
STRUKTUR TUBUH KENANGAN
helai rambutnya
adalah ratus ribuan peristiwa
rasa hari yang kemarin
wajahnya
adalah peradaban dari tahun-tahun
yang sunyi; yang juga berbunyi
tulang dadanya
adalah gerbang agung memasuki sebuah
portal rahasia bernama jiwa
sepasang lengannya
adalah serikat rindu yang menyibak
sejumlah keajaiban memeluk
kedua telinganya
adalah instrumen yang mengalunkan
lagu-lagu tenang yang menyembuhkan
otot perutnya
adalah tempat persembunyian
luka-luka pedih yang gemar tertawa
selangkangannya
adalah kebun yang menumbuhkan buah dan bunga
yang tidak pernah tumbuh di dunia
tungkai-tungkainya
adalah jarak panjang yang harus ditempuh
dari dunia ke surga; ke hutan dan laut
jari-jemarinya
adalah nama dari berbagai jenis sentuhan
yang menguarkan aroma waktu
seperangkat netranya
adalah mesin penjelajah yang liar berburu
langit dan ciuman-ciuman
hidungnya
adalah hamparan kota sibuk yang berjuang
mengendus bau para pembawa mimpi
dua katup bibirnya
adalah siaran radio yang mengudara memenuhi
musim hujan dan panjang kemarau
air matanya
adalah muara kepulangan tempat sejumlah perahu kecil
memanggil nama ibu mereka
2025
__________________________
INDIGO
aku tak pernah berhenti menulis.
menulis puisi-puisi ini. kutulis terus.
kutulis saja. kulepaskan semuanya.
kekacauan biar saja kacau; luluhlantak
seperti bencana masa lalu. dan keheningan
biar saja hening. suara-suara membuatku
terapung. terapung hingga menembus
langit lembayung. dan aku terurai.
terurai
b e r d e r a i.
l e r a i
renyai seperti hujan
pekan pertama april.
dan semuanya akan sangat membekas
seperti rindu yang tak pernah lepas.
karena aku selalu berharap kau bukanlah
orang yang pergi itu. kau akan menetap
di sini, di pelukanku. takdir cuma bercanda
saat kulihat kau melepaskan lambaian terakhir.
sebab kau pasti tahu bahwa kesembuhanku
membutuhkan waktu yang tidak singkat.
bahkan kalender akan mati berguguran
melawan peperangan dalam puisi ini;
di mana setiap kota yang kukunjungi
hanya memberiku sentuhan kecil
yang mengingatkanku padamu.
dan sialnya lagi, rindu terus berjalan.
dalam kekacauan, dalam keheningan
yang sulit kuhentikan.
2025
__________________________
BANGUN PAGI TAPI SUDAH TIDAK RINDU
aku pulih. hari-hari kelamku telah berlalu.
bekas luka tak pernah menghilang, ia adalah
pelajaran dari masa lalu. meski nanti nyerinya
bisa datang kapan saja. setidaknya aku tersenyum
saat mengelusnya. kuhela napas menyambut
pagi demi pagi yang hangat datang dari masa depan.
berjalan ke luar rumah, ke jalan-jalan yang sibuk
dengan perasaan yang baru; rindu telah lebur
dan terbang ke angkasa, ditiup angin menjauh.
ia telah jadi burung-burung bangau. seribu bangau.
seperti doaku yang berhamburan ke langit:
semoga kebahagiaan menyertaimu, dan bangun pagiku
tak perlu lagi resah. karena rindu ini telah ikhlas melepasmu.
2025
__________________________
MEMBASUH LUKA
aku menulis puisi
dan kulepaskan ia berlari
ke dalam hujan yang turun
pada pertengahan februari.
ia tertawa keras sekali
lalu melambaikan
salam perpisahan kepadaku;
aku akan merindukanmu
dengan cara lain jika nanti
masih ada waktu.
kemudian dia menghilang
selamanya. menyisakan sebuah tanda
yang tak pernah kutahu
apa namanya. tapi aku tahu itu apa.
2025
__________________________
HAL-HAL TIDAK RUTIN TAPI AKU SUKA KARENA ITU PENTING
#1
kupeluk tubuhku dan kucium berkali-kali
bocah lelaki yang bersemayam di pondok kayu
di bawah rimbun flamboyan kuning;
diriku yang lucu dan menggemaskan
pada masa silam. ia yang selalu
ingin pulang dan tidur lebih lama
di atas kasur kenangan yang mahir
menyerap luka.
dan pada beberapa pagi dalam sepekan
kutanyai ia akan mengerjakan apa
hari ini. lalu ia akan menjawab
dengan kata-kata yang sama:
menyembuhkanmu.
ya, menyembuhkanmu!
#2
aku membicarakan lagi tentang
sejumlah cinta yang hebat di dada ibu
pada petang-petang tertentu untuk episode
yang entah ke berapa aku tak pernah
menghitungnya. dan meminta ibu untuk
melepaskan kerisauannya.
sebab kesedihan ibu adalah yang paling
berbahaya di muka bumi. bila setitik saja air mata
jatuh ke pipinya, maka sebuah badai
akan datang dan menggulung semua
peradaban.
dan tiap ketika pembicaraan itu berakhir
ibu merangkai sejumlah kata sebagai penutup.
yang membuatku tersungkur
di kakinya berkali-kali saat aku
mendengarnya:
rindukanlah selalu cinta ibu nanti
rindukanlah. sebab rindu adalah
pelukan kasih sayang
berumur panjang.
#3
satu hal yang paling kusuka ketika
menutup percakapan di ruang obrolan malam
denganmu; manusia kesukaanku,
adalah saat kau mengirimiku emoji
sepasang beruang imut saling merengkuh
pelukan hangat ke dada masing-masing
lalu percikan berbentuk hati menyertainya.
kau tampaknya mahir
menghangatkan dingin malam
yang memasuki tubuhku.
dan saat kubilang aku menyukai
hal-hal lucu yang kaukatakan,
membuatku ingin terperangkap dalam
mimpi yang selalu ada kau
di dalamnya. kau justru mengirimiku
sepucuk puisi pendek
yang menggetarkan:
aku ingin memiliki sebuah pelukan
yang bernama dirimu. ya, namamu.
2024
__________________________

M.Z. Billal. Lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital seperti kompas.id, Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, bacapetra.co, dll, serta sejumlah antologi nasional.


