Katalog

Puisi

Puisi Budhi Setyawan

Seblak Sublimasi

pada tepian jalan dekat toko swalayan
kerumunan adalah antidot kesepian urban

teramat dingin diabaikan oleh kenyataan
percakapan sengit dilakukan dalam genggaman

lalu dicarilah sekelumit letup kehangatan
alibi lepas dari kejaran segepok persoalan

bertemulah pada sebuah warung seblak
barangkali jadi awalan bekal buat tergelak

dalam panas minyak goreng curah
segala yang keras akan luluh pasrah

bawang merah bawang putih pun akur
berjumpa dan sepakat untuk melebur

kemiri daun bawang dan cabai rawit
aduk pelan pelan melupakan rasa sakit

ditambah gelegak didih air meletuk
kerupuk pun lunglai kehilangan keriuk

sawi mi makaroni baso dan sosis
tipis celoteh kadang sanggup mengiris

bisa juga tambahkan sepasang ceker
mesti cermat agar cinta tak mudah tercecer

paduan aroma kencur dan kenyal telur
jadi bagian dari resep memanjangkan umur

Tangerang Selatan, 13 Mei 2024


Apologia Jelaga

saat terjaga dari himpitan malam
ingin  dia tulis sajak tentang tuhan
tetapi kata-kata berjalan pada hampar
basah dan telanjang

lalu pertanyaan tentang cinta
menjelma antologi nonsens
yang sasar pada geletar

entah di mana kalam
yang ada kenyal kelam di semak liar
pengakuannya hari ini seonggok hambar

Bekasi, 30 Maret 2024 


Sajak Dinding Kamar

ia begitu keras dan dingin
dengan ketebalan disepuh waktu
dan tafsir yang kirimkan lembap
menampung nyanyian mimpi

ia pun rajin merekam kejadian
pertempuran di atas ranjang
geliat pemikiran dan ideologi
pergulatan tindih dan silang
pertukaran rintih dan riang
kata kata berpilin dalam kepalan
setiap pergerakan disulut saat remang

lalu ia membaca percikan memanjang
menderetkan kumpulan teriakan
suara suara yang kemarin tertahan
di pedalaman dinding kamar
menjelma ledakan ledakan di halaman koran

Bekasi, 30 Maret 2024 


Laki Laki dan Perempuan

seorang laki laki terburu buru
nyalakan cinta dari matanya yang gelap
untuk dunia yang tak dipahaminya

seorang perempuan diam diam
sembunyi di balik mulutnya yang amat sepi
telah siapkan liang jebakan begitu rapi

Tangerang Selatan, 13 Mei 2024 


Alarm Jam 3 Dini Hari

kau matikan bunyi alarm itu
yang sebenarnya tadi kau tunggu
kau pun menggerutu: ah itu lagu
mengganggu komposisi mimpiku

kau ingin sembahyang dan berdoa
tapi kau urungkan karena belum mandi besar
sehabis berjam jam bersenggama
dengan sajak sajak yang sintal dan liar

kau pijat sendiri kepalamu di atas telinga
masih ada sisa cenut cenut dari lenguh kata
lah, buat apa aku bengong terjaga jam segini
kalau hanya bisa mengencani sepi

Tangsel, 21 Mei 2024 


Budhi Setyawan, atau Buset, seorang dosen yang menyukai musik dan puisi. Mengelola Kelas Puisi Bekasi (KPB) & tinggal di Bekasi. Buku puisi terbarunya Elegi Elegi Yogya (2024). Instagram: busetpurworejo

Ragam

SRIWEDARI: BUKU DAN MATAHARI

Ibu-ibu termangu bersama buku-buku. Teater perbukuan tersaji Senin, 21 Oktober 2024, saat siang makin garang. Aku di situ pukul 1 siang. Berjalan dengan tubuh berkeringat dan kecut. Tatapan mata yang lekas menimbulkan prihatin.

Aku tak ingin sendu tapi buku-buku itu membisu, tak berucap nasib atau memberi marah-marah mumpung Indonesia memiliki presiden baru. Para ibu di puluhan kios pun mustahil berharap pembentukan “menteri perbukuan” di Indonesia. Mereka yang sebentar lagi menyerang, yang akan meninggalkan kios dan bercerai dari buku-buku tak pernah terjanjikan menemukan pembaca.

Jika bisa berbahasa Inggris, siang itu aku ingin berjalan dan menyapa mereka diselingi lagu Sting yang berjudul The Book of My Life. Lagu yang mengandung masalah biografi, bukan perdagangan buku atau orang yang meratap setelah dikutuk buku selama belasan tahun. Telingaku kadang menikmati lagu Bernadya, yang mengungkapkan diri, asmara, dan buku.

Aku yang masih bernapas dengan ribuan buku sadar bakal sekarat dan sia-sia. Aku tidak pernah mampu berkisah seperti Sting atau mengandaikan nasib tokoh dalam lagu Bernadya. Nasibku mungkin buruk ketimbang para pedagang buku di kios-kios belakang Stadion Sriwedari, Solo. Siang yang memiliki 12 matahari tidak memberi kabar baik untuk para pedagang buku, yang berada di seberang semringah tokoh-tokoh diangkat menjadi menteri, yang mengumbar mimpi di Jakarta.

Hari itu aku sekadar ingin memberi sapaan, sebelum berita duka dan kecewa beralamat di Sriwedari. Beberapa tahun lagi, nostalgia dan doa terucap merujuk Sriwedari. Pada suatu hari, aku mungkin enggan menjadi pendoa. Biografi ada di situ. Aku pernah menjadi pendoa sepanjang jalan saat meninggalkan rumah menuju Sriwedari. Yang teringat: aku mendapat Jejak Langkah, Bacaan Mulia, Max Havelaar, dan lain-lain di Sriwedari. Dulu, aku datang sebagai remaja berusia 17 tahun. Kini, usiaku 43 tahun yang terengah-engah untuk bernapas dengan buku-buku dan biasa bermimpi buruk setelah khatam buku-buku.

Di kios memamerkan buku-buku sedikit dan berdebu, aku menemukan buku merah. Yang terbaca di sampul: Tentang Bermain Drama. Buku disusun Rendra, yang diterbitkan Pustaka Jaya. Seingatku, aku membaca buku itu saat masih murid SMA. Lelaki bercelana abu-abu mulai suka menonton pementasan teater di TBJT (Solo) dan beberapa kampus. Buku persembahan Rendra itu sempat membuatnya ingin sibuk dalam teater. Maka, ia memang telanjur dalam teater sebagai aktor, penulis naskah, dan sutradara. Pada saat ngambek dan capek, ia memilih membuat resensi atau tulisan mengenai teater. Buku merah, buku yang membentuk si remaja perlahan mengerti teater atau seni.

Di kios berbeda, aku menyapa bapak yang pendiam. Wajah kalem dan cara duduk yang membuatku kagum. Pastilah ia tabah sebagai penunggu buku-buku yang sulit laku. Keringat mengalir di wajahku. Tanganku memegang buku kuning. Tampak gambar lelaki memegang dua wayang. Yang ingin terbeli adalah buku garapan Harun Hadiwijono berjudul Konsepsi tentang Manusia dalam Kebatinan Jawa. Buku yang aku santap saat masih remaja. Pada awalnya, aku membaca buku-buku Niels Mulder yang membahas (kebatinan) Jawa dan Paul Stange. Dua buku Harun Hadiwijono aku baca agak serius meski aku tak menempuhi jalan kebatinan. Buku yang satu lagi mengaitkan Injil dan kebatinan (Jawa).

Pada saat mau membayar buku yang murah, mataku melihat punggung buku yang lusuh. Aku mudah membacanya dari jarak dua meter: Kumpulan Dongeng Binatang 1. Aku sudah memilikinya sejak lama, bersama buku-buku besar bergambar terbitan Gramedia masa lalu. Buku yang apik dan memikat. Aku meminta diambilkan gara-gara buku itu berada di tumpukan. Dua buku mendapat harga mufakat. Aku mengeluarkan selembar uang. Pada saat pedagang mencari uang kecil untuk kembalian, aku masih menggerakkan tangan membongkar tumpukan buku. Pembayaran selesai.

Berjalan mau pergi, aku iseng menanyakan buku merah berjudul Aporisma Kahlil Gibran. Buku kecil, yang bisa masuk saku dan enak di pegangan tangan. Sebenarnya, aku sudah mengoleksinya, sejak remaja. Masa silam yang membuatku menjadi pembaca buku-buku Kahlil Gibran edisi terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan Bentang, Fajar Pustaka, Pustaka Pelajar, Pustaka Jaya, dan lain-lain. Indonesia masa 1990-an dan 2000-an dimanja Kahlil Gibran. Aku yang cukup lama terbuai Kahlil Gibran. Siang itu buku merah yang kecil boleh aku bawa setelah memberi uang lima ribu rupiah. Panasnya sinar matahari ingin aku redakan dengan iseng-iseng membuka halaman-halaman memuat kalimat-kalimat puitis buatan Kahlil Gibran. Aku agak malu membaca tapi masa lalu itu memanggil.

Di ujung barat, aku berhenti di kios yang sesak buku. Aku mengetahui buku-buku itu sulit laku, menunggu pembeli yang beriman atau pembeli yang sesat. Ratusan novel ditata, yang sudah aku lihat sejak beberapa bulan yang lalu. Dugaanku: Indonesia masih memiliki warga yang gemar membaca novel. Namun, dagangan novel di kios itu tabah. Yang aku ambil berjudul Norwegian Wood gubahan Haruki Murakami terbitan KPG. Aku sulit mengaku sebagai penggemar novel-novel Haruki Murakami. Aku membacanya, tidak memiliki kesan-kesan yang kuat atau berpengaruh besar dalam hidup. Pada hari-hari agak “istimewa”, aku kadang mengenakan kaos yang bertuliskan Haruki Murakami. Namun, percayalah bahwa aku bukan pemuja Haruki Murakami meski terkenal di dunia. Sekali lagi, buku itu murah. Pedagangnya tersenyum mengalahkan senyum matahari yang berada di atas kios dan pohon-pohon.

