
Di Pelataran Hati
Pada malam yang penuh kerinduan,
aku berbaring di pelataran hati,
memandang kelopak mawar kesedihan,
yang layu karena derai air mata.
Lama tak tergoyahkan oleh senyum,
pemiliknya kini rambutnya rontok,
dan badannya layu karena badai kemo.
Tidak ada lagi kecupan di pipi,
tak ingin memicu air mata yang tak ingin jatuh.
Apa arti hidup yang tersisa begitu?
Pulanglah, tinggalkan aku di pelataran ini,
engkau butuh istirahat, malam ini dan selamanya.
Mustahil tak cemas, tapi aku tak bisa janji,
hanya berharap kau bisa tidur tenang malam ini.
(8 November 2023, Pelataran Hati)
____________________
Kota Kecil Sengsara
Terkenang masa kecilku di kota kecil sengsara,
Nembang pangkur di pagi buta bersama buyung di gendongan,
Mengantar bapak pergi bekerja dengan hati gembira.
Ombak melompat di dermaga, camar bermain di tiang sampan,
Namun, panji-panji nelayan kini rapuh seiring tarian pandan,
Samudera yang tenang tak lagi memandang segala yang berharga.
Lalu lalang perahu di laut, dulu dihantam gelombang waktu,
Si buyung kini dewasa, beristri dan beranak,
Bapak tak kembali, ibu sudah lama berpulang.
Ombak kecil tak lagi menggelitik pantai berpasir,
Laut digutik pengungkit dan peti kemas,
Tawa anak-anak yang dulu padam satu per satu.
Aku tahu tak mungkin lagi pulang ke kota yang dulu riang.
(24 Oktober 2023, Kota Kecil Sengsara)
_____________________
Dari Balik Jendela Kehidupan
Dari balik jendela kehidupan di lantai dua puluh,
Kulihat peti-peti kemas dan besi ungkit di dermaga,
Bunyi mesin, peluit, dan siren menghapus ombak dan gelombang.
Tak ada pasir, tak ada pantai, dan tarian palem sirna,
Di aspal pembatas laut hijau dan biru, kapal feri menanti berlayar.
Ingin kuciptakan puisi tentangnya,
“Gaunnya selembut awan, wajahnya semolek kembang,”
Seperti masa di mana kota belum dijajah oleh tangan-tangan pembangunan.
Namun, keindahan hanya milik laut yang tabah dalam meditasi purba,
Tak ada yang indah dari pemandangan yang tak bersahabat ini.
(24 Oktober 2023, Jendela Kehidupan)
___________________
Langit Sore Menyapamu
Hai, apa kabar?
Sudah lima belas tahun, kita tak bersua.
Bagaimana di sana?
Semoga baik-baik saja, tanpa kurang sedikit pun.
Aku ragu kau masih mengingatku, tapi kenangan tetap di hati.
Banyak yang berubah di kota ini,
Lahan kosong yang kita lewati setelah sekolah,
Kini menjadi toko serba ada, dan rumah kita hanyalah lahan parkir.
Tapi kenangan itu tak tersentuh waktu, seperti kita.
Saat ini, melihat fotomu terjatuh di buku,
Ketika aku hendak pindah rumah, kurasakan seperti menemukan kembali
Kenangan yang pernah hilang, yang belum pernah kuingat.
Saat langit senja berubah merah, aku ingin duduk di bawah pohon mangga,
Tempat kita biasa habiskan senja bersama, tapi aku pulang.
Usia membuatku ragu, dan angin sayup saja cukup untuk mengalahkanku.
Sepasang kupu terbang di antara dahan menyambut malam yang mendekat,
Langkahku terasa berat, seperti menginjak kenangan.
(4 November 2016, Langit Sore)
___________________
Kunang-kunang Setia
Saat padam suluh bambuku,
Kau temani langkah kecilku melintasi pematang yang gelap,
Tak lagi menakutkanku, karena ada engkau.
Burung hantu di rimba kelam, pusara di ujung jalan,
Aku tak mampu mengusir cemas yang mengganggu.
Namun, kilaumu, yang tenteramkan hati, mampu menghilangkan gemetar dalam langkahku.
Saat kilaumu, kunang-kunang, terkenang lagi di relung kalbuku,
Jalanku yang hampa menjadi bermakna, berarti karena cahayamu.
Suara sungai di kejauhan terasa sejuk, seperti masa kecilku.
Pulang lagi aku padamu, di kegelapan, di pendar sunyi,
Melambai-lambai dengan sabar dalam doa menuju kepastian.
Aku rindu saat dahulu, sebelum beranjak dewasa,
Saat kunang berkilau terang, cicada bernyanyi riang.
Kini, kilaumu tetap setia, memandu langkahku yang tak pasti.
(19 September 2022, Kunang-kunang Setia)
___________________

Hikmalsst (Hikmal Yazid). Pengajar dari lembaga madrasah dari berbagai tingkat, hikmalsst nama penanya selalu mengisi cela waktu untuk menyempatkan merekam kehidupan dengan aksara.


