Cerpen

Urusan Kita Belum Selesai

Cerpen Yeni Kartikasari

Sebenarnya, di mana Jon? Urusanku belum kelar. Ada banyak perkara yang ingin kubicarakan. Sekarang, aku sudah terkapar di sini, diliputi penyesalan setebal kabut yang menghalau pandangku. Secepat mungkin, aku harus bertemu dengannya.

“Jon!”

Di sekitarku, seperti kebanyakan orang yang tampak gamang, aku berusaha mencari Jon. Kuedar pandang ke segala penjuru—barangkali ia berada tak jauh dari sini. Tak lama, kabut berangsur naik, awan-awan tersibak memunculkan sengatan matahari. Setelah mataku berhasil melihat, di padang berpasir ini, mengapa wajah semua orang begitu aneh dan asing? Di antara mereka ada yang tak punya mata, mulut, dan telinga. Adapula tangan, kaki, dan kepalanya buntung.

“Jono! Temui aku, Jon! Aku temanmu! Aku…” Aku lupa nama dan aku tak kenal siapapun di sini. Semua orang tampak cacat dan buruk rupa. Begitu pun diriku. Walaupun, ragaku utuh, tapi kulitku sehitam arang.

“Muncullah, Jon! Kau di mana?”

Ketika aku melihat tubuh manusia setengah hewan, ragu apabila kusebut salah satu dari orang-orang yang berkepala anjing, babi, atau ular itu sebagai Jon. Seingatku dulu Jon pernah bilang bahwa orang yang selalu berbuat baik, tak akan mungkin dibangkitkan pada hari akhir dengan bentuk buruk. Aku sendiri tahu, Jon orang baik. Dulu, ia sering datang ke majelis ilmu dan selawat. Kepada siapapun, aku kerap melihat Jon memberi wejangan tentang pentingnya salat dan membaca kitab bagi seorang muslim.

Setelah kupikir, mustahil jika Jon berada di dekat sini. Aku berlari menerjang orang-orang di sekitarku sambil membawa keyakinan bahwa mungkin sekarang, Jon berada di suatu tempat bersama orang-orang yang semasa hidupnya takut dosa. Mungkin di ujung sana, Jon sedang bersama orang-orang yang tubuhnya utuh bercahaya dan tak merasa udara sepanas ini. Aku sangat yakin karena Jon memang orang baik. Aku ingin bersamanya. Semoga Jon masih mengenaliku.

“Tolong, Jon! Selamatkan aku!”

Lama tak ada jawaban, aku berhenti, lalu mencoba melihat tubuhku—keringatku terus mengalir. Tapi, aku masih bisa mengendalikan diri di tengah orang-orang yang sedang berguling-guling atau berlari menabrak satu sama lain. Oh Tuhan, apakah ini yang dimaksud Jon bahwa kelak manusia akan berterbangan seperti laron? Jika benar, seharusnya aku juga kebingungan dan lari tunggang-langgang mirip mereka.

Tentu aku berpikir seperti itu karena semasa di dunia, aku jarang beribadah dan bersedekah seperti Jon. Selain tak punya waktu dan tak punya banyak uang, aku malas berurusan dengan kegiatan agama, terlebih jika itu disaksikan banyak orang. Aku tak mau disebut-sebut alim, apabila sedang melakukan hal-hal baik, sementara apabila aku sedang mabuk, aku risih mendapat omongan buruk dari masyarakat.

Namun, jika memang aku sedang ingin beribadah dan bersedekah, aku lebih memilih sembunyi-sembunyi. Kata Jon, pahala tidak ditentukan dari banyaknya orang yang melihat. Aku setuju itu. Jika sempat, diam-diam aku menggelar sajadah di kamar—bersembayang sekhusyuk mungkin, meski aku tak benar-benar percaya Tuhan. Terkadang, juga kubuka kitab—membaca satu dua huruf arab yang bergandang-gandeng, kemudian kututup kembali lantaran tak tahan terbata-bata. Kalau lewat jalan raya, kerap kujatuhkan juga uang receh—harap-harap ada yang mengambil, walau itu cuma sedikit.

Hanya itu yang mampu kulakukan. Tak bisa dibandingkan dengan Jon yang celengan pahalanya begitu besar. Jon rajin beribadah, bersedekah, dan selalu berbuat baik. Aku ingat ia begitu mulia karena mau mengajakku datang ke majelis selawat. Untuk pertama kali dalam hidupku yang tidak terlalu menyenangkan ini, mencoba mendatangi acara itu, aku terpukau mendengar suara pemimpin selawat yang kelewat merdu. Orang itu bersyair panjang sambil menengadahkan tangannya dan mengajak penonton menirukannya. Berbeda dengan acara pengajian yang ceramahnya selalu membuatku mengantuk, aku justru ingin menangis memperhatikan semua orang serempak mengucapkan syair yang tidak bisa kuikuti. Kala itu, aku menoleh ke arah Jon. Jon menatapku tersenyum.

“Kau hapal semua?” tanyaku

“Tidaklah. Cuma beberapa.”

“Aku tidak tahu lagu-lagu, kecuali Ya Rasulallah.”

“Nanti juga tahu. Yang penting suatu saat bisa dapat payung nabi.”

“Payung nabi?”

“Ya. Orang yang suka selawat akan dapat payung nabi di hari akhir.”

“Meski aku pemabuk?”

“Meski kau pemabuk.”

Akhirnya, sebulan sekali, aku sering mengikuti Jon ke acara majelis selawat di kota-kota terdekat. Terkadang kami berangkat berdua, tapi lebih sering Jon membonceng teman perempuannya. Walaupun di depan panggung, tempat laki-laki dan perempuan dipisah, Jon lebih suka berbincang dengan teman perempuannya setelah acara selesai, sementara aku dibiarkan sendiri sampai kemudian kita bertemu lagi di kos. Di perjalanan pulang, aku sering mampir di angkringan untuk makan malam, atau jika benar-benar kesepian, aku nekat mlipir ke terminal membeli bir. Sebab aku belum bisa untuk tidak meneguknya sama sekali.

Sampai suatu kali, ketika aku benar-benar ingin bertanya perihal hukum membawa perempuan ke majelis selawat, padahal keduanya belum menikah, Jon justru bermuka masam dan menyerangku dengan pertanyaan beruntun.

“Apa salahnya? Kau tak suka? Kenapa kauurus hidup orang?”

“Loh, aku cuma tanya.”

“Aku ajak dia biar sama-sama masuk surga. Sama seperti aku ajak kamu. Malah sebelum aku nawarin kamu, dia udah sering ikut majelis dulu.”

“Kenapa kau marah?”

“Siapa yang marah?”

“Kau tak sadar dengan nada bicaramu?”

“Apa?”

Sejak kejadian itu, aku tak pernah mengikuti Jon ke majelis selawat. Namun, masih sempat beberapa kali aku bertanya kepada Jon, apakah manusia bisa menentukan dirinya masuk surga atau neraka. Mengingat jawaban Jon tak pernah memihak, untuk hari-hari berikutnya, ketika kami berpapasan di kos, kami hanya bertegur sapa seperlunya.

Mata Jon selalu nyalang menatapku. Ia selalu bertanya, “Apa?” Setiap kami bertemu. Aku memilih diam karena apa yang keluar dari mulutku dapat menjadi penyebab pertengkaran. Seperti, ketika jam tiga malam Jon baru pulang ke kos dengan leher merah-merah mirip gigitan serangga, aku yang pada saat itu bertanya, “Dari mana?” langsung disahut dengan kata-kata kotornya.

“Anjing! kenapa kauurus hidup orang!”

Kalimat itu cukup kuat melukai hatiku. Esoknya, aku pindah kos. Jelas aku marah. Tapi, aku tak bisa meluapkannya. Aku tahu setiap laki-laki memerlukan perempuan untuk menemani hidupnya.

Enam bulan setelah itu, kami lulus kuliah dan tak pernah bertemu lagi. Jon pulang ke kampung halamannya, sementara itu aku sudah berencana melanjutkan hidup bersama kekasihku. Usai menikah, istriku bilang bahwa aku harus memperbanyak selawat. Hal itu bukan supaya masuk surga, melainkan untuk mendapatkan syafaat. Aku tahu apa itu syafaat. Syafaat adalah sebuah pertolongan seperti payung nabi yang pernah Jon katakan.

