aroma membawa kabar di luar pikiran nalar menginjak kepatutan dengan sadar perpecahan tumbuh tersamar nalar budi pun tercemar bergelinjang perlahan memudar
Memasuki pelataran rumah yang terletak di Lembah Kelelawar, Salindri merasakan langkah kakinya bergetar. Tiga puluh tahun ia meninggalkan rumah ini. Dulu ia meninggalkan Samsul, anak lelakinya yang masih bayi, dan diasuh Nenek. Ia tak pernah pulang. Tak pernah bertemu Samsul, yang kini mendekam sepuluh tahun di penjara, menanti hukuman mati, karena merampok seorang nasabah bank, menembak mati tiga polisi dan membunuh sesama napi.
Di depan pintu rumah kayu Salindri berhadapan dengan Surti, perempuan muda, sintal, agak genit, dan Laila, seorang gadis kecil 9 tahun. Salindri sempat mendengar dari beberapa orang, Surti seorang penyanyi Orkes Melayu Mawar Rembulan yang diidolakan banyak orang. Begitu juga Laila, anaknya, yang mengikuti jejak ibunya sebagai penyanyi cilik.
Surti dan Laila memandang Salindri dengan tatapan aneh. Mereka curiga dengan kehadiran perempuan setengah baya itu. Bagaimana mungkin perempuan setengah baya itu mendadak mendatangi rumahnya?
Tatapan Salindri menyelidiki perempuan muda sintal yang dianggapnya sebagai istri Samsul.
“Samsul selalu cerita, Ibu meninggalkannya ketika ia masih bayi.”
“Tentu dia sangat ingin kuasuh,” kata perempuan setengah baya itu. “Boleh aku menginap di sini?”
“Oh, tentu saja. Ini rumah Ibu,” balas Surti, dengan keramahan seorang anak menantu pada ibu mertuanya. “Kebetulan sekali Ibu datang. Nanti malam Samsul dihukum mati, besok pagi dimakamkan.”
Pucat wajah Salindri. Tubuh perempuan setengah baya itu gemetar. Ia merasa bersalah. Ia meninggalkan suami dan anak yang kini menjelang dijatuhi hukuman mati. Ia menyiram bensin dan membakar suami yang tak mau berhenti berjudi. Ia melarikan diri dari rumah, mengembara di ibu kota, tak berani pulang.
Kini Salindri memasuki kamar yang dikosongkan sejak kematian Panji Rangsang, suaminya. Ia menemukan tempat tidur dan lemari baju kayu sonokeling, masih kokoh, kecoklatan, kusam berdebu. Tiga puluh tahun meninggalkan rumah papan kayu di Lembah Kelelawar, ia masih menemukan kenangan seperti semasa pengantin baru.
Di dalam kamar itu Salindri merasakan degup jantung yang kencang. Tubuhnya lemas. Ia merasa telah menjelma iblis betina yang mengorbankan anaknya sendiri.
***
Pagi berkabut, dalam sunyi tanah kuburan di lereng Gunung Wurung, Salindri berdiri goyah di bawah pohon trembesi, menanti jenazah Samsul dimakamkan. Di sisinya berdiri gelisah Surti dan Laila.
Hanya beberapa orang yang mengusung dan mengiringi jenazah Samsul. Liang lahat sudah digali kemarin sore. Salindri sangat ingin melihat wajah anak lelakinya. Tetapi komandan regu tembak, yang mengiringi jenazah Samsul, tak memperkenankannya membuka peti mati. Salindri berdiri memandangi peti mati jenazah anak lelakinya diturunkan ke dalam liang lahat, ditimbuni tanah hingga berupa gundukan yang ditaburi bunga. Seorang ulama membaca doa, seperti tergesa-gesa, dan terkesan melakukan pemakaman rahasia. Hanya beberapa orang desa yang hadir dalam pemakaman. Suro Kolong turut melayat. Lelaki setengah baya itu berdiri di sisi ulama yang membaca doa. Beberapa pelayat buru-buru meninggalkan makam.
“Kudengar Samsul kebal peluru,” kata Salindri pada anak menantunya. “Bagaimana mungkin ia bisa ditembak mati?”
Menuruni jalan setapak makam Gunung Wurung, Salindri terus menunduk, seperti ingin menyembunyikan masa lalu yang dijalaninya bersama Samsul. “Tiap tubuh yang kebal pasti memiliki kelemahan. Peluru yang digunakan menembak Samsul sudah disepuh mantra Suro Kolong yang dikenal sakti. Kekebalan Samsul tak ada artinya.”
Salindri teringat akan sosok Suro Kolong, lelaki yang selalu tirakat di Gunung Jabalkat. “Seingatku, Suro Kolong pernah berguru pada Ki Gandrung Marsudi.”
“Samsul juga berguru ke sana. Tapi Suro Kolong lebih sakti.”
***
KetikaSurti mengemasi seluruh pakaian dan barang-barang miliknya, dimasukkan dalam kopor, dan dikemas rapi, Salindri tercengang. Apakah menantunya akan meninggalkan rumah ini?
“Apa yang kaulakukan?” tanya Salindri, dengan pandangan tak mengerti.
”Kami akan meninggalkan rumah ini. Kami akan menetap di kota, agar saya bisa lebih mudah menerima tanggapan nyanyi.”
“Kau akan meninggalkanku seorang diri di rumah ini?”
“Saya tak bisa bersama Ibu. Seorang lelaki akan melamar saya. Kami segera nikah.”
“Siapa laki-laki itu?”
“Ibu akan mengenalnya.”
Siang hari komandan regu tembak datang dengan mengendarai mobil sedan. Di belakangnya sebuah truk bak terbuka diparkir di pelataran rumah dan seluruh barang-barang Surti diangkat ke dalamnya. Komandan regu tembak menjemput Surti dan Laila.
“Itukah calon suamimu?” tanya Salindri dengan sepasang mata keheranan.
“Ya.”
“Kau akan jadi istri kedua?”
Surti mengangguk, setengah terpaksa. “Aku merasa tenteram dan dilindungi.”
“Tapi kenapa dia tampak sungkan padaku? Ia seperti ingin menghindariku.”
“Dia cuma belum akrab pada Ibu. Kalau sudah akrab, ia akan menjadi lelaki yang menyenangkan.”
Salindri merasa bahwa komandan regu tembak menyembunyikan sesuatu yang belum dipahaminya. Sepasang mata komandan regu tembak memancarkan rahasia yang ingin disingkap Salindri.
***
Menjelang sore seluruh barang Surti dan Laila sudah dimasukkan ke dalam truk. Komandan regu tembak mengendarai sebuah mobil sedan memarkir mobil itu di tepi jalan Lembah Kelelawar. Salindri merasakan sepi yang menggerogoti jiwanya. Ia akan tinggal seorang diri di rumah warisan suaminya. Tak ada tetangga yang menempati rumah di lembah ini.
“Biar Laila tinggal bersamaku di rumah ini,” pinta Salindri. “Ingin kutebus kesalahanku pada Samsul dengan mengasuh cucu.”
Lama Surti memandangi Laila dan komandan regu tembak.
“Laila bukan cucumu. Ia anak gadisku,” balas komandan regu tembak.
“Bagaimana mungkin Laila bukan anak Samsu?”
Terdiam sesaat, komandan regu tembak itu menukas sopan, “Tanyakan keadaan anak lelakimu itu pada Suro Kolong. Ia pernah mencelakai Samsul.”
Salindri tertegun. Lama memandangi Laila, dan gadis kecil itu hanya terdiam. Mengikuti semua perintah komandan regu tembak, Surti dan Laila berpamitan pada Salindri. Lembah Kelelawar senyap. Pohon sonokeling, jati, dan munggur yang rimbun memendam angin pegunungan.
“Kau puas bisa menghukum mati anakku dan mengawini jandanya?” kata Salindri pada komandan regu tembak, ketika lelaki setengah baya itu berpamitan.
***
Matahari hampir tenggelam. Di ladang jagung Suro Kolong, Salindri menjumpai lelaki setengah baya itu. Ia sudah mengenal lelaki setengah baya itu semenjak masih tinggal di Lembah Kelelawar, sebelum meninggalkan desa. Perempuan setengah baya itu tampak gugup dan gelisah.
“Apa yang kaulakukan terhadap anak lelakiku?” tanya Salindri, dengan suara yang bergetar.
“Oh, dia pernah menggagahi putriku, Tari, di sendang.”
“Samsul pernah mencuri jagung di ladang pada tengah malam. Aku meminta Subro, anak lelakiku untuk memanah selangkangannya.”
“Kenapa kamu sekeji itu?”
“Anakmu akan lebih keji, kalau tak dilukai kelaminnya. Cuma aku yang bisa melukainya.”
Dada Salindri bergemuruh. Tetapi ia tak berani menumpahkan kemarahannya pada lelaki setengah baya di sisinya. Ia menunduk, meninggalkan ladang jagung. Dalam hati ia merencakan balas dendam.***
Pandana Merdeka, Juli 2024
S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983 ia menulis cerpen, esai sastra, puisi, novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018). Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021. Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).
Tak ada suara alarm, tak ada suara anak-anak yang bernyanyi riang. Aku justru terkejut karena terbangun dalam kesunyian.
Lain dari biasanya.
Meski tak sama seperti hari-hari sebelumnya, namun satu benda yang selalu dan pasti akan kucari setiap bangun dari tidur pulas semalaman, satu benda yang biasa kusimpan rapat di bawah bantal, hanyalah satu: ponselku.
Satu, aku selalu terbangun karena tersentak suara alarm dari ponselku. Dua, aku harus mengecek aplikasi perpesanan, lagi-lagi dari benda yang sama.
Namun kini, di mana itu? Jelas sekali kalau alarm yang harusnya berdering dari sana, pagi ini tidak melaksanakan tugasnya seperti hari-hari lalu.
“Nina…Nin!” teriakku, gusar.
Nina itu nama istriku.
Tak ada jawaban.
Sepi, sunyi.
***
Matahari telah menggantung tinggi di seperempat langit dan cahayanya masuk melalui celah-celah tirai putih di kamar. Aku beranjak dari pembaringan.
Di mana ponselku?
Sial! Jam berapa ini? Mestinya alarm di ponsel itu berbunyi pukul tujuh, membuatku jenggirat dari tempat tidur dan buru-buru meraba ke bawah bantal, mengambil si ponsel dan mematikan alarmnya, bergegas untuk mandi, sarapan, mengantar anak-anak ke sekolah dan melesat ke kantor melawan kemacetan.
Sial! Ada meeting jam sembilan pagi ini!
***
Melangkah aku keluar kamar, namun seketika kakiku terhenti di depan pintu yang menghubungkan living room dengan ruang makan sambil kutengok dua kamar di depan living room itu, kamar kakak adik yang bersebelahan dan selalu berantakan setiap pagi karena keduanya sibuk mengaduk lemari demi mencari seragam dan atau menyiapkan buku pelajaran. Kini rapi, sepi, kosong. Rumah cluster yang selalu ramai ini terasa ada di ujung bumi.
Pandangku terlempar pada jam dinding bulat yang menempel di ruang makan. Jam sembilan kurang, kurang sepuluh atau lima belas, entah!
Kenapa Nina tidak membangunkanku? Sudah jelas aku telat, kini aku harus bolos kerja dan…
Ah, di mana Nina dan anak-anak?
Di mana ponselku?
***
Dua malam lalu, Nina bilang kalau dia tak sanggup jika harus resign, mungkin dia akan mengajukan permohonan kepada perusahaan untuk boleh bekerja di rumah.
Jawabku, “Terserah kamu saja.”
Dan tadi malam, Nina pun bilang, “Andre, kalau memang itu yang kamu mau, supaya aku fokus mengurus anak-anak di rumah dan undur dari pekerjaan, mungkin akan kupertimbangkan. Aku bisa menyibukkan diri di rumah dengan membuat konten. Aku suka memasak, aku bisa memasak apa saja lalu menjadikannya konten di Instagram.”
Jawabku, “Terserah kamu saja.”
Yang terjadi di malam-malam sebelumnya, hanyalah pertengkaran-pertengkaran panjang setelah anak-anak tertidur nyaman di pembaringan.
***
Pada akhirnya kutemukan ponselku di atas meja makan.
Aplikasi perpesanan pribadi antara aku dan seseorang, masih terbuka.
Alin : Selamat tidur sayang. Jangan lupa besok pagi meeting jam 9.
Andre : Selamat tidur juga sayang. Ok, siap.
Alin : Jangan lupa taruh hp di bawah bantal!
***
Termangu kini aku, kembali ke kamar, menatap kosong pada setiap sudut ruangan.
Jam di ponsel menunjuk pada angka sembilan kurang tiga. Sudah terlambat untuk meeting, sudah terlambat untuk mencari Nina atau anak-anak.
Sudah jelas semuanya. Keributan demi keributan yang terjadi selama enam bulan terakhir, aku yakin, hari ini kami sudah sama-sama menemukan jalan.
Dua jam yang lalu, sebelum alarm di ponsel itu membangunkanku atau mungkin justru saat alarm itu berteriak dan aku tidak menyadarinya, Nina telah lebih dulu mengambil ponselku, persis di bawah bantal tempatku melabuhkan kepala semalaman. Lalu ia membuka kuncinya dengan ujung jari telunjukku dan menemukan segala macam bukti yang menguatkannya untuk pergi.
Tak ada pertengkaran lagi, Nina pun tak ingin membangunkanku demi amarahnya.
Sebab, kuyakin, Nina juga memang ingin pergi.
Inilah yang terjadi pada akhirnya di antara segala macam perselisihan yang menguatkan alasan untuk perpisahan. Istriku sudah tak tahan, pun aku memilih perselingkuhan. Jadi pagi ini, aku hanya terduduk di ujung ranjang sambil terus menerus berpikir : “sudah, kan?“
Alarm di ponsel berbunyi, tepat pukul 9. Untuk yang satu ini pun aku tahu, tentu Nina yang menyetelnya demikian.
Sara Sujana, dari Yogyakarta. Suka kopi, kadang sehari tiga kali. Instagram: @sarasujana46.
“aku merindukan harum ketiakmu, di pagi yang masih putih,”
lalu bergegas mandi. menyiapkan matahari serupa mata sapi
luruh masuk dalam tangismu semalam
masih ada bau tubuhmu, menyatu dengan napasku
di gigir kulit coklat, merendam mimpi semalam
tak perlu kita bercakap tentang rumah, kota, atau manusia
sebab sentuhanmu sudah berkisah banyak
menumbuhkan benih bunga yang ada di lenganmu
setiap kali kukoyak sedihmu, air matamu tingkap
merupa gerimis masai. renyah dalam duka
terlalu sering kau menangis, memanggul sebagian deritaku
“aku merindukan getah bibirmu, bukan di malam-malam yang penuh lenguh,”
semestinya, aku bersujud kembali pada pelukanmu
menghitung petaka dari seluruh ragu yang gagu
setiap kupapah peristiwa yang tak sempat terbingkai
bahkan oleh sebaris kalimat pesan pendek, dering telepon yang berisi percakapan,
atau kesunyian kita tentang sekelumit asmara yang penuh amarah
tiba-tiba aku menciut, meski kelopak mawar merekah
di halaman hatimu
“aku benar-benar tak ingin melihatmu menangis. apalah kita, jika kau hanya serupa perempuan cengeng. menunggu pintu-pintu nasib di dalam rumah?”
lantas kugegaskan saja perjalanan ini
mestinya kita sujud bersama, mencari cinta yang baru
bukan sesat dan penuh isak
2019
Sajak Tentang Hujan Malam
tak ada yang kekal
bau hujan
tanah yang bergulingan
aspal basah
cahaya lampu bersejajar
semua mengkilap
menghapus duka
hujan yang deras itu membangunkan seluruh keterjagaanku
lewat berkas kejanggalan. impian dari pernikahan yang bahagia
mungkin akan kuhapus semua malam pertama, seperti perihmu
seperti bekas darah merah di celana dalammu
tak ada yang kekal
hujan akan berhenti
hujan yang deras itu, acap mengacaukan semua igauan yang kau susun
ratusan hari di masa lalu yang terbengkalai
tinggal tiang-tiang besi karatan yang menancap
asamara yang terlunta, hidup yang begitu rutin
adakah yang kekal?
selain matahari
aku merupa ibrahim mencari tuhan. semuanya padam
gulita. kubaca zarathustra
tak ada
tak
tak ada
tak ada yang kekal
hujan akan berhenti
meski aku akan berlabuh di jantungmu lagi
2019
Ujung Percakapan
1.
percakapan ini akan ada ujungnya
kau akan mendapati sebuah pagi
yang miskin matahari di sana
tak ada bentang cakrawala
cuma pertikaian yang kerap tak sudah
2.
mestinya aku tak mengangkat telepon seluler itu
kumatikan dan kutinggal pergi untuk tidur
masih banyak hal-hal lain yang tak terucap
bukan karena kata
bukan sekadar percakapan hampa
3.
tapi sudah jauh kita melangkah
tak perlu kita kebas lintangan nasib
sebab akan kita khidmati seluruh karib
merentangkan sebilah mimpi yang resah
2019
Senin Pagi
Tak dapat kutemukan sisa parfum di telapak tanganmu. Memintal doa-doa busuk ke pusara. Tebing yang nganga, aus dalam labirin, sebuah masa silam yang redup. Seperti bahumu tegak, tempat pertama kali kecut lelaki singgah, menjadi arjuna yang selalu sepi
Tapi, senin pagi tadi, jendela kamar tak juga berkoar, memanjati cahaya matahari hingga basah
Mungkin, ada baiknya aku menghitung waktu yang tergelincir dari ketiakmu, napas sesak perempuan, lipatan badan yang kasmaran, dan tak dapat kutemukan sesuatu, bahkan ketika kusibak kitab-kitab puisi yang terus merakit sunyi demi sunyi
2019
Gerimis Tak Sampai
Tiba juga gerimis itu, bermain di depan rumah. Meski, tak sampai ke dalam kamar. Membingkai setiap dingin yang makin bukit, hingga matamu tergenang. Menyirami letih tubuh, sambil berharap mimpi buruk segera pergi
Besok, cuaca akan berubah, kuyup di tubir jejak yang lumpuh. Mengingat setiap pinak peradaban, menyilet dalam kekal. Aku tahu, kau akan terus mengenang apa-apa yang pernah pergi dari ruangan ini
Sejumlah pertikaian yang membeku di kepala, seperti membangkitkan amarah
Tapi, gerimis tak lagi sampai
Menepikan kegamangan, atau sekadar mengusik bayang-bayang
Selalu saja membungkus kita dalam udara yang dingin di pori
2019
Alexander R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari. Bekerja sebagai staf Unit Pengelola Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPPMPTSP) Kota Adm. Jakarta Barat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di media cetak dan online. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016), Dua Pekan Kesunyian (Penerbit JBS, 2023).
Sebenarnya, di mana Jon? Urusanku belum kelar. Ada banyak perkara yang ingin kubicarakan. Sekarang, aku sudah terkapar di sini, diliputi penyesalan setebal kabut yang menghalau pandangku. Secepat mungkin, aku harus bertemu dengannya.
“Jon!”
Di sekitarku, seperti kebanyakan orang yang tampak gamang, aku berusaha mencari Jon. Kuedar pandang ke segala penjuru—barangkali ia berada tak jauh dari sini. Tak lama, kabut berangsur naik, awan-awan tersibak memunculkan sengatan matahari. Setelah mataku berhasil melihat, di padang berpasir ini, mengapa wajah semua orang begitu aneh dan asing? Di antara mereka ada yang tak punya mata, mulut, dan telinga. Adapula tangan, kaki, dan kepalanya buntung.
“Jono! Temui aku, Jon! Aku temanmu! Aku…” Aku lupa nama dan aku tak kenal siapapun di sini. Semua orang tampak cacat dan buruk rupa. Begitu pun diriku. Walaupun, ragaku utuh, tapi kulitku sehitam arang.
“Muncullah, Jon! Kau di mana?”
Ketika aku melihat tubuh manusia setengah hewan, ragu apabila kusebut salah satu dari orang-orang yang berkepala anjing, babi, atau ular itu sebagai Jon. Seingatku dulu Jon pernah bilang bahwa orang yang selalu berbuat baik, tak akan mungkin dibangkitkan pada hari akhir dengan bentuk buruk. Aku sendiri tahu, Jon orang baik. Dulu, ia sering datang ke majelis ilmu dan selawat. Kepada siapapun, aku kerap melihat Jon memberi wejangan tentang pentingnya salat dan membaca kitab bagi seorang muslim.
Setelah kupikir, mustahil jika Jon berada di dekat sini. Aku berlari menerjang orang-orang di sekitarku sambil membawa keyakinan bahwa mungkin sekarang, Jon berada di suatu tempat bersama orang-orang yang semasa hidupnya takut dosa. Mungkin di ujung sana, Jon sedang bersama orang-orang yang tubuhnya utuh bercahaya dan tak merasa udara sepanas ini. Aku sangat yakin karena Jon memang orang baik. Aku ingin bersamanya. Semoga Jon masih mengenaliku.
“Tolong, Jon! Selamatkan aku!”
Lama tak ada jawaban, aku berhenti, lalu mencoba melihat tubuhku—keringatku terus mengalir. Tapi, aku masih bisa mengendalikan diri di tengah orang-orang yang sedang berguling-guling atau berlari menabrak satu sama lain. Oh Tuhan, apakah ini yang dimaksud Jon bahwa kelak manusia akan berterbangan seperti laron? Jika benar, seharusnya aku juga kebingungan dan lari tunggang-langgang mirip mereka.
Tentu aku berpikir seperti itu karena semasa di dunia, aku jarang beribadah dan bersedekah seperti Jon. Selain tak punya waktu dan tak punya banyak uang, aku malas berurusan dengan kegiatan agama, terlebih jika itu disaksikan banyak orang. Aku tak mau disebut-sebut alim, apabila sedang melakukan hal-hal baik, sementara apabila aku sedang mabuk, aku risih mendapat omongan buruk dari masyarakat.
Namun, jika memang aku sedang ingin beribadah dan bersedekah, aku lebih memilih sembunyi-sembunyi. Kata Jon, pahala tidak ditentukan dari banyaknya orang yang melihat. Aku setuju itu. Jika sempat, diam-diam aku menggelar sajadah di kamar—bersembayang sekhusyuk mungkin, meski aku tak benar-benar percaya Tuhan. Terkadang, juga kubuka kitab—membaca satu dua huruf arab yang bergandang-gandeng, kemudian kututup kembali lantaran tak tahan terbata-bata. Kalau lewat jalan raya, kerap kujatuhkan juga uang receh—harap-harap ada yang mengambil, walau itu cuma sedikit.
Hanya itu yang mampu kulakukan. Tak bisa dibandingkan dengan Jon yang celengan pahalanya begitu besar. Jon rajin beribadah, bersedekah, dan selalu berbuat baik. Aku ingat ia begitu mulia karena mau mengajakku datang ke majelis selawat. Untuk pertama kali dalam hidupku yang tidak terlalu menyenangkan ini, mencoba mendatangi acara itu, aku terpukau mendengar suara pemimpin selawat yang kelewat merdu. Orang itu bersyair panjang sambil menengadahkan tangannya dan mengajak penonton menirukannya. Berbeda dengan acara pengajian yang ceramahnya selalu membuatku mengantuk, aku justru ingin menangis memperhatikan semua orang serempak mengucapkan syair yang tidak bisa kuikuti. Kala itu, aku menoleh ke arah Jon. Jon menatapku tersenyum.
“Kau hapal semua?” tanyaku
“Tidaklah. Cuma beberapa.”
“Aku tidak tahu lagu-lagu, kecuali Ya Rasulallah.”
“Nanti juga tahu. Yang penting suatu saat bisa dapat payung nabi.”
“Payung nabi?”
“Ya. Orang yang suka selawat akan dapat payung nabi di hari akhir.”
“Meski aku pemabuk?”
“Meski kau pemabuk.”
Akhirnya, sebulan sekali, aku sering mengikuti Jon ke acara majelis selawat di kota-kota terdekat. Terkadang kami berangkat berdua, tapi lebih sering Jon membonceng teman perempuannya. Walaupun di depan panggung, tempat laki-laki dan perempuan dipisah, Jon lebih suka berbincang dengan teman perempuannya setelah acara selesai, sementara aku dibiarkan sendiri sampai kemudian kita bertemu lagi di kos. Di perjalanan pulang, aku sering mampir di angkringan untuk makan malam, atau jika benar-benar kesepian, aku nekat mlipir ke terminal membeli bir. Sebab aku belum bisa untuk tidak meneguknya sama sekali.
Sampai suatu kali, ketika aku benar-benar ingin bertanya perihal hukum membawa perempuan ke majelis selawat, padahal keduanya belum menikah, Jon justru bermuka masam dan menyerangku dengan pertanyaan beruntun.
“Apa salahnya? Kau tak suka? Kenapa kauurus hidup orang?”
“Loh, aku cuma tanya.”
“Aku ajak dia biar sama-sama masuk surga. Sama seperti aku ajak kamu. Malah sebelum aku nawarin kamu, dia udah sering ikut majelis dulu.”
“Kenapa kau marah?”
“Siapa yang marah?”
“Kau tak sadar dengan nada bicaramu?”
“Apa?”
Sejak kejadian itu, aku tak pernah mengikuti Jon ke majelis selawat. Namun, masih sempat beberapa kali aku bertanya kepada Jon, apakah manusia bisa menentukan dirinya masuk surga atau neraka. Mengingat jawaban Jon tak pernah memihak, untuk hari-hari berikutnya, ketika kami berpapasan di kos, kami hanya bertegur sapa seperlunya.
Mata Jon selalu nyalang menatapku. Ia selalu bertanya, “Apa?” Setiap kami bertemu. Aku memilih diam karena apa yang keluar dari mulutku dapat menjadi penyebab pertengkaran. Seperti, ketika jam tiga malam Jon baru pulang ke kos dengan leher merah-merah mirip gigitan serangga, aku yang pada saat itu bertanya, “Dari mana?” langsung disahut dengan kata-kata kotornya.
“Anjing! kenapa kauurus hidup orang!”
Kalimat itu cukup kuat melukai hatiku. Esoknya, aku pindah kos. Jelas aku marah. Tapi, aku tak bisa meluapkannya. Aku tahu setiap laki-laki memerlukan perempuan untuk menemani hidupnya.
Enam bulan setelah itu, kami lulus kuliah dan tak pernah bertemu lagi. Jon pulang ke kampung halamannya, sementara itu aku sudah berencana melanjutkan hidup bersama kekasihku. Usai menikah, istriku bilang bahwa aku harus memperbanyak selawat. Hal itu bukan supaya masuk surga, melainkan untuk mendapatkan syafaat. Aku tahu apa itu syafaat. Syafaat adalah sebuah pertolongan seperti payung nabi yang pernah Jon katakan.
Seiring istriku bicara bahwa di hari kebangkitan nanti, terdapat golongan yang tidak kepanasan, meskipun matahari setinggi satu mil di atas kepala, sebab seorang nabi telah memberikan payung terhadap umatnya, sontak aku teringat segala kebaikan Jon. Jon adalah orang pertama yang mengenalkanku pada dunia majelis selawat. Aku menduga, kelak Jon pasti menjadi salah satu orang yang mendapatkan syafaat. Maka, alangkah buruk bagiku, jika aku menjauhinya dan tak pernah meminta maaf kepadanya. Aku ingin bertemu Jon.
“Azka?” suara lembut itu masuk ke telingaku. Ya, Azka adalah namaku. Siapa yang membisikkannya?” Kini ingatanku terpecah-pecah. Aku tak sadar sudah berlari sejauh mana. Kakiku keram. Aku melihat tubuhku—semuanya tetap hitam. Mulai kurasakan mulutku berbicara, tetapi aku benar-benar tak menggerakannya.
Jon! Teriakku dalam batin. Belum sempat aku menyusun ingatan tentang apa yang terjadi dalam hidupku, aku dikejutkan oleh manusia berbadan ular yang menggelepar di tanah. Manusia setengah ular itu semakin mendekatiku dan dalam sekejap ia melilit tubuhku. Aku takut. Namun, aku bisa cepat melepaskan diri, lari tunggang-langgang melewati orang-orang, seolah-olah aku dapat menembus mereka.
Beberapa saat, aku tidak tahu mengapa aku berhenti di tempat yang tak lagi berhawa panas. Keringatku hilang. Seluruh badanku sejuk. Kupandang langit, tiada lagi matahari setinggi satu mil di atas kepala.***
Mungkikah masih ada tanah yang bisa kami tinggali?
Selain dinding-dinding penuh lubang di sini?
2023
TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS DI SINI
Senin datang tergesa-gesa
Lembur tak pernah alpa
Kerja, kerja, kerja
Kenyataan menampar
Beraduk di kepala, pecah berpendar
Pagi ini Jakarta biasa-biasa saja di antara segala keruwetan
Serta permohonan cuti yang diabaikan
Atau teror bos menjelang deadline kerjaan
Atau teman yang ngajak nongkrong tiap akhir pekan
Atau beli iphone terbaru meski dengan cicilan
Atau hasrat hidup dengan cara fancy di kos-kosan
Sama dengan berhemat gila-gilaan
Bawa bekal telor dadar atau lanjut mi instan
Tidak ada perayaan
Tidak ada makan siang gratis di sini
Segalanya begitu pelik dan naik
Hanya sisa remah-remah impian
Di negara yang enjoy rebahan
2024
DAFTAR BELANJA
Di pasar, mimpi adalah daftar belanja
Terselip di kantong plastik hitam
Labu,wortel dan beberapa sayur pucat
Seperti cemas menyaru sekilo cabai rawit
Yang sering cilukba tiba-tiba
Hidup terasa lebih perih dari merica
Mengingat daftar lain yang tak boleh terlewat
Beli susu formula, bayar cicilan rumah, arisan tiap bulan
Selalu alpa disubsidi
—nyeri inflasi di dada
Berbagai toko mimpi berjejer sepanjang jalan,
Para penjual membawa papan harga dengan huruf besar-besar:
Hanya untuk hari ini
Kau mengantre paling pagi untuk membeli kebahagiaan
Dan kesehatan dengan harga paling
Mahal, agar tak kadaluarsa sepanjang zaman
Setengah kilo harapan dan beberapa ikat kepastian
Sudah diskon habis-habisan, kau tahu: ada harga lain yang harus dibayar untuk sebuah kepastian
2024
MENCICIPI PUISI (1)
Setelah menyantap kesepian
Yang menyedihkan
Mencecap pedasnya hidup
Asin kangen dan gurih kenangan
Kau bepikir untuk memasak banyak puisi
Dengan banyak bahan
Majas -majas segar berwarna cerah
Diksi dan irama
Yang diolah sepenuh hati
Dicampur bumbu-bumbu kemungkinan
Membuat puisi kadang terlalu manis dan matang
Atau masih amis serupa kecemasan
Puisi tetaplah hidangan terbaik
Yang ingin kau berikan
Dengan banyak rasa dan tafsir
Meski kau sadar
Baginya puisi seperti basi dan hambar
Cintamu telah siap saji
Bekasi, 2023
MENCICIPI PUISI (2)
Puisi adalah santapan
Diksi-diksi kutumis
Di wajan perenungan yang lama
Dapur sedang membakar dirinya
Frasa-frasa matang dikupas kata
Bekas-bekas ingatan yang dilalui
Patah hati, mimpi-mimpi atau kecewa
-Bercampur
Menjadi santapan sedikit asin atau pedas
Kering atau berkuah
Biarkan kenangan menentukan rasanya
Bekasi, 2023
Listio Wulan Nurmutaqin. Kelahiran Brebes yang kini tinggal di Bekasi. Beberapa karyanya terbit di media cetak dan online. Buku puisi antalogi tunggalnya Tokoh Utama (sastranomina). Bergiat di Kelas puisi Bekasi ( KPB ).
Aku berterima kasih kepada Dasim, karena berkat kepiawaiannya menghancurkan rumah tangga salah seorang pesohor, aku pun ikut mendapat keuntungan.
Dasim mendapat bonus dari bos besar, aku pun sama. Dasim mendapat pujian dari para petinggi, aku pun tidak kalah dipuji oleh mereka. Padahal pekerjaanku bisa dibilang teramat mudah. Sekadar mengarahkan mata dan telinga mereka untuk membaca serta mendengar berita kehancuran rumah tangga, maka sudah dengan sendirinya para manusia-manusia dungu itu bereaksi.
Apakah kalian juga mendengar gonjang-ganjing di wilayah yang sering dikatakan sebagai potongan surga yang tercecer ke bumi?
Kondisi alamnya yang indah seperti surga. Ada tumbuhan menghijau, gunung tinggi, awan biru, dan mutiara kekayaan yang berserakan di daratan, tertimbun di dalam bumi, tersimpan di lautan, dan bergantungan di angkasa. Ada pula sungai-sungai mengalir di bawahnya.
Memang tempat itu seperti potongan surga. Tetapi percayalah, belakangan ini tempat yang dibilang surga itu semakin terasa panas, meski tidak bisa kukatakan seperti neraka, tetapi hawanya tidak sejuk lagi.
Namun tidak mengapa. Terpenting bagiku adalah manusia-manusianya. Di sana hidup manusia yang mudah kuperdaya. Sehingga memudahkan pekerjaanku untuk merekrut kawan-kawan yang akan mengikuti jalanku.
Oh, ya, kita kembali bicara tentang Dasim. Jadi karena keberhasilan Dasim menghancurkan rumah tangga itu sontak memberikan efek domino terhadap kemudahan tugasku.
Sebab setelah rumah tangga pesohor itu berantakan, lantas aib mereka dapat dengan mudah diketahui oleh semua orang. Hai, tentu saja itu adalah pekerjaanku. Mengembus-embuskan kabar ke penjuru bumi, lalu membumbui dengan berbagai macam aib yang mereka buka sendiri.
Sementara aku bekerja, Dasim saat ini tengah berpesta pora. Ia bak kesatria yang pulang dengan kemenangan dari medan peperangan. Bonus yang Dasim dapatkan dari hasil pekerjaannya sungguh berlimpah. Sebab bukan hanya hancurnya rumah tangga pesohor itu, tetapi juga ada aib rumah tangga yang terbuka luas.
Aibnya bahkan dipergunjingkan oleh siapa saja.Alih-alih sebagai bahan pembelajaran bagi mereka yang mempergunjingkan. Padahal,asal tahu saja, bahwa sesungguhnya rumah tangga mereka- para penggunjing-adalah target Dasim selanjutnya, hanya tinggal kapan Dasim akan mengeksekusinya.
Bukan hanya pergunjingan, tetapi ada pula ujaran kebencian dan hujatan, dan seperti biasa setelah kami bekerja, kami ikut menonton kebodohan mereka. Bagaimana tidak bodoh, mereka menghujat dan membela orang yang tidak mereka kenal, bahkan bertemu sekali saja mereka tidak pernah.
Betapa dungunya kelakuan mereka. Akan tetapi tidak mengapa, itu tandanya kerja kerasku berhasil. Memang benar kata para junjunganku; menggoda orang-orang dungu itu legit dan empuk ketimbang menggoda mereka yang berilmu. Menggoda mereka yang berilmu membutuhkan upaya lebih keras, ketimbang menggoda orang pandir dan mudah menelan berbagai kabar burung yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta senang berceloteh padahal mereka hanya mengetahui sebatas kulit saja.
Kedunguan selanjutnya adalah ketika mereka saling hujat di antara sesamanya. Hujat-menghujat kepada orang yang tidak mereka kenal satu sama lain, untuk urusan remeh-temeh, untuk urusan yang tidak mempengaruhi kehidupan mereka, juga tidak menambah pundi-pundi emas, tetapi jika pun ada orang yang mendapatkan keuntungan materi dari hasil gonjang-ganjing tersebut, kukatakan bahwa itu sedikit sekali, sisanya adalah orang-orang pandir yang berceloteh dengan pemikiran-pemikiran bodoh mereka sendiri.
Namun lagi-lagi tidak mengapa. Aku senang, sangat senang. Dengan begitu- seperti yang kukatakan di awal-aku juga ikut mendapatkan pujian oleh para junjunganku.
Sejak Adam terlempar dari surga ke dunia, hingga aku hidup di dunia yang sekarang ini, berbagai perubahannya telah kulalui. Kemudahan teknologi menjadi sebuah landasan untuk memudahkan tugasku. Sesungguhnya aku ingin berterima kasih juga kepada manusia pandai pencipta media.
Bayangkan jika tanpa media, pekerjaan kami menjadi berat. Kami harus terbang dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengembuskan kabar bohong maupun nyata yang tidak menyenangkan untuk didengar. Kami harus membisikan ke telinga manusia satu demi satu untuk membuat mereka saling berseteru.
Tetapi dengan adanya media, kami bisa dengan mudah membuat mereka saling membenci dengan mempertontonkan aib mereka. Ya, ya, ya, aku tahu, bagi mereka menonton kesalahan orang lain adalah hiburan yang mengasyikan. Melihat aib orang lain dibuka, adalah kenikmatan yang tidak mereka sadari.
Aku telah berhasil mencabut rasa malu dari hati mereka, sama halnya dengan keberhasilanku mencabut rasa empatinya. Tanpa empati mereka mudah melakukan tuduhan dari apa yang mereka lihat. Mereka hanya percaya dari pandangan mata saja. Lalu tanpa mengetahui kejadian sebenarnya, mereka dengan mudah membuat tudingan-tudingan keji.
Aku telah berhasil membalik pandangan mereka, menulikan pendengaran mereka untuk tidak mau menerima kebenaran. Aku telah berhasil mengarahkan jemari mereka untuk mengetikan ujaran-ujaran kebencian sehingga sewaktu-waktu bisa berakibat fatal bagi mereka sendiri.
Tentu saja itu bukan hanya buah dari kerja kerasku. Kebodohan dan kemalasan mereka dalam mendekat kepada Tuhan menjadi andil yang besar untuk kesuksesanku. Apakah mereka lupa, berapa banyak orang yang telah dekat kepada Tuhan saja bisa kutipu dan kuperdaya, apalagi sekumpulan orang-orang lemah yang hanya mengaku dekat dengan Tuhan, namun sejatinya hati mereka mencintai gemerlap dunia dan isinya?
Jadi sekarang aku sedang menonton hasil kerja Dasim dan hasil kerjaku. Kini mereka meributkan hal-hal remeh-temeh. Mereka saling berseteru, padahal mereka tidak saling mengenal. Mereka mengatakan puas ketika telah memberikan ujaran kebencian, ketika telah menghujat, ketika telah mengatakan bahwa yang mereka sampaikan adalah kebenaran.
Ah, kebenaran macam apa yang mengikutsertakan hawa nafsu untuk dibilang benar? Mereka mengira apa yang dilakukannya adalah sebuah amal, ha-ha-ha, sungguh mereka tertipu dengan bisikanku.
Untung saja mereka lupa, eh, atau barangkali tidak tahu, bahwa syarat sebuah amal adalah jika niat murni karena Allah, Tuhan semesta alam, dan juga dilakukan dengan cara yang sesuai dengan aturan yang telah dibuat oleh Tuhan.
Kelakuan mereka membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Begitu mudahnya mereka kutipu. Lucunya telah berulang kali kutipu, mereka tetap tidak menyadarinya. Kau tahu? Sesungguhnya kubisikan di telinga mereka, bahwa dengan menghujat, memaki, membela sesuatu yang mesti dibela merupakan amal baik pula, tidak peduli bagaimana caranya, dan tidak peduli siapa sasarannya.
Jadi, ya, aku tengah bergembira. Jangan rusak kegembiraanku dengan kabar baik lainnya. Aku menikmati pekerjaanku sebagai si penipu. Sebab semakin banyak orang yang tertipu, maka akan semakin besar kesempatanku untuk menarik para manusia itu untuk hidup kekal bersamaku.
Di mana? Ah, ya, sudah barang tentu bukan di surga. Sebab aku begitu dengki melihat mereka yang kini hidup enak di tempat yang katanya potongan surga ini. Tentu saja, tidak boleh ada dua surga untuk mereka.***
Sleman, Mei 2024
Puput Sekar, lulusan Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Jakarta. Menulis novel Elang dan Bidadari, Republika 2012, Beo Zelga, Prudencia 2020, Splash Love in Seoul, Prudencia, 2021, Joko Klobot dan Nyi Kemretek, NAD Publishing, 2023. Kegiatan saat ini adalah aktif menulis di komunitas Nulis Aja Dulu, Terus Saja Tulis, dan Opinia. Penulis bisa dihubungi di Facebook: Puput Sekar, IG: @puputsekar_putse, dan email: [email protected]
Tirai yang terbengkil-bengkil susah payah kau singkap itu senyata luas terpampang di hadapanku. Meskipun belum sepenuhnya terang kumasuki. Akan tetapi hitam putih yang terhampar di sana halus-halus mekar dalam liat merahku. Tentu saja merah yang bebal-teruk dan bukan main litak pada suluk pencariannya. Bagiku, menjadi salik (serupa kau) patut mengajuk jalan yang kau pajang melintang lepang. Karena itu janganlah cemeeh yang kau tonjolkan, sehingga esok kiranya tumbuh menjulang tiada antara kita yang perlu bertukar belas kasihan.
Akasia 11CT
Hijau
Terberkatilah ibumu telur mata sapi pagi; dan ayahmu luas langit tengah hari. Sampai bentala semata indah oleh halus-tebal budi pekerti; indra kami segar-bugar memandangi.
Dari rambutmu yang mahir menyaru, tahukah kau kami belajar mendirikan rencana (kami simpan yang patut dan kami bagi yang layak dibagi). Agar kelak apa yang belum kami maklumi, mudah percuma kami siasati.
Akan tetapi, (oh daging tak tahu diri) terlampau loba kami mencuri perangaimu tinggi agung tak berperi; namun senyata tak putus terus memberi. Sehingga semua rencana tentang akal budi, sekejap tunggang langgang angkat kaki.
Maka baris-berbaris kami ingin menakluki; semua yang telah sempurna kau masuki. Seraya diam-diam, kami tebas pula urat leher anak-cucumu yang kokoh berdiri (menahan laju limpahan bah).
Sungguh, betapa hijau kini tubuh kami sekadar mahfum cintamu tak kunjung habis menepi. Oleh karena itu, kutuk saja kami segera! Sebelum hijau budi pekerti tandas merasai jatuh ke bumi.
Akasia 11CT
Kuning
Belerang, bambu, gersing, India, jagung, janur, jenar, kenari, kepodang, limau, loyang, madu, malam, pepaya, pandang semua senang semata mengenakan mantel mahardikamu. Kau acap pula kupergoki berbaring di antara roti sarapan pagi; kadang dalam piring warteg makan siang kami, pun begitu juga kau terampil mahir menyelinap ke Terang Bulan kami yang legit menggigit (lihat, betapa pelit kami berbagi, sedangkan kau tekun rajin memberi).
O, betapa papa kami, sampai-sampai alpa bila namamu pernah pula duduk mesra bersanding dengan moyang bangsa Huaxia yang maju sejahtera. Begitu pula sungai yang jenjang dari pegunungan Tibet tak kuasa menerima kau sebagai nama. Kekallah; abadilah meski riwayatmu tak selalu terbaca mata. Kaukah cahaya yang menjelma terang siang, atau sebatas ilusi pantulan, belaka?
Akasia 11CT
Merah
Umpama jantung jelita tertawan gelisah
susah payah menanggung derita rindu,
seperti gaun terang wong cilik di pemerintah
tak cukup buas menjaga amanat rakyat
ibarat selimut orok dalam kantung darah
licinlah; lancarlah jalan melewati liang,
serupa tandik lombok Jawa di lidah
amboi; keringat dingin jua nan mengalir,
(tapi bukan jerawat; bukan pula kecup puan,
walau mekar meriah kala tuan hadir bertandang) –
percayalah itu semata laksana,
misal belaka perihal jubah yang terang menyala,
memelompat bersembunyi dalam kata pun bahasa,
supaya terhalau duga sangka ke tepi jurang
tikai selisih yang tak berguna.
Akasia 11CT
Biru
kemari, datanglah segera laut
biar kucelupkan jari-jari pagi
ke alas tubuhmu yang semrawut
kesini, lekas cepatlah langit
agar kugenapkan putih sepi
menjadi corak terang menggigit
tapi, baik-baiklah memantul
supaya lapang-lempang jisimmu
mudah percuma nubuat menukilkan
selendang rambutmu molek di bait puisi
Akasia 11CT
Putih
Jika hatimu semerah apel di kebun Tuan sukacita. Maka putih hatiku laksana awan selepas hujan sore di gubuk duka lara. Kata orang, hati yang merah tampak memesona. Sehingga segenap yang kering pucat betapa kukuh-ingin tampil menyentak. Namun bila kekasih adalah tujuan, maka yang putih akan selalu rela berkorban. Serupa laron terbang menuju pijar terang; biarlah mati asal wajahnya terang terlihat.
Akasia 11CT
Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Puisi-puisinya ada yang ditolak redaksi ada yang dimuat redaksi. Buku kumpulan puisinya “Pertanyaan yang Menyelinap” akan segera terbit.