Katalog

Ayam Jangan Mati di Lumbung Padi (Sebuah Refleksi Kepustakawanan Lasa)

“Ayam Jangan Mati di Lumbung Padi.”. Buku biografi tokoh kepustakawanan ini diangkat dari hasil penelitian Aha yang berjudul: “Pustakawan Bukan Jalan Hidup tapi Menghidupi: Sebuah refleksi Kepustakawanan Lasa Hs.”

Buku ini dihadirkan di ruang baca Anda untuk mencoba mengangkat kisah Lasa dalam perjalanan hidupnya sebagai pustakawan senior di Jogja dan telah purna tugas  mengabdi sebagai ASN dan pangkat terakkhir adalah pustakawan utama golongan IVe  di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sebagai buku yang mengangkat isu kepustakawanan, biografi tokoh ini relatif  jarang ditulis dan tokoh yang ‘langka’ seperti ini menarik sebagai role model bagi siapa pun yang menaruh kepedulian pada isu-isu kepustakawanan.

Tak ubahnya sebuah anomali, di perpustakaan yang diam dan sepi, sejatinya terjadi keriuhan dalam pikiran, ide dan gagasan untuk sebuah kemajuan.  Konsep perpustakaan yang hidup seperti ini bukan hanya dipahami oleh seorang Lasa Hs, namun telah diresapi dan diejawantahkan olehnya melalui denyut-denyut kehidupannya dalam keseharian. Lasa Hs adalah satu dari sedikit orang yang memaknai perpustakaan bukan sebagai museum, namun sebagai lumbung kehidupan. Karena itulah, orang yang masuk dalam perpustakaan, ibarat masuk dalam lumbung kehidupan itu sendiri. Sehingga ketika seorang masuk di dalamnya, dia akan mendapatkan energi untuk bekembang menjadi manusia seutuhnya. (Hamdani MW)

 

Penulis: Agung Hartono (Aha)

Cetakan: Pertama, Tahun 2024

Penerbit Nomina Ide Karya

109 halaman; 13 x 19 cm

ISBN:

Harga: Rp 50.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Puisi

Puisi Gandhang Kandhiridho

Tujuh Fragmen Penghabisan

1.

pada sebuah jalan tersembunyi

akhirnya kau temukan

dirimu yang sempat hilang

jalan yang mengarah ke tempat

dengan pintu yang terbuka

untuk kau masuki

tempat yang berisi percakapan-percakapan

silam yang berdebu untuk ditelusuri

kini menemukan kepingan utuh

kepingan wajah yang merekah

muncul terangkai satu persatu

peristiwa demi peristiwa menyembul

ke permukaan

dan kepekatan mulai terurai warnanya

sementara ruang kosong

tadinya penuh tanda tanya

kini kembali terisi

sekalipun itu tak cukup kuat

kalahkanmu dari rasa sunyi.

2024

2.

perlahan kepalaku mulai melupakan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama bercokol menghantuiku sepanjang malam dalam beberapa tahun belakangan ini.

aku tidak tahu ini gejala apa.

kata sebagian orang, ini pertanda baik, sekaligus dalam waktu bersamaan bisa jadi adalah pertanda buruk.

itu kata mereka, atau lebih tepatnya, konon.

namun satu hal, aku, tetap seperti biasa.

tidak merasa baik atau sebaliknya.

yang terjadi justru sikap apatisku atas sekelilingku, bahkan untuk diri sendiri semakin menjadi-jadi.

kupikir orang-orang akan melihat dengan kacamata tersebut.

tapi setelah kupikir-pikir lagi ini sama saja menyimpulkan secara konyol akan hal remeh-temeh.

maksudku, aku tidak perlu lagi menggubris anggapan mereka akan ini.

termasuk apa yang mereka sematkan padaku.

bisa dibilang, dalam derajat tertentu aku cenderung sepakat pada yang terakhir.

lucu, bukan?

dan menurutku ini sangat lucu.

aku lebih suka disebut seseorang yang lucu, atau orang yang suka melucu.

hanya saja tidak untuk orang lain.

2023

3.

terkadang aku merasa seperti seorang yang gemar menulis puisi panjang-panjang kepada kekasihnya.

namun ujung-ujungnya kalimat yang tertulis tidak bisa dibaca sama sekali.

aku tidak mengerti kenapa aku menuliskannya.

sementara pilihan untuk menekan tombol “berhenti” sangat terbuka lebar di depan mata.

bahkan kadangkala aku seperti seorang yang gemar mencipta sajak-sajak pendek yang ujung-ujungnya hanya didengar sekilas untuk akhirnya lesap pada ruang kealpaan.

aku tidak tahu kenapa kalimat-kalimat pendek itu tercetus di kepalaku berulang-kali.

seakan hanya bisa berhenti setelah mataku terpejam dalam pelukan mimpi.

sedangkan bisa saja aku menekan tombol “cukup” yang sebetulnya hanya berjarak hitungan senti.

tapi entah kenapa aku merasa itu tidak perlu.

paling tidak untuk sementara waktu.

2023

4.

setelah percakapan terakhir itu

kau hanya berbicara pada dirimu sendiri

angin berembus dingin

bayangan tubuh yang pergi

ruangan yang gelap

menyelimutimu dari kekalahan

setiap orang pernah kehilangan, paling tidak

sekali dalam hidup mereka.

dan bagian terburuk dari episode itu

adalah mencari cermin yang sama

melalui cermin yang lain

meskipun telah retak.

2024

5.

tak ada apa-apa di sini

tak ada tawa renyah

tak ada wajah polos

tak ada cerita-cerita yang patut dibanggakan

tak ada apa-apa

bahkan jika mungkin ada

tak lebih dari selubung

itu pun makin memudar

sisa rahasia dirimu

jadi apalagi? pergilah!

aku telah habis gairah

kepalaku dipenuhi sejarah

berisi suara-suara darimu

yang menjelma asing di telingaku.

2024

6.

hargailah setiap momentum.

sebab ia hanya datang sekali seumur hidupmu:

perjalanan, peristiwa, pelajaran,

orang-orang baru, orang-orang lama,

yang asing dan yang dikenal.

dalam satu kilasan di sebuah tikungan jalan,

atau di emperan pertokoan karena terjebak hujan,

atau di sebuah antrian ruang tunggu yang terkadang membuat kita gusar.

meskipun sekejap, hargailah.

sebab itu semua akan menjelma kenangan di arsip laci ingatan kita.

2023

7.

kenangan tak pernah bergerak maju.

ia selalu berhenti di belakang sana.

hidup tidak menuntutmu membawa seluruh kenangan itu di sini.

ia hanya menyediakan setangkup ruang kecil yang sesekali bisa dijenguk sebentar

untuk kemudian sebagai penanda bahwa peristiwa itu telah berlalu.

2023


Gandhang Kandhiridho, lahir dan berdomisili di Surakarta. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi. Buku puisi yang sudah terbit; Rahim Waktu (2021) & Separuh Wajahku Bulan (2023).

Cerpen

Bopeng

Cerpen Kathy Okano

Sebelum jatuh cinta pada Hanuman, aku pernah sangat ingin mati. Aku merasa kosong seperti selongsong yang ditinggalkan proyektil apinya. Namun, aku juga merasa berat. Kosong tetapi berat. Aneh bukan? Dan tidak jelas.

Kenangan-kenangan yang kumiliki seperti potongan-potongan puzzle yang berserak. Juga tidak jelas. Kadang aku harus berusaha sangat keras agar setiap potongan sesuai, untuk sebuah ingatan yang utuh. Kadang juga isi kepalaku memuntahkan ingatan-ingatan yang tiba-tiba mencuat seperti kancing baju yang terlepas.

Ketika berusia dua belas, aku pernah mendengar kisah tentang ruh yang tak mau berdamai dengan raga yang ditempatinya. Memberontak. Pemilik raga nyaris sakit jiwa dibuatnya. Itu juga terjadi padaku. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam pikiranku, nyaris membuatku gila.

Perasaan hampa seperti tabung bejana hampa udara seolah menggerogotiku. Jika kosong sama dengan nol, apakah ia sama juga dengan ketiadaan? Lalu jika aku merasa kosong, apakah itu artinya aku tiada? Tetapi aku merasa diriku ada. Aku berpikir, jadi aku ada. Ada dulu atau berpikir dulu? Ada dulu atau sadar dulu? Mungkinkah manusia sadar selagi dirinya belum ada? Ataukah kesadaran yang membuatnya ada? Ah, omong kosong! Pikiranku terus mengembara dan membuatku muak hingga berteriak. Kasihan. Kasihan. Papa lebih kasihan, aku yakin ia amat terluka melihat putri semata wayangnya seperti ini, dan kekayaan yang dihasilkan pabrik anggurnya tak dapat menolong.

Lalu, Februari itu, ketika langit dengan murah hati menumpahkan hujan, kekosongan itu terasa lebih jinak. Setelah sebulan aku berada di Indonesia–Yogyakarta, Aunty Barnes mengajakku menonton pertunjukan wayang wong yang mementaskan lakon Anoman Obong. Itulah awal mula aku jatuh cinta pada sang Hanuman. Pada Mas Adi, Argo Dumadi. Aku tersihir oleh penampilannya yang memukau.

Tubuhnya yang tinggi tegap menari-nari lentur dan anggun, dipadu dengan jurus-jurus silat penuh kejantanan. Mengalirkan ekspresi Hanuman sejati. Dengan perjuangan setulus hati, Hanuman mengobrak-abrik kerajaan Alengka.

Hanuman membakar Alengka dengan api berkobar-kobar yang diikatkan di ujung ekornya. Menumpas kecurangan dan kejahatan, serta angkara murka Rahwana yang menculik Dewi Sinta. Dengan hentakan kaki-kakinya yang kukuh lincah, tangan-tangannya yang perkasa, dan gerakannya yang trengginas Hanuman melompat ke sana-kemari. Melompat dan melesat tinggi-tinggi, melingkar-lingkar bak putaran sejuta cambuk, menangkis serangan Rahwana yang membabi-buta.

Suasana tegang mencekam. Sorot lampu panggung dimainkan gelap-terang-gelap-terang-gelap diakhiri dengan sorot seperti sebuah ledakan ketika Rahwana terkapar. Perjuangan Hanuman yang tanpa pamrih itu berakhir gemilang. Dewi Sinta yang terkulai dalam ketakutan pun bebas dari cengkraman keji Rahwana. Pertunjukan diakhiri dengan Hanuman menyerahkan Dewi Sinta pada suaminya, Sri Rama. Rupanya bukan hanya aku yang terpesona, orang-orang bahkan menjerit histeris untuk Hanuman.

“Ada londo wedok datang ke tobong!” komentar dari anak-anak wayang membuatku geli, ketika pertama kali aku mendatangi tobong. Lazimnya mereka menyebut ras kulit putih dengan wong londo.

Aku mencari Mas Adi. Berdalih melakukan penelitian tentang kehidupan anak-anak wayang. Mereka mengerumuniku, penasaran. Aku berpendapat, kehidupan di tobong ini nyaris tidak memiliki rahasia, tidak memiliki privasi.

Sayang sekali orang yang kucari tidak di tempat. Sedang mengurus perizinan untuk tampil di Surakarta, katanya. Sebagai gantinya, Sri Ratih–istri Mas Adi yang juga seorang ledhek dan perempuan paruh baya yang memperkenalkan dirinya sebagai ibu sang Hanuman, menemani kami–aku dan Aunty Barnes. Aunty Barnes yang sudah fasih berbahasa Indonesia membuat kami cepat akrab. Aku menikmati kedekatan kami meski dalam hati tersimpan setitik kecewa. Orang yang kusukai sudah beristri.

“Orang Indonesia memang banyak yang menikah muda,” ucap Aunty Barnes ketika kami dalam perjalanan pulang. Sepertinya ia paham bahwa aku patah hati.

Hari-hari berikutnya aku sering datang ke tobong. Siang, sore, atau malam hingga tengah malam. Mewawancarai bintang utama penelitianku dan menonton setiap pementasannya. Orang-orang mengatakan bahwa aku kedanan. Aku tak menampiknya, juga tak membenarkannya.

Aku menikmati kehidupan bersama anak-anak wayang di tobong. Menyantap makanan yang sederhana, sayur lodeh, juga ikan asin. Semuanya terasa nikmat. Aku juga mencintai Asri, putri Mbak Ratih dan Mas Adi. Dan kekosongan yang dulu amat ganas, kini makin jinak.

Asri. Padanya aku berlaku seperti seorang ibu. Menyisir dan mengikat rambutnya, juga menyematkan pita merah. Menggunting kuku-kukunya, menemaninya belajar, tak jarang juga ngeloni saat tidur siang. Ibunya tak sempat.  Mbak Ratih sibuk menyiapkan panggung dan kostum untuk para pemain wayang wong. Asri mengikatku, lebih dari cintaku pada Mas Adi.

Berita-berita miring tentangku dan Mas Adi terus beredar. Namun, tak ada klarifikasi dari Mas Adi, dan aku tak mau memusingkannya. Sedang Mbak Ratih sepertinya memendam sakit hati. Tapi bukankah Mbak Ratih seharusnya yang paling tahu bahwa aku dan Mas Adi tak memiliki hubungan apa-apa? Dan berita-berita miring itu juga tak benar, bahwa aku dan Mas Adi sering bermesraan? Satu-satunya moment kedekatan kami adalah ketika Mas Adi mengantarku pulang ke kaputren dengan naik becak. Hanya itu. Aku menghormati kesetiaannya pada pernikahan karena tak tergoda sedikit pun padaku, yang orang bilang serupa Anne Hathaway.

Kuperhatikan Mbak Ratih selalu murung dan sering melamun, sehingga membuat penampilannya saat menari gambyong tampak tidak semarak. Tidak sedikit penonton yang protes. Tapi dia tidak memperbaiki diri. Ia malah tampil semakin buruk, buruk, dan buruk. Akhirnya ia jatuh sakit. Banyak bisik-bisik yang mengatakan ia ngenes karena berkali-kali menyaksikan aku dan Mas Adi bermesraan. Apakah Mbak Ratih sungguh termakan oleh berita bohong itu?

Aku masih ingat suatu malam ia mengerang-erang sambil memegangi perutnya, ngoling-oling. Wajahnya pucat pasi, bibirnya biru digegat-gegat. Roknya yang kuning berubah menjadi berwarna merah, dengan gemetar aku memperhatikan darah itu bersumber dari vaginanya. Ketika itu semua sedang pentas di panggung, aku tetap di tobong untuk menemaninya dan Asri.

“Sampeyan yang mbuat saya gini. Sampeyan guna-gunai saya!” lirih ia menuduh, tapi penuh dendam. “Agar sampeyan bisa demenan sama suami saya. Dasar londo edan! Minggat sana, jangan sentuh saya!” sambungnya, menghardik.

Aku tidak menghiraukan ucapannya, berusaha bersikap tenang agar bisa menolongnya, sedang tangis Asri sudah meledak.

Oleh dokter, Mbak Ratih dinyatakan menderita kanker rahim. Dan setelah berjuang selama sebulan, ia meninggal. Hari ketika Mbak Ratih dimakamkan, menjadi hari paling menyiksa buatku. Berpuluh-puluh pasang mata seolah menghakimi, menyalahkanku atas kematian istri Mas Adi.

“Terang saja dia mau berkorban gitu karena kedanan Mas Adi–suami Dik Ratih, si Anoman!” seru ibu yang didukung oleh perempuan lainnya, ketika mengetahui biaya pengobatan dan pemakaman aku yang menanggung. Aku melakukannya bukan karena mencintai Mas Adi, tapi karena menyayangi Asri.

“Esmee Helaine tidak kedanan aku. Tapi akulah yang kedanan, mabuk kepayang dan tergila-gila–gandrung kepati-pati sama dia. Jangan salahkan londo itu!” Suara Mas Adi mengiba-iba. “Istriku meninggal karena memang sakit, bukan karena black magic.”  Pembelaan Mas Adi justru menyakiti hatiku dan menempatkanku pada posisi yang serba salah.

Seperti ujung rantai yang ditarik, kemudian bagian lainnya mengikuti, hal-hal buruk terjadi secara beruntun.

Waktu di mana pekat menjadi penguasa hari dan sunyi, rasa hormatku pada sang Hanuman berkecai-kecai. Aku menahan muntah. Gila. Aku tak ingin mempercayai apa yang kulihat. Menjijikkan. Hanuman dan Rahwana bermesraan! Keringat dingin membalutku seperti kepompong, lututku lemas. Apakah Mbak Ratih tahu? Apakah ini penyebab sesungguhnya kengenesannya?  Aku membekap mulutku sendiri dan tanpa kuinginkan, air mata melelehi pipiku. Mereka terkejut ketika mendengar pekikan, dan lebih terkejut lagi ketika melihatku berdiri gemetaran.

“Asri bukan anakku,” Argo Dumadi berkata ketika menghampiriku yang tengah berkemas. Aku bergeming. “Ratih mendapatkannya dari laki-laki lain,” sambungnya, menyalakan sebatang rokok kemudian menghisapnya dalam-dalam.

Aku tak menanggapi. Aku juga tak melihatnya. Aku jijik. Meski sesungguhnya aku ingin berteriak dan meludahinya. Menuntut perbuatannya yang tercela dan mengkambing hitamkan orang lain untuk menutupi bopengnya. Kalau bukan karena Asri, aku tak akan menginjakkan kaki ke tobong lagi setelah kematian Mbak Ratih, terlebih karena kesalahpahaman yang disebabkan oleh Mas Adi karena pengakuannya.

Sejak hari itu kondisi kesehatanku menurun drastis. Aunty Barnes mengantarku pulang ke Ostrali. Kekosongan yang kurasakan kembali mengganas dan ingatanku melayang pada Grandma. Ia yang memaksaku menjadi seperti yang diinginkannya, menjadi feminim, menjadi sempurna. Aku ingat, sejak saat itu kekosongan mulai membungkusku seperti selimut kepompong, mengisap habis gairah hidup dan kedamaian dalam dadaku. Aku benci Grandma, aku benci Mas Adi, aku benci Mbak Ratih. Namun, aku mencintai Asri yang sekarang telah tumbuh menjadi gadis cantik. Aunty Barnes yang membawanya kemari untuk mengenyam pendidikan yang lebih layak.

Aku memandangi gadis yang pernah mengalami tangis yang panjang karena kehilangan ibunya, juga ayahnya yang katanya mati gantung diri karena tak kuat oleh tekanan situasi. Sudah terbukakah boroknya?

Ia tengah membelakangiku, membuka jendela-jendela di kamar perawatan agar udara segar menggantikan udara yang mulai terasa pengap. Rasa sayang memenuhi dadaku. Aku tak ingin ia bernasib seperti ayah atau ibunya, karena air cucuran atap ke mana jua jatuhnya? Aku ingin melindunginya dari karma orangtua, maka kuhujamkan pisau pengupas buah berkali-kali ke punggungnya dengan cepat, hingga ia roboh.***


Kathy Okano, nama pena penulis asal Sulawesi Tengah, yang menyukai drakor dan anime. Menamatkan pendidikan S1 pada 2017. Sekarang sedang aktif di klub menulis Tiga Strata, NAD (Nulis Aja Dulu) dan anggota militan eksklusif TST (Tulis Saja Terus). Menyukai makanan pedas dan gurih.

Cerpen

Lelaki Berjubah Putih

Cerpen Pasini

Hujan tak kunjung reda. Sepertinya langit nelangsa dengan seisi bumi yang cukup lama dicengkeram kuasa kemarau dan tergerak menyudahinya. Tapi rerimbun pohon beringin tempat aku berteduh sungguh penuh kasih. Tak setitik pun air yang diperbolehkan menetes di kemejaku.

Pada sisi jalan berbeda, di bawah pohon beringin yang lain, seorang lelaki berjubah putih meneduhkan juga tubuhnya. Ia tersenyum menatapku. Aku mengangguk takzim, sebelum kemudian mataku kembali menekuni bulir-bulir air langit yang jatuh dan mengenai apa saja. Menimpa atap gedung dan meruntuhkan kesombongannya. Menimpa besi dan meninggalkan jejak karat. Melarutkan debu pada jalan aspal dan bebatuan. Serta memupus dahaga tetumbuhan yang menangguk rindu sampai semusim penuh. Beberapa hari ke depan, kelopak bunga akan tersenyum dengan indahnya.

Aku menjadi teringat akan sebuah senyum pula. Milik seorang gadis kecil. Hidupnya belum tercemari legamnya dunia sehingga hanya meminta lalu terkabulkan yang ia tahu. Dan sebaiknya memang begitu. Biarlah kesusahan hanya milik orang-orang dewasa dan jangan dikenalkan pada anak-anak sebelum waktu mereka tiba.

“Sebuah boneka beruang ya, Yah. Yang besar,” pinta gadis itu tadi pagi.

Aku mengangguk sembari mengembalikan senyumnya dengan lebih manis. Lalu kuangkat tubuhnya tinggi-tinggi, hendak kudekatkan dengan langit. Tempat di mana semua orang menggantungkan doa dan harapan. Bahkan ia masih memelihara senyumnya di beranda dengan pandangan mengikuti angkutan berwarna kuning yang membawaku pergi. Sampai kemudian tubuh mungil gadis itu digantikan dengan pohon palem, pohon akasia, pohon pakis, dan pohon bebungaan di tepi sepanjang jalan menuju pabrik sepatu tempat aku bekerja.

Lelaki berjubah putih tak ada di tempat teduhnya. Mungkin ia menerobos hujan dan tak jenak menunggunya sampai sedikit reda.  Begitu pun senyum gadis kecilku. Mereka sama-sama hilang. Berganti dengan senyum kecutku. Aku membuka tas kerja berwarna hitam untuk sebuah tujuan memberi keyakinan bahwa memang hanya ada amplop tipis di dalamnya.

Sebagian besar isi amplop itu telah berganti dengan senyum seorang lelaki tua berbaju lusuh. Karena perutnya kenyang sekarang. Besok ia bisa memeluk tubuh istri juga cucu. Setelah selama ini menumpuk rindu demi rindu hingga memenuhi setiap sekat, lorong, dan bilik hatinya. Tak ada ruang untuk rasa yang lain. Tak ada keinginan selain bertemu orang-orang terkasih. Tapi sayang keinginan itu selama ini ibarat benda antik tergadai yang belum mampu ia tebus kembali.

Aku sibuk merangkai kalimat yang tepat  untuk kusampaikan pada istriku di rumah. Juga gadis kecil kami. Aku tidak ingin membuat  kecewa tentu saja. Bahkan selama ini aku sanggup melakukan apa pun demi memelihara senyum mereka.

Mungkin istriku akan mendiamkan aku. Atau melontarkan kemarahan. Lalu mengubah kebiasaan secangkir kopi di pagi hari dengan air putih. Mau tidak mau memutar otak agar sisa uang belanja bulan kemarin cukup untuk sampai bulan depan. Daging, telur, diganti dengan tahu dan tempe. Jamur tiram, ikan, diganti dengan kangkung dan bayam. Lalu suasana meja makan akan berubah dingin. Tidak ada gelak tawa. Tidak ada bual cerita. Menghikmati isi piring masing-masing dan tidak disambi tanya: liburan ke mana enaknya akhir pekan. Atau: rilis film terbaru apa di bioskop.

Tapi bagaimana dengan gadis kecilku? Bisakah matanya dibuka pada rupa-rupa dunia sementara yang ada di otaknya hanyalah boneka, keripik kentang, pesta ulang tahun yang meriah, serta gaun berumbai? Apa yang kusebutkan sebagai kesusahan lelaki tua yang menahan lapar dan berpakaian lusuh lagi robek, akan dianggapnya sebagai dongeng belaka sebagaimana isi komik yang istriku bacakan untuknya di ambang waktu tidur. Di kehidupan nyata, peristiwa semacam itu mana mungkin ada.

Sayang, langit prematur menutup kran air yang tercurah ke bumi. Padahal aku belum menemukan patah-patah kata yang tepat. Tapi senja keburu hadir dengan sisa-sisa hujan berupa genangan air di badan jalan yang berlubang. Mau tidak mau aku harus bergegas pulang. Aku tidak mungkin menghindari rumah layaknya prajurit perang yang kalah.

   Sebuah mobil putih menepi. Dikendarai lelaki tua berjubah putih. Ingatanku melayang pada beberapa puluh menit silam, seseorang yang juga meneduhkan tubuhnya di bawah kerimbunan dedaunan pohon. Tetapi aku tidak begitu meyakininya. Karena bisa saja keduanya adalah orang berbeda.

 “Naiklah. Saya akan mengantar Kisanak sampai tujuan,” tawarnya dengan senyum laksana cahaya.

 “Terima kasih, Pak. Maaf saya tidak ada ongkos. Lagi pula rumah saya tidak terlalu jauh. Tidak sampai satu jam jalan juga sampai.”

 “Bukankah Anda sudah membayarnya tadi?”

Aku bingung. Tapi sepasang kakiku buru-buru naik, mendahului  kepalaku yang bahkan masih sibuk mencerna, apa maksud dari kata-katanya barusan. Bagai otak dan rangka tubuhku tidak terhubung dalam satu jalinan koordinasi. Seperti ada yang menggerakkan sendi-sendiku tapi itu bukan perintah pikiranku sendiri. Aku terduduk kikuk pada jok hitam yang licin dan mengkilat. Sepanjang perjalanan, lelaki tua itu banyak tersenyum. Kami hanya bicara seperlunya.

 “Tidakkah waktu Bapak terbuang hanya dengan mengantarkan saya?”

“Tidak ada kebaikan yang percuma. Semua ada hitungannya.” Lalu ia tersenyum lagi.

Aku diturunkan tepat di halaman, sebelum kemudian mobil dan pengemudinya segera menghilang dari pandangan. Tas kerjaku melorot dan nyaris jatuh. Sampai tidak menyadarinya karena sibuk melamun.  Aku hendak membetulkan posisinya pada pundak setelah terlebih dulu menautkan bagian kancing yang agak terbuka. Tanpa sengaja tanganku menyentuh amplop. Padat dan menggelembung. Aku terkesiap.  Ada  lembar-lembar merah.  Jumlah yang mencengangkan. Tubuhku sampai bergetar.

Sesampainya di dalam rumah, tidak pernah kulihat istriku sebahagia ini sebelumnya. Untung ia tidak bertanya dari mana uang sebanyak itu berasal. Karena  memang bukan jawaban atas kemungkinan itu yang kupersiapkan. Aku justru sudah dalam keadaan siaga untuk beberapa hal yang buruk. Bahkan semisal ia mengusirku dan menyuruh tidur di emperan toko karena pulang tanpa membawa sebagian besar uang gajian.

“Gusti…” lirihku dalam zikir.

Menjelang malam, hujan kembali turun dengan derasnya.  Aku terjaga sampai dini hari, tapi tak kunjung menemukan jawaban dari berondong pertanyaan yang menyerang batok kepala. Beranjak pagi aku baru tertidur. Lelaki tua dengan baju yang lusuh mendatangiku dalam mimpi.

***

 “Tiga kali sehari itu jumlah yang berlebihan, Nak. Sekali sehari, tapi setiap hari, itu sudah cukup.” Lelaki tua itu terkekeh.

Beberapa saat sebelumnya, lelaki tua itu melontarkan kegetirannya lewat kisah seorang bocah piatu yang ditinggal berpulang ibunya kala bertaruh nyawa melahirkannya ke dunia. Ayah si bocah berlimpah ke perempuan baru. Menumpahkan tanggung jawab sepenuhnya atas anak tersebut pada dirinya dan istrinya yang merupakan orang tua dari perempuan yang meninggal setelah melahirkan itu.

Ketika lelaki tua pergi merantau, cucunya baru berusia tiga bulan. Tapi dalam foto terakhir yang dikirim istrinya dari kampung halaman, bocah itu sudah setinggi pangkal paha orang dewasa. Punya rahang kotak semirip dirinya. Rambut lurus serupa istrinya. Dan mata bulat milik mendiang anaknya.

Dalam surat yang menyertai foto, istrinya menyebutkan bahwa bocah itu begitu pandai bicara. Banyak bertanya. Sampai ia susah menjawabnya. Semisal tanya, apakah surga itu tempat yang teramat jauh sampai-sampai ibunya harus menempuh waktu yang lama untuk bisa menemuinya tapi belum juga tiba sampai hari ini. Atau tanya, kapan kakek membawa pulang mobil-mobilan yang nenek  janjikan.

Ini adalah kota besar yang keras. Tidak memberikan ruang yang lapang bagi seorang tua dan tanpa keahlian. Meski begitu lelaki tua itu pantang menengadahkan tangan. Pagi-pagi sekali ia sudah mendorong gerobaknya  mengitari komplek perumahan, perkantoran, dan gedung-gedung pabrik. Memungut sisa-sisa limbah yang bisa menjadi rupiah. Besi tua, kaleng bekas minuman, botol plastik.

“Berapa lama Bapak tidak pulang?”

“Tiga setengah tahun.”

Dijawabnya dengan mata keras berkedip, menahan sesuatu agar jangan sampai jatuh. Aku tidak bisa membayangkan itu aku yang tidak bertemu istri dan anakku.

Awalnya aku hanya ingin segera pulang ke rumah. Setengah hari kerja di tanggal muda. Beberapa rencana telah berada di kerangka kepala. Tapi baru beberapa pijak meninggalkan muka gedung, pandanganku singgah pada seorang lelaki tua. Duduk mematung di sisi jalan dengan gerobak sampah di dekatnya. Matanya menatap gerobak bakso, gerobak siomay, dan gerobak ketoprak yang sibuk berlalu-lalang. Acuh melewatinya.

Kuraba amplop cokelat tua yang baru saja diangsurkan bagian keuangan. Beberapa kepentingan saling berperang: boneka beruang, beras, susu, lelaki tua, bayar kontrakan, air ledeng, lalu lelaki tua lagi. Siklus berulang beberapa kali seiring wajah cerah langit yang bertukar kepada muram. Setelah beberapa lama, barulah wajah layu lelaki tua di hadapanku itu keluar sebagai pemenangnya.

 “Saya kira ini cukup untuk ongkos jalan. Belilah mobil-mobilan. Juga kebaya berenda untuk istri Bapak. Sisanya buat pegangan.”

Tanpa kata lelaki tua itu menatapku. Tubuhnya langsung kaku. Ia bagai bukan manusia melainkan patung yang terbuat dari butir-butir pasir lalu dicampur semen dan diguyur bulir-bulir air. Sejenak kemudian mata lelaki tua itu mengembun, tangannya bergetar.

 “Cepatlah Bapak cari tiket kereta atau bus. Cuacanya sungguh tidak bersahabat…”

Ujung kalimatku disambung dengan titik-titik gerimis. Tapi untung saja kami masih sempat berpelukan. Aku berlari dan mencari tempat berteduh. Tak sempat memastikan ke arah mana lelaki tua berbaju lusuh itu mendorong gerobak sampahnya.***


Pasini, mitra BPS Kabupaten Ngawi sebagai tenaga entri data. Menulis cerpen yang pernah tersiar di sejumlah media cetak dan daring. Salah satu cerpennya masuk sebagai nominasi cerpen terbaik dalam Anugerah Sastramedia 2022.

Puisi

Puisi Tjahjono Widarmanto

Serenada Hitam

hari itu, orang-orang lupa tanggal berapa

mereka bernyanyi memanggil arwah-arwah

ketakutan berlari tersuruk-suruk mencari ceruk

pepohonan gemetar debu-debu bertuba

siapa bisa menggambarkan maut menyentuh pundak kanak-kanak?

seperti lilin-lilin redup menyala

menyanyikan happy birthday

lantas padam begitu saja

namun serenada-serenada hitam itu tetap saja kita lagukan

sambil membayangkan perjalanan tamasya ke kubur kelam

serenada hitam dinyanyikan, ikan-ikan menangis

burung-burung gagak memekik, sajak-sajak menggelepar

membayangkan wali-wali suci sembunyi di perut paus hitam

2023


Siapa yang Dimuliakan, Siapa yang Dilupa

            siapa yang dilupa?

Saat waktu berkelok begitu lembut dan syahdu melaju

dengan meneteskan peluh seperti tetes air mata duyung

keramat menyesali usia

menuju entah perbatasan mana

: disitulah mereka berbaring, mendelik dalam gelap

menangisi puisi-puisi meratapi bunyi.

tinggal doa samar yang gemetar

tersesat di wilayah senja kala.

siapa yang dimuliakan?

segala sunyi, segala yang luruh atau segala yang kembali ke subuh?

matahari sepanjang hari, bulan sepanjang awan

di jalanan masih terdengar raung klakson bersahutan

daun-daun rontok, ranting-ranting berpatahan, segala angin mendesing

: tak ada bilik lain, cuma sepetak ruang membeku dan keraskan

seluruh frase, bunyi dan kilat matamu.

menyerpih tanpa suara hanya desah

mendesiskan kenangan yang segera melapuk

dan putus di tengah-tengah bait sebelum sempat ditulis!

ini bukan akhir puisi sebab segala kata telah dipingit dan disingitkan

tak hanya di kitab-kitab wasiat nan keramat tapi juga disematkan di pusara-pusara

bahkan daun-daun di cecabang sudah menuliskannya sebagai penanda musim

puisi telah menjadi bayang-bayang raksasa menguntit siapa saja

yang melenggang atau bergegas

pun pada sumuk yang mengambang di udara

puisi tak lahir untuk mati namun berpikir untuk jalan kekal yang abai pada waktu

boleh saja semua tak peduli atau menumbuhkannya seperti pohon hayat

yang berbenih dan akarnya berurat ke pusar semesta dan runcing rantingnya

tempat hinggap burung-burung keagungan menyanyikan misteri zaman.

                                                                        Ngawi, maret 2023


Memoria  Desa

/1/

ingin kulihat kembali kisah-kisah lama berikut peta-petanya

tempat para brahmana dan petapa-petapa sakti menuliskan

coretan-coretan usang serupa relief pada dinding ingatan

di sinilah muasal sejarah ditafsir, dicatat, dan dirajut waktu dengan gemericik air sungai mengarus jauh menuju muara hati menjalar ke akar-akar pohon jati, berdenyut ke batang, dahan, ranting, hingga putik daun-daun melangitkan harapan lewat cericit emprit dan bekur dekukur merentang lantangkan doa-doa mumbul ke langit

/2/

: ah, peta-peta itu tak lagi bisa kubaca

seperti arus tak mungkin bakal kembali ke hilir

cuma sisa bekas ingatan, seperti lagu-lagu cengeng tempo dulu

memuja-muja rindu yang bergegas berlalu

kali-kali jernih tak lagi jadi rumah meditasi

tak akan ada lagi wali  menjagai gemericiknya

batang ranting pohon kaku sendiri menatap langit asing  dengan matahari lain.

tembang-tembang kinanti dan asmaradana dikubur bersama dalang-dalang silih berganti mati

kidung-kidung selawat dan barjanji telah dilipat lampu

: semua bagai tamu mencakapkan masa lalu

lantas berdiri satu-satu beranjak pergi tanpa melambai

apalagi bertukar cinderamata

/3/

kebekuan asing merongga di pelupuk mata dan ingatan

rembulan tak lagi menyimpan kemurnian

hutan-hutan tak lagi jadi pohon hayat

semua hanya milik masa silam

seperti aksara-aksara purba di primbon kuno.

Ngawi, 2023   


Hujan dengan Garis Putus-Putus

langkah tersaruk-saruk

kita tetap enggan menepi

dari hujan dengan garis putus-putus

sore terperangkap sabda-sabda gaib

milik para penyair penuh rindu kemarau

menghirup aroma apu di jalan-jalan mengabu

hujan tak reda-reda

kita tetap enggan menepi

dari hujan sore hari

terperangkap sabda-sabda

gaib para penyair mengerang pada kemarau

di sana kepedihan terus berulang

tercipta dari reruntuhan kota

seperti piatu tanpa

cinta

                                    2023


Sepanjang Malam Pintu Diketuk

sepanjang malam pintu diketuk

tamu-tamu asing membawa oleh-oleh

sekeranjang air mata

: inilah ranum untuk penanda mereka yang diabai waktu!

hujan tak lagi tumbuhkan benih yang disemai

di jarum arloji bau peluhmu bertik tok

meratap-ratap pada doa yang sia-sia

seperti perempuan renta tak berdaya

di depan jendela termangu memintal kalender

seperti menjahit luka menyambut dengus si maut

Nov, 2023  


Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April. Tulisannya berupa puisi, esai, artikel dan cerpen dipublikan berbagai media. Beberapa kali menerima penghargaan di bidang kesastraan, antara lain: Penghargaan Seniman dan Budayawan Berprestasi Jatim dari Pemprov. Jatim (2002), Sayembara Penulisan Buku pengayaan Tingkat Nasional dari perpusbuk (2003, 2007, 2010, 2016, 2017), Penghargaan Sutasoma, Kategori Guru Sastra Berdedikasi dari Balai bahasa Jatim (2013), Penghargaan Sastrawan Pendidik Tingkat Nasional dari Pusat Pembinaan bahasa (2013), Sayembara Buku Puisi Terbaik  Nasional versi HPI 2016, dll. Buku puisi terbarunya SULUK PANGRACUTAN dari KAMPUNG PARA ARWAH (2023), QASIDAH LANGIT, QASIDAH BUMI (2023) dan buku tunggal lainnya. Selain menulis juga pernah bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di  SMA 2 Ngawi.

Cerpen

Kucing Hitam

Cerpen Septi Rusdiyana

Kepalaku berdenyut-denyut. Jantungku memompa darah begitu cepat. Tubuhku panas. Kurasa semakin lama semakin panas, berbarengan dengan pori-pori kulitku yang kian membesar. Aku berlari menuju kamar mandi, mengambil handuk, menggigitnya kuat. Sepertinya aku akan mati. Aku ingat, sebelum ini aku sempat bertemu dengan seorang perempuan saat hendak menceburkan diri ke sungai. “Lompatlah, maka jasadmu akan lenyap dimakan buaya,” ucapnya. Aku urung. Kupikir dengan terjun ke sana, aku akan mati tenggelam. Esok harinya jasadku mengambang dan ditemukan warga untuk dikubur secara layak. Jika ucapan perempuan itu benar, maka tubuhku akan hancur. Kematian yang jauh dari unsur keindahan.

Perempuan itu berlalu. Meletakkan karung di tanah, menghempaskan bokongnya di batu kali. Aku mengikuti. Duduk di sebelahnya. Terlihat ia merogoh sesuatu dari kantong kemeja lusuh, nihil. Berpindah ke celana jeans biru sobek, ada puntung rokok sisa separuh. Ia kebingungan mencari korek api. Aku mengambil sebungkus rokok yang masih tersegel dan pemantik dari dalam tas. Ia menerima uluranku dengan tersenyum. “Maaf, aku tidak pernah berterima kasih untuk sesuatu yang tak kuminta,” balas perempuan itu. Ia menyalakan puntung sisa miliknya sendiri. “Sebutlah keinginanmu. Anggap saja itu barter dengan sebungkus rokok berikut korek api darimu,” lanjutnya lagi.

Angin berembus dari utara, membawa aroma tak sedap menyeruak lubang hidungku. Kurasa baunya berasal dari tubuh perempuan itu. Kombinasi dari keringat mengering yang entah sudah berapa lama tak tersentuh air, ditambah dengan kencing dan kotoran manusia yang juga mengering. Aku berjingkat saat seekor kecoa terbang dari rambut gimbalnya. Membuatku lupa kalau sebelumnya hendak muntah. “Maaf,” kataku. Aku khawatir menyinggung perasaannya. Ia terlihat mengambil sesuatu dari karung kumal. Menyerahkan sebotol kecil berisi cairan keruh yang tinggal seperempatnya.

“Ambil dan pergilah!” perintah perempuan itu. Aku memperhatikan tangan dekil dengan kuku panjang menghitam penuh kotoran. Aku ragu. “Habiskan. Kamu akan menemukan jawaban dari kegelisahanmu. Ingatlah satu hal, jangan pernah menyakiti atau kamu tidak akan pernah selamat,” lanjutnya. Aku meraih botol itu tanpa berpikir lagi.

Rasa sakit yang terus bertambah membawaku kembali sadar. Perempuan itu mungkin telah meracuniku. Seharusnya aku tidak begitu mudah mempercayainya. Sial, kepalaku berdenyut kuat serasa hendak meledak. Aku menggigit handuk lebih keras untuk menahan teriakan. Tubuhku menghangat. Semakin lama, sakit itu berangsur pergi. Aku lemas, lalu tertidur.

Seseorang seperti sedang mengelus tubuhku. Nyaman sekali. Kalau bukan karena perutku meronta, rasanya aku urung membuka mata.

“Kamu pasti lapar. Makanlah.” Suara pria yang kukenal mengagetkanku. Suamiku benar-benar kurang ajar. Ia sudah tidak waras. Beraninya memberiku makanan kucing. Aku memandangnya marah. Aneh, aku hanya bisa mengeong. Semakin marah, eonganku semakin nyaring. Ada apa ini? Tunggu, kenapa suamiku terlihat sangat besar? Jangan-jangan cairan itu adalah ramuan memperkecil ukuran tubuh. Ini tidak benar. Aku diperalat. “Jangan marah. Aku tidak akan menyakitimu,” lanjut suamiku. Ia mengelus puncak kepalaku lembut. Seperti tersihir, aku akhirnya menghabiskan sekaleng makanan basah di hadapanku. Aku tidak bisa menahan diri untuk menjilat kedua tanganku saking nikmatnya. Oh, tidak. Aku berbulu. Tubuhku penuh bulu panjang berwarna hitam. Aku bahkan tidak memiliki tangan. Gegas aku berlari menuju kamar. Melompat naik ke meja rias. Aku syok melihat pantulan wujudku dari cermin. Aku seekor kucing.

***

Hampir tiga kali dua puluh empat jam aku menjadi kucing. Sepertinya aku mulai terbiasa, termasuk telah terbiasa menerima perlakuan lembut dari suamiku. Tak apa, setidaknya aku tahu suamiku cukup penyayang. Aku salah sangka selama ini. Ia berubah sejak menikah. Sebulan resmi menjadi suami istri, ia sama sekali belum menyentuhku. Lelah bekerja adalah alasan andalannya. Ia mengatakan akan menjamahku di waktu yang tepat dan istimewa. Aku menyesal kenapa harus kabur dari rumah seminggu lalu, hanya karena aku menginginkannya, namun tetap mendapat penolakan. Padahal, saat itu aku sudah berdandan sangat seksi. Aku merasa terhina. Seakan suamiku sendiri jijik terhadapku. Hingga aku memutuskan ingin mengakhiri hidup.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku sudah kelaparan, suamiku belum juga pulang. Aku melompat ke sana kemari. Berjalan mengelilingi rumah. Mlungker di karpet dengan malas setelah bosan. Tidak lama terdengar suara pintu dibuka. Aku berlari ke depan. Mendekat ke kaki suamiku.

“Kemarilah, aku tahu kamu pasti lapar,” ucap suamiku. Ia membuka kaleng makanan kucing basah dan disodorkan padaku. Aku menyantap dengan lahap. Setelah kaleng itu kosong, aku berlari menuju sofa. Bermaksud menghambur ke pelukan suamiku yang sedang menonton televisi. Sayangnya aku terlambat menyadari. Rupanya pria yang bersandar di sofa bukanlah suamiku, melainkan rekannya. Tubuhku terlanjur naik ke paha, ia menarikku lekat. Mengelus-elusku dengan lembut. Aku salah tingkah, seakan telah berselingkuh dengan membiarkan pria lain menyentuh tubuhku. Namun aku tidak bisa kabur. Setiap kali ingin melepaskan diri, pria itu terus meraihku kembali. Sepintas aku sempat melirik ke wajahnya. Ya Tuhan, ia sangat tampan. Jauh lebih tampan dari suamiku. Aku justru mulai menikmati sentuhan tangan kekarnya. Maafkan aku, Sayang. Tanpa sengaja aku telah mengkhianatimu.

Suamiku datang membawa dua botol minuman kaleng. Satu untuk rekannya, satu lagi untuknya sendiri. Semua tampak normal, sesaat sebelum akhirnya teman pria suamiku meraih kalung dari leher untuk membaca namaku. Seketika tubuhku dihempaskan ke lantai. Aku berdiri mematung melihat keduanya.

“Kamu mencintai istrimu, hah?” Pria itu bertanya marah. Suamiku terlihat kebingungan. Ia berusaha menjelaskan kepada teman prianya. Jantungku seakan berhenti berdetak saat mendengar suamiku mengatakan tidak pernah mencintaiku. Alasannya menikah adalah demi menutupi kebenaran yang sesungguhnya. Aku syok saat tiba-tiba suamiku meraih kepala teman prianya dan melumat bibirnya mesra. Usai melepas pagutan, suamiku mengatakan bahwa ia sungguh mencintai pria di hadapannya itu. Ini sungguh gila. Aku marah kepada suamiku. Sebelum sempat keduanya mengulang ciuman panasnya lagi, aku melompat ke tubuh teman pria suamiku dan menggigit lehernya. Cairan berwarna merah itu membuat mulutku terasa asin. Refleks suamiku meraih tubuhku. Dimasukkannya aku ke kandang dengan kasar. Aku mengeong berisik di dalam jeruji besi.

“Tunggu di sini! Kamu akan menerima akibat dari perbuatanmu pada kekasihku,” ancam suamiku dengan suara mengerikan sebelum berlalu ke kamar. Tak lama ia muncul membawa perlengkapan P3K untuk merawat luka teman prianya.

Semalaman aku gelisah. Sama sekali mataku tak terpejam. Aku merutuki diriku karena telah salah mencintai. Aku diperdaya suamiku sendiri. Ia bahkan tega melakukan percumbuan dahsyat di depan mataku. Suara-suara itu terus berputar di telinga, seolah mengejekku. Inilah alasan mengapa selama ini suamiku tak pernah menaruh ketertarikan pada tubuhku. Sungguh menjijikkan. Saat aku masih menyesali nasib, tanpa sadar sebuah tangan mencengkeram leherku. Suamiku membawaku ke dapur dengan marah. Tubuhku ia banting di atas meja. Gegas diraihnya pisau daging, diangkatnya tinggi ke udara.

“Matilah kau!” umpat suamiku. Sebelum pisau mengayun ke leherku, aku sempat teringat kembali ucapan perempuan gimbal itu. Jikapun aku mati justru lebih baik karena aku tak repot-repot melakukannya sendiri. Dan yang pasti aku tak pernah menyesalinya.***


Septi Rusdiyana, penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga dengan dua putri cantik bernama Negar dan Nala.

Puisi

Puisi Agus Widiey

Surat yang Kehilangan Alamatnya

Maafkan kerinduanku, dik.

Bila kau harus kuberi tahu

Kota ini menyimpan kesunyianku,

Dan entah kesunyianmu jugakah?

Kini tinggal sisa-sisa kenangan.

Setelah jarak yang katanya hanya dapat diraba angan

Pelan-pelan menebas harapan demi harapan.

Atau barangkali masih ada,

Hal-hal lain yang berharga untuk kita jadikan alamat,

Agar kita bisa kembali pada keselamatan takdir

Meski masa lalu akan melahirkan banjir kerinduan

Dan masa depan menyimpan beragam kegelisahan.

Yogyakarta, 2023


Sebuah Bencana di Masa Lalu

     –Nabi Nuh AS

Telah ia tumpahkan banjir melebihi air mata perempuan

Yang bertahun-tahun menyimpan kesunyian juga kerinduan.

Bagi mereka yang bertuhan pada sosok berhala

Yang mereka cipta dan menganggapnya maha atas segala.

Tiba-tiba Nuh datang

Berbekal sebuah kapal

Dengan niat membawa

Mereka dari duka peristiwa.

“Bismillahi Majreha Wa Mursaha”

Tapi mereka yang mencari Tuhannya sendiri

Tanpa mengikuti catatan nabi,

Bahkan putranya yang bernama Kan’an

Hanyut diantara kesesatan

Karena menolak suatu ajaran

Yang telah dititahkan tuhan

Hingga akhirnya tenggelam

Dalam maut kesedihan.

Tuhan, apakah iman yang ilmiah

Masih kalah ketimbang yang alamiah?

Yogyakarta, 2023


Falsafah Waktu

Demi waktu yang tak pernah tertata dengan rapi

Aku menolak, bila ia hanya diukur dengan angka-angka

Sebab kerangka jam yang kita pandang

Dalam hidup nyaris tak akan pernah sama.

Misal kita berjalan di atas bumi Malioboro

Berbekal cinta dan rindu yang meluap di dada

Sungguh pertemuan adalah kebahagiaan tak terhingga

Bahkan mengutuk waktu yang terasa cepat berlalu

Apabila waktu harus menuntut kita jadi masalalu.

Sebaliknya, misal kita tak sengaja bertemu lagi di Vredeburg

Sebagai mantan kekasih yang saling memendam rasa dendam

Sungguh satu jam akan terasa seperti satu abad lamanya.

Maka, tak ada waktu yang menyimpan kebahagiaan

Kecuali napas kita sedang menghirup peristiwa istimewa

Juga tak ada waktu yang menyimpan malapetaka

Kecuali napas kita sedang menghembuskan peristiwa duka.

Yogyakarta, Desember, 2023


Selamat Membaca, Ibu

; Minatun

Minggu lalu puisiku dimuat

Orang-orang mengucapkan selamat

Tapi aku akan merasa lebih bahagia

Jika ibu jadi pembaca pertama.

Sering kali aku teringat

Pada kecerobohanku sendiri

Dan ibulah yang kerap mengajari

Agar memilih sesuatu dengan cermat.

–Sebagaimana ketika ibu membelikan baju

Dengan ukuran pas, dan sesuai warna kesukaanku–

Maka dari itu,

Aku belajar memilih kata

Dengan hemat dan cermat

Agar pengamat ikut merasa nikmat.

Selamat membaca, ibu

Kutulis puisi ini untukmu.

Yogyakarta, 2023


Falsafah Tuhan

Sebab mata  

Yang terlihat di hadapan kaca

Hanya mampu

Menatap yang ada di hadapanku.

Sedang hati

Yang nyaris tak kuketahui

Mampu menatap dan merasakan

Yang ada di luar nalar pikiran.

Mata yang di luar

Dekat cara ia menatap

Hati yang di dalam

Jauh cara ia menatap.

;begitulah cara kerja mata dan hati, kekasih.

Yogyakarta, 2024


Agus Widiey, Lahir di Sumenep, 17 Mei. Menulis Puisi, Cerpen, Cernak, Cermis, dan Resensi. Tulisannya tersebar di pelbagai media baik lokal maupun nasional. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pernah memenangkan lomba cipta puisi yang diselenggarakan Majelis Sastra Bandung (2021). Anggota di komunitas Damar Korong(Sumenep).

Ragam

DI BAWAH JAM DINDING

Perempuan berkerudung merah di serambi masjid. Baju pun merah. Sosok yang indah. Aku melihatnya tanpa terpaan purnama. Lampu di situ temaram. Ia tetap merah, yang menyalakan malam.

Aku menyapanya sebelum raga masuk ke masjid. Kedatangan untuk ibadah dan obrolan buku.

Yang mengejutkan: buku dan pertanyaan. Pada saat masuk pintu gerbang dan berurusan pemeriksaan barang, petugas tampak curiga dan bingung. Aku membawa kantong plastik warna putih berukuran besar. Petugas mengangkatnya berat. Tangan membuka dan mulut bertanya: “untuk apa?” Ia bingung menemukan penjelasan buku dan masjid. Aku menyatakan bakal menghadiri obrolan buku di ruang perpustakaan. Masjid itu memang menyediakan perpustakaan: di ketinggian dan kecil. Petugas masih bingung saat aku menerangkan buku yang berat akan dibawa ke perpustakaan.

Yang kubawa: Sam Kok. Buku berukuran besar dan tebal, 5 jilid. Tanganku saat membawanya merasakan kesakitan. Kedatanganku membawa Sam Kok, yang nantinya diserahkan kepada pengarang terkenal. Padahal, malam itu obrolan buku bukan mengenai Sam Kok tapi Indonesia. Sekian langkah meninggalkan petugas pemeriksaan barang, aku tersenyum agak jengkel. Dugaanku: buku mau ditahan. Pikiran buruk terbuang setelah melihat “perempuan merah.”

Tas dan lima jilid Sam Kok naik ke perpustakaan. Aku menaruhnya di karpet, meninggalkan tanpa keraguan. Urusanku menyambut azan. Dari rumah, aku sudah berniat ingin shalat isya berjamaah di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo. Di atas karpet tebal, aku berhasil menunaikan ibadah sambil mata jelalatan.

Kembali ke perpustakaan yang tinggi. Duduk sejenak, menghampiri sosok yang berasal dari jauh: Liston P Siregar. Aku dikenalkan oleh Sanie B Kuncoro. Nama sudah aku ketahui sejak lama, sebelum bertemu dan salaman. Bergeser ke karpet kubu pria, kami bercakap tentang pers, politik, indonesianis, surat, dan lain-lain. Percakapan yang hangat, melampaui kehangatan teh.

Percakapan yang diselingi salaman dan sapaan dengan teman-teman yang berdatangan. Aku merasa akrab saat percakapan. Liston yang supel dan bergairah saat omong. Ia sempat mendakwa nasibku: “Istrimu suka marah?” Aku menjawab: “Marah besar”. Pertanyaan dan jawaban muncul setelah aku bercerita mengoleksi ribuan majalah lama: mempelajari dan membuat kliping.

Ruangan segera penuh. Namun, mataku mungkin salah melihat orang-orang yang duduk di karpet. Aku melihat beberapa orang berseragam petugas keamanan. Beberapa lagi mengenakan seragam yang mengartikan bekerja di masjid. Mengapa mereka ikut duduk di karpet? Aku belum mau melanjutkan pertanyaan-pertanyaan.

Acara sudah dimulai saat aku harus melawan kantuk. Malam makin terlihat meski lampu-lampu menyala. Kejutan tampak di depanku. Lelaki di bawah jam dinding. Ia berada di situ untuk omong. Kata-kata yang terucap jelas dan keras. Ia membawakan diri yang luwes dan cakap dalam menjelaskan buku berjudul Indonesia Kami (2023).

Ucapan-ucapan tanpa mikrofon. Ia sengaja tak mau menggunakan mikrofon. Benda yang telantar di meja. Mikrofon bersama piring dan buah-buahan. Di kepalaku, muncul sederet kata buatan Afrizal Malna: “yang berdiam dalam mikrofon”. Judul puisi dari masa 1980-an. Liston Siregar malah seolah membuat kalimat: “yang berpisah dari mikrofon”. Telingaku menikmati suara Liston. Keberuntungan ketimbang suaranya masuk mikrofon.

Yang teringat, ia omong Indonesia Kami, mengajak orang-orang berpikir “milik” atau “punya”. Deretan argumentasi disampaikan, yang membuat sangkaan orang-orang bisa meleset. Yang mengunci: “kami”. Pada suatu masa, Nurcholis Madjid mengeluarkan risalah berjudul Indonesia Kita. Tulisan yang berkaitan demokrasi dan nasib Indonesia setelah kejatuhan rezim Orde Baru. Dua judul yang pantas dipikirkan bersamaan tapi menghasilkan makna berbeda. Indonesia Kami memuat 15 tulisan dari serial belajar bersama yang dikelola Liston. Indonesia Kita itu pemikiran dan pernyataan untuk demokratisasi di Indonesia.

Aku jadi salah tingkah memikirkan dua buku. Beberapa tahun yang lalu, aku khatam Indonesia Kita. Malam itu aku belum memegang Indonesia Kami. Buku yang tak sampai tanganku. Buku tak pernah dalam pangkuanku. Aku bukan pembaca tapi sekadar mengetahui judul dan rupa buku di media sosial. Malam yang membuatku minder saat mengetahui para penulis dalam Indonesia Kami hadir dan urun omongan.

Rabu, 6 Maret 2024, hari yang menghangatkan bagiku setelah bertemu teman-teman dan hadir dalam obrolan buku. Pemandu obrolan itu Indah Darmastuti, yang terlihat olehku sebagai “perempuan merah”. Yang memberi penjelasan dan petunjuk dalam penulisan reportase: Liston. Ia pun berperan sebagai editor untuk pernerbitan Indonsia Kami. Belajar bersama dan buku yang mewujud atas sokomgam besar “mysaniefoundation”. Penanggap dalam obrolan buku: Bagus Sigit Setiawan. Di masjid, ia menjadi sosok penting dalam pembuat kebijakan-kebijakan bagi jamaah. Malam itu ikut cuap-cuap reportase meski condong dalam penjelasan berlatar Islam.

Aku tidak betah bersila di karpet. Akhirnya, ragaku bergeser di kursi, yang semula digunakan panitia dalam meladeni pengunjung saat membutuhkan teh dan beragam rebusan: ketela, singkong, jagung, dan kacang. Duduk di situ, aku melihat tiga nampan sudah habis, tersisa satu. Pengunjung tampak menikmati minuman dan makanan sederhana. Malam itu aku ingin kopi tapi tiada. Dugaanku: panitia sengaja tak memberi kopi agar malam tidak pahit.

Detik-detik di jam dinding berputar. Di bawah, Liston menggerakkan kata-kata yang mengarahkan orang-orang serius memikirkan reportase. Sekian kata terpenting: jujur, faktual, dan benar. Dulu, Liston pernah bekerja di majalah Tempo. Pergi di negara asing, ia masih berurusan jurnalistik. Di ruang perpustakaan, ia berulang mengatakan bahwa reportase bukan cuma dalam jurnalistik. Reportase itu keseharian dan bermunculan di media sosial.

Duduk sambil melawan kantuk, aku mendengar dua pemuda bertanya. Yang satu memasalahkan bahasa dan peran editor dalam Indonesia Kami. Liston memberi jawaban yang mengena: tulisan itu karakter. Editor bekerja tapi tanpa kebablasan. Pemuda yang satu menyebut nama-nama besar dalam kesusastraan dan pers di dunia. Liston menanggapinya dengan menyebut nama-nama yang berbeda. Aku mengenali nama-nama dan beberapa buku yang disebutkan. Di obrolan buku, aku merasa tidak terpencil. Aku agak mengerti reportase.

Selain urusan buku, aku terkejut melihat kerudung. Perempuan berdiri di belakang sedang memotret. Aku melihatnya sejenak. Sosok yang aku mengenalinya, lama tidak bertemu. Kami berpandangan dan tersenyum. Pertemuan tanpa janjian. Aku mengulurkan tangan: bersalaman.

Mataku melihat penampilannya yang berbeda: berkerudung. Ia bercerita: kerudung itu baru, dibeli di depan masjid seharga 30 ribu rupiah. Petugas memintanya mengenakan kerudung jika masuk ke masjid. Aku mulai melihat lagi teman-teman yang kesehariannya tanpa kerudung. Malam itu mereka duduk bersama mengenakan kerudung yang kadang jatuh atau minta selalu dirapikan. Mereka tidak sedang membuat gerakan “kerudung kami”. Mereka hadir untuk Indonesia Kami.

Jam dinding di atas Liston sudah mengabarkan 10 malam. Aku ingin segera pulang. Tubuhku harus segera tidur, sebelum dini hari menonton Real Madrid. Di pinggir jalan depan masjid, sebelum aku membonceng Ahmad untuk pulang ke rumah, seorang lelaki datang menyalamiku. Salaman tak biasa. Aku mengenalinya, berdoa untuknya yang berbuat baik saat masjid perlahan sepi.

Di jalan, aku dan Ahmad melanjutkan obrolan bertema pers dan sastra, sambungan dari obrolan saat berangkat ke masjid. Obrolan di jalan, tidak jauh berbeda dengan obrolan di perpustakaan yang tinggi.[] Kabut

Cerpen

Seribu Ekor Tikus

Cerpen Erwin Setia

Semuanya dimulai dari kamar, ketika ia melihat seekor tikus berderap cepat di sela rak buku. Tikus itu gesit sekali, lekas lenyap dari pandangan sebelum ia benar-benar melihat keseluruhan wujud si tikus. Yang jelas tikus itu besar dan hitam. Dua keterangan itu sudah cukup untuk membuat siapa pun mengerti kejijikan sekaligus kemuakan macam apa yang ditanggungnya. Dengan mata mendelik, melangkah hati-hati menuju rak buku, ia menggebrak-gebrak rak seraya memperhatikan sekeliling kamar. Tikus itu tidak kelihatan di mana pun. Hanya dari atap kamarnya yang punya banyak celah (dari sanalah tikus-tikus keluar-masuk) ia mendengar samar-samar cericit tikus. Ia kembali ke kursi, mengempaskan bokongnya sambil tetap memendam kekesalan kepada si tikus, dan ia terlompat dari tempat duduk saat mendapati si tikus sedang melata di atas meja kerjanya, meniti lembaran kertas catatannya tanpa rasa bersalah, lalu melesat ke kolong meja, dan kembali lenyap dari pandangan. Satu-satunya yang ia syukuri adalah ia tidak mematahkan punggung kursinya.

Jika kau berpikir itu adalah satu-satunya hari Eriko mengalami nasib sial macam itu, kau keliru. Tapi jika kau berpikir pengalaman semacam itu mengubah hidupnya, kau agak benar. Sebab sejak itulah ia menjalani hidup dengan lebih hati-hati dan mawas diri. Ia tidak lagi sembarangan berjalan lurus tanpa menengok kanan-kiri-atas-bawah. Ia tidak lagi mengabaikan dunia seperti sebelumnya. Ia kini begitu peduli pada dunia, pada hal-hal di sekelilingnya. Dan karena ia terlalu peduli pada dunia ia jadi tahu hal-hal yang seharusnya tak perlu ia ketahui. Misalnya fakta bahwa di area tempatnya tinggal yang terdiri atas 300 rumah, setidaknya ada 1.000 ekor tikus! Dari mana ia tahu soal itu? Tentu saja dari pengamatannya pada dunia.

Ketika ia pergi ke luar rumah, dengan berjalan kaki ataupun mengendarai sepeda motor, matanya ia gunakan lebih maksimal daripada yang sudah-sudah. Ia melihat banyak orang asing. Ia melihat tanaman-tanaman yang tak ia ketahui namanya, tapi ia kagumi bentuknya. Ia melihat rumah-rumah berderet, rumah-rumah yang sejak bertahun-tahun lalu tetap di situ-situ saja, padahal para penghuninya berpindah-pindah. Saat melihat rumah-rumah inilah, Eriko memperhatikan dinding luar rumah dan tempat sempah beton yang biasanya terletak di tepi luar pagar. Di salah satu rumah yang dindingnya dirambati oleh tanaman keriting dengan tata letak berantakan ia melihat seekor tikus besar dan hitam merambat di dinding seperti atlet panjat tebing. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain, ke sebuah tempat sampah di rumah seberangnya. Kali ini muncul seekor tikus besar dan hitam (lagi-lagi besar dan hitam) sedang menggerogoti sesuatu di dalam tempat sampah. Segera ia memalingkan matanya ke arah lain, tapi ke mana pun matanya menuju, yang ia lihat adalah tikus-tikus! Tikus-tikus yang ia lihat memang tidak berkumpul berombongan seperti sekumpulan tentara sedang berbaris. Ia hanya melihat tikus itu satu per satu, tapi di berbagai tempat, di semua tempat yang dicapai matanya. Ia yakin tikus-tikus yang ia lihat itu—walaupun bentuk dan ukurannya mirip—adalah tikus-tikus yang berbeda. Ia menaksir dalam sebuah rumah pasti ada setidaknya 3-4 ekor tikus yang menetap. Jika dikalikan 300 (yaitu jumlah rumah di area perumahan ini), berarti ada sekurangnya 1.000 ekor tikus di area tempatnya tinggal! Pemikiran itu membuatnya bergidik. Waktu itu ia bergegas kembali ke rumah dengan kepala menunduk dan sesekali memejamkan mata. Tapi tetap saja, sebelum tiba di rumah, ia sempat melihat beberapa ekor tikus melintas di jalanan atau menclok di tembok sebuah rumah yang tak sengaja ia lihat.

Apakah ini adalah halusinasi? Apakah ini adalah mimpi? Eriko sempat menduganya demikian. Namun ia mengonfirmasi apa-apa yang dilihatnya kepada ibu, bapak, tetangga, dan anak-anak yang biasa bermain di sekitar rumahnya.

“Kau tidak salah lihat, Eriko. Ibu juga belakangan ini lihat tikus di mana-mana.”

“Betul! Bapak juga lihat tikus setiap hari, bahkan di televisi! Ini bukan majas, Eriko. Bapak sungguh-sungguh lihat ada tikus lewat di atas TV waktu bapak nonton acara debat politik!”

“Ya, Mas Eriko. Saya bahkan langsung beli perangkap tikus ketika sadar ada banyak tikus mondar-mandir di dalam rumah. Percaya nggak, Mas Eriko, di malam pertama saya pasang perangkap tikus, saya langsung dapat tiga ekor tikus! Tiga ekor, Mas Eriko. Besar-besar dan hitam-hitam.”

“Aku juga liat tikus, Kak Eriko. Aku kejar tikus itu, terus tikus itu malah kabur. Aku pukul tikus itu pake sapu, tikus itu lari ketakutan. Aku ingin habisi tikus-tikus itu, Kak Eriko. Tapi tikus-tikus itu kok nggak abis-abis ya? Malah makin banyak.”

Tanggapan ibu, bapak, tetangga, dan anak kecil itu cuma membuat hati Eriko makin dongkol. Sebab semua itu menambah terang segalanya, menambah jelas kenyataan yang terhampar di hadapan Eriko. Ini bukan halusinasi. Ini bukan mimpi. Tikus-tikus itu benar ada. Semua orang menyadarinya. Semua orang mengetahuinya. Dan tikus-tikus itu ada dalam jumlah banyak. Bahkan kini Eriko merasa seribu adalah perkiraan jumlah yang terlampau sedikit. Namun ada satu hal yang mengganjal bagi Eriko. Kenapa orang-orang di sekitarnya tampak biasa-biasa saja dengan kehadiran 1.000 ekor tikus (kemungkinan besar lebih dari itu) di area ini. Mereka tidak terlihat gelisah atau ketakutan dengan kenyataan itu. Mereka seakan-akan menganggap keberadaan tikus-tikus itu wajar belaka, sama wajarnya dengan matahari yang terbit tiap pagi. Padahal, bagi Eriko ini sama sekali bukan hal wajar. Seribu ekor tikus! Bagaimana mungkin itu bisa dianggap hal biasa?

