Puisi

Puisi Daruz Armedian

mengartikan pelukan

ingat malam itu: aku memelukmu. sebuah cara mengucap cinta tanpa kata-kata. tubuhku beku dan suaraku sepi seperti ditelan bumi. tapi saksikan, dadaku berteriak. seolah ada sesuatu yang retak. di dalamnya ada diriku yang lain berdoa. semoga aku bagian dari kamu.


aku sengaja mencintaimu untuk kau sia-siakan

aku sengaja mencintaimu untuk kau sia-siakan

seumpama jendela yang setia mengamatimu

melangkah pergi dan kembali

meski yang kau tuju adalah pintu

cukup aku menjadi jerawat

yang menolak tumbuh di wajahmu

agar kau tak malu dan berpaling

saat berhadapan dengan cermin dan orang lain

aku sengaja mencintaimu di dalam masa lalu yang jauh

masa di mana tak mungkin jemarimu menyentuh


membicarakan hari ini

sejak kamu ambil hatiku, aku merasakan segalanya. tak ada lagi kata ‘pinjam’ mulai saat ini. buku-buku itu juga milikmu. lengan yang merengkuhmu seperti merengkuh diri sendiri. mata yang menatapmu adalah kebutaanku terhadap orang lain.

hari ini aku meniadakan diri. kamu meniadakan dirimu. untuk satu, kita perlu hilang di tubir waktu. lalu hadir sebagai diri lain. bukan angin, bukan aku juga bukan kamu.


mempertanyakan keabadian

apa yang dipersoal? segalanya kita kenal dan tak ada yang bakal kekal. sapamu kemarin hanya angin. bumi yang bijak suatu hari akan retak. kita memang pernah membaca madah. puisi sapardi tentang waktu yang fana dan kita abadi. tapi usia manusia tak bisa setua puisi atau waktu itu sendiri.

apa yang akan kamu abadikan? segalanya meluncur deras bagai hujan. atau bagai sungai yang tawar cepat lepas ke asin lautan.

bukan aku mengutukmu jadi bongkahan batu.  makhluk dungu yang tak pandai mengenang sesuatu. hanya, kita lahir untuk titik nadir. kita tenggelam dalam ada tapi tak sungguh-sungguh ada.


belajar yang lain

dalam bahasan lain, otak kita terbagi jadi tiga. pertama untuk mengenang, kedua untuk menjalani hari ini, ketiga untuk merencanakan masa depan. aku bermimpi kehilangan otak pertama dan kamu membicarakan tak punya otak ketiga. kita menjalani hari ini di ruang dan waktu yang sama.


selamat malam, istri orang

selamat malam, istri orang

ada gelombang di matamu

seperti ingin tumpah ke daratan

apakah hari-hari kau jajaki tak sederhana

seperti hari yang kumiliki

pagi dengan kopi di meja

menghadap jendela

dan buku-buku yang

menceritakan banyak hal

selamat malam, istri orang

begitu tua wajahmu

lebih tua ketimbang usianya

apakah kenangan begitu berat kautanggung:

ketika itu pernah aku jadi pacarmu

ketika itu pernah aku datang sebagai tamu

di hari pernikahanmu

selamat malam

apalah arti pernikahan dengan lain orang

jika aku mungkin masih kau kenang?


nama lain kesedihan

/1/

nama lain dari kesedihan

adalah air mata perempuan

yang lahir dan mengalir

dari dada remuk redam

jika ia sungai

luka-luka akan diseretnya

dengan arus rumit

menuju ke arah yang

menanam rasa sakit

/2/

nama lain dari kesedihan

adalah penantian panjang

di hadapannya: waktu melambat

bosan dan gelisah meledak

serpih-perihnya terserak

menyesaki ruang tunggu

sementara kabar darimu

telah bosan mengetuk pintu telingaku

/3/

nama lain dari kesedihan

            adalah kesendirian


maafkan

maafkan kenakalanku:

mencuri namamu

dan kuserahkan

kepada tuhan

maafkan kemalasanku:

menyia-nyiakan waktu

dengan tidak mengerjakan apa-apa

kecuali duduk di sampingmu

dan membicarakan segalanya

maafkan kebodohanku:

menganggap semua ilmu pengetahuan

tidak perlu kutahu

kecuali dirimu


dingin benar udara di sini

dingin benar udara di sini

di luar, pohon-pohon berlarian

seperti ke arah masa silam

masa di mana ketakutan-ketakutan kualamatkan

di kaca jendela kereta

embun menyublim

dan aku di dalamnya

membeku

sambil menatapmu

sedang memandang

kelebat pohon-pohon itu

kau berkata pelan

ketika kereta baru setengah jam berjalan:

rebahlah di pundakku

pakailah jaketmu

udara dari ac

jauh lebih berbahaya

ketimbang jatuh cinta

aku tak butuh memakai jaket

atau merebahkan kepala

aku ingin menciummu

dan menantang bahaya dari keduanya:

jatuh cinta

dingin udara


mencemburui waktu

aku lelaki pencemburu, perempuanku

terlebih kepada waktu

ia mengubah bentuk wajahmu jadi tua

tulang-tulangmu jadi renta

kakimu jadi lelah melangkah

sedang ia masih berlari dan terus berlari

seperti anak kecil

yang tak mengerti

bagaimana perihnya menjadi dewasa

orang-orang berusaha menghitung waktu

menciptakan jam dan tanggalan

dan perhitungan-perhitungan lain

jam di lenganmu mati

dan kau tak menemukan apa-apa

selain semua itu sia-sia

tanggalan di rumahmu

selalu tidak mampu menghitung

kurun waktu dua tahun

atau lebih

aku bisa mencegah siapa pun

yang ingin merebutmu

tapi bagaimana jika itu waktu?

ia bisa saja mendatangimu

sebagai ketiadaan

menyeretmu perlahan-lahan

ia bisa saja mendatangi kita

sebagai kelupaan

kau melupakanku dan aku melupakanmu

atas dasar terlalu berat mengingat


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan puisi bagi remaja DIY. Tulisannya pernah di koran Tempo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Republika, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Lampung Pos, dll.

Esai

Narasi Perempuan dalam Bingkai Internet

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Gembar-gembor Internet of Things (IoT) menjadikan hampir segala hal di kehidupan kita mencuat ke permukaan dan berebut panggung untuk jadi konsumsi publik. Hal-hal yang tak terjamah akses internet mudah tertuduh sebagai wujud ketertinggalan, tertutup, asing, dan bahkan aneh. Era kiwari sungguhan membaiat kita sebagai manusia-manusia latah jumawa berkat kecerdasan buatan yang hadir dalam bentuk alat-alat elektronik berteknologi sentuh. Kemudahan mengakses informasi mengenai segala hal menjadikan manusia-manusia merasa tahu, gemar dan (seolah-olah) pandai dan merasa berhak bicara apa aja.

Salah satu tema yang jadi pokok bahasan “seksi” berkat gembar-gembor internet beserta kroni-kroni turunannya ialah menyoal perempuan dan kemudian juga seksualitas. Setidaknya dua tahun terakhir ini internet mengabarkan massifnya gerakan perempuan. Di akar rumput, para penggerak perempuan terus mendampingi perempuan-perempuan penyintas kekerasan seksual untuk mendapat pendampingan yang layak dan manusiawi. Kabar yang dihembuskan internet memberitahu keberadaan sekian penyintas berani mengungkap kasus yang menimpanya. Hal yang begitu jelas memantik api keberanian bagi perempuan-perempuan lain yang mengalami kasus serupa.

Jelang akhir tahun 2018, Tirto.id, The Jakarta Post, dan Vice Indonesia membentuk tim investigasi khusus bertagar #NamaBaikKampus untuk meliput perkara kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi. Liputan-liputan mendalam yang dilakukan ketiga media tersebut lekas tersebar dan turut menyulut keberanian para perempuan (lebih-lebih penyintas) untuk bersuara. Gerakan massa memprotes ketidaktegasan kampus menindak para pelaku terus bermunculan. Kita juga disodori kasus Baiq Nurul yang terkriminalisasi justru karena ia melaporkan pelecehan seksual yang menimpanya. Berkah internet memudahkan perempuan satu dengan perempuan lain yang berada di pelbagai daerah merasa satu, senasib sepenanggungan dan sudah saatnya tak takut atau malu untuk bicara.

Mendengar Para Penyintas

Para penyintas kekerasan seksual mencuat keharibaan publik internet melalui beragam cara. Setelah menyimak kisah-kisah penyintas di ranah perguruan tinggi melalui kompilasi produk jurnalistik bertajuk #NamaBaikKampus, di malam yang lebih mutakhir saya bertatap muka dengan beberapa penyintas kekerasan seksual melalui medium film. Bulan menggantung di langit Solo yang senantiasa ramah dan santun. Teater Kecil Institut Seni Indonesia Solo yang agak dipaksakan fungsinya sebagai ruang tonton terasa penuh. Sejak Magrib lepas, orang-orang membentuk antrean mengular guna menunggu jatah presensi di bagian depan Teater Kecil. Gurat wajah mereka begitu antusias menjelang pemutaran film Telur Setengah Matang (Reni Apriliana, 2019).

Film pendek berdurasi 16 menit itu diputar perdana pada 12 Juli 2019 lalu. Apa yang coba disampaikan film kepada penonton bukan suatu hal yang baru apalagi asing. Digawangi lima perempuan muda yang tergabung dalam satu kesatuan di Larasati Creative Lab, film menampakkan kepada penonton persoalan remaja tergoda dan terjerumus pergaulan seksual tanpa pengetahuan atau informasi yang memadahi soal dampak setelahnya. Anisa dan Adit ialah sejoli berusia Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang terduga kuat berhubungan badan dengan motif coba-coba berkemauan seru dan menyenangkan.

Berlatar perdesaan dan menyoroti cerita hidup kelas ekonomi menengah ke bawah, film ini melahirkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak penonton. Kendati sempat menyembunyikan fakta kehamilannya, Anisa akhirnya bercerita kepada bapaknya hampir tanpa hambatan yang berarti. Sebagai gadis “setengah matang”, Anisa tampak begitu menguasai diri saat menceritakan permasalahannya. Anisa bahkan dengan sigap memiliki pilihan-pilihan logis nan bijak seperti keinginannya untuk aborsi dan memberi pelajaran kepada Adit untuk turut merasakan malu dan menanggung akibat atas perbuatannya. Dengan demikian, tokoh Anisa justru terasa ganjil. Anisa adalah perempuan “setengah matang” yang alpa atau kebablasan terintervensi sosok-sosok peracik film sehingga latah tampil sebagai tokoh yang begitu matang.

Terlepas dari film Telur Setengah Matang, yang lebih menarik untuk disimak adalah kisah orang-orang di baliknya. Dalam diskusi pasca menonton, produser dan moderator tak segan-segan mengaku dirinya adalah penyintas kekerasan seksual. Sementara empat perempuan lain yang tergabung dalam tim produksi film punya pengetahuan dan pengalaman mendapati kisah-kisah bertaut kekerasan seksual yang menimpa para perempuan di sekitarnya. Sekira dua atau tiga tahun lalu, lima perempuan berbagi cerita dan berakhir serius. Kebetulan perempuan-perempuan itu punya latar konsentrasi yang sama, film dan grafis. Maka dipilihlah film sebagai medium untuk mereka berbicara.

Gara-gara Internet

Saya tak sepakat dengan argumen yang menyatakan “perempuan” adalah isu yang kering dan tak menarik. Di era “internet adalah segalanya”, isu perempuan terus berkembang menjadi pokok bahasan yang seksi dan massif diperbincangkan baik di jagat maya maupun di kenyataan. Orang-orang dari pelbagai kalangan kian santer memperbincangkan, berdebat, mengkaji ulang, menghasilkan karya dari isu-isu seputar perempuan. Gagasan-gagasan dan kemudian juga gerakan aplikatif bertaut perempuan terus memperbarui diri.

Kita semua jadi saksi betapa massifnya desakan publik supaya RUU Kekerasan Seksual lekas-lekas disahkan, banjirnya dukungan kepada para penyintas untuk berani bersuara, terus bertumbuhnya gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan yang didasari atas kesadaran untuk kreatif dan berdikari. Dan internet, salah satunya melalui kedigdayaan media sosial mengabarkan dan menautkan kisah-kisah haru ataupun pilu para perempuan dari pelbagai daerah. Dengan demikian, naluri untuk merasa dan menjadi dekat satu dengan yang lain begitu mudah terjadi. Kemudahan akses internet bagi para perempuan di pelbagai daerah di Indonesia meski belum secara keseluruhan, setidak-tidaknya terus-menerus berkemauan mengentaskan para perempuan dari tumpukan permasalahan yang membayangi keseharian mereka. Isu-isu soal perempuan tak lagi terkungkung dalam jerat eksklusivisme dan isolasionisme seperti yang dikhawatirkan Muhammad Nurkhoiron dalam pungkasan tulisannya yang berjudul Identitas Perempuan Indonesia: Menyintas di Tengah Pusaran Kapitalisme Global (Desantara Foundation, 2010, hlm. 199). Tsah!***


Rizka Nur Laily Muallifa, pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lainnya.

Cerpen

Bunda Menjelma Dewi Kunti

Cerpen  S. Prasetyo Utomo

Kembali Dewi Laksmi dan calon suaminya,Wisnu,  mendatangi Arum, ibu yang meninggalkannya. Arum tengah suntuk berlatih menari. Beberapa hari lagi iamesti mementaskan tari Dewi Kunti di salah satu gedung kesenian di ibu kota – dengan tiket yang sudah habis terjual. Ia yang lama meninggalkan suami dan anak-anak, bertanya dalam hati: benarkah aku telah memerankan Dewi Kunti dalam kehidupanku dengan menyia-nyiakan anak kandung? Ia merasa tidak seagung Dewi Kunti yang setia melindungi  kelima anaknya yang lain.

Permintaan penata tari Retno Ayu agar Arum memerankan Dewi Kunti dalam drama tari klasik telah mengusik perasaannya. Ia sangat mengagumi tokoh itu. Ia bisa menangis saat memerankan Dewi Kunti, saat menghadapi pertempuran dua anak kesayangannya: Arjuna dan Karna. Dewi Kunti telah menyia-nyiakan Karna dari bayi hingga akhir hayatnya.

Begitu mudah Arum memerankan Dewi Kunti, dan begitu cepat ia larut dalam jiwa Dewi Kunti. Terus-menerus ia mengulang menarikanlakonDewi Kunti, meski tanpa gamelan, di setiap kesempatan.

Berhari-hari Arum menarikan penderitaan Dewi Kunti dalam kisah kematian Karna dengan tubuh bergetar. Seluruh gerak, mimik wajah, tatapan, dan getar suara Dewi Kunti dihayatinya dengan kesempurnaan peran.

Dua hari sebelum pementasan, Arum ditemui Dewi Laksmi dan Wisnu. “Apa Bunda tak ingin kembali pada Ayah?”

Arum masih bimbang. “Aku belum bisa memenuhi permohonanmu.”

“Apa indahnya Bunda hidup sendiri?”

“Aku punya dunia sendiri. Bekerja, menari, dan menemukan teman-teman sendiri.”

“Kenapa dulu Bunda tak menuntut hal itu pada Ayah?”

“Sudahlah, jangan mengungkit masa lalu,” tukas Arum. “Nikahlah. Semoga kau tak mengikuti jejakku, setelah nikah justru mencari kebebasan masa muda yang hilang.”

Arum ingin suntuk menarikan kegetiran jiwa Dewi Kunti. Tak mau direpotkan permintaan Dewi Laksmi. Dibiarkan gadis itu dan calon suaminya meninggalkan rumahnya dengan masgul. Ia terus menari, sambil melenyapkan bayangan wajah suami, anak sulung, Wulan, dan Dewi Laksmi, yang bakal menikah tak lama lagi. Ia menari untuk memenuhi dorongan hati. Ia terus mengikuti gerak tari Dewi Kunti.

                                                            ***

Sangatlama Arum tak ziarah ke makam Nyai Laras, leluhur para penari di kampungnya. Ia terusik untuk berziarah ke makam yang berada di pekarangan belakang rumah Aji, dekat masjid. Pintu pekarangan belakang rumah Aji selalu terbuka, yang memberi kesempatan pada siapa pun untuk ziarah. Langkah kakinya terasa berat, bergetar mendekati makam yang tampak megah, terawat, dan bersih. Masih seperti dulu, bila ia berziarah ke makam Nyai Laras, berhasrat memperoleh ketenangan jiwa. Kali ini pun demikian: menebar bunga, bersimpuh, berdoa, dan menemukan kembali gairah menari.

Ketika Arum bangkit dari berdoa, masih pada pendiriannya: tak ingin kembali pada suami. Ia merasa tenang, ketika tak memikirkan suami dan anak-anak. Ia hanya berpikir tentang menari. Seperti biasa ketika ia berdoa di makam Nyai Laras, kupu-kupu kuning beterbangan di atas rambutnya. Begitu ia bangkit dari bersimpuh, ingin beranjak, segera mengurungkan langkah. Turun dari mobil di pelataran itu pemilik rumah, Aji, keturunan Nyai Laras, bergegas menghampiri Arum. Menyalaminya. Aji sangat mengenal putri bungsunya, Dewi Laksmi.

“Bagaimana kabar Dewi? Lama saya tak ketemu dia.”

“O, dia hampir nikah.”

Arum menahan kegugupan. Ia tak mungkin bertahan lebih lama, takut bila Aji  bertanya lebih lanjut tentang Dewi Laksmi. Ia tak tinggal serumah dengan anak gadisnya itu, dan tak memahami perkembangan kepribadiannya. Meski sebenarnya ia ingin tinggal lebih lama, tapi ia memutuskan untuk pulang.Arum mohon diri, bergegas meninggalkan Aji.

***

Di gedung kesenian ibu kota, sehari sebelum pementasan,Arum menghabiskan waktu seharian untuk memerankan Dewi Kunti bersama dengan pemeran Arjuna, Karna, dan Surtikanti. Ia menyelaraskan gerak tarinya dengan mereka. Ia juga menyelaraskan gerak tarinya dengan iringan gamelan. Ia mengikuti segala arahan penata tari, Retno Ayu, seorang penari sepuh yang sangat dihormati. Letih sekali tubuhnya. Tetapi ia merasakan kesuntukan menari yang membahagiakan.

Arum menari, meleburkan diri dalam jiwa Dewi Kunti.Ia melupakan suami dan Dewi Laksmi. Ia tak ingin tergoda rasa iba, membiarkan anak gadisnya memasuki gerbang pernikahannya, tanpa seorang ibu. Ia larut dalam gerak tari, ke dalam rasa berdosa Dewi Kunti, membuang bayi Karna. Ia terus menarikan keagungan seorang dewi yang dirapuhkan perasaan nista. Iringan gamelan membawanya lebur dalam derita Dewi Kunti.

Larut malam baru Arum kembali ke kamar hotel. Tubuhnya terasa letih, dan ingin cepat memejamkan mata. Tetapi selalu sajakamar hotel menciptakan keterasingan, yang membuatnya tak gampang tidur. Sepasang matanya terus nyalang.

Ketika minum teh hangat, sebelum sarapan, ia merasakan tubuh yang pelan-pelan terasa segar, meski kurang tidur. Ia masih memiliki waktu beristirahat sampai sore nanti, sebelum menuju gedung kesenian, tempat ia pentas. Di kamar hotel ia memutuskan untuk menari, terus menari, dengan iringan gamelan dari dalam hati. Ia merasa dirinya lenyap, dan yang hadir cuma Dewi Kunti. Caranya menatap, bukan lagi tatapan Arum, melainkan tatapan Dewi Kunti.

Gedung kesenian itu masih sepi, dan di belakang panggung sudah duduk bersimpuh di karpet Retno Ayu. Para penari duduk melingkar di sekelilingnya. “Menarilah seperti saat gladi resik. Temukan hakikat kehidupan kalian dalam setiap gerak tari. Ini hari pertama dari tiga hari pementasan kita. Kalau kalian bisa menyajikan pementasan yang memukau, tentu akan dikenang orang.”

Para penari menerima busana, didampingi perias. Alangkah cekatan perias mematut Arum seperti menjelma sang dewi. Arum naik panggung. Ia menari sebagai seorang ibu yang berada di tengah kancah pertempuran dua anak beda ayah yang berhadap-hadapan: Arjuna dan Karna. Tarian seorang ibu yang tak adil dalam memberikan kasih sayang. Ibu yang menikmati keagungan, mengingkari pengorbanan.

Tepuk tangan yang riuh menggetarkan gedung kesenian ketika seluruh penari memberi hormat pada para penonton, dengan bau harum bunga melati yang tertebar di atas panggung. Arum masih merasa dirinya sebagai Dewi Kunti. Lampu-lampu dinyalakan, sebagian penonton memburu ke panggung, menyalami Arum. Ia sama sekali tak merasakan letih setelah kurang tidur dan melakukan pementasan tari. Wajahnya masih segar,  bahkan mungkin lebih segar dari hari biasa. Sepasang matanya lebih cemerlang. Lebih agung.

Arum baru saja bergerak hendak turun panggung, ketika kemudian datang seorang laki-laki muda, menyalaminya, mencium tangannya. “Apa memang Bunda tega membiarkan kami nikah, tanpa didampingi seorang ibu?” suara lelaki itu tegas. Tetapi suaranyabergetar. Arum masih membiarkan tangannya digenggam Wisnu, calon suami Dewi Laksmi, yang tanpa diketahuinya menonton pergelaran tarinya.

“Sudahlah. Jangan terlalu diratapi,” balas Arum, menahan getar suara. “Akan Bunda pertimbangkan lagi untuk kembali pada keluarga. Tapi kalau saya tetap bertahan tak kembali pada Ayah, jangan kalian berkecil hati.”

Wisnu – sebagai pilot –  yang sedang tidak bertugas, memang sengaja menonton pergelaran tari Arum. Dewi Laksmi yang meminta agar menemui ibu kandungnya. Wisnu yang memahami benar perasaan calon istrinya, getir juga menghadapi sikap calon ibu mertuanya: kukuh pendirian, bukan berkemauan kembali pada keluarga.

                                                                      ***

HARI kedua pergelaran usai, di antara serakan bunga melati di panggung, Arum berharap tak bertemu seseorang yang menyeretnya kembali ke dunia lama: dunia seorang ibu yang tenang, setia pada suami. Begitu banyak orang menyalaminya dengan takjub, dengan rasa kagum dan sanjungan. Ketika para penonton sudah mulai meninggalkan gedung kesenian, ia turun panggung. Ia dihadang suami-istri setengah baya, tampak terpelajar dan santun, menyalaminya.

“Saya ayah Wisnu, calon besan Ibu,” kata sang suami, enam puluh tahun, menampakkan keramahannya. “Senang sekali bisa bertemu Ibu di sini.”

“Sudah sangat lama kami ingin bertemu Ibu,” kata si istri. “Kebetulan suami menerima tawaran sebagai pembicara di sebuah universitas siang tadi, dan berencara nonton pergelaran tari ini. Sekalian saya ikut serta.”

Tersipu-sipu, Arum hampir tak dapat mengatakan apa pun. Canggung. Terpukul. Malu. Tetapi ia mesti bersikap ramah, dan tak luruh kehilangan kepribadian. Ia tahu dari cerita Dewi Laksmi, calon ayah meertuanya seorang guru besar di sebuah universitas ternama di Yogya.

“Terimakasih, sudah bersusah payah mencari saya di sini,” balas Arum. “Titip anak gadis saya, Dewi Laksmi.”

Tak sekali pun mereka, calon besan Arum, meminta padanya agar kembali pada suami. Mereka lebih banyak menyanjung pergelaran tarinya. Kali ini ia lebih tenang, lebih riang, dan merasa terbebas dari segala harapan kembali pada suami.

Suami-istri calon besan itu mesti kembali ke hotel tempat mereka menginap, dan esok pulang dengan penerbangan pagi. Mereka meninggalkan gedung kesenian tempat pergelaran tari. Tetapi Arum masih mematung di panggung: merenungi perilakunya sendiri.

                                                              ***

USAI pergelaran tari hari ketiga, dengan penonton yang memenuhi gedung kesenian, Arum merasakan kesempurnaan pergelaran tarinya. Seluruh penari tampil dengan kesuntukan peran. Ini pergelaran terakhir. Berdiri di atas panggung, dengan tebaran bunga melati – yang kali ini membuka rasa pedih di hati – Arum merasakan keharuan seorang ibu. Ia teringat kematian Karna di pangkuannya, dengan anak panah Arjuna tertancap di dada. Kematian yang gemilang. Tetapi memilukan: anak yang disia-siakan ibu.

Beberapa orang penonton menaiki panggung, menyalami para penari. Retno Ayu, penata tari, memeluk Arum, hangat dan penuh kasih. Penata tari itu berkaca-kaca, suaranya tersendat, “Terimakasih, sudah mementaskan tari tanpa cela. Lain kali, kuajak kau pentas ke lain kota.”

Retno Ayu menyalami penari lain, dan para penonton dengan penuh kesabaran menemui Arum untuk menyalami, foto bersama, atau menyanjung. Panggung pun sepi. Lambat-lambat Arum melangkah hendak menuruni panggung. Telapak kakinya masih terasa menginjak serakan bunga-bunga melati.

Belum mencapai undak-undakan panggung, seorang gadis menyambutnya dengan uluran tangan. Menyalaminya. Mencium  tangannya. Lama. Ketika wajah gadis itu diangkat, terasa lelehan bening yang hangat di punggung tangan Arum. Wajah gadis itu terangkat pelan-pelan. Tampak sepasang matanya yang berair itu menggugatnya.

“Bunda telah menjelma Dewi Kunti,” kata Dewi Laksmi, yang tak diduga Arum, meluangkan waktu menonton pergelaran tarinya. Dewi Laksmi tak menyampaikan permintaan apa pun. Hanya tatapan matanya yang berair itu yang mengisahkan perasaannya.

Dewi Laksmi meninggalkan panggung. Melangkah ke arah pintu keluar gedung kesenian. Arum hanya memandangi punggung gadis itu. Tubuhnya gemetar. Gadis itu telah menggugatnya. Bukan menyanjungnya. ***

Pandana Merdeka, Juli 2019


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media.Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut(HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Buku, Resensi

Dokumentasi Sejarah dan yang Direntankan

Oleh Rachman Habib

Kumpulan cerpen Faisal Oddang ini bisa dibaca sebagai dokumentasi sejarah—tapi kalau penyebutan ini berat dan bermasalah, lewati saja. Di dalamnya terentang sejarah Sulawesi Selatan. Terutama periode pasca revolusi kemerdekaan sampai 1965.

Di antara topik pentingnya adalah pemberontakan Negara Islam Indonesia, Permesta, dan pemberontakan komunis. Kehadiran karyanya mengisi ruang kosong khazanah sastra Indonesia yang kerap berpusat di Jawa jika menyangkut topik-topik tersebut.

Selain itu, topik tersebut jarang diangkat oleh penulis Sulawesi Selatan lainnya, di mana kebanyakan berfokus pada kearifan lokal. Bukannya Fai juga tidak menulis kearifan lokal. Dalam buku ini terdapat beberapa, misalnya Di Tubuh Tarra, Dalam Rahim Pohon (cerpen terbaik Kompas 2014), Sebelum Berangkat Ke Surga, dan Yang Terbaring Di Rumah Arung, Pagi Itu.

Rentang sejarah dalam karya ini menunjuk pada Indonesia saat dalam keadaan darurat. Kata Agamben, negara dalam kondisi darurat bisa menunda hukum. Agamben menyebut status negara tersebut sebagai “kondisi pengecualian” (state of exception). Negara selalu dapat menetapkan hukum dan bediri di luarnya atas nama kedaruratan, seperti demi stabilitas nasional. Dalam kondisi ini negara memiliki kekuasaan “luar biasa” untuk mengeluarkan warganya menjadi berstatus bukan warga, sehingga mereka bersifat—meminjam istilah Arendt—stateless person. Dengan begitu warga tersebut bisa dengan mudah dikucilkan, dibunuh, dan hak-hak dasarnya sebagai warga dirampas (Robet dan Tobi 2014: 168).

Warga yang dieksklusi ini disebut sebagai Homo Sacer. Subjek yang tidak diakui, boleh dibunuh dan yang membunuhnya tidak mendapat hukuman. Negara modern, tidak pernah absen dalam memproduksi Homo Sacer. Indonesia pun begitu. Dalam buku ini, Anda dapat menjumpai para Homo Sacer.

