Cerpen

Rekayasa Akar

 Cerpen Danang Febriansyah

Mereka berdua terlihat serius membincangkan sebuah pohon. Pohon yang bagi mereka mampu meneduhi dan menyejahterakan banyak orang. Pohon yang mereka sebut Hariara. Mereka berusaha saling mempengaruhi agar mau mengikuti ambisi yang membuncah pada jiwa tua mereka. Sebab mereka mengklaim, bahwa akar-akar di bawah pohon itu ada di pihaknya.

***

“Jangan pernah mencabut akar yang telah tertancap lama di semesta ini. Bahkan hingga tiga abad mendatang.”

Sabar Manjung menatap tajam pada Agus Karsono, seperti akar yang menghujam masuk ke dalam tanah. Pesan itu bagi Agus Karsono serupa kutukan, harus diwujudkan.

Lelaki tua dan tambun bernama Sabar Manjung itu sudah paham bagaimana menanam pohon. Tapi untuk pohon yang satu ini, dia jauh lebih berhati-hati. Agus Karsono yang juga sudah tua harus mematuhi pesan itu. Karena untuk urusan pohon besar, rindang yang bernama pohon Hariara ini, dia masih kalah pengalaman dari Sabar Manjung. Meski gejolak jiwanya yang memberontak juga harus ditaati.

Dua cangkir kopi tersaji di depan mereka. Asap harum kopi menguap mengetuk hidung Agus Karsono yang menganggap itu tidak sehat. Bagi Sabar Manjung lain, semua dilahap. Bagaimanapun rasanya, dan bagaimanapun mendapatkannya. Apalagi hanya secangkir kopi. Meski itu tak menguruskan badannya. Lelaki berhidung besar itu menyeruput kopi panas itu, langsung masuk ke dalam lambungnya. Kopi panas yang menghangatkan badannya saat subuh yang dingin ini.

“Akar ini akan menjadi api jika dicabut. Namun yang menghajarmu adalah air!” lanjut Sabar Manjung berapi-api seakan pesannya mampu ditangkap orang macam Agus Karsono.

Bagaimanapun pesan itu telah menusuk sendi-sendi Agus Karsono, serupa dihajar peluru yang tajam. Tak memahami maksudnya.

“Tapi, pernah kau cabut akar ini dan kau menikmatinya!” bantah Agus Karsono, jiwa muda dalam tubuh tuanya mulai memprotes. “Dan tak terjadi apa-apa.”

“Kau kira aku mencabutnya? Kau lihat, orang-orang itu yang coba merobohkan pohonnya. Tapi aku menopangnya dan membuat akarnya tetap kuat. Meski saat itu harus ada darah yang tertumpah!”

“Kau seperti keset, Sabar!” kata Agus Karsono lantang. “Kau palingkan muka dariku ketika kutarik tanganmu agar kakinya, kaki seorang yang biasa kau panggil Ikal dan kau puja itu tak menapak di wajahmu.”

“Itulah, Agus. Itulah kenapa subuh-subuh begini aku menemuimu. Aku ingin kau tahu bahwa pohon yang meneduhi saat terik selama bertahun-tahun ini jangan kau tebang. Akarnya jangan kau cabut.” Sabar Manjung melemah, pengemis dengan wajah mengibanya sampai kalah kusut. Namun panggilan Agus Karsono pada namanya tanpa disertai gelarnya itu cukup mengganggunya. Padahal dia pernah menguasai pohon Hariara ini untuk beberapa tahun yang lampau saat Hariara ini diguncang banyak orang. Dan itu sebuah jabatan terhormat.

Sesaat setalahnya, sebutir buah dari pohon di depan mereka itu jatuh tepat di hidung Agus Karsono. Meninggalkan jejak basah di ujung hidungnya. Buah kecil berwarna merah yang tak enak dimakan itu kemudian menggelinding dan berhenti di dekat kakinya. Dia itu menginjaknya hingga hancur.

Agus Karsono mengumpat.

“Pernah kucabut akarnya sedikit. Beberapa tahun setelahnya air gelap berupa semburan lumpur bercampur kemunafikan, kekikiran dan kerakusan menyembur menenggelamkan beberapa desa di timur sana. Banyak yang menghubungkannya dengan Hariara ini. Padahal kata banyak orang juga, perusahaan Ikal di belakang semuanya.”

“Nah … Kenapa tak boleh kucabut semuanya hingga akar-akarnya sekalian? Biar tak ada kemunafikan, kekikiran dan kerakusan seperti air itu?”

“Ingatlah, Agus. Pohon ini tempat berteduh banyak orang, selama bertahun-tahun, bahkan mungkin sebelum kau paham tentang Hariara ini.”

“Hanya karena itu?”

“Apa kau harus merobohkan pohon ketika buah kecilnya jatuh tepat di hidungmu?” Sabar Manjung memberi ibarat. “Apa kata alam semesta ini?”

Agus Karsono melirik kopi di dekatnya, sedikit ada rasa tertarik demi melenyapkan dingin ini. Apalagi cara minum Sabar Manjung seakan provokasi agar dia mencicipinya juga.

“Ikal punya tangan kanan berlapis. Dia tak tersentuh. Pohon ini dikuasainya. Kau tak mungkin menjangkaunya.”

