ada hal-hal teraba
pada buah dada yang dibedah
ada ibu di sana
ada ranum alpukat
pada hamparan putih lembut itu
ada kekasih
ada hangat selimut rajut
pada kemesraan kelam itu
ada anak-anak
merumput surga
2019
ranum fajar
jalan lengang sejuk pagi
hamparan hijau padi berbulir
kuntum-kuntum ladang jagung
kolam tenang ikan berenang
bisik gemericik sungai
awan lembut perlahan beriring
2019
anak kecil berlari
ia menuju pepohonan pada jalan menurun
menangkap suara burung dan gemulai angin di antara daun
ia menahan bayang awan pada matanya
kaki kecil lembut membelai rumput
bintik peluh sedikit sembunyi
kulit berkilau sematan embun
2019
ia berkata, indah sekali
di tepi pematang ia berhenti
ia tangkapi kepak sayap bangau kecil
yang naik turun dari dahan mati
kepada kolam bibit padi
2019
uri-uri
sehelai selendang
menari bersama gemulai angin
keris-keris kecil yang manis
sehelai lagi dihentakkan
kembang-kembang air yang terusir
seperti tertawa suaranya
selusin batik menghiasi halaman
tersampir pada tali menggeletar
2019
melepas turun
benang-benang sari mendengar hujan
mendengar geledek hujan
benang-benang sari bunga rumput
tertimpa tetes-tetes hujan
benang-benang sari bunga rumput
tertunduk-tunduk terbawa berat tetes-tetes hujan
benang-benang sari basah sekujur tubuh
2019
mencium fajar
pada jaring waktu pagi hari
aku tak pernah melihat keluar
tapi kubayangkan, ada yang menjalin
segar dan ramai di udara:
hembus udara embun dan kicau burung
dan percik keemasan di tengah suram langit.
2019
mengetuk hati
cinta adalah diskusi hujan
bagi perempuan muda, bagaimana membedakan
keinginan berbagi dari memiliki, dan keduanya berasal dari surga
cinta adalah diskusi kemarau
di mana rasa dahaga tak menemukan secangkir minuman
hingga ia mengerti di dalam dirinya sendiri sumur tertutup sebenarnya penuh
cinta adalah diskusi musim semi
setiap pagi tunas baru menemui cahaya matari
dan dengan tunas cinta lainnya ia berlomba tumbuh semakin tinggi
cinta adalah diskusi musim dingin
di mana setiap yang beku adalah pintu rumah yang perlu diketuk
senyum dan pelukan hangat, meski seribu kali ditolak, tetap jadi anak kunci
2019
kita belum merdeka ketika membaca berita
ini memang bukan 17 agustus
hari di mana kita mengkaji bendera di puncak
kita belum merdeka
selama masih ada pengemis di tangga pusat perbelanjaan
dan anak-anak yang berangkat pagi dengan sepatu menganga
kita belum merdeka
ketika ada buruh pabrik yang disembunyikan di loteng ketika audit tenaga kerja
kita belum merdeka
ketika buku-buku dirampas oleh tentara
kita belum merdeka
ketika pemerkosa diijinkan melengang di kampus
kita juga belum merdeka
ketika jumlah pupuk dan pestisida yang dibeli petani dibandrol naik
dan pedagang sayur memilih membeli barang dari tengkulak daripada petani
kita belum merdeka. ke mana perempuan-perempuan Kendeng itu? aku belum selesai membaca berita, apa mereka masih harus merendam kaki mereka di dalam semen hari ini?
2019

Patricia Pawestri, lahir dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di Nalar Politik. Karya tunggalnya Metafora Goodnick Griffin.

I just say HI Patricia Parwesti ….
success Always yaa
thank’s, mas ari ?