Pada cerpen Jangan Tanya Tentang Mereka yang Memotong Lidahku Anda akan menjumpai kisah para Bissu yang dibersihkan pada 1965 dalam operasi militer. Pendeta transgender dalam tradisi pra-Islam di Bugis ini dituduh mengkhianati Tuhan serta dianggap bagian dari kaum merah (sebutan untuk komunis). Para Bissu diburu dan dibunuhi dengan cara-cara keji. Satu di antaranya ada yang diikat dan ditenggelamkan di danau, juga ada yang dipotong lidahnya dan dijadikan tahanan politik.

Konon, sekarang jumlah Bissu tinggal sedikit. Berkurangnya Bissu disebabkan pembersihan pada 1965, juga pada pemberontakanNegara Islam Indonesia (DI/TII) tahun 1953.

Kasus yang sama terjadi pada penganut kepercayaan Tolotang dalam cerpen Orang-Orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu. Orang-orang Tolotang yang menyembah Dewata Sewwae ini oleh tentara dipaksa meninggalkan kepercayaan mereka untuk menganut agama resmi dan mencantumkannya di KTP. Seorang tentara mengancam pada pimpinan orang Tolotang : ”Uwak harus memilih, atau hak sebagai warga negara tidak kalian dapatkan, bisa saja diusir, bisa saja ada yang bertindak di luar kendali. Uwak sudah tahu sendiri, bukan, apa yang akan terjadi?” (Hal—25).

Mereka akhirnya memang menerima perubahan agama di KTP meski harus menerabas dilema menyakitkan. Andai mereka menolak, barangkali terjadilah apa yang diancamkan tentara itu kepada mereka: hak sebagai warga negara tidak didapatkan.

Perlakuan serupa, yang mengancam hak mendasar sebagai manusia sekaligus warga negara, juga menimpa mantan gerilyawan kemerdekaan atau komunitas muslim sipil lantaran dicurigai terlibat dalam pemberontakan DI/TII. Di bawah keadaan darurat operasi menundukkan pemberontakan, warga sipil kerap berada di posisi rawan. Karena sewaktu-waktu, dan memang begitu adanya, mereka juga menjadi sasaran hanya disebabkan kecurigaan tak berdasar.

Cerita tentang mereka yang rawan tersebut dapat Anda jumpai dalam cerpen Mengapa Mereka Berdoa Kepada Pohon?, Peluru Siapa Yang Kami Temukan Ini?, Di Sana, Lima Puluh Tahun Yang Lalu, dan Siapa Suruh Sekolah Di Hari Minggu?.

Tidak hanya menjadi objek kekerasan negara, tetapi juga objek kekerasan sesama warga ketika kekerasan terpolarisasi secara horizontal. Jadi bisalah dikatakan bahwa dalam kondisi kedaruratan negara memproduksi subjek-subjek rentan. Di mana tidak ada kepastian keamanan dan perlindungan terhadap hak-haknya terhindar dari kekerasan.

Dan selanjutnya, belajar dari sejarah, kita lihat bahwa tak satu pun dari pelaku pembunuhan atau pelanggaran hak asasi manusia memeroleh hukuman. Alih-alih, pelakunya justru melenggang bebas. Persis di titik begini Agamben menjelaskan bahwa “kondisi kedaruratan” (state of exception) menyediakan kondisi alamiah atas adanya kekebalan hukum terhadap pelaku kekerasan. Termasuk ketika pelakunya adalah negara sendiri (Robet dan Tobi 2014: 175).

Gaya Bercerita

Lain daripada itu ada sedikit catatan. Sebagai dokumentasi sejarah, buku ini memang terbilang berhasil. Sementara perihal gaya bercerita lain soal. Gaya bercerita keseluruhan cerpen di buku ini nyaris seragam. Barangkali sebab dua pokok. Pertama, Fai kerap mempekerjakan kisah cinta untuk membangun tangga dramatik atau untuk memberi kejutan. Pola yang diulang di beberapa cerpen membuatnya kehilangan daya gigit. Kedua, hampir di semua cerpen tidak muncul karakter yang hidup kecuali digerakkan oleh suara pencerita. Bila pun ada, karakter tersebut kalah ketimbang narasi liris kalimat-kalimat pengarang.

Namun, apa pun catatannya, buku ini menunjukkan bahwa Fai telah berupaya melihat dan menghadirkan narasi sejarah—mengutip esainya, “dengan cara berpikir sebaliknya. Dengan lugu, dengan kembali dan meminjam cara pikir kanak-kanak.”[]


Rachman Habib, mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, dan aktif di Teater ESKA Yogyakarta.

Puisi

Puisi Lailatul Kiptiyah

Syawal

                 ; Ibuku Siti Ngaisah


sepetak ladang berpuluh tahun
menyulam dirinya untuk terus hijau

di tengah-tengahnya jantung ibu

berdegup mekar menjaga kangenku

sedang pohon-pohonnya tubuh yang tabah
melepas anak-anak embun
lesap ke urat-urat

perjalanan
melimpahiku ribuan maaf


dari kejauhan

Mataram, Syawal 1440 H


Menulis Sajak Tiga Baris

yang putih adalah kabut
yang sedih adalah putih
yang terenggut

burung-burung kembali
berpulang pada magrib
menujuMu duka berjalan tertib

kuseterika baju-bajumu
setelah kau cuci bersih
masa lalu

rembulan penuh
jatuh ke mata sungai
oh, cinta yang berderai

di bawah lampu menyala
begitu subur air mata
begitu rimbun luka-luka

kemarau yang menggenangi
seluruh kota
mengenangkanku pada lagu Africa

dari puisimu, Goenawan Mohamad
kusimpan dengan sedih
sepatu kecil Aylan Kurdi

di dalam tanah
sebutir benih pecah
ia pahami hakekat ibadah

yang dalam adalah laut
yang hitam adalah luput
yang cemas adalah doa-doa yang kusebut

Ramadhan- Syawal, 1440 H


Memandang ke Seberang Halaman

apa yang kau temukan
saat kau pandang
ke seberang halaman

jalan berpaving kotak-kotak
pembatasnya dulu jajaran batang-batang
luntas, sebatang nangka bubur dan
sedepa ke kiri segerumbul talas

seorang modin, beberapa orang dandan
pernah melewati jalan itu
membawa seorang demi seorang
-calon menantu

bagi tiga anak perawan
penghuni rumah limas
sebelah kiri jalan

apa yang kau simpan
di lubuk kenang
pada seberang halaman

kau yang datang dari arah jauh
arah yang berlawanan
bersetelan jas hitam, bersongkok hitam

di kiri kanan pundakmu
disangga tangan-tangan keluarga
sepasang kembar mayang mekar
menjemput mempelai perempuanmu

ke dalam rumah limas itu


dengan tubuh saling gemetar
kau dan mempelai perempuanmu
menyesap kucuran air kendi

air yang terperam dalam tujuh
rupa kembang

yang aromanya tak bisa hilang
hingga jauh memasuki tubuh malam
membenam dalam

menetes-netes, bermalam-malam
menjadi candu tak terbilang

Ampenan, 20 Maret 2019


Jarak

sebatang jarak tumbuh masih rendah
di tepi parit dekat masjid
yang tak begitu megah

pernah kupetik beberapa lembar
daunnya
tanpa izin ke barang siapa

“petiklah beberapa lembar daun jarak
dekat masjid itu
untuk kubalurkan ke perut bocah lelakimu”

seorang ibu dari Sumbawa
mengucap padaku

di tengah malam sebelumnya
diare serta panas menyerang
bocah lelakiku

beberapa hari selepas genap dua tahun

kini sebatang jarak kutemukan lagi, rimbun
di halaman sebuah rumah
dekat pondokan kami yang baru

kupandang setiap lewat
pohon yang menyimpan kelebat
suara seorang ibu dari Sumbawa
suara mantra yang sepurba

mitologi itu

Ampenan, 19-20 Maret 2019


Burung Hantu

di pohon hitam
di jam terkelam
kutangkap melodimu

Pagesangan, Januari 2017


Tarekat

aku menulismu
berulang-ulang

aku memanggilmu
tak pernah bimbang

dan aku menempuhmu
lewat ribuan lambang

2017


Di Kolam Renang Valerie

di atasmu duduk

bergantung enam butir jeruk

pada carang-carang sekaku telunjuk

gemar dan mahir menusuk

sesuatu yang sedih kau sembunyikan

di kediaman tengkuk

Jember, September 2018


Di Balai Kota


di balai kota menegak pagar
dari ribuan papan kembang
matahari mata yang menyabarkan
saat laki-laki itu
memasuki jantung gedung
namun ia merasa tenang
dan barangkali menang

memandang dendam kian mekar
di ruang sidang

Mei 2017-September 2018


Kesedihan Musim

sebuah paceklik datang tak memandang

waktu. Tangannya terulur demikian karib

menjangkau pintu

seekor induk unggas memburu butiran jagung

yang terbawa paruh burung
di hampar kebun yang memutih itu

seperti sehabis hujan abu

namun dari pucuk daun nangka
sebutir embun menitik
tak kentara

serupa doa yang diam-diam
terjaga
di sudut gema

bilakah hujan membuyar

lagi dari utara?

lewat tangan laut yang menyudahi nestapa


2017-2019


Doa

duhai angin yang melipur
ladang-ladang kering, musim-musim tugur
bawa sajak-sajakku serupa burung
menabur kidung dan terbang
merambahi puncak kesedihan

2018


Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar. Pernah lama bekerja di Jakarta. Sejak 2014 hingga sekarang menetap di Mataram dan turut menjadi bagian keluarga dari komunitas Akarpohon Mataram, NTB.

Cerpen

Terkapar

Cerpen M. Arif Budiman

Sudah hampir satu jam tubuh Pras terkapar di trotoar. Tak ada satu pun orang yang berani menyentuhnya. Orang-orang beranggapan ia telah mati. Tidak. Pras tidak mati. Ia hanya tertidur. Rasa kantuk yang mendera membuatnya tertidur seketika.

Anehnya, Pras melihat tubuhnya sendiri yang terkapar dan menjadi pusat perhatian orang. Ia duduk tertegun dengan kedua kaki dirapatkan ke dada. Ia berpikir, bagaimana mungkin semudah itu ia mengatupkan kelopak mata dan terkapar begitu saja.

Ini bukan hal pertama bagiPras.Sudah banyak cara yang dilakukan Pras untuk mengobati penyakitnya. Mulai meditasi, yoga, fitness, minum obat penghilang rasa kantuk, hingga obat pencegah katapleksi. Namun dari semuanya itu tak ada satu pun yang dapat mengatasi penyakitnya.Pras tetap tertidur dimanapun ia merasa mengantuk.

Melihat penyakit suaminya bertambah parah, Maya berinisitif untuk membawa Pras ke dokter saraf. Menurut pemeriksaan dokter,Pras terserang penyakit narkolepsi, sejenis penyakit saraf yang menyerang sistem pengaturan tidur. Penyakit tersebut membuat si penderita merasakan kantuk yang tak tertahankan. Bahkan acap kali berhalusinasi seperti mendengar suara orang memanggil.

Dari hari ke hari Prassemakin jenuh dengan penyakit yang dideritanya. Ia merasa penyakitnya sudah sangat keterlaluan mendikte hidupnya. Untuk kedua kalinya, ia putuskan mengunjungi dokter. Kali ini Pras datang sendiri tanpa ditemani istrinya.

“Saya sudah lakukan berbagai cara untuk mengobatinya, Dok. Termasuk mengonsumsi obat yang dokter berikan. Tapi hasilnya nihil. Saya masih tetap tertidur dimanapun saya berada. Ini sudahketerlaluan, seolah sengaja ingin menjatuhkan nama saya di depan publik. Bahkan saya menduga penyakit ini tengah mengincar jabatan saya di kantor. Ini tak boleh dibiarkan, Dokter. Molong sembuhkan penyakit saya ini. Saya tak ingin, karier yang selama ini saya bangun dari bawah runtuh begitu saja.”

“Saya harap Anda tetap tenang. Saya tahu apa yang harus saya lakukan. Saya akan mengobati Anda lebih serius, tapi ada syaratnya.”

“Syaratnya apa, Dok?”

“Anda harus menginap di sini beberapa malam dan tak boleh pulang sebelum saya izinkan.”

“Tapi, bagaimana dengan pekerjaan saya, Dok? Jangan-jangan ketika saya izin kerja, penyakit ini akan mengambil posisi saya di kantor.”

Dokter tersenyum, “Anda tak perlu khawatir. Saya sudah siapkan segalanya agar penyakit Anda tetap di tempat ini. Sebaiknya Anda pulang untuk mempersiapkannya.”

Esok harinya, Prasmengunjungi dokterdiantar istrinya, Maya.

“Anda sudah siap menjalani terapi?” tanya dokter.

“Siap, Dok,” jawab Pras antusias.

“Baik. Sebelum saya melakukan pengobatan, saya akan mengecek seluruh kegiatan ketika Anda tertidur. Nantinya Anda akan kami pasang alat untuk mengecek gelombang otak, napas, oksigen dan jantung Anda.”

Setelah Pras menyanggupi perkataan dokter, ia pun diajak ke sebuah ruangan.Pada awalnya Pras merasa takut dengan kondisi ruangan itu. Namun karena desakan keinginan untuk sembuh yang luar biasa dari dalam dirinya, juga desakan istrinya, ia pun menepis rasa takut itu. Ia menaiki ranjang periksa.

“Sebaiknya Anda minum obat tidur ini untuk membantu Anda cepat tertidur.”

Prasmengangguk, meski ada rasa heran di hatinya. Heran karena ia inginmengobati penyakit yangselalu tertidur, tapi malahminum obat tidur.

Setelah Pras terlelap, dokter mulai memasang alat perekam otak. Beberapa kabel penghubung mulai direkatkan pada titik-titik tertentu di kepala Pras. Mulai dari pelipis, pipi, kening, dagu hingga pangkal leher. Tak lupa selang oksigen terselip di kedua lubang hidup.

Tak butuh waktu lama, segala macam aktivitas dalam tidur Pras pun terekam oleh komputer. Diawali bangun tidur di pagi hari, mandi, sarapan, memakai sepatu, naik taksi, turun taksi, bersalaman dengan beberapa rekan kerja, naik lift, keluar lift, masuk ruang kerja, duduk santai, membuka berkas-berkas, membuka laptop, mengecek angka-angka yang tersusun dalam program exel, mengubah angka-angka itu menjadi lebih besar nominalnya, lebih besar, dan lebih besar lagi. Lantas membuka ponselnya, membaca WA ucapan ‘terima kasih’ beserta emotikon setangkup tangan, membaca laporan SMS internet banking transfer dengan nominal uang memiliki sembilan ‘nol’, kembali membaca WA ucapan ‘sayang’ dengan emotikon bibir dan sepasang daun waru merah muda, keluar kantor, naik taksi, check in hotel, masuk kamar nomor 69,check out hotel, naik taksi, pulang, bertemu Maya, dan menyembunyikan peristiwa-peristiwa. Tiba-tiba gambar pada layar komputer berhenti menayangkan frame-frame perjalanan Pras dalam tidurnya.

Seketika itu Pras terbangun. Namun kembali ia dapati melihat tubuhnya terkapar. Ia juga melihat dokter saraf dan istrinya, Maya. Dokter saraf tampak sedang mencopoti kabel-kabel pada kepala Pras, sementara Maya tampak terisak. Seusai mencopoti kabel-kabel dan selang oksigen pada Pras, dokter sarafdengan dibantu Maya membopong Pras ke kursi roda dan memasukkan ke dalam mobil. Mereka membawa tubuh Pras pergi membelah malam.

Di sudut kota, dokter dan Maya menurunkan Pras di trotoar dan meninggalkannya begitu saja. Pras mencoba memanggil mereka, tapi sia-sia. Pras tertegun melihat tubuhnya sendiri. Ia tak habis pikir mengapa merekaseperti tak memedulikannya. Pras mencoba membangunkan tubuhnya, tapi tak bisa. Hingga pagi, tubuh Pras masih terkapar di trotoarmenjadi perhatian pengguna trotoar, namun tak ada satu pun orang yang mencoba membangunkannya. Pras tak bisa kembali ke tubuhnya. Ia tak tahu doktertelah menyuntikkan arsenik ke dalam tubuh Pras atas permintaan Maya.

***

Kudus, Maret 2018


M.Arif Budiman, lahir di Pemalang 5 November 1985. Suka menulis puisi dan cerpen. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.

Buku, Resensi

Kuasa Seksualitas Kita

oleh Vera Safitri

Bagaimanapun, peradaban manusia diciptakan oleh seksualitas kita yang rumit. Seksualitas menciptakan bahasa, hubungan kekerabatan, penguasaan alat dan teknologi, norma, hukum, politik, struktur, hingga sistem ekonomi masyarakat kita.

Bisa jadi, kita akan berdiri dengan tegak kepala saat menghadapi argumen bahwa manusia terlahir dengan seperangkat kebebasan dan kesetaraan. Bahwa peran gender serta posisi perempuan dan laki-laki sekadar hasil konstruksi sosial saja. Sebuah hal yang diimani banyak masyarakat industrial modern, serta menjadi penguat banyak gagasan yang melindungi sekaligus mengacaukan gaya bermanusia kita lewat cetusan Hak Asasi Manusia.

Tapi bagaimana kalau sebaliknya? Bagaimana kalau kebebasan dan kesetaraan yang agung itulah hasil konstruksi besar-besaran kita? Dan peran gender serta posisi perempuan memang terjadi oleh rentetan persoalan seksualitas-reproduksi yang biologis dan masuk akal? Kita pasti lemas dan terbelalak, bahkan sampai marah.

Jared Diamond, sekali lagi merepotkan dirinya sendiri dengan berusaha menjawab pelbagai keganjilan kemanusiaan kita soal seksualitas dan reproduksi itu. Lewat bukunya, Why Sex is Fun: Evolution of Human Reproduction yang dalam edisi Bahasa Indonesia terbitan KPG dijuduli,  Evolusi Reproduksi Manusia (2019). Kita patut curiga, perubahan judul yang dilakukan KPG ini adalah demi menghalau imaji pembaca yang mengira buku ini sebagai buku panduan seks. Jared sendiri pun telah mewanti-wanti hal ini lewat kata pengantar yang ditulisnya.

“Buku ini tidak akan mengajari anda posisi-posisi baru untuk menikmati hubungan seks atau membantu anda mengurangi rasa tidak nyaman akibat kram ketika menstruasi atau menopause. Membaca buku ini juga tidak akan mengobati sakit hati akibat mengetahui pasangan anda berselingkuh. Tapi buku ini mungkin dapat membantu anda untuk mengerti, mengapa tubuh anda bertingkah laku sebagaimana sekarang” (hlm. xi).

Dengan begitu, tinggallah sisa judul serius, yang megah dan membosankan. Itu sama seriusnya dengan keteguhan Jared menggunakan pendekatan biologis-antropologis pada buku-bukunya, termasuk pada bukunya kali ini.  Melalui Evolusi Reproduksi Manusia,  Jared menjelentrehkan betapa sistem masyarakat manusia di bumi ini sangat berurusan dengan kesenjangan biologis dan penalaran fisiologis yang bukan hanya merobek-robek skripsiku seputar gender dan perempuan, tapi juga mengusik kedamaian dan heroisme feminis yang tegar sentosa berdiri di tengah-tengah kita sejak lama.

Di telinga kita yang modern, kita tentu tidak ingin mendengar tuduhan Jared bahwa, secara evolusioner, laki-laki dan perempuan tidak banyak berkembang mengenai pembagian kerja: “Laki-laki selalu lebih menghabiskan waktu memburu hewan-hewan besar, sementara perempuan mengumpulkan makanan berupa tumbuhan dan hewan kecil, serta mengurus anak. Pembagian kerja serupa bertahan dalam masyarakat industrial modern” (hlm 131). Karena kedua pernyataan Jared itu justru lebih terdengar seperti, kalau alasan biologis yang selama ini tidak kita percayai, nyata berkuasa dalam banyak segi sosial kita dan bahwa kromosom x dan y yang kita miliki diam-diam membangun maskulinitas-feminitasnya yang menyebalkan.

Jared Diamond bukanlah satu-satunya tersangka atas gonjang-ganjing ini, kita ingat ada Yuval Noal Harari (Sapiens, 2011) dan Ivan Illich (Matinya Gender, 1998) yang juga mengurusi hal serupa. Yuval Noah Harari malah sempat menyebut manusia memiliki gen patriarkis. Baginya dalam banyak hal, kesenjangan biologis antara laki-laki dan perempuan dengan sengaja telah membentuk sistem yang timpang. Tapi tentu masyarakat modern seperti kita ogah diusik dengan kenyataan seperti itu. Bertahun-tahun kita menyalahkan konstruksi sosial-budaya atas kenyataan pahit yang ditimbulkan patriarki. Beribu penelitian sudah dilakukan demi mengusir keraguan kita soal itu. Kita sekuat tenaga menyangkal bagian-bagian biologis ikut berperan dalam ketimpangan ini. Sehingga segala penjelasan Jared mengenai seksualitas dan reproduksi kita itu menggenapi pertanyaan besar yang sempat dilemparkan Yuval lewat buku Sapiens: “Jika sistem patriarkis didasari oleh mitos-mitos yang tak berdasar biologis, maka apa yang menyebabkan sistem itu menjadi sedemikian universal dan stabil?” (hlm. 190).[]


Vera Safitri Esais dan ilustrator anak, baru saja merampungkan skripsinya sebagai mahasiswi Sosiologi, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Puisi

Puisi Jihan Suweleh

Fibromyalgia

Seperti mati

aku tertidur

dalam ngilu

sekujur tubuh

lelah mencekik

tulang begitu sakit

bertahun-tahun

aku budak tangis

apa yang kuingat

pudar perlahan

kecemasan, ketakutan

kepalaku menahan

luka dalam obat

kesembuhan

bukan antidepresan

kepercayaan

bukan penenang

sementara

persis tidurku

yang berhari-hari

tak berdaya

meski terlihat sehat

katakan bahwa aku akan sembuh

aku akan sembuh

tanpa pertanyaan:

benarkah kausakit?

leherku, pundakku

punggung, dada

kaki, tangan

melingkar kesakitan

aku tak sanggup bangun

dari tempat tidur

terlelap dalam hidup

yang mematikanku

setiap saat aku bertanya

mengapa aku terlalu payah

mengapa aku selalu lelah

meski tak berbuat apa-apa

aku ingin membeli energi

untuk tulangku

yang melulu ngilu

menyembilu


Trauma

Kenangan masa kecil

gelap dipejam

terbingkai pada mata

hadiah Papa Mama

membentuk benda tajam

di dalam kamar.


Waktu

Di magrib yang dingin

Kita sepotong bibir ranting

Di subuh yang sejuk

Kita sepasang kaki berteluk

Jarak menggigit bayangmu

Gemeletuk nyaring di kupingku

Tiada yang mampu menjarah waktu

Kau telah meniggalkanku, dan berlalu

Kenangan kutelan

Sendirian

Rindu mengudus

Dalam kardus

Sampai jumpa di lain hari

Ketika kau belum menjadi orang lain


Panggung Tangis di Mata Ibu

Aku melihat matamu, Ibu

menggerakkan kesedihan

menjadi seni pertunjukan

Setiap menyentuh panggung

aku melihat tangismu

pada tirai, pada lampu yang berderet

dan akan menyinariku

mendapat tepukan dari tangan

yang bukan dirimu

Tata rias yang teroles di wajahku

menyatu dengan kulit

sebagai duka yang kaulempar

tanpa lebih dulu kautatap

dan kostum-kostum yang kukenakan

adalah pertanyaan atas kesedihanmu

yang tak pernah sanggup kaujawab:

betulkah mimpiku adalah lukamu?

Aku rindu bersandar di dadamu

mendengar sunyi yang berdarah

hening yang memeluk kehampaan

tanpa air susu yang keluar

sebagai tali antara kita

Adakah yang tidak kuketahui

dari masa lalumu, Ibu

selain payudaramu

tak sanggup mengeluarkan

apapun kecuali kesedihan

Adakah yang tidak kuketahui

dari masa laluku

sehingga yang kuingat hanya

Ibu mengurungku dalam diam

dan memukulku ketika aku lari

ke luar rumah

Di panggung berkilap-kilap

aku patung dalam matamu

wajah-wajah gembira di depan sana

adalah tangismu yang menolak

kepergianku

tetapi, Ibu, tidak ada jalan yang buruk

di atas panggung

meski panggung yang kita lewati

berbeda.


Pada Sebuah Televisi

Aku ingin meninggal di dalam FTV

menjadi air mata penonton setia

yang bersembunyi

pada nasib buruk sendiri.

Mereka melihatku sebagai perempuan

simpanan suami orang

merebut hak anak-anak tak berdosa

korban kegagalan rumah tangga.

Satu kali saja aku menjadi pemenang

meski menyakiti istri orang

anak orang, dan harga diri orang

yang rela melakukan apapun untukku

dan meninggalkan siapapun demi aku.

Kelak ketika aku kecelakaan

karena sibuk teriak-teriak

demi memperlambat durasi

kesedihan pada ujung takdir,

aku pasti bertobat dan meraung-raung

minta maaf pada Tuhan

sekalian tak menyangka, ya ampun

perempuan yang menyakitiku

adalah penolong hidupku.

Dan aku meninggal setelah memohon

agar mereka kembali bersatu

biar penonton tidak terlalu membenciku

lalu mendapat petuah hidup

dari kisah orang-orang baik.

Aku ingin meninggal di dalam FTV

menjadi teman bagi kesepian ibu-ibu

dan hiburan untuk orang

yang gemar tertawa

lewat judul-judul panjang

tak masuk akal.


Meminta Pertolongan

                    Mengenangmu.
                    Tolong aku.

Sajak-sajak yang kita tulis
Berhamburan dalam tangis
Rindu terjatuh pada patuh
Menjalar sebagai luka lebar
Di matamu yang jauh dari mataku
Senduku yang sendu pada sendumu
Sepanjang tahun lalu

Tengah malam kita menjadi terang di layar ponsel
Dan gelap di dada sendiri
Menutupi semua yang kita pahami
Dengan pertanyaan seputar duka sandiwara

Pagi hari kita menjadi kotoran kambing
Yang menolak mengerak
Membantah disebut sampah

Siang hari kita menjelma harta
Yang tidak membuat kaya
Siapa-siapa

Sore yang merah
Bergantian di bibir kita
Dan kau basahi dengan hujan dari mulutmu
Sobek seluruh aku

Tolong.

Mengenangmu adalah darah
Yang tak henti keluar di kepala

Mengenangmu adalah sedih
Yang selalu ada dalam puisi
Tanpa bisa kupahami


Kepada Tubuh yang Runtuh

Kautahu, tidak ada yang ingin menjadi gila
seperti kita yang tidak meminta lahir dari rahim siapa-siapa.

Napas membusuk
lebih busuk dari bangkai tikus
yang kaupandang sepanjang hari
menunggu pulang tiba

Di selatan Jakarta, orang-orang bekerja
menatapmu sebagai manusia
tanpa otak, tanpa dada, tanpa wajah
berdatangan meminta telinga untuk cerita sedih mereka

Pertanyaan datang pergi
semacam kontes di televisi
yang kausimak tiap hari
sebagai hiburan selain sinetron perselingkuhan

Rasa iba kaututup
demi membungkam kesedihanmu sendiri
luka duka kaubiar turun
dalam dirimu menuju doa yang entah didengar kapan

Terik melingkar di tubuh kita
setiap malam di atas ranjang
basah menahan nyeri
yang takut diketahui

Siapa punya luka lebih besar
di antara kita
siapa punya darah lebih kotor
di antara kita
bagimu menjadi gila adalah kesalahan
dan ketololan dan keegoisan dan kesia-siaan dalam hidup

Tetapi, tidak ada yang ingin menjadi gila
tidak ada yang ingin tersesat dalam dirinya sendiri
dan kaulupa, kita sudah mengalaminya
bahkan berdoa, “Tuhan, pulangkan kami,

tanpa rantai besi di tubuh ini.”


Bilur

Kau terbungkus plastik
tubuh biru, lebam, kaku
di tanah basah
kunci menyembul
menjadi barang bukti
terkubur

Pernah kita bersatu
suka dalam luka
tanpa minta sudah

Akhirnya jasadmu
lepas juga
disambut angin
yang menggiring bau anyir

Masih terekam nyerimu
bunyi jerit di ruang itu
menjadi nyanyian di bibir kita
takut menuju takluk
pada malam deras keringat

Di mana kemanusiaan, kaubilang
Di mana letak otakmu, perempuan murahan, kata mereka

Cambuk menari
di punggung dan pahamu

Kini giliranku
menyusul kebebasanmu.


Tidur

musik-musik sendu

menyentuh

kasur yang lembut

dan kosong

bersih

dari tangis

menguar luka tanpa darah

jatuh sebagai batu

jatuh sebagai lagu

dengan lirik kehilangan

Ibu


Wajah yang Terbakar di Stasiun Manggarai

Aku lupa bertanya padamu

bagaimana cara terbaik

menyelamatkan cinta

dari sakit hati

Di peron dua aku menunggu

bertahun-tahun, berganti baju

wajah yang tetap suram

rambut yang tetap kelam

mengibas masa lalu dari tanganmu

dari napasmu

dari tangismu

dalam sunyiku

Entah apa yang membuat diriku

menyebutmu masa lalu

sementara kita tak pernah berpisah

sekaligus tak pernah bersama

darahmu

dalam

darahku

Aku melihat restoran berjejer

seperti kelaparanmu

yang belum mampu kausampaikan

kecuali dalam rengek dan ba-bi-bu

hujan pernah menyapu kita

tetapi menghangatkan dalam peluk

yang kita eratkan

kemarau pernah mendinginkan kita

bersama bising kereta dan bau keringat

para penumpang ketika kauhilang

dan aku menjerit mencarimu

meski aku tahu kau adalah aku

Anakku, suatu saat entah di mana

kita akan kembali bersama

naik kereta menuju rumah

aku menenteng banyak kardus

tetapi takkan pernah kubiarkan

tubuhmu terjatuh, tersenggol tubuh

orang lain ketika kereta rel listrik berhenti

dan penumpang seperti binatang buas

yang membakar wajahku dengan api

kebencian tanpa sanggup kutahan


Jihan Suweleh, lahir di Gorontalo, 14 Desember 1994.

Cerpen

Cinta Terlarang

Cerpen Anggoro Kasih

Aku membuka jendela kamar hotel, membiarkan angin yang dibawa oleh pekat malam masuk membelai tubuhku. Kulihat bulan bulat sempurna berwarna perak seperti mata serigala, bertengger mesra di langit malam tanpa bergerak seperti terperangkap dalam bingkai jendela. Kupandangi bulan itu beberapa saat. Sebagai pengganti rasa gelisahku menunggu pujaan hatiku yang tak juga kunjung tiba.

Kini aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Kunyalakan televisi sekadar mengusir sepi. Aku sudah menutup jendela dan membiarkan bulan perak berada di luar sana sendirian. Sudah pukul sebelas malam. Tak ada lagi kabar darinya selain pesan yang dia kirimkan sekitar satu jam yang lalu “Sabar ya, aku pasti datang menemuimu.”

Aku cemas memikirkannya. Ingin sekali aku mengirim pesan atau menelepon untuk mengobati rasa cemasku. Namun selalu urung. Pikiranku berkecamuk, mungkin dia sedang mencari alasan kepada istrinya agar bisa pergi. Mungkin juga dia sedang meninabobokan anaknya. Maklum, anak keduanya masih berusia balita. Atau mungkinhal buruk terjadi; istrinya memergoki obrolan mesraku dengannya dichatt roomWhatsApp. Untuk yang terakhir ini, aku selalu mengingatkan dia agar menghapus obrolan kami begitu menemu ujung percakapan. Tapi aku tahu dia sering teledor dan pelupa. Semoga saja ini hanya prasangka burukku. Semoga saat ini dia sedang sibuk menyetir, membelah jalanan macet yang memang selalu padat di malam minggu seperti sekarang untuk menuju ke sini.

Aku mengganti saluran televisi berkali-kali. Berharap menemukan acara yang tepat untuk mengusir rasa gelisahku, namun gagal. Akhirnya aku beranjak dari tempat tidur, berjalan mondar-mandir seperti induk ayam kehilangan telur. Sementara ponselku masih saja diam tak bersuara. Aku benar-benar benci situasi seperti itu. Kenapa untuk melepas rindu saja begitu merepotkan? “Arrghh.” Aku menggerutu pelan.

Kamar hotel ini berukuran delapan kali delapan, dilengkapi fasilitas lengkap layaknya hotel bintang lima. Mungkin sudah tiga kali aku memesan hotel ini untuk melepas rindu dengannya. Namun bukan di hotel ini saja kami biasa bercinta. Kami sering pindah-pindah hotel untuk menghindari terbongkarnya perselingkuhan kami. Sebagai direktur perusahaan yang cukup punya nama, aku bisa saja sewaktu-waktu bertemu dengan client atau kenalan. Seperti dua minggu lalu saat aku berjalan dengan kekasihku menuju kamar yang telah kupesan, aku bertemu dengan rekan bisnisku.

“Sedang apa Anda di sini?” pertanyaan itu keluar usai kami bertegur sapa dan berjabat tangan.

“Biasa, urusan bisnis,” jawabku enteng. Lalu aku mengenalkan kekasihku. Tak ada sedikit pun kecurigaan yang muncul dari raut wajah rekanku. Dia memang belum tahu banyak mengenai diriku, terlebih tentang hubunganku dengan kekasihku. Tentang hal itu, tentu saja aku bersyukur.

Semenjak kejadian itu, aku dan Dudut, begitu biasa aku memanggil kekasihku, memutuskan untuk tidak berjalan bersamaan saat masuk dan keluar hotel. Dudut menangbukanlah nama aslinya, melainkan panggilan sayangku padanya. Kupanggil demikian karena dia gendut. Namun aku tak pernah mempermasalahkan itu hinggamenyuruhnya untuk diet. Bagiku gendut itu lucu, dan yang terpenting, sangat hangat untuk kupeluk. Sampailah waktunya banyak orang yang mencurigai hubungan kami, dan karenanya kami sering mendengar desas-desus yang beredar tentang kisah asmara kami. Karena aku dan Dudut sudah sama-sama berkeluarga, maka semenjak itu, kami memutuskan untuk bermain lebih hati-hati.

Seperti sungai yang berhulu, kisah ini juga berawal. Aku mengenal Dudut dari temanku bernama Widy. Saat itu semua berjalan wajar dan biasa. Saat itu aku sedang merasakan sakit hati hingga menenggelamkanku pada lautan derita yang kelam. Kekasihku sebelumnya saat itu bilang kalau hubungan kami harus berakhir. Seperti seorang pejalan yang terjerembab ke dalam lubang hitam secara tiba-tiba. Aku kaget dan tidak bisa terima. Ketidakterimaan itu terasa menyakitkan, terlebih karena datangnya tiba-tiba hingga aku sulit menerimanya. Sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiranku hal itu akan terjadi. Widy adalah orang pertama yang menenangkanku. Memberiku semangat untuk perlahan bangkit dari lubang hitamku. Saat itu aku seperti manusia tanpa harapan. Manusia yang selalu mencoba memungkiri kenyataan hingga hanya menyisakan kepedihan.

Ombak akan terus bergulung dan kisahku juga terus berjalan. Selain Widy, juga ada Dudut yang sering menemaniku selama dalam masa remuk, dia ada  membawa air dan udara sejuk. Aku merasa bersyukur karena memiliki mereka, terlebih Dudut, karena itu aku dan Dudut menjadi dekat, bahkan hubungan kami menjadi mesra.

“Kamu jangan terlalu dekat dengan Riben. Lebih baik kau menjauh dia,” ucap Widy padaku. Riben adalah nama asli Dudut. Saat aku mencari tahu alasan kenapa aku harus menjauhi Riben, Widy menjawab kalau Riben telah jatuh hati padaku dan hal itu katanya bisa membuatku tidak jadi lepas dari dunia kelam yang saat itu dia nilai mulai kulepaskan.

***

“Kamu sudah lama? Maaf aku baru selesai mandi. Habisnya kamu gak ada kabar,” ucapku usai membuka pintu.

Tanpa banyak kata, Dudut masuk dan memelukku erat, dia mendekapku seperti seorang tuan yang takut burung merpatinya lepas. Sementara tangannya sibuk memeluk dan membelaiku, dia gunakan kaki kanannya untuk menutup pintu.

“Aku rindu,” ucapnya manja di samping telingaku. Handuk yang kugunakan juga sudah terlepas. Bibirnya kini menyapu daun telinga dan leherku. Dia seolah tak mau melewatkan setiap incinya. Sementara tangannya sibuk membelai dan meremas dadaku. Tangan itu perlahan turun, menepuk pelan bokongku. Kurasakan bibirnya semakin liar bermain. Lidah kami beradu. Dia memang pandai memancing dan membuat nafsuku bangun dan berapi.

Hanya ada suara televisi dan nafas yang beradu. Tidak lagi terasa dingin udara AC meski kami sudah sama-sama telanjang. Justru tubuhku terasa panas saat tangan Dudut dengan gemas mamainkan kemaluanku. Aku dibuatnya malayang.

“Lakukan cepat, aku sudah tak tahan lagi,” ucapku yang lebih terdengar seperti desahan yang mengemis.

Perlahan, kemudian cepat dan semakin cepat si jagoannya menusukku. Menghentak-hentak, membuatku menjerit pelan beradu dengan suara decitan tempat tidur. Tubuhnya rebah di sisiku setelah senjatanya memuntahkan hasratnya.

“Aku sayang kamu,” ucapnya usai mengecup keningku. Kami tidur berhadapan. Tanganku membelai wajahnya. Ingin sekali kubawa wajah itu kemana pun aku pergi.

Pekat semakin mengikat malam gelap. Aku berdiri menghadap ke luar jendela, memandangi bulan bulat perak masih berada di tempat yang sama seperti enggan pergi. Rasanya aku juga ingin seperti bulan itu. Berada di sini bersama Dudut lebih lama lagi. Namun itu jelas tidak mungkin. Hidup memang sering menyebalkan. Usai merapikan kemejanya, Dudut memelukku dari belakang. Aku tahu dia juga ingin berada di dekatku lebih lama. Tapi kami tahu sama tahu, kami harus segera pulang, karena istri kami sama-sama telah meninggalkan banyak riwayat panggilan di ponsel kami masing-masing.

***


Anggoro Kasih, lahir dan menetap di Karanganyar, Jawa Tengah. Pernah menuntut ilmu di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia UNS. Sekarang aktif di Komunitas Sastra Kamar Kata.

Buku, Resensi

Antologi Kenangan dalam Bangun Pagi (semoga) Bahagia

oleh Indah Darmastuti

“Tugas seorang pemimpin adalah:

 membuat rakyatnya bangun pagi bahagia”

Kalimat pembuka itu diletakkan di halaman awal, di bawah foto tiga laki-laki dalam buku lakon bersampul paduan hitam dan krem. Sepertinya Eswe, si Penulis lakon ingin meyakinkan pada siapa pun bahwa kebahagiaan itu penting dan hak setiap umat sehingga ia mencantumkannya sebagai salah satu tugas seorang pemimpin (ideal).

Tetapi dalam 9 naskah plus 1 prolog dengan tokoh tiga pemuda: Bas, Bob, dan Frank itu lebih banyak mengobrolkan tentang kesedihan juga kenangan-kenangan pahit, bahkan luka yang diproduksi dalam keluarga yang semestinya menjadi salah satu sumber utama kebahagiaan sebelum para tokoh itu masuk pada kancah masyarakat dan bagian dari sebuah bangsa yang bergolak pada 1997-1998 semasa mereka remaja. Mereka seumuran dan berkawan dekat.

Buruknya Hubungan Keluarga

Tiga tokoh itu punya akar kepahitan yang ditanam oleh orangtua yang buruk menurut ukuran pada umumnya. Tokoh Bas bermasalah dengan ibunya. Entah ada persoalan apa sehingga  ibu mengutuk anaknya sedemikian rupa. “Pergi dari rumah ini! jadilah gelandangan […]” dan “Matilah seperti bangkai tikus, tak ada yang akan menangisimu […]” (hal. 35 dan 36).

Pun pada tokoh Frank yang bertengkar dengan ayahnya. “Frank, kamu bukan anakku, kamu anak kelelawar malam yang tersesat menghamili ibumu.” Pada puncak pertengkaran itu, tiba-tiba ayah Frank bertanya “Apa cita-citamu, Nak?” / “Seniman teater,” dan seperti ayah yang buruk, ia langsung menghakimi anaknya dengan mengatakan bahwa masa depan Frank buram seperti kertas dan ayahnya bilang: “Lebih baik kamu mati sekarang, Frank.” (hal 38-39).

Bob tak jauh beda. Ia mendapat pesan dari neneknya sesaat sebelum meninggal: “Jadilah jahat sebelum orang lain mengajarimu kejahatan, sebab kejahatan yang orisinil datang dari hati nuranimu. Kejahatanmu akan lebih berkwalitas dari seorang kriminal atau koruptor. Sekalipun persoalan keluarga semacam itu ada, aku membayangkan betapa berat untuk meraih kebahagiaan itu, apalagi kalau itu menjadi salah satu tugas seorang yang memimpin.

Saya mencurigai, ada apa dengan Eswe sehingga memilih menghadirkan orang tua (ibu, ayah, nenek) yang buruk menurut pandangan umum. Saya katakan begitu, karena siapa tahu itu baik menurut beberapa kalangan karena satu dan lain hal.

Penyebutan tokoh-tokoh terkenal

Memang tak selalu naskah lakon ada kandungan alur cerita, plot, konflik dan tematik khusus yang mengarah pada sebuah titik seperti novel. Seperti dalam buku lakon ini, kita bisa menyimak obrolan tiga bersahabat tentang apa saja sebelum akhirnya mereka dibawa ke persoalan yang akan diangkat oleh Eswe: Reformasi. Tetapi perihal peristiwa 1998 itu hanya satu bagian saja, selebihnya tetap mengangkat obrolan-obrolan anak muda pada zamannya. 

Salah satu tema obrolan tiga tokoh itu selain tentang cita-cita, mereka mengungkap tokoh-tokoh yang mereka kagumi. Bas yang disumpahi ibunya itu mempunyai tokoh idola: Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Christina Marta Tiahahu, R.A. Kartini, Laksamana Malahayati, Bunda Theresa, Panglima Polim dan Nabi Muhammad SAW. Kecuali Kanjeng Nabi Muhamaad dan Panglima Polim, tokoh yang dikagumi Bas semuanya Pe..rem..pu..an. Benarkah tak ada konflik psikologi tokoh Bas pada makhluk perempuan dan sosok ibu? Di sini tak ada penjelasan tentang mengapa ia yang mempunyai hubungan buruk dengan ibu, sangat mengagumi tokoh-tokoh perempuan. Atau barangkali Bas merindukan sosok ibu yang baik dan penuh kasih sehingga ia mengambil tokoh idola perempuan?

Frank—si anak kelelawar itu mengagumi Sukarno, Hatta, Syahrir dan Helen Keller. Sekali lagi, selain Helen Keller, tokoh yang dikagumi Frank adalah la..ki..la..ki.. tak ada trauma atau gejolak psikologi pada tokoh Frank. Entah mengapa tokoh Frank itu mengagumi Helen Keller yang difabel netra-rungu-wicara. Barangkali karena Helen Keller juga pengamat politik. Tetapi di sini tetap tak ada penjelasan, mengapa tokoh Frank yang mempunyai hubungan buruk dengan ayahnya itu justru mengagumi sosok laki-laki atau Frank merindukan sosok ayah yang mendukung dan mengayominya sehingga ia mengidolakan tokoh laki-laki.    

Lalu, Bob yang mendapat pesan dari nenek ajar menjadi penjahat berkualitas itu mengagumi Suharto dan Tan malaka dengan alasan: Tan pemikir komunis, sedang Suharto berhasil mengkomuniskan banyak orang. Satir yang pas. Di sini tampak sekali salah satu kekuatan Eswe untuk melontarkan kritik pada sebuah peristiwa dengan cara berada di antara dua kutub yang berlawanan.

Lagu Daerah

Dituliskan dalam teks, peristiwa berkumpulnya tokoh Bas, Bob dan Frank adalah 1997-1998 ketika Penataran P4 menjadi agenda wajib diikuti oleh setiap remaja garapan “pabrik” orde baru untuk setiap warga negara yang mengaku nasionalis dan berpancasila. Yang salah satu mata pelajarannya adalah mengenal lagu-lagu daerah: O Ina Ni Keke, Gambang Suling, Soleram, Apuse.

Mereka tak menyanyikan lagu pop atau dangdut yang mungkin bisa dipakai untuk menandai lagu-lagu apa saja yang hit pada masa itu. Tetapi ada tambahan daftar lagi mereka di luar lagu daerah, yaitu: Darah Juang karya John Tobing, lagu tema perjuangan menumbangkan tiran kala itu

Peristiwa serius yang terjadi di negeri ini disampaikan dengan jenaka, dan tak lupa Eswe menyatir apa yang terjadi setelah reformasi: setelah berjuang menggulingkan tiran kakak-kakak mahasiswa yang kala itu melakukan protes akan menangguk keuntungan dengan mendapat bagian kursi-kursi senayan.

Cerita lain yang disentil oleh Eswe adalah tokoh Bob (pengagum Suharto garis keras) Frank dan Bas yang mendukung reformasi tetapi tetap mementingkan persahabatan. Belum ada Facebook memang, tetapi sangat mungkin mereka tidak saling blokir karena di sini mereka bertiga tetap bersatu jualan ikat kepala bertuliskan reformasi. Eswe menangkap ada peristiwa nyempil di sini, bukan menampilkan tokoh sok hero yang berorasi bak politisi karbitan.

Buku naskah panggung ini, mencoba hadir memenuhi takdirnya bahwa pementasan, betapa pun  serius dan berat tema yang diangkat, upaya untuk menghibur dan kelayakan ditonton tetap harus dipikirkan matang. 

Naskah ini ditutup dengan obrolan mereka bertiga tentang evaluasi hidup mereka. Mengevaluasi cita-cita yang selama ini sempat mereka genggam sebagai remaja produk orde baru plus keluarga hancur.

Bob yang semula bercita-cita mati muda, berubah ingin menjadi penjagal sapi. Frank yang semula ingin menjadi seniman teater, beralih keinginan menjadi peternak ikan dan membuka usaha odong-odong. Yang paling pilu adalah Bas, karena kuncinya ada di sini, ketika Frank bertanya “Apa cita-citamu, Bas?”

“Aku hanya ingin bangun tidur bahagia, Frank.” [hal 98]

Pada akhirnya kebahagiaan itu harus dicari sendiri, dikaisnya dari sisa-sisa umur dan paparan persahabatan atau apa pun yang akan terjadi dalam hidupnya. Siapa pun berhak bahagia, termasuk ia yang pernah dikutuk ibunya.  []


Indah Darmastuti, tinggal di Solo. Anggota komunitas Sastra Pawon-Solo. Pendiri Difalitera situs sastra suara untuk difabel netra. yang bisa diakses dan diunduh secara gratis di http://www.difalitera.org atau bisa diakses di spotify.