Seiring istriku bicara bahwa di hari kebangkitan nanti, terdapat golongan yang tidak kepanasan, meskipun matahari setinggi satu mil di atas kepala, sebab seorang nabi telah memberikan payung terhadap umatnya, sontak aku teringat segala kebaikan Jon. Jon adalah orang pertama yang mengenalkanku pada dunia majelis selawat. Aku menduga, kelak Jon pasti menjadi salah satu orang yang mendapatkan syafaat. Maka, alangkah buruk bagiku, jika aku menjauhinya dan tak pernah meminta maaf kepadanya. Aku ingin bertemu Jon.

“Azka?” suara lembut itu masuk ke telingaku. Ya, Azka adalah namaku. Siapa yang membisikkannya?” Kini ingatanku terpecah-pecah. Aku tak sadar sudah berlari sejauh mana. Kakiku keram. Aku melihat tubuhku—semuanya tetap hitam. Mulai kurasakan mulutku berbicara, tetapi aku benar-benar tak menggerakannya.

Jon! Teriakku dalam batin. Belum sempat aku menyusun ingatan tentang apa yang terjadi dalam hidupku, aku dikejutkan oleh manusia berbadan ular yang menggelepar di tanah. Manusia setengah ular itu semakin mendekatiku dan dalam sekejap ia melilit tubuhku. Aku takut. Namun, aku bisa cepat melepaskan diri, lari tunggang-langgang melewati orang-orang, seolah-olah aku dapat menembus mereka.

Beberapa saat, aku tidak tahu mengapa aku berhenti di tempat yang tak lagi berhawa panas. Keringatku hilang. Seluruh badanku sejuk. Kupandang langit, tiada lagi matahari setinggi satu mil di atas kepala.***


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo.

Puisi

Puisi Listio Wulan Nurmutaqin

Peta Yang Terhapus

                        :  Dari anak-anak Palestina

1/

Telah terhimpun berpuluh tahun

Luka belum cukup

                            Membebaskan

                             Mengikat mimpi-mimpi

                                Masa kecil kami

Debu membahasakan setiap bagian tubuh

                              Memanjangkan retaknya

Pada tulang-belulang

Berserak sepanjang jalan

                             Setelah kami diburu

                              Dirajam peluru 

Maut tertawa berloncat

                             Kegirangan

Dari satu puing runtuhan

Ke reruntuhan lain

                               Sambil terus berteriak

Pergilah dengan bara api ditangan!

Kemanakah kami harus pergi?

2/

Di sini, kami menggambar sebuah peta

                         Yang dicetak

                          Dari darah dan sejarah

Dada-dada rompal meletuskan

Serpihan tajam cahaya kata-kata

                              Menjelma rajah berisi

                            Dosa-dosa

                             Yang tak pernah kami buat

Di bawah matahari yang mekar

Rumah serta sekolah kami

                          Dibom dan dibakar

                          Langit penuh kembang api

Siang dan malam

Jam demi jam        

                      Kaki-kaki musuh

                      Menginjak leher dan jantung

                       Memotong pena dan jari-jari

Tapi kami akan terus menulis

                Dari darah dan sejarah

Menggambarkan rumah ke dalam sebuah peta

Barangkali, rumah adalah denah yang terhapus

Hancur terbawa angin sekejap embus

Mungkikah masih ada tanah yang bisa kami tinggali?

Selain dinding-dinding penuh lubang di sini?

2023


TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS DI SINI

Senin datang tergesa-gesa

Lembur tak pernah alpa

Kerja, kerja, kerja

Kenyataan menampar

Beraduk di kepala, pecah berpendar

Pagi ini Jakarta biasa-biasa saja di antara segala keruwetan

Serta permohonan cuti yang diabaikan

Atau teror bos menjelang deadline kerjaan

Atau teman yang ngajak nongkrong tiap akhir pekan

Atau beli iphone terbaru meski dengan cicilan

Atau hasrat hidup dengan cara fancy di kos-kosan

Sama dengan berhemat gila-gilaan

Bawa bekal telor dadar atau lanjut mi instan

Tidak ada perayaan

Tidak ada makan siang gratis di sini

Segalanya begitu pelik dan naik

Hanya sisa remah-remah impian

Di negara yang enjoy rebahan

2024


DAFTAR BELANJA

Di pasar, mimpi adalah daftar belanja

Terselip di kantong plastik hitam

Labu,wortel dan beberapa sayur pucat

Seperti cemas menyaru sekilo cabai rawit

Yang sering cilukba tiba-tiba

Hidup terasa lebih perih dari merica

Mengingat daftar lain yang tak boleh terlewat

Beli susu formula, bayar cicilan rumah, arisan tiap bulan

Selalu alpa disubsidi

—nyeri inflasi di dada

Berbagai toko mimpi berjejer sepanjang jalan,

Para penjual membawa papan harga dengan huruf besar-besar:

Hanya untuk hari ini

Kau mengantre paling pagi untuk membeli kebahagiaan

Dan kesehatan dengan harga paling

Mahal, agar tak kadaluarsa sepanjang zaman

Setengah kilo harapan dan beberapa ikat kepastian

Sudah diskon habis-habisan, kau tahu: ada harga lain yang harus dibayar untuk sebuah kepastian

2024


MENCICIPI PUISI (1)

Setelah menyantap kesepian

Yang menyedihkan

Mencecap pedasnya hidup

Asin kangen dan gurih kenangan

Kau bepikir untuk memasak banyak puisi

Dengan banyak bahan

Majas -majas segar berwarna cerah

Diksi dan irama 

Yang diolah sepenuh hati

Dicampur bumbu-bumbu kemungkinan

Membuat puisi kadang terlalu manis dan matang

Atau masih amis serupa kecemasan

Puisi tetaplah hidangan terbaik

Yang ingin kau berikan

Dengan banyak rasa dan tafsir

Meski kau sadar

Baginya puisi seperti basi dan hambar

Cintamu telah siap saji

Bekasi, 2023


MENCICIPI PUISI (2)

Puisi adalah santapan 

Diksi-diksi kutumis

Di wajan perenungan yang lama

Dapur sedang membakar dirinya

Frasa-frasa matang dikupas kata

Bekas-bekas ingatan yang dilalui

Patah hati, mimpi-mimpi atau kecewa

-Bercampur

Menjadi santapan sedikit asin atau pedas

Kering atau berkuah

Biarkan kenangan menentukan rasanya

Bekasi, 2023


Listio Wulan Nurmutaqin. Kelahiran Brebes yang kini tinggal di Bekasi. Beberapa karyanya terbit di media cetak dan online. Buku puisi antalogi tunggalnya Tokoh Utama (sastranomina). Bergiat di Kelas puisi Bekasi ( KPB ).

Cerpen

Tidak Boleh Ada Dua Surga

Cerpen Puput Sekar

Aku berterima kasih kepada Dasim, karena berkat kepiawaiannya menghancurkan rumah tangga salah seorang pesohor, aku pun ikut mendapat keuntungan.

Dasim mendapat bonus dari bos besar, aku pun sama. Dasim mendapat pujian dari para petinggi, aku pun tidak kalah dipuji oleh mereka. Padahal pekerjaanku bisa dibilang teramat mudah. Sekadar mengarahkan mata dan telinga mereka untuk membaca serta mendengar berita kehancuran rumah tangga, maka sudah dengan sendirinya para manusia-manusia dungu itu bereaksi.

Apakah kalian juga mendengar gonjang-ganjing di wilayah yang sering dikatakan sebagai potongan surga yang tercecer ke bumi?

Kondisi alamnya yang indah seperti surga.  Ada tumbuhan menghijau, gunung tinggi, awan biru, dan mutiara kekayaan yang berserakan di daratan, tertimbun di dalam bumi, tersimpan di lautan, dan bergantungan di angkasa. Ada pula sungai-sungai mengalir di bawahnya.

Memang tempat itu seperti potongan surga. Tetapi percayalah, belakangan ini tempat yang dibilang surga itu semakin terasa panas, meski tidak bisa kukatakan seperti neraka, tetapi hawanya tidak sejuk lagi.

Namun tidak mengapa. Terpenting bagiku adalah manusia-manusianya. Di sana hidup manusia yang mudah kuperdaya. Sehingga memudahkan pekerjaanku untuk merekrut kawan-kawan yang akan mengikuti jalanku.

Oh, ya, kita kembali bicara tentang Dasim. Jadi karena keberhasilan Dasim menghancurkan rumah tangga itu sontak memberikan efek domino terhadap kemudahan tugasku.

Sebab setelah rumah tangga pesohor itu berantakan,  lantas aib mereka dapat dengan mudah diketahui oleh semua orang. Hai, tentu saja itu adalah pekerjaanku. Mengembus-embuskan kabar ke penjuru bumi, lalu membumbui dengan berbagai macam aib yang mereka buka sendiri.

Sementara aku bekerja, Dasim saat ini tengah berpesta pora. Ia bak kesatria yang pulang dengan kemenangan dari medan peperangan. Bonus yang Dasim dapatkan dari hasil pekerjaannya sungguh berlimpah. Sebab bukan hanya hancurnya rumah tangga pesohor itu, tetapi juga ada aib rumah tangga yang terbuka luas.

Aibnya bahkan dipergunjingkan oleh siapa saja.Alih-alih sebagai bahan pembelajaran bagi mereka yang mempergunjingkan. Padahal,asal tahu saja, bahwa sesungguhnya rumah tangga mereka- para penggunjing-adalah target Dasim selanjutnya, hanya tinggal kapan Dasim akan mengeksekusinya.

Bukan hanya pergunjingan, tetapi ada pula ujaran kebencian dan hujatan, dan seperti biasa setelah kami bekerja, kami ikut menonton kebodohan mereka. Bagaimana tidak bodoh, mereka menghujat dan membela orang yang tidak mereka kenal, bahkan bertemu sekali saja mereka tidak pernah.

Betapa dungunya kelakuan mereka. Akan tetapi tidak mengapa, itu tandanya kerja kerasku berhasil. Memang benar kata para junjunganku; menggoda orang-orang dungu itu legit dan empuk ketimbang menggoda mereka yang berilmu. Menggoda mereka yang berilmu membutuhkan upaya lebih keras, ketimbang menggoda orang pandir dan mudah menelan berbagai kabar burung yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta senang berceloteh padahal mereka hanya mengetahui sebatas kulit saja.

Kedunguan selanjutnya adalah ketika mereka saling hujat di antara sesamanya. Hujat-menghujat kepada orang yang tidak mereka kenal satu sama lain, untuk urusan remeh-temeh, untuk urusan yang tidak mempengaruhi kehidupan mereka, juga tidak menambah pundi-pundi emas, tetapi jika pun ada orang yang mendapatkan keuntungan materi dari hasil gonjang-ganjing tersebut, kukatakan bahwa itu sedikit sekali, sisanya adalah orang-orang pandir yang berceloteh dengan pemikiran-pemikiran bodoh mereka sendiri.

Namun lagi-lagi tidak mengapa. Aku senang, sangat senang. Dengan begitu- seperti yang kukatakan di awal-aku juga ikut mendapatkan pujian oleh para junjunganku.

Sejak Adam terlempar dari surga ke dunia, hingga aku hidup di dunia yang sekarang ini, berbagai perubahannya telah kulalui. Kemudahan teknologi menjadi sebuah landasan untuk memudahkan tugasku. Sesungguhnya aku ingin berterima kasih juga kepada manusia pandai pencipta media.

Bayangkan jika tanpa media, pekerjaan kami menjadi berat. Kami harus terbang dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengembuskan kabar bohong maupun nyata yang tidak menyenangkan untuk didengar. Kami harus membisikan ke telinga manusia satu demi satu untuk membuat mereka saling berseteru.

Tetapi dengan adanya media, kami bisa dengan mudah membuat mereka saling membenci dengan mempertontonkan aib mereka. Ya, ya, ya, aku tahu, bagi mereka menonton kesalahan orang lain adalah hiburan yang mengasyikan. Melihat aib orang lain dibuka, adalah kenikmatan yang tidak mereka sadari.

Aku telah berhasil mencabut rasa malu dari hati mereka, sama halnya dengan keberhasilanku mencabut rasa empatinya. Tanpa empati mereka mudah melakukan tuduhan dari apa yang mereka lihat. Mereka hanya percaya dari pandangan mata saja. Lalu tanpa mengetahui kejadian sebenarnya, mereka dengan mudah membuat tudingan-tudingan keji.

Aku telah berhasil membalik pandangan mereka, menulikan pendengaran mereka untuk tidak mau menerima kebenaran. Aku telah berhasil mengarahkan jemari mereka untuk mengetikan ujaran-ujaran kebencian sehingga sewaktu-waktu bisa berakibat fatal bagi mereka sendiri.

Tentu saja itu bukan hanya buah dari kerja kerasku. Kebodohan dan kemalasan mereka dalam mendekat kepada Tuhan menjadi andil yang besar untuk kesuksesanku. Apakah mereka lupa, berapa banyak orang yang telah dekat kepada Tuhan saja bisa kutipu dan kuperdaya, apalagi sekumpulan orang-orang lemah yang hanya mengaku dekat dengan Tuhan, namun sejatinya hati mereka mencintai gemerlap dunia dan isinya?

Jadi sekarang aku sedang menonton hasil kerja Dasim dan hasil kerjaku. Kini mereka meributkan hal-hal remeh-temeh. Mereka saling berseteru, padahal mereka tidak saling mengenal. Mereka mengatakan puas ketika telah memberikan ujaran kebencian, ketika telah menghujat, ketika telah mengatakan bahwa yang mereka sampaikan adalah kebenaran.

Ah, kebenaran macam apa yang mengikutsertakan hawa nafsu untuk dibilang benar? Mereka mengira apa yang dilakukannya adalah sebuah amal, ha-ha-ha, sungguh mereka tertipu dengan bisikanku.

Untung saja mereka lupa, eh, atau barangkali tidak tahu, bahwa syarat sebuah amal adalah jika niat murni karena Allah, Tuhan semesta alam, dan juga dilakukan dengan cara yang sesuai dengan aturan yang telah dibuat oleh Tuhan.

Kelakuan mereka membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Begitu mudahnya mereka kutipu. Lucunya telah berulang kali kutipu, mereka tetap tidak menyadarinya. Kau tahu? Sesungguhnya kubisikan di telinga mereka, bahwa dengan menghujat, memaki, membela sesuatu yang mesti dibela merupakan amal baik pula, tidak peduli bagaimana caranya, dan tidak peduli siapa sasarannya.

Jadi, ya, aku tengah bergembira. Jangan rusak kegembiraanku dengan kabar baik lainnya. Aku menikmati pekerjaanku sebagai si penipu. Sebab semakin banyak orang yang tertipu, maka akan semakin besar kesempatanku untuk menarik para manusia itu untuk hidup kekal bersamaku.

Di mana? Ah, ya, sudah barang tentu bukan di surga. Sebab aku begitu dengki melihat mereka yang kini hidup enak di tempat yang katanya potongan surga ini. Tentu saja, tidak boleh ada dua surga untuk mereka.***

Sleman, Mei 2024


Puput Sekar, lulusan Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Jakarta. Menulis novel Elang dan Bidadari, Republika 2012, Beo Zelga, Prudencia 2020, Splash Love in Seoul, Prudencia, 2021, Joko Klobot dan Nyi Kemretek, NAD Publishing, 2023. Kegiatan saat ini adalah aktif menulis di komunitas Nulis Aja Dulu, Terus Saja Tulis, dan Opinia. Penulis bisa dihubungi di Facebook: Puput Sekar, IG: @puputsekar_putse, dan email: [email protected]

Puisi

Puisi Ilham Wahyudi

Duka Lara

Sekiranya ia datang berkunjung

Segera palingkan wajah ke Magribi

Merah suram gelap lakunya itu

Tak elok memaksa kau layuh

Meski boleh jadi limpahan airnya

Obat percuma bagi luluh lantak rimba raya

Ia hakikatnya pandai menjadi petunjuk

Hadiah yang menawan guna perjalanan

Walakin tetap saja kau harus awas

Bilamana muncul serentak berduyun-duyun

Mengurung kau yang lengah rayuan Lilith

Agar semua yang telah pecah-robek

Tak sempat kau jahit lurus kembali

Akasia 11CT


Tirai

Tirai yang terbengkil-bengkil susah payah kau singkap itu senyata luas terpampang di hadapanku. Meskipun belum sepenuhnya terang kumasuki. Akan tetapi hitam putih yang terhampar di sana halus-halus mekar dalam liat merahku. Tentu saja merah yang bebal-teruk dan bukan main litak pada suluk pencariannya. Bagiku, menjadi salik (serupa kau) patut mengajuk jalan yang kau pajang melintang lepang. Karena itu janganlah cemeeh yang kau tonjolkan, sehingga esok kiranya tumbuh menjulang tiada antara kita yang perlu bertukar belas kasihan.

Akasia 11CT


Hijau

Terberkatilah ibumu telur mata sapi pagi; dan ayahmu luas langit tengah hari. Sampai bentala semata indah oleh halus-tebal budi pekerti; indra kami segar-bugar memandangi.

Dari rambutmu yang mahir menyaru, tahukah kau kami belajar mendirikan rencana (kami simpan yang patut dan kami bagi yang layak dibagi). Agar kelak apa yang belum kami maklumi, mudah percuma kami siasati.

Akan tetapi, (oh daging tak tahu diri) terlampau loba kami mencuri perangaimu tinggi agung tak berperi; namun senyata tak putus terus memberi. Sehingga semua rencana tentang akal budi, sekejap tunggang langgang angkat kaki.  

Maka baris-berbaris kami ingin menakluki; semua yang telah sempurna kau masuki. Seraya diam-diam, kami tebas pula urat leher anak-cucumu yang kokoh berdiri (menahan laju limpahan bah).

Sungguh, betapa hijau kini tubuh kami sekadar mahfum cintamu tak kunjung habis menepi. Oleh karena itu, kutuk saja kami segera! Sebelum hijau budi pekerti tandas merasai jatuh ke bumi.

Akasia 11CT  


Kuning

Belerang, bambu, gersing, India, jagung, janur, jenar, kenari, kepodang, limau, loyang, madu, malam, pepaya, pandang semua senang semata mengenakan mantel mahardikamu. Kau acap pula kupergoki berbaring di antara roti sarapan pagi; kadang dalam piring warteg makan siang kami, pun begitu juga kau terampil mahir menyelinap ke Terang Bulan kami yang legit menggigit (lihat, betapa pelit kami berbagi, sedangkan kau tekun rajin memberi).

O, betapa papa kami, sampai-sampai alpa bila namamu pernah pula duduk mesra bersanding dengan moyang bangsa Huaxia yang maju sejahtera. Begitu pula sungai yang jenjang dari pegunungan Tibet tak kuasa menerima kau sebagai nama. Kekallah; abadilah meski riwayatmu tak selalu terbaca mata. Kaukah cahaya yang menjelma terang siang, atau sebatas ilusi pantulan, belaka? 

Akasia 11CT


Merah

Umpama jantung jelita tertawan gelisah

susah payah menanggung derita rindu,

seperti gaun terang wong cilik di pemerintah

tak cukup buas menjaga amanat rakyat

ibarat selimut orok dalam kantung darah

licinlah; lancarlah jalan melewati liang,

serupa tandik lombok Jawa di lidah

amboi; keringat dingin jua nan mengalir,

(tapi bukan jerawat; bukan pula kecup puan,

walau mekar meriah kala tuan hadir bertandang) –

percayalah itu semata laksana,

misal belaka perihal jubah yang terang menyala,

memelompat bersembunyi dalam kata pun bahasa,

supaya terhalau duga sangka ke tepi jurang

tikai selisih yang tak berguna.

Akasia 11CT


Biru

kemari, datanglah segera laut

biar kucelupkan jari-jari pagi

ke alas tubuhmu yang semrawut

kesini, lekas cepatlah langit

agar kugenapkan putih sepi

menjadi corak terang menggigit

tapi, baik-baiklah memantul

supaya lapang-lempang jisimmu

mudah percuma nubuat menukilkan

selendang rambutmu molek di bait puisi

Akasia 11CT


Putih

Jika hatimu semerah apel di kebun Tuan sukacita. Maka putih hatiku laksana awan selepas hujan sore di gubuk duka lara. Kata orang, hati yang merah tampak memesona. Sehingga segenap yang kering pucat betapa kukuh-ingin tampil menyentak. Namun bila kekasih adalah tujuan, maka yang putih akan selalu rela berkorban. Serupa laron terbang menuju pijar terang; biarlah mati asal wajahnya terang terlihat.

Akasia 11CT


Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Puisi-puisinya ada yang ditolak redaksi ada yang dimuat redaksi. Buku kumpulan puisinya “Pertanyaan yang Menyelinap” akan segera terbit.

Cerpen

Rahasia Mimpi Kastawa

Cerpen Y Agusta Akhir

Saat masih sama-sama bocah ingusan, kami sering mengoloknya dan memanggilnya si Pembual. Itu karena ia sering bercerita tentang hal-hal aneh dan tak masuk akal. Misalnya ia bercerita kalau di rumahnya dijaga tiga makhluk berkepala ular atau kali lain ia mengaku bertemu dengan tuyul dan bicara dengannya. Di hari lain ia mengaku melihat peri terbang di udara mirip layang-layang. Tentu kami percaya tentang adanya hantu atau jin atau setan. Makhluk tak kasat mata. Tetapi kami tak percaya Kastawa memiliki indera keenam.

Sekitar dua bulan lalu, tanpa sengaja aku bertemu dengannya dan ia mengatakan kalau sedang merasa gelisah. Aku bertanya mengapa, dan ia bercerita perihal mimpinya dan kematian-kematian karenanya. Aku memperhatikan wajahnya sepanjang ia bercerita, dan aku tak menemukan jejak bualan di sana. Ia bicara sangat yakin, polos dan aku tak mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang dibuat-buat. Wajah kanak-kanaknya saat menceritakan seputar makhluk astral melintas di benak, dan memang tak seperti orang yang sedang berbohong.

“Ini rahasia,” katanya, “aku belum pernah bercerita kepada siapa pun. Aku takut orang-orang akan salah paham dan berakibat buruk padaku!”

“Tapi kenapa kau menceritakannya kepadaku?” aku iseng bertanya.

“Karena kau bisa menjaga rahasia. Aku percaya padamu. Dan aku tak mungkin memendamnya sendiri. Kau tahu, aku merasa bersalah. Mimpi begitu, menyiksaku alih-alih aku menikmatinya!”

Sebenarnya kurang tepat kalau aku dikatakan bisa memendam rahasia. Yang benar adalah aku orang yang lebih banyak diam, dan selebihnya aku hanya tak memercayainya. Lalu, untuk apa aku mengatakan kepada orang-orang kalau Kastawa, melalui mimpinya, bisa mengetahui akan ada yang meninggal di kampung ini?  

Aku mencoba memahaminya. Tetapi sejujurnya aku merasa apa yang diceritakannya adalah sesuatu yang konyol. Aku tidak menyangka kalau ia masih suka bercerita hal-hal yang tak masuk akal. Sudah mendekati kepala empat. Rupanya itulah watak yang tak bisa berubah.

“Aku ingin hal itu tak lagi terjadi padaku. Kalau memang aku harus mimpi, jangan ada yang mati!”

Aku mengangguk-anggukan kepala, supaya ia menyangka aku mengerti dan merespon apa yang dikatakannya. 

“Barangkali itu suatu kebetulan,” kataku, yang sebenarnya tidak begitu sungguh-sungguh mengucapkannya.

“Tadinya aku juga berpikir begitu. Tetapi setelah berkali-kali aku mengalami mimpi basah, esok atau lusanya ada yang mati. Selalu begitu. Rasanya tak mungkin kalau kebetulan belaka!”

Ia, kemudian dengan serius menyebutkan beberapa tetangga yang meninggal dan itu semua ditandai dengan mimpinya itu. Ia bilang tak tahu pasti siapa yang bakal dijemput maut. Hanya saja, sesaat setelah mimpi basah, ia seperti melihat ada gumpalan asap melayang-layang di udara, lalu masuk ke dalam rumah. Salah satu penghuni rumah itulah nanti yang akan meninggal.

“Tetapi aku tak bisa menebak, siapa dia!”

Aku berpikir, seandainya itu benar, ngeri juga mimpinya itu. Tetapi aku lebih suka menganggapnya sudah gila.

“Gan, kalau nanti aku mimpi basah, aku akan kabarkan kepadamu. Dan kau akan tahu, bakal ada yang meninggal!”

Aku tidak mengiyakannya. Aku hanya tersenyum dan menatap kedua matanya. Sepertinya ia tidak gila.  

Kastawa sempat bertanya kabar adik perempuanku, yang pernah ditaksirnya, ketika kami masih di masa-masa sekolah dulu. Aku jawab baik-baik saja, dan mencandai dia dengan bertanya apakah masih naksir adkikku, tetapi Kastawa hanya tertawa.

Sebelum berpisah, mendadak wajahnya tampak serius dan berkata, “Gan, kuharap kau berhenti. Carilah pekerjaan baik-baik!”

Ucapannya membuatku tersentak. Aku tahu maksudnya. Kupikir mungkin ada teman yang memberitahunya perihal ‘pekerjaanku’ selama ini. Apalagi, aku pernah tertangkap dan dipenjara. Barangkali pula ia sudah mendengarnya. Aku memang seorang pengedar, namun aku sudah memutuskan ingin berhenti. Untuk itulah aku pulang dan tak akan kembali ke ibu kota. Di sana, rasanya tak mungkin bisa kembali ke jalan yang benar. Aku sudah bertekad akan kerja baik-baik. Aku ingin hidup tenang bersama keluargaku. Keluar dari lingkaran setan. Tak ingin lagi berhubungan dengan barang haram itu. Capek jadi buronan polisi.

“Tentu saja, kawan!” sambil tersenyum aku mengucapkan itu, lalu kami berpisah.

***

Sejak pertemuan itu, di hari-hari selanjutnya kami masih bertemu lagi beberapa kali dan ia tak menyinggung perihal mimpinya yang ia sebut sebagai penanda kematian itu. Dan selama itu pula memang tak ada yang meninggal. Tetapi dua hari lalu ia datang ke rumah hanya untuk mengatakan kalau dirinya sudah mimpi basah.

“Besok atau lusa, pasti ada yang meninggal!” katanya sangat yakin.

Sampai detik itu aku masih belum bisa memercayainya. Tetapi ketika esok harinya ada yang meninggal, aku mulai ragu. Ia kembali datang untuk menegaskan kebenarannya. Aku katakan padanya kalau butuh dua atau tiga kali bukti, sehingga aku bisa percaya tentang mimpinya yang bisa menandai adanya kematian itu. Setidaknya aku tak akan lagi berpikir itu suatu kebetulan belaka. Aku juga menambahkan, tepatnya menawarkan padanya untuk bertaruh.

Tetapi ia menolaknya.

“Sebenarnya, kalau kamu tak percaya padaku, tak apa. Aku sendiri ingin lepas dari semua ini. Seperti yang kukatakan, aku justru tersiksa!”

“Baiklah, kalau begitu biar aku saja yang berjanji!” kataku, tak peduli dengan omongannya barusan.

“Terserah kau saja,” katanya.

Aku berjanji, kalau memang setelah ia mimpi basah dan kemudian ada yang meninggal esok pagi atau lusanya, maka pertama, aku akan memercayai bahwa memang mimpinya jadi penanda bakal ada yang meninggal. Kedua, aku akan membujuk adikku agar menerima cintanya.

“Itu kalau kamu masih naksir adikku. Semua kawan kita sudah menikah. Kenapa kamu masih membujang saja?”

Barangkali gagasan itu, walaupun aku tak sungguh-sungguh, dan sama tak masuk akalnya dengan mimpinya. Tetapi ia tak menanggapi. Hanya tersenyum. Senyum yang tak bisa kutebak apa artinya.

“Akan kuberitahu lagi kalau nanti aku bermimpi!”.

Tiga bulan berlalu, dan aku tak mendengar ada kematian di sini, seolah kematian benar-benar ditentukan oleh mimpi Kastawa. Padahal, ada beberapa tetangga yang sudah uzur dan sebagian tampak sakit-sakitan. Ada pula yang sudah bertahun-tahun hanya terbaring di ambin. Kupikir karena memang takdirnya mereka masih diberi kesempatan untuk hidup. 

Sial, aku jadi memikirkan apa yang dikatakannya. Tentang kebenaran mimpi senggama dan adanya kematian setelahnya. Bagaimana kalau ternyata apa yang dikatakannya itu benar? Bagaimana kalau selama ini, Kastawa memang benar-benar bisa melihat hantu atau alam ghaib? Ah, seandainya dia memang bisa melihat alam ghaib, memang apa masalahnya? Mungkin malah ia bisa menolongku, misalnya aku harus bagaimana atau melakukan apa supaya bisa memperbaiki nasib.

***

Akhirnya, pada suatu sore ia datang menemuiku. Agaknya ia tampak tidak sedang baik-baik saja. Wajahnya seperti tak memiliki cahaya. Mungkin sedang sakit atau sedang bersedih hati. Aku bertanya apakah sedang ada masalah, tetapi ia bilang tidak ada. Aku juga bertanya apakah ia sedang sakit dan ia menjawab sehat-sehat saja. Lalu ia hanya berkata pendek dan pelan.

“Semalam aku mimpi basah!”

Aku kaget mendengarnya. Aku tidak tahu mengapa kaget. Padahal, menurutku aku tak perlu bereaksi seperti itu. Toh, aku belum sepenuhnya memercayai soal mimpinya yang berhubungan dengan kematian itu. Lagi pula, aku juga sudah tahu kalau ia datang akan mengabarkan bahwa dirinya sudah mimpi basah.

“Siapa yang bakal dijemput ajal?” aku setengah berkelakar.

“Aku tidak tahu. Tapi pasti akan ada yang mati. Besok atau lusa!” ia berkata dengan suara sangat pelan, mirip orang sedang sakit sariawan atau radang tenggorokan.

Hanya begitu saja. Ia lalu pamit pergi. Aku tidak bertanya ia hendak kemana. Mungkin pulang.

Sekarang, aku tinggal menunggu saja, apakah benar akan ada yang mati besok atau lusa, sebagaimana yang tadi dikatakannya. Aku berharap akulah yang benar. Tak ada kematian di kampung ini entah besok atau lusa. Kuharap tak ada yang berduka, setidaknya dalam waktu dekat ini.

Dan esoknya memang tak ada berita duka di kampung ini. Tak ada pengumuman yang disampaikan lewat corong masjid perihal ada yang meninggal. Tak ada pula bendera penanda ada lelayu. Aku cukup senang. Aku masih berharap besok juga demikian.

Sampai pada hari berikutnya, sesaat sebelum matahari terbit, aku melihat Kastawa kembali ke rumahku. Wajahnya masih seperti yang kemarin. Pucat. Mirip orang sakit atau sedang bersedih. Ibuku, dengan wajah yang masih bersaput duka menyambutnya.   

Kastawa memeluk ibu. Keduanya berurai air mata. Keduanya tampak akrab, padahal mereka sesekali saja bertemu. Dan ketika saling melepas pelukan dan bersitatap, mereka kembali bercakap, dan samar aku mendengar ibu berkata.

“Apakah Gandi ada hutang padamu, Nak?”

Kastawa diam sejenak. Ia tampak ragu, tetapi kemudian menjawab, “Hanya sebuah janji. Tetapi tak perlu ibu tanggapi serius!”

Kastawa lalu kembali memeluk ibu. Dan aku mendengar apa yang dibisikkan Kastawa kepada ibu. Rupanya Kastawa bilang kalau aku berjanji membujuk adikku agar menyukai Kastawa. Aku melihat ibu tersenyum samar, mengangguk pelan. Kemudian berpaling pada adikku yang sedang bersimpuh, dan menangis di dekat jasadku. Lalu aku mendengar orang bercakap-cakap, “Kejadiannya dini hari tadi. Ada yang mengejarnya. Barangkali intel. Lalu menembaknya!”***


Y Agusta Akhir menulis puisi, cerpen, dan novel. Beberapa karya pernah dimuat di media baik lokal maupun nasional. Novel pertamanya, Requiem Musim Gugur (Grasindo, 2013). Novel Kita Tak Pernah Tahu ke manakah Burung-burung Itu Terbang terpilih sebagai pemenang ketiga sayembara Novel yang diadakan Penerbit UNSA Press tahun 2017. Novel Seperti Lidah Api Menjilati Bulan di Langit (Lakheisa, 2022) mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Jawa Tengah tahun 2022.

Puisi

Puis M.Z. Billal

PAGI

Aku berbisik kepada arthur rimbaud ketika

melihat keluarga kecil – tetanggaku – bertengkar lagi

pukul setengah tujuh pagi di beranda. gadis kembar mereka yang baru

belajar berjalan masih sebagai saksi. takut, sendu, dan tidak tahu.

pasangan itu saling menuding; ingin bercerai tepat ketika

angin menggugurkan daun angsana dan mengecup

kuntum-kuntum marigold yang hendak mekar.

mereka baru berhenti saling memaki dan ambil langkah menjauh

ketika aku pura-pura tidak melihat peperangan itu.

terakhir si wanita meneriaki suaminya: aku tidak butuh cintamu lagi!

“cinta adalah kebiasaan, arthur. dan kebiasaan itu tampaknya sudah berakhir di sana.”

2023


JELANG TENGAH HARI; 10.40

Dari jendela lantai 3 perpustakaan ini, aku melihatnya

lagi. jalan sudirman selalu sejuk dipandang. pepohonan seperti

raksasa penjaga. dan langkah kakinya mengirimkan getaran

lembut sampai ke dalam dadaku. empat jam perjalanan sampai ke sini.

aku memasuki semusim di neraka. lalu ia duduk, tersenyum dan membacakan

sepotong puisi asing tiba-tiba di hadapanku.

You  who have suffered, find where love hides.

Give. Share. Lose. Lest we all die unbloomed.

aku tahu ia mencuri Ginsberg. langsung tertawa cekikikan, seperti biasa.

“otakmu adalah perpustakaan. aku penasaran buku apa yang belum selesai kau baca?”

aku tak bisa mengatakannya; bahwa kau adalah buku favoritku yang belum tuntas.

kau halaman-halaman yang tidak bisa kutinggal begitu saja. aku ingin

sukarela terperangkap di dalam ceritamu, selagi ada waktu.

dan saat kau beranjak mengambil buku di rak, aku berbisik lagi

kepada arthur rimbaud.

“cinta adalah deretan buku di rak perpustakaan umum, arthur. dan di sini dua penulis sedang kasmaran.”

2023


MATAHARI PERLAHAN CONDONG KE BARAT

Aku berbisik lagi kepada arthur rimbaud. kali ini sangat serius.

tiga hal penting telah terjadi di sini. dalam waktu berurutan.

pertama, aku melihat bocah pemulung memberikan sebungkus nasi

kepada sepasang manula difabel yang saling setia; si wanita

bisu dan tuli sementara si pria hanya memiliki kaki kiri.

itu terjadi tepat di depan sebuah resto yang menjual makanan asing

lalu seorang pelayan bertampang sinis menyuruh mereka pergi.

kedua, aku melihat jalan kota berubah jadi buntu.

ratusan mahasiswa berarak seperti semut marah

menuju gedung pemerintah daerah sambil berteriak.

api yang membakar ban adalah amuk bisu yang melahap

segalanya. lalu kudengar salah seorang anak muda membaca

sebuah puisi milik Zawawi dengan lantang,

Dubur ayam yang mengeluarkan telur,

lebih mulia dari mulut intelektual yang menjanjikan telur.

ketiga, aku melihat warga pinggiran kota sedang mengamuk

pada sepasang muda mudi  usai tertangkap basah

bercinta di dalam semak dekat rumah ibadah. mereka

tak berkutik. nafsunya tak tersulut lagi seperti sebelumnya.

dan seorang dari mereka berkata keras sambil meludah:

kalau saling cinta jangan membakar diri di sini!

aku paham maksudnya

“cinta mengajarkan kebajikan dan rasa malu, arthur. ia kuat sekali menanggung segala jenis rasa sakit.”

2023


THE BEATLES, WAKTU PETANG

kudengar ia bersenandung; don’t need to be alone

no need to be alone. it’s real love, it’s real… yes, it’s real love, it’s real…

tapi tidak menatapku. lampu-lampu di sepanjang jalan

senja mencumbu matanya yang sipit. aku suka terbenam

di sana. kota ini akan jadi suvenir. tapi ketahuilah, arthur.

ini tidak baik. ini benar-benar tidak baik.

aku akan mengatakan untuk terakhir kali padanya.

“aku sudah sampai pada bagian akhir puisi. ia adalah bagian akhir puisi.”

barangkali kota ini akan gelap. hatiku akan gelap. jiwanya akan gelap.

2023


TOMBOL OFF – DI JALAN PULANG

aku berbisik lagi;

“cinta tidak konservatif, arthur. hidupku yang terikat adat. etnis ini mengalir di tubuhku.”

lalu kutekan tombol off di tubuh arthur rimbaud; alat perekam suaraku yang puitis dan setia.

mungkin tak akan pernah kunyalakan lagi.

2023


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital serta sejumlah antologi nasional.

Cerpen

Di Sebuah Kafe Tempat Aku Menemukan Kekasihku

Cerpen Aprilia Nurmala Dewi

Dingin menyusup masuk melewati pori-pori kulitku, jauh ke dalam hingga ke tulang-tulang. Bukan dingin seperti apa yang kurasa saat kubuka jendela pada suatu pagi di musim dingin di Interlaken. Bukan, bukan seperti itu. Dingin itu mencekam. Dingin yang hanya kurasakan saat kuinjakkan kaki di kafe itu. Sebuah kafe tempat aku menemukan kekasihku.

***

Kekasihku bukanlah jenis perempuan yang membuat laki-laki jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukan pula seseorang yang pada umumnya ingin ditunggu di ujung altar pernikahan. Namun, menurutku, saat dia menyesap vodka-nya, lalu mengisap rokok dalam-dalam, kemudian membuang pandangan jauh ke Danau Thun, dia begitu menarik.

Pemandangan itu kudapati saat pertama berkunjung ke sebuah kafe bernuansa kastil yang muram. Kehadirannya membuat hari-hari di musim dingin itu lebih cerah. Dia akan datang ke kafe itu pada sore hari mengenakan mantel hitam dan duduk di tempat yang sama seolah-olah meja di sudut ruangan itu memang hanya untuknya. Pandangan kosongnya membuat dia terlihat putus asa.

Kami adalah dua orang putus asa yang akhirnya saling mengisi.

Dia pernah mengatakan ingin mengakhiri hidupnya.

“Mungkin sebaiknya aku mati di ujung sebuah pisau,” katanya pada suatu malam saat kami berbaring sambil memandangi api yang menjilat kayu perapian di rumahku.

Dia bilang dia mengasah sebuah pisau setiap saat, sama halnya dengan waktu yang mengasah lukanya. Kian hari kian menyakitkan. Sebuah luka entah apa. Dia tidak mengatakannya kepadaku.

Sementara aku kembali ke Interlaken setelah perpisahan yang menyakitkan dengan seorang perempuan baik-baik. Perempuan yang tidak menyesap vodka dan tidak merokok. Dia hanya berselingkuh.

Sejak perpisahan itu, aku pikir, hubungan dengan perempuan hanyalah kesia-siaan. Namun, godaan untuk melakukannya kembali baru muncul ketika melihat kekasihku di kafe.

***

Pada musim semi, saat air tenang Danau Thun yang kehijauan memantulkan sinar matahari dan bunga-bunga di tepiannya tumbuh dengan indah, aku menghadiahinya sebuah gaun berwarna merah muda. Aku pikir dia harus lebih bersemangat.

Aku bosan melihatnya mengenakan pakaian hitam dan bermuram hati. Ya, aku berhasil membuatnya lebih banyak tersenyum. Maka demi membuat kekasihku tersenyum, aku menambah hadiah. Gaun merah muda terasa kurang.

Dari satu gaun ke gaun lain. Hingga kemudian memberinya perhiasan terdengar lebih memuaskan. Tidak hanya aku, tentu dia juga. Aku bisa melihat binar matanya. Semangat hidup yang kembali menyala dan membuatnya melupakan mati di ujung pisau.

Dari satu perhiasan ke perhiasan lain meningkat menjadi ingin memberikannya apa saja agar lebih sering tersenyum. Seolah-olah semangat hidupku datang dari senyumnya. Aku kembali tergila-gila kepada seorang perempuan.

Sayangnya, entah mulai kapan aku merasa dia menjadi lebih haus. Sialnya, dia menjadi sangat haus dan aku menjadi sangat lelah.

Musim semi berganti musim panas. Musim panas berganti musim gugur. Dan, pada suatu hari saat tanaman anggur menguning, jalan-jalan dipenuhi daun berguguran, kami terserang rasa bosan. Dia mulai merengek untuk sesuatu yang tidak jelas. Aku tidak tahu apakah itu terlalu cepat.

Makin hari dia makin haus dan aku merasa bahwa lubang dalam dirinya yang perlu kuisi hanyalah keinginannya terhadap hadiah-hadiah yang kupersembahkan. Kami tidak lagi hangat satu sama lain.

***

Kekasihku masih menyesap vodka dan mengisap rokoknya dalam-dalam. Namun, kali ini, bagiku dia tidak semenarik musim dingin yang lalu. Aku berpikir itu sangat jahat, perasaanku sangat jahat hingga suatu hari dia membanting pintu rumahku dengan sekuat tenaga, sekuat rasa bosannya. Setelah hari itu, dia tidak lagi datang ke kafe atau ke rumahku. Aku melihatnya di tempat lain bersama pria yang lain.

Perempuan yang menyesap vodka atau tidak, sama saja. Mereka mengkhianatiku, mengkhianati uang yang sudah kuhabiskan, mengkhianati waktu yang sudah kuberikan, dan tentu saja mengkhianati perasaan yang kupikir itu cinta.

Musim dingin kali ini terasa lebih dingin meski salju tidak setebal biasanya. Aku baru merasa hangat saat membayangkan wajahnya yang mencebik dingin. Wajah dingin yang pura-pura tidak mengenaliku saat kami berpapasan.

“Bukankah dia kekasihmu, Tom? Mengapa dia tidak menyapamu? Lalu, bukankah pria yang bersamanya itu tidak terlihat seperti seorang kerabat?”

Seorang kawan yang bersama denganku berpapasan dengannya pun merasa janggal. Terlalu janggal hingga aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan kawanku itu.

Rasa bosan yang bersarang di jiwaku pun rupanya mulai menjelma benci. Maka kuputuskan untuk memenuhi salah satu keinginannya untuk terakhir kali.

***

Aku meminta dia datang ke kafe itu sekali lagi. Kuiming-imingi dia dengan mengatakan akan kupenuhi sebuah permohonannya sejak lama. Dasar rakus, dia tidak menolak. Aku bahkan mendengar desahan menggoda di ujung kalimatnya sebelum menutup telepon.

Darahku mendidih melihatnya datang menghampiri tanpa rasa bersalah. Hal itu membuat suhu tubuhku memanas. Kukatakan bahwa aku ingin dia memohon terlebih dahulu. Sekali lagi, dia tidak menolak. Maka kukeluarkan pisau, yang telah kuasah semalam, dari sebuah kantong berbahan kulit rusa .

Akhirnya kulihat lagi bagaimana dia memohon. Memohon-mohon sebelum kukabulkan satu hal yang pernah menjadi keinginannya. Kuselesaikan tugasku dengan cepat. Bahkan tidak kuberi dia kesempatan sedetik pun untuk menyesali rintihan permohonannya yang memuakkan.

Pertemuan itu adalah yang terakhir. Setelah itu aku tidak lagi menginjakkan kaki di sana. Di sebuah kafe tempat aku menemukan kekasihku. Diam, dingin, dan membeku.***


Aprilia Nurmala Dewi, ibu dua putra spesial sekaligus abdi negara yang senang menulis. Lahir di Ujung Pandang dan berdomisili di Sinjai.

Puisi

Puisi Hamzah

Desimal

Mula dari nol
hitung berulang
setelah sembilan
sepuluh jari-jemari
meletakkan zaman
berbuku-buku
berbilang negara
atau res publica
diukur tonggak
satu, dua, tiga.

Sembilan, sepuluh depa
dan usia diejanya
jiwa-jiwa dijatah,
disiapkan; ditentukan.

Karanganyar, 2022


Jenaka

Kembang hijau begitu bungah
nalarnya menjalar beriring angin
bersetelan mahkota, kasut, topeng, dan galah
berseru, “wahai berdiang di angan dan ingin!”

Karanganyar, 2022

Sibak

Mulanya hela nafas begitu jernih.
Kristal-kristal es berhembus
Angin Utara dan Udara Dingin
lembah di sela-sela lereng.
Dibawanya tarikan nafas masa,
waktu, dan musim bersampir
biji-biji disemai oleh ratu
di bawah pertiwi dan tanahnya.
Harusnya desah nafas dihela
kusir-kusir berkumis salju
mengantar gugur dan semi
anak-anak tahun. Diseretnya
dua hingga empat perumpamaan
musim dengan mata panah pada
belikat bernafas setengah terengah,

Angin adalah bedebah
kembar dari waktu.”

Karanganyar, 2022


Kelelahan

Pukul delapan pagi, dia bawa sebuntal mimpi ke kamar mandi,
mimpi-mimpi itu menyisakan kantung matanya, dunia begitu mudah
dihadapi oleh sabun, sampo, pasta gigi, dan conditioner. Begitu dibilas,
luruhlah mimpi-mimpi dan tirai dahinya dibuka oleh air dingin
menjerang harap-harap kucing tersisa dari kantuknya semalam.

Saking marahnya dia, hilangnya satu buntal itu menukar limpitan
bibir terkulum berhias jigong berengut tajam
berseling umpat-umpatan, bahwa:
dia harus memanaskan motornya,                   matahari belum tinggi benar
orang dan mesin yang berkejaran,                   serta alasan agar nyawa bulan itu
tetap utuh.

Dihadapinya layar, mesin, layar, mesin, layar
dengan mesin ia berlayar mengubah nasibnya
agar tidak dijera angan-angan, katanya.
Pukul lima sore, badannya bergetah.
Di tengah mesin dan manusia,
dia melihat mataharinya terbenam.

Karanganyar, 2022


Lob

Empat sudut bingkai kamera,
kehidupan ada dalam kolong lapar
tempat-tempat tercerabut
oleh perasaan lupa. Dinas adalah
wilayahnya luput, luas di mana lepra
meratu lela.

Karanganyar, 2022


Hamzah lebih suka menyebut dirinya bermatra jamak seperti larik Walt Whitman. Poliglot yang beraspirasi menjadi polimatis ini dapat ditemui di https://hamzah.id/

Cerpen

Obituari untuk Ayah

Cerpen Edellweiss London

Baru beberapa jam lalu jenazah ayah dikebumikan, tetapi beberapa sanak saudara sudah berani menyinggung tentang penerus perusahaan di depanku. Sungguh tak punya sopan-santun. Malas menaggapi Paman dan Bibi, aku melipir menjauh.

Aku membuka kantor ayah yang terletak di ujung koridor. Lengang. Kepalaku berdenyut hebat dan mataku terasa berat karena terlalu banyak menangis. Dengan kaki berat, aku menghampiri kursi goyang ayah lalu duduk di sana. Punggungku menggoyang sandaran kursi beberapa kali. Kala ayunan menjadi konstan, mataku mulai terpejam. Ingatan tentang ayah, ibu dan apa yang terjadi di antara mereka mulai berkelebat.

Mati memang tidak membawa harta, tapi tetap saja orang-orang kaya dimakamkan di tempat yang berbeda dengan rakyat jelata. Ayahku, Sastrowijoyo, adalah seorang ningrat keturunan keraton. Sebelum meninggal, ayah telah mempersiapkan tanah berharga ratusan juta untuk dijadikan pusara keluarga.

Makam ayah berada di pekuburan mewah, bersanding tepat di sebelah makam ibu. Mereka sehidup-semati, rupanya. Mengingat betapa tidak akur mereka berdua semasa hidup, aku sungguh tak menyangka jika ayah akan begitu cepat menyusul ibu.

Aku ingat, menjelang kematian ibu, ayah berbisik di telinga ibu sembari terisak, “Aku tak bisa hidup tanpamu, Utari.”

Ternyata kata-kata itu bukan isapan jempol belaka. Ibu baru berpulang kurang dari dua bulan lalu, dan sekarang ayah menyusulnya. Hatiku yang susah payah bertahan selepas kematian ibu, kini harus kembali koyak. Sesak, dan kehilangan memang tak pernah terasa lapang.

Aku kini tinggal seorang diri. Rasanya hampir tak percaya, aku telah menjadi yatim piatu dalam waktu singkat. Jika bukan karena para pelayat itu, aku menyangsikan ayah sudah tak bersamaku lagi.

Berbeda dengan ibu yang selalu mendukungku, semasa hidup ayah adalah pengkritik terbesarku. Walau aku dan ayah sering bersitegang, namun kematiannya terasa seperti tembakan peluru yang meninggalkan lubang di dadaku.

***

Bunyi ketukan pintu membuatku membuka mata. “Masuk,” kataku.

Sesaat kemudian kepala laki-laki itu tersembul dari balik pintu. Aku mengenalinya sebagai pelayan setia ayah.

“Ada apa?” tanyaku ketus. Aku agak sebal karena dia tak membiarkanku beristirahat barang sejenak.

Pelayan setia ayah mengangguk hormat. Dia menghampiri dudukku lalu mengatakan sesuatu dengan sangat pelan, “Nyuwun sewu, Panjenengan diaturi menulis obituari untuk menghormati mendiang bapak.”

Aku tertegun untuk beberapa saat, lalu menggumam, “Obituari?”

Inggih, obituari yang indah. Sama seperti yang Panjenengan tulis untuk mendiang Ndoro Putri.” Laki-laki di hadapanku itu berkata sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia memang biasa menyapa ibuku dengan sebutan Ndoro Putri.

Saat kematian ibu, aku memang menulis obituari sepanjang tiga halaman yang begitu menyentuh. Aku banyak bercerita tentang kebaikan ibu, juga waktu-waktu yang kami lewatkan berdua. Bahkan aku sempat melihat ayah menitikkan air mata saat membacanya.

“Harus?” tanyaku menyelidik.

Inggih, Mbak. Kita akan menerbitkannya di website perusahaan. Juga, mengirimnya ke beberapa surat kabar.”

“Apa yang harus kutulis dalam obituari tentang ayah? Dari mana aku harus memulainya?” tanyaku pada pelayan setia ayah yang hampir tak pernah kusebut namanya itu.

Dia mematut ujung alisnya, tampak berpikir sebentar. “Mungkin, Mbak Ayu bisa memulainya dari cerita masa kecil, atau kenangan indah bersama bapak.”

Tak ayal, jawaban pelayan setia ayah malah membuatku tercenung. Bagaimanapun, ayah tidak sama dengan ibu. Jika dirunut jauh ke belakang, kehadiran ayah selama ini lebih banyak memberiku kemarahan. Dia memang tak pernah melakukan kekerasan fisik, namun mentalku terjerembab hingga dasar jurang akibat perilakunya, juga beragam intimidasinya yang terasa mengekang.

Bagaimana aku bisa menulis obituari untuknya, jika apa yang paling kuingat adalah saat dia membawa seorang anak laki-laki ke dalam rumah kami?

“Dia Gada, adikmu. Mulai sekarang akan tinggal bersama kita,” jelas ayah dengan begitu lugas.

Aku masih tujuh tahun ketika itu. Otak kecilku masih bingung mencerna, bagaimana mungkin tiba-tiba aku punya adik yang hampir sama besar dengan diriku?

Gada berumur enam tahun pada saat itu. Dia hanya berjarak satu tahun lebih muda dari aku. Sehingga ibu meraung berhari-hari mengetahui fakta bahwa ayah menghianatinya saat usia pernikahan mereka baru berjalan beberapa tahun.

Sejak kehadiran Gada di rumah kami, ibu jadi sering menangis. Dari mulutnya, berbagai sumpah-serapah untuk ayah seringkali terdengar. Ayah hanya diam membisu. Ayah membawa pulang bukti perselingkuhannya tanpa pernah mengungkap siapa perempuan itu.

Kala ibu bertanya panjang lebar dengan emosi berapi-api, ayah hanya menjawab pendek, “Tak perlu diperpanjang, perempuan itu sudah mati.”

Begitulah, karena ibunda Gada mati muda, ayah membawa anak laki-laki itu ke rumah kami. Aku yang tadinya menikmati segala fasilitas dan kasih sayang sebagai putri tunggal, sejak saat itu harus rela berbagi.

Ibu adalah tipe perempuan Jawa yang menjunjung tinggi kehormatan. Dia bertindak dengan keanggunan seorang aristokrat. Ibu dibesarkan di tengah keluarga priayi yang tersohor. Perceraian seringkali dianggap aib, maka ibu memilih tetap mendampingi ayah. Ibu memang memaafkan Ayah, namun tak pernah menerima Gada sebagai anaknya.

Ayah berusaha bersikap adil dengan memberi Gada semua fasilitas yang kudapatkan. Sedangkan Ibu, hanya akan mengutamakan kepentinganku tanpa pernah peduli pada anak tirinya.

Gada bersekolah di sekolah yang sama denganku. Namun aku enggan mengakui dia sebagai adikku. Di sekolah, kami berlakon seperti tak saling kenal. Ibuku pun tak mau mengakui Gada sebagai anaknya dan menolak mengurus segala keperluan anak laki-laki ayah. Ibu hampir tak pernah berbicara pada Gada kecuali marah. Ibu juga tak pernah membiarkan Gada makan semeja dengan kami.

Gada anak yang cerdas. Dia cepat mengerti bahwa kehadirannya tak diterima oleh siapa pun di rumah, kecuali ayah. Dia tak pernah berisik, dan menerima segala caci-maki yang kulontarkan untuknya. Dia tak pernah membalas sumpah-serapahku selama bertahun-tahun, sejak kami masih kecil hingga dewasa. Namun segala penerimaannya justru membuatku merasa muak. Gada telah membuatku merasa menjadi orang jahat.

Sebagai satu-satunya anak perempuan, ayah tak pernah mempercayaiku. Ayah selalu memasang Gada di sebelahku. Gada hampir tak punya keinginan sendiri. Apa yang dia lakukan hanyalah menuruti perintah ayah. Ke mana pun aku pergi, Gada menjagaku. Dia akan mengantarku ke sana kemari, menungguku dalam diam, lalu menjemputku dengan senyuman. Dia mengerjakan apa pun yang kusuruh, termasuk membeli pembalut saat aku tengah datang bulan.

Jika aku dan ibu pergi berbelanja, Gada akan dengan patuh berjalan di belakang, membawakan seluruh belanjaan yang kami beli. Jika kami mampir ke restoran, dia akan duduk menjauh, tidak akan makan kalau tidak disuruh. Jika ibu berbaik hati menyuruhnya makan, Gada akan memesan menu paling murah. Perbuatan yang membuatku makin membencinya karena dia sok menderita.

Ayah memberikan semua uangnya kepada ibu, mewariskan semua aset perusahaannya kepadaku, namun dia memberikan seluruh hatinya kepada Gada. Bahkan ayah sendiri yang mengajari Gada menyetir mobil. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan untuk aku.

“Kau tak boleh menyetir, biar Gada yang mengantarmu,” begitu kata ayah, membuatku semakin muak.

Ibu hidup untuk aku, ayah hidup untuk Gada. Begitulah keluarga kami terbelah. Ibu dan ayah kerap berdebat karena ibu bersikeras mendahulukan kepentinganku, sedang ayah kerap meminta belas kasihan ibu agar Gada mendapat sesuatu yang sama sepertiku.

Aku tumbuh menjadi perempuan dewasa yang egois. Gada tumbuh menjadi lelaki yang tak punya daya juang. Sekali lagi, dia membuatku membencinya karena telah menempatkanku menjadi penjahat.

Menulis obituari untuk ayah, tak mungkin menafikan kehadiran Gada. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa Gada adalah putra kandung ayah. Di luaran, ayah mengakui Gada sebagai anak angkatnya. Hanya kepada aku dan ibu saja, seorang Sastrowijoyo, pejabat publik yang merangkap pengusaha kayu, mengakui bahwa dia memiliki anak lain di luar nikah. Aku dan ibu mengunci rapat mulut kami. Bagiku dan ibu, kehormatan keluarga adalah nomor satu.

Aku bangkit dari kursi goyang, ganti menghampiri pelayan setia ayah lalu membisikkan sesuatu di telinganya, “Bagaimana kalau kau saja yang menulis obituari untuk ayah? Lagipula, kau juga anaknya, kan, Gada.” ***


Edellweiss London adalah penggiat literasi di Rumah Baca Cerdas Institute A. Malik Fadjar, Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang aktif menulis di grup kepenulisan Nulis Aja Dulu, anggota klub menulis Tiga Strata, dan militan eksklusif di Terus Saja Tulis. Penulis tinggal di Malang, Jawa Timur.