Puisi

Puisi M.Z. Billal

SEBUAH RAHASIA YANG KUTULIS DALAM SATU KALIMAT SINGKAT

aku ingin membunuhmu.

saat kita saling memasuki diri.

aku ingin di sana selamanya.

meski kau perlahan memudar,

kau harus mati dalam pelukanku.

2025

___________________

MELEPAS KEPERGIAN HUJAN

betapa kerasnya aku terhadap diri sendiri

sudah tahu tak lagi dicintai tapi masih

berpura-pura bahwa keadaan akan pulih

seperti dulu, saat kita saling berkirim

kata-kata manis menjelang tidur.

padahal nyatanya semua itu sudah tak ada

sudah jadi debu yang larut dalam hujan.

semakin aku mengatakan tidak mungkin

semakin sesuatu yang tak terlihat

tapi hangat memeluk jiwaku erat.

    “kau harusnya pulang. lekaslah pulang.

     sebentar lagi gelap. dan selamanya gelap.

     pergilah ke sana, yang jauh. tempat di mana

     sinar dengan layak mengecup harapanmu

     yang mulai pupus itu. jangan menunggu lagi.

sebab hujan tak boleh turun lagi di sini.” bisiknya.

aku tak bisa berkata-kata.

hanya diam dan membiarkan

keikhlasan terus menepuk punggungku

ke dalam pelukannya.

       ya, memang sudah tidak ada apa-apa lagi

       waktunya tidur dan melanjutkan semua impian

       dan kata-kata baik yang kemarin tertunda.

2025

___________________

NEGOISASI HARI SENIN

setidaknya kau harus menjadi kekasihku

sepanjang hari. karena perasaan ini sepenuhnya

masih tertinggal di kasur tidur beserta seluruh rindu

yang makin ganjil tiap kali aku makan sambil berpikir,

kenapa sulit sekali melepas pergi hal-hal atau

seseorang yang memang tak bisa kita miliki.

sepertinya dari minggu sampai senin aku selalu

ceroboh. terperangkap di mesin cetak bagai kertas lusuh

yang nekat menjadi pelampiasan hasrat pikiran para pekerja

padahal aku tahu akan berakhir di tempat sampah.

mau menyesal pun hanya akan tetap menjadi

barang buangan. diabaikan dan dilupakan.

atau kau bisa bilang perasaan ini mirip jas hujan

yang terjebak dalam bagasi karena aku seringkali

tidak peduli sementara cuaca di luar rintiknya saja

telah melolong sekuyup itu pada pukul delapan pagi.

menjadikan semua basah, semua gelisah. semua memandangi jendela.

tapi, ya, setidaknya kau harus menjadi kekasihku

sepanjang hari ini. agar aku punya alasan untuk

lebih cepat menyelesaikan pekerjaanku dan buru-buru

pulang menemuimu, mengecup keningmu sambil berkata,

terima kasih, kau telah menjadi hari senin terbaikku.

meski aku tahu betul, di sana cuma ada dinding hijau alpukat

yang kuberi nama puisi-puisi dengan darah yang mengalir

dari tubuh rinduku, dari tawar menawar kata-kata yang tak

bisa kuucapkan ketika dalam sepekan kenangan bergentayangan

seperti hantu risau yang bepergian pada akhir desember.

2025

___________________

SEBUAH RUANGAN

aku selalu menyediakan sebuah ruangan

untukmu kembali dari pengembaraan, setelah kau

menyadari tak ada rindu yang mampu menarikmu

pulang selain rindu yang kuselipkan di pusaran angin

dan dalam puisi-puisi yang menjelma ikan sailfish,

yang mahir berenang cepat ke arahmu.

meski aku tahu ini bodoh. tapi entah mengapa

aku mencintai kebodohan yang paling ahli

menghabiskan usiaku ini. sebab aku pun sebenarnya

tak pernah tahu kapan dia akan kembali.

meski aku tidak terlampau duka, namun tak pula

aku senantiasa baik-baik saja dalam penantian ini.

      tapi, omong-omong, apakah kalian

pernah sebodoh ini

     saat berjuang dalam sebuah

usaha mencintai?

2025

___________________

PERCAKAPAN SEPASANG DADA

apa kau merindukannya?

                 tentu saja. bagaimana mungkin

                 aku tidak merindukannya. dia rumah

                  bagi kenanganku.

apa dia juga merindukanmu?

                  aku tidak tahu. dan aku tidak akan pernah

                   menanyakan itu.

apa tidak masalah merindukan dengan cara seperti itu?

                   akan selalu begitu. jika dia tidak rindu kepadaku,

                   itu bukan masalah utamanya. sebab akulah yang

                   memutuskan. aku tidak bisa mencegah kepada siapa

                   dia akan rindu dan tubuh mana yang ingin dia peluk.

apa itu tidak menyakitimu?

kupikir itu akan sakit.

                aku akan berpura-pura. berpura-pura tidak sakit.

                berpura-pura tidak rindu. aku akan terlatih

                untuk itu. kau tahu aku seorang penyintas.

lalu bagaimana jika aku nanti aku juga merindukanmu?

                                                …………………………

            dia hanya menatapmu. dia tidak pernah tahu.

            kaulah orang yang merindukannya

setengah mati. setiap hari.

2025

___________________

M.Z. Billal. Lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital seperti kompas.id,  Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, bacapetra.co, dll, serta sejumlah antologi nasional.