Katalog

Cerpen

Naga/Na.ga /n Suatu Hari, Suatu Hari Roti Kukus Jadi Bubur

Cerpen Beri Hanna

Seekor naga dan roti kukus menjadi bubur selalu terbayang ketika saya membaca novel karangan Nawir. Dia melihat seorang berjalan kemudian menghilang pada suatu malam. Entah apa maksudnya. Kata-kata seperti baris puisi dalam gelas wiski. Kuat seperti akan membekas tetapi cepat terlupakan ketika kau tertidur.

Saya selalu bertanya, mengapa seseorang bisa makan roti dan seseorang yang lain bisa memakan kacang? Pertanyaan saya berlanjut hingga apa pentingnya pertanyaan-pertanyaan semacam itu! Kadang saya merasa pusing, kadang kala tidak. Kadang saya diam memikirkan sesuatu yang diam dan sunyi, dalam arti tidak ada. Ketika saya sampaikan apa yang saya pikirkan ini kepada seorang teman, dia kemudian berkata, lebih baik saya menggiling biji kopi kemudian merebus air.

Masalahnya saya selalu lupa, di mana saya telah menyalakan kompor gas untuk memanaskan air. Apakah benar di dapur? Tetapi perasaan saya, tidak demikian, melainkan di sebuah lorong semacam pipa parabola. Kadang tiap kali mengerjakan sesuatu saya selalu teringat hal lain. Seperti gangguan sinyal satelit yang menyedot piksel menjadi titik semut.

Seperti seorang anak kecil pernah menyanyikan lagu Benyamin Sueb, Kompor Meleduk. Hati-hati, kata anak kecil ini kemudian mengingatkan. Dalam lirik lagu itu, ada kata Jakarta Kebanjiran. Apakah benar? Saya tidak tahu karena tiang parabola di rumah seingat saya telah menjadi dapur.

“Apa, sih yang kamu pikirin?” begitu tanya teman saya, seperti kesal. Tapi saya diam, tidak menjawabnya.

Saya selalu ingin diam dalam kata-kata sebuah cerita yang mengganggu. Karena itu akan membuat saya sibuk bertanya. Menimbang satu keadaan dengan keadaan lain. Tapi saya selalu dianggap aneh.

Tentang seekor naga dan roti kukus, kerap dianggap semacam ilusi yang diada-adakan dalam igauan. Saya berkali-kali diingatkan untuk tidak membaca novel. “Semua novel itu racun,” kata teman saya, keras melarang. Dan karena saya tidak peduli, takdir membawa semua novel-novel itu terkubur pada suatu tempat yang tidak lagi diketahui.

“Suatu hari kau pasti paham,” kata teman saya.

Saya memang akhirnya mengerti, bahwa hidup teman saya, bernasib seperti novel-novel itu.

Seorang tetangga yang selama ini tidak peduli, mengantarkan saya pada sebuah tempat, dan dia menunjuk sambil berkata meyakinkan, “Di sini temanmu tertidur.”

“Suatu hari,” katanya yang tak ingin saya dengar. Saya tahu, dia mungkin akan berkata persis seperti yang ditulis Nawir di dalam novelnya. Seseorang bisa saja berjalan pada suatu malam dan kemudian menghilang begitu saja. Tanpa diketahui, tanpa diinginkan kembali.

Saya tak berkata apa-apa saat itu. Dan tak berlama-lama di tempat itu. Saya segera pulang, kemudian menyalakan teve mencari hiburan. Mencuci baju, mengisi teka-teki silang, berjalan-jalan mencari udara dan memesan tiket bioskop tanpa teman saya.

Hari-hari berjalan seperti biasa, persis ketika saya selalu membayangkan naga dan roti kukus jadi bubur. Seorang anak kecil masih menggemari lagu Benyamin. Ia selalu bernyanyi keras sehingga saya ikut hafal bagaimana lagu itu seharusnya dinyanyikan.


Beri Hanna, penulis dan arsiparis liar.

Puisi

Puisi Agus Widiey

Pengakuan Tangan

maafkan tanganku jika suka

mengelus halus pipimu

meski tak harus menunggu

air matamu jatuh terlebih dahulu.

tanganku selalu kaku

untuk melakukan sesuatu

yang pada akhirnya

hanya menjadi sia-sia.

begitu berat bagi tanganku

menamparmu 

& begitu ringan bagi tanganku

memelukmu.

mungkin itu salah satu alasan;

tanganku diciptakan.

Yogyakarta, 2024


Seperti Apologi

ada yang bergetar dalam diri

tapi tak mampu diucapkan lidah.

ingin kunyatakan sesuatu

tapi kenyataan lebih dulu menyadariku.

dunia begitu ambigu,

& aku tiba-tiba setuju.

bahwa yang jauh

bisa jadi lebih menyentuh.

Yogyakarta, 2024


Iklan Kesedihan

telah kupromosikan kesedihan ini,

tapi nyaris tak ada yang tertarik

& tak ada yang mau menarikku

dari terjalnya jurang kemiskinan.

kemudian kesepian menggugat;

tentang kesehatan cinta, keadilan rindu

& kesejahteraan nasib masa depan yang belum tentu

karena engkau masih tak mau memikirkan kesedihanku.

sebenarnya, ingin rasanya aku berbagi kesedihan ini,

kesedihan yang seharusnya menjadi milik kita bersama

tapi nyaris hanya koran yang mau menerima dan menghantarkannya;

ke berbagai penjuru mata,

mungkin juga termasuk matamu yang tak suka membaca air mataku.

Yogyakarta, 2024


Pencerahan

pembunuhan terhadap tuhan

sudah lama direncanakan,

& kematiannya kita rayakan

dengan tidak sederhana.

& kini saatnya kita ciptakan kembali

sebagai proyeksi ketenangan;

karena iman di hati

masih merasa kehilangan.

sebagaimana lilin menyala

ketika ditiup, kemana perginya?

tapi kita lupa bertanya,

kecuali setelah kehilangan

makna dari keberadaanya.

sedang tuhan telah mati,

sejak kebebasannya kerap dibatasi

dengan dasar kebenaran pemikiran kita sendiri.

lalu apalagi yang berharga

selain kejadian yang tak terduga?

maka yang ada di luar sana,

menciptakan kita

juga untuk bertanya, misalnya;

sudah berapa tuhan

kita ciptakan di dunia?

Yogyakarta, 2024


Memorabilia yang Lain

aku akan mengenangmu, alena

sebelum senja ini selesai

mewarnai pelupuk mata.

di antara terumbu karang

kesunyian telah kubentang

lewat ketam bayang-bayang.

di sini, alena

kukenang kembali pulau dan nelayan

yang asin dan yang mulai asing.

karena segalanya mesti berakhir,

termasuk matamu dari mata penyair,

maka, kusimpan rindu yang amis itu

pada bait sajakku; dari waktu ke waktu.

Yogyakarta, 2024


Agus Widiey, Lahir di Sumenep, 17 Mei. Menulis Puisi, Cerpen, Cernak, Cermis, dan Resensi. Tulisannya tersebar diberbagai media baik lokal maupun nasional. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pernah memenangkan lomba cipta puisi yang diselenggarakan Majelis Sastra Bandung (2021). Anggota di komunitas Damar Korong(Sumenep).

Cerpen

Sahabat Sehidup Semati

Cerpen Ken Hanggara

Aku pulang dari menjenguk sahabatku di rumah sakit dalam keadaan melamun selagi bermotor. Di sebuah tikungan, dari arah lain, sebuah truk melaju kencang, nyaris melibasku. Aku banting setir ke kanan, tapi dengan cepat kukendalikan keseimbangan. Malam itu tidak terjadi apa-apa. Aku tiba di rumah dengan selamat, tapi tubuhku sangat lemas. Segera aku berbaring menenangkan diri. Pikiranku tersita oleh satu-satunya yang nyaris tak pernah kupikirkan: kematian.

“Bagaimana jika seseorang tiba saatnya mati? Apa ia menyadarinya? Atau, maut datang begitu saja tanpa peringatan?”

Aku tak tidur semalaman hanya karena tahu, sedikit saja motorku salah kukendali tadi, mungkin kini tubuhku sudah tak keruan lagi bentuknya; dilibas truk sebesar itu.

Memikirkan itu, aku benar-benar ketakutan.

***

Mudakir, sahabatku itu, koma dan divonis menderita penyakit tertentu. Aku tidak bisa mengingat nama aneh penyakitnya, tetapi yang jelas dia sakit berat.

Aku kenal Mudakir saat SMP. Waktu itu, kami tertangkap basah hendak kabur dari pagar belakang saat jam istirahat. Aku dan Mudakir sama-sama murid nakal. Kami akrab setelah tahu ada banyak kesamaan di antara kami.

Aku dan Mudakir sama-sama tidak memiliki bapak. Bapak kami meninggal dunia ketika ibu kami masih mengandung kami. Dan, tahu apa yang terdengar aneh dan ajaib? Ibu kami sama-sama tahu bapak kami sebenarnya sudah mempunyai istri di kota lain, tetapi pasrah dan menerima keadaan itu. Meninggalnya bapak kami mendatangkan dua orang asing ke rumah kami yang berdiri di lokasi berbeda; dua wanita yang lebih muda dari dua ibu kami. Aku percaya wajahku dan Mudakir sama terlihat kagetnya ketika para istri muda itu mengaku di depan ibu kami masing-masing bahwa mereka adalah orang yang juga berduka, meski kami berada di lokasi (dan waktu) yang berbeda.

Yang perlu diperjelas di sini, agar cerita ini tidak salah dipahami, baik aku maupun Mudakir punya cerita masing-masing. Artinya, bapak kami dua individu yang berbeda fisik, tetapi memiliki kesamaan yang nyaris seratus persen dari segi nasib.

Aku dan Mudakir heran pada kisah hidup kami yang hampir sama, sehingga sejak tahu rahasia masing-masing ini, kami pikir kami tidak mungkin berpisah. Kami pikir kami ditakdirkan untuk berteman sampai kiamat.

Segala yang Mudakir sampaikan padaku, entah soal kesedihan atau kegembiraan yang dialaminya, selalu memberi dampak yang sama padaku, dan begitu pula jika aku yang membawa kabar-kabar tertentu; Mudakir juga selalu dapat merasakan sensasi yang sama dengan yang kurasa.

Keadaan ini membuat kami kadang-kadang dianggap sebagai dua makhluk aneh di sekolah. Kami bukan saudara, tidak juga punya hubungan kekerabatan, dan baru ketemu di tahun kedua di bangku SMP. Bagaimana mungkin pada titik ini kami merasa bertemu sosok yang seakan-akan saudara kembar yang dapat merasa segala yang dialami antara satu dan lainnya?

Ibu kami sama-sama tertawa dan menganggap kami lucu waktu kami saling balas mengunjungi rumah. Suatu hari saat di rumah Mudakir, kepalaku dielus-elus ibunya dan beliau berkata, “Kamu seperti anak saya sendiri. Sering main ke sini, sering menghihur Mudakir. Sering nginap. Senang ada kamu. Anak saya jadi tidak kesepian!”

Tahu apa yang lagi-lagi terdengar aneh dan ajaib? Setelah Mudakir bertamu ke rumahku sebanyak sebelas kali (serupa dengan jumlah kunjunganku ke rumahnya), ia disambut ibuku dengan kalimat yang sama persis dengan kalimat sambutan ibu Mudakir saat terakhir kali aku bertandang ke rumah mereka!

Aku tidak tahu garis takdir macam apa yang mengatur semua ini, tetapi tentu saja di atas sana, Tuhan mengerjakan sesuatu yang seharusnya terjadi. Aku sendiri termasuk orang yang rajin beribadah, dan … ah, inilah yang membedakan kami. Antara aku dan Mudakir, yang membedakan hidup kami hanyalah soal sering atau tidak seringnya kami menjalankan perintah-Nya.

Meski nakal, aku dikenal sebagai siswa yang pandai mengaji dan hafal beberapa surah panjang dalam Alquran. Beda dengan Mudakir yang pemalas jika harus berangkat mengaji. Akibatnya, ia sering menungguku di kebun atau di sawah atau di mana pun dia bisa, sehingga kami akan bersepeda entah ke mana selepas jam mengaji kelar.

Aku sendiri kadang-kadang tidak setuju usul Mudakir tentang beberapa hal, misal ketika dia berhasrat memberikan pelajaran pada penjaga sekolah dengan membocorkan ban motornya. Kubilang pada Mudakir saat itu, “Jangan begitu. Beliau juga galak demi pekerjaannya!”

Dan, Mudakir hanya dapat menyahut, “Kalau sudah seperti ini, rasa-rasanya kamu tidak seru lagi!”

Hanya saja, meski beberapa kali berdebat soal seperti ini, kami tetaplah sepasang sahabat yang lekat karena memiliki lebih banyak kesamaan. Di tahun-tahun berikutnya, setelah kami masuk kuliah dan lulus dan mendapat pekerjaan di tempat yang kami juga inginkan, kami tahu perbedaan kecil antara kami yang kusebutkan di atas seakan tiada artinya. Aku memaklumi kebandelan Mudakir ketika dia sengaja pergi ke suatu tempat dan meninggalkan kewajiban beribadah. Saranku tidak pernah benar-benar dia hiraukan dan dia hanya berkata, “Aku ditakdirkan bukan sebagai orang alim.”

Pada suatu hari, ketika aku sedang sibuk menenangkan anakku yang sakit demam, sebuah telepon masuk ke ponselku. Dari istri Mudakir; ia bilang, suaminya sedang kritis dan dibawa ke rumah sakit.

“Tiba-tiba pingsan, Mas!” kata wanita itu di seberang telepon.

Aku pun meninggalkan anak dan istriku, lalu meluncur ke rumah sakit sore itu juga. Di sana kutemukan sosok yang nyaris seratus persen bernasib sama denganku selama ia hidup di muka bumi ini sedang terbaring lemah tak berdaya.

Dua hari berlalu. Dokter mengajakku menepi ke pojok ruangan yang dihuni oleh empat pasien, dan dengan tampang prihatin dia berkata, “Kemungkinan hidup Saudara Mudakir ini amat kecil, Pak. Maafkan kami.”

Aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas, tetapi dokter mengulangi, bahwa apa yang saat ini dialami Mudakir termasuk kejadian langka.

“Mereka yang dalam kondisi seperti yang teman Bapak alami saat ini, biasanya tak bisa selamat. Hanya Tuhan yang tahu kenapa teman Anda masih bisa bertahan hingga sejauh ini. Kami tak bisa memberikan jaminan apa-apa,” tutur dokter sebelum akhirnya meninggalkanku.

Aku pamit pulang pada istri Mudakir, karena perutku mulai terasa mual dan kepala pusing tak keruan. Setelah beberapa kali menyambanginya ke kamar selama dua hari ini, untuk kali pertama aku merasakan firasat yang tidak enak. Aku tidak tahu apa itu. Di hari itulah, sebuah truk nyaris melibasku tanpa ampun.

***

Aku bangun untuk mengambil air minum di dapur. Malam merayap kian larut. Aku duduk terbengong-bengong di meja makan sambil memegang gelas dengan isinya yang tinggal setengah. Aku memikirkan banyak hal yang terjadi selama dua hari terakhir, sejak Mudakir masuk rumah sakit karena mendadak jatuh pingsan. Hari pertama, aku tersandung di tempat parkir rumah sakit. Tukang parkir yang ada di situ membantuku berdiri sembari berkata, “Wah, nyaris saja sampean celaka, Pak!”

Aku melihat tukang parkir itu menunjuk palang besi berkarat, persis di dekat posisi kepalaku terjatuh. Aku tidak memikirkan apa-apa selain hanya kurang hati-hati saja saat melangkah.

Kejadian berikutnya, saat pulang ke rumah esok harinya setelah semalaman duduk di dekat tempat tidur Mudakir. Kupacu motorku dengan pelan karena mataku lumayan mengantuk. Dengan berusaha menjaga agar kedua mataku tidak terpejam, aku mencoba menghitung angka-angka fibonacci, dan memikirkan hal-hal lucu yang terlintas. Kupikir itu ampuh. Karena konsentrasiku tersita pada isi kepalaku saja, tidak sengaja kutabrak mobil yang terparkir di depanku.

Aku kaget bukan main dan meminta maaf pada pemilik mobil yang emosional, tapi dia tidak sudi mendengar penjelasanku dan langsung meninju dada serta perutku sampai empat atau enam kali; aku tidak ingat. Seingatku, orang-orang berdatangan melerai dan aku mengeluarkan uang beberapa ratus ribu dari dompetku sebagai ganti rugi. Setiba di rumah, aku merasa badanku kepayahan, karena pemilik mobil tadi berbodi kekar dan tinjuannya lumayan memberikan dampak.

Sampai di situ, aku tidak sadar akan apa yang sejauh ini kami (aku dan Mudakir) yakini bersama. Ketika truk nyaris melibasku dari arah depan beberapa jam yang lalu, aku baru memikirkan ini. Mudakir pingsan dan kepalanya membentur lantai kamarnya hingga berdarah; aku tersandung dan nyaris merobek wajahku sendiri dengan palang di tempat parkir. Tubuh Mudakir kian memburuk kondisinya; tubuhku sakit tidak keruan oleh tinjuan seseorang. Sampai esok pagi aku tidak tidur dan terus memikirkan ini. Apa setelah Mudakir benar-benar mati nanti, sesuatu yang besar juga terjadi padaku?

Aku tak berani memikirkan itu. Aku merasa kematian yang diatur oleh Tuhan tiada hubungannya dengan semua itu. Tapi, aku tetap saja merasa takut. Ketika ada telepon yang mengabarkan kematian Mudakir, aku menangis. Waktu itu, di belakangku, muncul istriku. Dia kebingungan.

“Sahabat sehidup sematiku sudah mati, tetapi aku masih hidup, Mar!”

Dengan wajah sangat kesal, istriku membalas, “Ya, memang begitulah hukumnya. Kupikir kamu orang yang beriman dan percaya takdir-Nya. Kenapa malah berpikir yang tidak-tidak? Tidak ada hubungan aneh apa pun antara kalian selain bahwa kalian adalah sepasang sahabat!”

Apa benar demikian?

Aku tak tahu dan tak akan pernah tahu sampai beberapa hari ke depan berlalu tanpa ada satu pun hal buruk terjadi padaku.***

Gempol, 2017-2024


Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni. Menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), Dosa di Hutan Terlarang (2018), Buku Panduan Mati (2022), dan Pengetahuan Baru Umat Manusia (2024).

Cerpen

Puisi Anggi Putri

Lakuna

sepotong cerita yang terpaksa dipangkas

dan dituntaskan oleh waktu

gerimis di ujung telunjuk bagai air mata

yang menganak sungai hingga ke pangkal dada

menggumpal dan jadi ruang

: hampa

Luka,

bukan sayatan ataupun dera

yang sesekali bisa sembuh oleh masa

wicara hanya sampai kata A

kelasah tumpah ruah

episode yang tertikam dan hanyut di ujung pusara

: entah

Lalu,

kau hanya tersenyum hambar

mengujiku agar terus mengatasnamakan sabar

bukan lara, bukan ketidakrelaan yang berkelakar

hanya saja–kau

lebur bersama doa yang kupanjatkan

entah sepekan

Jombang, 26 Februari 2024


Stasiun Kata

angin bergelut dengan decitan peron-peron

menggertak semesta dengan nanar

ruang tunggu yang kosong,

berisi kesepian

sejak pukul enam langit berkelakar

memintaku merenung dari tiap bait puisi

yang kusimpan hingga tak berbentuk lagi

akhirnya meledak dalam sunyi

kursi penumpang belum terisi

seperti hati manusia yang bergelut dengan ilusi

tak ada yang menjembatani

ego dan insecurity

tak ada jawab, tak ada tanya

hanya stasiun kata

yang melebar dari mulut-mulut manusia

penuh kelasah di dada

Jombang, 17 Maret 2024


Pintu Masuk

langkah yang melaju tak bisa berhenti

langkah yang terhenti kian menjadi

buta, penuh ragu berkelindan dalam hati

: puisi

tak ada hal yang bisa masuk dengan mudah

tak ada hal yang terhenti dengan sendirinya

Sesak di dada hanya ulah kata-kata

Menari di kepala sampai akhirnya terjerembab

dalam lantunan doa

barangkali tak ada muasal gulana

hingga arus air mata jadi saksi dan lakuna

terus mengetuk ingin masuk ke dalam sana

meski resah tiada akhir dan hampa semakin

mengikatmu dalam kelana entah

Jombang, 17 Maret 2024


Sepekan Lalu

: Emak

sepekan lalu,

belum siap ku menunggu napas terakhirmu

wicara dan secangkir kopi hitam di beranda kabur

menyeletuk namamu yang kini tak sanggup

kuucap meski kini berubah sepatah frasa

:ambigu

sepekan lalu,

saat jiwa berkisah dan duduk di antara kata-kata

kau masih menuturkan nasihat lama,

tentang pepatah yang harus diterima

tentang doa-doa yang harus kuantarkan

meski belum tahu untuk siapa

sepekan lalu,

kau ajarkan mengeja waktu, pendeknya jeda

ba’da maghrib hingga ayam mematuk subuh

di kepala, tak ada kelasah

hingga kau pejamkan mata

sebentar yang berarti selamanya

Jombang, 7 Mei 2024


Jejak Kota Ini

kota ini membaca jejak kita

dunia teduh yang menunggu

tak ada yang menjadi tanda

isyarat itu dalam rinai suara-suara

hari pun usai, waktu terguncang

seperti sejumlah kata

yang menggelepar keluar

dan sepotong sajak dari bait terlepas

kota ini amsal repetisi

hari terus melata menyingkap wajahmu

tanpa jawaban pasti,

menyekap debar dingin;

dalam puncak malam yang gigil

sendiri

Surabaya, 30 Maret 2021


Anggi Putri, pencinta sajak, kopi, dan hujan. Komite Sastra Dewan Kesenian Jombang 2019-2022. Buku puisinya Angin Kembara (2015) dan Laku(na) (2016). Peserta IIBF 2019 Solo dengan karya Kala Ratih (2019). Karya-karyanya dimuat media online maupun cetak. Aktif menulis di blog pribadi www.anggiputri.com.

Katalog

aroma tak sedap

aroma membawa kabar
di luar pikiran nalar
menginjak kepatutan dengan sadar
perpecahan tumbuh tersamar
nalar budi pun tercemar
bergelinjang perlahan memudar

Penulis: Wiwoho

Cetakan: Pertama, Tahun 2024

Penerbit Nomina Ide Karya

95 halaman; 14 x 21 cm

ISBN:

Harga: Rp 45.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Cerpen

Ibu Seorang Perampok

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Memasuki pelataran rumah yang terletak di Lembah Kelelawar, Salindri merasakan langkah kakinya bergetar. Tiga puluh tahun ia meninggalkan rumah ini. Dulu ia meninggalkan Samsul, anak lelakinya yang masih bayi,  dan diasuh Nenek. Ia tak pernah pulang. Tak  pernah bertemu Samsul, yang kini mendekam sepuluh tahun di penjara, menanti hukuman mati, karena merampok seorang nasabah bank, menembak mati  tiga polisi dan membunuh sesama napi.

Di depan pintu rumah kayu Salindri berhadapan dengan Surti, perempuan muda, sintal, agak genit, dan Laila, seorang gadis kecil 9 tahun. Salindri sempat mendengar dari beberapa orang, Surti  seorang penyanyi Orkes Melayu Mawar Rembulan yang diidolakan banyak orang. Begitu juga Laila, anaknya, yang mengikuti jejak ibunya sebagai penyanyi cilik.

Surti dan Laila  memandang Salindri  dengan tatapan aneh. Mereka curiga dengan kehadiran perempuan setengah baya itu. Bagaimana mungkin perempuan setengah baya itu mendadak mendatangi rumahnya?

Tatapan Salindri  menyelidiki perempuan muda sintal yang dianggapnya sebagai istri Samsul.   

“Apa kau istri anakku?” tanya Salindri menyelidik.   

“Saya istri Samsul. Ibu siapa?”

“Aku perempuan yang melahirkan Samsul.”  

“Samsul selalu cerita, Ibu meninggalkannya ketika ia masih bayi.”

“Tentu dia sangat ingin kuasuh,” kata perempuan setengah baya itu. “Boleh aku menginap di sini?”  

“Oh, tentu saja. Ini rumah Ibu,” balas Surti, dengan keramahan seorang anak menantu pada ibu mertuanya. “Kebetulan sekali Ibu datang. Nanti malam Samsul dihukum mati, besok pagi dimakamkan.”

Pucat  wajah Salindri. Tubuh perempuan setengah baya itu gemetar. Ia merasa bersalah. Ia meninggalkan suami dan anak yang kini menjelang dijatuhi hukuman mati. Ia menyiram bensin dan membakar suami yang tak mau berhenti berjudi. Ia  melarikan diri dari rumah, mengembara di ibu kota, tak berani pulang.

Kini Salindri memasuki kamar yang dikosongkan sejak kematian Panji Rangsang, suaminya. Ia  menemukan tempat tidur dan lemari baju kayu sonokeling, masih kokoh, kecoklatan, kusam berdebu. Tiga puluh tahun meninggalkan rumah papan kayu di Lembah Kelelawar, ia masih menemukan kenangan seperti semasa pengantin baru.

Di dalam kamar itu Salindri merasakan degup jantung yang kencang. Tubuhnya lemas. Ia merasa telah menjelma iblis betina yang mengorbankan anaknya sendiri.     

***  

Pagi berkabut, dalam sunyi tanah kuburan di lereng Gunung Wurung, Salindri berdiri goyah di bawah pohon trembesi, menanti jenazah Samsul dimakamkan. Di sisinya berdiri gelisah Surti dan Laila.     

Hanya beberapa orang yang mengusung dan mengiringi jenazah Samsul. Liang lahat sudah digali kemarin sore. Salindri sangat ingin melihat wajah anak lelakinya. Tetapi komandan regu tembak,  yang mengiringi jenazah Samsul, tak memperkenankannya membuka peti mati. Salindri berdiri memandangi peti mati jenazah anak lelakinya diturunkan ke dalam liang lahat, ditimbuni tanah hingga berupa gundukan yang ditaburi bunga. Seorang ulama membaca doa, seperti tergesa-gesa, dan terkesan melakukan pemakaman rahasia. Hanya beberapa orang desa yang hadir dalam pemakaman. Suro Kolong turut melayat. Lelaki setengah baya itu berdiri di sisi ulama yang membaca doa. Beberapa pelayat  buru-buru meninggalkan makam.  

“Kudengar Samsul kebal peluru,” kata Salindri pada anak menantunya. “Bagaimana mungkin ia bisa ditembak mati?”   

Menuruni jalan setapak makam Gunung Wurung, Salindri terus menunduk, seperti ingin menyembunyikan masa lalu yang dijalaninya bersama Samsul. “Tiap tubuh yang kebal pasti memiliki kelemahan. Peluru yang digunakan menembak Samsul sudah disepuh mantra Suro Kolong yang dikenal sakti. Kekebalan Samsul tak ada artinya.”

Salindri teringat akan sosok Suro Kolong, lelaki yang selalu tirakat di Gunung Jabalkat. “Seingatku, Suro Kolong pernah berguru pada Ki Gandrung Marsudi.”  

“Samsul juga berguru ke sana. Tapi Suro Kolong lebih sakti.”           

***

KetikaSurti mengemasi seluruh pakaian dan barang-barang miliknya, dimasukkan dalam kopor, dan dikemas rapi, Salindri tercengang. Apakah menantunya akan meninggalkan rumah ini?   

“Apa yang kaulakukan?” tanya Salindri, dengan pandangan tak mengerti.    

”Kami akan meninggalkan rumah ini. Kami akan menetap di kota, agar saya bisa lebih mudah menerima tanggapan nyanyi.”

“Kau akan meninggalkanku seorang diri di rumah ini?”   

“Saya tak bisa bersama Ibu. Seorang lelaki akan melamar saya. Kami segera nikah.”  

“Siapa laki-laki itu?”

“Ibu akan mengenalnya.”

Siang hari komandan regu tembak datang dengan mengendarai mobil sedan. Di belakangnya sebuah truk bak terbuka diparkir di pelataran rumah dan seluruh barang-barang Surti diangkat ke dalamnya. Komandan regu tembak menjemput Surti dan Laila.       

“Itukah calon suamimu?” tanya Salindri dengan sepasang mata keheranan.

“Ya.”

“Kau akan jadi istri kedua?”

Surti mengangguk, setengah terpaksa. “Aku merasa tenteram dan dilindungi.”

“Tapi kenapa dia tampak sungkan padaku? Ia seperti ingin menghindariku.”

“Dia cuma belum akrab pada Ibu. Kalau sudah akrab, ia akan menjadi lelaki yang menyenangkan.”

Salindri merasa bahwa komandan regu tembak menyembunyikan sesuatu yang belum dipahaminya. Sepasang mata komandan regu tembak  memancarkan  rahasia yang ingin disingkap Salindri.    

***

Menjelang sore seluruh barang Surti dan Laila sudah dimasukkan ke dalam truk. Komandan regu tembak mengendarai sebuah mobil sedan memarkir mobil itu di tepi jalan Lembah Kelelawar. Salindri merasakan sepi yang menggerogoti jiwanya. Ia akan tinggal seorang diri di rumah warisan suaminya.  Tak ada tetangga yang menempati rumah di lembah ini.  

“Biar Laila tinggal bersamaku di rumah ini,” pinta Salindri. “Ingin kutebus kesalahanku pada Samsul dengan mengasuh cucu.”  

Lama Surti memandangi Laila dan komandan regu tembak.       

“Laila bukan cucumu. Ia anak gadisku,” balas komandan regu tembak.

“Bagaimana mungkin Laila bukan anak Samsu?”  

Terdiam sesaat, komandan regu tembak itu menukas sopan, “Tanyakan keadaan anak lelakimu itu pada Suro Kolong. Ia pernah mencelakai Samsul.”   

Salindri tertegun. Lama memandangi Laila, dan gadis kecil itu hanya terdiam. Mengikuti semua perintah komandan regu tembak, Surti dan Laila berpamitan pada Salindri.  Lembah Kelelawar senyap. Pohon sonokeling, jati, dan munggur yang rimbun memendam angin pegunungan.

“Kau puas bisa menghukum mati anakku dan mengawini jandanya?” kata Salindri pada komandan regu tembak, ketika lelaki setengah baya itu berpamitan.

***

Matahari hampir tenggelam. Di  ladang jagung Suro Kolong, Salindri   menjumpai lelaki setengah baya itu. Ia sudah mengenal lelaki setengah baya itu semenjak masih tinggal di Lembah Kelelawar, sebelum meninggalkan desa. Perempuan setengah baya itu tampak gugup dan gelisah.     

“Apa yang kaulakukan terhadap anak lelakiku?” tanya Salindri, dengan suara yang bergetar.   

“Oh, dia pernah menggagahi putriku, Tari, di sendang.”

“Lalu, kau balas dendam pada Samsul?”

“Aku memukuli punggungnya pakai tongkat sonokeling.”

“Apa lagi?”

“Samsul pernah mencuri jagung di ladang pada tengah malam. Aku meminta Subro, anak lelakiku untuk memanah selangkangannya.”

“Kenapa kamu sekeji itu?”

“Anakmu akan lebih keji, kalau tak dilukai kelaminnya. Cuma aku yang bisa melukainya.”

Dada Salindri bergemuruh. Tetapi ia tak berani menumpahkan kemarahannya pada lelaki setengah baya di sisinya. Ia menunduk, meninggalkan ladang jagung. Dalam hati ia merencakan balas dendam.***

Pandana Merdeka, Juli 2024


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018).  Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit  Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021.  Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).

Puisi

Puisi Galuh Ayara

X

kau adalah x

yang berubah menjadi suara

yang kedap di kepalaku

menjadi dengung

kau telah melintasi tujuh dimensi

mampir di setiap kelahiran

menjadi suara bayi yang menangis

menjadi jerit putus asa seorang gadis

yang diselingkuhi kekasihnya

menjadi bisik pelan sebuah rahasia yang dijaga turun temurun

hingga batas yang sudah digambar takdir

lalu hari ini,

kau berada di bawah gedung

dengan kekasihmu

kau menangis ke arahku

yang siap melompat dari ketinggian–

seratus meter lebih

tapi tak berubah

di mataku, kau hanya memburam

2024


Rum Raisin Chocolate Ice Cream

siapa yang bisa melolong seperti anjing?

kau hanya wanita yang menangis setiap kali tubuhmu patah

di braga, trotoar menunggumu

dan seorang kekasih yang baik hati sedang duduk di bawah lampu

bersama anjing dan rum raisin chocolate ice cream yang sudah meleleh menjadi sisa udara dingin di tangannya

sedalam apa masa lalu menyayat kulit tubuhmu?

di kamarmu, kau cium aroma rum dan coklat yang meleleh

kau kenali udara dingin itu lebih dari mengenali dirimu sendiri

di braga, rum raisin chocolate ice cream

tinggal berupa aroma kehilangan yang tajam

lelaki itu menuntun anjingnya pulang lebih baik dari hari sebelumnya

lalu, kau ingin melolong?

di kamarmu, kau sedang merangkak menjadi–

anjing?

2024


Bunga Sihir

you are daffodil

but i’m devil?

kelak kesedihanmu sampai ke telinga bulan

; bakung yang merintih di sajak-sajak rapuh yang menggema sepanjang sungai mengalir tanpa ampun dan tanpa maklum

melewati keras kepalanya peradaban

melewati aku

di dinding kepalamu

kau bentuk senja menjadi tubuh perempuan

kau cium keningnya sepanjang umur dan sepanjang apa pun yang tak terjangkau ujung

kau adalah bakung

tumbuh sepanjang tubuhku

bungamu mekar di dadaku seperti sihir

kau merasuki tubuhku

melampaui akal

kau bawa jiwa perempuan yang kau cintai

lalu aku jadi menderita

ingatanku jadi lorong gelap menuju matamu

aku sudah menolakmu seperti iblis

aku siapkan racun paling mematikan

apabila kuminum, tubuhmu pecah dalam tubuhku

serpihan halusmu akan mengalir melalui arteri

lalu kulihat engkau hanya berupa–

wajah yang pucat

who’s the devil?

2024


Dari Aethelflaed ke Perutku

disaksikan bulan pukul dua pagi

aku melihat ia turun dari mata aethelflaed

lalu berdiri di kaki ranjang

ke mana perginya cermin-cermin di kamarku?

lady of the mercians

di dinding, aku melihat bayangannya berwarna putih

seperti warna sayap malaikat

dan kuda-kuda berlari

lalu seluruh kecemasanku lenyap

ia memelukku sampai gelap dan

rambutku jatuh helai demi helai

menjadi hujan yang lamat-lamat hilang

di pahaku bau amis darah berganti jadi aroma bebukitan dan bau dinding tua

lihatlah, tanpa cermin aku melihat aethelflaed melalui tubuh itu

; gadis kecil yang meringkuk tanpa ibu

menahan sakit perut datang bulan

yang membuatnya kedinginan

2024


Blur

begitu jauhnya aku

hingga tak berjarak dan tak terhitung

aku kehilangan tangan dan dahimu

aku kehilangan udara hangat hingga tubuhku biru. hingga bibirku kaku.

tapi aku tidak menangis

sejak lama dadaku sudah menjadi es

meski nyeri

dan sekelilingku menjadi mendung

lalu dingin

mengapa aku sulit menemukanmu? mengapa kamu tidak menemukanku

berikan lenganmu,

aku hampir hilang

2024


Petite Fleur

dadaku baru tumbuh sebesar kiwi

kiwi paling kecil yang pernah kumakan

kau bilang aku adalah gadis kecil yang manis

kau letakkan jarimu dengan gemetar

kelak di sini akan mekar bunga, katamu

tapi aku memelihara api

kau menggendongku seperti menggendong permen kapas

aku seakan melayang di punggungmu yang seluas gardenia

dan tidur layaknya peri kecil yang pucat

seperti vampir

lelaki besar yang tingginya mirip eiffel yang sulit kujangkau, sudah sejauh apa kau tamasya?

dadaku sudah tumbuh mekar

kau akan hirup wangi bunga yang dulu kau tanam di puting susuku

pinggangku sudah kuukir menjadi lembah

kau akan betah menjatuhkan diri di sana

seberapa jauh buku-buku membawamu lari dariku?

kuciptakan jalan pulang dari helai-helai bulu mataku yang jatuh

kau tidak mungkin tersesat bahkan jika matamu terpejam

bahkan jika kau tikam rembulan 

kau akan tetap menemukan jalan kembali

apa yang kau temui di sana?

konon harga kesetiaan lebih mahal dari mimpi, kan?

2023


Sejarah Kehilangan

di tubuhmu yang malang

waktu sudah amat matang

jarumnya berdetak ke arah maut

kau duduk saja di sana

dengan letih yang kau sembunyikan di dada

matamu menatap lurus pada ia yang berdiri di seberang jalan

di kepalamu tergambar sebuah wajah

seperti tayangan di televisi tua

dan adegan seorang gadis kecil yang menuntun chihuahua yang

kehujanan di punggung jembatan

tubuhmu menggigil

arloji berdetak lemah

ia masih bertahan di seberang jalan

sekarang wujudnya mirip seorang lelaki besar yang sedang mengawasimu

tangannya yang panjang dan gelap bergerak tak karuan

lalu cepat meraih tengkukmu yang dingin dan ungu

di kaca sebuah gedung

tak kulihat lagi wajah yang pucat

dan tak kulihat juga bayang seorang gadis mungil

yang menangis sambil menuntun chihuahua

maka aku merasakan lagi

kehilangan yang tidak asing

2023


Galuh Ayara, suka menulis puisi dan cerpen yang dimuat di berbagai media. Penulis dapat ditemui di Instagram @_galuhayara

Cerpen

Alarm

Cerpen Sara Sujana

Tak ada suara alarm, tak ada suara anak-anak yang bernyanyi riang. Aku justru terkejut karena terbangun dalam kesunyian.

Lain dari biasanya.

Meski tak sama seperti hari-hari sebelumnya, namun satu benda yang selalu dan pasti akan kucari setiap bangun dari tidur pulas semalaman, satu benda yang biasa kusimpan rapat di bawah bantal, hanyalah satu: ponselku.

Satu, aku selalu terbangun karena tersentak suara alarm dari ponselku. Dua, aku harus mengecek aplikasi perpesanan, lagi-lagi dari benda yang sama.

Namun kini, di mana itu? Jelas sekali kalau alarm yang harusnya berdering dari sana, pagi ini tidak melaksanakan tugasnya seperti hari-hari lalu.

“Nina…Nin!” teriakku, gusar.

Nina itu nama istriku.

Tak ada jawaban.

Sepi, sunyi.

***

Matahari telah menggantung tinggi di seperempat langit dan cahayanya masuk melalui celah-celah tirai putih di kamar. Aku beranjak dari pembaringan.

Di mana ponselku?

Sial! Jam berapa ini? Mestinya alarm di ponsel itu berbunyi pukul tujuh, membuatku jenggirat dari tempat tidur dan buru-buru meraba ke bawah bantal, mengambil si ponsel dan mematikan alarmnya, bergegas untuk mandi, sarapan, mengantar anak-anak ke sekolah dan melesat ke kantor melawan kemacetan.

Sial! Ada meeting jam sembilan pagi ini!

***

Melangkah aku keluar kamar, namun seketika kakiku terhenti di depan pintu yang menghubungkan living room dengan ruang makan sambil kutengok dua kamar di depan living room itu, kamar kakak adik yang bersebelahan dan selalu berantakan setiap pagi karena keduanya sibuk mengaduk lemari demi mencari seragam dan atau menyiapkan buku pelajaran. Kini rapi, sepi, kosong. Rumah cluster yang selalu ramai ini terasa ada di ujung bumi.

Pandangku terlempar pada jam dinding bulat yang menempel di ruang makan. Jam sembilan kurang, kurang sepuluh atau lima belas, entah!

Kenapa Nina tidak membangunkanku? Sudah jelas aku telat, kini aku harus bolos kerja dan…

Ah, di mana Nina dan anak-anak?

Di mana ponselku?

***

Dua malam lalu, Nina bilang kalau dia tak sanggup jika harus resign, mungkin dia akan mengajukan permohonan kepada perusahaan untuk boleh bekerja di rumah.

Jawabku, “Terserah kamu saja.”

Dan tadi malam, Nina pun bilang, “Andre, kalau memang itu yang kamu mau, supaya aku fokus mengurus anak-anak di rumah dan undur dari pekerjaan, mungkin akan kupertimbangkan. Aku bisa menyibukkan diri di rumah dengan membuat konten. Aku suka memasak, aku bisa memasak apa saja lalu menjadikannya konten di Instagram.”

Jawabku, “Terserah kamu saja.”

Yang terjadi di malam-malam sebelumnya, hanyalah pertengkaran-pertengkaran panjang setelah anak-anak tertidur nyaman di pembaringan.

***

Pada akhirnya kutemukan ponselku di atas meja makan.

Aplikasi perpesanan pribadi antara aku dan seseorang, masih terbuka.

Alin : Selamat tidur sayang. Jangan lupa besok pagi meeting jam 9.

Andre : Selamat tidur juga sayang. Ok, siap.

Alin : Jangan lupa taruh hp di bawah bantal!

***

Termangu kini aku, kembali ke kamar, menatap kosong pada setiap sudut ruangan.

Jam di ponsel menunjuk pada angka sembilan kurang tiga. Sudah terlambat untuk meeting, sudah terlambat untuk mencari Nina atau anak-anak.

Sudah jelas semuanya. Keributan demi keributan yang terjadi selama enam bulan terakhir, aku yakin, hari ini kami sudah sama-sama menemukan jalan.

Dua jam yang lalu, sebelum alarm di ponsel itu membangunkanku atau mungkin justru saat alarm itu berteriak dan aku tidak menyadarinya, Nina telah lebih dulu mengambil ponselku, persis di bawah bantal tempatku melabuhkan kepala semalaman. Lalu ia membuka kuncinya dengan ujung jari telunjukku dan menemukan segala macam bukti yang menguatkannya untuk pergi.

Tak ada pertengkaran lagi, Nina pun tak ingin membangunkanku demi amarahnya.

Sebab, kuyakin, Nina juga memang ingin pergi.

Inilah yang terjadi pada akhirnya di antara segala macam perselisihan yang menguatkan alasan untuk perpisahan. Istriku sudah tak tahan, pun aku memilih perselingkuhan. Jadi pagi ini, aku hanya terduduk di ujung ranjang sambil terus menerus berpikir : “sudah, kan?“

Alarm di ponsel berbunyi, tepat pukul 9. Untuk yang satu ini pun aku tahu, tentu Nina yang menyetelnya demikian.


Sara Sujana, dari Yogyakarta. Suka kopi, kadang sehari tiga kali. Instagram: @sarasujana46.

Puisi

Puisi Alexander R. Nainggolan

Sajak Tentang Stasiun

orang-orang, bukan aku

rel dingin

kereta

keberangkatan yang janggal

lalu pada siapa akan tertuju

batas jalan

orang-orang, bukan kau

duduk melipat waktu

tenggelam dalam lamunan

aku bertabrakan dengan mereka

bukan kereta

kalender berganti

pagi, siang, sore

jam bergegas

detik-detik

terhambat

aku dan kau berjalan

entah memikirkan apa

atau hampa

kosong

melayang dalam kembara

tak jelas letak akal

tak ada tanda

peta-peta lama

yang mampu mencatat langkah

orang-orang mulai berteriak;

kapan kereta berangkat?

2019


Sajak Tentang Istri

                        – rina

“aku merindukan harum ketiakmu, di pagi yang masih putih,”

lalu bergegas mandi. menyiapkan matahari serupa mata sapi

luruh masuk dalam tangismu semalam

masih ada bau tubuhmu, menyatu dengan napasku

di gigir kulit coklat, merendam mimpi semalam

tak perlu kita bercakap tentang rumah, kota, atau manusia

sebab sentuhanmu sudah berkisah banyak

menumbuhkan benih bunga yang ada di lenganmu

setiap kali kukoyak sedihmu, air matamu tingkap

merupa gerimis masai. renyah dalam duka

terlalu sering kau menangis, memanggul sebagian deritaku

“aku merindukan getah bibirmu, bukan di malam-malam yang penuh lenguh,”

semestinya, aku bersujud kembali pada pelukanmu

menghitung petaka dari seluruh ragu yang gagu

setiap kupapah peristiwa yang tak sempat terbingkai

bahkan oleh sebaris kalimat pesan pendek, dering telepon yang berisi percakapan,

atau kesunyian kita tentang sekelumit asmara yang penuh amarah

tiba-tiba aku menciut, meski kelopak mawar merekah

di halaman hatimu

“aku benar-benar tak ingin melihatmu menangis. apalah kita, jika kau hanya serupa perempuan cengeng. menunggu pintu-pintu nasib di dalam rumah?”

lantas kugegaskan saja perjalanan ini

mestinya kita sujud bersama, mencari cinta yang baru

bukan sesat dan penuh isak

2019


Sajak Tentang Hujan Malam

tak ada yang kekal

bau hujan

tanah yang bergulingan

aspal basah

cahaya lampu bersejajar

semua mengkilap

menghapus duka

hujan yang deras itu membangunkan seluruh keterjagaanku

lewat berkas kejanggalan. impian dari pernikahan yang bahagia

mungkin akan kuhapus semua malam pertama, seperti perihmu

seperti bekas darah merah di celana dalammu

tak ada yang kekal

hujan akan berhenti

hujan yang deras itu, acap mengacaukan semua igauan yang kau susun

ratusan hari di masa lalu yang terbengkalai

tinggal tiang-tiang besi karatan yang menancap

asamara yang terlunta, hidup yang begitu rutin

adakah yang kekal?

selain matahari

aku merupa ibrahim mencari tuhan. semuanya padam

gulita. kubaca zarathustra

tak ada

tak

tak ada

tak ada yang kekal

hujan akan berhenti

meski aku akan berlabuh di jantungmu lagi

2019


Ujung Percakapan

1.

percakapan ini akan ada ujungnya

kau akan mendapati sebuah pagi

yang miskin matahari di sana

tak ada bentang cakrawala

cuma pertikaian yang kerap tak sudah

2.

mestinya aku tak mengangkat telepon seluler itu

kumatikan dan kutinggal pergi untuk tidur

masih banyak hal-hal lain yang tak terucap

bukan karena kata

bukan sekadar percakapan hampa

3.

tapi sudah jauh kita melangkah

tak perlu kita kebas lintangan nasib

sebab akan kita khidmati seluruh karib

merentangkan sebilah mimpi yang resah

2019


Senin Pagi

Tak dapat kutemukan sisa parfum di telapak tanganmu. Memintal doa-doa busuk ke pusara. Tebing yang nganga, aus dalam labirin, sebuah masa silam yang redup. Seperti bahumu tegak, tempat pertama kali kecut lelaki singgah, menjadi arjuna yang selalu sepi

Tapi, senin pagi tadi, jendela kamar tak juga berkoar, memanjati cahaya matahari hingga basah

Mungkin, ada baiknya aku menghitung waktu yang tergelincir dari ketiakmu, napas sesak perempuan, lipatan badan yang kasmaran, dan tak dapat kutemukan sesuatu, bahkan ketika kusibak kitab-kitab puisi yang terus merakit sunyi demi sunyi

2019


Gerimis Tak Sampai

Tiba juga gerimis itu, bermain di depan rumah. Meski, tak sampai ke dalam kamar. Membingkai setiap dingin yang makin bukit, hingga matamu tergenang. Menyirami letih tubuh, sambil berharap mimpi buruk segera pergi

Besok, cuaca akan berubah, kuyup di tubir jejak yang lumpuh. Mengingat setiap pinak peradaban, menyilet dalam kekal. Aku tahu, kau akan terus mengenang apa-apa yang pernah pergi dari ruangan ini

Sejumlah pertikaian yang membeku di kepala, seperti membangkitkan amarah

Tapi, gerimis tak lagi sampai

Menepikan kegamangan, atau sekadar mengusik bayang-bayang

Selalu saja membungkus kita dalam udara yang dingin di pori

2019


Alexander R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari. Bekerja sebagai staf Unit Pengelola Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPPMPTSP) Kota Adm. Jakarta Barat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di media cetak dan online. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016), Dua Pekan Kesunyian (Penerbit JBS, 2023).

Puisi

Puisi Khairuz Zaman NT

Sandal

Dulu, ibuku berkata

Anak kecil tidak boleh membawa sandal

Jika hendak bermain keluar

Takut hilang dan tertinggal

Kecuali ke madrasah dan langgar.

“Sandal hanya untuk perjalanan jauh

Melewati aspal dan terjal

Supaya kakimu bisa tahan

Menginjak rindu di tanah orang.

Sekarang aku paham

Juga lebih butuh banyak sandal

Ketika hidup mulai licin dan berliku

Pada takdir yang berbatu.

Aku tahu mengapa kakak dulu

Banyak mengoleksi sandal:

Ia harus menyesuaikan kenyataan

Dengan kaki yang mulai enggan berjalan.

Dan aku lebih suka sandal tebal

Ketika tak ada lagi tangan ibu ‘tuk dipegang.

Sandal adalah sepasang alas

Bagi kaki yang tak pernah tidur pulas.

Annuqayah, 2023


Kayu Bakar

Karena merindukan abu

Dapur menjadi ibu

Dengan tangan iba

Memungut kayu-kayu.

Sejak rintik pertama,

Mata wadung dibasuh

Di tubuh kayu yang mulai basah

Dan aku mulai membaca urat kayu

Sebagai surat yang ditulis hujan kepada akar.

Sebab ranting tak pernah mampu

Mematangkan lapar dan senyum ibu

Dalam tungku tak ada yang abadi

Kayu hanya akan menjadi abu

Dan kembali ke rahim waktu.

Sedang aku adalah iba di mata ibu

Yang tiba-tiba tabu untuk menjadi kayu

:hangus terbakar, arang padam dikubur kabar.

Annuqayah, 2023


Nirsampah

Aku tak pernah tahu

Seorang teman yang berangkat

Di awal sya’ban

Akan pulang dengan tangan

Tak berdebu

Yang aku tahu,

Ia selalu

Menyapu masa lalu

Halaman yang menyimpan

Kesedihan daun-daun

Dan mengekalkan bau dapur

Di Panggung Harjo

Kaki ramadhan mengantarku

Menjemput mimpi kiai

Menyambut senyum bumi

Di sinilah, hidungku

Hidung seorang santri

Tak mencium bau

Mulut dan perut

Manusia

Di laboratorium itu

Mesin-mesin menjerit

Menguliti nasib

Mencacah dan dipilah

Dengan doa-doa Khalifah

Matahari jatuh di mesin pemusnah

“akankah kita mereplika mereka?”

Tetapi, sampah adalah santri

Dipasrahkan sepenuhnya oleh wali

Dan tak maujud satu pun alat

Untuk mengasuh dan merawat

Kemudian,

Di Kemisan

Tong rongsok

Mengelas karat

Tang karet

Lehernya diikat

Dengan teriak panjang

Kelamin tumbuh

Dan kran kencing

Ke dalam botol

Muasal musim lebat

Meski di bawah ketiak

Kemarau

Aku tak pernah tahu

Sebuah kampung yang diapit Panggung

Krapyak dan Arca Yoni

Menetaskan darah nifasnya

Di ujung sebuah pulau

Bertabur garam

Yang aku tahu

Seorang lurah datang

Pada malam tanpa

Kur badar

Nyanyi-nyanyian

Dan penyambutan

Ia hanya menanam himmah

Nirsampah

Dan menitipkan qaul

“teknologi mesin adalah jalan terakhir”

Annuqayah, 2023


Polisi yang Lain

Di jalan Panti Rapih, pukul delapan lewat delapan

Seorang pemuda menyetop motor

Berplat nomor mati:

Remaja solo

Mahasiswi gajah Mada

Berhenti dengan degup kesal aneh

Di jalan Sabirin, jam mogok

Mata macet

Bunga Flamboyan

Kuntum Delonix regia

Memekarkan netra

Di sepanjang jalan kota

Di jalan itu

Polisi tak ada

Hanya sepasang manusia

Saling memenjara tatapan

Dan memborgol masa depan

Sebuah jalan tanpa waktu

Tanpa rambu

Mengantarku kepadamu.

Annuqayah, 2023


Borgol

Cincin ini adalah borgol

Yang dipasangkan Tuhan

Di jemariku-jemarimu

Saat kita tertangkap basah memanjat doa

Dan saling bertukar fatihah

Masih lekat dalam ingatan,

Malam-malam aku memasuki rumah-Nya

Seraya diam-diam mencuri rida.

Sementara, kau mencari kunci

Di bawah rak mimpi ibu

Untuk membuka kepala bapak.

Adakah ia akan menggandengkan tangan kita

Hingga Tuhan kehilangan cara melepaskannya

Atau ia hanya seutas tali pengikat kayu

Yang dikumpulkan hanya untuk menjadi abu.

Siapa pun –termasuk kita—ingin

Memasuki liang itu

Mengerami janji yang tertulis

Di langit-langit azali.

Annuqayah, 2024


Sebatang Kayu

; sapardi djoko damono

Aku ingin hidup sebagai sebatang kayu

Setia mengabdi pada tungku

Meski ia tahu

Pada akhirnya akan menjadi abu.

Aku ingin mati sebagai sebatang kayu

Sabar ditebang menjadi lembar buku

Meski ia tahu

Pada akhirnya tak pernah subur ditulis waktu.

Aku ingin tetap sebagai sebatang kayu

Meski hidup menjadi payung

Dan mati tak ada berkabung.

Annuqayah, 2023


Khairuz Zaman NT, kelahiran Sumenep, 24 Pebruari. Santri PP. Annuqayah daerah lubangsa, aktif di Sanggar Andalas dan Padepokan Salak.