Cerpen

Sebuah Percakapan di Hari yang Hujan

Cerpen Diana Rustam

Ini adalah percakapan sunyi seperti semua percakapan sepanjang tiga tahun mereka bersama. Hujan yang tidak deras dan tidak pula ringan pada sebuah sore di hari Sabtu, membuat jarak yang semakin lebar antara L dan P.

Duduk berhadap-hadapan di sebuah kafe yang memiliki kesan antik bergaya kolonial, L dan P belum juga membuka percakapan padahal sudah menghabiskan lima belas menit bersama. Mata L sibuk dengan layar telepon genggam. Sementara P menatap hujan yang menimpa permukaan jalan dari kaca jendela. Sekali-kali ia mengalihkan pandangan pada bunga camelia yang merahnya ranum, dalam pot-pot yang berjejer di halaman kafe.

Seorang pelayan datang menawarkan menu. L hanya mengangkat wajah sebentar kemudian kembali pada layar ponselnya, dan P memberi pelayan itu senyum yang separuh hati.

“Caramel macchiato dan ….” P melirik L, berpikir sejenak dengan banyak keragu-raguan. “Es…presso?” Meninggikan sedikit suara, P berharap L memberinya sedikit perhatian.

“Latte!” L meralat tegas. Masih menunduk. Jarinya bergerak-gerak di atas layar ponsel.

P lagi-lagi melempar senyum kepada pelayan, senyum yang tidak sebenar-benarnya senyum. Sunyi kembali. Semakin dalam. Nada yang dimainkan hujan semakin lamban. Itulah hujan yang tidak disukai P, hujan yang betah berlama-lama.

P memainkan jemarinya di punggung meja. Mengetuk-ngetuk serupa derap kaki kuda. L akhirnya mengangkat wajah. “Sejak kapan kaubelajar memainkan jarimu?”

“Sejak kapan?” P mengernyitkan dahi. Memainkan jemari seperti itu adalah kebiasaannya sejak kecil, sampai ia mengenal L, sampai ia dan L menikah. Di rumah mereka, P suka mengetuk jemari di atas meja makan saat menikmati sarapan. Mengetuk jemari di kaca jendela ketika memandang taman dari ruang keluarga. Di meja kerja, mengetuk jemari adalah ritual paling candu saat ia sedang berpikir keras. Mengetuk jemari bukan sesuatu yang baru saja ia mulai di meja kafe itu.

Pelayan membawa dua cangkir kopi. Cangkir digeletakkan di meja. Kali ini senyum P terlalu kecil untuk dikenali pelayan kafe.

L  mengangkat wajah. Meraih latte, membauinya beberapa jenak dengan mata terpejam. L menggemari wangi latte sebagai sesuatu yang menenangkan. P menatap L  seolah-olah itu adalah pemandangan ganjil yang pertama kali ia jumpai.

Setelah satu tegukan kecil, L perlahan meletakkan kembali cangkir pada tatakan. Pertama kali bagi P melihat cara L menikmati lattenya yang tampak hati-hati, seolah-olah tidak ingin mengusik keindahan lukisan di permukaan latte itu.

P bergeming. Caramel macchiato dibiarkannya sendiri. Menopang dagu dengan tangan kanan, mata P beralih kepada payung-payung pejalan kaki yang mengembang di jalan.

“Minumanmu akan dingin.” L menyela keheningan P.

“Aku suka dingin.”

P mengangkat alis. “Meminumnya saat hangat lebih baik. Apalagi sedang hujan.”

“Hari sedang panas atau hujan, aku suka macchiato yang dingin.”

“Lalu, kenapa tidak pesan macchiato dengan es? “

“Bukan dingin yang seperti itu. “

Hening lagi. Lebih panjang. Cangkir kopi L hampir tandas, tetapi hujan masih betah berlama-lama.

Bertemu di kafe pada sebuah sore yang hujan bukan sesuatu yang direncanakan untuk menghabiskan waktu berdua. Tetapi sebuah keterpaksaan, di sela-sela sulitnya waktu L yang selalu sibuk dengan gambar-gambar di kameranya, yang menjelajah kota hingga ke pelosok untuk sebuah maha karya. Dan P tidak punya pilihan lain, kecuali menunjuk kafe itu sebagai titik pertemuan termudah untuk mereka karena tidak begitu jauh dari  rumah sakit tempatnya bekerja, rumah sakit yang selalu padat dan sibuk dua puluh empat jam dalam seminggu, sekaligus tempatnya selalu menghabiskan waktu hingga larut.

Sebenarnya L bisa saja menyambangi P di tempat kerja untuk percakapan yang menurut P harus dituntaskan hari itu juga, tetapi P menolak. P berkata bahwa percakapan itu akan panjang, dan mereka membutuhkan tempat yang hening untuk tetap berpikir jernih saat bertemu nanti.

L dan P tidak lagi bisa melihat rumah sebagai tempat untuk bertemu, di mana mereka bisa berbagi perasaan dan pikiran. Rumah seolah terlampau jauh untuk menjadi tempat kembali.   Apabila L pulang, P sedang berjibaku di ruang gawat darurat dan meja operasi sampai dini hari. Dan jika P pulang, L sedang berada di luar kota. Tidak ada jejak yang tertinggal di rumah untuk dikenali.

L menghela napas. “Untuk apa kita di sini?”

“Kita butuh waktu bicara,” sambut P.

Namun, lagi-lagi sunyi. Sesungguhnya sunyi adalah keriuhan di kepala L dan P. Kesunyian menyeret mereka kepada banyak ingatan dan perasaan. Semakin sunyi, mereka akan semakin peka terhadap apa yang ada pada diri masing-masing. Keriuhan itu, tidak mereka temui saat sibuk bekerja.

Pertama kali mereka bertemu di sebuah lokasi bencana. L seorang fotografer yang saat itu mengambil gambar kehancuran sebuah kota dari bencana yang mengguncang kota itu, dan P seorang dokter bedah umum yang menjadi salah satu relawan sebagai tenaga medis. Kebersamaan di tempat yang penuh kekacauan itu menumbuhkan keakraban. Keakraban itu ternyata cukup membuat L yakin bahwa P adalah calon istri yang ditakdirkan untuknya, seorang yang mandiri dan pekerja keras. Dan P membutuhkan pendamping untuk melengkapi hidupnya yang kian merangkak jauh dari usia muda.

“Sepertinya kita lebih baik tidak bersama lagi,” ucap P ringan, seringan daun kering yang diterbangkan angin. Seolah-olah ucapan itu sudah ia siapkan jauh-jauh hari.

L meletakkan ponselnya di punggung meja dan mulai menatap P yang sudah meneguk kopinya. Tetapi L belum melontarkan satu patah kata. Matanya merayapi wajah P yang bening, sepasang mata P yang bulat dan alisnya yang datar namun cukup lebat. Oh, L baru menyadari bahwa P memiliki tahi lalat kecil di bawah mata yang indah itu. Sejak kapan ada tahi lalat di sana?

Dan P menemukan aroma cedarwood dari tubuh L. P mencoba mengingat, apakah L mengganti parfumnya? Sesungguhnya P tidak yakin apakah sejak awal L menyukai cedarwood atau vetiver? Atau malah selain keduanya?

P menunduk. Tenggorokannya terasa kering dan rasa hangat mulai menjalari kedua bola matanya. Mengisak di balik rintik hujan adalah cara yang tepat menyembunyikan air mata.

L menyahut setelah diam beberapa saat, “Haruskah?”

“Apakah kau cukup mengenalku dengan baik?” P menimpali dengan segera.

“Dan kau?”

Hening lagi. Hujan masih belum reda. Dan cangkir kopi telah tandas.

“Kalau itu terjadi apakah kau akan lebih bahagia?”

P menggeleng. “Dan kau?”

“Entahlah.” L melempar pandangan keluar.

Lampu taman kafe mulai dinyalakan. Sore merangkak menjumpai ambang malam. Pelayan kafe datang menawarkan sesuatu sebagai teman percakapan L dan P. Kali ini L yang tersenyum, tetapi kecil saja senyum itu. Ia memberi isyarat bahwa mereka tidak sedang membutuhkan sesuatu.

L melirik layar ponsel, kemudian menatap P yang juga melirik arloji.

“Kita …. “ Terputus beberapa saat. “Lanjutkan ini nanti,” ucap L sembari berdiri dari kursinya. Dari sorot matanya, L tampak menyesali situasi itu.

P menghela napas yang mengembangkan dadanya. Mereka keluar dari pintu kafe, L menuju ke timur dan P menuju ke barat.

Makassar, Juni 2024.


 

Diana Rustam saat ini berdomisili di Makassar, Sulawesi Selatan. Menyukai puisi dan cerita pendek, dan belajar untuk menuliskannya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *