Puisi

Puisi Septi Rusdiyana

Origami di Antara Rautan dan Pensil

Sepasang tangan melipat emosi,

pada kertas origami berwarna marun.

Sudut amarah bertemu sudut keputusasaan,

sisakan garis kegelisahan sepanjang harapan.

Tak peduli segerombolan ilusi terbahak-bahak.

Sepasang tangan itu terus membuat lekukan.

Sampailah ia pada sudut lipatan terakhir,

terbentuk balon udara.

Bagaimana bisa terlupa?

Kosong tanpa mantera.

Sepasang tangan itu beralih di kepala.

Menarik helaian sesal,

berusaha merontokkan nyeri di dada.

“Tuhan, rasa apakah ini? Sangat sakit,

hingga seingin apa pun menangis tetap tak bisa,” gerutunya.

Sisi mata hati murni menatap lekat

pada pensil tumpul di atas loker.

Cepat-cepat ditangkis bisikan sisi hati lainnya,

yang coba butakan di mana letak rautan.

Sepasang tangan meraih keduanya,

membiarkan mereka bercumbu membabi buta.

Ia kembali lupa,

hasrat tanpa kendali membuat pensil kerdil,

dan ujungnya terlalu runcing.

Rautan berbalut lembaran kayu tipis,

menggigit isi pensil yang sempat patah.

Sepasang tangan itu lunglai di meja,

menatap nanar pada ketiganya.

Pengharapan apa yang masih mungkin ditulis?

Ketika waktu tak lagi berpihak,

sepasang tangan itu meraih pensil,

ditusukkan ke balon udara.

Lubang kecil menganga.

Kembali pensil dan rautan disatukan,

kali ini bergumul mesra.

Napas terengah teratur.

Merapal doa capai kepuasan.

Rautan dan pensil kerdil menjaga balon udara.

Serutan dirauk, dimasukkan ke lubang terbuka.

“Aku memang tak sempat menuliskan mimpi.

Namun telah kutitipkan embusan rindu dalam serbuk kayu itu,” katanya lagi.

___________________

Perjalanan

dua buku terbaca judulnya saja

bahkan keripik kentang lenyap

seiring kopi panas yang menghangat

pikiran terbawa laju pada kecepatan 100 kilometer per jam,

bandung – yogyakarta

sayang, bayangmu justru bergerak melebihi cahaya

mengajak berputar-putar bak tornado

membawaku ke perjalanan lain di atas angin

“tenang, aku telah memintal jaring laba-laba serupa jembatan,” bisikmu

decit rem disertai klakson panjang menyentak,

disusul serapah juru kemudi

kami akhirnya menepi,

sejenak selaraskan irama jantung dengan napas

kupasang headset dan bantal leher

musik belum dimainkan,

tapi ajakanmu bercumbu sudah lebih dulu terdengar

sial, rupanya kau masih saja berani menggodaku

___________________

Mabuk Parfum

berlarian

melompat-lompat

berteriak

terbahak-bahak

bahkan kita telah lupa ledakan travo di seberang,

yang sempat buyarkan urutan angka di bangunan mimpi kita

lemon

kayu manis

sweet pea

sedikit koral

dan apel

kau yakin dengan rasa pikiran itu,

digerus dalam drum berbau anyir

hingga tanpa kau sadari, kumasukkan perisa anggur

kau mulai mempertanyakan keaslian aroma tubuhku

seperti buah berri,

juga pasir pantai yang barusaja tersapu gelombang

kupikir kau tak suka

aku menjauh,

dan kau menarikku

merobek kemejaku, persis saat kau berceloteh

aku kedinginan,

kau malah asyik ciprati asaku dengan parfum ciptaanmu itu

aku marah

tapi kau menciumku,

mengendus-endus seperti pudel peliharaanku

kurasa kau mabuk

jarimu menggambar masa depan di dadaku

desahmu seperti doa-doa panjang

kepalaku mulai pening

“bukankah kita sedang mabuk parfum?” tanyamu

ruang kosong ini kian pekat

“ya, dan aku ingin bercinta denganmu,” sahutku sambil menelanjangi perasaanmu

__________________

Ingatan Senja

Langkahku terhenti

Bangsal Kenanga, ruang 207

Sekilas siluet 3 tahun lalu memanggil

Meringis menertawakanku

Semalaman aku menimbang isi pesanmu

Kamu benar, lelaki sejati adalah sesiapa yang menuntaskan mulanya

Meski kita tak pernah nyata

Selangkah masuk, aku membatu

“Pertahankan jarak itu!” perintahmu

Manusia-manusia di pinggiran melirik, matanya menjerit-jerit

Cantik, hatiku riuh bersahut memujimu

Tulang-tulang menonjol, tak ingin kalah sibuk dengan pikiranmu yang terus mencipta rumus

Aku telah mantap

Sekotak masa depan koyak kususun kembali pada warna terang

Bukan biru gelap kesayanganmu itu

“Aku senang kamu datang.

Merah akan membuatku semakin indah,” sahutmu lagi

Enggan aku menunggu lebih lama

Sesaat aku sempat mencuri ingat warna sosokmu, kuning

Kusambar pistol di saku celana

Detail kuarahkan pada kaki cahaya terakhir netramu

Merah dan kuning berhamburan

Memutuskan lebur jadi satu

Tepat saat pistolku terjatuh, senja mengetuk dari jendela

Mimpiku biarlah menjadi impian

Meski di ujung napas namaku tak kau sebut

Aku berhasil menjadi pahlawan

Oranye adalah selimut keabadianmu

___________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *