Puisi

Puisi Supali Kasim

Homesick

apa yang paling dirindukan

seorang tua

di perantauan

perjalanan senja dan temaram

mungkin kampung halaman

hijau pohonan, sawah membentang

ahai, panen padi

memetiknya dengan ani-ani

dengan hati-hati

serupa menyunting seorang gadis

seikat-seikat tumpukan

menggunung di halaman rumah-rumah

sekampung

di sela-sela malamnya

anak-anak dan remaja bermain

petak umpet

“kamu kena!” teriaknya

dan gadis itu tersunting

tapi ani-ani

tak lagi hati-hati

traktor telah membolak-balik

dendam seorang tua di perantauan

            jadi pelupa

dimabukkan zat kimia

dan pranatamangsa

hanya kisah suatu masa

ahai, ada yang makin lupa

sawah tergadai telah lama

“kamu kena!” teriaknya

sejak bunga bank itu mengikat gadis

yang dulu tersunting itu

mesin combine harvester pun tiba

memangsa semua

lalu apa yang paling dirindukan

seorang tua

di perantauan

hanya perjalanan senja lalu temaram

2026

___________________

Cemas

masa depan adalah angka-angka

entah penjumlahan atau kelipatan

deret panjang itu tanpa nyata

tiba-tiba jadi pengurangan

lalu terbagi-bagi, juga tanpa nyata

aku pun limbung, terhuyung

            angka yang entah

dan masa depan adalah warna-warna

terbayang pelangi indah

mungkin pula jadi putih semata

matahari telah memainkannya

yang terbentang kelam, pekat

mataku pun kabur

            warna yang entah

tetapi masa depan adalah rupa-rupa

loyang tampak emas

kucing tampak macan

raksasa tampak bidadari

bagaimana kelak anak-anakku

aku yang kini mampu

            memilah tanpa entah

2026 

____________________

Megalomania

kini, seorang tua itu,

tapi tak mau disebut tua

kesukaannya sederhana saja

sangat sederhana

erat-erat pegang pelantang

            bicara lantang

burung-burung dari atas langit

kupu-kupu dan capung dari taman bunga

cacing dan orong-orong dari dalam buni

seketika meriung, tepuk tangan

memekik, tertawa, berjoget

di pelantangnya, jaringan kabel-kabel

bersumbu urat syaraf otaknya

diri yang penting, kuat, hebat

            sebab hanya dia

            mampu selesaikan apapun masalah

di mimbarnya, papan bercampur logam

terlindungi apapun yang terjadi

kekar, menolak rapuh, menolak kritik

            seisi kebun binatang terlontar

            siap-siap kambing hitam

di panggungnya, beratap sanjungan

terpusat perhatian

hias-rias pujian

            tepuk tangan lagi

            joget-joget lagi

lalu, seorang tua itu,

tapi tak mau disebut tua

kesukaannya sederhana saja

sangat sederhana

erat-erat pegang pelantang

            kata-kata berujung cemas

rangkaian frasa, kalimat, dan wacana

singgasana, pengaruh, dan kuasa

seperti tersudut

rasa takut

2026

____________________

Resistensi

maka kusembunyikan ke balik langit

gelap dan muram

bulan yang perawan

tak akan lagi kaumainkan

dan angin yang selalu menyalami semesta

lalu kaususupi cerita dusta

            kini kukandangkan

            dengan tenang

apalagi kaulakukan pada matahari

energi untuk kelompok sendiri?

tak bisa lagi kautunggangi

kini matahari

bangun tidur akan lebih pagi

tak bisa lagi hasratmu

memetik bintang satu-satu

            semua berpendar melawan

jika kaupagari juga pesisir dan laut

tanpa rasa takut

akan terhempas segalanya oleh laut

            juga pikiran kotormu

tapi, ketika mulutmu masih sampah

            otakmu masih berjejal

            sampah

air akan menenggelamkanmu

atau bumi akan menguburmu

atau api akan membakarmu

2026

____________________

Narsistik

baik, baiklah,

apapun dan bagaimanapun

sambil menghadap matahari

bunga-bunga merekah

bukankah cahaya

            warna-warni

iringi langkahku kemana

            puji-puji

kagum dan takjub

hanya milikku bercahaya

tak ada, tak ada siapa

bungaku selalu merekah

meski engkau meludah

aku melangkah

2026

____________________

Supali Kasim. Tinggal di Indramayu Jawa Barat. Beberapa puisinya pernah di muat di media massa cetak, daring, maupun antologi bersama. Buku puisi tunggalnya, Bergegas ke Titik Nol (2008), Pergi ke Masa Silam Pulang ke Masa Depan (2023). Bisa disapa lewat Fb. Supali Kasim, email [email protected]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *