Cerpen

Lelaki Berjubah Putih

Cerpen Pasini

Hujan tak kunjung reda. Sepertinya langit nelangsa dengan seisi bumi yang cukup lama dicengkeram kuasa kemarau dan tergerak menyudahinya. Tapi rerimbun pohon beringin tempat aku berteduh sungguh penuh kasih. Tak setitik pun air yang diperbolehkan menetes di kemejaku.

Pada sisi jalan berbeda, di bawah pohon beringin yang lain, seorang lelaki berjubah putih meneduhkan juga tubuhnya. Ia tersenyum menatapku. Aku mengangguk takzim, sebelum kemudian mataku kembali menekuni bulir-bulir air langit yang jatuh dan mengenai apa saja. Menimpa atap gedung dan meruntuhkan kesombongannya. Menimpa besi dan meninggalkan jejak karat. Melarutkan debu pada jalan aspal dan bebatuan. Serta memupus dahaga tetumbuhan yang menangguk rindu sampai semusim penuh. Beberapa hari ke depan, kelopak bunga akan tersenyum dengan indahnya.

Aku menjadi teringat akan sebuah senyum pula. Milik seorang gadis kecil. Hidupnya belum tercemari legamnya dunia sehingga hanya meminta lalu terkabulkan yang ia tahu. Dan sebaiknya memang begitu. Biarlah kesusahan hanya milik orang-orang dewasa dan jangan dikenalkan pada anak-anak sebelum waktu mereka tiba.

“Sebuah boneka beruang ya, Yah. Yang besar,” pinta gadis itu tadi pagi.

Aku mengangguk sembari mengembalikan senyumnya dengan lebih manis. Lalu kuangkat tubuhnya tinggi-tinggi, hendak kudekatkan dengan langit. Tempat di mana semua orang menggantungkan doa dan harapan. Bahkan ia masih memelihara senyumnya di beranda dengan pandangan mengikuti angkutan berwarna kuning yang membawaku pergi. Sampai kemudian tubuh mungil gadis itu digantikan dengan pohon palem, pohon akasia, pohon pakis, dan pohon bebungaan di tepi sepanjang jalan menuju pabrik sepatu tempat aku bekerja.

Lelaki berjubah putih tak ada di tempat teduhnya. Mungkin ia menerobos hujan dan tak jenak menunggunya sampai sedikit reda.  Begitu pun senyum gadis kecilku. Mereka sama-sama hilang. Berganti dengan senyum kecutku. Aku membuka tas kerja berwarna hitam untuk sebuah tujuan memberi keyakinan bahwa memang hanya ada amplop tipis di dalamnya.

Sebagian besar isi amplop itu telah berganti dengan senyum seorang lelaki tua berbaju lusuh. Karena perutnya kenyang sekarang. Besok ia bisa memeluk tubuh istri juga cucu. Setelah selama ini menumpuk rindu demi rindu hingga memenuhi setiap sekat, lorong, dan bilik hatinya. Tak ada ruang untuk rasa yang lain. Tak ada keinginan selain bertemu orang-orang terkasih. Tapi sayang keinginan itu selama ini ibarat benda antik tergadai yang belum mampu ia tebus kembali.

Aku sibuk merangkai kalimat yang tepat  untuk kusampaikan pada istriku di rumah. Juga gadis kecil kami. Aku tidak ingin membuat  kecewa tentu saja. Bahkan selama ini aku sanggup melakukan apa pun demi memelihara senyum mereka.

Mungkin istriku akan mendiamkan aku. Atau melontarkan kemarahan. Lalu mengubah kebiasaan secangkir kopi di pagi hari dengan air putih. Mau tidak mau memutar otak agar sisa uang belanja bulan kemarin cukup untuk sampai bulan depan. Daging, telur, diganti dengan tahu dan tempe. Jamur tiram, ikan, diganti dengan kangkung dan bayam. Lalu suasana meja makan akan berubah dingin. Tidak ada gelak tawa. Tidak ada bual cerita. Menghikmati isi piring masing-masing dan tidak disambi tanya: liburan ke mana enaknya akhir pekan. Atau: rilis film terbaru apa di bioskop.

Tapi bagaimana dengan gadis kecilku? Bisakah matanya dibuka pada rupa-rupa dunia sementara yang ada di otaknya hanyalah boneka, keripik kentang, pesta ulang tahun yang meriah, serta gaun berumbai? Apa yang kusebutkan sebagai kesusahan lelaki tua yang menahan lapar dan berpakaian lusuh lagi robek, akan dianggapnya sebagai dongeng belaka sebagaimana isi komik yang istriku bacakan untuknya di ambang waktu tidur. Di kehidupan nyata, peristiwa semacam itu mana mungkin ada.

Sayang, langit prematur menutup kran air yang tercurah ke bumi. Padahal aku belum menemukan patah-patah kata yang tepat. Tapi senja keburu hadir dengan sisa-sisa hujan berupa genangan air di badan jalan yang berlubang. Mau tidak mau aku harus bergegas pulang. Aku tidak mungkin menghindari rumah layaknya prajurit perang yang kalah.

   Sebuah mobil putih menepi. Dikendarai lelaki tua berjubah putih. Ingatanku melayang pada beberapa puluh menit silam, seseorang yang juga meneduhkan tubuhnya di bawah kerimbunan dedaunan pohon. Tetapi aku tidak begitu meyakininya. Karena bisa saja keduanya adalah orang berbeda.

 “Naiklah. Saya akan mengantar Kisanak sampai tujuan,” tawarnya dengan senyum laksana cahaya.

 “Terima kasih, Pak. Maaf saya tidak ada ongkos. Lagi pula rumah saya tidak terlalu jauh. Tidak sampai satu jam jalan juga sampai.”

 “Bukankah Anda sudah membayarnya tadi?”

Aku bingung. Tapi sepasang kakiku buru-buru naik, mendahului  kepalaku yang bahkan masih sibuk mencerna, apa maksud dari kata-katanya barusan. Bagai otak dan rangka tubuhku tidak terhubung dalam satu jalinan koordinasi. Seperti ada yang menggerakkan sendi-sendiku tapi itu bukan perintah pikiranku sendiri. Aku terduduk kikuk pada jok hitam yang licin dan mengkilat. Sepanjang perjalanan, lelaki tua itu banyak tersenyum. Kami hanya bicara seperlunya.

 “Tidakkah waktu Bapak terbuang hanya dengan mengantarkan saya?”

“Tidak ada kebaikan yang percuma. Semua ada hitungannya.” Lalu ia tersenyum lagi.

Aku diturunkan tepat di halaman, sebelum kemudian mobil dan pengemudinya segera menghilang dari pandangan. Tas kerjaku melorot dan nyaris jatuh. Sampai tidak menyadarinya karena sibuk melamun.  Aku hendak membetulkan posisinya pada pundak setelah terlebih dulu menautkan bagian kancing yang agak terbuka. Tanpa sengaja tanganku menyentuh amplop. Padat dan menggelembung. Aku terkesiap.  Ada  lembar-lembar merah.  Jumlah yang mencengangkan. Tubuhku sampai bergetar.

Sesampainya di dalam rumah, tidak pernah kulihat istriku sebahagia ini sebelumnya. Untung ia tidak bertanya dari mana uang sebanyak itu berasal. Karena  memang bukan jawaban atas kemungkinan itu yang kupersiapkan. Aku justru sudah dalam keadaan siaga untuk beberapa hal yang buruk. Bahkan semisal ia mengusirku dan menyuruh tidur di emperan toko karena pulang tanpa membawa sebagian besar uang gajian.

“Gusti…” lirihku dalam zikir.

Menjelang malam, hujan kembali turun dengan derasnya.  Aku terjaga sampai dini hari, tapi tak kunjung menemukan jawaban dari berondong pertanyaan yang menyerang batok kepala. Beranjak pagi aku baru tertidur. Lelaki tua dengan baju yang lusuh mendatangiku dalam mimpi.

***

 “Tiga kali sehari itu jumlah yang berlebihan, Nak. Sekali sehari, tapi setiap hari, itu sudah cukup.” Lelaki tua itu terkekeh.

Beberapa saat sebelumnya, lelaki tua itu melontarkan kegetirannya lewat kisah seorang bocah piatu yang ditinggal berpulang ibunya kala bertaruh nyawa melahirkannya ke dunia. Ayah si bocah berlimpah ke perempuan baru. Menumpahkan tanggung jawab sepenuhnya atas anak tersebut pada dirinya dan istrinya yang merupakan orang tua dari perempuan yang meninggal setelah melahirkan itu.

Ketika lelaki tua pergi merantau, cucunya baru berusia tiga bulan. Tapi dalam foto terakhir yang dikirim istrinya dari kampung halaman, bocah itu sudah setinggi pangkal paha orang dewasa. Punya rahang kotak semirip dirinya. Rambut lurus serupa istrinya. Dan mata bulat milik mendiang anaknya.

Dalam surat yang menyertai foto, istrinya menyebutkan bahwa bocah itu begitu pandai bicara. Banyak bertanya. Sampai ia susah menjawabnya. Semisal tanya, apakah surga itu tempat yang teramat jauh sampai-sampai ibunya harus menempuh waktu yang lama untuk bisa menemuinya tapi belum juga tiba sampai hari ini. Atau tanya, kapan kakek membawa pulang mobil-mobilan yang nenek  janjikan.

Ini adalah kota besar yang keras. Tidak memberikan ruang yang lapang bagi seorang tua dan tanpa keahlian. Meski begitu lelaki tua itu pantang menengadahkan tangan. Pagi-pagi sekali ia sudah mendorong gerobaknya  mengitari komplek perumahan, perkantoran, dan gedung-gedung pabrik. Memungut sisa-sisa limbah yang bisa menjadi rupiah. Besi tua, kaleng bekas minuman, botol plastik.

“Berapa lama Bapak tidak pulang?”

“Tiga setengah tahun.”

Dijawabnya dengan mata keras berkedip, menahan sesuatu agar jangan sampai jatuh. Aku tidak bisa membayangkan itu aku yang tidak bertemu istri dan anakku.

Awalnya aku hanya ingin segera pulang ke rumah. Setengah hari kerja di tanggal muda. Beberapa rencana telah berada di kerangka kepala. Tapi baru beberapa pijak meninggalkan muka gedung, pandanganku singgah pada seorang lelaki tua. Duduk mematung di sisi jalan dengan gerobak sampah di dekatnya. Matanya menatap gerobak bakso, gerobak siomay, dan gerobak ketoprak yang sibuk berlalu-lalang. Acuh melewatinya.

Kuraba amplop cokelat tua yang baru saja diangsurkan bagian keuangan. Beberapa kepentingan saling berperang: boneka beruang, beras, susu, lelaki tua, bayar kontrakan, air ledeng, lalu lelaki tua lagi. Siklus berulang beberapa kali seiring wajah cerah langit yang bertukar kepada muram. Setelah beberapa lama, barulah wajah layu lelaki tua di hadapanku itu keluar sebagai pemenangnya.

 “Saya kira ini cukup untuk ongkos jalan. Belilah mobil-mobilan. Juga kebaya berenda untuk istri Bapak. Sisanya buat pegangan.”

Tanpa kata lelaki tua itu menatapku. Tubuhnya langsung kaku. Ia bagai bukan manusia melainkan patung yang terbuat dari butir-butir pasir lalu dicampur semen dan diguyur bulir-bulir air. Sejenak kemudian mata lelaki tua itu mengembun, tangannya bergetar.

 “Cepatlah Bapak cari tiket kereta atau bus. Cuacanya sungguh tidak bersahabat…”

Ujung kalimatku disambung dengan titik-titik gerimis. Tapi untung saja kami masih sempat berpelukan. Aku berlari dan mencari tempat berteduh. Tak sempat memastikan ke arah mana lelaki tua berbaju lusuh itu mendorong gerobak sampahnya.***


Pasini, mitra BPS Kabupaten Ngawi sebagai tenaga entri data. Menulis cerpen yang pernah tersiar di sejumlah media cetak dan daring. Salah satu cerpennya masuk sebagai nominasi cerpen terbaik dalam Anugerah Sastramedia 2022.