
Cerpen Kathy Okano
Sebelum jatuh cinta pada Hanuman, aku pernah sangat ingin mati. Aku merasa kosong seperti selongsong yang ditinggalkan proyektil apinya. Namun, aku juga merasa berat. Kosong tetapi berat. Aneh bukan? Dan tidak jelas.
Kenangan-kenangan yang kumiliki seperti potongan-potongan puzzle yang berserak. Juga tidak jelas. Kadang aku harus berusaha sangat keras agar setiap potongan sesuai, untuk sebuah ingatan yang utuh. Kadang juga isi kepalaku memuntahkan ingatan-ingatan yang tiba-tiba mencuat seperti kancing baju yang terlepas.
Ketika berusia dua belas, aku pernah mendengar kisah tentang ruh yang tak mau berdamai dengan raga yang ditempatinya. Memberontak. Pemilik raga nyaris sakit jiwa dibuatnya. Itu juga terjadi padaku. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam pikiranku, nyaris membuatku gila.
Perasaan hampa seperti tabung bejana hampa udara seolah menggerogotiku. Jika kosong sama dengan nol, apakah ia sama juga dengan ketiadaan? Lalu jika aku merasa kosong, apakah itu artinya aku tiada? Tetapi aku merasa diriku ada. Aku berpikir, jadi aku ada. Ada dulu atau berpikir dulu? Ada dulu atau sadar dulu? Mungkinkah manusia sadar selagi dirinya belum ada? Ataukah kesadaran yang membuatnya ada? Ah, omong kosong! Pikiranku terus mengembara dan membuatku muak hingga berteriak. Kasihan. Kasihan. Papa lebih kasihan, aku yakin ia amat terluka melihat putri semata wayangnya seperti ini, dan kekayaan yang dihasilkan pabrik anggurnya tak dapat menolong.
Lalu, Februari itu, ketika langit dengan murah hati menumpahkan hujan, kekosongan itu terasa lebih jinak. Setelah sebulan aku berada di Indonesia–Yogyakarta, Aunty Barnes mengajakku menonton pertunjukan wayang wong yang mementaskan lakon Anoman Obong. Itulah awal mula aku jatuh cinta pada sang Hanuman. Pada Mas Adi, Argo Dumadi. Aku tersihir oleh penampilannya yang memukau.
Tubuhnya yang tinggi tegap menari-nari lentur dan anggun, dipadu dengan jurus-jurus silat penuh kejantanan. Mengalirkan ekspresi Hanuman sejati. Dengan perjuangan setulus hati, Hanuman mengobrak-abrik kerajaan Alengka.
Hanuman membakar Alengka dengan api berkobar-kobar yang diikatkan di ujung ekornya. Menumpas kecurangan dan kejahatan, serta angkara murka Rahwana yang menculik Dewi Sinta. Dengan hentakan kaki-kakinya yang kukuh lincah, tangan-tangannya yang perkasa, dan gerakannya yang trengginas Hanuman melompat ke sana-kemari. Melompat dan melesat tinggi-tinggi, melingkar-lingkar bak putaran sejuta cambuk, menangkis serangan Rahwana yang membabi-buta.
Suasana tegang mencekam. Sorot lampu panggung dimainkan gelap-terang-gelap-terang-gelap diakhiri dengan sorot seperti sebuah ledakan ketika Rahwana terkapar. Perjuangan Hanuman yang tanpa pamrih itu berakhir gemilang. Dewi Sinta yang terkulai dalam ketakutan pun bebas dari cengkraman keji Rahwana. Pertunjukan diakhiri dengan Hanuman menyerahkan Dewi Sinta pada suaminya, Sri Rama. Rupanya bukan hanya aku yang terpesona, orang-orang bahkan menjerit histeris untuk Hanuman.
“Ada londo wedok datang ke tobong!” komentar dari anak-anak wayang membuatku geli, ketika pertama kali aku mendatangi tobong. Lazimnya mereka menyebut ras kulit putih dengan wong londo.
Aku mencari Mas Adi. Berdalih melakukan penelitian tentang kehidupan anak-anak wayang. Mereka mengerumuniku, penasaran. Aku berpendapat, kehidupan di tobong ini nyaris tidak memiliki rahasia, tidak memiliki privasi.
Sayang sekali orang yang kucari tidak di tempat. Sedang mengurus perizinan untuk tampil di Surakarta, katanya. Sebagai gantinya, Sri Ratih–istri Mas Adi yang juga seorang ledhek dan perempuan paruh baya yang memperkenalkan dirinya sebagai ibu sang Hanuman, menemani kami–aku dan Aunty Barnes. Aunty Barnes yang sudah fasih berbahasa Indonesia membuat kami cepat akrab. Aku menikmati kedekatan kami meski dalam hati tersimpan setitik kecewa. Orang yang kusukai sudah beristri.
“Orang Indonesia memang banyak yang menikah muda,” ucap Aunty Barnes ketika kami dalam perjalanan pulang. Sepertinya ia paham bahwa aku patah hati.
Hari-hari berikutnya aku sering datang ke tobong. Siang, sore, atau malam hingga tengah malam. Mewawancarai bintang utama penelitianku dan menonton setiap pementasannya. Orang-orang mengatakan bahwa aku kedanan. Aku tak menampiknya, juga tak membenarkannya.
Aku menikmati kehidupan bersama anak-anak wayang di tobong. Menyantap makanan yang sederhana, sayur lodeh, juga ikan asin. Semuanya terasa nikmat. Aku juga mencintai Asri, putri Mbak Ratih dan Mas Adi. Dan kekosongan yang dulu amat ganas, kini makin jinak.
Asri. Padanya aku berlaku seperti seorang ibu. Menyisir dan mengikat rambutnya, juga menyematkan pita merah. Menggunting kuku-kukunya, menemaninya belajar, tak jarang juga ngeloni saat tidur siang. Ibunya tak sempat. Mbak Ratih sibuk menyiapkan panggung dan kostum untuk para pemain wayang wong. Asri mengikatku, lebih dari cintaku pada Mas Adi.
Berita-berita miring tentangku dan Mas Adi terus beredar. Namun, tak ada klarifikasi dari Mas Adi, dan aku tak mau memusingkannya. Sedang Mbak Ratih sepertinya memendam sakit hati. Tapi bukankah Mbak Ratih seharusnya yang paling tahu bahwa aku dan Mas Adi tak memiliki hubungan apa-apa? Dan berita-berita miring itu juga tak benar, bahwa aku dan Mas Adi sering bermesraan? Satu-satunya moment kedekatan kami adalah ketika Mas Adi mengantarku pulang ke kaputren dengan naik becak. Hanya itu. Aku menghormati kesetiaannya pada pernikahan karena tak tergoda sedikit pun padaku, yang orang bilang serupa Anne Hathaway.
Kuperhatikan Mbak Ratih selalu murung dan sering melamun, sehingga membuat penampilannya saat menari gambyong tampak tidak semarak. Tidak sedikit penonton yang protes. Tapi dia tidak memperbaiki diri. Ia malah tampil semakin buruk, buruk, dan buruk. Akhirnya ia jatuh sakit. Banyak bisik-bisik yang mengatakan ia ngenes karena berkali-kali menyaksikan aku dan Mas Adi bermesraan. Apakah Mbak Ratih sungguh termakan oleh berita bohong itu?
Aku masih ingat suatu malam ia mengerang-erang sambil memegangi perutnya, ngoling-oling. Wajahnya pucat pasi, bibirnya biru digegat-gegat. Roknya yang kuning berubah menjadi berwarna merah, dengan gemetar aku memperhatikan darah itu bersumber dari vaginanya. Ketika itu semua sedang pentas di panggung, aku tetap di tobong untuk menemaninya dan Asri.
“Sampeyan yang mbuat saya gini. Sampeyan guna-gunai saya!” lirih ia menuduh, tapi penuh dendam. “Agar sampeyan bisa demenan sama suami saya. Dasar londo edan! Minggat sana, jangan sentuh saya!” sambungnya, menghardik.
Aku tidak menghiraukan ucapannya, berusaha bersikap tenang agar bisa menolongnya, sedang tangis Asri sudah meledak.
Oleh dokter, Mbak Ratih dinyatakan menderita kanker rahim. Dan setelah berjuang selama sebulan, ia meninggal. Hari ketika Mbak Ratih dimakamkan, menjadi hari paling menyiksa buatku. Berpuluh-puluh pasang mata seolah menghakimi, menyalahkanku atas kematian istri Mas Adi.
“Terang saja dia mau berkorban gitu karena kedanan Mas Adi–suami Dik Ratih, si Anoman!” seru ibu yang didukung oleh perempuan lainnya, ketika mengetahui biaya pengobatan dan pemakaman aku yang menanggung. Aku melakukannya bukan karena mencintai Mas Adi, tapi karena menyayangi Asri.
“Esmee Helaine tidak kedanan aku. Tapi akulah yang kedanan, mabuk kepayang dan tergila-gila–gandrung kepati-pati sama dia. Jangan salahkan londo itu!” Suara Mas Adi mengiba-iba. “Istriku meninggal karena memang sakit, bukan karena black magic.” Pembelaan Mas Adi justru menyakiti hatiku dan menempatkanku pada posisi yang serba salah.
Seperti ujung rantai yang ditarik, kemudian bagian lainnya mengikuti, hal-hal buruk terjadi secara beruntun.
Waktu di mana pekat menjadi penguasa hari dan sunyi, rasa hormatku pada sang Hanuman berkecai-kecai. Aku menahan muntah. Gila. Aku tak ingin mempercayai apa yang kulihat. Menjijikkan. Hanuman dan Rahwana bermesraan! Keringat dingin membalutku seperti kepompong, lututku lemas. Apakah Mbak Ratih tahu? Apakah ini penyebab sesungguhnya kengenesannya? Aku membekap mulutku sendiri dan tanpa kuinginkan, air mata melelehi pipiku. Mereka terkejut ketika mendengar pekikan, dan lebih terkejut lagi ketika melihatku berdiri gemetaran.
“Asri bukan anakku,” Argo Dumadi berkata ketika menghampiriku yang tengah berkemas. Aku bergeming. “Ratih mendapatkannya dari laki-laki lain,” sambungnya, menyalakan sebatang rokok kemudian menghisapnya dalam-dalam.
Aku tak menanggapi. Aku juga tak melihatnya. Aku jijik. Meski sesungguhnya aku ingin berteriak dan meludahinya. Menuntut perbuatannya yang tercela dan mengkambing hitamkan orang lain untuk menutupi bopengnya. Kalau bukan karena Asri, aku tak akan menginjakkan kaki ke tobong lagi setelah kematian Mbak Ratih, terlebih karena kesalahpahaman yang disebabkan oleh Mas Adi karena pengakuannya.
Sejak hari itu kondisi kesehatanku menurun drastis. Aunty Barnes mengantarku pulang ke Ostrali. Kekosongan yang kurasakan kembali mengganas dan ingatanku melayang pada Grandma. Ia yang memaksaku menjadi seperti yang diinginkannya, menjadi feminim, menjadi sempurna. Aku ingat, sejak saat itu kekosongan mulai membungkusku seperti selimut kepompong, mengisap habis gairah hidup dan kedamaian dalam dadaku. Aku benci Grandma, aku benci Mas Adi, aku benci Mbak Ratih. Namun, aku mencintai Asri yang sekarang telah tumbuh menjadi gadis cantik. Aunty Barnes yang membawanya kemari untuk mengenyam pendidikan yang lebih layak.
Aku memandangi gadis yang pernah mengalami tangis yang panjang karena kehilangan ibunya, juga ayahnya yang katanya mati gantung diri karena tak kuat oleh tekanan situasi. Sudah terbukakah boroknya?
Ia tengah membelakangiku, membuka jendela-jendela di kamar perawatan agar udara segar menggantikan udara yang mulai terasa pengap. Rasa sayang memenuhi dadaku. Aku tak ingin ia bernasib seperti ayah atau ibunya, karena air cucuran atap ke mana jua jatuhnya? Aku ingin melindunginya dari karma orangtua, maka kuhujamkan pisau pengupas buah berkali-kali ke punggungnya dengan cepat, hingga ia roboh.***

Kathy Okano, nama pena penulis asal Sulawesi Tengah, yang menyukai drakor dan anime. Menamatkan pendidikan S1 pada 2017. Sekarang sedang aktif di klub menulis Tiga Strata, NAD (Nulis Aja Dulu) dan anggota militan eksklusif TST (Tulis Saja Terus). Menyukai makanan pedas dan gurih.
