Cerpen Drei Herba
Baru kali ini seorang laki-laki datang dengan permintaan
aneh. Bagi tukang reparasi sepertiku, hanya sedikit peristiwa tak masuk akal
pernah menyasar. Ingin kutolak andai sorot mata laki-laki dihadapanku itu tak
lebih dulu mencegah. Tetapi bagaimana mungkin mengabulkan permintaan
musykilnya, memperbaiki arloji sekaligus kenangan di dalamnya?
“Ini pemberian kekasihku.” Tangannya menyodorkan sebuah
arloji bulat berwana biru tua dengan strap rubber hitam menyulur
sepanjang enam atau tujuh senti. Bukan arloji branded, juga tak terlihat
begitu istimewa. Hanya arloji pasaran seharga di bawah seratus ribuan.
“Tolong perbaikilah.” Tatapannya memohon. “Aku akan
membayar berapa pun biayanya.” Mataku yang menatap jam tangan segera beralih
memandang ke arahnya. Ucapan terakhirnya itu sama sekali tak simetris dengan
penampilannya yang tak mengesankan. “Saya memang tidak punya uang saat ini,
tapi saya berjanji akan segera membayarnya,” timpalnya setelah membaca caraku
memandang.
Aku menggaruk rambutku yang tak benar-benar gatal. Aku
memang tukang reparasi arloji, tapi memperbaiki kenangan di dalamnya? Itu bukan
keahlianku. Itu soal masa lalu, dan masa lalu selalu tentang waktu. Sementara
arloji hanya alat menakar, membaca bentuk waktu yang abstrak.
Ingin sekali aku mengkhutbahinya, namun ucapanku kembali
tertahan oleh sorot matanya. Aku kembali pura-pura memeriksa tiap inci arloji
itu. Jarumnya masih terlihat normal, sedikit menatih karenq terdorong oleh
langkah jarum paling tipis.
Dengan menahan sebisaku, setidaknya, aku dapat merawat
harapannya lebih panjang. Lagi pula, ia tak benar-benar ingin memperbaiki
arloji ini, ia hanya ingin bercerita. Tapi sorot mata itu, justru membawaku
pada ingatan sepuluh tahun silam; ingatan yang tak sepenuhnya terhapus.
Air mataku dengan sendirinya rebah, menyeka kaca arloji
yang terlihat mulai kusam ini. Peristiwa itu membawaku kemari. Aku berpikir
apakah bentuk sorot mataku saat itu sama dengan sorot mata laki-laki di
hadapanku ini?
Hal itu bermula dari kedatangan kabar yang menabrakku.
Tak ada gerimis, malam teramat sunyi untuk mengalamatkan pertengkaran. Tapi,
tepatkah peristiwa itu disebut pertengkaran? Bukankah itu hanya kepasrahan,
malam saat membuka surat darinya, menerima kabar tentang pertunangan Mayda.
Apakah aku marah? Tidak! Tentu saja! Bagaimana caraku
marah? Toh, itu hanya sebuah surat. Tidak langsung terucap dalam sebuah
pertemuan.
Aku nyaris lupa obsesiku tentang arloji, melihat
bagaimana caranya memutar serta mendengar suara tiktoknya memekik. Sepuluh
tahun lamanya, sejak kali pertama mereparasi arloji, lalu kemudian sorot
laki-laki ini, menggugah kenangan itu kembali.
Kala itu aku penasaran sekalipun jarum yang terus
berjalan tapi akan selalu membawa kembali ke tempat asal. Tapi, jarum yang sama
tak dapat mengembalikan kenangan ke tempat ia berawal. Jarum itu saja yang
berjalan sirkular, melingkar. Tidak dengan kehidupan yang kujalani, perjalanan
linear tanpa ujung pangkal.
Aku terlalu sibuk dengan kenanganku, sampai lupa bahwa
laki-laki di depanku ini, masih terus menanti dengan gelisah. Masih terselip
harapan dari tanganku yang pura-pura serius memeriksa arlojinya, “Kawan,
arlojimu bisa kuperbaiki, tapi sulit rasanya bila sekaligus membenahi kenangan
di dalamnya?”
“Tidak bisakah memutar balik arah jarumnya?” nadanya
terdengarseparau harapannya yang kini mulai mengikis, “bukankah dengan begitu
akan membawaku kembali ke masa lalu?”
Dulu aku juga pernah berkeinginan seperti itu. Aku ingin
bilang itu mustahil, tapi sorot matanya kembali menahan bibirku. Aku masih
ingin merawat harapannya. Hanya itu yang dimiliki, satu-satunya alasan tetap
melanjutkan hidup. Lalu, aku harus mengutara dusta seperti apa lagi?
Kini bibirnya terbata-bata bercerita peristiwa pada
sebuah malam. Dingin kemarau telah membawa birahinya. Di ranjang yang tinggal
kerinduan, ia luapkan bertubi-tubi ciuman. Bibirnya, ibarat kapal yang kini
mendarat ke dermaga bibir kekasihnya. Temaram lampu dan sprei menjadi saksi
sepasang tubuh itu saling merengkuh. Bersahutan. Membuncah. Mendesah.
Air matanya patah, tertarik gravitasi, rembas perlahan ke
pipinya. Malam itu, perjumpaan terakhir, bahkan dalam sebuah perpisahan yang
tak pernah tuntas terucap.
“Kekasihmu mati? Benar bukan? Kecelakaan?” sergahku.
“Tidak! Tapi,” katanya lagi, “toh tak ada bedanya. Aku
tetap sama-sama kehilangan.”
“Maksudnya?”
Ia lanjutkan ceritanya, kekasihnya akan pindah kerja, dan
keesokan harinya ia mengantar. Sementara, ia masih juga tak lulus-lulus kuliah,
dan hanya bisa menghadiahi kekasihnya itu dengan potongan puisi. Tapi potongan
kata itu tak lagi bisamenahan. Sebulan berikutnya, kabar tak mengenakkan dan
yang tak disangka-sangka itu mengiang.
Setelah menggoret kenangan, dan kemudian kenangan itu
mengakar pada dirinya. Kekasihnya justru pergi meninggalkan, lalu bertunangan
dengan rekan kerja barunya. Laki-laki yang baru semingguan ia jumpai.
Lalu terdiam ia, suasana menjadi begitu sunyi, menyayat.
Aku juga diam.
Seumpama belati, cerita itu kini juga mengiris
kenanganku, mencacahnya perlahan, kembali merobek luka itu.
Surat malam itu juga tak pernah kusangka-sangka. Itu
kira-kira terjadi sebulanan setelah kekasihku memutuskan pulang ke rumahnya.
Sebelumnya, ia jatuh ke dalam pundakku. Air matanya rebah, “Ayahku bilang,
kerjaku di sini tak menghasilkan apa-apa. Bukankah keberhasilan tak selamanya
harus ditakar dengan materi?”
“Lalu bagaimana? Biaya hidup di kota memang mahal, sulit
bila hanya ditambal hanya dengan mengajar”
“Kata ayah dengan aku kembali, mungkin akan jauh lebih
menghasilkan.” Ia masih ingat percakapan itu, sebelum sebulan kemudian,
menerima surat yang sama. Aih, betapa kini kenangan itu kembali datang
menyiksaku.
Aku tatap kembali laki-laki di hadapanku, ia masih tetap
menunggu, padahal aku hanya pura-pura memperbaiki arlojinya.
“Apakah kamu yakin dengan cara kembali ke masa lalu akan
menyudahi segalanya?” aku coba meyakinkan, namun matanya segera menatapku.Lekat.
Ia tak menjawab. Aku yakin pikirannya kini sekacau pikiranku
saat itu, “aku hanya tak ingin memulai apa yang tak bisa aku akhiri”
“Lantas?”
“Aku hanya ingin mengakhiri sebelum memulainya, sebelum
ia menjadi peristiwa, sebelum ia menjelma kenangan yang menyika” katanya lagi,
“anda bisa memperbaiki arloji saya kan? Saya tidak tahu mengapa itu bisa rusak
padahal saya belum pernah memakainya.”
“Bagaimana mungkin anda tak pernah memakai pemberian
kekasih anda? Apa anda tak menyukai pemberian itu? Lalu untuk apa membawanya
kemari?”
“Ah, tidak.” Elaknya, “Justru dengan cara itu saya
menjaganya. Saya tidak ingin kalau nantinya arloji ini akan lecet. Lagi pula,
coba bayangkan, apakah arloji ini cocok untuk orang seperti saya ini?”
senyumnya menyeringai. Itu senyum pertama yang kudapat dari laki-laki ini.
“Sebetulnya, arloji anda tidak rusak, hanya perlu
mengganti dengan batrei” aku mulai lebih terbuka, “hanya saja, sulit rasanya dengan
permintaan terakhir anda”
“Bukankah anda sudah bertahun-tahun bergelut dengan
arloji? Apakah anda tak benar-benar punya cara? Tolong, jangan sembunyikan
keahlian itu dari saya!”
Lagi-lagi, ucapan laki-laki itu kembali mengantar
kenanganku. Aku tak pernah menyukai arloji, dan bekerja seperti ini juga bukan
cita-citaku. Tapi kekasihku, membuat itu lain, membuatku ingin merawat waktu.
Arloji yang pernah ia berikan memang tak pernah kupakai, tapi itu karena aku
tak ingin menghitung waktu kebersamaan dengannya.
Namun, setelah menerima surat malam itu, setelah
kepergian Mayda justru membuatku ingin mengembalikan waktu yang dulu pernah
kurawat. Aku ingin menghapusnya.
Aku terhenyak tiba-tiba, sebuah kesadaran mendesak
kepalaku. Aku menatapnya, ia balik menatapku. Kami saling bersitatap. Lekat.
“Bagaimana kamu berpisah dengan kekasihmu?” tanyaku
sambil tetap memeriksa arloji yang sedari tadi telah berhasil memotret semua
kenanganku.
“Dua hari lalu, kekasihku mengirimi surat” Ia kembali
bercerita, “tepat sebulan setelah perpisahan itu, kekasihku memutuskan tunangan
dengan rekan barunya. Dapat kumaklumi, aku memang tak kunjung lulus kuliah”
sorot mata itu kembali layu, perih.
Aku terperangah, mataku terbelalak. Cerita laki-laki itu
terlalu sempurna untuk sebuah kebetulan dengan kisahku.
“Apakah kekasihmu bernama Mayda?” tanyaku.
Ia diam dan tak segera menjawab. Segera kuburu sorot mata
itu, aku ingin memastikan, menatapnya lebih tajam lagi. Namun,tak kudapatiapa
pun dihadapanku. Hanya cermin. Sebuah cermin memantulkan seogok wajah dengan
sorot mata begitumuram. Kemudian, seorang dalam cermin itu menuding ke arahku,
“Bisakah memperbaiki arloji sekaligus kenangan di dalamnya?”
Drei Herba T. Tinggal di Jogja. Menulis esai, cerpen dan puisi.