Cerpen S. Prasetyo Utomo
Kembali
Dewi Laksmi dan calon suaminya,Wisnu, mendatangi
Arum, ibu yang meninggalkannya. Arum tengah suntuk berlatih menari. Beberapa
hari lagi iamesti mementaskan tari Dewi Kunti di salah satu gedung kesenian di
ibu kota – dengan tiket yang sudah habis terjual. Ia yang lama meninggalkan
suami dan anak-anak, bertanya dalam hati: benarkah
aku telah memerankan Dewi Kunti dalam kehidupanku dengan menyia-nyiakan anak
kandung? Ia merasa tidak seagung Dewi Kunti yang setia melindungi kelima anaknya yang lain.
Permintaan
penata tari Retno Ayu agar Arum memerankan Dewi Kunti dalam drama tari klasik
telah mengusik perasaannya. Ia sangat mengagumi tokoh itu. Ia bisa menangis
saat memerankan Dewi Kunti, saat menghadapi pertempuran dua anak kesayangannya:
Arjuna dan Karna. Dewi Kunti telah menyia-nyiakan Karna dari bayi hingga akhir
hayatnya.
Begitu
mudah Arum memerankan Dewi Kunti, dan begitu cepat ia larut dalam jiwa Dewi Kunti.
Terus-menerus ia mengulang menarikanlakonDewi Kunti, meski tanpa gamelan, di
setiap kesempatan.
Berhari-hari
Arum menarikan penderitaan Dewi Kunti dalam kisah kematian Karna dengan tubuh
bergetar. Seluruh gerak, mimik wajah, tatapan, dan getar suara Dewi Kunti
dihayatinya dengan kesempurnaan peran.
Dua
hari sebelum pementasan, Arum ditemui Dewi Laksmi dan Wisnu. “Apa Bunda tak
ingin kembali pada Ayah?”
Arum
masih bimbang. “Aku belum bisa memenuhi permohonanmu.”
“Apa
indahnya Bunda hidup sendiri?”
“Aku
punya dunia sendiri. Bekerja, menari, dan menemukan teman-teman sendiri.”
“Kenapa
dulu Bunda tak menuntut hal itu pada Ayah?”
“Sudahlah,
jangan mengungkit masa lalu,” tukas Arum. “Nikahlah. Semoga kau tak mengikuti
jejakku, setelah nikah justru mencari kebebasan masa muda yang hilang.”
Arum
ingin suntuk menarikan kegetiran jiwa Dewi Kunti. Tak mau direpotkan permintaan
Dewi Laksmi. Dibiarkan gadis itu dan calon suaminya meninggalkan rumahnya
dengan masgul. Ia terus menari, sambil melenyapkan bayangan wajah suami, anak
sulung, Wulan, dan Dewi Laksmi, yang bakal menikah tak lama lagi. Ia menari
untuk memenuhi dorongan hati. Ia terus mengikuti gerak tari Dewi Kunti.
***
Sangatlama
Arum tak ziarah ke makam Nyai Laras, leluhur para penari di kampungnya. Ia
terusik untuk berziarah ke makam yang berada di pekarangan belakang rumah Aji,
dekat masjid. Pintu pekarangan belakang rumah Aji selalu terbuka, yang memberi
kesempatan pada siapa pun untuk ziarah. Langkah kakinya terasa berat, bergetar
mendekati makam yang tampak megah, terawat, dan bersih. Masih seperti dulu,
bila ia berziarah ke makam Nyai Laras, berhasrat memperoleh ketenangan jiwa.
Kali ini pun demikian: menebar bunga, bersimpuh, berdoa, dan menemukan kembali gairah
menari.
Ketika
Arum bangkit dari berdoa, masih pada pendiriannya: tak ingin kembali pada
suami. Ia merasa tenang, ketika tak memikirkan suami dan anak-anak. Ia hanya
berpikir tentang menari. Seperti biasa ketika ia berdoa di makam Nyai Laras, kupu-kupu
kuning beterbangan di atas rambutnya. Begitu ia bangkit dari bersimpuh, ingin
beranjak, segera mengurungkan langkah. Turun dari mobil di pelataran itu
pemilik rumah, Aji, keturunan Nyai Laras, bergegas menghampiri Arum.
Menyalaminya. Aji sangat mengenal putri bungsunya, Dewi Laksmi.
“Bagaimana
kabar Dewi? Lama saya tak ketemu dia.”
“O,
dia hampir nikah.”
Arum
menahan kegugupan. Ia tak mungkin bertahan lebih lama, takut bila Aji bertanya lebih lanjut tentang Dewi Laksmi. Ia
tak tinggal serumah dengan anak gadisnya itu, dan tak memahami perkembangan
kepribadiannya. Meski sebenarnya ia ingin tinggal lebih lama, tapi ia
memutuskan untuk pulang.Arum mohon diri, bergegas meninggalkan Aji.
***
Di
gedung kesenian ibu kota, sehari sebelum pementasan,Arum menghabiskan waktu
seharian untuk memerankan Dewi Kunti bersama dengan pemeran Arjuna, Karna, dan Surtikanti.
Ia menyelaraskan gerak tarinya dengan mereka. Ia juga menyelaraskan gerak
tarinya dengan iringan gamelan. Ia mengikuti segala arahan penata tari, Retno
Ayu, seorang penari sepuh yang sangat dihormati. Letih sekali tubuhnya. Tetapi
ia merasakan kesuntukan menari yang membahagiakan.
Arum menari, meleburkan diri dalam jiwa Dewi Kunti.Ia melupakan suami dan Dewi Laksmi. Ia tak ingin tergoda rasa iba, membiarkan anak gadisnya memasuki gerbang pernikahannya, tanpa seorang ibu. Ia larut dalam gerak tari, ke dalam rasa berdosa Dewi Kunti, membuang bayi Karna. Ia terus menarikan keagungan seorang dewi yang dirapuhkan perasaan nista. Iringan gamelan membawanya lebur dalam derita Dewi Kunti.
Larut malam baru Arum kembali ke kamar hotel. Tubuhnya terasa letih, dan ingin cepat memejamkan mata. Tetapi selalu sajakamar hotel menciptakan keterasingan, yang membuatnya tak gampang tidur. Sepasang matanya terus nyalang.
Ketika minum teh hangat, sebelum sarapan, ia merasakan tubuh yang pelan-pelan terasa segar, meski kurang tidur. Ia masih memiliki waktu beristirahat sampai sore nanti, sebelum menuju gedung kesenian, tempat ia pentas. Di kamar hotel ia memutuskan untuk menari, terus menari, dengan iringan gamelan dari dalam hati. Ia merasa dirinya lenyap, dan yang hadir cuma Dewi Kunti. Caranya menatap, bukan lagi tatapan Arum, melainkan tatapan Dewi Kunti.
Gedung kesenian itu masih sepi, dan di belakang panggung sudah duduk bersimpuh di karpet Retno Ayu. Para penari duduk melingkar di sekelilingnya. “Menarilah seperti saat gladi resik. Temukan hakikat kehidupan kalian dalam setiap gerak tari. Ini hari pertama dari tiga hari pementasan kita. Kalau kalian bisa menyajikan pementasan yang memukau, tentu akan dikenang orang.”
Para penari menerima busana, didampingi perias. Alangkah cekatan perias mematut Arum seperti menjelma sang dewi. Arum naik panggung. Ia menari sebagai seorang ibu yang berada di tengah kancah pertempuran dua anak beda ayah yang berhadap-hadapan: Arjuna dan Karna. Tarian seorang ibu yang tak adil dalam memberikan kasih sayang. Ibu yang menikmati keagungan, mengingkari pengorbanan.
Tepuk tangan yang riuh menggetarkan gedung kesenian ketika seluruh penari memberi hormat pada para penonton, dengan bau harum bunga melati yang tertebar di atas panggung. Arum masih merasa dirinya sebagai Dewi Kunti. Lampu-lampu dinyalakan, sebagian penonton memburu ke panggung, menyalami Arum. Ia sama sekali tak merasakan letih setelah kurang tidur dan melakukan pementasan tari. Wajahnya masih segar, bahkan mungkin lebih segar dari hari biasa. Sepasang matanya lebih cemerlang. Lebih agung.
Arum baru saja bergerak hendak turun panggung, ketika kemudian datang seorang laki-laki muda, menyalaminya, mencium tangannya. “Apa memang Bunda tega membiarkan kami nikah, tanpa didampingi seorang ibu?” suara lelaki itu tegas. Tetapi suaranyabergetar. Arum masih membiarkan tangannya digenggam Wisnu, calon suami Dewi Laksmi, yang tanpa diketahuinya menonton pergelaran tarinya.
“Sudahlah. Jangan terlalu diratapi,” balas Arum, menahan getar suara. “Akan Bunda pertimbangkan lagi untuk kembali pada keluarga. Tapi kalau saya tetap bertahan tak kembali pada Ayah, jangan kalian berkecil hati.”
Wisnu – sebagai pilot – yang sedang tidak bertugas, memang sengaja menonton pergelaran tari Arum. Dewi Laksmi yang meminta agar menemui ibu kandungnya. Wisnu yang memahami benar perasaan calon istrinya, getir juga menghadapi sikap calon ibu mertuanya: kukuh pendirian, bukan berkemauan kembali pada keluarga.
***
HARI kedua pergelaran usai, di antara serakan bunga melati di panggung, Arum berharap tak bertemu seseorang yang menyeretnya kembali ke dunia lama: dunia seorang ibu yang tenang, setia pada suami. Begitu banyak orang menyalaminya dengan takjub, dengan rasa kagum dan sanjungan. Ketika para penonton sudah mulai meninggalkan gedung kesenian, ia turun panggung. Ia dihadang suami-istri setengah baya, tampak terpelajar dan santun, menyalaminya.
“Saya ayah Wisnu, calon besan Ibu,” kata sang suami, enam puluh tahun, menampakkan keramahannya. “Senang sekali bisa bertemu Ibu di sini.”
“Sudah sangat lama kami ingin bertemu Ibu,” kata si istri. “Kebetulan suami menerima tawaran sebagai pembicara di sebuah universitas siang tadi, dan berencara nonton pergelaran tari ini. Sekalian saya ikut serta.”
Tersipu-sipu, Arum hampir tak dapat mengatakan apa pun. Canggung. Terpukul. Malu. Tetapi ia mesti bersikap ramah, dan tak luruh kehilangan kepribadian. Ia tahu dari cerita Dewi Laksmi, calon ayah meertuanya seorang guru besar di sebuah universitas ternama di Yogya.
“Terimakasih, sudah bersusah payah mencari saya di sini,” balas Arum. “Titip anak gadis saya, Dewi Laksmi.”
Tak sekali pun mereka, calon besan Arum, meminta padanya agar kembali pada suami. Mereka lebih banyak menyanjung pergelaran tarinya. Kali ini ia lebih tenang, lebih riang, dan merasa terbebas dari segala harapan kembali pada suami.
Suami-istri
calon besan itu mesti kembali ke hotel tempat mereka menginap, dan esok pulang
dengan penerbangan pagi. Mereka meninggalkan gedung kesenian tempat pergelaran
tari. Tetapi Arum masih mematung di panggung: merenungi perilakunya sendiri.
***
USAI pergelaran
tari hari ketiga, dengan penonton yang memenuhi gedung kesenian, Arum merasakan
kesempurnaan pergelaran tarinya. Seluruh penari tampil dengan kesuntukan peran.
Ini pergelaran terakhir. Berdiri di atas panggung, dengan tebaran bunga melati
– yang kali ini membuka rasa pedih di hati – Arum merasakan keharuan seorang
ibu. Ia teringat kematian Karna di pangkuannya, dengan anak panah Arjuna
tertancap di dada. Kematian yang gemilang. Tetapi memilukan: anak yang
disia-siakan ibu.
Beberapa
orang penonton menaiki panggung, menyalami para penari. Retno Ayu, penata tari,
memeluk Arum, hangat dan penuh kasih. Penata tari itu berkaca-kaca, suaranya
tersendat, “Terimakasih, sudah mementaskan tari tanpa cela. Lain kali, kuajak
kau pentas ke lain kota.”
Retno
Ayu menyalami penari lain, dan para penonton dengan penuh kesabaran menemui
Arum untuk menyalami, foto bersama, atau menyanjung. Panggung pun sepi.
Lambat-lambat Arum melangkah hendak menuruni panggung. Telapak kakinya masih terasa
menginjak serakan bunga-bunga melati.
Belum
mencapai undak-undakan panggung, seorang gadis menyambutnya dengan uluran
tangan. Menyalaminya. Mencium tangannya.
Lama. Ketika wajah gadis itu diangkat, terasa lelehan bening yang hangat di
punggung tangan Arum. Wajah gadis itu terangkat pelan-pelan. Tampak sepasang
matanya yang berair itu menggugatnya.
“Bunda
telah menjelma Dewi Kunti,” kata Dewi Laksmi, yang tak diduga Arum, meluangkan
waktu menonton pergelaran tarinya. Dewi Laksmi tak menyampaikan permintaan apa
pun. Hanya tatapan matanya yang berair itu yang mengisahkan perasaannya.
Dewi
Laksmi meninggalkan panggung. Melangkah ke arah pintu keluar gedung kesenian.
Arum hanya memandangi punggung gadis itu. Tubuhnya gemetar. Gadis itu telah
menggugatnya. Bukan menyanjungnya. ***
Pandana
Merdeka, Juli 2019
S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis
sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media.Kumpulan cerpen
tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas,
2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut(HO Publishing,
2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet,
2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup
Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan
judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya masuk
dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan
2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan
2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen
Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan
penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai
Bahasa Jawa Tengah.