Puisi

Puisi Hikmalsst

Di Pelataran Hati

Pada malam yang penuh kerinduan,

aku berbaring di pelataran hati,

memandang kelopak mawar kesedihan,

yang layu karena derai air mata.

Lama tak tergoyahkan oleh senyum,

pemiliknya kini rambutnya rontok,

dan badannya layu karena badai kemo.

Tidak ada lagi kecupan di pipi,

tak ingin memicu air mata yang tak ingin jatuh.

Apa arti hidup yang tersisa begitu?

Pulanglah, tinggalkan aku di pelataran ini,

engkau butuh istirahat, malam ini dan selamanya.

Mustahil tak cemas, tapi aku tak bisa janji,

hanya berharap kau bisa tidur tenang malam ini.

(8 November 2023, Pelataran Hati)

____________________

Kota Kecil Sengsara

Terkenang masa kecilku di kota kecil sengsara,

Nembang pangkur di pagi buta bersama buyung di gendongan,

Mengantar bapak pergi bekerja dengan hati gembira.

Ombak melompat di dermaga, camar bermain di tiang sampan,

Namun, panji-panji nelayan kini rapuh seiring tarian pandan,

Samudera yang tenang tak lagi memandang segala yang berharga.

Lalu lalang perahu di laut, dulu dihantam gelombang waktu,

Si buyung kini dewasa, beristri dan beranak,

Bapak tak kembali, ibu sudah lama berpulang.

Ombak kecil tak lagi menggelitik pantai berpasir,

Laut digutik pengungkit dan peti kemas,

Tawa anak-anak yang dulu padam satu per satu.

Aku tahu tak mungkin lagi pulang ke kota yang dulu riang.

(24 Oktober 2023, Kota Kecil Sengsara)

_____________________

Dari Balik Jendela Kehidupan

Dari balik jendela kehidupan di lantai dua puluh,

Kulihat peti-peti kemas dan besi ungkit di dermaga,

Bunyi mesin, peluit, dan siren menghapus ombak dan gelombang.

Tak ada pasir, tak ada pantai, dan tarian palem sirna,

Di aspal pembatas laut hijau dan biru, kapal feri menanti berlayar.

Ingin kuciptakan puisi tentangnya,

“Gaunnya selembut awan, wajahnya semolek kembang,”

Seperti masa di mana kota belum dijajah oleh tangan-tangan pembangunan.

Namun, keindahan hanya milik laut yang tabah dalam meditasi purba,

Tak ada yang indah dari pemandangan yang tak bersahabat ini.

(24 Oktober 2023, Jendela Kehidupan)

___________________

Langit Sore Menyapamu

Hai, apa kabar?

Sudah lima belas tahun, kita tak bersua.

Bagaimana di sana?

Semoga baik-baik saja, tanpa kurang sedikit pun.

Aku ragu kau masih mengingatku, tapi kenangan tetap di hati.

Banyak yang berubah di kota ini,

Lahan kosong yang kita lewati setelah sekolah,

Kini menjadi toko serba ada, dan rumah kita hanyalah lahan parkir.

Tapi kenangan itu tak tersentuh waktu, seperti kita.

Saat ini, melihat fotomu terjatuh di buku,

Ketika aku hendak pindah rumah, kurasakan seperti menemukan kembali

Kenangan yang pernah hilang, yang belum pernah kuingat.

Saat langit senja berubah merah, aku ingin duduk di bawah pohon mangga,

Tempat kita biasa habiskan senja bersama, tapi aku pulang.

Usia membuatku ragu, dan angin sayup saja cukup untuk mengalahkanku.

Sepasang kupu terbang di antara dahan menyambut malam yang mendekat,

Langkahku terasa berat, seperti menginjak kenangan.

(4 November 2016, Langit Sore)

___________________

Kunang-kunang Setia

Saat padam suluh bambuku,

Kau temani langkah kecilku melintasi pematang yang gelap,

Tak lagi menakutkanku, karena ada engkau.

Burung hantu di rimba kelam, pusara di ujung jalan,

Aku tak mampu mengusir cemas yang mengganggu.

Namun, kilaumu, yang tenteramkan hati, mampu menghilangkan gemetar dalam langkahku.

Saat kilaumu, kunang-kunang, terkenang lagi di relung kalbuku,

Jalanku yang hampa menjadi bermakna, berarti karena cahayamu.

Suara sungai di kejauhan terasa sejuk, seperti masa kecilku.

Pulang lagi aku padamu, di kegelapan, di pendar sunyi,

Melambai-lambai dengan sabar dalam doa menuju kepastian.

Aku rindu saat dahulu, sebelum beranjak dewasa,

Saat kunang berkilau terang, cicada bernyanyi riang.

Kini, kilaumu tetap setia, memandu langkahku yang tak pasti.

(19 September 2022, Kunang-kunang Setia)

___________________

Hikmalsst (Hikmal Yazid). Pengajar dari lembaga madrasah dari berbagai tingkat, hikmalsst nama penanya selalu mengisi cela waktu untuk menyempatkan merekam kehidupan dengan aksara. 

Puisi

Puisi Hikmalsst

Melodi Kelam Jalan Menuju Hati

Di jalan menuju hati yang kelam

Rintik gerimis memutar melodi

Angin berbisik di daun-daun pohon

Aku, luntang-lantung, terombang-ambing

Kesunyian memayungi langkah-langkahku

Tak ada penanda, tak ada petunjuk

Hanya cahaya remang yang menari

Kecemasan bergema di tikungan hati

Ingin pulang ke tubuhku, pada petang diam

Namun kecemasan berkecamuk di ingatan

Seakan aku tersesat di lorong-lorong kelam

Dalam melodi kelam jalan menuju hati

____________________

Pada Akhirnya, Kita dan Waktu

Sayangku, hari-hari menyusup tanpa aba-aba

Waktu tak kenal lelah, tak henti berlalu

Bau hari tak pernah berubah, tetap sama

Hanya ingatan kita yang berpindah-pindah

Berjalan dari kelelahan ke kelelahan

Dan kelupaan memenuhi setiap sudut hati

Tak ada jeda untuk merenungkan arti

Mengeja rindu-rindu di antara langit dan bumi

Semua sibuk mencari jalan keluar

Dari kesepian yang seolah tak berujung

Tak ada yang mau bertanggungjawab

Atas kekacauan di kepala kita

Pagi dan sore, siang dan malam datang berganti

Tapi hidup tetap memberi kelelahan

Dan kelupaan menjalar tanpa henti

Pada akhirnya, sayangku, waktu tak menunggu

____________________

Di Hadapan Maksud Waktu yang Tak Terpahami

Sayangku, kehidupan seperti jatuh dari langit

Tak mengerti, kesepian meliputi segalanya

Kita, terbata di hadapan waktu yang misterius

Keinginan merakit jalan menuju depan pintu hatimu

Kau menunggu, sementara kita bercerita

Lebih dari satu miliar kalimat di atas meja

Sayangku, maukah kau menunggu?

Kelak, saat hari membaik, kita rayakan bersama

Melihat kota diguyur angin, air laut melambai

Jari-jemari kita dihujani cinta setiap hari

Di hadapan maksud-maksud waktu yang tak terpahami

____________________

Demikian Rindu Ini Meresap

Asal kau tahu, sepanjang waktu berlalu

Keinginanku terpenuhi, kebetulan terjadi

Kita bertemu di suatu tempat, di suatu hari

Mungkin terkejut, mungkin tak

Aku lupa, bagaimana tubuh ini bereaksi

Bekerja di hadapanmu, apakah kau sama?

Duduk, menceritakan kisah kita

Kunyah setiap hari dengan perasaan aneh

Aku yakin, saat tiba waktu tak berarti

Di hadapan ingatan kita berdua

Lidah belajar bicara, mengenal bahasa baru

Demikian rindu ini meresap di dalam kita

___________________

Hikmalsst (Hikmal Yazid)

Pengajar di lembaga madrasah dari berbagai tingkat. Mengisi celah waktunya untuk merekam kehidupan dengan aksara.