Puisi

Puisi Maria Utami

Hujan Asap di Langit Kami

Kami datang, kumpulan helaan napas resah

dari dapur-dapur sempit juga gang-gang basah.

Suara kami hanyalah bisikan sunyi yang ingin didengar,

tapi langitmu menjawab aneh;

kau kirimkan hujan buatan yang pedih dan perih.

Bukan air bening, tapi kabut asap menyesakkan

memaksa kami menangis untuk alasan yang salah.

Beberapa dari kami jadi daun gugur sebelum waktunya,

jatuh ke aspal kelabu sebelum sempat mekar.

Nama mereka kini hanya gema lirih,

sajak duka yang tak akan pernah selesai ditulis.

Dan di balik jendela-jendelamu yang tinggi dan dingin,

jeritan kami hanya seperti rintik hujan di kaca,

terlihat basah, tapi tak pernah terasa di dalam sana.

Negeri ini perahu kertas yang kita layarkan bersama.

Tapi kini ia akan berlayar ke arah mana?

Langit membisu, tak ada bintang petunjuk,

dan kami di dalamnya hanya bisa menunggu fajar

dengan ritme yang tersisa.

Yogyakarta, September 2025

____________________

Duka, Murka, Linimasa

Dulu, kubuka kau seperti jendela pagi,

mencari sapa hangat atau secangkir kopi.

Linimasa ibaratkan beranda yang teduh.

Tapi saat ini, berandaku penuh kabar duka;

foto anak-anak negeri yang tak lagi bernyawa,

wajahnya jadi sajak paling pilu yang pernah kubaca.

Lalu wajah-wajah lain datang dari balik dasi,

mengucap kalimat hampa tak punya hati,

seperti dongeng yang dibacakan di atas bara api.

Dadaku sempit, asam lambungku naik.

Amarah dan mual bercampur di dalam benak.

Ponsel di tanganku yang dingin terasa panas juga berisik.

Jendela ini tak lagi memantulkan langit biru,

ia kini cermin retak yang menampakkan luka negeriku.

Ingin sekali kututup tirainya, tapi bagaimana aku bisa?

Jika di luar sana, di jalanan itu,

ada yang sedang bertaruh nyawa.

Yogyakarta, September 2025

____________________

Payung Hitam

Payung hitam ini

bukan untuk menanti hujan.

Ia adalah atap bagi sebuah kesunyian,

langit kecil bagi doa-doa yang merana.

Di bawah naungannya, kami menjaga sebuah nama,

menjadi perisai bagi martabat yang tersisa

dari tatapan acuh juga janji-janji dusta.

Warna hitamnya adalah tinta paling pekat

untuk menuliskan dua kata yang tak akan berkarat:

“Tolak Lupa”.

Setiap kami berdiri di sini dalam diam,

kami sedang menanam benih harapan

di atas aspal yang kejam.

Jadi biarlah payung ini terus terbuka,

meski panas atau gerimis datang menyapa.

Ia akan tetap di sini, menjadi saksi yang tabah,

sampai langit di negeri ini benar-benar kembali cerah.

Yogyakarta, September 2025

___________________

Doa Kekasih dari Seberang Layar

Di dalam kamar kosku yang aman,

perjuanganmu kupantau lewat layar ponsel.

Aku menghitung setiap wajah di lautan kerumunan,

berharap tak menemukan wajahmu di antara yang rubuh.

Asap tebal yang membubung di layar itu

terasa sesak hingga ke dalam dadaku.

Hatiku kini dua musim yang bertarung sengit:

musim semi yang mendukung keberanianmu,

dan musim gugur yang gemetar takut kehilanganmu.

Kupejamkan mata, kutitipkan namamu pada angin,

sebuah doa amat sederhana untukmu yang kucinta,

“Tuhan, jaga dia, kembalikan dia padaku utuh.”

Menanti kabar perubahan negeri

sama sabarnya menanti satu pesan singkat darimu nanti.

Sebuah pesan yang barangkali hanya berisi satu kata:

“Pulang.”

Dan kata itu akan jadi penyejuk hati paling berarti.

Yogyakarta, September 2025

___________________

Hanya Mata yang Berlayar

Kulihat sepasang suami-istri cemas di lorong rumah sakit,

anaknya terbaring sebab racun dari makanan gratis.

Kulihat seorang bapak menatap surat pajak

yang angkanya terasa lebih tinggi dari atap rumahnya.

Kulihat seorang ibu merapikan ijazah anaknya,

selembar kertas yang belum bisa membeli apa-apa,

doanya bagaikan gerimis yang turun setiap senja.

Kulihat seorang guru dengan kemejanya yang usang

mengajar aksara dengan semangat paling benderang.

Kulihat anak-anak muda yang berani punya suara

diikuti bayangan-bayangan gelap tanpa nama.

Mereka nyalakan api kecil di tengah malam buta

meski angin ancaman terus coba membuatnya sirna.

Aku tak di sana, tak di sini.

Aku hanya sepasang mata yang terus berlayar

di atas lautan duka negeri ini.

Yogyakarta, September 2025

____________________

Maria Utami, seorang ibu rumah tangga asal Kota Yogyakarta yang aktif menulis puisi. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk terus berkarya. Beberapa karyanya ada yang terpilih dan dimuat dalam buku antologi puisi. Sebagian naskah puisi lainnya juga sudah terbit di sejumlah media literasi digital. Dapat didukung atau disapa melalui akun Instagram: @maria.oetami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *