Puisi

Puisi Septi Rusdiyana

merawat luka

bapa, hari ini aku terberkati. surat yang kutulis merah, berubah biru. kau tahu jika sejak menemukanmu, bahagia itu sepele. tawaku bisa sekeras salak anjing. di saat yang sama, aku tersedu, persis saat air susuku tak juga keluar usai bersalin.

bapa, ganjil adalah apa yang terlanjur kuingini. sedang kau, terus saja berhasil menggenapkannya. mungkin kau kira aku akan lelah dan terkapar seperti hamster. rakus menyembunyikan remahan hingga pipi hampir meledak. tidak. tapi tidak, bapa. aku hanya butuh satu petunjuk, lalu akan tidur seperti babi.

bapa, malam ini hujan. entah kenapa hujan lebih sering jatuh saat malam. mereka bilang, agar tidur lebih lelap. bagiku, tempias membawa aroma ketiak yang lama hilang.  jika petir melantakkan sepi, aku justru beku. bukankah itu siksa?

bapa, kau hafal artimu bagiku. aku sudah belajar menjaga air suci: milikmu. kau ajarkan agar tetap hidup di kematian. mimpi adalah kehidupan. aku gagal menjadi jahat. masih tak cukup pantaskah meminta welasmu, bapa?

Desember 2025

__________________________

Kangen

Kabur dari rumah karena wifi lemot,

duduk memesan secangkir kopi di kafe

Desember 2025

__________________________

Reinkarnasi

“Jika aku hidup usai mati, maka kubunuh kau, lagi,” katamu

Angin berembus

Aku benar-benar akan mati

Desember 2025

__________________________

Septi Rusdiyana. Tinggal di Yogyakarta

Cerpen

Pengelanaan Terakhir

Cerpen Septi Rusdiyana

“Sudah kubilang aku bukan malaikat penyelamat,” kata lelaki itu, sesaat sebelum aku benar-benar mendorongnya dari tebing.

***

Aku berdiri mematung di dekat mobil hitam yang nyaris masuk jurang. Menyaksikan tubuh kaku di balik kemudi tanpa bisa melakukan apa-apa. Seingatku, tadi aku hanya banting setir saat berusaha menghindari macan, atau singa, atau rusa, atau sebenarnya sekadar kabut. Aku tidak tahu pasti. Aku tidak benar-benar ingat apa yang ada di pikiranku kala itu. Satu hal yang membuatku heran, kesalahan yang menyebabkan kecelakaan kecil itu rupanya bisa berakhir mengenaskan.

“Kamu sangat sial. Bencana menimpamu di tempat sunyi. Jangankan pengendara lain, nyamuk saja enggan lewat sini,” kata seseorang yang mendadak muncul di sebelahku. Entah dia datang dari mana. Hanya saja, aroma tubuhnya terasa familier. Paduan antara daun bidara dengan kemiri sangrai. Aku ingat aroma itu.

Aku memperhatikan dirinya seperti sedang meneliti lembu yang hendak kujadikan binatang tunggangan. Sayang, jubah hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya itu—menyisakan wajah dan kedua telapak tangan—membuatku harus sedikit bekerja keras menelisik.

“Aku malaikat penjagamu,” jelas lelaki itu, seolah tahu apa yang selama beberapa detik menggangguku. “Kita sudah bersama sepanjang hidupmu,” lanjutnya lagi.

“Sial. Apa aku sudah mati?” gumamku.

Lelaki itu tertawa. “Kalau sudah mati, tentu aku tidak perlu lagi menjagamu. Dasar bodoh!”

Aku mulai kesal dengan lelaki itu. Kupikir dialah yang sebenarnya bodoh. Kalau benar seorang malaikat penjaga, seharusnya dia menolongku. Bukan malah ikut-ikutan berdiri di sini tanpa berbuat apa-apa.

“Suara hatimu selalu berisik. Dari dulu. Itu menjengkelkan. Sayangnya aku harus terus patuh pada tugasku,” sahut lelaki itu.

Hening. Seolah angin berhenti berembus. Dan aku masih saja menunggu. Berharap lelaki itu meneruskan penjelasannya. Aku kembali menatap pada sosok perempuan di balik kemudi yang darah di kepalanya terus saja membasahi rambut.

“Kamu belum benar-benar mati. Mungkin pingsan. Atau sekarat. Sudah kubilang aku cuma malaikat penjaga. Tugasku hanya menemani jiwamu,” lanjutnya panjang.

Sepertinya aku mulai mengerti. Jika begitu, aku hanyalah roh yang kini bergentayangan menunggu waktu sebelum mati. Sekelebat aku teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu, sebelum akhirnya aku terdampar di tempat ini.

Aku berada di vila tepi pantai bersama sahabat-sahabatku. Bian sengaja menyewanya untuk melewati hari ulang tahunku. Tidak ada kue ulang tahun. Tidak juga ritual tiup lilin dan make a wish. Kami hanya duduk, makan, bercerita, tertawa, lalu waktu tanpa kami sadari berganti hari begitu saja. Sesederhana itu. Dan aku sangat menikmati.

“Sebaiknya kamu menemuinya,” ucap lelaki itu dengan nada yang begitu halus. Saking halusnya justru membuatku heran. Ada sesuatu mengalir deras di ulu hatiku. Perasaan yang menggangguku sejak Gaga, abangku, mengirim pesan jika mama masuk rumah sakit karena serangan jantung.

Sejak itu aku gelisah. Entah. Padahal sebelumnya aku tidak pernah peduli pada mama. Bahkan aku ingat, dulu, di depan teman-temanku, sambil menangis, aku pernah bilang bahwa, “Mama itu monster. Kalaupun mama mati, aku tidak akan pernah menangis.”

“Kamu ini, di saat-saat begini masih saja terlalu lama berpikir.” Lelaki itu menggenggam tanganku. Aku merasa bak tersengat listrik. Dalam sekejap, aku seperti berada di pusaran angin. Bergerak tak beraturan. Kadang melayang. Sesekali berputar. Lalu kembali tegak seolah tubuh dan angin sudah berdamai usai berkelahi. Di saat itulah, aku seolah sedang melakukan sebuah perjalanan.

Di hadapanku, tampak hamparan awan putih yang bisa berubah-ubah bentuk. Aku melihat awan membentuk sosok perempuan menggendong seorang bayi. Tak lama terdengar langgam Jawa yang membuatku turut merasakan kantuk luar biasa. Ketika aku hampir terlelap, lelaki itu menarik tanganku. Aku pun kembali terjaga.

Awan berubah pekat. Gumpalan awan kini memperlihatkan seorang pria dewasa bermain layangan bersama bocah lelaki. Sedang bocah perempuan tampak berlarian mengitari keduanya. Suara riang berubah menjadi jerit tangis usai bocah perempuan itu terjatuh. Pria dewasa meraihnya dalam pelukan, lalu ketiganya mulai menghilang.

Aku merasa tak asing dengan pemandangan itu. Rasanya kembali pada kenangan. Saat aku masih menikmatinya, mendadak tubuhku terguncang hebat. Aku seperti meluncur bebas dari ketinggian. Aku ingin berteriak, tapi suaraku tercekat. Dan saat tubuhku mulai terkendali, aku sudah berada di sebuah ruang di rumah sakit tempat mama dirawat.

Gaga sedang tidur pulas di sofa, tak jauh dari ranjang mama. Ada beberapa selang dan alat medis terpasang di tubuh mama. Sunyi. Hanya suara mesin seirama detak jantung mama yang mengisi ruangan. Aku mendekat ke ranjang. Aku ingin melihat mama lebih dekat.

“Akhirnya kamu datang, Nak,” ucap mama. Siluet bayangan mama perlahan terlihat. Ia duduk di ranjangnya. Dan aku juga bisa melihat tubuh mama yang tak berdaya tetap terlelap.

“Tadi sore mama sudah menyiapkan makanan kesukaanmu. Gaga mama suruh menghubungimu. Tapi…,” kalimat mama terjeda. Siluet wajah mama tampak sendu.

Tanpa mama teruskan bicara, sebenarnya aku sudah tahu. Sekuat apa pun usaha mama membuatku tetap tinggal di hari ulang tahunku, aku tidak pernah mau. Sudah lama aku membenci hari itu, tepatnya sejak kelas 5 SD.

Aku ingat. Saat itu aku pulang dengan seragam, sepatu, tas dan rambut yang penuh dengan air comberan, telur, juga tepung. Meski tubuhku lengket dan bau, perasaanku begitu senang luar biasa. Hingga bentakan mama membuatku terkejut sekaligus terluka. Mama justru mengomel. Mengataiku dan teman-temanku jorok. Bisanya hanya merepotkan orang tua. Mama juga bilang kalau hari ulang tahun bukan hal wajib untuk selalu dirayakan. Mama mungkin benar, tapi aku lebih percaya ulang tahunkulah yang tidak penting. Karena kenyataannya, dua bulan setelah itu, ulang tahun Gaga dirayakan besar-besaran. Sejak saat itu, aku sangat membenci 1 hari dalam setahun: tanggal ulang tahunku. Hanya Bian, sahabatku, yang bisa memahami perasaanku dengan baik.

“Mama minta maaf, Sayang,” kalimat mama yang terdengar seperti guntur di siang tanpa hujan itu membuatku terkejut. Dadaku sesak. Seperti ada gemuruh yang sebentar lagi akan meledak. Bertahun-tahun aku menanti kalimat itu. Kalimat yang rupanya sebegitu dahsyatnya hingga mampu membuat kebencianku pada mama lenyap.

Siluet mama berdiri dan mendekat ke arahku. Tangannya terbuka. Saat tangisku hampir pecah menanti pelukan itu sampai, tiba-tiba tanganku sudah ditarik. Dan kini, aku telah kembali berada di tepi jurang.

“Kenapa kamu membawaku ke sini? Aku bahkan belum sempat bilang pada mama bahwa aku sudah memaafkannya. Aku mencintainya. Aku merindukan pelukannya,” ucapku dengan rasa kesal yang menggebu.

 Lelaki itu tidak menanggapi pernyataanku. Kejengkelanku tiba-tiba memuncak, terlebih ketika lelaki itu mengatakan bahwa dirinya bukan malaikat penyelamat.***

___________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.

Puisi

Puisi Septi Rusdiyana

Origami di Antara Rautan dan Pensil

Sepasang tangan melipat emosi,

pada kertas origami berwarna marun.

Sudut amarah bertemu sudut keputusasaan,

sisakan garis kegelisahan sepanjang harapan.

Tak peduli segerombolan ilusi terbahak-bahak.

Sepasang tangan itu terus membuat lekukan.

Sampailah ia pada sudut lipatan terakhir,

terbentuk balon udara.

Bagaimana bisa terlupa?

Kosong tanpa mantera.

Sepasang tangan itu beralih di kepala.

Menarik helaian sesal,

berusaha merontokkan nyeri di dada.

“Tuhan, rasa apakah ini? Sangat sakit,

hingga seingin apa pun menangis tetap tak bisa,” gerutunya.

Sisi mata hati murni menatap lekat

pada pensil tumpul di atas loker.

Cepat-cepat ditangkis bisikan sisi hati lainnya,

yang coba butakan di mana letak rautan.

Sepasang tangan meraih keduanya,

membiarkan mereka bercumbu membabi buta.

Ia kembali lupa,

hasrat tanpa kendali membuat pensil kerdil,

dan ujungnya terlalu runcing.

Rautan berbalut lembaran kayu tipis,

menggigit isi pensil yang sempat patah.

Sepasang tangan itu lunglai di meja,

menatap nanar pada ketiganya.

Pengharapan apa yang masih mungkin ditulis?

Ketika waktu tak lagi berpihak,

sepasang tangan itu meraih pensil,

ditusukkan ke balon udara.

Lubang kecil menganga.

Kembali pensil dan rautan disatukan,

kali ini bergumul mesra.

Napas terengah teratur.

Merapal doa capai kepuasan.

Rautan dan pensil kerdil menjaga balon udara.

Serutan dirauk, dimasukkan ke lubang terbuka.

“Aku memang tak sempat menuliskan mimpi.

Namun telah kutitipkan embusan rindu dalam serbuk kayu itu,” katanya lagi.

___________________

Perjalanan

dua buku terbaca judulnya saja

bahkan keripik kentang lenyap

seiring kopi panas yang menghangat

pikiran terbawa laju pada kecepatan 100 kilometer per jam,

bandung – yogyakarta

sayang, bayangmu justru bergerak melebihi cahaya

mengajak berputar-putar bak tornado

membawaku ke perjalanan lain di atas angin

“tenang, aku telah memintal jaring laba-laba serupa jembatan,” bisikmu

decit rem disertai klakson panjang menyentak,

disusul serapah juru kemudi

kami akhirnya menepi,

sejenak selaraskan irama jantung dengan napas

kupasang headset dan bantal leher

musik belum dimainkan,

tapi ajakanmu bercumbu sudah lebih dulu terdengar

sial, rupanya kau masih saja berani menggodaku

___________________

Mabuk Parfum

berlarian

melompat-lompat

berteriak

terbahak-bahak

bahkan kita telah lupa ledakan travo di seberang,

yang sempat buyarkan urutan angka di bangunan mimpi kita

lemon

kayu manis

sweet pea

sedikit koral

dan apel

kau yakin dengan rasa pikiran itu,

digerus dalam drum berbau anyir

hingga tanpa kau sadari, kumasukkan perisa anggur

kau mulai mempertanyakan keaslian aroma tubuhku

seperti buah berri,

juga pasir pantai yang barusaja tersapu gelombang

kupikir kau tak suka

aku menjauh,

dan kau menarikku

merobek kemejaku, persis saat kau berceloteh

aku kedinginan,

kau malah asyik ciprati asaku dengan parfum ciptaanmu itu

aku marah

tapi kau menciumku,

mengendus-endus seperti pudel peliharaanku

kurasa kau mabuk

jarimu menggambar masa depan di dadaku

desahmu seperti doa-doa panjang

kepalaku mulai pening

“bukankah kita sedang mabuk parfum?” tanyamu

ruang kosong ini kian pekat

“ya, dan aku ingin bercinta denganmu,” sahutku sambil menelanjangi perasaanmu

__________________

Ingatan Senja

Langkahku terhenti

Bangsal Kenanga, ruang 207

Sekilas siluet 3 tahun lalu memanggil

Meringis menertawakanku

Semalaman aku menimbang isi pesanmu

Kamu benar, lelaki sejati adalah sesiapa yang menuntaskan mulanya

Meski kita tak pernah nyata

Selangkah masuk, aku membatu

“Pertahankan jarak itu!” perintahmu

Manusia-manusia di pinggiran melirik, matanya menjerit-jerit

Cantik, hatiku riuh bersahut memujimu

Tulang-tulang menonjol, tak ingin kalah sibuk dengan pikiranmu yang terus mencipta rumus

Aku telah mantap

Sekotak masa depan koyak kususun kembali pada warna terang

Bukan biru gelap kesayanganmu itu

“Aku senang kamu datang.

Merah akan membuatku semakin indah,” sahutmu lagi

Enggan aku menunggu lebih lama

Sesaat aku sempat mencuri ingat warna sosokmu, kuning

Kusambar pistol di saku celana

Detail kuarahkan pada kaki cahaya terakhir netramu

Merah dan kuning berhamburan

Memutuskan lebur jadi satu

Tepat saat pistolku terjatuh, senja mengetuk dari jendela

Mimpiku biarlah menjadi impian

Meski di ujung napas namaku tak kau sebut

Aku berhasil menjadi pahlawan

Oranye adalah selimut keabadianmu

___________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.

Cerpen

Mo dan Kuci

Cerpen Septi Rusdiyana

Untuk Pak Rio

Mo masuk kamar dengan tergesa. Jam menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh lima menit. Ia pulang sejam lebih lambat dari biasa karena petugas keamanan kantor menahannya.

“Babi-babi gendut itu lama-lama mulai menyusahkan,” gerutu Mo.

Mo meletakkan tas dan goodybag di ranjang. Berjalan menuju akuarium khusus berisi enam ekor kecoa. Empat dewasa dan dua sisanya masih kecil. Mo memanggil semua dengan sebutan Kuci. Ia raih botol berisi air di dekatnya, lalu menyemprot ke arah serangga-serangga bertubuh mengilap itu dari atap akuarium yang penuh lubang kecil. Mereka berlarian tak tentu arah. Beberapa ada yang terbang meski pada akhirnya menabrak dinding-dinding kaca. Tak ada celah yang bisa membuat mereka kabur.

“Kuci-kuci, makanlah, Sayang.” Mo memasukkan tangan kanannya di lubang samping akuarium untuk meletakkan sepotong keju. Ia juga mengisi wadah kosong di dalamnya dengan susu cair. Malam itu Mo tak sempat makan malam di luar bersama teman-temannya. Kini, ia kelaparan. Binatang-binatang cokelat itu bisa cukup menghiburnya. Setidaknya, untuk sesaat.

Mo sangat memperhatikan peliharaannya. Setiap dua hari sekali ia selalu membersihkan akuarium dengan cairan disinfektan. Mo juga selektif pada kualitas makanan dan minuman yang diberikan. Ia ingin membuktikan bahwa semua binatang itu sama. Tidak ada istilah binatang hina karena jorok. Mo yakin, asal lingkungan dan makanannya selalu dijaga, maka binatang itu akan tumbuh sesuai dengan kebiasaan hidupnya.

Ponsel Mo berdering. Ada panggilan masuk dari Kara, teman Mo. “Cepat datang atau aku akan mati kelaparan,” ancam Mo. Panggilan pun terputus usai suara di seberang menjelaskan bahwa dirinya tak lama lagi akan sampai.

Mo duduk di ranjang. Menyaksikan para Kuci berkerumun di sekitar keju dan susu. Sejenak Mo seperti sedang berpikir. Ia teringat dengan gosip yang akhir-akhir ini berembus di kantor tempatnya kerja. Memang tidak spesifik menyebut namanya, tapi Mo sangat yakin jika perempuan langu yang mereka maksud adalah dirinya.

Tadi sore, saat Mo menyusuri koridor menuju dapur, sekelompok staf dari divisi perencanaan tertawa ngakak, seperti tak tahan menahan geli. Namun, saat Mo masuk, seketika tawa itu terhenti. Tapi bukannya menjadi hening, justru lanjut dengan saling berbisik dengan volume yang bahkan bisa terdengar dari ruang sebelah. Sialnya, setelah Mo keluar dari dapur usai mengambil tumbler miliknya, mendadak tawa ngakak kembali bergema. Fenomena itu membuat Mo akhirnya yakin, dialah sumber lelucon itu.

“Sori sori, aku harus dua kali pindah tempat karena warungnya jorok.” Kara nyelonong masuk ke kamar. Ia menyerahkan bungkusan berisi salad buah jumbo pada Mo. Tanpa ba bi bu, gegas Mo membuka dan menikmatinya.

“Kamarmu sudah lama nggak dibersihin, ya?” tuduh Kara. Raut wajahnya mulai berubah. Ia bahkan menutup hidungnya.

“Sembarangan kamu!”

“Soalnya bau.”

“Bau salad dan susu maksudmu?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Bau kecoa,” jawab Kara singkat. “Menjijikkan,” lanjut Kara.

Mendengar kalimat itu, sejenak Mo menghentikan aktivitas makannya. Mo merasa tidak pernah mencium bau kecoa di kamarnya. Ia bahkan tak pernah lupa membersihkan kamarnya setiap hari. Ia juga yakin telah memberi makanan dan treatment terbaik bagi binatang kesayangannya itu. Jadi rasanya tidak mungkin Kuci-kucinya bau.

“Seperti sedang di rumah hantu saja,” komentar Kara. Tangan Kara menyambar parfum di atas meja rias Mo dan mulai menyemprot ke seluruh ruangan. Saat sampai di sudut kamar, Kara mematung. Ia melirik ke arah Mo dengan tatapan menyelidik. “Kamu gila ya? Bisa-bisanya kamu memelihara kecoa. Di kamar. Bahkan kamu bisa sembari makan?”

