
Perempuan berkerudung merah di serambi masjid. Baju pun merah. Sosok yang indah. Aku melihatnya tanpa terpaan purnama. Lampu di situ temaram. Ia tetap merah, yang menyalakan malam.
Aku menyapanya sebelum raga masuk ke masjid. Kedatangan untuk ibadah dan obrolan buku.
Yang mengejutkan: buku dan pertanyaan. Pada saat masuk pintu gerbang dan berurusan pemeriksaan barang, petugas tampak curiga dan bingung. Aku membawa kantong plastik warna putih berukuran besar. Petugas mengangkatnya berat. Tangan membuka dan mulut bertanya: “untuk apa?” Ia bingung menemukan penjelasan buku dan masjid. Aku menyatakan bakal menghadiri obrolan buku di ruang perpustakaan. Masjid itu memang menyediakan perpustakaan: di ketinggian dan kecil. Petugas masih bingung saat aku menerangkan buku yang berat akan dibawa ke perpustakaan.
Yang kubawa: Sam Kok. Buku berukuran besar dan tebal, 5 jilid. Tanganku saat membawanya merasakan kesakitan. Kedatanganku membawa Sam Kok, yang nantinya diserahkan kepada pengarang terkenal. Padahal, malam itu obrolan buku bukan mengenai Sam Kok tapi Indonesia. Sekian langkah meninggalkan petugas pemeriksaan barang, aku tersenyum agak jengkel. Dugaanku: buku mau ditahan. Pikiran buruk terbuang setelah melihat “perempuan merah.”
Tas dan lima jilid Sam Kok naik ke perpustakaan. Aku menaruhnya di karpet, meninggalkan tanpa keraguan. Urusanku menyambut azan. Dari rumah, aku sudah berniat ingin shalat isya berjamaah di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo. Di atas karpet tebal, aku berhasil menunaikan ibadah sambil mata jelalatan.
Kembali ke perpustakaan yang tinggi. Duduk sejenak, menghampiri sosok yang berasal dari jauh: Liston P Siregar. Aku dikenalkan oleh Sanie B Kuncoro. Nama sudah aku ketahui sejak lama, sebelum bertemu dan salaman. Bergeser ke karpet kubu pria, kami bercakap tentang pers, politik, indonesianis, surat, dan lain-lain. Percakapan yang hangat, melampaui kehangatan teh.
Percakapan yang diselingi salaman dan sapaan dengan teman-teman yang berdatangan. Aku merasa akrab saat percakapan. Liston yang supel dan bergairah saat omong. Ia sempat mendakwa nasibku: “Istrimu suka marah?” Aku menjawab: “Marah besar”. Pertanyaan dan jawaban muncul setelah aku bercerita mengoleksi ribuan majalah lama: mempelajari dan membuat kliping.
Ruangan segera penuh. Namun, mataku mungkin salah melihat orang-orang yang duduk di karpet. Aku melihat beberapa orang berseragam petugas keamanan. Beberapa lagi mengenakan seragam yang mengartikan bekerja di masjid. Mengapa mereka ikut duduk di karpet? Aku belum mau melanjutkan pertanyaan-pertanyaan.
Acara sudah dimulai saat aku harus melawan kantuk. Malam makin terlihat meski lampu-lampu menyala. Kejutan tampak di depanku. Lelaki di bawah jam dinding. Ia berada di situ untuk omong. Kata-kata yang terucap jelas dan keras. Ia membawakan diri yang luwes dan cakap dalam menjelaskan buku berjudul Indonesia Kami (2023).
Ucapan-ucapan tanpa mikrofon. Ia sengaja tak mau menggunakan mikrofon. Benda yang telantar di meja. Mikrofon bersama piring dan buah-buahan. Di kepalaku, muncul sederet kata buatan Afrizal Malna: “yang berdiam dalam mikrofon”. Judul puisi dari masa 1980-an. Liston Siregar malah seolah membuat kalimat: “yang berpisah dari mikrofon”. Telingaku menikmati suara Liston. Keberuntungan ketimbang suaranya masuk mikrofon.
Yang teringat, ia omong Indonesia Kami, mengajak orang-orang berpikir “milik” atau “punya”. Deretan argumentasi disampaikan, yang membuat sangkaan orang-orang bisa meleset. Yang mengunci: “kami”. Pada suatu masa, Nurcholis Madjid mengeluarkan risalah berjudul Indonesia Kita. Tulisan yang berkaitan demokrasi dan nasib Indonesia setelah kejatuhan rezim Orde Baru. Dua judul yang pantas dipikirkan bersamaan tapi menghasilkan makna berbeda. Indonesia Kami memuat 15 tulisan dari serial belajar bersama yang dikelola Liston. Indonesia Kita itu pemikiran dan pernyataan untuk demokratisasi di Indonesia.
Aku jadi salah tingkah memikirkan dua buku. Beberapa tahun yang lalu, aku khatam Indonesia Kita. Malam itu aku belum memegang Indonesia Kami. Buku yang tak sampai tanganku. Buku tak pernah dalam pangkuanku. Aku bukan pembaca tapi sekadar mengetahui judul dan rupa buku di media sosial. Malam yang membuatku minder saat mengetahui para penulis dalam Indonesia Kami hadir dan urun omongan.
Rabu, 6 Maret 2024, hari yang menghangatkan bagiku setelah bertemu teman-teman dan hadir dalam obrolan buku. Pemandu obrolan itu Indah Darmastuti, yang terlihat olehku sebagai “perempuan merah”. Yang memberi penjelasan dan petunjuk dalam penulisan reportase: Liston. Ia pun berperan sebagai editor untuk pernerbitan Indonsia Kami. Belajar bersama dan buku yang mewujud atas sokomgam besar “mysaniefoundation”. Penanggap dalam obrolan buku: Bagus Sigit Setiawan. Di masjid, ia menjadi sosok penting dalam pembuat kebijakan-kebijakan bagi jamaah. Malam itu ikut cuap-cuap reportase meski condong dalam penjelasan berlatar Islam.
Aku tidak betah bersila di karpet. Akhirnya, ragaku bergeser di kursi, yang semula digunakan panitia dalam meladeni pengunjung saat membutuhkan teh dan beragam rebusan: ketela, singkong, jagung, dan kacang. Duduk di situ, aku melihat tiga nampan sudah habis, tersisa satu. Pengunjung tampak menikmati minuman dan makanan sederhana. Malam itu aku ingin kopi tapi tiada. Dugaanku: panitia sengaja tak memberi kopi agar malam tidak pahit.
Detik-detik di jam dinding berputar. Di bawah, Liston menggerakkan kata-kata yang mengarahkan orang-orang serius memikirkan reportase. Sekian kata terpenting: jujur, faktual, dan benar. Dulu, Liston pernah bekerja di majalah Tempo. Pergi di negara asing, ia masih berurusan jurnalistik. Di ruang perpustakaan, ia berulang mengatakan bahwa reportase bukan cuma dalam jurnalistik. Reportase itu keseharian dan bermunculan di media sosial.
Duduk sambil melawan kantuk, aku mendengar dua pemuda bertanya. Yang satu memasalahkan bahasa dan peran editor dalam Indonesia Kami. Liston memberi jawaban yang mengena: tulisan itu karakter. Editor bekerja tapi tanpa kebablasan. Pemuda yang satu menyebut nama-nama besar dalam kesusastraan dan pers di dunia. Liston menanggapinya dengan menyebut nama-nama yang berbeda. Aku mengenali nama-nama dan beberapa buku yang disebutkan. Di obrolan buku, aku merasa tidak terpencil. Aku agak mengerti reportase.
Selain urusan buku, aku terkejut melihat kerudung. Perempuan berdiri di belakang sedang memotret. Aku melihatnya sejenak. Sosok yang aku mengenalinya, lama tidak bertemu. Kami berpandangan dan tersenyum. Pertemuan tanpa janjian. Aku mengulurkan tangan: bersalaman.
Mataku melihat penampilannya yang berbeda: berkerudung. Ia bercerita: kerudung itu baru, dibeli di depan masjid seharga 30 ribu rupiah. Petugas memintanya mengenakan kerudung jika masuk ke masjid. Aku mulai melihat lagi teman-teman yang kesehariannya tanpa kerudung. Malam itu mereka duduk bersama mengenakan kerudung yang kadang jatuh atau minta selalu dirapikan. Mereka tidak sedang membuat gerakan “kerudung kami”. Mereka hadir untuk Indonesia Kami.
Jam dinding di atas Liston sudah mengabarkan 10 malam. Aku ingin segera pulang. Tubuhku harus segera tidur, sebelum dini hari menonton Real Madrid. Di pinggir jalan depan masjid, sebelum aku membonceng Ahmad untuk pulang ke rumah, seorang lelaki datang menyalamiku. Salaman tak biasa. Aku mengenalinya, berdoa untuknya yang berbuat baik saat masjid perlahan sepi.
Di jalan, aku dan Ahmad melanjutkan obrolan bertema pers dan sastra, sambungan dari obrolan saat berangkat ke masjid. Obrolan di jalan, tidak jauh berbeda dengan obrolan di perpustakaan yang tinggi.[] Kabut
