Puisi

Puisi Maria Utami

Hujan Asap di Langit Kami

Kami datang, kumpulan helaan napas resah

dari dapur-dapur sempit juga gang-gang basah.

Suara kami hanyalah bisikan sunyi yang ingin didengar,

tapi langitmu menjawab aneh;

kau kirimkan hujan buatan yang pedih dan perih.

Bukan air bening, tapi kabut asap menyesakkan

memaksa kami menangis untuk alasan yang salah.

Beberapa dari kami jadi daun gugur sebelum waktunya,

jatuh ke aspal kelabu sebelum sempat mekar.

Nama mereka kini hanya gema lirih,

sajak duka yang tak akan pernah selesai ditulis.

Dan di balik jendela-jendelamu yang tinggi dan dingin,

jeritan kami hanya seperti rintik hujan di kaca,

terlihat basah, tapi tak pernah terasa di dalam sana.

Negeri ini perahu kertas yang kita layarkan bersama.

Tapi kini ia akan berlayar ke arah mana?

Langit membisu, tak ada bintang petunjuk,

dan kami di dalamnya hanya bisa menunggu fajar

dengan ritme yang tersisa.

Yogyakarta, September 2025

____________________

Duka, Murka, Linimasa

Dulu, kubuka kau seperti jendela pagi,

mencari sapa hangat atau secangkir kopi.

Linimasa ibaratkan beranda yang teduh.

Tapi saat ini, berandaku penuh kabar duka;

foto anak-anak negeri yang tak lagi bernyawa,

wajahnya jadi sajak paling pilu yang pernah kubaca.

Lalu wajah-wajah lain datang dari balik dasi,

mengucap kalimat hampa tak punya hati,

seperti dongeng yang dibacakan di atas bara api.

Dadaku sempit, asam lambungku naik.

Amarah dan mual bercampur di dalam benak.

Ponsel di tanganku yang dingin terasa panas juga berisik.

Jendela ini tak lagi memantulkan langit biru,

ia kini cermin retak yang menampakkan luka negeriku.

Ingin sekali kututup tirainya, tapi bagaimana aku bisa?

Jika di luar sana, di jalanan itu,

ada yang sedang bertaruh nyawa.

Yogyakarta, September 2025

____________________

Payung Hitam

Payung hitam ini

bukan untuk menanti hujan.

Ia adalah atap bagi sebuah kesunyian,

langit kecil bagi doa-doa yang merana.

Di bawah naungannya, kami menjaga sebuah nama,

menjadi perisai bagi martabat yang tersisa

dari tatapan acuh juga janji-janji dusta.

Warna hitamnya adalah tinta paling pekat

untuk menuliskan dua kata yang tak akan berkarat:

“Tolak Lupa”.

Setiap kami berdiri di sini dalam diam,

kami sedang menanam benih harapan

di atas aspal yang kejam.

Jadi biarlah payung ini terus terbuka,

meski panas atau gerimis datang menyapa.

Ia akan tetap di sini, menjadi saksi yang tabah,

sampai langit di negeri ini benar-benar kembali cerah.

Yogyakarta, September 2025

___________________

Doa Kekasih dari Seberang Layar

Di dalam kamar kosku yang aman,

perjuanganmu kupantau lewat layar ponsel.

Aku menghitung setiap wajah di lautan kerumunan,

berharap tak menemukan wajahmu di antara yang rubuh.

Asap tebal yang membubung di layar itu

terasa sesak hingga ke dalam dadaku.

Hatiku kini dua musim yang bertarung sengit:

musim semi yang mendukung keberanianmu,

dan musim gugur yang gemetar takut kehilanganmu.

Kupejamkan mata, kutitipkan namamu pada angin,

sebuah doa amat sederhana untukmu yang kucinta,

“Tuhan, jaga dia, kembalikan dia padaku utuh.”

Menanti kabar perubahan negeri

sama sabarnya menanti satu pesan singkat darimu nanti.

Sebuah pesan yang barangkali hanya berisi satu kata:

“Pulang.”

Dan kata itu akan jadi penyejuk hati paling berarti.

Yogyakarta, September 2025

___________________

Hanya Mata yang Berlayar

Kulihat sepasang suami-istri cemas di lorong rumah sakit,

anaknya terbaring sebab racun dari makanan gratis.

Kulihat seorang bapak menatap surat pajak

yang angkanya terasa lebih tinggi dari atap rumahnya.

Kulihat seorang ibu merapikan ijazah anaknya,

selembar kertas yang belum bisa membeli apa-apa,

doanya bagaikan gerimis yang turun setiap senja.

Kulihat seorang guru dengan kemejanya yang usang

mengajar aksara dengan semangat paling benderang.

Kulihat anak-anak muda yang berani punya suara

diikuti bayangan-bayangan gelap tanpa nama.

Mereka nyalakan api kecil di tengah malam buta

meski angin ancaman terus coba membuatnya sirna.

Aku tak di sana, tak di sini.

Aku hanya sepasang mata yang terus berlayar

di atas lautan duka negeri ini.

Yogyakarta, September 2025

____________________

Maria Utami, seorang ibu rumah tangga asal Kota Yogyakarta yang aktif menulis puisi. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk terus berkarya. Beberapa karyanya ada yang terpilih dan dimuat dalam buku antologi puisi. Sebagian naskah puisi lainnya juga sudah terbit di sejumlah media literasi digital. Dapat didukung atau disapa melalui akun Instagram: @maria.oetami.

Puisi

Puisi Hikmalsst

Melodi Kelam Jalan Menuju Hati

Di jalan menuju hati yang kelam

Rintik gerimis memutar melodi

Angin berbisik di daun-daun pohon

Aku, luntang-lantung, terombang-ambing

Kesunyian memayungi langkah-langkahku

Tak ada penanda, tak ada petunjuk

Hanya cahaya remang yang menari

Kecemasan bergema di tikungan hati

Ingin pulang ke tubuhku, pada petang diam

Namun kecemasan berkecamuk di ingatan

Seakan aku tersesat di lorong-lorong kelam

Dalam melodi kelam jalan menuju hati

____________________

Pada Akhirnya, Kita dan Waktu

Sayangku, hari-hari menyusup tanpa aba-aba

Waktu tak kenal lelah, tak henti berlalu

Bau hari tak pernah berubah, tetap sama

Hanya ingatan kita yang berpindah-pindah

Berjalan dari kelelahan ke kelelahan

Dan kelupaan memenuhi setiap sudut hati

Tak ada jeda untuk merenungkan arti

Mengeja rindu-rindu di antara langit dan bumi

Semua sibuk mencari jalan keluar

Dari kesepian yang seolah tak berujung

Tak ada yang mau bertanggungjawab

Atas kekacauan di kepala kita

Pagi dan sore, siang dan malam datang berganti

Tapi hidup tetap memberi kelelahan

Dan kelupaan menjalar tanpa henti

Pada akhirnya, sayangku, waktu tak menunggu

____________________

Di Hadapan Maksud Waktu yang Tak Terpahami

Sayangku, kehidupan seperti jatuh dari langit

Tak mengerti, kesepian meliputi segalanya

Kita, terbata di hadapan waktu yang misterius

Keinginan merakit jalan menuju depan pintu hatimu

Kau menunggu, sementara kita bercerita

Lebih dari satu miliar kalimat di atas meja

Sayangku, maukah kau menunggu?

