ratih.  Sebuah  taksi berhenti di depan rumah. Anak sulung dan istrinya, Alya,  datang dari ibu kota, meramaikan suasana rumah. Anak sulung datang untuk urusan kerja, dan Alya  ikut suami untuk jalan-jalan.  Alya  membawakan banyak makanan, dan terus-menerus mengajaknya ngobrol. 

Pak Jo mulai membandingkan Alya dengan Ratih. Ia sempat berpikir, kenapa Alya tak semenarik Ratih, yang akan diuji disertainya besok? Lelaki setengah baya itu mulai melihat penampilan Alya: alis, sepasang mata, dandanan, cara berpakaian, dan cara bicaranya. Alya tampil dengan gemerlap. Ratih tampil dengan apa adanya.  

“Bagaimana kalau Alya  memasak nasi goreng besok pagi?”

“Besok akan tersaji makan pagi paling indah bagi Ayah.”

Pak Jo berharap besok pagi akan menikmati nasi goreng, telur dadar, dan secangkir kopi yang memberinya keceriaan.  Ia juga memerlukan teman ngobrol seperti Ratih.   

***         

Lepas subuh, Pak Jo berjalan kaki mengitari gang-gang, mencapai taman bougenvile dan buru-buru pulang. Ia merasakan tubuhnya segar, duduk di teras, membaca koran, mandi, berdandan, dan menghampiri meja makan. Tetapi alangkah sepi meja makan itu. Alya dan anak sulungnya tidak  berada di hadapannya. Ia seorang diri, mencecap kopi yang hambar. Anak sulung dan menantunya bergegas menyalaminya, mohon diri. Anak sulungnya akan mengunjungi tempat kerja. Menantunya menemui seorang sahabat, dan mereka berjanji akan berjalan-jalan berdua.

Pak Jo mengambil nasi goreng masakan Alya. Ia  sarapan dalam senyap seorang diri. Dalam suapan pertama, lidahnya tersengat rasa pedas. Telur dadar yang dikunyahnya terasa asin. Ia bimbang, ingin meninggalkan sarapan nasi goreng yang sudah dibayangkan semalam akan lezat.

Terdiam, merenung seorang diri di meja makan, ia teringat akan godaan seorang teman, “Tunggu apa lagi? Kau perlu seseorang istri yang membuatkanmu sarapan nasi goreng!”

Pak Jo memaksakan diri untuk menyuap beberapa sendok nasi goreng yang terlalu pedas, mengunyah telor dadar yang asin, dan mencecap kopi yang hambar. Ia memberikan nasi goreng dan telor dadar pada kucing. Nasi  goreng itu cuma diendus-endus. Telur dadar itu yang dimakannya. Nasi goreng pedas itu diabaikan kucing.

Mencuci piring dan cangkir, Pak Jo kembali duduk menghadap meja makan. Memandangi lukisan besar di dinding. Istrinya tersenyum tipis, dengan kebaya dan rambut disanggul. Sepasang matanya bening, dan selalu ia ingat godaannya tiap pagi, “Nasi goreng babat gongso sudah matang. Ayo, dimakan, mumpung hangat!”

Mereka makan bersama. Selalu  Pak Jo merasakan kelezatan dalam tiap bulir nasi goreng babat gongso yang dimasak istrinya. Ada  senyum tipis dalam celah bibir itu, terpancar cahaya bening di balik kacamata. Dan Pak Jo, akan marah sekali setiap kali seorang teman membujuknya untuk kembali menikah dengan seorang janda yang diperkenalkan padanya. “Kau kira akan mudah bagiku untuk menerima istri baru?”

Pak Jo mengusir kucingnya keluar rumah, mengunci pintu, menghampiri garasi. Ia  mengendarai mobil pelan-pelan, berangkat ke kampus. Masih terlalu pagi. Ia mencapai kampus, menuju ruang tunggu dosen penguji disertasi. Berperangai  lembut, Ratih  menyambutnya,  menyuguhkan sepiring nasi goreng babat gongso dengan acar, taburan bawang goreng, dan kerupuk. Aroma nasi goreng itu persis yang disajikan istrinya tiap pagi di meja makan. Dalam suapan pertama, ia menikmati kelezatan nasi goreng itu. Lahap sekali ia menghabiskan nasi goreng babat gongso, dan menemukan seluruh kenikmatan makan pagi sepuluh tahun silam bersama istri.   

Pandana Merdeka, Januari 2024


          S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018).  Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit  Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021.  Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).