
Pledoi Hujan di Tanah Sumatra
Jangan tatap aku sebagai pendosa pembawa petaka,
aku hanyalah air yang patuh pada titah musim.
Datangku adalah rindu yang pulang mengetuk pintu,
namun bingung harus merebah di mana,
sebab hulu terkunci nafsu.
Jika kini aku meluap menjelma bah yang garang,
bukan karena ingin menenggelamkan harapan.
Tanyakanlah pada bukit-bukit yang berdiri telanjang:
ke mana perginya akar purba yang dulu memelukku tenang?
Aku jatuh mencari dahan serta rerimbunan daun,
tapi hanya bertemu tunggul mati yang tak lagi santun.
Tanah tak punya daya untuk menahan laju,
membiarkanku liar menerjang apa saja yang kutuju.
Berhentilah mencari kambing hitam di balik kelabu,
tengoklah jejak gergaji yang memangkas paru-paru.
Banjir ini adalah air mata hutan yang dipaksa diam;
aku hanya bertugas, kalianlah yang lupa etika meminjam.
Yogyakarta, 01 Desember 2025
______________________
Gugatan dari Penghuni Belantara
Air bah ini bukan tamu yang kami undang,
ia datang menagih akar alam yang kalian buang.
Rumah kami bukan lagi rimbun yang teduh,
melainkan tanah mati yang tak mampu menahan keluh.
Kami, yang jumlahnya kini dihitung jari gemetar,
dipaksa berenang di atas air mata hutan yang liar.
Kalian rampas atap kami demi kertas dan juga meja,
membiarkan kami hanyut bersama dosa yang kalian eja.
Dulu kami lari dari moncong senapan dan jerat,
kini bingung saat tanah pijakan ikut berkhianat.
Hutan gundul tak lagi punya rahasia untuk nyawa,
tak ada dahan kokoh mendekap kami yang tersisa.
Saat kalian sibuk menghitung rugi di kota yang basah,
kami di sini menghitung detak napas yang pasrah.
Kelak, katakan pada cucumu tanpa alibi:
kami punah karena rumah ini digadaikan,
lalu kalian tenggelamkan sendiri.
Yogyakarta, 01 Desember 2025
______________________
Di Bawah Kibaran Panji Seragam
Hutan yang dulu riuh dalam ribuan bahasa,
kini dipaksa berbaris rapi, lupa caranya tertawa.
Segala yang liar dan berbeda dianggap dosa,
diganti satu rupa demi deretan angka di atas meja.
Di sana, hijau bukan lagi rimbun yang bernyawa,
melainkan kesunyian yang ditata paksa manusia.
Tanah memikul beban akar asing yang egois,
menghisap air tanah hingga ke tetes paling krisis.
Hujan meluncur deras tanpa sempat ditepis,
sebab jejaring purba di dalam tanah telah terkikis.
Bumi tak lagi menjadi ibu yang memeluk manis,
sekadar mesin produksi yang diperas hingga tipis.
Jadi, jangan heran saat sungai meluap membawa dendam,
bukit kehilangan tangan untuk mendekap malam.
Di hamparan monokultur yang angkuh serta rapuh,
kita sedang menggali kubur sendiri, pelan dan patuh.
Yogyakarta, 01 Desember 2025
________________________
Di Tepi Riwayat yang Basah
Air masuk tanpa permisi, merobek hangat ruang tamu,
menyisakan rangka rumah yang mendadak bisu.
Segala kenang juga tawa hanyut seketika,
jejak hidup dihapus arus yang datang membawa duka.
Malam pecah oleh gemuruh, tangan-tangan terlepas paksa,
teriakan ibu ditelan angin yang mendadak tuli rasa.
Ada tubuh kaku dipulangkan arus dengan kelam,
sisanya menggigil di atap, mendekap malam yang suram.
Rindu menjadi jarak yang tak terjangkau perahu karet,
hanya doa tersisa, tersangkut di ranting yang macet.
Lapar dan dingin kini memeluk tubuh tanpa sungkan,
menunggu bantuan yang datang perlahan dalam ketidakpastian.
Di bawah tenda darurat, mata nanar menatap kehancuran,
manusia kembali menjadi tumbal dari keserakahan zaman.
Inilah panen pahit dari dosa ekologis yang ditanam,
buahnya selalu berupa air mata yang terendam.
Yogyakarta, 01 Desember 2025
_______________________
Di Atas Meja Transaksi
Di mata mereka, rimba hanyalah angka yang menunggu cair,
gergaji melolong merobek sepi, memutus takdir.
Segala yang bernapas dipaksa mati jadi lembar rupiah,
menukar paru-paru bumi dengan keserakahan yang pongah.
Hijau bagi Tuan bukan kehidupan, melainkan emas semata,
membangun istana megah di atas tanah yang kini buta.
Riwayat hutan dihapus demi grafik laba yang mendaki,
tak peduli pada sungai yang kering juga satwa yang lari.
Mereka tertawa riang di balik tembok gedung yang dingin,
merasa menang menaklukkan tanah, air, dan angin.
Padahal mereka sedang menggali liang lahat sendiri,
menunggu saat alam datang menagih janji yang ngeri.
Yogyakarta, 01 Desember 2025
_______________________
Maria Utami. Ibu rumah tangga asal Kota Yogyakarta yang aktif menulis puisi. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk terus berkarya. Sebagian naskah puisinya juga sudah terbit di sejumlah media literasi digital. Dapat didukung atau disapa melalui akun Instagram: @maria.oetami.

