Cerpen Aris Rahman P. Putra
Jep
adalah salah satu teman yang dapat kupercaya, maka aku berinisiaif mengajaknya bersama Med untuk
melihat rumah Bik Merian, tempat yang sebetulnya terlarang untuk kami kunjungi.
Ben kerap menceritakan tentang kebiasaan mengerikan Bik Merian.
“Kau tahu, Bik Merian suka dengan anak kecil seperti kalian! Kalian akan direbus dalam sebuah kuali besar dan akan dijadikan sop bening!” kata Ben.
“Mengapa ia melakukan itu?” tanya Med agak gemetar.
“Untuk dijadikan ramuan awet muda!”
Apa yang dikatakan oleh Ben tentang Bik Merian membuat Med berjanji untuk tak pernah bermain di sekitar rumahnya, apalagi sampai memasuki pagar. Tapi itu sama sekali tidak menurunkan rasa penasaranku. Kupikir ia sedang berupaya membohongi kami. Sama seperti kebohongannya tentang danau di belakang sekolah yang menjadi tempat tinggal Kadal Buntung atau keberadaan Macan Berkepala Manusia di hutan Jati.
Maka dari itu, pagi-pagi sekali aku mengajak Med dan Jep untuk mengintai rumah Bik Merian. Tapi sebagaimana bisa ditebak, Med menolak ajakanku mentah-mentah.
“Aku tak ingin dijadikan sop bening!”
“Tak akan ada yang menjadikanmu sop bening, Med!”
“Apa kau lupa apa yang pernah diceritakan Ben?”
“Apa kau benar-benar percaya apa yang dikatakan Ben?”
“Oh, ya, Tuhan, apa kau tak percaya apa yang dikatakan Ben, Ris?”
“Ayolah … apa kau tidak penasaran dan ingin membuktikannya sendiri?”
Sementara aku dan Med berdebat, Jep masih terdiam memandangi setumpuk buku bacaan yang ada di kamar kami. Ia memerhatikan sampul dan membuka beberapa buku dan tak lama kemudian menaruhnya kembali di tempat semula.
“Gimana menurutmu, Jep?” tanyaku.
Jep tampak kaget dan segera mengalihkan pandangannya dari tumpukan buku itu. “Oh, Ris. Kau tentu tahu di sana juga ada banyak kucing garong!”
“Apa yang perlu ditakutkan dari kucing garong?”
“Kucing garong bisa lari kencang, memiliki kuku yang cukup tajam untuk mencongkel bola matamu, dan memiliki taring seperti pisau untuk mencincang daging empuk seperti punya kita.”
“Dari mana kau dapat informasi seperti itu?” tanya Med.
“Jangan bilang kau mendengarnya dari
Ben?” potongku.
“Aku memang mengetahui hal itu dari dia. Dia tinggal di sini lebih dulu daripada kita bertiga dan dia mengenal desa kecil ini seperti ia mengenal saudaranya sendiri.”
Mendengar jawaban itu aku sedikit muak. Memang benar bahwa Ben tinggal di daerah ini lebih dulu dan juga ia setahun lebih tua dari kami. Beberapa saat lalu ia berkata padaku bahwa ada Kadal Buntung di danau belakang sekolah. Aku yang tak langsung percaya pun sepulang sekolah langsung pergi mengamati danau hingga langit nyaris gelap, tapi aku hanya melihat ikan kecil-kecil dan kodok dan sama sekali tidak melihat kadal raksasa berwarna hijau yang menyembul dari dalam air. Mulai sekarang, selama apa yang dikatakan Ben tak terbukti, aku tidak akan memercayai apa pun yang keluar dari mulutnya. Seseorang tidak bisa lagi dilarang melakukan sesuatu tanpa diberi penjelasan mengapa ia tak boleh melakukan hal tersebut, apalagi diberi penjelasan yang sama sekali tidak masuk akal, itu sama saja pembodohan!
“Baik, lupakan soal apa yang telah dikatakan Ben,” kataku kemudian. “Bagaimana kalau kita membuktikannya sendiri?”
“Apa kau sudah gila, Ris?” kata Med.
“Tidak, tidak, aku bakal menyusun strategi agar kita bisa tetap dalam kondisi aman. Atau kalau perlu, aku akan mengajak Ben.”
“Baiklah, tapi ingat, kita mesti sudah pulang sebelum langit gelap.” kata Jep sambil menatap langit dari jendela kamar
Sebelum genap pukul tiga siang, kami dan Ben sudah sepakat untuk melakukan penyelidikan terhadap rumah Bik Merian. Pada awalnya ia bersikeras tak mau menemani kami karena ia tak mau berakhir menjadi sop bening. Ia mengatakan kembali pada kami bahwa Bik Merian adalah seorang dukun yang menguasai ilmu tenung, lalu bersembunyi ke desa kami untuk melarikan diri setelah membunuh seorang gadis berusia 12 tahun dan merebusnya menjadi sop bening untuk ramuan awet muda. Ia berkata bahwa apa yang akan kami lakukan cukup gila dan berbahaya. Namun, setelah aku memaksanya dengan sedikit menyindir bahwa ia hanya seorang penakut yang hobi membual, ia kemudian setuju untuk ikut dengan kami. Karena bisa jadi penyidikan ini akan benar-benar sangat berbahaya bagi kami, maka masing-masing dari kami berinisiatif untuk membawa barang-barang yang mungkin akan sangat dibutuhkan saat penyelidikan.
Ben
membawa segenggam bawang putih yang ia ambil dari dapur rumahnya. Ia
berkeyakinan bahwa Bik Merian tidak akan suka dengan anak yang bau bawang. Jadi
ketika nanti ia tertangkap oleh Bik Merian, Ben akan buru-buru makan bawang
putih itu supaya Bik Merian melepaskannya dan tidak menjadikannya sebagai sop
bening. Itu ide yang baik, setidaknya bila apa yang diperkirakan Ben benar,
kami bisa minta bawang putih kepadanya dan kami bisa menyelamatkan diri. Tapi
aku sendiri tak benar-benar yakin dengan bawang putih karena kupikir itu hanya
mempan untuk drakula dan Bik Merian bukan drakula.
Jep
tentu lain cerita, ia pulang ke rumah dan kembali lagi dengan membawa tasbih.
Ia merasa yakin bahwa dengan membawa tasbih tersebut, ia akan terhindar dari
energi yang jahat atau marabahaya apa pun yang mengancamnya.
Sementara
itu, aku dan Med memilih membawa barang-barang kesayangan kami. Aku membawa
topi Timnas dan Med dengan boneka dinosaurus berwarna ungu. Jep dan Ben
mengatakan kepada kami bahwa benda-benda yang kami bawa sama sekali tak akan
berguna. Tapi aku dan Med sendiri memiliki alasan kenapa harus membawa barang
tersebut. Ya, bila memang nantinya kami akan benar-benar menjadi sop bening.
Aku dan Med sangat berharap bahwa barang-barang itulah yang akan membuat orang
tua kami mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah
semua sudah berkumpul di depan pagar sekolah, aku mulai menyusun rencana. Dalam
hal ini, aku akan menjadi pemimpin dalam operasi yang kuberi nama “Kami Harus
Pulang ke Rumah”.
“Baik
teman-teman, mari kumpul,” kataku. “Jadi begini, misi yang akan kita lakukan
ini sangat mudah. Yang perlu kita lakukan adalah menyusup ke rumah Bik Merian,
melakukan penyelidikan, lalu pulang ke rumah sebelum langit gelap.”
“Lalu,
gimana kita bisa masuk ke rumahnya?”
tanya Jep ragu.
“Emm
… kita bisa lewat pagar di samping rumahnya.”
“Bagaiamana
cara kita bisa meloloskan diri dari kucing-kucingnya?”
“Astaga,
tak ada yang perlu ditakutkan dari kucing-kucing itu, Jep!”
“Apa
kalian tak tahu kalau kucing-kucing Bik Merian bahkan bisa membunuh anjing?”
timpal Ben.
“Baiklah,
kita bisa membawa beberapa batu di saku celana masing-masing.”
“Apa
itu cukup?” tanya Jep.
“Setidaknya
kita berempat. Kita bisa saling menjaga. Apa ada lagi yang perlu ditanyakan?”
Semua
menggeleng dan kami pun segera memulai operasi yang akan kami lakukan. Rumah Bik
Merian letaknya tak terlalu jauh dari sekolah kami, namun cukup terpencil dan
terpisah dari rumah yang lain. Kami berjalan dengan perasaan campur aduk hingga
kemudian kami melihat rumahnya yang tampak gelap dan muram, seperti istana
milik penyihir dalam kartun yang tiap Minggu kami tonton. Pada dindingnya kau
akan dapat melihat tanaman-tanaman hijau merambat dan pohon-pohon besar dengan
dedaunan yang berserakan di halaman dibiarkan begitu saja. Pagarnya telah
berkarat sementara kaca jendelanya telah pecah di beberapa bagian. Atap
rumahnya berlubang di sana-sini. Dan seperti yang dikatakan Ben dan Jep, ada beberapa kucing hitam berkeliaran di
dalamnya.
Aku
masuk lebih dulu melalui celah di pagar samping, lalu disusul Jep, Med, dan Ben
yang terakhir. Kami berupaya melangkah seperlahan mungkin agar tidak menarik
perhatian kucing-kucing Bik Merian. Setelah sampai pada sebuah pohon,
kuperintahkan mereka untuk berhenti sejenak. Aku sendiri merangkak menuju
jendela yang berhadapan langsung dengan pohon tersebut dan mengintip keadaan di
dalam rumah.
Kupikir,
apa yang selama ini kubayangkan tentang Bik Merian tak terlalu jauh dengan apa
yang kulihat sekarang. Kemuraman yang tampak di luar rumah, tak terlampau
berbeda dengan apa yang ada di dalam. Sofa yang mestinya bewarna putih,
dipenuhi debu-debu dan bekas terbakar di beberapa bagian. Jahitannya juga telah
robek sehingga kapas-kapas bertebaran di atasnya. Mejanya penuh dengan
robekan-robekan kertas.
“Bagaimana,
Ris?”
Aku
menoleh dan mengacungkan jempolku kepada teman yang lain.
“Ben,
coba kau cek pintu belakang.”
“Aku
sendiri?”
“Jep
akan bersamamu.”
“Lalu
bagaimana dengan kau?”
“Aku
akan melihat pintu depan dan mencari pintu masuk lain. Kau ikut denganku, Med.
Tigapuluh detik lagi kita harus kembali ke sini.”
Dalam
sekejap kami segera berpencar.
Aku
memegangi lengan kanan Med dan kami mengendap-endap menuju halaman depan rumah,
mencoba merangkak melewati rerumputan dan dedaunan kering. Sementara tangan
kirinya masih memegang erat boneka kesayangannya.
“Sedikit
cepat, Med.”
Med
kemudian berhenti dan menarik kaosku.
“Apa
sebaiknya kita pulang saja, Ris?”
“Apa
maksudmu?”
“Kubilang
kita sebaiknya pulang saja.”
“Kita
sudah sejauh ini dan kau mengajak untuk pulang?”
“Ya,
kita sudah melangkah sejauh ini dan sebaiknya kita segera pulang.”
“Kenapa?”
“Perasaanku
tidak enak …”
“Oh,
ayolah, kau hanya takut. Sini, pegang tanganku.”
“Tidak,
Ris, aku benar-benar merasa tidak enak.”
“Kalau
kau memang ingin pulang, sana pulang sendiri!”
Aku
tak menghiraukan Med dan terus merangkak menuju bagian depan rumah. Apakah Med
benar-benar akan pulang, aku sudah tak lagi mempedulikannya. Semua rencana yang
kususun telah berjalan dengan baik dan dalam tahap ini, aku telah semakin dekat
dengan kebenaran.
Syukurlah
di halaman tak ada kucing-kucing sehingga tak ada lagi yang perlu ditakutkan.
Semua benar-benar berjalan lancar. Langkah terakhir yang perlu dilakukan adalah
membuka pintu ini dan mengetahui semuanya.
Aku
menjinjit dan berusaha mengintip keadaan di dalam rumah melalui kaca yang ada
di pintu depan. Dan, apa yang sedang kulihat sekarang benar-benar tak dapat
dipercaya.
Di
salah satu kamar di samping toilet, terlihat Bik Merian sedang bercakap-cakap
dengan seorang laki-laki di atas ranjang, dan yang mengagetkan, laki-laki itu
mirip ayah Ben, Pak Rasmusin.
Rambut
Bik Merian terlihat berantakan dengan hanya mengenakan pakaian dalam saja.
Sedang ayah Ben juga terlihat bertelanjang dada meski ia memakai celana dalam.
Mereka terlihat bahagia dan apa yang sedang mereka lakukan tampak seperti
sepasang orang dewasa yang telah menikah.
Aku
masih penasaran dengan apa yang terjadi sehingga kuputuskan untuk menyelinap ke
dalam. Pintu depan tak terkunci sehingga mudah untuk dibuka. Aku
mengendap-ngendap masuk dan lekas besembunyi di bawah meja di ruang tamu. Dari
sini, aku dapat mendengar percakapan Bik Merian dan ayah Ben meski agak
samar-samar.
“Jadi
kapan kita akan menikah?”
“Sebentar
lagi …”
“Dulu
juga kau bilang begitu, sebelumnya juga, sebelumnya juga…”
“Kali
ini aku serius. Aku telah mengurus surat cerai.”
“Benarkah?”
“Tentu
benar, sayang.”
“Bagaimana
keadaan anakmu, Ras?”
“Ia akan ikut ibunya.”
“Mengapa
tidak kita rawat dia, Ras? Aku bosan dengan kucing-kucing.”
“Ia takut denganmu, ia menganggapmu dukun
tenung.”
“Apa penampilanku semenyeramkan itu Ras?”
“Tidak,
kau adalah wanita tercantik yang pernah kukenal. Namun harus kuakui aktingmu
sangat bagus hingga dapat mengelabui anak kecil, bahkan setiap orang. Juga
keadaan rumah ini … sempurna, sangat sempurna!”
“Tapi
aku ingin merawat seorang anak Ras. Aku bosan dengan kucing-kucing.”
“Kita
akan memilikinya segera. Kalau perlu kau akan melahirkan 3 atau 4 anak dan kita
akan memulai hidup yang baru bersama-sama, meninggalkan masa lalu
masing-masing.”
Percakapan
yang sedang kudengar benar-benar terdengar jelas dari sini dan aku benar-benar
terkejut mendengar apa yang sedang dibicarakan meski aku tak memahami
seutuhnya. Namun sialnya, seekor kucing peliharaan Bik Merian terlihat datang
mendekat dan mengeong ke arahku. Spontan
aku berusaha melarikan diri dan berhasil keluar dari pintu dan menghambur ke
luar rumah secepat yang kubisa. Di pohon, kulihat Ben dan Jep sedang menungguku
dan aku memberi isyarat kepada mereka agar segera keluar dari tempat ini.
Sampai di depan sekolah kami menghentikan langkah kami dan menarik napas
sejenak.
“Ada
apa sebenarnya, Ris?”
“Tidak
apa-apa. Kurasa kita harus segera pulang ke rumah. Setelah ini aku akan
membuatkan kalian es jeruk. Emm … dan untukmu Ben, kuharap kau jangan terlalu
memercayai apa yang dikatakan oleh ayahmu.”
“Sebenarnya
apa yang baru kaulihat, Ris?”
“Tidak,
tidak ada apa-apa. Kuharap Med telah sampai di rumah sekarang. Kuharap di lain
hari ia berhasil mencegahku berbuat aneh-aneh. Kuharap Kadal Buntung benar-benar ada. Ah, mari kita segera pulang.” ***
(2019)
Aris Rahman P. Putra, lahir di Sidoarjo,
12 Juli 1995. Alumni Universitas
Airlangga Jurusan Antropologi. Kumpulan
cerpen perdananya berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland
Drive diterbitkan oleh Penerbit Basabasi.