Puisi

Puisi Galuh Ayara

SADTEMBER

bulan adalah telur yang menetas

di matamu

menjadi anak-anak burung yang tersesat

yang lupa cara memeluk

dan menggenggam jari

di ruang ini kau bukan hanya kelebat

tubuhmu tak beranjak dari bawah selimut

aku suka kulit lehermu

ketika kutaruh lidahku

matamu terkatup

dan udara dingin hanya sanggup menggantung di kusen jendela

lalu menyelinap ke pahaku

lalu ke telingamu

september dan bulan-bulan di matamu

sudah terlalu gelap

aku sedang lupa

pada warna bola matamu

pada garis bibir

pada merk rokok kesukaanmu

pada coklat

pada schubert

pada sepenuhnya

dan pada

udara dingin di sekitarmu

meski tanganku

belum juga fasih meraba kehilangan

meraba ketiadaan

mataku penuh bulan-bulan abu

yang menetas jadi kepedihan

sementara kau sudah terbang jauh dari kepalaku

ke luar angkasa

ke luar aku

ke luar bulan

di ruang terjauh di tubuhmu

yang tak ada kita

kau sedang apa?

2023


Death Ceremony

1

o kekasih hati yang tak pernah kuberi nama

kau bisa pergi hari ini

dari napas

dan denyut nadi

sebab maut sangat erat di tanganku

menggantikan genggamanmu

sebab maut sangat dekat

di bawah kulitku

mencium dadaku sebagai kekasih yang baru

hingga aku sangat lekat

dan tak pernah ingin lepas

aku takut kau cemburu

2

di depan matamu aku ingin meleleh,

menjadi ketiadaan

sementara dalam kekosongan itu

aku masih bisa melihatmu

bersedih dan

memeluk lutut

3

hey, kau seperti anak kecil

yang kehilangan mainan

sini aku ajari cara bermain

kuberi tangan kiri yang gemetar

dan tangan kanan yang keibuan

serta kedua pahaku yang pucat tapi hangat

kau betah tidur di sana, kan?

4

kau bilang

lebih baik jadi ibu

dari pada jadi tuhan

dalam pelukan ibu

kau tidak akan diberi dua pilihan

ke sorga atau ke neraka

dalam pelukanku

kau bisa nakal seperti anak kecil

yang minta susu

2023

Ruang Kosong

ada yang berdarah di mataku

ketika aku sampai pada satu halaman

yang hitam

sementara teh mulai dingin

aku terpejam

membiarkan angin pagi merasuk ke tubuhku seperti iblis yang dibenci

lalu aku dibawa pada satu lelaki

dia pernah mencium leherku ketika masih bayi

tiba-tiba kepalaku sakit luar biasa

aku terbangun kemudian

di sebuah ruang kosong berupa pelukan seseorang yang tak punya wajah

aku boleh menangis, katanya

sebab ia telah siapkan seluruh kekosongannya untuk aku penuhi

tapi aku tak punya apa pun untuk diberi

2023


Pertunjukan Malam

setiap malam tubuhku jadi dua

satu mayat satu bayi punya sayap

tapi bahkan tidak tahu cara bergerak dan beranjak

aku merawat mereka dengan penderitaan yang–

tumbuh di kepalaku

seperti rambut seseorang yang wangi roti panggang keju

seseorang itu yang suka alice in wanderland

yang wajahnya pucat dan beku

setelah aku bercerita tentang

mayat dan bayi

yang–

tak perlu kuberi makan

selain susu yang berubah jadi darah

dan napas

yang menetes dari punggung tuhan

yang

gelap tapi gemerlap

lalu segalanya lenyap;

tubuh dan waktu

2023


Pengantar Tidur

tuhan menjaga jariku yang gemetar

setiap malam setelah

lagu-lagu lullaby

berdenging dan berdengung

dari sebuah telepon genggam

lalu tubuhku retak

lantah jadi seribu pecahan

mengubur roda waktu yang

terus bergerak ke depan

setelah itu

aku lupa wujud tubuhku

dan kehidupan

tak bisa lagi kuraba

2023


Galuh Ayara, suka menulis cerpen dan puisi. Karya-karyanya dimuat di beberapa media. Menulis dua buku; ‘Nyanyian Origami’ (2020) dan ‘Pohon Insomnia’ (2023).

Puisi

Puisi Galuh Ayara

Buku Dongeng

sehabis membacakan buku dongeng

ibu pergi menutup pintu kamar

kepalaku jatuh ke lantai

lalu aku tidak mengenali apa pun

tokoh-tokoh dalam dongeng

mengubur tubuhku di negeri yang jauh

2023


Dalam Spons Cake Mocca Rich

ketika aku diserang demam

dan kepalaku ditusuk-tusuk memori buruk

aku tidak ingin menutup mata

sebab kulihat ia terbang

lalu hinggap di dahan awan

aku senang bukan kepalang

ia turun kemudian

memberiku potongan spons cake mocca rich yang besar

yang punya mulut dan gigi

maka tubuhku masuk ke dalam spons cake mocca rich

seolah aku dimakan

lalu dari kepalaku

tumpah adegan-adegan mengerikan

seperti iblis yang meleleh jadi saus cokelat

tumpah ke mana-mana

di mana-mana

ia kuingat kemudian

dan perlahan

tak pernah datang

tak pernah pulang

ke dalam pelukan

atau pun kutukan

lenyap seperti disihir

evanesco

abrakadabra

hilang

di dalam spons cake mocca rich

tubuhku 40°

sendirian

2022


Ketika Aku Cemas

kierkegaard duduk di kamarku dan melemparkanku seribu lembar kain sutera

tidurlah aku sembari masuk ke matanya yang seperti lorong putih kosong

maka aku berada di antara ketiadaan yang amat luas

ke mana aku dilemparkan?

pada ketiadaan atau kekosongan?

malaikat berwarna putih memegang tanganku

ia tidak memiliki sayap

tapi memiliki ekor yang panjang seperti naga

ketika kuinjak ekornya

matanya terbakar

dan seluruh tubuhnya menjadi semerah neraka

aku di mimpi atau di neraka?

aku ingat pada setiap pertemuan dan perjamuan

yang datang dan yang hilang

lalu penderitaan meminjam wajah kehidupan

aku di mimpi atau di neraka?

begitu hidup masih saja kuterka

2023


Mimpi

seorang perempuan wangi susu

berdiri di ujung jariku ketika aku tidur

dari matanya yang sayu

aku menyaksikan;

seorang ibu yang beranak

dari perutnya keluar api

lalu mengental menjadi daging

lalu tuhan menyuruh menangis

lalu terbelalak;

iblis berjalan semakin dekat

semakin cepat

dan perlahan kelopak mataku jadi beku

2023


Di Meja Makan

fla yang warna merah

yang meleleh dari dalam roti itu

bukan rasa stroberi

darahku mendidih

muncrat ke atas meja

2023


Galuh Ayara, suka menulis cerpen dan puisi. Beberapa karyanya dimuat di beberapa media. Sudah menerbitkan Buku kumcer ‘Nyanyian Origami’ (2020) yang berisi kumpulan cerita pendek, dan ‘Pohon Insomnia’ (2022) yang berisi kumpulan puisi.

Cerpen

Seseorang yang Ingin Mati di Aokigahara

Cerpen Galuh Ayara

Seorang teman tiba-tiba menelepon dan memberitahuku bahwa ia hendak bunuh diri dan pergi ke hutan Aokigahara? Ia memintaku membantunya melewati masa krisis sampai ia bisa membebaskan pikiran negatifnya. Bukankah setiap orang yang ingin bunuh diri berpikir dan berharap di detik-detik terakhir, ia masih bisa selamat di dunia yang serba menjeratnya?

Namanya Fujio. Dia adalah sahabatku ketika aku kuliah di Universitas Waseda di Tokyo, Jepang. Fujio adalah seorang penulis sastra. Karyanya dimuat di koran, majalah, dan media daring. Ia yang mengenalkanku kepada buku-buku sastra Jepang seperti buku Kazuo Ishiguro, Haruki Murakami, dan para terdahulunya seperti Junichiro Tanizaki dan Yasunari Kawabata. Dia juga yang akhirnya membuatku sangat menyukai ‘Midaregami’, buku kumpulan tanka, puisi berpola khas jepang, yang dianggap kontroversial karya Akiko Yosano.

Fujio adalah sosok lelaki sederhana yang selain menulis, kadang ia suka memasak dan bergaya bak koki restoran. Ia akan mengenakan baju dan topi koki berwarna putih terang saat ingin menunjukkan keahliannya meracik ramen pedas kepadaku. Aku selalu antusias dengan pertunjukan memasak kecil-kecilan di dapur apartemennya yang agak sempit itu. Gaya Fujio yang kocak dan sebenarnya tidak alami ketika meracik ramen itu selalu sukses mengocok perutku. Aku terpingkal-pingkal sampai keluar air mata, sementara Fujio dengan senyum cengengesannya fokus melanjutkan kegiatannya. Ketika mengaduk bumbu di panci ia sengaja membenturkan sendok yang agak besar itu ke pinggiran kuali hingga mengeluarkan suara yang berisik. Aku menutup telinga sambil terbahak-bahak.

Di balik kesederhanaannya, sesungguhnya Fujio lahir dari keluarga kaya di Tokyo. Kekayaan keluarganya mencakup beberapa restoran, bar, hotel, juga dorm berikut salah satu sekolah bahasa di Shinjuku. Rumah tinggal keluarga Fujio berada di Denenchofu, sebuah kawasan pemukiman elit yang dikembangkan oleh seorang industrialis yang dianggap sebagai bapak kapitalisme Jepang. Karena kekayaan keluarga tersebutlah, Fujio dipaksa kuliah bisnis oleh ayahnya untuk meneruskan bisnis keluarganya. Akan tetapi, Fujio lebih tertarik dengan bidang sastra. Takdir itu kemudian mempertemukanku dengan Fujio di Universitas Waseda.

Pada saat itu–bulan Mei, Jepang mengalami periode ‘tsuyu’ atau musim hujan. Saat itulah aku seringkali bermalam di apartemen Fujio yang terletak tidak begitu jauh dari taman Shinjuku Gyoen. Aku tidak tahu apakah Fujio menyukaiku atau tidak. Dia tidak pernah mengungkapkan apapun soal perasaannya kepadaku. Aku tidak tahu, tapi sejujurnya kami sering melakukan hubungan seks setiap kali aku menginap di apartemennya, atau pun sebaliknya, ia yang datang ke apartemenku.

“Hidupku sangat berat, Hanin,” katanya suatu ketika. Saat itu aku baru saja menghabiskan satu mangkuk besar ramen pedas buatannya yang berhasil membuat tubuhku panas dan berkeringat. Kami makan ramen sambil menonton film anime Kotonoha No Niwa-Makoto Shinkai yang banyak memakai latar keindahan taman Gyoen. Film itu adalah salah satu film anime Jepang yang aku suka. Selain karena berlatar taman Gyoen yang terasa amat dekat dan digambarkan sangat indah dan mendetail itu, juga karena cerita cintanya yang melankolik dengan dihiasi kutipan tanka lama yang penuh teka-teki.

Aku bergeser untuk membelai punggung Fujio lalu memeluknya dari belakang.

“Kenapa? Apa yang membuat hidupmu berat?”

Aku bertanya sembari membenahi posisi dudukku di atas tatami.

“Entahlah. Kadang aku merasa dikejar-kejar sesuatu di kota ini hingga aku sangat takut dan tertekan.”

“Soal ayahmu?”

“Mungkin lebih dari itu? Aku merasa kota ini penuh tuntutan. Dan aku hanya seorang yang keras kepala. Hmm, terlalu keras kepala untuk mempertahankan ketertarikanku pada dunia sastra.”

Aku menyandarkan kepala di pundaknya.

“Kamu satu-satunya orang paling baik yang pernah aku kenal, Fujio. Aku senang bisa mengenalmu, dan akan sedih jika suatu saat aku harus pulang ke Indonesia dan kita akan berpisah dalam waktu yang lama, mungkin selamanya.”

Aku mengucapkan kata-kata itu untuk membesarkan hatinya sekaligus mempertanyakan secara terselubung, kenapa dia belum juga mau berkomitmen denganku?

“Maafkan aku, Hanin. Aku tidak ingin kamu ikut masuk ke dalam kehidupanku yang sangat rumit. Maaf.”

Ia berkata seolah mengerti kegelisahanku. Aku menelan ludah mendengar kenyataan yang agak pahit itu. Akan tetapi di luar itu, aku begitu nyaman setiap kali dekat dengan Fujio, sehingga aku tidak dapat menuntut apapun darinya, asalkan dia ada.

Aku berdiri dan berjalan ke muka jendela. Hujan rintik-rintik di luar membuat Jepang seperti sebuah lukisan dengan orang-orang berpayung yang berjalan di antara gedung-gedung menyala. Aku ingat, aku pernah melihat lukisan seperti itu di rumah kakekku di Bandung. Jepang benar-benar seperti lukisan yang sangat besar ketika memasuki periode tsuyu.

“Di kaki gunung Fuji ada hutan yang bernama Aokigahara. Orang-orang pergi ke sana untuk bunuh diri. Kau pernah dengar?”

Fujio mengambil satu batang rokok dari atas meja. Aku berjalan kembali ke dekatnya. Aku berjongkok untuk mengambilkan korek lalu menyalakan api ke rokok yang sudah ada di mulutnya.

“Ya. Hmm, aku kurang suka mendengarnya.”

Aku mengambil rokok itu lalu mencium bibirnya yang basah dan berasap. Perlahan tubuhku bergerak dan menjadi sangat melekat dengan Fujio. Aku memeluk dan membuka pahaku lebar-lebar di atas pangkuannya.

“Tolong jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu, di mana pun. Sebab aku akan sedih dan merasa bersalah.”

 Aku mengembalikan batang rokok itu ke mulutnya.

“Aku tidak tahu apakah hidupku berharga?”

Fujio mematikan rokok dengan menekan ujungnya di permukaan meja kecil di samping kami.

“Dengar, tidak ada hidup yang sia-sia. Kuatkan dirimu, ya. Sabar.”

“Suatu hari aku akan meneruskan bisnis ayahku. Dan saat itu mungkin aku hanyalah mayat hidup.”

“Kamu masih bisa menulis nanti.”

“Entahlah. Aku muak dengan segala tuntutan di hidupku.”

“Jangan pernah putus asa.”

“Iya.”

Ia lantas memeluk tubuhku sangat erat. Aku merasakan tangannya yang dingin masuk ke dalam blus dan bra-ku. Tangan itu meremas-remas payudaraku hingga aku berdebar bukan main. Aku menurunkan resleting blusku lalu melepas bra dengan napas naik turun dan tergesa. Aku meraih tangannya yang agak kasar itu lalu menciuminya dengan mata terpejam. Aku merasakan seluruh kecemasannya masuk ke pori-pori kulitku, sehingga aku sangat sulit lepas darinya. Aku tidak pernah bisa lepas seakan tubuhku diikat. Aku hanya bisa menerima tubuh itu menyatu dengan tubuhku semakin dalam, semakin dalam. Lalu di kedalaman itu, aku berharap seluruh kegelisahannya reda.

***

Aku menutup panggilan telepon itu dengan tangan yang gemetar, dan hatiku begitu hancur lebur.

“Siapa yang meneleponmu? Kenapa kamu menangis? Apakah dia temanmu sewaktu kuliah di Universitas Waseda?”

Aku tidak segera menjawab. Hatiku terlalu berkecamuk. Fujio baru saja meneleponku setelah kami hilang kontak selama dua tahun selepas aku pulang ke Indonesia. Ia menutup semua akun media sosialnya, juga mengganti nomor ponselnya atau bagaimana aku tidak tahu. Lalu sekarang ia tiba-tiba muncul dan berkata ingin bunuh diri. Aku bisa mendengar suara tangisnya yang berat seolah ia tak sanggup lagi menanggung pikiran-pikiran negatifnya? Bagaimana jika ia benar-benar pergi ke Aokigahara sendirian lalu tidak pernah kembali ke apartemennya, ke rumah keluarganya atau ke mana pun? Ah, aku tidak sanggup membayangkannya.

“Hanin? Kamu baik-baik aja?”

“Hmm, bisa kita pulang sekarang?”

“Yakin? Makan malam kita baru saja datang?”

“Kalau kamu enggak ingin mengantarku pulang, biar aku pulang naik taksi.”

“Wait, wait, Hanin. Oke, kita pulang ya.”

“Thank’s, Adit.”

“Bukan masalah. Kamu kekasihku. Akan kuturuti apapun kehendakmu.”

Setelah Aditya membayar makanan yang tidak kami makan, kami segera meninggalkan restoran itu.

***

Sesampainya di rumah, aku langsung menangis tersedu-sedu. Aku berguling di atas kasur dan kesulitan mengatasi kegelisahanku yang menjadi-jadi. Di tengah perasaan sedih dan khawatir itu, tiba-tiba aku merasa bersalah kepada Aditya. Perasaan bersalah itu merasuk begitu saja seperti roh yang mendesak dan menguasai diriku. Aku menangis semakin menjadi. Aku kebingungan mengatasi seluruh kegelisahan itu yang saling tindih menindih dan bertumpuk tebal di atas tubuhku.

Aditya adalah temanku sejak taman kanak-kanak. Sewaktu SD, kami pernah mencuri dewandaru sebesar gundu dari halaman sekolah SMA Strada di belakang sekolah kami. Adit yang memetik dewandaru itu karena aku begitu menginginkannya, karena aku tergoda dengan warna merahnya. Buah itu seperti lampion kecil yang menyala. Aku benar-benar tergoda dan amat menginginkannya. Setelah berhasil mendapatkannya, kami tunggang langgang dikejar satpam. Aditya memberikanku dewandaru sebesar gundu, tapi aku merasa ia baru saja memberikan bumi dan seisinya.

Sedari kecil, Aditya selalu memberikan apapun yang kumau, tapi aku tak pernah memberikannya apapun milikku. Sepulang aku dari Jepang, Adit menyatakan perasaannya sekaligus melamarku. Bahkan saat itu aku tidak memberikan hatiku, meski aku mengatakan “ya”. Aku bahkan selalu menolak ketika ia ingin menciumku, padahal sewaktu di Jepang hampir setiap malam aku tidur dengan Fujio. Fujio? Mengapa harus Fujio yang ingin aku berikan segalanya milikku? Padahal jelas-jelas lelaki itu selalu menolak membuat komitmen hubungan denganku.

Aku meraih novel Naomi. Naomi adalah sebuah novel karya Junichiro Tanizaki. Buku itu merupakan hadiah ulang tahun yang diberikan Fujio. Naomi berkisah tentang percintaan yang muskil, mendebarkan, provokatif dan penuh tragedi. Aku selalu suka kisah cinta yang melankolik, penuh teka-teki dan tragedi. Mengapa di Jepang penuh tragedi? Mengapa Fujio ingin bunuh diri? Ah, tiba-tiba kepalaku sangat pusing.

Buku itu selalu kubawa ke mana pun bersama dengan buku Midaregami. Aku membuka buku tersebut lalu foto Fujio yang kusimpan di dalam buku itu terjatuh. Aku menangis sambil memeluk foto itu. Segera saja aku meraih ponselku dari atas meja. Aku berusaha menelepon nomor ponsel yang dipakai Fujio tadi, tetapi tidak ada jawaban.

***

Pagi sekali, Aditya datang ke rumahku. Dia membuatkanku sarapan dan membantuku mengerjakan pekerjaan rumah. Dari meja makan aku bisa mencium aroma cabai merah dan bawang putih yang ditumis dan dicampurkan dengan udang segar dan nasi putih. Tidak lama, Adit datang dengan baki berisi sepiring nasi goreng dan teh jeruk lemon.

“Nasi goreng udang untuk Nona Hanin yang paling cantik.”

Adit menaruh nasi goreng udang dan teh jeruk lemon itu di depanku. Aku tersenyum alakadarnya sambil mulai memasukkan sesendok penuh nasi goreng ke dalam mulut.

“Apa perasaanmu sudah lebih baik?”

Aku mengangguk.

“Kalau boleh tahu, siapa orang itu, Sayang? Hmm?”

“Namanya Fujio. Ia teman kuliahku.”

“Dia pasti teman baikmu.”

“Ya, kami hanya berteman, tidak lebih.”

“Lalu apa yang membuatmu menangis semalam?”

“Dia dalam masa-masa krisis. Semalam dia bilang akan mengakhiri hidupnya dan sepertinya dalam perjalanan ke Aokigahara. Entahlah. Dia orang yang sangat rentan dan sulit berteman.”

“Aokigahara? Aku pernah menonton film dokumenter tentang hutan itu. Hutan di kaki gunung Fuji yang dijuluki hutan bunuh diri, kan?”

Tiba-tiba tak terasa air mataku banjir lagi. Aku menangis sesenggukan seperti bocah yang baru saja kehilangan mainan. Adit seketika mendekat dan merangkul tubuhku.

“Teleponku enggak diangkat. Gimana kalau dia sungguh-sungguh. Aku merasa bersalah. Dia menelponku karena dia tidak tahu harus menghubungi siapa. Dia memintaku membantu melewati masa krisisnya. Tapi waktu aku telepon balik, dia enggak angkat teleponku.”

Tangisku lantas semakin keras.

“It’s ok, Sayang. Cup cup cup, semua akan baik-baik aja. Kalau kamu mau, nanti aku beli tiket pesawat ke Jepang. Kita sama-sama ke sana biar kamu tenang, sekalian aku juga lagi butuh libur.”

“Kita?”

“Kenapa?”

“Enggak apa-apa. Terima kasih selalu memberi apa yang aku mau.”

“Aku cinta kamu, Hanin. Tidak ada yang lebih penting dari itu.”

Setelah itu, setelah memastikan aku sudah lebih tenang, Adit berangkat ke kantornya, sementara aku memutuskan tidak bekerja hari ini. Aku terlalu sedih dan sulit menguasai diri.

Aku membuka laptop, mencari tahu kanal berita online di Jepang yang memuat kabar tentang orang bunuh diri di hutan Aokigahara. Berjam-jam aku tidak menemukan nama Fujio Shinkai dari Shinjuku. Lalu aku mengetik nama pena Fujio yaitu Kawamura. Hasil pencarian nama itu hanya karya-karya Fujio yang dimuat di media-media jepang. Aku baru tahu, ternyata sudah banyak sekali karya yang ditulis Fujio. Karena penasaran akhirnya aku ketik nama ayah Fujio, yaitu Yukio Shinkai. Nama itu cukup populer sebagai pebisnis di Tokyo. Dan apa ini? Ada sebuah artikel memuat tentang Yukio Shinkai yang menggelar pernikahan putra tunggalnya dengan seorang anak pengusaha asal Hongkong.

Mendadak udara sangat dingin, tubuhku keram dan sulit bergerak.

Ponselku tiba-tiba berdering. Kulihat panggilan itu dari nomor yang dipakai Fujio semalam.

“Ha-Hanin.”

Mendengar suara yang terbata itu, tiba-tiba aku sangat ingin bunuh diri detik itu juga.***

2022


Galuh Ayara, suka menulis puisi dan cerpen. Karyanya dimuat di beberapa media. Buku kumcernya yang berjudul ‘Nyanyian Origami’ terbit pada tahun 2020.

Cerpen

Dua Puluh Tujuh Kereta Uap

Cerpen Galuh Ayara.

Yang kunaiki hari ini adalah kereta uap yang ke-lima. Masih tersisa dua puluh dua. Artinya aku masih harus mempersiapkan diriku pergi ke dua puluh dua kota berbeda. Dan… tentu saja, tabunganku mulai menipis. Aku akan jatuh miskin setelah perjalanan selesai. Tapi aku tidak peduli, bahkan jika seluruh yang kumiliki di dunia ini akan habis terkuras.

Di balik jendela kaca yang gemetar, deretan pemandangan hijau dengan bukit-bukit kecil, dan puluhan domba di atas padang rumput, angin sepoi, anak-anak desa berlari membentangkan tangan, saling mengejar. Sejenak aku terbuai. Hatiku seperti kereta yang melaju. Aku merasa bergerak-gerak meninggalkan sesuatu; bayangan lelaki itu dan puluhan pil tidur, tubuh yang beku, mulut yang berbusa. Aku ingin bergerak dan lupa pada hal-hal menyakitkan itu. Aku ingin menjauh seperti kereta. Aku ingin lupa. Ingin lupa.

Saat itu—terutama setiap kali akhir pekan, sementara pasangan lain sibuk berkencan di luar, aku harus siap hanya menemaninya di kamar kos, mendengar keluh kesahnya tentang negara dan sistemnya, tentang kemanusiaan, tentang alam yang mulai rusak, tentang semesta yang berdesakan di dalam batok kepalanya. Kadang-kadang juga aku bingung sendiri memikirkan; kenapa Dafi lelah? Kenapa ia ingin mati muda? Bagaimana seseorang yang memikirkan banyak hal, tapi tidak mempunyai mimpi untuk dirinya sendiri?