“Kau perlu diselamatkan, Sabar! Biar kau punya jalan sendiri, biar kau tak lagi menjadi alas kakinya. Biar pohon ini tumbuh semakin kuat, tak lagi menjadi kambing hitam atas membanjirnya air yang kau bilang lumpur itu.”

“Jangan, Agus! Kau tak mau ditertawakan hingga tiga generasi ‘kan? Kita satu leluhur, bergabunglah dengan Ikal.” Sabar Manjung gemetar dalam kalimatnya. Ada sebuah ketakutan di sana. Ketakutannya bercampur dengan kemarahan sebab Agus Karsono mengucapkan namanya lagi seperti tanpa rasa hormat sedikitpun.

Namun saat mengingat Ikal yang dipujanya, membayangkan senyum Ikal yang berwibawa, mengenakan jas berwarna terang dengan rambut kelimis disisir ke belakang, seakan kekuatan itu tumbuh kembali. Masih banyak yang mau mempertahankan pohon ini jika sewaktu-waktu rubuh. Masih banyak akar yang mencengkeram tanah. Jelas kuasa Ikal masih besar. Apalagi dia menguasai beberapa media juga. Sabar Manjung tersenyum kecut melihat ambisi Agus Karsono yang baginya juga memiliki ambisi untuk menguasai pohon itu.

“Pesanmu tadi ambigu, Kawan. Bermakna ganda. Juga tidak konsisten. Kau tadi bilang aku tak boleh mencabut akar ini. Tapi kau membela Ikal yang sejatinya dia pelan-pelan mencabut akarnya, dia akan ditinggalkan pemujanya. Jelas ada yang salah dengan caranya memelihara pohon ini,” kata Agus Karsono tegas. Tak takut dengan larangan Sabar Manjung.

Akhirnya Agus Karsono menyesap kopi meski sedikit. Kopi memasuki kerongkongannya dan berlabuh di lambungnya. Rasa hangat menjalar. Kopi hitam itu dinikmatinya juga. Tak peduli kafein yang sebelumnya dianggap racun itu.

Tiba-tiba Sabar Manjung seperti kehilangan kesabaran. Dia membanting gelas kopi. Suaranya nyaring meski masih kalah dengan suara pistol yang memuntahkan peluru. Dia menggertakkan giginya.

“Ingat, Agus! Aku tetap akan mengangkat Ikal lagi untuk memelihara pohon ini!” Sabar Manjung berdiri. “Dan aku. Aku akan menguatkan akar-akarnya. Aku akan di belakangnya!”

“Kau tak lihat, Sabar? Selama pohon ini dalam kuasanya, akar-akarnya semakin keropos. Apalagi banyak yang menganggap Ikal berdosa atas air yang bercampur kemunafikan itu membanjiri sebuah wilayah. Kau tak ingin ikut denganku demi menyelamatkan pohon ini?” Agus Karsono masih duduk dan makin menikmati kopinya.

“Kita lihat, Agus. Kita lihat bahwa Ikal akan berkuasa lagi dan diakui oleh semesta ini,” janji Sabar Manjung begitu yakin.

“Semestalah yang akan mengakuiku untuk menyelamatkan pohon ini beserta akar-akarnya.” Agus Karsono tak kalah yakin.

Sabar Manjung menerka, akan ada penguasa tandingan. Dia lalu pergi meninggalkan Agus Karsono yang sedang menikmati kopi. Orang tua itu menyelimuti dirinya dengan kain berwarna terang. Agar dingin yang menyelimuti subuh ini segera sirna. Dia berbelok di tikungan dan memastikan tak terlihat lagi oleh Agus Karsono.

Sabar Manjung menyobek wajahnya yang ternyata hanya topeng. Di baliknya timbul wajah lain. Wajah penuh senyum Ikal yang tampak.

Agus Karsono tersenyum saat Sabar Manjung sudah berbelok di tikungan. Dia segera membuka wajahnya. Sebuah wajah lain terlihat setelah wajah Agus Karsono dibuka. Wajah Ikal terukir di sana.

Tepat saat itu, akar-akar pohon tersebut mulai tercerabut. Akar-akar tersebut mengumpat dan menyumpahi para penguasa pohon yang disangganya.

“Ini ulah siapa?” Sebuah akar biacara dalam bahasa mereka sendiri. “Jangan-jangan perseteruan mereka karena kita, rekayasa kita. Rekayasa akar.”

Akar-akar yang lain, yang masih di bawah tanah berusaha naik ke permukaan.

***

Dari tempat lain, Ikal duduk sambil ongkang kaki memainkan mainannya yang lain, yang berupa suatu hal yang bisa dilihat, didengar dan dirasakan oleh publik.

Sementara air gelap yang mereka sebut akibat ulah Ikal, tetap muncrat, melebar dan menenggelamkan beberapa desa. Tak dipedulikan.***

____________________

Danang Febriansyah. Mengenal lebih banyak karya sastra dan belajar menulis dari Komunitas Sastra Alit, Solo. Beberapa karyanya telah dimuat di media dan dibukukan. Novel “Arundaya: di Masjid Kuserahkan Cintaku” terbit 2019 dan diterbitkan dalam Bahasa Jawa tahun 2021 oleh Penerbit Diomedia. Kumpulan Cerpen “Ia yang Menjelma Bunga Matahari”, terbit 2025 di lini Penerbit Andi Jogja. Kini tinggal di Bulukerto, Wonogiri sambal mengelola Taman Baca Fatiha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *