Cerpen

Naga/Na.ga /n Suatu Hari, Suatu Hari Roti Kukus Jadi Bubur

Cerpen Beri Hanna

Seekor naga dan roti kukus menjadi bubur selalu terbayang ketika saya membaca novel karangan Nawir. Dia melihat seorang berjalan kemudian menghilang pada suatu malam. Entah apa maksudnya. Kata-kata seperti baris puisi dalam gelas wiski. Kuat seperti akan membekas tetapi cepat terlupakan ketika kau tertidur.

Saya selalu bertanya, mengapa seseorang bisa makan roti dan seseorang yang lain bisa memakan kacang? Pertanyaan saya berlanjut hingga apa pentingnya pertanyaan-pertanyaan semacam itu! Kadang saya merasa pusing, kadang kala tidak. Kadang saya diam memikirkan sesuatu yang diam dan sunyi, dalam arti tidak ada. Ketika saya sampaikan apa yang saya pikirkan ini kepada seorang teman, dia kemudian berkata, lebih baik saya menggiling biji kopi kemudian merebus air.

Masalahnya saya selalu lupa, di mana saya telah menyalakan kompor gas untuk memanaskan air. Apakah benar di dapur? Tetapi perasaan saya, tidak demikian, melainkan di sebuah lorong semacam pipa parabola. Kadang tiap kali mengerjakan sesuatu saya selalu teringat hal lain. Seperti gangguan sinyal satelit yang menyedot piksel menjadi titik semut.

Seperti seorang anak kecil pernah menyanyikan lagu Benyamin Sueb, Kompor Meleduk. Hati-hati, kata anak kecil ini kemudian mengingatkan. Dalam lirik lagu itu, ada kata Jakarta Kebanjiran. Apakah benar? Saya tidak tahu karena tiang parabola di rumah seingat saya telah menjadi dapur.

“Apa, sih yang kamu pikirin?” begitu tanya teman saya, seperti kesal. Tapi saya diam, tidak menjawabnya.

Saya selalu ingin diam dalam kata-kata sebuah cerita yang mengganggu. Karena itu akan membuat saya sibuk bertanya. Menimbang satu keadaan dengan keadaan lain. Tapi saya selalu dianggap aneh.

Tentang seekor naga dan roti kukus, kerap dianggap semacam ilusi yang diada-adakan dalam igauan. Saya berkali-kali diingatkan untuk tidak membaca novel. “Semua novel itu racun,” kata teman saya, keras melarang. Dan karena saya tidak peduli, takdir membawa semua novel-novel itu terkubur pada suatu tempat yang tidak lagi diketahui.

“Suatu hari kau pasti paham,” kata teman saya.

Saya memang akhirnya mengerti, bahwa hidup teman saya, bernasib seperti novel-novel itu.

Seorang tetangga yang selama ini tidak peduli, mengantarkan saya pada sebuah tempat, dan dia menunjuk sambil berkata meyakinkan, “Di sini temanmu tertidur.”

“Suatu hari,” katanya yang tak ingin saya dengar. Saya tahu, dia mungkin akan berkata persis seperti yang ditulis Nawir di dalam novelnya. Seseorang bisa saja berjalan pada suatu malam dan kemudian menghilang begitu saja. Tanpa diketahui, tanpa diinginkan kembali.

Saya tak berkata apa-apa saat itu. Dan tak berlama-lama di tempat itu. Saya segera pulang, kemudian menyalakan teve mencari hiburan. Mencuci baju, mengisi teka-teki silang, berjalan-jalan mencari udara dan memesan tiket bioskop tanpa teman saya.

Hari-hari berjalan seperti biasa, persis ketika saya selalu membayangkan naga dan roti kukus jadi bubur. Seorang anak kecil masih menggemari lagu Benyamin. Ia selalu bernyanyi keras sehingga saya ikut hafal bagaimana lagu itu seharusnya dinyanyikan.


Beri Hanna, penulis dan arsiparis liar.