“Apa alasan kita tetap hidup?” katanya. “Untuk tua dan menyebalkan? Untuk kesepian lalu menghabiskan sisa hidup dengan merutuk? Jika tidak bermanfaat, untuk apa hanya terlibat dalam permasalahan over populasi di bumi ini?”

Ia lantas menjentikkan tangannya seakan ia sedang menangkap sesuatu.

“Apa yang kamu tangkap?”

“Kekosongan.”

Aku mendengus seperti babi hutan.

“Aku serius. Kekosongan itu kan tetap isi.”

“Dan isi itu tetap kosong?”

“Apa yang paling kamu inginkan dalam hidupmu?”

“Kabur sama kamu.”

Ia tersenyum sembari mengacak rambutku.

“Aku serius.”

“Aku cinta kamu,” katanya, pelan sekali. Hampir seirama bahkan kalah dengan suara kipas angin butut yang berputar-putar di depan kami, “tapi aku tidak punya masa depan. Aku mulai lelah dengan semuanya.”

“Kenapa kamu lelah?”

“Karena aku tidak istirahat.”

“Apakah obat tidur tidak membantu?”

“Aku bukan butuh tidur, aku butuh istirahat. Istirahat itu berhenti dari hal-hal yang menguras energi. Entah itu pekerjaan atau pikiran.”

“Lambat laun kamu harus membuang semua yang ada di kepala kamu itu.”

“Baiklah, Nona.”

Matahari mulai oranye di luar jendela. Aku berusaha menyentuh cahayanya yang masuk ke ruangan itu. Cahaya yang seolah terbelah-belah oleh bayangan teralis yang menguarkan aroma besi tua berkarat. Dan cahaya itu memeluk wajah laki-laki di depanku. Lelaki muda yang terlihat lebih tua bahkan dari teralis itu yang berkarat-karat. Lebih lelah, lebih rapuh, dan seolah hampir sekarat.

“Emm, sudah sore,” ucapku sambil terus memandangi cahaya sore yang jatuh di wajahnya. Cahaya yang terbelah-belah, seakan ingin membelah dirinya menjadi ribuan kunang-kunang yang beterbangan.

“Kamu pernah dengar, kunang-kunang dititipi cahaya kecil di tubuhnya, bukan untuk menerangi semesta.”

Ia diam. Tentu ia paham ke mana arah ucapanku. Tapi ia diam seolah tidak mendengar apa-apa yang kukatakan.

“Pulanglah. Aku antar, ya?”

“Nggak usah. Kamu kan harus ngerjain banyak hal sore ini.”

“Iya. Mengerjakan hal yang tidak berguna.”

Ia terkekeh.

“Jangan begitu. Kamu harus berpikir positif.”

“Hmm, apa cinta itu sebuah pekerjaan, Olivia?”

“Tapi kamu pengangguran!”

“Hey, aku menulis.”

“Ya. Kamu penulis dan gak punya uang.”

Sontak aku terbahak-bahak. Aku tertawa puas sampai mengeluarkan air mata.

“Tega sekali kamu.”

Kadang bingung juga, kenapa aku menginginkan laki-laki ini? Laki-laki aneh yang memimpikan mati di usia dua puluh tujuh. Lelaki yang gemar membuka tenda di hutan sendirian dengan sebungkus mie instan yang biasa ia seduh dalam gelas besar. Seorang pemikir keras yang di balik sikap cueknya, di saat-saat tertentu bisa sangat manja melebihi keponakanku yang masih balita.

“Kalau nanti kita punya rumah di hutan, aku akan buatkan kamu terrarium,” katanya suatu hari, setelah aku bercerita tentang keinginanku; naik dua puluh tujuh kereta uap.

“Jangan mati di usia dua tujuh. Karena di usia itu aku ingin kita berkeliling naik kereta uap di dua tujuh kota.”

“Aku ingin membangun rumah kecil di hutan kalau aku masih hidup di usia itu dan aku menjadi orang yang gagal untuk banyak orang. Aku ingin hidup sederhana dengan alam, bersama kamu; satu-satunya orang yang nggak pernah menganggapku gagal.”

“Jangan hutan, please. Aku lebih baik hidup di permukiman kumuh asal padat dengan manusia. Kamu tahu, aku selalu menikmati kesepian dan keterasingan yang kudus di tempat-tempat riuh dan bising. Bau apek, bau selokan, anak-anak kecil yang berlari di lampu merah, suara ukulele, sirine polisi, mobil-mobil yang membawa mayat. Haha, bayangkan, kamu bisa melihat kehidupan dan kematian yang berdampingan. Tangis dan tawa, luka dan kesembuhan. Yang terus bergerak, yang terus diam. Kita itu begitu padat ternyata, begitu saling terhubung, tapi juga jauh. Kita semua kesepian.”

“Aku suka api unggun.”

“Aku suka kembang api.”

“Terrarium.”

“Aquarium.”

“Menurutmu, kita bisa bersatu?”

“Tentu saja. Aku cinta kamu dan kamu juga cinta aku.”

“Apa cinta itu keinginan? Seperti aku menginginkanmu dan kamu menginginkanku?”

“Mungkin lebih lebih dari itu. Cinta itu penerimaan. Seperti aku menerima kamu.”

“Cinta itu menjaga.”

“Kamu begitu rumit. Mencintaimu seperti masuk ke labirin luas, Gaddafi.”

“Kamu sudah menerimaku bukan?”

“Entahlah. Hanya saja kalau kamu nggak ada, hidupku seperti kosong.”

“Kosong yang kataku berisi?”

“Kamu lebih seperti kepingan puzzle. Kalau hilang, hidupku gak lengkap.”

Aku mengambil piring yang berisi kebab yang mulai dingin. Tadi aku bawakan makanan ini untuk memperlihatkan kepada Dafi soal keseriusanku mempelajari makanan timur tengah.

“Aku sudah belajar membuat kebab. Meski dengan resep paling sederhana. Aku mengganti isian dagingnya dengan irisan sosis. Paling tidak aku sudah belajar membuat satu makanan timur tengah, kan? Aku siap menjadi menantu ayahmu yang dari Arab itu.”

“Belajar dari mana?”

“Dari Tatjana. Tiga hari yang lalu dia baru datang.”

“Tatjana sahabatmu yang cantik itu?”

“Cantik?”

“Hmm, aku tidak suka yang cantik-cantik.”

“Jadi aku tidak cantik?”

“Boleh aku coba kebab buatanmu?”

Aku meliriknya cukup lama, tentu dengan perasaan seperti ingin memakannya bulat-bulat.

“Sudahlah. Kamu akan lebih suka mie instan.”

Aku menaruh kembali kebab itu di atas meja, lalu berpikir kembali tentang tiga hal; keinginan, penerimaan, menjaga. Akan tetapi, cinta lebih rumit dari yang kukira, dan cara kerja perasaan lebih acak dari segala sesuatu yang bahkan paling acak di bumi ini. Tetapi aku yakin; aku mencintai Dafi.

***

“Hey, Nona.”

Aku terbangun seketika. Di hadapanku seorang petugas kereta tersenyum. Ah, aku bahkan sudah tertidur selama itu.

“Kereta sudah berhenti, Nona.”

“Oh … aku minta maaf.”

Di tanganku, sebuah buku jurnal masih terbuka. Sudah kuhitung satu per satu. Ini lembar ke-dua puluh tujuh. Hanya sebuah tulisan “capek”. Di buku ini Dafi seolah sudah mencatat semua. Termasuk pertama kali kami berciuman, pertama kali kami bercinta lalu ia berjanji untuk tidak meninggalkanku. Pertama kali dia membelikanku roti dengan uang honor menulisnya. Satu hal yang belum ia catat; berapa ratus butir pil tidur yang ada di genggaman tangannya malam itu.

Tiba-tiba air mataku deras keluar. Seperti air terjun di tengah hutan. Meluncur begitu saja.

Petugas itu menghela napas.

“Jangan bersedih, Nona. Kita sudah sampai.”

“Aku belum sampai.”

“Kamu hendak ke mana?”

“Ke makam pacarku.” ****

2022


Galuh Ayara. Suka menulis puisi dan cerpen. Sudah menerbitkan buku yang berjudul Nyanyian Origami. Tulisannya juga ada di beberapa buku antologi dan di beberapa media.