
Mantera Cucu
Cucuku lahir dari mantera kecemasan
bayi merah yang dipuja harta
dan tiupan angin mengendapkan suratan
untuk sebuah kisah yang memendam teka-teki
Kau berada dalam sebuah panggung
yang menggelar harapan palsu
masa depan dan kenangan
terpilin selubung rahasia
Tanganmu memainkan lakon
yang mungkin sudah usang
dalam hamparan waktu penuh kegaduhan
akankah kau tegar dalam pertikaian?
Mantera Kakek
Telah kauendapkan petualangan
pengalaman yang sia-sia
dalam pusaran zaman
dihadapkan ketamakan anak
Kaususupi titian waktu
dengan gagah
dengan tangguh
tapi pewarismu penghisap candu
Ketika pohonmu lapuk
anak-cucu abai petunjuk
segala ikatan luruh
tumbang dan terpuruk
Mantera Pencari Tahta
Masih tersisa sihir pencari tahta
tiap tokoh menebar sugesti
untuk merenggut kuasa
dan cuan lebih berharga daripada surga
hidup melulu didera kegusaran
berlumur keculasan
dan tai asu dikais
dikemas sebagai riasan
Tiap orang tertambat resah
berhambur mantera penaklukan
gugup mencari perlindungan
tak ada ruang bernaung
untuk menghindar dari penistaan.
Kecemasan serupa kudis menggerogoti tubuh
lesap terisap lembab
tersembunyi dalam pengap
Mantera Rubah
Serupa rubah yang malih rupa
kaudekati siapa pun yang berkuasa
mengabdi pada mereka yang punya cuan
sebagai raja, mungkin sebagai dewa
dan kau menghambakan diri serupa kacung
yang culas memainkan kesetiaan
untuk ikut menikmati mangsa
yang ditangkap raja hutan
setelah menerkam binatang buruan
Kau hanya bisa hidup sebagai rubah
yang berlindung di bawah penguasa rimba
dengan segala pengabdian
dengan segala pengkhianatan
Kau selalu berada dalam pusat pesta
mengabdi siapa pun yang bermahkota
sambil mengendus mangsa
dan kau akan merenggutnya.
Mantera Ratu Adil
Labirin mengendap di sepanjang jalan
ruang yang kini senyap dari propaganda
dan kisah penuh janji
tebaran gugus fantasi
yang tak mungkin terpenuhi
dalam lakon yang menawarkan dusta
Tak ada lagi cuan, beras, dan kaos
bergambar Ratu Adil
dalam daya pikat fantasi
kau kembali mengarungi musim-musim getir
hidup dalam kubangan comberan
mengais nasib seorang diri.
Tak seorang pun mengenang janji
kau tersekap ruang sunyi
dalam lelah menanti
mereka berpesta lagi.

S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983 ia menulis cerpen, esai sastra, puisi, novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018). Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021. Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).

Saya lebih mengenal Mas S. Prasetyo Utomo dalam prosa. Sepuluh(-an) cerpen dalam setahun yang dimuat Suara Merdeka tahun 99-an pernah saya pelajari. Waktu itu saya lebih tertarik pada pendeskripsian setting tempat. Semacam pegunungan, perbukitan, rerimbun hutan, perdesaan, pematang, dan seterusnya yang lekat dengan kealamian alam. Sekian puluh tahun berikutnya, aktivitas kesastrawanannya kian memesona. Konsistensi dan kreativitas Mas Pras moncer. Wah, tahniah pokoke.