Katalog

Puisi

Puisi Muhammad Gibrant Aryoseno

Satu Warna

 

/Nona/

 

Pada tungku yang menyayang yin dan yang

aku duduk di sudut sambil mengaduk warna hitam saja.

Aku memangku kisah cinta kita seperti

dua telapak tangan melindungi lilin perawan.

 

Aku menatap diriku pada rumah ibadah

dan membiarkannya terbakar sepenuhnya.

Aku bilang, kita tak mungkin bercinta di sana.

Di sana keluargaku bercampur pada tungku yin dan yang.

 

Langkah gontai di tengah buruan kecewa dan malu

membawaku kembali pada lembut suara dan harum rambutmu.

Lidah kelu yang tadi tak bisa bertingkah dan menyangkal kini

cekatan mengkaji setiap bagian tubuhmu dengan napas memburu

dengan bantuan jari jemari karena itu saja yang aku punya.

 

Mengaduk rasa yang sama: saliva kita

membuka kelopak bunga yang sama—tak kautemukan

muntahan busuk itu, kita hanya menangis.

 

/Dara/

 

Tak perlu kautanggalkan mahkotamu itu

sebab kau harus tetap menjadi ratu.

Jangan kau pergi meninggalkan ibu kota dan

menjelajah dunia untuk menjadi bapak-bapak pendiri.

 

Lalu akan melanglang buana diriku dalam lika-liku indramu:

akan kusamarkan cita rasa kaki Adam

yang selama ini menjejaki Puncak Sri Pada hatimu;

akan lekat hatimu bermandikan pasir rusuh

dalam kecemburuan Hawa di daratan Arab.

 

Bersatu padu dalam jalinan kasih yang samar,

selama bulan masih bersinar, kita harus

sembunyi dengan benar, dan jangan sampai

matahari mengolok kita penuh sinar.

 

Rambut kita berkelindan dengan kerlingan bara api

dan dari tangis serta elegi kita akan kembali

kepada tungku yang memanggang yin dan yang

dan mencelupkan jiwa kita ke sana: jurang hitam legam.

 

Sampai lilin kita yang perawan padam,

janganlah engkau berhenti mengaduk, Sayang.

 


Diskursus Emosi

 

Sangkakala berbunyi di ujung malam

mengguncang orang-orang yang beriman.

Mereka yang teguh kembali runtuh

meski telah matang dalam persiapan.

 

Di tengah dimensi emosi yang gagap

mimpi buruk hinggap di antarmasa gelap.

Dan pagi tiba. Ia membuka mata.

Mimpi indahnya lenyap begitu saja.

 

Ia tak ingin kembali pada hari lalu yang gelap,

tetapi pagi memaksanya melanjutkan pemaknaan.

Ia menjawab pertanyaan dengan asal-asalan

lalu pulang dengan tegap menawan.

 

Ia melihat kanan dan kiri,

ladang bunga berwarna-warni.

Sementara dirinya adalah gurun pasir,

tersesat mencari sumber mata air.

 

Di matanya ia temukan oasis,

ia mandi di sana sepuasnya.

 


Menyetubuhi Kata

 

Aku memetik helai rambutmu,

merajutnya menjadi metafora.

 

Aku memangkas mimpi-mimpimu,

lelap mereka bermakna ganda.

 

Aku menambang lubang hidungmu,

konjungsi melenggang bebas

bersama tanda baca mewujud kalimat.

 

Aku memoles bola matamu,

memastikan setiap pembaca berkaca-kaca.

 

Aku menjadikan pangkuanmu perpustakaanku,

pahamu tempatku mengeja rindu.

 

Aku menggigit daun telingamu,

mengimitasi suara agar lidahku serbaguna.

 

Aku meludah di telapak tanganmu,

mencongkel air yang berkerak di garis-garis idenya.

 

Aku mencabik buah dadamu,

merasakan haru merasuk, lalu nafsu

memburu pena agar berdansa leluasa.

 

Aku melamun di tepi pipimu,

mengunyah diksi sambil disapu ombak.

 

Aku menusuk punggungmu,

menanam cinta pada setiap ruas

yang bermekar lindu konsonannya.

 

Aku mengecup bibirmu dengan syahdu,

mengalirkan rima di tiap merahnya.

 

Kini puisi telah lahir.

Ia telanjang bulat.

Mari tanggalkan baju kita

agar puisi ini punya busana.

Kita lanjut lagi bercinta

agar puisi-puisi lain bisa terbaca.

 


Telanjang

 

Mari kita bergandeng tangan

dan berjalan bersama-sama

dengan kondisi telanjang

menuju toko pakaian di sudut jalan

lalu membeli dosa sampai banyak sekali

untuk mengenyahkan malu di wajah kita.

 


Telanjur Tenggelam

 

Pertolongan pertama untuk orang yang tenggelam

adalah menangis di hadapan mereka karena mereka tenggelam

kemudian pergi dan membiarkan mereka mati karena tenggelam.

 

Belasungkawa pertama untuk orang yang mati karena tenggelam

adalah menangis di hadapan jasad mereka karena mereka tenggelam

dan menyesali kenapa tidak menarik mereka ketika mereka tenggelam.

 


Muhammad Gibrant Aryoseno, lahir di Kulon Progo, DIY. Biasa menulis novel, cerpen, dan puisi. Karya-karyanya dapat dijumpai di beberapa media daring, termasuk di laman Instagram-nya (@gibrantha). Novelnya “Machine with a Heart” adalah pemenang Wattys Indonesia 2022 kategori fiksi ilmiah.

Cerpen

Sebuah Percakapan di Hari yang Hujan

Cerpen Diana Rustam

Ini adalah percakapan sunyi seperti semua percakapan sepanjang tiga tahun mereka bersama. Hujan yang tidak deras dan tidak pula ringan pada sebuah sore di hari Sabtu, membuat jarak yang semakin lebar antara L dan P.

Duduk berhadap-hadapan di sebuah kafe yang memiliki kesan antik bergaya kolonial, L dan P belum juga membuka percakapan padahal sudah menghabiskan lima belas menit bersama. Mata L sibuk dengan layar telepon genggam. Sementara P menatap hujan yang menimpa permukaan jalan dari kaca jendela. Sekali-kali ia mengalihkan pandangan pada bunga camelia yang merahnya ranum, dalam pot-pot yang berjejer di halaman kafe.

Seorang pelayan datang menawarkan menu. L hanya mengangkat wajah sebentar kemudian kembali pada layar ponselnya, dan P memberi pelayan itu senyum yang separuh hati.

“Caramel macchiato dan ….” P melirik L, berpikir sejenak dengan banyak keragu-raguan. “Es…presso?” Meninggikan sedikit suara, P berharap L memberinya sedikit perhatian.

“Latte!” L meralat tegas. Masih menunduk. Jarinya bergerak-gerak di atas layar ponsel.

P lagi-lagi melempar senyum kepada pelayan, senyum yang tidak sebenar-benarnya senyum. Sunyi kembali. Semakin dalam. Nada yang dimainkan hujan semakin lamban. Itulah hujan yang tidak disukai P, hujan yang betah berlama-lama.

P memainkan jemarinya di punggung meja. Mengetuk-ngetuk serupa derap kaki kuda. L akhirnya mengangkat wajah. “Sejak kapan kaubelajar memainkan jarimu?”

“Sejak kapan?” P mengernyitkan dahi. Memainkan jemari seperti itu adalah kebiasaannya sejak kecil, sampai ia mengenal L, sampai ia dan L menikah. Di rumah mereka, P suka mengetuk jemari di atas meja makan saat menikmati sarapan. Mengetuk jemari di kaca jendela ketika memandang taman dari ruang keluarga. Di meja kerja, mengetuk jemari adalah ritual paling candu saat ia sedang berpikir keras. Mengetuk jemari bukan sesuatu yang baru saja ia mulai di meja kafe itu.

Pelayan membawa dua cangkir kopi. Cangkir digeletakkan di meja. Kali ini senyum P terlalu kecil untuk dikenali pelayan kafe.

L  mengangkat wajah. Meraih latte, membauinya beberapa jenak dengan mata terpejam. L menggemari wangi latte sebagai sesuatu yang menenangkan. P menatap L  seolah-olah itu adalah pemandangan ganjil yang pertama kali ia jumpai.

Setelah satu tegukan kecil, L perlahan meletakkan kembali cangkir pada tatakan. Pertama kali bagi P melihat cara L menikmati lattenya yang tampak hati-hati, seolah-olah tidak ingin mengusik keindahan lukisan di permukaan latte itu.

P bergeming. Caramel macchiato dibiarkannya sendiri. Menopang dagu dengan tangan kanan, mata P beralih kepada payung-payung pejalan kaki yang mengembang di jalan.

“Minumanmu akan dingin.” L menyela keheningan P.

“Aku suka dingin.”

P mengangkat alis. “Meminumnya saat hangat lebih baik. Apalagi sedang hujan.”

“Hari sedang panas atau hujan, aku suka macchiato yang dingin.”

“Lalu, kenapa tidak pesan macchiato dengan es? “

“Bukan dingin yang seperti itu. “

Hening lagi. Lebih panjang. Cangkir kopi L hampir tandas, tetapi hujan masih betah berlama-lama.

Bertemu di kafe pada sebuah sore yang hujan bukan sesuatu yang direncanakan untuk menghabiskan waktu berdua. Tetapi sebuah keterpaksaan, di sela-sela sulitnya waktu L yang selalu sibuk dengan gambar-gambar di kameranya, yang menjelajah kota hingga ke pelosok untuk sebuah maha karya. Dan P tidak punya pilihan lain, kecuali menunjuk kafe itu sebagai titik pertemuan termudah untuk mereka karena tidak begitu jauh dari  rumah sakit tempatnya bekerja, rumah sakit yang selalu padat dan sibuk dua puluh empat jam dalam seminggu, sekaligus tempatnya selalu menghabiskan waktu hingga larut.

Sebenarnya L bisa saja menyambangi P di tempat kerja untuk percakapan yang menurut P harus dituntaskan hari itu juga, tetapi P menolak. P berkata bahwa percakapan itu akan panjang, dan mereka membutuhkan tempat yang hening untuk tetap berpikir jernih saat bertemu nanti.

L dan P tidak lagi bisa melihat rumah sebagai tempat untuk bertemu, di mana mereka bisa berbagi perasaan dan pikiran. Rumah seolah terlampau jauh untuk menjadi tempat kembali.   Apabila L pulang, P sedang berjibaku di ruang gawat darurat dan meja operasi sampai dini hari. Dan jika P pulang, L sedang berada di luar kota. Tidak ada jejak yang tertinggal di rumah untuk dikenali.

L menghela napas. “Untuk apa kita di sini?”

“Kita butuh waktu bicara,” sambut P.

Namun, lagi-lagi sunyi. Sesungguhnya sunyi adalah keriuhan di kepala L dan P. Kesunyian menyeret mereka kepada banyak ingatan dan perasaan. Semakin sunyi, mereka akan semakin peka terhadap apa yang ada pada diri masing-masing. Keriuhan itu, tidak mereka temui saat sibuk bekerja.

Pertama kali mereka bertemu di sebuah lokasi bencana. L seorang fotografer yang saat itu mengambil gambar kehancuran sebuah kota dari bencana yang mengguncang kota itu, dan P seorang dokter bedah umum yang menjadi salah satu relawan sebagai tenaga medis. Kebersamaan di tempat yang penuh kekacauan itu menumbuhkan keakraban. Keakraban itu ternyata cukup membuat L yakin bahwa P adalah calon istri yang ditakdirkan untuknya, seorang yang mandiri dan pekerja keras. Dan P membutuhkan pendamping untuk melengkapi hidupnya yang kian merangkak jauh dari usia muda.

“Sepertinya kita lebih baik tidak bersama lagi,” ucap P ringan, seringan daun kering yang diterbangkan angin. Seolah-olah ucapan itu sudah ia siapkan jauh-jauh hari.

L meletakkan ponselnya di punggung meja dan mulai menatap P yang sudah meneguk kopinya. Tetapi L belum melontarkan satu patah kata. Matanya merayapi wajah P yang bening, sepasang mata P yang bulat dan alisnya yang datar namun cukup lebat. Oh, L baru menyadari bahwa P memiliki tahi lalat kecil di bawah mata yang indah itu. Sejak kapan ada tahi lalat di sana?

Dan P menemukan aroma cedarwood dari tubuh L. P mencoba mengingat, apakah L mengganti parfumnya? Sesungguhnya P tidak yakin apakah sejak awal L menyukai cedarwood atau vetiver? Atau malah selain keduanya?

P menunduk. Tenggorokannya terasa kering dan rasa hangat mulai menjalari kedua bola matanya. Mengisak di balik rintik hujan adalah cara yang tepat menyembunyikan air mata.

L menyahut setelah diam beberapa saat, “Haruskah?”

“Apakah kau cukup mengenalku dengan baik?” P menimpali dengan segera.

“Dan kau?”

Hening lagi. Hujan masih belum reda. Dan cangkir kopi telah tandas.

“Kalau itu terjadi apakah kau akan lebih bahagia?”

P menggeleng. “Dan kau?”

“Entahlah.” L melempar pandangan keluar.

Lampu taman kafe mulai dinyalakan. Sore merangkak menjumpai ambang malam. Pelayan kafe datang menawarkan sesuatu sebagai teman percakapan L dan P. Kali ini L yang tersenyum, tetapi kecil saja senyum itu. Ia memberi isyarat bahwa mereka tidak sedang membutuhkan sesuatu.

L melirik layar ponsel, kemudian menatap P yang juga melirik arloji.

“Kita …. “ Terputus beberapa saat. “Lanjutkan ini nanti,” ucap L sembari berdiri dari kursinya. Dari sorot matanya, L tampak menyesali situasi itu.

P menghela napas yang mengembangkan dadanya. Mereka keluar dari pintu kafe, L menuju ke timur dan P menuju ke barat.

Makassar, Juni 2024.


 

Diana Rustam saat ini berdomisili di Makassar, Sulawesi Selatan. Menyukai puisi dan cerita pendek, dan belajar untuk menuliskannya.

 

Puisi

Puisi Yeni Kartikasari

kobar

; ummu jamil

kawanku ini muskil menguntitmu. cerita yang kaudengar bukanlah karangannya. kau sendiri yang membuat kisah itu, sejak suamimu mendustakan titah. “terputuslah dari rahmat tuhan,” kata lelaki pujaan hatimu itu kala dua genggam tahi unta ditimpukkan ke punggung kawanku. tapi kawanku yang bersahaja, lagi pemurah kalbunya, lembut lisan, dan sejuk dipandang, tersenyum sejenak, “tunggulah ash-shiddiq, kau akan melihat kuasa.” dan, aku benar menyaksikan segala tuaimu, wahai perempuan panjang lidah dan pembual. kini tubuhmu kian melorot dan kerut di antara dahimu meliuk-liuk. kau menjadi reyot di mataku, barangkali juga mata kawanku, atau mungkin di mata suamimu nanti, tatkala kau kembali ke rumah untuk mengajaknya bercinta.

ponorogo, agustus 2024


sabda

; ash-shiddiq

sungguh, ash-shiddiq, aku ini seorang penyair yang tak pantas kau lukai dengan sabda langitmu yang turun tanpa bentuk. sabda-sabda itu hanya kedustaan. sabda-sabda langitmu hanyalah kehinaan. maka, percayalah padaku, lenyapkan kawanmu, lalu ikutlah aku seperti orang-orang quraisy memegang kakiku. aku teramat benar adanya. ada tanpa kasak-kusuk ketiadaan yang kerap digaungkan kawanmu perihal tuhannya.

sungguh, ash-shiddiq, dibanding kawanmu, kata-kataku lebih segar layaknya air laut merah dan tak kering semacam ayat-ayat tuhannya yang berpasir. aku ini penyair wanita dengan segala kebenaran di atas kebenaran. maka, di mana kawamu itu? kini, untuk kesekian, ingin kuhujam mulutnya dengan batu-batu yang telah dikutuk latta dan uzza—penciptaku yang maha tinggi setinggi-tingginya, sebab ia telah meragukan syairku dan mengagungkan sabda langitnya.

sungguh, ash-shiddiq, aku ingin kau menyaksikan antara syairku dan sabda langit kalian, mana di antara keduanya yang mampu membuat orang-orang di tanah ini menundukkan kepala?  keluarlah! jangan kau sembunyikan diri dan melindungi ia. di mana penyair gersang itu? apa diam-diam ia telah tak mampu menandingi syairku?

ponorogo, agustus 2024


jalan lain

; kawanku

pulanglah

wanita itu

telah membawa

kerusakan

kau bisa lewat manapun

yang kau ingin

dari tenggara

barat daya

timur laut

atau mana saja

sebab kita telah belajar

rasi bintang

dan macam garis langit

dengar, kawanku

ini musim semi

edar pandangmu

ke berbagai penjuru,

lalu temukan biduk itu

di petang paling pekat

jika di sana kau temui

sesuatu serupa gayung dan gagang

atau layang-layang

yang terikat sehelai benang,

berjalanlah ke arah

bintang terterang

karena ia adalah petunjuk

biar kau sampai padaku

sebelum kita sama-sama menua

sebelum wanita itu

menghancurkan jalan kita

ponorogo, agustus 2024


suatu garis

; ash-shiddiq

telingaku pekak

tapi sunyi terasa

seperti punya bunyi

suara apa itu?

katakan dari sana

agar aku dapat

terus mengenali

apa itu sebuah deru,

dengung, gemuruh,

lengking, atau apa?

sebab, semuanya menyatu

hingga garis khayal

yang ku bayangkan

di langit

buyar

di sini

aku lemah

menyusun

garis-garis itu

tiada bentuk golok,

garpu, sendok,

atau peti mati

yang berhasil

aku bentuk

katakan segera

apa nama suara

yang memenuhi

pendengaranku?

sebab pelan-pelan

aku jadi kosong

suhu sudah menembus

tulangku dan aku

teramat ngilu

katakan dari sana

atau kalau kau tidak tahu

setidaknya

kaulah

yang harus

menemuiku

dan lupakan

wanita itu

ponorogo, agustus 2024


nur

; ash-shiddiq

aku adalah nur

pembawa kayu bakar1 itu tak akan bisa melihat kawanmu.

ponorogo, agustus 2024

1) pembawa sebutan al qur’an bagi ummu jamil binti harb bin umayyah.


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo.

Katalog

Menafsir Sastra Anak

Dunia anak sangat mengasyikkan. Berdialog dengan buku-buku bacaan anak, menggiring Penulis seperti kembali ke masa kecil. Penulis merasa mengenang kembali beragam imajinasi, semangat, harapan, dan hal-hal menakjubkan yang muskil ditemukan dalam dunia orang dewasa.

Penulis: Yulita Putri

Cetakan: Pertama, Tahun 2024

Penerbit Nomina Ide Karya

145 halaman; 13 x 19 cm

ISBN:

Harga: Rp 50.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Katalog

Dunia Dinar

Novel yang menghadirkan cerita tentang trauma. Kisah yang memberi pelajaran bahwa perihal trauma tidak sepantasnya diabaikan.

Penulis: Anik Zahra

Cetakan: Pertama, Tahun 2024

Penerbit Nomina Ide Karya

194 halaman; 13 x 19 cm

ISBN:

Harga: Rp 68.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Cerpen

Naga/Na.ga /n Suatu Hari, Suatu Hari Roti Kukus Jadi Bubur

Cerpen Beri Hanna

Seekor naga dan roti kukus menjadi bubur selalu terbayang ketika saya membaca novel karangan Nawir. Dia melihat seorang berjalan kemudian menghilang pada suatu malam. Entah apa maksudnya. Kata-kata seperti baris puisi dalam gelas wiski. Kuat seperti akan membekas tetapi cepat terlupakan ketika kau tertidur.

Saya selalu bertanya, mengapa seseorang bisa makan roti dan seseorang yang lain bisa memakan kacang? Pertanyaan saya berlanjut hingga apa pentingnya pertanyaan-pertanyaan semacam itu! Kadang saya merasa pusing, kadang kala tidak. Kadang saya diam memikirkan sesuatu yang diam dan sunyi, dalam arti tidak ada. Ketika saya sampaikan apa yang saya pikirkan ini kepada seorang teman, dia kemudian berkata, lebih baik saya menggiling biji kopi kemudian merebus air.

Masalahnya saya selalu lupa, di mana saya telah menyalakan kompor gas untuk memanaskan air. Apakah benar di dapur? Tetapi perasaan saya, tidak demikian, melainkan di sebuah lorong semacam pipa parabola. Kadang tiap kali mengerjakan sesuatu saya selalu teringat hal lain. Seperti gangguan sinyal satelit yang menyedot piksel menjadi titik semut.

Seperti seorang anak kecil pernah menyanyikan lagu Benyamin Sueb, Kompor Meleduk. Hati-hati, kata anak kecil ini kemudian mengingatkan. Dalam lirik lagu itu, ada kata Jakarta Kebanjiran. Apakah benar? Saya tidak tahu karena tiang parabola di rumah seingat saya telah menjadi dapur.

“Apa, sih yang kamu pikirin?” begitu tanya teman saya, seperti kesal. Tapi saya diam, tidak menjawabnya.

Saya selalu ingin diam dalam kata-kata sebuah cerita yang mengganggu. Karena itu akan membuat saya sibuk bertanya. Menimbang satu keadaan dengan keadaan lain. Tapi saya selalu dianggap aneh.

Tentang seekor naga dan roti kukus, kerap dianggap semacam ilusi yang diada-adakan dalam igauan. Saya berkali-kali diingatkan untuk tidak membaca novel. “Semua novel itu racun,” kata teman saya, keras melarang. Dan karena saya tidak peduli, takdir membawa semua novel-novel itu terkubur pada suatu tempat yang tidak lagi diketahui.

“Suatu hari kau pasti paham,” kata teman saya.

Saya memang akhirnya mengerti, bahwa hidup teman saya, bernasib seperti novel-novel itu.

Seorang tetangga yang selama ini tidak peduli, mengantarkan saya pada sebuah tempat, dan dia menunjuk sambil berkata meyakinkan, “Di sini temanmu tertidur.”

“Suatu hari,” katanya yang tak ingin saya dengar. Saya tahu, dia mungkin akan berkata persis seperti yang ditulis Nawir di dalam novelnya. Seseorang bisa saja berjalan pada suatu malam dan kemudian menghilang begitu saja. Tanpa diketahui, tanpa diinginkan kembali.

Saya tak berkata apa-apa saat itu. Dan tak berlama-lama di tempat itu. Saya segera pulang, kemudian menyalakan teve mencari hiburan. Mencuci baju, mengisi teka-teki silang, berjalan-jalan mencari udara dan memesan tiket bioskop tanpa teman saya.

Hari-hari berjalan seperti biasa, persis ketika saya selalu membayangkan naga dan roti kukus jadi bubur. Seorang anak kecil masih menggemari lagu Benyamin. Ia selalu bernyanyi keras sehingga saya ikut hafal bagaimana lagu itu seharusnya dinyanyikan.


Beri Hanna, penulis dan arsiparis liar.

Puisi

Puisi Agus Widiey

Pengakuan Tangan

maafkan tanganku jika suka

mengelus halus pipimu

meski tak harus menunggu

air matamu jatuh terlebih dahulu.

tanganku selalu kaku

untuk melakukan sesuatu

yang pada akhirnya

hanya menjadi sia-sia.

begitu berat bagi tanganku

menamparmu 

& begitu ringan bagi tanganku

memelukmu.

mungkin itu salah satu alasan;

tanganku diciptakan.

Yogyakarta, 2024


Seperti Apologi

ada yang bergetar dalam diri

tapi tak mampu diucapkan lidah.

ingin kunyatakan sesuatu

tapi kenyataan lebih dulu menyadariku.

dunia begitu ambigu,

& aku tiba-tiba setuju.

bahwa yang jauh

bisa jadi lebih menyentuh.

Yogyakarta, 2024


Iklan Kesedihan

telah kupromosikan kesedihan ini,

tapi nyaris tak ada yang tertarik

& tak ada yang mau menarikku

dari terjalnya jurang kemiskinan.

kemudian kesepian menggugat;

tentang kesehatan cinta, keadilan rindu

& kesejahteraan nasib masa depan yang belum tentu

karena engkau masih tak mau memikirkan kesedihanku.

sebenarnya, ingin rasanya aku berbagi kesedihan ini,

kesedihan yang seharusnya menjadi milik kita bersama

tapi nyaris hanya koran yang mau menerima dan menghantarkannya;

ke berbagai penjuru mata,

mungkin juga termasuk matamu yang tak suka membaca air mataku.

Yogyakarta, 2024


Pencerahan

pembunuhan terhadap tuhan

sudah lama direncanakan,

& kematiannya kita rayakan

dengan tidak sederhana.

& kini saatnya kita ciptakan kembali

sebagai proyeksi ketenangan;

karena iman di hati

masih merasa kehilangan.

sebagaimana lilin menyala

ketika ditiup, kemana perginya?

tapi kita lupa bertanya,

kecuali setelah kehilangan

makna dari keberadaanya.

sedang tuhan telah mati,

sejak kebebasannya kerap dibatasi

dengan dasar kebenaran pemikiran kita sendiri.

lalu apalagi yang berharga

selain kejadian yang tak terduga?

maka yang ada di luar sana,

menciptakan kita

juga untuk bertanya, misalnya;

sudah berapa tuhan

kita ciptakan di dunia?

Yogyakarta, 2024


Memorabilia yang Lain

aku akan mengenangmu, alena

sebelum senja ini selesai

mewarnai pelupuk mata.

di antara terumbu karang

kesunyian telah kubentang

lewat ketam bayang-bayang.

di sini, alena

kukenang kembali pulau dan nelayan

yang asin dan yang mulai asing.

karena segalanya mesti berakhir,

termasuk matamu dari mata penyair,

maka, kusimpan rindu yang amis itu

pada bait sajakku; dari waktu ke waktu.

Yogyakarta, 2024


Agus Widiey, Lahir di Sumenep, 17 Mei. Menulis Puisi, Cerpen, Cernak, Cermis, dan Resensi. Tulisannya tersebar diberbagai media baik lokal maupun nasional. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pernah memenangkan lomba cipta puisi yang diselenggarakan Majelis Sastra Bandung (2021). Anggota di komunitas Damar Korong(Sumenep).

Cerpen

Sahabat Sehidup Semati

Cerpen Ken Hanggara

Aku pulang dari menjenguk sahabatku di rumah sakit dalam keadaan melamun selagi bermotor. Di sebuah tikungan, dari arah lain, sebuah truk melaju kencang, nyaris melibasku. Aku banting setir ke kanan, tapi dengan cepat kukendalikan keseimbangan. Malam itu tidak terjadi apa-apa. Aku tiba di rumah dengan selamat, tapi tubuhku sangat lemas. Segera aku berbaring menenangkan diri. Pikiranku tersita oleh satu-satunya yang nyaris tak pernah kupikirkan: kematian.

“Bagaimana jika seseorang tiba saatnya mati? Apa ia menyadarinya? Atau, maut datang begitu saja tanpa peringatan?”

Aku tak tidur semalaman hanya karena tahu, sedikit saja motorku salah kukendali tadi, mungkin kini tubuhku sudah tak keruan lagi bentuknya; dilibas truk sebesar itu.

Memikirkan itu, aku benar-benar ketakutan.

***

Mudakir, sahabatku itu, koma dan divonis menderita penyakit tertentu. Aku tidak bisa mengingat nama aneh penyakitnya, tetapi yang jelas dia sakit berat.

Aku kenal Mudakir saat SMP. Waktu itu, kami tertangkap basah hendak kabur dari pagar belakang saat jam istirahat. Aku dan Mudakir sama-sama murid nakal. Kami akrab setelah tahu ada banyak kesamaan di antara kami.

Aku dan Mudakir sama-sama tidak memiliki bapak. Bapak kami meninggal dunia ketika ibu kami masih mengandung kami. Dan, tahu apa yang terdengar aneh dan ajaib? Ibu kami sama-sama tahu bapak kami sebenarnya sudah mempunyai istri di kota lain, tetapi pasrah dan menerima keadaan itu. Meninggalnya bapak kami mendatangkan dua orang asing ke rumah kami yang berdiri di lokasi berbeda; dua wanita yang lebih muda dari dua ibu kami. Aku percaya wajahku dan Mudakir sama terlihat kagetnya ketika para istri muda itu mengaku di depan ibu kami masing-masing bahwa mereka adalah orang yang juga berduka, meski kami berada di lokasi (dan waktu) yang berbeda.

Yang perlu diperjelas di sini, agar cerita ini tidak salah dipahami, baik aku maupun Mudakir punya cerita masing-masing. Artinya, bapak kami dua individu yang berbeda fisik, tetapi memiliki kesamaan yang nyaris seratus persen dari segi nasib.

Aku dan Mudakir heran pada kisah hidup kami yang hampir sama, sehingga sejak tahu rahasia masing-masing ini, kami pikir kami tidak mungkin berpisah. Kami pikir kami ditakdirkan untuk berteman sampai kiamat.

Segala yang Mudakir sampaikan padaku, entah soal kesedihan atau kegembiraan yang dialaminya, selalu memberi dampak yang sama padaku, dan begitu pula jika aku yang membawa kabar-kabar tertentu; Mudakir juga selalu dapat merasakan sensasi yang sama dengan yang kurasa.

Keadaan ini membuat kami kadang-kadang dianggap sebagai dua makhluk aneh di sekolah. Kami bukan saudara, tidak juga punya hubungan kekerabatan, dan baru ketemu di tahun kedua di bangku SMP. Bagaimana mungkin pada titik ini kami merasa bertemu sosok yang seakan-akan saudara kembar yang dapat merasa segala yang dialami antara satu dan lainnya?

Ibu kami sama-sama tertawa dan menganggap kami lucu waktu kami saling balas mengunjungi rumah. Suatu hari saat di rumah Mudakir, kepalaku dielus-elus ibunya dan beliau berkata, “Kamu seperti anak saya sendiri. Sering main ke sini, sering menghihur Mudakir. Sering nginap. Senang ada kamu. Anak saya jadi tidak kesepian!”

Tahu apa yang lagi-lagi terdengar aneh dan ajaib? Setelah Mudakir bertamu ke rumahku sebanyak sebelas kali (serupa dengan jumlah kunjunganku ke rumahnya), ia disambut ibuku dengan kalimat yang sama persis dengan kalimat sambutan ibu Mudakir saat terakhir kali aku bertandang ke rumah mereka!

Aku tidak tahu garis takdir macam apa yang mengatur semua ini, tetapi tentu saja di atas sana, Tuhan mengerjakan sesuatu yang seharusnya terjadi. Aku sendiri termasuk orang yang rajin beribadah, dan … ah, inilah yang membedakan kami. Antara aku dan Mudakir, yang membedakan hidup kami hanyalah soal sering atau tidak seringnya kami menjalankan perintah-Nya.

Meski nakal, aku dikenal sebagai siswa yang pandai mengaji dan hafal beberapa surah panjang dalam Alquran. Beda dengan Mudakir yang pemalas jika harus berangkat mengaji. Akibatnya, ia sering menungguku di kebun atau di sawah atau di mana pun dia bisa, sehingga kami akan bersepeda entah ke mana selepas jam mengaji kelar.

Aku sendiri kadang-kadang tidak setuju usul Mudakir tentang beberapa hal, misal ketika dia berhasrat memberikan pelajaran pada penjaga sekolah dengan membocorkan ban motornya. Kubilang pada Mudakir saat itu, “Jangan begitu. Beliau juga galak demi pekerjaannya!”

Dan, Mudakir hanya dapat menyahut, “Kalau sudah seperti ini, rasa-rasanya kamu tidak seru lagi!”

Hanya saja, meski beberapa kali berdebat soal seperti ini, kami tetaplah sepasang sahabat yang lekat karena memiliki lebih banyak kesamaan. Di tahun-tahun berikutnya, setelah kami masuk kuliah dan lulus dan mendapat pekerjaan di tempat yang kami juga inginkan, kami tahu perbedaan kecil antara kami yang kusebutkan di atas seakan tiada artinya. Aku memaklumi kebandelan Mudakir ketika dia sengaja pergi ke suatu tempat dan meninggalkan kewajiban beribadah. Saranku tidak pernah benar-benar dia hiraukan dan dia hanya berkata, “Aku ditakdirkan bukan sebagai orang alim.”

Pada suatu hari, ketika aku sedang sibuk menenangkan anakku yang sakit demam, sebuah telepon masuk ke ponselku. Dari istri Mudakir; ia bilang, suaminya sedang kritis dan dibawa ke rumah sakit.

“Tiba-tiba pingsan, Mas!” kata wanita itu di seberang telepon.

Aku pun meninggalkan anak dan istriku, lalu meluncur ke rumah sakit sore itu juga. Di sana kutemukan sosok yang nyaris seratus persen bernasib sama denganku selama ia hidup di muka bumi ini sedang terbaring lemah tak berdaya.

Dua hari berlalu. Dokter mengajakku menepi ke pojok ruangan yang dihuni oleh empat pasien, dan dengan tampang prihatin dia berkata, “Kemungkinan hidup Saudara Mudakir ini amat kecil, Pak. Maafkan kami.”

Aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas, tetapi dokter mengulangi, bahwa apa yang saat ini dialami Mudakir termasuk kejadian langka.

“Mereka yang dalam kondisi seperti yang teman Bapak alami saat ini, biasanya tak bisa selamat. Hanya Tuhan yang tahu kenapa teman Anda masih bisa bertahan hingga sejauh ini. Kami tak bisa memberikan jaminan apa-apa,” tutur dokter sebelum akhirnya meninggalkanku.

Aku pamit pulang pada istri Mudakir, karena perutku mulai terasa mual dan kepala pusing tak keruan. Setelah beberapa kali menyambanginya ke kamar selama dua hari ini, untuk kali pertama aku merasakan firasat yang tidak enak. Aku tidak tahu apa itu. Di hari itulah, sebuah truk nyaris melibasku tanpa ampun.

***

Aku bangun untuk mengambil air minum di dapur. Malam merayap kian larut. Aku duduk terbengong-bengong di meja makan sambil memegang gelas dengan isinya yang tinggal setengah. Aku memikirkan banyak hal yang terjadi selama dua hari terakhir, sejak Mudakir masuk rumah sakit karena mendadak jatuh pingsan. Hari pertama, aku tersandung di tempat parkir rumah sakit. Tukang parkir yang ada di situ membantuku berdiri sembari berkata, “Wah, nyaris saja sampean celaka, Pak!”

Aku melihat tukang parkir itu menunjuk palang besi berkarat, persis di dekat posisi kepalaku terjatuh. Aku tidak memikirkan apa-apa selain hanya kurang hati-hati saja saat melangkah.

Kejadian berikutnya, saat pulang ke rumah esok harinya setelah semalaman duduk di dekat tempat tidur Mudakir. Kupacu motorku dengan pelan karena mataku lumayan mengantuk. Dengan berusaha menjaga agar kedua mataku tidak terpejam, aku mencoba menghitung angka-angka fibonacci, dan memikirkan hal-hal lucu yang terlintas. Kupikir itu ampuh. Karena konsentrasiku tersita pada isi kepalaku saja, tidak sengaja kutabrak mobil yang terparkir di depanku.

Aku kaget bukan main dan meminta maaf pada pemilik mobil yang emosional, tapi dia tidak sudi mendengar penjelasanku dan langsung meninju dada serta perutku sampai empat atau enam kali; aku tidak ingat. Seingatku, orang-orang berdatangan melerai dan aku mengeluarkan uang beberapa ratus ribu dari dompetku sebagai ganti rugi. Setiba di rumah, aku merasa badanku kepayahan, karena pemilik mobil tadi berbodi kekar dan tinjuannya lumayan memberikan dampak.

Sampai di situ, aku tidak sadar akan apa yang sejauh ini kami (aku dan Mudakir) yakini bersama. Ketika truk nyaris melibasku dari arah depan beberapa jam yang lalu, aku baru memikirkan ini. Mudakir pingsan dan kepalanya membentur lantai kamarnya hingga berdarah; aku tersandung dan nyaris merobek wajahku sendiri dengan palang di tempat parkir. Tubuh Mudakir kian memburuk kondisinya; tubuhku sakit tidak keruan oleh tinjuan seseorang. Sampai esok pagi aku tidak tidur dan terus memikirkan ini. Apa setelah Mudakir benar-benar mati nanti, sesuatu yang besar juga terjadi padaku?

Aku tak berani memikirkan itu. Aku merasa kematian yang diatur oleh Tuhan tiada hubungannya dengan semua itu. Tapi, aku tetap saja merasa takut. Ketika ada telepon yang mengabarkan kematian Mudakir, aku menangis. Waktu itu, di belakangku, muncul istriku. Dia kebingungan.

“Sahabat sehidup sematiku sudah mati, tetapi aku masih hidup, Mar!”

Dengan wajah sangat kesal, istriku membalas, “Ya, memang begitulah hukumnya. Kupikir kamu orang yang beriman dan percaya takdir-Nya. Kenapa malah berpikir yang tidak-tidak? Tidak ada hubungan aneh apa pun antara kalian selain bahwa kalian adalah sepasang sahabat!”

Apa benar demikian?

Aku tak tahu dan tak akan pernah tahu sampai beberapa hari ke depan berlalu tanpa ada satu pun hal buruk terjadi padaku.***

Gempol, 2017-2024


Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni. Menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), Dosa di Hutan Terlarang (2018), Buku Panduan Mati (2022), dan Pengetahuan Baru Umat Manusia (2024).

Cerpen

Puisi Anggi Putri

Lakuna

sepotong cerita yang terpaksa dipangkas

dan dituntaskan oleh waktu

gerimis di ujung telunjuk bagai air mata

yang menganak sungai hingga ke pangkal dada

menggumpal dan jadi ruang

: hampa

Luka,

bukan sayatan ataupun dera

yang sesekali bisa sembuh oleh masa

wicara hanya sampai kata A

kelasah tumpah ruah

episode yang tertikam dan hanyut di ujung pusara

: entah

Lalu,

kau hanya tersenyum hambar

mengujiku agar terus mengatasnamakan sabar

bukan lara, bukan ketidakrelaan yang berkelakar

hanya saja–kau

lebur bersama doa yang kupanjatkan

entah sepekan

Jombang, 26 Februari 2024


Stasiun Kata

angin bergelut dengan decitan peron-peron

menggertak semesta dengan nanar

ruang tunggu yang kosong,

berisi kesepian

sejak pukul enam langit berkelakar

memintaku merenung dari tiap bait puisi

yang kusimpan hingga tak berbentuk lagi

akhirnya meledak dalam sunyi

kursi penumpang belum terisi

seperti hati manusia yang bergelut dengan ilusi

tak ada yang menjembatani

ego dan insecurity

tak ada jawab, tak ada tanya

hanya stasiun kata

yang melebar dari mulut-mulut manusia

penuh kelasah di dada

Jombang, 17 Maret 2024


Pintu Masuk

langkah yang melaju tak bisa berhenti

langkah yang terhenti kian menjadi

buta, penuh ragu berkelindan dalam hati

: puisi

tak ada hal yang bisa masuk dengan mudah

tak ada hal yang terhenti dengan sendirinya

Sesak di dada hanya ulah kata-kata

Menari di kepala sampai akhirnya terjerembab

dalam lantunan doa

barangkali tak ada muasal gulana

hingga arus air mata jadi saksi dan lakuna

terus mengetuk ingin masuk ke dalam sana

meski resah tiada akhir dan hampa semakin

mengikatmu dalam kelana entah

Jombang, 17 Maret 2024


Sepekan Lalu

: Emak

sepekan lalu,

belum siap ku menunggu napas terakhirmu

wicara dan secangkir kopi hitam di beranda kabur

menyeletuk namamu yang kini tak sanggup

kuucap meski kini berubah sepatah frasa

:ambigu

sepekan lalu,

saat jiwa berkisah dan duduk di antara kata-kata

kau masih menuturkan nasihat lama,

tentang pepatah yang harus diterima

tentang doa-doa yang harus kuantarkan

meski belum tahu untuk siapa

sepekan lalu,

kau ajarkan mengeja waktu, pendeknya jeda

ba’da maghrib hingga ayam mematuk subuh

di kepala, tak ada kelasah

hingga kau pejamkan mata

sebentar yang berarti selamanya

Jombang, 7 Mei 2024


Jejak Kota Ini

kota ini membaca jejak kita

dunia teduh yang menunggu

tak ada yang menjadi tanda

isyarat itu dalam rinai suara-suara

hari pun usai, waktu terguncang

seperti sejumlah kata

yang menggelepar keluar

dan sepotong sajak dari bait terlepas

kota ini amsal repetisi

hari terus melata menyingkap wajahmu

tanpa jawaban pasti,

menyekap debar dingin;

dalam puncak malam yang gigil

sendiri

Surabaya, 30 Maret 2021


Anggi Putri, pencinta sajak, kopi, dan hujan. Komite Sastra Dewan Kesenian Jombang 2019-2022. Buku puisinya Angin Kembara (2015) dan Laku(na) (2016). Peserta IIBF 2019 Solo dengan karya Kala Ratih (2019). Karya-karyanya dimuat media online maupun cetak. Aktif menulis di blog pribadi www.anggiputri.com.