Mo melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Ia juga tidak berminat menjawab pertanyaan Kara. Kara masih terus saja mengomel seperti ibu tiri yang kesal saat anak kandungnya kehilangan kesempatan untuk didekati pria kaya gara-gara ulah anak tirinya. Sesaat sebelum akhirnya Kara memilih keluar kamar meninggalkan Mo, ia sempat mengatakan satu kalimat yang membuat Mo tertegun: Hanya kamar-kamar alien yang punya aroma begini.

Mo mulai kehilangan nafsu makan. Bukan karena bau kecoa seperti yang Kara bilang, melainkan kalimat terakhir Kara membuat Mo kembali teringat pada gosip-gosip yang ia anggap murahan itu. Mo kesal. Apa salahnya jika ia berteman dengan alat pel lantai? Mereka jauh lebih bisa mendengarkan keluh kesahnya dengan tanpa menghakimi. Mo sering duduk di atas tumpukan kardus bekas dan bicara dengan sarang laba-laba di gudang belakang. Tak ada prasangka. Tak ada nasihat-nasihat klise seperti di buku-buku motivasi yang kalimatnya justru membuat kepala Mo sering berdenyut.

Sekarang, Kara, satu-satunya sahabat yang Mo pikir bisa mengerti dirinya, memilih kabur hanya karena Mo memiliki kandang kecoa di kamarnya. Mo berpikir. Apakah usahanya sia-sia? Bukankah ia telah memberi perawatan dan makanan terbaik untuk binatang peliharaannya itu? Tapi kenapa Kara bilang masih bau?

Mo mulai menciumi aroma tubuhnya sendiri. “Mungkin Kara dan orang-orang di kantor benar. Bau itu bisa jadi berasal dari tubuhku,” gumam Mo. Mo tertawa. Semakin lama tawanya semakin keras. Ia tak lagi peduli dengan Kara. Tak juga peduli pada rekan-rekan kerjanya. Ia hanya ingin bekerja seperti biasa. Menyelesaikan tepat waktu, dan memilih makan bersama kucing kampung yang sering mendatanginya di halaman belakang kantor saat Mo istirahat. Atau sesekali Mo akan naik ke gudang barang bekas di loteng kantor untuk sekadar bernyanyi sambil berdiri dekat jendela, menikmati pemandangan makam dan aroma kemboja yang menurut Mo semua penghuninya suka pada suara Mo. Mo kangen teman-teman di kantornya itu. Rasanya ingin segera esok dan kembali menjalani rutinitas seperti biasa.

Mo lapar lagi. Sejenak ia lupa pada embusan-embusan kabar terkait dirinya di tempat kerja. Mo melanjutkan suapan demi suapan yang sebelumnya sempat terhenti. Mo tidak peduli lagi dengan apa pun. Mo hanya memikirkan satu hal: sore tadi, sebelum bos Mo kembali pulang, bos Mo sempat meminta bertemu di ruang kerja. Di sana, untuk pertama kalinya sejak ia bekerja di perusahaan, Mo benar-benar merasa menjadi manusia.

“Aku tidak masalah dengan hobi dan kebiasaan anehmu itu. Aku sudah minta petugas kebersihan dan keamanan untuk tetap meletakkan perabot yang sudah kau anggap kawan itu di tempat seharusnya. Bahkan, di satu tempat agar kau senang,” kata bos Mo dengan senyum terbaik yang pernah dilihatnya.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya lebih kamu sukai: mengerjakan pekerjaanmu, atau bekerja di tempat ini. Yang pasti, kebiasaan-kebiasaanmu di luar jam kerja tidak pernah menggangguku.”

Sejak mendengar kalimat-kalimat itu, Mo merasa terlahir kembali. Suci. Bersih. Meski tak wangi, setidaknya tidak bau. Itulah yang Mo rasakan.

Setelah menuntaskan makan salad buahnya, Mo beranjak dari ranjang menuju kandang di sudut kamar. Ia mengeluarkan binatang cokelat mengilap itu, lalu mengajak Kuci-kucinya untuk mandi bersamanya. Ya, Mo hanya perlu memilih aroma sabun yang bisa memberi efek menenangkan. Bukan sekadar untuknya sendiri, tapi juga untuk binatang kesayangannya.***

______________________________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.