Kelak, saat hari membaik, kita rayakan bersama

Melihat kota diguyur angin, air laut melambai

Jari-jemari kita dihujani cinta setiap hari

Di hadapan maksud-maksud waktu yang tak terpahami

____________________

Demikian Rindu Ini Meresap

Asal kau tahu, sepanjang waktu berlalu

Keinginanku terpenuhi, kebetulan terjadi

Kita bertemu di suatu tempat, di suatu hari

Mungkin terkejut, mungkin tak

Aku lupa, bagaimana tubuh ini bereaksi

Bekerja di hadapanmu, apakah kau sama?

Duduk, menceritakan kisah kita

Kunyah setiap hari dengan perasaan aneh

Aku yakin, saat tiba waktu tak berarti

Di hadapan ingatan kita berdua

Lidah belajar bicara, mengenal bahasa baru

Demikian rindu ini meresap di dalam kita

___________________

Hikmalsst (Hikmal Yazid)

Pengajar di lembaga madrasah dari berbagai tingkat. Mengisi celah waktunya untuk merekam kehidupan dengan aksara.

Puisi

Puisi Riska Widiana

KEPADA SELURUH SAJAK

Aku berterima kasih kepada seluruh sajak

Ia diciptakan seperti ibu 

Atau seseorang yang memiliki pelukan besar

Bersedia melapangkan dirinya

Menampung banyak cerita

Yang tak seharusnya di dengar

Oleh telinga-telinga kehidupan

Kepada seluruh sajak

Teruslah berumur panjang

Tempat orang-orang pulang

Saat tak ada wadah cerita berlabuh

Riau, 2025

___________________

SEMENANJUNG MALAM

Risik angin malam yang sendu

Menggerakkan laut di dadamu

Kau membuka jendela

Melepas resah jauh ke punggung ombak

Ombak yang beradu

Di bawah segala kerinduan

Keheningan membentang luas

Di bawah cahaya bintang

Kata-katamu berloncatan

Bagai anak-anak Ikan dilepas

Menyusuri setiap teluk

Berisikan ruang-ruang rindu

Cahaya bulan pecah

Malam itu, laut tersenyum padamu

Kau tersenyum kepada laut

Ia memeluk seratus kerinduan

Riau, 2025

___________________

MALAM YANG ENTAH JADI APA

Kepada apa lagi kau bersandar

Selain ruang-ruang sepi yang abstrak

Tiang-tiang tiada tapi ada

Kau melabuhkan seluruh perasaan

Sesekali, malam menjelma ibu

Kau jatuh dalam pelukan hangatnya

Menjadi tempat bercerita

Melabuhkan seluruh sedih

Sesekali malam menjelma hantu

Yang mengintaimu dari bilik kecemasan

Kau ingin mengakhiri malam panjang

Lewat mimpi yang tenang

Tapi, dunia di kepala

Tak bisa membuka pintu lain

Kau terus terjaga dengan segala kesedihan

Hingga satu malam kau tenggelam

Riau, 2025

___________________

BUNGA-BUNGA KAKTUS DI PADANG GURUN

Dunia terus berbisik di telinga

Hingga kau terlena

Dalam kisah-kisah panjangnya

Seperti dongeng

Menidurkan dan mimpi-mimpi kaktus

Tumbuh di dada yang tandus

Dunia terus berbisik

Dengan bermacam kenikmatan

Bunga-bunga berduri

Mekar dalam hati yang sukar

Jiwa menjadi ladang gulma

Dusta berbuah delima

Dunia memeras madu

Ke cawan-cawan semu

Kau mabuk

Terminum anggur dunia

Hingga hidup seperti dalam mimpi indah

Kau lupa bangun

Tersadar, pintu pulang terbuka lebar

Riau, 2025

___________________

SENDIRIAN

Hatimu bagaikan sepotong daging segar

Lalu disayat sedikit demi sedikit

Dalam keadaan bunga mekar

Di bibirmu yang pualam

Tak boleh ada sakit

Tersyairkan dengan jerit

Harus tabah dengan mata tersenyum

Meski dada bergemuruh hebat

Menolong, meraung, terisak

Tak ada tempat bersandar baik

Di dunia penuh intrik

Selain kepada Tuhan bajik

Dirimu pun akan lemah

Pada akhirnya

Kesendirian akan terus melahirkan

Banyak sunyi dan hening

Memeluk seratus kesedihan

Tak terpecahkan

Riau, 2025

___________________

SENDIRIAN 2

Sendirian dan sunyi adalah dua teman karib

Ia juga teman bisu yang mendengarkan

Seluruh kisah-kisah pilu mengharukan 

Kadang kau meleleh bagai es musim dingin

Menahan kesakitan sendiri

Duri-duri di hati terus menusuk

Kau menunggu sendirian

Barangkali ada seseorang atau keadaan

Datang membawa sebuah jalan besar

Di tangannya yang berbunga mawar

Tapi, lagi-lagi kau mencair kembali

Menjadi musim dingin tanpa ujung

Tak temukan sesuatu yang bisa

Membawamu pergi jauh

Batu-batu seakan tumbuh lalu jadi bukit

Memenuhi dada dan sesak

Kau ingin bernapas lapang

Tanpa ada yang ditahan

Seakan bernapas dalam air

Kau ingin membuka tirai yang selama ini samar

Menatap terang matahari

Sinar cemerlang bulan

Dunia tanpa mengutuk

Kau tak mencaci dirimu sendiri

Riau, 2025

___________________

Riska Widiana. Berdomisili di Riau kabupaten Indragiri hilir. Karyanya termuat ke dalam media cetak dan online seperti Klasika kompas, Suara Merdeka, Rakyat Sultra, Republika, Babel post, Merapi, Lombok post, Pontianak Post, Bangka post, Nusa Bali, Waspada Medan, Sarawak Malaysia, Harian SIB, Haluan Padang, Radar Kediri, Radar Madiun, magrib id. Ayo Bandung.com. Litera SIP, Langgam pustaka, Maca Web, Cendana News. Dunia santri, Barisan co. Metafor id. Bali politika, Marewai. Com. Majalah elipsis, Hadila, semesta seni Dll. Juga di antologi seperti (FISGB 2022) (Hari Puisi Indonesia, Masyarakat jember 2022) (Suatu hari dari balik jendela rumah sakit, Bali 2022) (Dokterku Cintaku, Denpasar 2022) (100 Tahun Chairil Anwar, 2022) (Madukoro Baru 1, 2022) (Negeri poci 12. Raja kelana, 2022) (puisi sepanjang zaman, Satria Publisher 2022) (Sebagai juara satu dalam lomba tingkat Nasional, Jakarta dan Kolaburasi)  (Peraih Anugerah sebagai juara satu, Negeri kertas 2022) kategori puisi terbaik nasional oleh penerbit Alqalam batang dan Salam Pedia, 2021) Alamat Facebook; Ri-Ana, Instagram riskawidiana97 alamat email [email protected]

Puisi

Puisi M.Z. Billal

SEBUAH RAHASIA YANG KUTULIS DALAM SATU KALIMAT SINGKAT

aku ingin membunuhmu.

saat kita saling memasuki diri.

aku ingin di sana selamanya.

meski kau perlahan memudar,

kau harus mati dalam pelukanku.

2025

___________________

MELEPAS KEPERGIAN HUJAN

betapa kerasnya aku terhadap diri sendiri

sudah tahu tak lagi dicintai tapi masih

berpura-pura bahwa keadaan akan pulih

seperti dulu, saat kita saling berkirim

kata-kata manis menjelang tidur.

padahal nyatanya semua itu sudah tak ada

sudah jadi debu yang larut dalam hujan.

semakin aku mengatakan tidak mungkin

semakin sesuatu yang tak terlihat

tapi hangat memeluk jiwaku erat.

    “kau harusnya pulang. lekaslah pulang.

     sebentar lagi gelap. dan selamanya gelap.

     pergilah ke sana, yang jauh. tempat di mana

     sinar dengan layak mengecup harapanmu

     yang mulai pupus itu. jangan menunggu lagi.

sebab hujan tak boleh turun lagi di sini.” bisiknya.

aku tak bisa berkata-kata.

hanya diam dan membiarkan

keikhlasan terus menepuk punggungku

ke dalam pelukannya.

       ya, memang sudah tidak ada apa-apa lagi

       waktunya tidur dan melanjutkan semua impian

       dan kata-kata baik yang kemarin tertunda.

2025

___________________

NEGOISASI HARI SENIN

setidaknya kau harus menjadi kekasihku

sepanjang hari. karena perasaan ini sepenuhnya

masih tertinggal di kasur tidur beserta seluruh rindu

yang makin ganjil tiap kali aku makan sambil berpikir,

kenapa sulit sekali melepas pergi hal-hal atau

seseorang yang memang tak bisa kita miliki.

sepertinya dari minggu sampai senin aku selalu

ceroboh. terperangkap di mesin cetak bagai kertas lusuh

yang nekat menjadi pelampiasan hasrat pikiran para pekerja

padahal aku tahu akan berakhir di tempat sampah.

mau menyesal pun hanya akan tetap menjadi

barang buangan. diabaikan dan dilupakan.

atau kau bisa bilang perasaan ini mirip jas hujan

yang terjebak dalam bagasi karena aku seringkali

tidak peduli sementara cuaca di luar rintiknya saja

telah melolong sekuyup itu pada pukul delapan pagi.

menjadikan semua basah, semua gelisah. semua memandangi jendela.

tapi, ya, setidaknya kau harus menjadi kekasihku

sepanjang hari ini. agar aku punya alasan untuk

lebih cepat menyelesaikan pekerjaanku dan buru-buru

pulang menemuimu, mengecup keningmu sambil berkata,

terima kasih, kau telah menjadi hari senin terbaikku.

meski aku tahu betul, di sana cuma ada dinding hijau alpukat

yang kuberi nama puisi-puisi dengan darah yang mengalir

dari tubuh rinduku, dari tawar menawar kata-kata yang tak

bisa kuucapkan ketika dalam sepekan kenangan bergentayangan

seperti hantu risau yang bepergian pada akhir desember.

2025

___________________

SEBUAH RUANGAN

aku selalu menyediakan sebuah ruangan

untukmu kembali dari pengembaraan, setelah kau

menyadari tak ada rindu yang mampu menarikmu

pulang selain rindu yang kuselipkan di pusaran angin

dan dalam puisi-puisi yang menjelma ikan sailfish,

yang mahir berenang cepat ke arahmu.

meski aku tahu ini bodoh. tapi entah mengapa

aku mencintai kebodohan yang paling ahli

menghabiskan usiaku ini. sebab aku pun sebenarnya

tak pernah tahu kapan dia akan kembali.

meski aku tidak terlampau duka, namun tak pula

aku senantiasa baik-baik saja dalam penantian ini.

      tapi, omong-omong, apakah kalian

pernah sebodoh ini

     saat berjuang dalam sebuah

usaha mencintai?

2025

___________________

PERCAKAPAN SEPASANG DADA

apa kau merindukannya?

                 tentu saja. bagaimana mungkin

                 aku tidak merindukannya. dia rumah

                  bagi kenanganku.

apa dia juga merindukanmu?

                  aku tidak tahu. dan aku tidak akan pernah

                   menanyakan itu.

apa tidak masalah merindukan dengan cara seperti itu?

                   akan selalu begitu. jika dia tidak rindu kepadaku,

                   itu bukan masalah utamanya. sebab akulah yang

                   memutuskan. aku tidak bisa mencegah kepada siapa

                   dia akan rindu dan tubuh mana yang ingin dia peluk.

apa itu tidak menyakitimu?

kupikir itu akan sakit.

                aku akan berpura-pura. berpura-pura tidak sakit.

                berpura-pura tidak rindu. aku akan terlatih

                untuk itu. kau tahu aku seorang penyintas.

lalu bagaimana jika aku nanti aku juga merindukanmu?

                                                …………………………

            dia hanya menatapmu. dia tidak pernah tahu.

            kaulah orang yang merindukannya

setengah mati. setiap hari.

2025

___________________

M.Z. Billal. Lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital seperti kompas.id,  Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, bacapetra.co, dll, serta sejumlah antologi nasional.

Puisi

Puisi Septi Rusdiyana

Origami di Antara Rautan dan Pensil

Sepasang tangan melipat emosi,

pada kertas origami berwarna marun.

Sudut amarah bertemu sudut keputusasaan,

sisakan garis kegelisahan sepanjang harapan.

Tak peduli segerombolan ilusi terbahak-bahak.

Sepasang tangan itu terus membuat lekukan.

Sampailah ia pada sudut lipatan terakhir,

terbentuk balon udara.

Bagaimana bisa terlupa?

Kosong tanpa mantera.

Sepasang tangan itu beralih di kepala.

Menarik helaian sesal,

berusaha merontokkan nyeri di dada.

“Tuhan, rasa apakah ini? Sangat sakit,

hingga seingin apa pun menangis tetap tak bisa,” gerutunya.

Sisi mata hati murni menatap lekat

pada pensil tumpul di atas loker.

Cepat-cepat ditangkis bisikan sisi hati lainnya,

yang coba butakan di mana letak rautan.

Sepasang tangan meraih keduanya,

membiarkan mereka bercumbu membabi buta.

Ia kembali lupa,

hasrat tanpa kendali membuat pensil kerdil,

dan ujungnya terlalu runcing.

Rautan berbalut lembaran kayu tipis,

menggigit isi pensil yang sempat patah.

Sepasang tangan itu lunglai di meja,

menatap nanar pada ketiganya.

Pengharapan apa yang masih mungkin ditulis?

Ketika waktu tak lagi berpihak,

sepasang tangan itu meraih pensil,

ditusukkan ke balon udara.

Lubang kecil menganga.

Kembali pensil dan rautan disatukan,

kali ini bergumul mesra.

Napas terengah teratur.

Merapal doa capai kepuasan.

Rautan dan pensil kerdil menjaga balon udara.

Serutan dirauk, dimasukkan ke lubang terbuka.

“Aku memang tak sempat menuliskan mimpi.

Namun telah kutitipkan embusan rindu dalam serbuk kayu itu,” katanya lagi.

___________________

Perjalanan

dua buku terbaca judulnya saja

bahkan keripik kentang lenyap

seiring kopi panas yang menghangat

pikiran terbawa laju pada kecepatan 100 kilometer per jam,

bandung – yogyakarta

sayang, bayangmu justru bergerak melebihi cahaya

mengajak berputar-putar bak tornado

membawaku ke perjalanan lain di atas angin

“tenang, aku telah memintal jaring laba-laba serupa jembatan,” bisikmu

decit rem disertai klakson panjang menyentak,

disusul serapah juru kemudi

kami akhirnya menepi,

sejenak selaraskan irama jantung dengan napas

kupasang headset dan bantal leher

musik belum dimainkan,

tapi ajakanmu bercumbu sudah lebih dulu terdengar

sial, rupanya kau masih saja berani menggodaku

___________________

Mabuk Parfum

berlarian

melompat-lompat

berteriak

terbahak-bahak

bahkan kita telah lupa ledakan travo di seberang,

yang sempat buyarkan urutan angka di bangunan mimpi kita

lemon

kayu manis

sweet pea

sedikit koral

dan apel

kau yakin dengan rasa pikiran itu,

digerus dalam drum berbau anyir

hingga tanpa kau sadari, kumasukkan perisa anggur

kau mulai mempertanyakan keaslian aroma tubuhku

seperti buah berri,

juga pasir pantai yang barusaja tersapu gelombang

kupikir kau tak suka

aku menjauh,

dan kau menarikku

merobek kemejaku, persis saat kau berceloteh

aku kedinginan,

kau malah asyik ciprati asaku dengan parfum ciptaanmu itu

aku marah

tapi kau menciumku,

mengendus-endus seperti pudel peliharaanku

kurasa kau mabuk

jarimu menggambar masa depan di dadaku

desahmu seperti doa-doa panjang

kepalaku mulai pening

“bukankah kita sedang mabuk parfum?” tanyamu

ruang kosong ini kian pekat

“ya, dan aku ingin bercinta denganmu,” sahutku sambil menelanjangi perasaanmu

__________________

Ingatan Senja

Langkahku terhenti

Bangsal Kenanga, ruang 207

Sekilas siluet 3 tahun lalu memanggil

Meringis menertawakanku

Semalaman aku menimbang isi pesanmu

Kamu benar, lelaki sejati adalah sesiapa yang menuntaskan mulanya

Meski kita tak pernah nyata

Selangkah masuk, aku membatu

“Pertahankan jarak itu!” perintahmu

Manusia-manusia di pinggiran melirik, matanya menjerit-jerit

Cantik, hatiku riuh bersahut memujimu

Tulang-tulang menonjol, tak ingin kalah sibuk dengan pikiranmu yang terus mencipta rumus

Aku telah mantap

Sekotak masa depan koyak kususun kembali pada warna terang

Bukan biru gelap kesayanganmu itu

“Aku senang kamu datang.

Merah akan membuatku semakin indah,” sahutmu lagi

Enggan aku menunggu lebih lama

Sesaat aku sempat mencuri ingat warna sosokmu, kuning

Kusambar pistol di saku celana

Detail kuarahkan pada kaki cahaya terakhir netramu

Merah dan kuning berhamburan

Memutuskan lebur jadi satu

Tepat saat pistolku terjatuh, senja mengetuk dari jendela

Mimpiku biarlah menjadi impian

Meski di ujung napas namaku tak kau sebut

Aku berhasil menjadi pahlawan

Oranye adalah selimut keabadianmu

___________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.

Puisi

Puisi Joe Hasan

Pulang

aku melihat kesepian

pada setiap kata-katanya

bahkan rumah

tidak selalu pulang baginya

aku, juga belum pulang untuknya

hanya sebagai persinggahan

hati mengatakan sama

bibir mengatakan beda

percakapan kita

adalah pulang baginya

yang tidak pernah ia temukan

pada rumah ibu

kira-kira seperti itulah

(Surabaya, 2025)

___________________

Doa

mengapa doa tak kunjung terkabul?

mungkin,

karena Tuhan ingin

agar kau terus berdoa

terus mengunjungi-Nya

terus menyebut nama-Nya

hal yang tak pernah kau lakukan

hingga di usia matang ini

 (Surabaya, 2025)

___________________

Katamu

katamu orang-orang mencariku

di matamu

benarkah?

kataku jangan

aku sedang sibuk menggambar di halaman ibu

sembari membaca doa para perantau

di tangan-Nya

bagaimana aku menelusuri?

sedang akulah debar di jantungmu

ya, aku mengutip sedikit ucapanmu

pada pidatomu yang terlampau diam

katamu orang-orang mencariku

di bening matamu

takkan ketemu

karena aku telah pulang

(Baubau, 2023)

___________________

Malam, Kawan

selamat malam, kawan

lama tak jumpa

ranjang ini memanggil sejak lama

dan kita hanya saling menunggu

malam ini milik kita

biarkan kulit yang bersuara

aku mencoba mengabadikannya

dalam kata-kata

hingga aku bingung

malam ini

kita sebagai kawan

atau sebagai kekasih

 (Suarabaya, 2025)

____________________

Sabda Si Pemalas

Tuhan, hari ini aku tak ingin berbuat apa-apa

kecuali tidur sepanjang hari

sampai magrib berkumandang

biar suci puasaku hari ini

kata seseorang yang pernah kudengar

Tuhan, bolehkah puasaku hari ini

diberi pahala yang banyak

sebab tidurku bukanlah caci maki

bukanlah maksiat

di ujung kamar sana

ada ponsel bersuara

“ndasmu.” dari lelaki gemoy

Tuhan, sepeti itukah jawabanmu

atas malasku?

(Surabaya, 2025)

___________________

Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Tulisannya dimuat di media cetak dan online. Buku Puisinya, Dosa Termanis (2024).

Puisi

Puisi S. Prasetyo Utomo

Mantera Cucu

Cucuku lahir dari mantera kecemasan     

bayi merah yang dipuja harta     

dan tiupan angin mengendapkan suratan

untuk sebuah kisah yang memendam teka-teki

Kau berada dalam sebuah panggung    

yang menggelar  harapan palsu

masa depan dan kenangan    

terpilin selubung rahasia    

Tanganmu memainkan lakon   

yang mungkin sudah usang  

dalam hamparan waktu penuh kegaduhan

akankah kau tegar dalam pertikaian?    


Mantera Kakek  

Telah kauendapkan petualangan    

pengalaman yang sia-sia    

dalam pusaran zaman        

dihadapkan ketamakan anak     

Kaususupi titian waktu  

dengan gagah      

dengan tangguh      

tapi pewarismu penghisap candu          

Ketika pohonmu lapuk

anak-cucu abai  petunjuk   

segala ikatan luruh    

tumbang dan terpuruk  


Mantera Pencari Tahta 

Masih tersisa sihir  pencari tahta     

tiap tokoh menebar sugesti    

untuk merenggut kuasa      

dan cuan lebih berharga daripada surga     

hidup melulu didera kegusaran  

berlumur keculasan      

dan tai asu dikais      

dikemas sebagai riasan  

Tiap orang tertambat resah      

berhambur mantera penaklukan    

gugup mencari perlindungan    

tak ada ruang bernaung   

untuk menghindar dari penistaan.    

Kecemasan serupa kudis menggerogoti tubuh        

lesap terisap lembab      

tersembunyi dalam pengap     


Mantera Rubah    

Serupa rubah yang malih rupa   

kaudekati siapa pun yang berkuasa  

mengabdi pada mereka yang punya cuan  

sebagai raja, mungkin sebagai dewa   

dan kau menghambakan diri serupa kacung   

yang culas memainkan kesetiaan

untuk ikut menikmati mangsa  

yang ditangkap raja hutan   

setelah menerkam binatang buruan   

Kau hanya bisa hidup sebagai rubah  

yang berlindung di bawah penguasa rimba  

dengan segala pengabdian

dengan segala pengkhianatan

Kau selalu berada dalam pusat pesta   

mengabdi siapa pun yang bermahkota    

sambil mengendus mangsa   

dan kau akan merenggutnya.


Mantera Ratu Adil        

Labirin  mengendap di sepanjang jalan   

ruang yang kini senyap dari propaganda    

dan kisah penuh janji    

tebaran gugus fantasi       

yang tak mungkin terpenuhi      

dalam lakon  yang menawarkan dusta   

Tak ada lagi cuan, beras, dan kaos    

bergambar  Ratu Adil    

dalam daya pikat fantasi       

kau kembali mengarungi musim-musim getir     

hidup dalam kubangan comberan   

mengais nasib seorang diri.     

Tak seorang pun mengenang janji

kau tersekap ruang sunyi     

dalam lelah menanti   

mereka berpesta lagi.    


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018).  Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit  Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021.  Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).

Puisi

Puisi Budhi Setyawan

Seblak Sublimasi

pada tepian jalan dekat toko swalayan
kerumunan adalah antidot kesepian urban

teramat dingin diabaikan oleh kenyataan
percakapan sengit dilakukan dalam genggaman

lalu dicarilah sekelumit letup kehangatan
alibi lepas dari kejaran segepok persoalan

bertemulah pada sebuah warung seblak
barangkali jadi awalan bekal buat tergelak

dalam panas minyak goreng curah
segala yang keras akan luluh pasrah

bawang merah bawang putih pun akur
berjumpa dan sepakat untuk melebur

kemiri daun bawang dan cabai rawit
aduk pelan pelan melupakan rasa sakit

ditambah gelegak didih air meletuk
kerupuk pun lunglai kehilangan keriuk

sawi mi makaroni baso dan sosis
tipis celoteh kadang sanggup mengiris

bisa juga tambahkan sepasang ceker
mesti cermat agar cinta tak mudah tercecer

paduan aroma kencur dan kenyal telur
jadi bagian dari resep memanjangkan umur

Tangerang Selatan, 13 Mei 2024


Apologia Jelaga

saat terjaga dari himpitan malam
ingin  dia tulis sajak tentang tuhan
tetapi kata-kata berjalan pada hampar
basah dan telanjang

lalu pertanyaan tentang cinta
menjelma antologi nonsens
yang sasar pada geletar

entah di mana kalam
yang ada kenyal kelam di semak liar
pengakuannya hari ini seonggok hambar

Bekasi, 30 Maret 2024 


Sajak Dinding Kamar

ia begitu keras dan dingin
dengan ketebalan disepuh waktu
dan tafsir yang kirimkan lembap
menampung nyanyian mimpi

ia pun rajin merekam kejadian
pertempuran di atas ranjang
geliat pemikiran dan ideologi
pergulatan tindih dan silang
pertukaran rintih dan riang
kata kata berpilin dalam kepalan
setiap pergerakan disulut saat remang

lalu ia membaca percikan memanjang
menderetkan kumpulan teriakan
suara suara yang kemarin tertahan
di pedalaman dinding kamar
menjelma ledakan ledakan di halaman koran

Bekasi, 30 Maret 2024 


Laki Laki dan Perempuan

seorang laki laki terburu buru
nyalakan cinta dari matanya yang gelap
untuk dunia yang tak dipahaminya

seorang perempuan diam diam
sembunyi di balik mulutnya yang amat sepi
telah siapkan liang jebakan begitu rapi

Tangerang Selatan, 13 Mei 2024 


Alarm Jam 3 Dini Hari

kau matikan bunyi alarm itu
yang sebenarnya tadi kau tunggu
kau pun menggerutu: ah itu lagu
mengganggu komposisi mimpiku

kau ingin sembahyang dan berdoa
tapi kau urungkan karena belum mandi besar
sehabis berjam jam bersenggama
dengan sajak sajak yang sintal dan liar

kau pijat sendiri kepalamu di atas telinga
masih ada sisa cenut cenut dari lenguh kata
lah, buat apa aku bengong terjaga jam segini
kalau hanya bisa mengencani sepi

Tangsel, 21 Mei 2024 


Budhi Setyawan, atau Buset, seorang dosen yang menyukai musik dan puisi. Mengelola Kelas Puisi Bekasi (KPB) & tinggal di Bekasi. Buku puisi terbarunya Elegi Elegi Yogya (2024). Instagram: busetpurworejo

Puisi

Puisi Aris Rahman Yusuf

Rumah Bambu

Saat membersihkan rumah

terlintas olehku

tentang sebuah ingatan

rumah bambu

berdinding kata mutiara

Di kamar tengah

aku pernah tenggelam

oleh banjir air mata

sebab sebuah kepulangan

Setelah kepulangan

bayangan lesap

kata-kata tergenggam erat

dan, ketika lepas

ia beraroma mawar

Mojokerto, 9 Agustus 2024


Meditasi

pejamkan mata

dari serpih duka

terserak

tutup telinga

dari bising lisan

menekan iman

biarkan napas turun-naik

mengempas segala selidik

menarik tali cahaya

mengikat legam prasangka

Mojokerto, 3 September 2024


Filosofi Pelukan

Pada mulanya, cinta adalah gaib.

Hingga akhirnya, berkobar pada hati yang tenang.

Pada mulanya, kita hanya sendirian.

Hingga akhirnya, tercipta pasangan.

Dari sebuah sepi,

tercipta rindu yang mengisi.

Sebuah peluk,

hadir dari lamun yang ramai

mengusik damai.

Sebab pelukan,

adalah obat manjur

menutup luka bakar.

Mojokerto, 14 September 2024


Masih Bisakah Aku Menulis

aku masih ingin menulis

namun kata-kata terasa habis

sajak-sajak terasa kikis

membuat hati seakan teriris

sajak-sajakku mungkin terbang

berkelana mencari sarang

hinggap pada sebuah kepala

yang merindukan nyala

sajak-sajakku mungkin kritis

sehingga sulit untuk ditulis

masih bisakah aku menulis?

ataukah menunggu hati kalis

Mojokerto, 14 September 2024


Hadiah Puisi

akhirnya kita memilih

untuk saling berpegangan

setelah badai mengguncang

tubuh kapal dengan kenestapaan

kita pernah memilih

untuk saling menjauh

hingga jerih mulai berlabuh

kita saling mempersembahkan puisi

untuk kembali saling mengisi

meski masih ada mulut latah memprovokasi

mulut yang bilang itu basi

Mojokerto, 15 September 2024


Saat Makan Nasi

Ia makan nasi dengan wajah pasi

lidahnya pelan menelan duka

pikirannya hanya berperang

tanpa berani keluar dari sarang

Rumitnya hidup hanyalah ranjau kecil

hanya jerit mengisi ruang dada

ia tetap menghitung almanak

hingga jerit lepas satu-satu

Ia makan nasi dengan perlahan

Sambil menyembunyikan duka tertahan

Mojokerto, 30 September 2024


Sebuah Wajah

Sebuah wajah tergeletak di meja

wajah itu tertutup rahasia

mengajak mata menyelam

memetik tabir yang karam

Wajah itu bisa berubah warna

mencairkan suasana

menyalakan cinta

melenyapkan duka

bahkan menanam petaka

Wajah itu memancarkan cahaya

di alam baka

Mojokerto, 1 Oktober 2024


Aris Rahman Yusuf, pencinta bahasa dan editor lepas. Suka menulis puisi dan nonfiksi. Tulisannya pernah terbit berupa antologi, di media massa, dan di media daring. Dua buku puisinya yang sudah terbit, yaitu Ihwal Kematian Air Mata (buku puisi solo) dan Lelaki Hujan (buku puisi duet). Facebook: Aris Rahman Yusuf dan Instagram: @aryus04.

Puisi

Puisi M.Z. Billal

BELAJAR MEMASAK

 

ia melihatmu tersenyum lagi. usai perdebatan panjang dan kau

menangis. malam itu. rasanya seperti matahari terbit dari dadanya

sendiri dan ia ingin sedikit memperlambat gerak waktu. agar malam

tidak lekas datang seperti mata dan bisik orang-orang yang tidak

berhenti mengintai dan mencecar, bagaimana perasaanmu dan ia bekerja

ketika memutuskan untuk saling memasuki tubuh dan kehidupan,

sementara kau tahu betul bahwa kau, baru saja diminta untuk mencintai

orang lain yang bukan ia; kedua orang tuamu berkata demikian.

kau lantas mengatakan lagi padanya meski ia sudah tahu.

aku ikan yang lupa cara naik ke permukaan dan kau sulur cahaya

yang jatuh lurus di palung gelap dada

 

dan ia menemukanmu sedang sibuk belajar memasak pagi-pagi sekali.

meneliti bahan-bahan di buku resep berulang kali seolah

kau ingin menerjemahkan sendiri Yale Cullinary Tablets dari Mesopotamia.

jamuan lezat untuk orang terkasih, katamu. semur sepasang merpati

ditemani dua gelas anggur putih barangkali hidangan yang indah untuk mengisahkan

bagaimana sebenarnya cinta bisa saling melahap satu sama lain. setidaknya

menyantap kesedihan dan kekecewaan yang kerap ia dan kau terima belakangan ini.

 

ini menakjubkan! aku seperti dicumbu tapi tidak oleh bibir dan dengus napasmu.

ia tidak tahan untuk tidak memujimu. barangkali ia pun ingin segera memainkan

lakon; pengunjung rumah makan yang jatuh hati pada juru masak Babilonia kuno.

kemungkinan besar ia akan bercinta denganmu di dapur rahasia itu.

pasti kau akan sangat bahagia bukankah? tentu saja. bahagia yang tidak terucap oleh suara

dan tak mampu tertulis dalam kata. sebab kau tahu bahwa selepas makan malam ini

kisah kalian berdua akan menjadi cerita yang paling banyak

diperbincangkan dan ditulis berulang kali. terutama kedua

orang tuamu, yang terus memaksa kapan kau melamar orang pilihannya

tapi bukan ia. bukan orang yang kau ajak untuk mati bersama usai menyantap

hidangan penutup mata dari panduan

memasak menu khusus untuk memisahkan raga sepasang pecinta; tapi tidak jiwanya.

 

terakhir ia membisikimu;

aku baru tahu rasa rosary pea dicampur benzodiazepine seperti ini.

 

dan kalian tiada. atas nama cinta.

 

2023


RANTAI MAKANAN

#1

adalah rantai makanan di hutan hujan tropis. Cinta itu.

diburu dan memburu. sebagian berlari kencang, yang lain bersembunyi.

Hidup karena cinta. Mati pun karenanya pula. antara rela dan terpaksa mengikhlaskan.

seperti rusa sambar kehilangan tanah kelahiran. berkali-kali takut, berseru-seru.

bahkan menyamar jadi kerbau peliharaan lelaki tua patah hati. bertahun-tahun

lamanya tidak makan. selepas kekasihnya memilih lelaki lain yang wajahnya lebih tampan.

hanya karena tampan. bukan karena perangai rupawan.

 

#2

dan ia ular jantan yang memangsamu sebab cinta adalah garis takdir.

demikian alasannya. datang kepadamu pada hari rabu kelabu. mengasihimu

sebagai anak babi jantan tersesat; ia coba meredakan

ketakutanmu dari perburuan beruang cokelat. selepas hujan

dan memberimu apel merah hutan. kau bilang, ibu tak akan pernah datang,

sudah tertulis di lauhul jenggala. lalu kau mati. menyerahkan diri atas nama cinta

yang mati rasa. dan ketika ular jantan itu baru saja melahap bagian terakhir tubuhmu.

ia juga mati. ditembak. peluru panas pemburu yang tergila-gila pada daging

ular sawah jantan.

 

#3

di meja makan malam. pukul tujuh lebih sepuluh. di hadapan sup kentang

dan mujair goreng. sebagai manusia yang ingin bebas. kau mengakui

kepada ayah-ibumu yang penuh cinta. bahwa kau sangat menyukai menu

makan malam kali ini. tapi kau juga menyukai lelaki berambut ikal

yang pekan lalu kau ajak singgah di beranda. kau mencintai ia.

demikian katamu. ibumu nyaris menjatuhkan gelas yang sedang dipegang.

sementara ayahmu bersikap tenang. ia berkaca-kaca. barangkali dadanya yang lebur.

bagaimana mungkin putra kesayangannya mencintai pria lain? juga. sebab ia

sudah berusaha melepas masa lalu. ketika memutuskan perempuan di hadapanmu

menjadi ibu. menjadi pendamping hidupnya.

 

2023


SUSU

 

ia meletakkan segelas susu hangat di meja dan meraih gagang telepon untuk berbicara kepadamu. pemuda itu ingin bebas tanpa harus ketakutan memeluk dirinya sendiri. namun ia tidak pula ingin membenci susu hangat lezat buatan ibunya. kadang ia ingin menjelma jadi botol-botol wiski yang keparat tapi bebas di malam tahun baru.

 

kau menelepon dari mana? ia menjawab dengan suara rapuh. Minnesota, aku membacamu di koran dan kurasa aku ingin bunuh diri.

 

kau membakar penindasan itu. dari Eureka Valley. suaramu bergemuruh tapi syahdu. menyusup dengan berani hingga ke gang-gang sempit di luar San Francisco. aku tahu kalian marah, aku juga marah. dan kita tak akan lagi duduk bersembunyi di kloset.

 

dan Hillsborough dari Mission Disctrict yang ditikam lima belas kali itu adalah bukti seruan licik dan brutal penuh kebencian, kefanatikan, ketidaktahuan, intimidasi, dan prasangka yang sialan. jangan pernah dilupakan! demikian katamu berorasi.

 

lagi dan lagi dan lagi, kau melemparkan kembang api harapan ke udara. memasuki kantor pemerintahan sebagai pemenang dan berseru-seru tanpa lelah. menekankan kebenaran akan keberadaan dan persamaan hak yang sejak lama ditindas. orang berhak punya cinta, orang tak bisa dipaksa memilih, orang tak bisa terus bersembunyi!

 

tapi pada akhirnya inilah bagian yang paling ia tak suka. ia menghubungimu lagi dengan perasaan lebih baik. pemuda rapuh dari Minnesota itu. ia masih suka susu. dan mengagumimu seperti segelas susu. namun ia sangat berduka, betul-betul berduka. bahkan jelas bukan hanya ia yang berduka. tatkala mendapati kabar orang-orang akan mengantar tidurmu yang malang dalam keheningan nyala lilin di sepanjang jalan Castro menuju City Hall. orang-orang yang sebetulnya menggulung badai kemarahan di dada mereka yang berdarah. seperti tubuh dan rasa sakitmu.

 

“if a bullet should enter my brain, let that bullet destroy every closet door”

namaku Harvey Milk. aku di sini untuk merekrutmu!


RUMPUT YANG BERNYANYI

 

O beloved moon, fear not the dawn that separates us.

For we will meet again, when the world goes to sleep

_Ramchandra Siras_

 

 

puisi yang pedih adalah cinta yang dihakimi

seperti rumput yang memang layak mati ketika pikiranmu dipenuhi sugesti: itu harus mati.

 

dan rumput-rumput di Aligarh selalu bernyanyi:

cinta tak pernah keji. cinta adalah puisi yang jernih. cinta adalah aku;

kata-kata yang merangkul kaki Ramchandra ketika

Paya Khalci Hirawal*) menjejak seolah cinta benar-benar memiliki sepasang kaki.

berlari ke lembah, menyaksikan bunga-bunga mekar dan bersyukur pada hari-hari perayaan.

 

ia tak pernah mati, meski ia sudah tiada.

tapi pernahkah kau merasakan lubang kesepian ini semakin menganga?

mengisap seperti mesin penyedot debu yang besar sekali

bahkan juga bisa membunuhmu, memadamkan seluruh siaran kebencian

televisi dan koran lokal, dan meruntuhkan gedung-gedung pemerintahan Uttar Pradesh.

 

In the light of day, I am unseen.

It is in your light, my hearts awakens

 

cinta melahap kesedihannya. cinta menyembuhkan luka

batinnya. cinta merobek lembar 377**) . cinta menjelma angin

yang memasuki jendela kamarnya. cinta menidurkannya

meski kematiannya tak pernah seadil cinta itu sendiri.

dan cinta membiarkan rumput-rumput di Aligarh terus bernyanyi:

Ramchandra sudah pergi, tapi aku masih tumbuh di sini. puisi-puisi selalu bersemi.

jangan pernah takut terpisahkan, karena kita akan bertemu lagi.

2023


HIDUP SEBAGAI PUISI

 

ketika kau memutuskan untuk jadi pesyair. maksudku, orang-orang terpilih yang

menghabiskan waktunya untuk bertikai dengan ragam dan kelas kata. kau sepenuhnya

 

akan hidup sebagai puisi. metafora adalah pakaianmu. dan kau akan benar-benar

ahli dalam berbohong tapi juga jujur untuk mengatakan kebohongan. bahkan hingga

 

berjilid-jilid manuskripmu, kau akan seperti cacing tanah, yang mengurai potongan-

potongan cerita di dalam tanah. hanya untuk menyuburkan pohon kenangan milik

 

orang lain. ya, menjadi pesyair juga umpama kau adalah pejabat pemerintah yang suka

sekali mengurai kata-kata indah agar orang-orang terbuai dan kembali masuk jerat

 

hasratmu sementara kau terus hidup sebagai puisi. puisi-puisi yang memabukkan.

puisi-puisi yang bertabur cinta. sebab menjadi pesyair sendiri juga merupakan

 

jebakan. kau akan terperangkap oleh perasaanmu sendiri. kesepianmu, kesedihanmu,

amarahmu, bahkan rasa rindumu adalah jenis-jenis makanan yang hanya bisa membuatmu

 

kuat untuk bertahan sebagai pesyair. maksudku, orang-orang terpilih yang merelakan

sendiri dirinya untuk terluka, melukai, mencintai, dicintai, membunuh, atau terbunuh.

 

2022


NE M’OUBLIE MIE

 

ia mulai gelisah dari tempat yang sembunyi lagi sangat rendah, tapi Dia tahu ia berada di sana. meskipun tak terlihat. semua sedang gembira, ia belum. mereka saling berkenalan dan memuji, ia masih menanti. kebun yang semula sunyi dan kelam kini sudah indah. berbagai warna memancar sampai ke langit. sementara ia masih setia menunggu-Nya memanggil. apakah Dia lupa? tentu tidak. tolong jangan lupakan aku, tolong jangan lupakan aku. ia berseru-seru di antara bising kebahagiaan yang lain.

tidak. tidak mungkin Aku melupakanmu. Aku mengatur dan mengingat segalanya. nama itu untukmu. “Jangan Lupakan Aku”. Dia tersenyum kepadanya. agar semua ingat kepadanya. meskipun Dia tahu ia berbeda, Dia juga tahu ia beriman.

 

2023


SELAMAT PAGI AKU

 

selamat pagi aku

bagaimana kabarmu hari ini?

 

di gerbang yang ke sekian ribu

pagi. kulihat diriku yang lalu

di mana-mana. menjadi ruh apa saja.

menjadi cinta yang ditunggu-tunggu

seolah aku selalu hidup sebagai

bulan kasih sayang. juga menjadi

akar pohon rasa lelah

yang membelit liar seluruh

dada yang dewasa

meski kerindanganku selalu tampak

baik-baik saja. aku menyaksikan

segala yang terpotret dan tersimpan

di kepala. sementara sisa yang lain

menjadi abu tanda

tanya sebelum aku

menggapai daun jendela

 

dan hari ini aku masih terlahir

lagi sebagai orang baru dengan tubuh

dan luka dan harapan yang sama.

aku melangkah memasuki hari ini.

waktu yang pendek untuk rasa ingin

yang panjang. sementara di tanganku

memegang jaring nelayan. entah apa

yang harus kulakukan

dengan ini. ikan tidak berenang

di permukiman warga, di ruang kerja

atau di jalan yang sibuk,

bukankah? ya. aku terus saja melangkah.

berusaha dan bertanya-tanya.

 

halo aku. ternyata sudah sore saja

bagaimana kabarmu hari ini?

pulanglah. kembali lagi esok.

akan kutulis lagi sepucuk

surat pendek seperti biasanya.

bacalah sebelum mengunjungi

gerbang ke sekian ribu pagi itu.

2023


KEPADA SESUATU DI SURAKARTA

 

kehampaan ini membentang sepanjang jalan setapak

dari indragiri ke surakarta.

 

aku menghabiskan waktu

di balik layar komputer, menikam

huruf-huruf dan angka-angka seperti

perburuan bintang jatuh di langit selatan.

sementara kau masih menjadi kopi

dan dinding hijau alpukat yang selalu

kuiimpikan sebagai portal

memasuki duniamu.

 

kau adalah ganymede yang membuat

zeus tak ingin jauh-jauh darimu.

hingga aku pun menjadi ia yang betul-betul

tak  mampu lagi menahan diri untuk

tidak memasuki  tubuhmu

menanam pohon  jambu mawar  dan anggur

di sepanjang jalan setapak

dari indragiri ke surakarta.

yang hampa dan tidak ada

siapa-siapa kecuali

cintaku dan aku.

 

2023


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Buku-bukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital, serta sejumlah antologi nasional.