Duit di saku celana berkurang, buku-buku dalam kresek bertambah: jumlah dan berat. Aku ingin segera meninggalkan kios-kios di Sriwedari, berpindah tempat ke sekolah untuk menunggu anak-anak pulang. Menunggu bersama adegan membuka halaman-halaman buku. Berjalan lungkrah menuju parkiran sepeda motor, aku malah melihat buku digantung di depan kios. Buku yang aku sangat ingat sampulnya. Buku itu berjudul Pustaka Nada, buku memuat ratusan lagu yang digubah AT Mahmud. Selama bertahun-tahun, aku biasa bercerita dan menjelaskan kepada orang-orang mengenai lagu untuk anak yang digubah Ibu Sud, Pak Kasur, AT Mahmud, dan lain-lain. Di rumah, aku mengoleksi ratusan buku memuat lagu anak-anak di Indonesia, dari masa ke masa. Pustaka Nada, buku tebal terbitan Grasindo, yang dianggap memuat lengkap lagu-lagu AT Mahmud.

Apa aku bakal bersenandung di jalan? Usaha mengingat dan menghormati AT Mahmud. Pamit dari Sriwedari, tujuh buku berhasil dibeli dengan harga terjangkau. Para pedagang cukup senang mengetahui buku-buku laku. Uang di tangan atau masuk dompet. Mereka bisa jajan es teh atau membeli makanan untuk menumpas lapar saat siang masih memberi 12 matahari.

Aku berada di jalan menikmati panas, tak ada keinginan membeli es teh atau mampir di “es kapal”. Alamat paling jelas: sekolah. Aku ingin segera duduk di dekat tempat orang-orang biasa berwudhu. Tempat yang biasa aku gunakan untuk membaca buku-buku atau melamun sambil menunggu anak-anak pulang sekolah. Di situ, aku kadang ikut berwudhu, sebelum  masuk ke masjid mau berumur seratus tahun. Pengalaman membuatku iseng berkata di hadapan teman-teman: “Berwudhu sebelum membaca buku.” I Kabut

Cerpen

Seorang Laki-laki dan Mainan Favoritnya

Cerpen Titi Setiyoningsih

“Laki-laki hanya akan merusak mainan favoritnya,” katamu sekian kalinya di depan cermin. Tampak tanda kebiruan di bawah matamu, merah muda di sudut bibir, dan sayatan kecil di kening atas.

Pelan sambil meringis kesakitan kamu tepuk-tepuk concealer dengan beauty blender untuk menyamarkan warna tanda luka itu. Perih. Sakit. Tapi tak sesakit yang dirasakan hatimu. Lalu agar lebih sempurna, kamu tambahkan foundation, bedak tebal, lengkap dengan blush on dan gincu nude merah jambu.

Terdengar ketukan pintu apartemen. Wajahmu yang semula muram otomatis kau tarik seceria mungkin. “Halo, ayo masuk,” ujarmu berusaha menutupi kegelisahan. Dua perempuan itu serta merta memelukmu. Erat sekali. Sampai pundakmu yang masih lebam kembali terasa sakit. Tapi kamu tak boleh mengaduh, kamu harus meyakinkan mereka bahwa kamu baik-baik saja.

“Gimana keadaanmu?” tanya mereka. “Gila ya laki-laki itu! Sudah berapa kali dia melakukan ini sama kamu? Berita kalian sudah viral di mana-mana! Untung ada yang ambil videonya!”

Kamu persilakan mereka duduk di sofa paling nyaman di pojok ruangan. “Bisa-bisanya lima tahun kamu bertahan dengan laki-laki sekasar itu? Kamu sudah putusin dia, kan?”

Kamu menggeleng pelan. Kedua sahabatmu yang sekarang merangkap tim pengacaramu menampilkan raut tak percaya.

“Kenapa belum?”

Bendungan di matamu tak bisa lagi kau tahan. Jebol disusul tangis sesenggukan. Sahabatmu kembali memelukmu. “Please, bantu aku cabut laporanku, aku berubah pikiran,” bisikmu. “Kalau kalian sayang aku, tolong bantu cabut laporanku kemarin,” rintihmu.

“Dia mukulin kamu di depan umum lho, semua orang sudah tahu sekarang. Kamu diancam dia?” tanya salah satu dari mereka.

Kamu hanya diam dan menggeleng. Bagaimana cara menjelaskan kepada kedua perempuan ini? Mereka tidak akan percaya dengan ceritamu. Selama ini ada suara di kepala laki-laki itu. Suara-suara itu memanggil hujan lebat disertai petir yang membuat laki-laki itu mengakhiri hari-hari indah penuh kesenangan mereka.  Kamu terlalu tahu banyak tentang laki-laki itu yang mereka tidak tahu. Apalagi setiap kali dirimu teringat tatapan laki-laki itu saat pertama kali mendapatkanmu. Mereka berdua mesti melihat bagaimana tatapan mata itu berbinar kala itu.

“Dia begitu karena cinta sama aku. Kasihan dia,” katamu akhirnya.

“Kamu nggak kasihan sama Mama Papamu? Kami semua nggak mau kamu disakiti!” nada mereka kini mulai meninggi.

Kamu mulai gelisah dan menggigiti kuku. Kamu mendadak tak lagi mengenal kedua perempuan di depanmu. Mereka tak lagi memahamimu sama seperti kedua orangtuamu. Mereka masih terperangkap dalam kardus plastik di toko mainan. Sedangkan laki-laki itu telah mengeluarkanmu dari kotak kardus di pajangan. Membawamu ke dunia luar, mengambil semua rasa sakit, dan membuat hidupmu jauh lebih nyata. Dirimu dan laki-laki itu sama-sama memiliki luka di masa yang lampau. Luka yang hanya bisa dipahami kalian berdua, tidak dengan lainnya.

Sebelum kamu bertemu dengannya, hidupmu jauh lebih merana. Beberapa kali kau coba sayat tanganmu dengan pisau dapur. Tak ada yang betul-betul mengerti kamu. Juga dunia yang ditawarkan kedua orangtuamu terkesan kosong. Kaku. Seperti mesin. Juga sekeras batu. Lalu datang laki-laki itu menarikmu ke dunia baru. Dunia sesungguhnya, real, bukan imitasi. Dunia yang terasa gila sekaligus memabukkan. Dia memperlakukanmu dengan hati pun pengertian. Sejak itu tak lagi terlintas pisau dapur yang menggorok tanganmu. Dia memberimu warna. Kadang merah muda ketika kalian kasmaran. Biru saat kamu rindu. Abu-abu saat hujan, kelabu seperi sekarang. Tapi tak pernah hitam seperti yang dulu keluargamu lukiskan padamu.

“Kalau dia cinta kamu, dia nggak mungkin nyakitin kamu. Dia nggak mungkin mukul kamu sampai pingsan,” ujar sahabatmu kembali melembut.

“Kalian tak mengerti. Akulah favoritnya. Laki-laki hanya akan merusak sesuatu yang menjadi favoritnya,” katamu mulai melamun. Bukankah demikian? Bocah laki-laki hanya akan menyentuh dan seringkali tak sengaja merusak mainan favorit yang kerap dimainkannya.

Air matamu kembali mengalir. Disusul buliran keringat di kening. Kali ini membuat bedakmu luntur. Kedua temanmu terperangah dengan wajahmu yang tampak mengerikan. Kebiruan di bawah mata dan merah muda di sudut bibir. Kamu menyadari arti tatapan mereka.

“Aku akan memperbaiki diriku. Setelah aku memperbaiki diriku, dia akan merindukanku,” ujarmu setengah berbisik.

“Laki-laki itu sudah membuangmu!” kata sahabatmu jengkel.

“Setelah aku memperbaiki diriku lagi, dia akan merindukanku,” katamu ke sekian kali. “Sekarang kalian pulanglah!” ***


Titi Setiyoningsih, dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret (UNS). E-mail: [email protected]

Ragam

SASTRA (BERAPI) DI GUNUNG DAN JAHANAM

Siang, Jumat, 18 Oktober 2024, bertakdir panas tanpa harus membandingkan dengan kopi yang tersaji di meja saat pagi masih malu-malu. Tak usah minum kopi saat siang, mengelak dari pesta es teh sepanjang jalan. Matahari tidak untuk dikutuk.

Bila ingat gambar matahari di sela dua gunung, Bandung Mawardi menunduk dengan lesu. Ia belum pernah melihat matahari terbit di (puncak) gunung. Lelaki yang ringkih untuk membawa kaki-kakinya menuju puncak gunung. Ia mudah menyerah dan kalah, memilih menjadi penghuni rumah sampai kiamat tiba. Lelaki yang memalukan!

Ia berhasil melewati siang di jalan tanpa makian. Diri yang merasa terlalu dimanjakan matahari, yang sinarnya melebihi api, yang memberi sumuk tidak keruan. Bandung Mawardi ingin insaf, berani menanggungkan hukuman-hukuman di bawah terik matahari. Ia memang harus terbakar sinar matahari agar mengerti siksa.

Panas itu masih terasakan saat sore. Ia mau minggat dari rumah menuju Gunung Lawu. Teman sudah berada di pekarangan, membawa sepeda motor yang bakal membawa tubuhnya berjarak jauh dari rumah. Sebelum bergerak mengukur jalan, dua gelas teh dinikmati dua lelaki keparat yang berlagak mengumbar omongan sastra dan intelektual.

Sore yang ditunggangi mendung. Dua lelaki sempat mandi air hujan di jalanan, setelah malu dan tak berdaya mengurusi sepeda motor yang macet. Cilaka! Ilmu menggenjot dan mengatur gas saja tidak mengerti. Dua lelaki yang mendapat kebaikan lelaki tua di bengkel. Ia yang menggenjot, mengembalikan nyawa sepeda motor agar mampu bergerak ke arah Gunung Lawu.

Di jalan penuh kemesraan pepohonan, mereka memberi mata kepada senja. Hidung yang mendapat udara berbeda, yang memicu mulut menebar kata-kata agak berteriak. Kata-kata yang berceceran di jalan naik-turun dan berbelok-belok. Omongan yang mudah sesat.

Sejam berlalu dan menit-menit yang harus dimiliki bersama roda berputar, tibalah dua lelaki di rumah yang dingin. Di situ, orang-orang berjanji mau merayakan sastra. Mereka memberi nama mentereng: “Sastra di Gunung”. Bandung Mawardi hanya mengikuti ajakan tanpa ingin menyodorkan tandingan ajakan: “Sastra di Langit”, “Sastra di Neraka”, atau “Sastra di Matahari”.

Yang tersiksa adalah bokong. Bertahun-tahun, Bandung Mawardi dikutuk ambeien. Maghrib, ia berhasil turun dari sepeda motor dengan kesengsaraan bokong. Terlalu lama, bokong itu menanggung beban raga yang aib.

Lega, dua lelaki merasakan suasana gunung, tak harus sampai ke puncak Gunung Lawu. Dingin yang tidak usah dipesan lewat lokapasar atau dihasilkan dengan listrik. Bandung Mawardi merinding dan kelelahan. Dingin yang mungkin menyelamatkan ketimbang panas saat siang masih berada di Solo dan rumah. Mustahil mengelak dari dingin. Ia berharap bertemu kopi. Kasihan. Rumah itu tidak dihuni kopi, hanya ada orang-orang yang omong-omong dan merokok. Sabar. Kopi belum punah dari dunia. Kopi belum perlu dipesan di neraka. Kopi, kopi, kopi. Tidak ada pesulap atau pemberi keajaiban. Kopi di pikiran saja. Malam pun bimbang sebelum jahanam.

Duduk bersama teman-teman, mengucap apa saja yang bisa dimengerti atau sekadar membuat tertawa. Konon, cara itu mengurangi dingin. Yang terlihat, tikar-tikar yang  dimaksudkan menjadi saksi perjumpaan dan perayaan kata.

Yuditeha tampak memelas. Sosok yang menua tapi keranjingan bersastra. Malam itu tubuhnya lemah dan sakit. Kasihan. Lelaki yang agak sulit diajak tertawa. Sakit itu perlu agar hidup tidak sembarangan. Bos besar Kamar Kata yang mengadakan “Sastra di Gunung” itu tetap tangguh, membawa sakit ke gunung, meninggalkan perlindungan rumah.

Puluhan orang makan malam. Di atas tikar, sajian itu menggoda: nasi, oseng-oseng, tahu, telur, dan bakwan. Bandung Mawardi lekas makan, tak mengambil sambal. Ia takut perut bermasalah. Di televisi tertempel di dinding, Egha bersenandung sedih: “Sumpah dan Cinta Matiku”. Dulunya, lagu itu milik Nidji. Malam yang lara. Bandung Mawardi dihajar sentimental sambil menyembunyikan tangisan: “Selama nafasku berhembus, hanya kamu di doaku.” Ia masih ingin memberi diri untuk yang tercinta saat dunia membencinya. Ia mau bersumpah untuk sisa-sisa napas yang mungkin dapat menembus segala kehancuran selama di dunia. Lagu asmara picisan. Bandung Mawardi sedang makan nasib setelah mengetahui piring sudah kosong. Kopi tetap absen. Derita yang bertambah panjang. Ia enggan bersumpah kopi. 

Tuhan, kopi sedang dolan atau minggat ke Planet Yupiter? Teman-teman sengaja membiarkan dingin tanpa lawan (kopi). Terkutuklah mereka yang menjanjikan kopi tapi malam itu tiada meski lagu-lagu Egha sudah rampung. Teman-teman bergantian membaca puisi dengan mikrofon. Namun, semua itu tidak bisa menggantikan kopi. Lumrah, Bandung Mawardi merana. Kopi masih kemustahilan.

Pengganti kopi yang panas adalah pidato Yuditeha. Seumur hidup, Bandung Mawardi telat menyadari “kemarahan” Yuditeha. Lembaran-lembaran kertas ramai kata itu dibacakan sambil berdiri. Tubuh yang sakit terlupakan oleh getaran omongannya dan wajah yang garang. Ia memberi kutukan-kutukan dalam sastra. Akibatnya, Bandung Mawardi sejenak lupa kopi dan membuka mata sulit berkedip. Malam itu malam jahanam.

Yuditeha memberi tuduhan-tuduhan dan sangkalan-sangkalan. Ia sengaja marah dan menuntut jawaban. Mulut yang memasalahkan desentralisasi sastra. Mikrofon di depan mulutnya bisa pecah jika ia membiarkan kata-kata terus membara. Di hadapanku, lelaki itu tidak sakit. Ia ingin mengusir dingin dari gunung. Tangguh! Bandung Mawardi lekas ikut berpusing tapi memaksa tabah mengetahui sastra di Indonesia. Sebenarnya, ia sudah takut dan malu di hadapan sastra Indonesia. Ia telah terpencil dan ingin meratap di sungai mengering saja.

Di hadapannya, Yuditeha justru membawa api-api sastra. Di Indonesia, sastra masih memudahkan sengketa dan omelan-omelan sejuta kata. Malam tanpa kopi tapi kata-kata diucapkan di muka mikrofon sedikit memberi pemanas Jumat malam.

Tibalah lelaki membawa termos dan gelas plastik. Pengganti yang harus dinikmati. Teh. Lelaki itu mempersembahkan teh panas. Bandung Mawardi lekas mengambil, memandangi, dan minum teh. Yang membuatnya masih mampu memberi kata-kata mengenai fiksi di Indonesia, dari masa ke masa. Ia memberi cuilan-cuilan, sejak awal abad XX sampai sekarang. Novel-novel yang dibacanya dijadikan bekal membicarakan pengarang, tema, masa, penerbit, birokrasi, dan lain-lain. Ia tidak cukup fasih, kalah pamor dari pidato Yuditeha. Bandung Mawardi terbukti lembek dan membodohkan diri dalam sastra.

Menit-menit berlalu, di hadapannya tetap tidak ada suguhan kopi. Teh mau habis.  Ia masih meladeni ocehan Panji S dan Andri S. Omongan malah kebablasan ke sastra (dan) anak. Berlanjut lagi ke politik-penerbitan dan (industri) sastra dibayangi keraguan. Malam yang malah kembali dingin tapi berbeda dengan senandung Egha: “Dinginya angin malam ini… “ Bandung Mawardi jadi insaf bahwa tak mungkin “mengubah buih menjadi sastra”. Yang terjadi adalah sastra yang kedinginan. Lelaki yang mustahil menggapai bintang-bintang di langit sastra atau menyapa di puncak gunung sastra.

Malam itu Bandung Mawardi merasa bakal ambruk. Ia tidak bisa memberikan tubuhnya kepada gunung yang dingin. Pulang. Ia ingin pulang setelah menyadari jebakan masuk angin.

Ia meninggalkan gunung. Ia pamit dari sastra. Sampai di rumah, hari telah berganti. Tidur di kasur, ia merasa masuk (dalam) angin, bukan masuk (dalam) sastra. Lelaki yang terkapar: menyerah dan kalah. Malam itu tanpa kopi. Malam yang jahanam. Malam yang memberinya mimpi buruk agar segera terjaga sebelum terdengar azan subuh. I Kabut

Puisi

Puisi Aris Rahman Yusuf

Rumah Bambu

Saat membersihkan rumah

terlintas olehku

tentang sebuah ingatan

rumah bambu

berdinding kata mutiara

Di kamar tengah

aku pernah tenggelam

oleh banjir air mata

sebab sebuah kepulangan

Setelah kepulangan

bayangan lesap

kata-kata tergenggam erat

dan, ketika lepas

ia beraroma mawar

Mojokerto, 9 Agustus 2024


Meditasi

pejamkan mata

dari serpih duka

terserak

tutup telinga

dari bising lisan

menekan iman

biarkan napas turun-naik

mengempas segala selidik

menarik tali cahaya

mengikat legam prasangka

Mojokerto, 3 September 2024


Filosofi Pelukan

Pada mulanya, cinta adalah gaib.

Hingga akhirnya, berkobar pada hati yang tenang.

Pada mulanya, kita hanya sendirian.

Hingga akhirnya, tercipta pasangan.

Dari sebuah sepi,

tercipta rindu yang mengisi.

Sebuah peluk,

hadir dari lamun yang ramai

mengusik damai.

Sebab pelukan,

adalah obat manjur

menutup luka bakar.

Mojokerto, 14 September 2024


Masih Bisakah Aku Menulis

aku masih ingin menulis

namun kata-kata terasa habis

sajak-sajak terasa kikis

membuat hati seakan teriris

sajak-sajakku mungkin terbang

berkelana mencari sarang

hinggap pada sebuah kepala

yang merindukan nyala

sajak-sajakku mungkin kritis

sehingga sulit untuk ditulis

masih bisakah aku menulis?

ataukah menunggu hati kalis

Mojokerto, 14 September 2024


Hadiah Puisi

akhirnya kita memilih

untuk saling berpegangan

setelah badai mengguncang

tubuh kapal dengan kenestapaan

kita pernah memilih

untuk saling menjauh

hingga jerih mulai berlabuh

kita saling mempersembahkan puisi

untuk kembali saling mengisi

meski masih ada mulut latah memprovokasi

mulut yang bilang itu basi

Mojokerto, 15 September 2024


Saat Makan Nasi

Ia makan nasi dengan wajah pasi

lidahnya pelan menelan duka

pikirannya hanya berperang

tanpa berani keluar dari sarang

Rumitnya hidup hanyalah ranjau kecil

hanya jerit mengisi ruang dada

ia tetap menghitung almanak

hingga jerit lepas satu-satu

Ia makan nasi dengan perlahan

Sambil menyembunyikan duka tertahan

Mojokerto, 30 September 2024


Sebuah Wajah

Sebuah wajah tergeletak di meja

wajah itu tertutup rahasia

mengajak mata menyelam

memetik tabir yang karam

Wajah itu bisa berubah warna

mencairkan suasana

menyalakan cinta

melenyapkan duka

bahkan menanam petaka

Wajah itu memancarkan cahaya

di alam baka

Mojokerto, 1 Oktober 2024


Aris Rahman Yusuf, pencinta bahasa dan editor lepas. Suka menulis puisi dan nonfiksi. Tulisannya pernah terbit berupa antologi, di media massa, dan di media daring. Dua buku puisinya yang sudah terbit, yaitu Ihwal Kematian Air Mata (buku puisi solo) dan Lelaki Hujan (buku puisi duet). Facebook: Aris Rahman Yusuf dan Instagram: @aryus04.

Katalog

Tamu dari Belakang

Keresahan memang tidak sepantasnya mengendap dalam bentuk yang sama. Dia harus pergi dalam bentuk hikmah dan pemikiran baru. Berisi cerpen-cerpen kejiwaan.

Penulis: Yesi MH

Cetakan: Pertama, Tahun 2024

Penerbit Nomina Ide Karya

83 halaman; 13 x 19 cm

ISBN:

Harga: Rp 75.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Curhat

Ketika Jiwa Melankolis Belanja di Pasar

Curhat Zoe Lora

Minggu pagi ini aku sengaja bangun lebih awal. Kupikir mulai sekarang aku akan mengisi pagiku dengan olahraga. Ada sepeda statis di teras yang entah baru berapa kali kupakai sejak awal dibeli. Baru sekitar lima belas menit berlalu, bahkan keringatku juga belum sempat keluar, mama muncul dengan kantong belanja terlipat di tangan kanan, serta dompet di sebelah tangannya yang lain.

“Ke pasar ya, Mah? Aku ikut ya.” Tanpa menunggu jawaban, aku turun dari sepeda statis dan mengintilnya. Jarak rumah dengan pasar tradisional terdekat sekitar setengah kilometer. Jadi lumayanlah, aku bisa berjalan kaki sejauh satu kilometer pagi ini. Awal yang cukup baik untukku. Lain halnya dengan mama, setidaknya 3-4 kali seminggu pasti belanja ke pasar.

Saat itu kami berjalan mengambil rute ke selatan, melewati SD-ku dulu. Karena belum terlalu jauh dari lingkungan rumah, tentu saja sesekali kami berjumpa dengan tetangga. Ada yang sedang duduk di teras, sengaja berjemur matahari pagi. Ada yang sedang menyapu halaman. Ada juga yang berpapasan di jalan karena hendak pergi ke suatu tempat. Pemandangan normal yang memang akan sering dijumpai saat tinggal di kampung. Aku sering mengistilahkannya dengan basa-basi. Eits, bukan dalam hal buruk. Bukankah memang begitu kodrat hidup bermasyarakat? Menjadi manusia sosial yang peka terhadap sesama sebagai bentuk kepedulian.

Sepanjang perjalanan, mama sudah seperti kaset yang memperdengarkan kisah hidup anak si A yang barusaja lulus S2 Psikologi di UGM. Atau suami si B yang pulang kerja dari kapal pesiar dengan membawa mobil baru. Termasuk tentu saja perihal si C, janda tak beranak yang sedang menjadi perbincangan hangat saat ini, ia memutuskan pindah agama karena diduga sedang dekat dengan pria kaya. Tanpa terasa, bangunan pasar sudah mulai terlihat. Obrolan kami akhirnya terputus. Sepertinya aku bisa cukup terhibur juga dengan cerita hidup orang lain. Beruntung, mama tidak mempertanyakan soal perkembangan skripsiku yang sampai saat ini masih bertahan pada Bab III.

“Kerapunya berapa sekilo?” tanya mama pada pria penjual ikan laut. Keduanya terlibat dalam prosesi tawar menawar. Aku tidak begitu memperhatikan karena mataku tertuju pada simbah penjual jenang tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku mendekatinya setelah sebelumnya pamit pada mama dengan mengatakan kalau aku akan menunggu saja di dekat penjual jenang hingga mama menyelesaikan belanjanya.

Kulihat dagangan simbah masih cukup banyak dan lengkap. Aku mengatakan padanya kalau aku ingin seporsi lengkap yang kurang lebih berisi: biji salak, jenang sumsum, jenang mutiara, ketan hitam, dan jenang gempol. Simbah mengangguk tersenyum sembari menyiapkan pincuk daun pisang sebagai wadah. Aku menerima ulurannya, lalu menikmati dengan sendok yang juga terbuat dari daun pisang, atau biasa orang sebut suru. Tidak lama, banyak pelanggan datang mengerubung. Aku sampai tidak enak dan bermaksud duduk menjauh, namun simbah mengatakan bahwa aku tidak perlu ke mana-mana. Jadi aku memutuskan menurut, menyantap jenang lezat di hadapanku sembari sesekali melihat interaksi antar manusia di pasar.

“Berapa, Mbah?” tanyaku setelah ibu-ibu pembeli terakhir pergi.

“Limaribu,” jawabnya singkat.

Aku menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan dan mengatakan tiga porsi lainnya dibungkus saja. Simbah mengangguk.

Perhatianku berpindah pada seorang pria paruh baya penjual pepaya dan pisang yang berada tepat di samping kiriku. Ia sedang bernegosiasi dengan seorang calon pembeli yang berniat memborong. Namun karena harga yang diminta masih terlampau rendah, penjual sepertinya belum rela melepas dagangannya. Hingga pada satu titik, telah terjadi kesepakatan harga meski kulihat wajah penjual tidak terlalu senang dengan keputusannya sendiri. Hal itu tampak nyata sesaat setelah pembeli berlalu dengan membawa puluhan papaya dan lima tandan pisang raja di mobilnya, lalu penjual bergumam, “Lebih baik tidak untung daripada merugi.”

Tidak lama, simbah memanggil dan menyerahkan bungkusan pesananku. Usai mengucapkan terima kasih dan pamit, aku memutuskan menyusul mama ke dalam pasar. Aku berjalan cukup pelan. Selain karena penuh sesak dengan manusia, semalam juga hujan, jadi masih ada sisa-sisa genangan air yang memungkinkan lantai menjadi licin. Sepanjang pencarianku akan keberadaan mama, sesekali aku memusatkan perhatian pada interaksi antar penjual dan pembeli. Tentu saja prosesi tawar menawar tidak terhindarkan. Hanya saja, seringkali aku merasa tidak nyaman ketika pembeli menawar seenaknya pada penjual yang sebagian besar telah lanjut usia. Bukan ingin sok-sokan, hanya saja aku kesal. Aku merasa penampilan ibu-ibu pembeli itu tidak sepantasnya dipakai saat ke pasar, maksudku, aku melihat mereka mengenakan perhiasan yang sangat mencolok. Selain itu, kalimat yang terlontar juga seperti tanpa filter. Tidak lagi memandang sedang bicara dengan orang tua yang sepatutnya bisa lebih sopan, bukan dengan berteriak-teriak atau memaksa begitu. Aku curiga, mungkin saja sebenarnya mereka sedang memiliki masalah di rumah, lalu melampiaskan kekesalan dengan menindas orang-orang tak berdaya berkedok alasan belanja ke pasar. Bisa juga, sebenarnya emas-emas yang melingkari tubuh mereka bukanlah emas asli. Mereka hanya ingin mencari perhatian. Bukan mencari perhatian pencopet tentunya, karena menurutku, pencopet sekarang sudah lebih pintar memilih target mana yang memang benar-benar berdompet tebal dan beremas asli.

“Loh, katanya nunggu di luar,” tegur mama yang seketika mengalihkan perhatianku. Aku hanya nyengir. Kulihat tentengan di kedua tangannya sudah cukup banyak. Aku mengambil salah satu kantong belanjaan terbesar. Mama berjalan menuju lapak penjual tahu tempe. Kebetulan, penjualnya simbah-simbah. Aku memperhatikan mama dengan perasaan cukup was-was. Aku tidak ingat kapan terakhir ikut mama belanja ke pasar. Sepertinya sudah lama sekali, mungkin waktu masih kecil.

“Satunya berapa, Mbah?” tanya mama.

“Delapan ribu, Den,” jawab penjual.

Aku melihat mama mengambil lima papan tempe dan menyerahkan ke penjual untuk dibungkus. Perutku mulai mulas menantikan apa yang akan terjadi setelahnya. Mama mengeluarkan selembar lima puluh ribuan dari dalam dompet, lalu memberikannya ke penjual.

“Tidak usah kembali ya, Den? Saya kasih tujuh saja bagaimana?” tawar penjual.

Mama mengangguk dan meraih bungkusan berisi tujuh papan tempe, lalu memasukkannya ke kantong belanjaan yang kupegang. Seketika aku berpikir, ternyata ada juga cara menawar yang cukup elegan. Setelahnya kami berlalu pergi. Mama memutuskan memanggil tukang becak untuk kembali pulang mengingat belanjaan kami yang banyak. Aku menurut saja. Sepertinya, untuk beberapa waktu ke depan, aku akan olahraga dengan memanfaatkan sepeda statis di teras rumah saja. Tidak akan ikut mama belanja ke pasar lagi sampai aku benar-benar mengerti dan telah siap.***

Zoe Lora

Seorang mahasiswi semester akhir yang hobi traveling dan mengamati hal-hal di sekitar. Penikmat roti tawar yang dicelup cokelat panas.

Cerpen

Sumbangan Awal Tahun

Cerpen Puput Sekar

“Baik, jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, berarti Bapak dan Ibu di sini menyepakati keputusan barusan, ya. Uang sebesar lima ratus ribu rupiah untuk sumbangan awal tahun ini,” pungkas Murtado, Kepala Sekolah SD Negeri Kabutsari yang menjadi pimpinan rapat awal tahun di sekolah itu.

Murtado mesam-mesem semringah. Rapat kali itu tidak terkendala apa pun. Seperti biasa uang sumbangan akan mengalir lagi untuk pembangunan sekolah itu yang rencananya akan dipakai untuk pengadaan CCTV, perbaikan pagar, pembangunan aula, perbaikan lapangan basket. Dalam waktu tiga tahun menjabat di sekolah itu, ia telah banyak melakukan pembangunan yang berhasil dilaksanakan. Tentu saja ini akan menjadi hal baik bagi sekolah, juga bagi kelangsungan kariernya.

Sejak dulu kemampuannya dalam bernegosiasi dengan wali murid selalu berdampak positif. Jarang ada sanggahan atau keberatan mengenai program sekolah yang telah ia tetapkan. Semua berjalan lancar.

Sementara di bangku wali, Ali mendengar kasak-kusuk wali murid lainnya yang membuatnya ingin bergerak.

“Aku aja belum bayar LKS, uang kas kelas, eh ini udah diminta uang sumbangan,” bisik perempuan yang duduk di depannya kepada teman duduknya.

“Iya. Sekarang apa-apa mahal. Ditambah uang sumbangan. Katanya sumbangan, tapi kok dipatok nominal dan ada tenggat waktu maksimal pembayaran,” bisik yang lainnya.

“Gaji suamiku hanya dua juta rupiah. Dibagi-bagi buat macam-macam. Kalau awal tahun begini, ruwet urusan.”

Dan bisikan-bisikan itu semakin lama semakin berdengung seperti sekumpulan tawon. Bukan hanya mengganggu gendang telinga Ali, tetapi juga mengusik hati nuraninya. Sayangnya suara-suara dengung itu terdengar berbeda di depan kelas. Terlebih bagi pendengaran Murtado. Ia sama sekali tidak mempedulikan dengungan. Ia hanya mempedulikan fakta yang sampai pada penglihatannya bahwa sampai ia selesai memberikan penjelasan tidak ada satu pun dari mereka yang berdengung tidak setuju dengan keputusannya.

Dengung keberatan itu tidak pernah sampai ke telinga Pak Murtado. Justru sikap taat dan patuh pada keputusan pria paruh baya itu. Sejurus kemudian Ali tunjuk tangan. Ia merasa perlu menjadi jembatan kasak-kusuk yang ia dengar.

Wajah semringah Murtado seketika berubah mengernyit ketika seorang lelaki yang duduk di bangku belakang tunjuk tangan. Lelaki itu lalu berdiri. Tubuhnya kurus dan ringkih. Murtado menyambutnya dengan tersenyum, meski kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan.

“Nama saya Ali, wali murid dari Adiba.” Dengan suara serak lelaki itu memperkenalkan diri.

Ternyata bukan saja tubuh ringkihnya yang kurang sedap dipandang mata, suaranya juga mengganggu pendengaran. Di tenggorokannya seperti penuh dengan dahak yang mengumpul, dan itu terdengar menjijikan bagi peserta rapat lainnya.

Murtado mulai mengerti situasi. Ya, setiap tahun pasti ada saja wali murid yang keberatan dengan uang sumbangan yang menurutnya sangat kecil, dan memang kecil jika dibandingkan sekolah sekolah negeri lainnya. Murtado merasa telah berhitung dengan cermat mengenai rencana anggaran biaya yang telah ia keluarkan. Ia mengerti dengan kondisi perekonomian mereka yang empot-empotan. Maka ia menetapkan nominal yang kecil. Barangkali jika ada orang tua seperti Ali yang mengajukan keberatan, ia cukup maklum. “Silakan, Pak Ali,” ujar Murtado ramah.

“Saya keberatan. Terus terang saya menyekolahkan anak saya di sekolah negeri karena yang saya tahu tidak ada pungutan apa pun. Sebab memang sekolah negeri dibuat minim biaya agar orang tidak mampu seperti kami tetap bisa merasakan pendidikan. Bukan begitu, Pak?”

“Benar, Pak Ali.”

“Nah jika begitu, mengapa Bapak menetapkan patokan biaya kepada kami siswa kelas satu? Bahkan Bapak mengatakan mematok hal serupa kepada setiap kelas setiap tahunnya. Berarti sama saja dengan daftar ulang. Maaf, ini sumbangan atau iuran wajib, Pak?”

“Sumbangan, Pak. Sumbangan biaya pembangunan.”

“Kok jadi rancu kedengarannya, ya, Pak. Sumbangan tetapi diwajibkan. Kenapa Bapak tidak menetapkan saja sebagai iuran wajib? Jika iuran wajib seperti itu kan enak, Pak. Saya bisa melaporkan kepada dinas terkait bahwa ada pungutan liar di sekolah ini.”

Wajah Pak Murtado memerah. Ia tidak menyangka kalimat menusuk itu keluar dari lelaki kerempeng seperti Ali. Tetapi ia harus tetap tersenyum. Senyum itu sudah puluhan tahun ia latih, terutama pada situasi genting dan memuakkan seperti ini.

“Saya bisa jelaskan, Pak Ali?”

Ali mengangguk, meski wajahnya mengeras. Sebenarnya sudah sedari tadi ia tahan pernyataan keberatannya. Sebenarnya jika dikatakan keberatan, tidak juga. Ia masih mampu membayar besaran uang lima ratus ribu rupiah itu.

“Begini, Pak,” lanjut Murtado, “Uang limaratus ribu rupiah itu barangkali berat bagi bapak, tetapi itu bukan buat saya. Itu untuk kepentingan sekolah, sebab pemerintah saat itu sudah tidak lagi menurunkan uang untuk pengembangan sekolah. Maka kami berinisiatiaf untuk melakukan swadaya antara pihak sekolah dan wali murid. Hal ini dibolehkan, Pak, selama ada kesepakatan dengan wali murid.”

“Kalau saya tidak sepakat, Pak?”

Murtado masih menjaga senyumnya, juga berusaha mengelola emosinya dengan baik, meski ia akui bahwa perasaannya teracak-acak oleh Ali.

“Silakan, Pak. Jika tidak sepakat, Bapak bisa ke ruangan saya. Kita bicarakan secara personal. Semua bisa dikomunikasikan. Nanti saya akan berikan keringanan untuk Bapak.”

“Tapi saya tidak mau ke ruangan, Bapak. Ini bukan masalah keringanan. Saya tidak mau mengemis untuk itu. Saya ingin hak saya sebagai wali murid.”

‘Asyem!’ Murtado mengumpat dalam hati. Ia mulai jengkel. “Maaf, hak yang seperti apa maksud, Pak Ali?”

“Tadi Bapak bilang pemerintah membolehkan menarik pungutan, asal berdasarkan kesepakatan dengan wali murid. Nah, saya kan bagian dari wali murid, Pak. Saya tidak sepakat!”

“Sekali lagi, Pak, Anda bisa mengajukan keringanan di ruangan saya.”

“Tapi saya tegaskan lagi, saya tidak mau mengemis seperti itu.”

Murtado menarik napas. Seketika ruangan mulai riuh. Dengungan itu terdengar lagi seperti tawon. Wali murid yang lain diberikan suguhan tontonan drama yang tidak kalah menariknya dari drama politik pemilihan kepala daerah belakangan ini.

“Pak Ali, sekali lagi saya jelaskan; uang itu bukan untuk saya, tetapi untuk pengembangan sekolah. Bapak bisa cek di beberapa sekolah negeri di dekat sini. Semua telah menjadi hal lumrah, Pak. Apa Bapak tidak ingin sekolah anak kita ini menjadi sekolah yang maju. Saya hanya berperan sebagai fasilitator.”

“Berarti ini sama saja dengan pungutan liar kan, Pak?”

“Lho kok pungutan liar? Kalau pungutan liar, Bapak dan Ibu wali murid tidak saya kumpulkan di sini. Kita berkumpul di sini untuk musyawarah.”

“Musyawarah atau mendengarkan keputusan Bapak? Musyawarah atau terpaksa menuruti keinginan pihak sekolah?”

Darah Murtado sudah sampai di ubun-ubun. Tetapi ia berusaha sekuat tenaga menjaga sikapnya. Ia sadar, zaman ini adalah zaman viral. Ponsel di mana-mana, mana tahu ada yang diam-diam merekam perselisihannya dengan wali murid.

“Sekarang begini saja, Pak. Saya kembalikan kepada Bapak Ibu wali murid di sini.” Murtado lalu beralih kepada wali murid yang lain. Wali murid yang tengah terkesima dengan peristiwa menakjubkan barusan.

“Bapak dan Ibu, mohon maaf, sekarang yang mengajukan keberatan seperti Pak Ali, silakan tunjuk tangan,” ucap Murtado dengan suara penuh penekanan.

Murtado memandangi wali murid satu per satu. Mereka semua diam. Tidak ada yang menunjuk tangan kecuali Ali. Hal itu telah cukup bagi Murtado untuk memberikan jawaban pamungkas kepada Ali.

“Pak Ali, mohon maaf. Sudah lihat, kan? Semuanya diam. Artinya Bapak dan Ibu semua setuju, ya?”

“Setuju!” jawab mereka serempak. Seperti sebuah alunan koor yang bersatu padu. Menciptakan nada harmonis pada pendengaran Murtado. Sebaliknya, bagi Ali, suara itu terdengar seperti suara para pasukan pengkhianat. Rahang Ali mengeras. Ia tahu, ia sedang dilucuti oleh orang yang sedang ia bela.

“Nah, Pak Ali. Jelas, ya. Semuanya sudah setuju. Jadi kalau Bapak tidak setuju, silakan ke ruangan saya. Kita bisa bicarakan baik-baik. Saya tidak pernah ada maksud memberikan pungutan liar. Pungutan ini murni atas kesepakatan wali murid lainnya,” terang Murtado dengan tenang. Senyumnya mengembang, senyum kemenangan.

‘Jancuk!’umpat Ali dalam hati. Matanya memandang seluruh ruangan kelas.

Lagi-lagi terdengar suara berdengung tertuju kepada Ali. Dengan gusar Ali meninggalkan ruangan. Meninggalkan sorot mata menyala kepada Murtado dan semua wali murid di ruangan itu.

Murtado masih berusaha tersenyum, meski keringat sudah membasahi punggungnya. Ia lalu menutup rapat kali itu dengan mengucapkan syukur.

“Tenang, Pak, saya punya video lengkapnya. Kalau sampai orang itu nekat membuat keributan di luar, kita bisa counter  dengan video ini. Apalagi tadi Bapak tetap tenang menghadapinya,” bisik Pak Bandri-wakilnya.

Murtado mengangguk-angguk lega. Lalu melempar senyum kepada semua peserta rapat.

Sementara dari bangku siswa, suara-suara itu terdengar lagi. Suara dari orang yang didengar Ali. Orang-orang yang itu-itu lagi.

“Hidup lagi susah, malah cari masalah. Padahal solusinya jelas, kalau keberatan tinggal minta keringanan di ruang kepala sekolah. Gitu aja kok repot!”

“Udah miskin, sok enggak mau ngemis!”

“Yah, namanya juga menuntut ilmu. Pungutan uang untuk fasilitas itu wajar. Kalau sekolah bagus, yang untung kan anak dia juga. Kok malah marah-marah enggak jelas.”

“Setiap liburan bisa jalan-jalan, kulineran, ngajak anak berenang. Giliran disuruh sumbangan alot! Pakai muter-muter omongannya!”


Puput Sekar, lulusan Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Jakarta. Menulis novel Elang dan Bidadari, Republika 2012, Beo Zelga, Prudencia 2020, Splash Love in Seoul, Prudencia, 2021, Joko Klobot dan Nyi Kemretek, NAD Publishing, 2023. Kegiatan saat ini adalah aktif menulis di komunitas Nulis Aja Dulu, Terus Saja Tulis, dan Opinia. Penulis bisa dihubungi di Facebook: Puput Sekar, IG: @puputsekar_putse, dan email: [email protected]

Puisi

Puisi M.Z. Billal

BELAJAR MEMASAK

 

ia melihatmu tersenyum lagi. usai perdebatan panjang dan kau

menangis. malam itu. rasanya seperti matahari terbit dari dadanya

sendiri dan ia ingin sedikit memperlambat gerak waktu. agar malam

tidak lekas datang seperti mata dan bisik orang-orang yang tidak

berhenti mengintai dan mencecar, bagaimana perasaanmu dan ia bekerja

ketika memutuskan untuk saling memasuki tubuh dan kehidupan,

sementara kau tahu betul bahwa kau, baru saja diminta untuk mencintai

orang lain yang bukan ia; kedua orang tuamu berkata demikian.

kau lantas mengatakan lagi padanya meski ia sudah tahu.

aku ikan yang lupa cara naik ke permukaan dan kau sulur cahaya

yang jatuh lurus di palung gelap dada

 

dan ia menemukanmu sedang sibuk belajar memasak pagi-pagi sekali.

meneliti bahan-bahan di buku resep berulang kali seolah

kau ingin menerjemahkan sendiri Yale Cullinary Tablets dari Mesopotamia.

jamuan lezat untuk orang terkasih, katamu. semur sepasang merpati

ditemani dua gelas anggur putih barangkali hidangan yang indah untuk mengisahkan

bagaimana sebenarnya cinta bisa saling melahap satu sama lain. setidaknya

menyantap kesedihan dan kekecewaan yang kerap ia dan kau terima belakangan ini.

 

ini menakjubkan! aku seperti dicumbu tapi tidak oleh bibir dan dengus napasmu.

ia tidak tahan untuk tidak memujimu. barangkali ia pun ingin segera memainkan

lakon; pengunjung rumah makan yang jatuh hati pada juru masak Babilonia kuno.

kemungkinan besar ia akan bercinta denganmu di dapur rahasia itu.

pasti kau akan sangat bahagia bukankah? tentu saja. bahagia yang tidak terucap oleh suara

dan tak mampu tertulis dalam kata. sebab kau tahu bahwa selepas makan malam ini

kisah kalian berdua akan menjadi cerita yang paling banyak

diperbincangkan dan ditulis berulang kali. terutama kedua

orang tuamu, yang terus memaksa kapan kau melamar orang pilihannya

tapi bukan ia. bukan orang yang kau ajak untuk mati bersama usai menyantap

hidangan penutup mata dari panduan

memasak menu khusus untuk memisahkan raga sepasang pecinta; tapi tidak jiwanya.

 

terakhir ia membisikimu;

aku baru tahu rasa rosary pea dicampur benzodiazepine seperti ini.

 

dan kalian tiada. atas nama cinta.

 

2023


RANTAI MAKANAN

#1

adalah rantai makanan di hutan hujan tropis. Cinta itu.

diburu dan memburu. sebagian berlari kencang, yang lain bersembunyi.

Hidup karena cinta. Mati pun karenanya pula. antara rela dan terpaksa mengikhlaskan.

seperti rusa sambar kehilangan tanah kelahiran. berkali-kali takut, berseru-seru.

bahkan menyamar jadi kerbau peliharaan lelaki tua patah hati. bertahun-tahun

lamanya tidak makan. selepas kekasihnya memilih lelaki lain yang wajahnya lebih tampan.

hanya karena tampan. bukan karena perangai rupawan.

 

#2

dan ia ular jantan yang memangsamu sebab cinta adalah garis takdir.

demikian alasannya. datang kepadamu pada hari rabu kelabu. mengasihimu

sebagai anak babi jantan tersesat; ia coba meredakan

ketakutanmu dari perburuan beruang cokelat. selepas hujan

dan memberimu apel merah hutan. kau bilang, ibu tak akan pernah datang,

sudah tertulis di lauhul jenggala. lalu kau mati. menyerahkan diri atas nama cinta

yang mati rasa. dan ketika ular jantan itu baru saja melahap bagian terakhir tubuhmu.

ia juga mati. ditembak. peluru panas pemburu yang tergila-gila pada daging

ular sawah jantan.

 

#3

di meja makan malam. pukul tujuh lebih sepuluh. di hadapan sup kentang

dan mujair goreng. sebagai manusia yang ingin bebas. kau mengakui

kepada ayah-ibumu yang penuh cinta. bahwa kau sangat menyukai menu

makan malam kali ini. tapi kau juga menyukai lelaki berambut ikal

yang pekan lalu kau ajak singgah di beranda. kau mencintai ia.

demikian katamu. ibumu nyaris menjatuhkan gelas yang sedang dipegang.

sementara ayahmu bersikap tenang. ia berkaca-kaca. barangkali dadanya yang lebur.

bagaimana mungkin putra kesayangannya mencintai pria lain? juga. sebab ia

sudah berusaha melepas masa lalu. ketika memutuskan perempuan di hadapanmu

menjadi ibu. menjadi pendamping hidupnya.

 

2023


SUSU

 

ia meletakkan segelas susu hangat di meja dan meraih gagang telepon untuk berbicara kepadamu. pemuda itu ingin bebas tanpa harus ketakutan memeluk dirinya sendiri. namun ia tidak pula ingin membenci susu hangat lezat buatan ibunya. kadang ia ingin menjelma jadi botol-botol wiski yang keparat tapi bebas di malam tahun baru.

 

kau menelepon dari mana? ia menjawab dengan suara rapuh. Minnesota, aku membacamu di koran dan kurasa aku ingin bunuh diri.

 

kau membakar penindasan itu. dari Eureka Valley. suaramu bergemuruh tapi syahdu. menyusup dengan berani hingga ke gang-gang sempit di luar San Francisco. aku tahu kalian marah, aku juga marah. dan kita tak akan lagi duduk bersembunyi di kloset.

 

dan Hillsborough dari Mission Disctrict yang ditikam lima belas kali itu adalah bukti seruan licik dan brutal penuh kebencian, kefanatikan, ketidaktahuan, intimidasi, dan prasangka yang sialan. jangan pernah dilupakan! demikian katamu berorasi.

 

lagi dan lagi dan lagi, kau melemparkan kembang api harapan ke udara. memasuki kantor pemerintahan sebagai pemenang dan berseru-seru tanpa lelah. menekankan kebenaran akan keberadaan dan persamaan hak yang sejak lama ditindas. orang berhak punya cinta, orang tak bisa dipaksa memilih, orang tak bisa terus bersembunyi!

 

tapi pada akhirnya inilah bagian yang paling ia tak suka. ia menghubungimu lagi dengan perasaan lebih baik. pemuda rapuh dari Minnesota itu. ia masih suka susu. dan mengagumimu seperti segelas susu. namun ia sangat berduka, betul-betul berduka. bahkan jelas bukan hanya ia yang berduka. tatkala mendapati kabar orang-orang akan mengantar tidurmu yang malang dalam keheningan nyala lilin di sepanjang jalan Castro menuju City Hall. orang-orang yang sebetulnya menggulung badai kemarahan di dada mereka yang berdarah. seperti tubuh dan rasa sakitmu.

 

“if a bullet should enter my brain, let that bullet destroy every closet door”

namaku Harvey Milk. aku di sini untuk merekrutmu!


RUMPUT YANG BERNYANYI

 

O beloved moon, fear not the dawn that separates us.

For we will meet again, when the world goes to sleep

_Ramchandra Siras_

 

 

puisi yang pedih adalah cinta yang dihakimi

seperti rumput yang memang layak mati ketika pikiranmu dipenuhi sugesti: itu harus mati.

 

dan rumput-rumput di Aligarh selalu bernyanyi:

cinta tak pernah keji. cinta adalah puisi yang jernih. cinta adalah aku;

kata-kata yang merangkul kaki Ramchandra ketika

Paya Khalci Hirawal*) menjejak seolah cinta benar-benar memiliki sepasang kaki.

berlari ke lembah, menyaksikan bunga-bunga mekar dan bersyukur pada hari-hari perayaan.

 

ia tak pernah mati, meski ia sudah tiada.

tapi pernahkah kau merasakan lubang kesepian ini semakin menganga?

mengisap seperti mesin penyedot debu yang besar sekali

bahkan juga bisa membunuhmu, memadamkan seluruh siaran kebencian

televisi dan koran lokal, dan meruntuhkan gedung-gedung pemerintahan Uttar Pradesh.

 

In the light of day, I am unseen.

It is in your light, my hearts awakens

 

cinta melahap kesedihannya. cinta menyembuhkan luka

batinnya. cinta merobek lembar 377**) . cinta menjelma angin

yang memasuki jendela kamarnya. cinta menidurkannya

meski kematiannya tak pernah seadil cinta itu sendiri.

dan cinta membiarkan rumput-rumput di Aligarh terus bernyanyi:

Ramchandra sudah pergi, tapi aku masih tumbuh di sini. puisi-puisi selalu bersemi.

jangan pernah takut terpisahkan, karena kita akan bertemu lagi.

2023


HIDUP SEBAGAI PUISI

 

ketika kau memutuskan untuk jadi pesyair. maksudku, orang-orang terpilih yang

menghabiskan waktunya untuk bertikai dengan ragam dan kelas kata. kau sepenuhnya

 

akan hidup sebagai puisi. metafora adalah pakaianmu. dan kau akan benar-benar

ahli dalam berbohong tapi juga jujur untuk mengatakan kebohongan. bahkan hingga

 

berjilid-jilid manuskripmu, kau akan seperti cacing tanah, yang mengurai potongan-

potongan cerita di dalam tanah. hanya untuk menyuburkan pohon kenangan milik

 

orang lain. ya, menjadi pesyair juga umpama kau adalah pejabat pemerintah yang suka

sekali mengurai kata-kata indah agar orang-orang terbuai dan kembali masuk jerat

 

hasratmu sementara kau terus hidup sebagai puisi. puisi-puisi yang memabukkan.

puisi-puisi yang bertabur cinta. sebab menjadi pesyair sendiri juga merupakan

 

jebakan. kau akan terperangkap oleh perasaanmu sendiri. kesepianmu, kesedihanmu,

amarahmu, bahkan rasa rindumu adalah jenis-jenis makanan yang hanya bisa membuatmu

 

kuat untuk bertahan sebagai pesyair. maksudku, orang-orang terpilih yang merelakan

sendiri dirinya untuk terluka, melukai, mencintai, dicintai, membunuh, atau terbunuh.

 

2022


NE M’OUBLIE MIE

 

ia mulai gelisah dari tempat yang sembunyi lagi sangat rendah, tapi Dia tahu ia berada di sana. meskipun tak terlihat. semua sedang gembira, ia belum. mereka saling berkenalan dan memuji, ia masih menanti. kebun yang semula sunyi dan kelam kini sudah indah. berbagai warna memancar sampai ke langit. sementara ia masih setia menunggu-Nya memanggil. apakah Dia lupa? tentu tidak. tolong jangan lupakan aku, tolong jangan lupakan aku. ia berseru-seru di antara bising kebahagiaan yang lain.

tidak. tidak mungkin Aku melupakanmu. Aku mengatur dan mengingat segalanya. nama itu untukmu. “Jangan Lupakan Aku”. Dia tersenyum kepadanya. agar semua ingat kepadanya. meskipun Dia tahu ia berbeda, Dia juga tahu ia beriman.

 

2023


SELAMAT PAGI AKU

 

selamat pagi aku

bagaimana kabarmu hari ini?

 

di gerbang yang ke sekian ribu

pagi. kulihat diriku yang lalu

di mana-mana. menjadi ruh apa saja.

menjadi cinta yang ditunggu-tunggu

seolah aku selalu hidup sebagai

bulan kasih sayang. juga menjadi

akar pohon rasa lelah

yang membelit liar seluruh

dada yang dewasa

meski kerindanganku selalu tampak

baik-baik saja. aku menyaksikan

segala yang terpotret dan tersimpan

di kepala. sementara sisa yang lain

menjadi abu tanda

tanya sebelum aku

menggapai daun jendela

 

dan hari ini aku masih terlahir

lagi sebagai orang baru dengan tubuh

dan luka dan harapan yang sama.

aku melangkah memasuki hari ini.

waktu yang pendek untuk rasa ingin

yang panjang. sementara di tanganku

memegang jaring nelayan. entah apa

yang harus kulakukan

dengan ini. ikan tidak berenang

di permukiman warga, di ruang kerja

atau di jalan yang sibuk,

bukankah? ya. aku terus saja melangkah.

berusaha dan bertanya-tanya.

 

halo aku. ternyata sudah sore saja

bagaimana kabarmu hari ini?

pulanglah. kembali lagi esok.

akan kutulis lagi sepucuk

surat pendek seperti biasanya.

bacalah sebelum mengunjungi

gerbang ke sekian ribu pagi itu.

2023


KEPADA SESUATU DI SURAKARTA

 

kehampaan ini membentang sepanjang jalan setapak

dari indragiri ke surakarta.

 

aku menghabiskan waktu

di balik layar komputer, menikam

huruf-huruf dan angka-angka seperti

perburuan bintang jatuh di langit selatan.

sementara kau masih menjadi kopi

dan dinding hijau alpukat yang selalu

kuiimpikan sebagai portal

memasuki duniamu.

 

kau adalah ganymede yang membuat

zeus tak ingin jauh-jauh darimu.

hingga aku pun menjadi ia yang betul-betul

tak  mampu lagi menahan diri untuk

tidak memasuki  tubuhmu

menanam pohon  jambu mawar  dan anggur

di sepanjang jalan setapak

dari indragiri ke surakarta.

yang hampa dan tidak ada

siapa-siapa kecuali

cintaku dan aku.

 

2023


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Buku-bukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital, serta sejumlah antologi nasional.

Cerpen

Anomali

Cerpen Indarka P.P.

Suatu masa pasca-425 hari kelahiran, di sebuah kamar yang dindingnya tertempel poster dunia binatang—yang langit-langitnya terhias bola-bola berputaran; di atas pintunya terpasang seikat padi dan selembar daun dringu; lantainya terbalut karpet busa tipis; mejanya bergeletak empeng dan lipatan jarik; di stopkontaknya tertancap seutas kabel kipas angin; dan ranjangnya berseprai motif bunga tulip—terlentang seorang bayi berkupluk dan berkaus kaki yang dilindungi kelambu mangkuk raksasa.

Bayi tersebut tidaklah diam. Telapak tangannya bergerak mengepal-ngepal, lalu terbuka, lalu mengepal kembali, dan terus seperti itu sepanjang kipas angin memusing-musingkan kepala. Kedua bola mata bayi yang seukuran kelereng mini, berpendar tersorot cahaya lampu di atasnya. Ia anteng ditinggal Ibu yang dua belas menit lalu merasa sukses meninabobokannya, yang kemudian keluar kamar menuju toilet untuk menuntaskan bilas terakhir cucian terjeda.

Pembaca yang Budiman, sesungguhnya bukan karena kepiawaian Ibu tersebut si bayi bisa seanteng itu. Adapun yang membikin si bayi tidak rewel tiada lain tiada bukan adalah ragam hiburan yang berasal dari poster dinding kamar. Kalian lihat, bayi itu acap berseringai mungil lantaran ulah mahkluk-mahkluk poster dunia binatang. Dua biji gigi susunya pun kentara bagai biji mentimun tiap kali mengulum senyum.

***

Ayam mewanti-wanti Bebek supaya menahan diri menertawakan Macan Tutul. Ia khawatir kalau-kalau di waktu mendatang Bebek akan beroleh karma. Tapi Bebek tetap tak hirau dengan peringatan itu. Tawanya terus saja menguar ketika melihat air liur Macan Tutul menderas bercucuran meratapi bayang-bayang memangsa Rusa.

“Lihatlah,” kata Bebek, “menjilat duri-duri Landak di sebelahnya saja dia tak mampu. Wkwkwk!” Bebek tambah meledek.

“Kematian memang pasti, Bek. Tapi diterkam Macan Tutul tentu bukan kematian yang baik bagimu,” ucap Ayam sambil membentangkan kedua sayapnya.

Macan Tutul tidak sepenuhnya bergeming. Ejekan-ejekan Bebek kerap ia balas dengan beberapa ancaman tak main-main. Kali ini, sambil berputar-putar di tempat dan mengasah-asah cakarnya, ia mengucap sumpah: kelak jika ia terbebas, maka paha Bebek-lah yang akan pertama kali dijamah oleh taring-taringnya.

Lain Macan Tutul, nasib mujur justru baru-baru dialami Kucing. Binatang rumahan itu sekarang tengah khusyuk mendengkur usai menyantap Tikus yang kebetulan sekali bertempat persis di sebelahnya—entah pertimbangan apa posisi mereka didekatkan. Penantian yang tidak sia-sia, gumam Kucing dalam mimpi indahnya.

Sudah berbulan-bulan ia menanti Tikus bertambah usia, yang berarti bertambah pulalah ukuran tubuh Tikus itu. Pagi tadi, sesaat Tikus lengah terlelap, dengan gesit Kucing mengigit separuh dari total panjang ekor Tikus, lantas menarik-narik dan mencabiknya secara paksa, tentu saja. Sungguh beringas aksi Kucing dalam memenuhi rasa naluriahnya dengan melibas segala daya upaya perlawanan Tikus. Tenaga Kucing itu kelewat kuat karena ditopang lapar. Dalam kasus ini, jelas sekali bahwa Kucing lebih bernas daripada Macan Tutul.

***

Di seberang kota, mata Ayah merona merah saga. Jalannya gontai, langkahnya ditopang tangan; merambati tembok sepanjang lorong sempit. Tiada yang tahu apakah Ayah masih mengingat baik alamat rumah yang sudah ia tinggal sejak tujuh bulan lalu.

Dahulu, ketika pertama kali mengutarakan niatnya ingin pergi ke kota, ia yakin kalau bekerja di perantauan adalah satu-satunya jalan supaya terlepas dari runyam ekonomi yang selama ini melilit keluarganya. Namun kota tak selalu menepati janji seperti yang diyakini banyak orang. Jangankan bertabur rampai-rampai uang, keperluan biaya persalinan istrinya saja tak sanggup Ayah penuhi. Antara malu, kecewa, ataupun bebal, apa yang terjadi sekarang adalah seperti yang Pembaca Budiman lihat: Ayah telah kehilangan akal pikir yang sehat.

Entah Ayah sadari atau tidak, titimangsa pun berangsur melaju. Di suatu tempat di mana Ayah meninggalkan permata paling berharga, buah kandungnya sudah bertumbuh. Sudah berkembang. Hari demi hari.

***

“Ini bukan yang pertama lho Bu. Dua hari lalu mata Pak Doni nyaris ditusuk pensil saat mencoba mengajari anak itu menulis latin.”

“Kata Pak Umam dan Pak Ragil kok baik-baik saja, ya?”

“Maaf seribu maaf, Bu Kepala. Terus terang, menurut saya Pak Umam itu orangnya memang kurang peka. Makanya beliau mungkin menganggap Yusuf masih baik-baik saja. Nah, kalau Pak Ragil, ehm, ya, Bu Kepala tahu sendiri gimana dia…”

Kepala Sekolah menghela napas, lalu menanggalkan kaca matanya. “Ya sudah, buatkan undangan untuk orangtuanya. Besok biar saya yang bicara,” pintanya.

Esoknya, Ibu Yusuf datang memenuhi panggilan. Kepala Sekolah lantas membicarakan terkait keganjilan perilaku Yusuf yang meresahkan itu. Kepala Sekolah bertanya apa yang terjadi pada diri Yusuf. Ibu Yusuf pun lugas menjawab kalau ia tidak pernah melihat hal aneh pada diri anaknya selama ini.

“Pak Hamid hampir tidak mau lagi mengajar kelas satu gara-gara Nak Yusuf pernah beberapa kali menjilati tangannya,” terang Kepala Sekolah. “Pak Natsir juga kehabisan akal menghadapi Nak Yusuf. Ia satu-satunya murid yang menolak menghafal Pancasila. Dan baru-baru ini, anak Ibu hampir meruncingi mata Pak Doni menggunakan mata pensil miliknya.”

“Nak Yusuf sering bertingkah aneh setiap kali diajar para guru, Bu,” kata Kepala Sekolah lagi. “Sebagai pimpinan, sejujurnya saya sudah sangat pusing mendengar keluhan-keluhan mereka.”

“Mohon maaf, Bu, tapi…”

“Oh, saya ingat, kecuali dua guru,” Kepala Sekolah memotong. “Pak Umam dan Pak Ragil justru bilang kalau Nak Yusuf ini cukup santun dan tidak pernah sekalipun bikin masalah. Tapi apa boleh buat, Bu, yang merasa terganggu jumlahnya lebih banyak daripada mereka berdua.”

Obrolan berlangsung cukup lama. Entah bagaimana persisnya Ibu Yusuf sampai menceritakan keadaan keluarganya. Kepala Sekolah bertanya di mana Ayah Yusuf sekarang. Ibu Yusuf menjawab apa adanya. Suaminya tak pernah pulang sejak usia kandungannya menginjak bulan ke tujuh. Tentang bagaimana nasib ataupun keberadaannya saat ini, ia juga tidak tahu-menahu.

“Apa Nak Yusuf tidak pernah bertanya tentang ayahnya?” telisik Kepala Sekolah, terdengar klise tapi ia sangat penasaran.

“Pernah. Namun sayangnya pertanyaan itu dilontarkan bukan pada saya, Bu, melainkan pada neneknya. Dan neneknya enteng saja menjawab kalau ayahnya mati dimakan kucing kota.”

Kepala Sekolah manggut-manggut belaka. Ia bingung menangkap apa yang disayangkan Ibu Yusuf perihal pertanyaan anaknya kepada sang nenek. Bagi Kepala Sekolah, penjelasan tersebut tak menggambarkan secara terang benderang tentang perilaku Yusuf. Satu hal yang memang sejak kemarin terbayang di pikiran Kepala Sekolah itu adalah memindahkan Yusuf ke sekolah luar biasa.

Ehm… Begini, Bu,” Kepala Sekolah mengambil ancang-ancang, “kata Pak Umam, Nak Yusuf ini cerdas sekali berhitung. Kemampuan matematiknya di atas rata-rata murid lain. Oya, ngomong-ngomong soal kucing. Ternyata anak Ibu juga pandai menggambar, lho. Pak Ragil, guru seni budaya kami, sampai-sampai menunjukkan gambar seekor kucing hasil karya Nak Yusuf kepada saya. Bahkan beliau menyarankan supaya Nak Yusuf-lah yang maju mewakili sekolah apabila suatu saat ada lomba menggambar. Pokoknya, untuk ukuran anak seusianya, saya berani ngasih dua jempol untuk Nak Yusuf!”

Bagai gayung yang tiada bersambut, serangkaian cerita hiperbolis Kepala Sekolah tak berbanding lurus dengan tanggapan positif Ibu Yusuf. Malah sekarang pandangannya terlihat kosong, entah takjub, entah bingung.

Sadar tidak memperoleh respons apa pun, Kepala Sekolah lantas melanjutkan perkataannya. “Jadi, Bu…” tangan Kepala Sekolah perlahan memegangi tangan Ibu Yusuf di atas meja—barangkali semacam siasat untuk mengelabuhi emosional. “Keistimewaan anak Ibu yang saya ceritakan barusan adalah modal besar baginya untuk bisa belajar di tempat lain, tentu saja tempat yang lebih bersahabat bagi diri Nak Yusuf. Jadi, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

“Di tempat lain? Maksud Ibu sekolah lain?” tanya Ibu Yusuf, ia mengernyit dalam sepersekian detik.

“Betul. Tenang. Tenang saja, Bu. Kami berjanji akan memfasilitasi dengan baik proses perpindahan Nak Yusuf.”

Dan bisu sama-sama merasuki kedua perempuan itu. Kepala Sekolah dibuat pongah saat menangkap pandangan lawan bicaranya. Di saat bersamaan, sesungguhnya Ibu Yusuf juga tak kalah pongah ketika mendengar keputusan Kepala Sekolah itu.

Detik-detik pada jam dinding ruangan itu mengambil peran utama untuk beberapa saat, sebelum akhirnya tergilas kembali oleh situasi yang lebih mengejutkan. Seorang guru tiba-tiba masuk ruangan dengan napas tersengal-sengal. Ibu Yusuf terperanjat, Kepala Sekolah terperangah, lalu ia lekas bertanya, “Ada apa?”.

“Pak Ragil, Bu!” seru guru itu.

Mereka buru-buru menuju pusat kegaduhan. Di ruang kelas satu, murid-murid bersorak-sorai melihat Pak Ragil menggendong Yusuf di balik punggungnya, dengan posisi mengunci kedua kaki Yusuf di kolong lengannya. Guru dan murid itu seakan jatuh tenggelam ke sebuah alunan semarai yang tercipta dari mulut murid-murid lain. Pak Ragil berlagak bagai pendaki gunung dengan beban di punggung, mencapai puncak fantasi yang kian tinggi. Sedang Yusuf, bocah yang digendong Pak Ragil itu, memamerkan selembar kertas bergambar binatang rupa-rupa. Seringai senyum dari guru dan murid itu maujud lengkung terbalik sebuah pelangi. Indah, barangkali.

Sementara di ambang pintu kelas, Kepala Sekolah dan Ibu Yusuf hanyalah patung yang tak berarti. Para guru yang geli saling mererak-rerak, berebut intip lewat kaca jendela. Besar kemungkinan dalam hitungan hari, sekolah tersebut akan mengalami penurunan jumlah guru, atau jumlah murid, atau malah jumlah keduanya.***


Indarka P.P., lahir di Wonogiri. Anggota Komunitas Kamar Kata.