Lantas muncullah sebuah gagasan di kepalanya. Eriko berpikir orang-orang di sekelilingnya tidak menganggap serius maraknya tikus karena mereka tidak mengetahui fakta sebenarnya. Ia yakin tak banyak di antara mereka yang sadar bahwa jumlah keseluruhan tikus yang ada di area ini mencapai 1.000 ekor, bahkan lebih. Soal jumlah, Eriko beberapa kali mendebat dirinya sendiri. Tidak mungkin sampai 1.000 ekor, sebab boleh jadi tikus yang dilihatnya di rumah-rumah yang berbeda adalah tikus yang sama. Katakanlah seekor tikus bisa menyatroni empat sampai lima rumah dalam sehari. Dengan total 300 rumah, jadi, paling banyak hanya ada 60-75 ekor tikus di area ini. Pikiran alternatif itu sempat membuat kengeriannya berkurang sampai suatu siang ia pergi ke luar rumah untuk membeli lauk pauk. Ia mengendarai sepeda motor. Ia terkejut saat mendapati tiga sampai empat ekor tikus berdiam seolah menontonnya di setiap muka rumah yang ia lewati. Meskipun untuk pergi ke warung makan ia hanya perlu melewati beberapa rumah, Eriko melewati semua rumah untuk memverifikasi pikiran buruknya. Dan di tiap muka rumah yang ia lewati, memang betul-betul ada tiga sampai empat ekor tikus! Ia memutari perumahan sampai dua kali dan menghitung ulang jumlah tikus yang ada di tiap muka rumah. Tidak salah lagi. Jumlahnya memang 1.000 ekor tikus!

Lantaran semua sudah jelas, ia melakukan gagasan itu: memberitahu orang-orang bahwa ada 1.000 ekor tikus di area ini.

Tak ada yang menganggap serius kata-kata Eriko. Bahkan saat Eriko menceritakan soal ia melihat tiga sampai empat ekor tikus berdiam di muka setiap rumah pada suatu siang, semua orang tertawa, menganggapnya sedang melontarkan lelucon. Ibu dan bapaknya juga tertawa, tawa mereka lebih keras dari orang-orang lain.

“Kau tidak perlu membawa cerita-cerita yang kautulis ke dalam kehidupan nyata, Eriko.”

“Betul! Sebaliknya, seharusnya kehidupan nyata inilah yang kaubawa ke dalam cerita-cerita yang kautulis, Eriko.”

Demikian ucapan ibu dan bapaknya kepada Eriko setelah tawa terbahak-bahak mereka berhenti.

Eriko ingin menyahuti ibu dan bapaknya, menjelaskan kepada mereka bahwa apa yang ia katakan bukanlah karangan, apalagi khayalan. Semua yang ia ceritakan adalah kenyataan, senyata dirinya dan benda-benda di sekelilingnya. Tapi tak mudah bagi Eriko untuk memberikan penjelasan semacam itu. Apalagi peristiwa tikus-tikus berdiam di depan muka setiap rumah cuma terjadi sekali dan anehnya saat itu tak ada orang yang menyadari kejadian itu selain dirinya sendiri. Seolah-olah pada siang itu semua orang disibukkan oleh perkara lain sehingga tak sempat menyaksikan keajaiban—atau tepatnya keanehan—itu.

Karena semua orang memilih untuk menertawakannya, Eriko tak mau merepotkan diri memaksa mereka untuk memercayai matematikanya, bahwa ada 1.000 ekor tikus (boleh jadi lebih, mengingat tikus-tikus itu lebih cepat beranak-pinak daripada mati) di area ini. Seandainya mereka mau setuju pada hitung-hitungan Eriko, pastilah mereka akan menjadi lebih hati-hati dan waspada. Mereka tidak akan menganggap sepele keberadaan tikus-tikus itu. Mereka tidak akan hanya sebatas memasang perangkap atau menyebar racun. Mereka akan melakukan lebih dari itu. Mungkin melakukan pemusnahan massal dengan alat penyemprot atau kerja bakti membersihkan lingkungan supaya tikus-tikus pergi ke tempat lain. Tapi kalaupun tikus-tikus itu berkurang, atau bahkan menghilang, lantas kenapa? Apa bedanya 1.000 ekor tikus dengan 100 ekor tikus atau 10 ekor tikus atau 1 ekor tikus atau tidak ada tikus?

Pikiran filosofis itu menggelayuti kepala Eriko malam ini, di tempat dari mana semuanya berawal. Ia sedang duduk di atas kursinya, menatap laptop yang baru saja dimatikan, dan kini matanya melirik ke arah rak buku yang berada di samping meja kerjanya. Apa itu benda hitam-besar yang bergerak-gerak di bawah rak? Apakah seekor tikus? Ia tidak mengeceknya. Ia memalingkan mata dan membayangkan bisa jadi itu cuma halusinasinya, atau perasaannya, atau mungkin itu cuma kaleng, sebuah bola, kantong plastik, seekor kucing, meskipun tidak tertutup kemungkinan bahwa itu adalah… tiba-tiba Eriko terlonjak dari kursinya, dan kali ini punggung kursinya patah. Tentu saja Eriko telah melihat sesuatu melintas di atas meja kerjanya. Tapi sebaiknya kita tak perlu tahu itu apa.***

Tambun Selatan-Bekasi, 16 November 2023


Erwin Setia lahir pada 14 September. Penulis lepas. Aktif menulis karya fiksi dan esai. Tinggal di Bekasi. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Puisi

Puisi Febriana Widyat Sari

Panggung

Babad, kiranya

percakapan yang tak kunjung usai

Babak demi babak

Berubah jadi cerita yang tak lagi kau bagi

Kita adalah tokoh utama

Panggung siap dibuka

Sorot lampu dipijarkan

Skenario dihayati

Bila saatnya tiba, tak bisa dihindari

Kisah, dirayakan

Runyam meruncingkan ingatan

Mengunci menyimpan kenangan

Simpati menjebak rasa

Kealpaan tiada dikira

Lupa, yang tak disengaja

Kesadaran,

Peredam angkara

Penawar luka

Panggung,

Arena kesadaran tiada tara

Menjalani karma, yang

tak pernah salah alamat

(Febriana – Solo, 19 Juni 2022)


Rumah

Aku adalah rumah

Tempatmu kembali

Pergilah ke manapun kau mau

Lalu pulanglah kepadaku

Aku adalah rumah

Kau boleh pergi ke mana kau mau

London, Paris, Itali

Tapi kau pulang padaku

Aku adalah rumah

Tempatmu berteduh

Dari cuaca yang mendera

Bernaunglah padaku

Aku adalah rumah

Kau boleh bersuka di manapun kau mau

Tetapi jika kau berduka

Pulanglah kepadaku

(Febriana – Solo, 25 Juni 2022)


Lebam Ruam

Lebam..ruam..

Berteman nyamuk-nyamuk

Jalan sunyi yang ditapaki

Berkelok ke sana ke mari

Terombang-ambingkan angin

Nasib adalah kepastian

Dewasa di sebuah ruang waktu

Tahun-tahun hidup dalam bahaya

Penguasa adalah Tuhan

Membiarkan hidup segelintir manusia

Berkuasa atas hilangnya banyak nyawa

Menjadikan mereka jiwa-jiwa yang berkelana

Tahukah kau, jiwa yang malang

Bintang bersinar dalam kegelapan

Masa gelap itu kau hiasi

Dengan jiwa-jiwamu yang terus hidup

Meski ragamu dibinasakan

Jiwamu ada dalam pelangi selepas hujan

Kelembutan sinar mentari

di setiap pagi yang damai dari semesta

Tanpa rekayasa perusuh kemanusiaan

Kau adalah nyanyian indah

Tak tertandingi dari burung-burung mockingbird

(Febriana – Solo, 5 Juli 2022)


Musisi Kekal

Masa depan, tak tertulis

Ucapan dari jiwamu,

Bebas bak burung terbang

Di birunya awan-awan

Bersama para dewa

pecinta suara-suara

Pemuja lema-lema

Aku pemujamu

Pun dia dan mereka

Tapi kau di mana

Menghilang seperti udara

Menguap

Aku menghirupmu

Kau hidup dalam alam pikirku

Dia dan mereka

Aku mendengar sendu teriakmu

Kau pergi berkeliling semesta

Pesanmu kau kan menciumi harum

Makhluk-makhluk jelita

Tapi aku di mana diantara kunang-kunang

Kau mau berdansa semalaman

Kau mau lihat gemerlap kota-kota

Tapi, Joe

Kau petik gitarmu

Sendu rindu menggebu

Lakukan apapun dalam keterbatasan

Lalu kau niatkan

Mohon ampun pada semesta seru sekalian alam

Mengabdi pada Nya selamanya

(Febriana – Solo, 31 Oktober 2022)


Residu Rasa

Cipta menginisiasi temu

Temu dua jiwa yang tersesat

Tersesat di tengah rimba beton

Beton menggiring raga-raga berlarian

Berlarian kian kemari menjemput asa

Asa yang terukir atas sensasi-sensasi menggelora

Karsa meminang kisah

Kisah potongan warna-warna

Warna terpulas polesan kuas

Kuas menggores garis-garis

Garis berbaris-baris dalam pucat malis

Rasa mengembang kuasa

Kuasa menari silih berganti

Berganti jiwa dan raga

Raga mengecapi ampas terhempas

Terhempas diantara buih gelombang

Gelombang menggulung residu rasa

(Febriana – Solo, 21 November 2022)


Febriana Widyat Sari, kelahiran Surakarta, Jawa Tengah tahun 1983. Menamatkan pendidikan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa (UNS) dan Ilmu Hukum (Unisri). Seorang ibu satu anak. Sedang aktif menulis ‘gig report’ musik-musik arus pinggir untuk feedbackzine.blogspot.com.