Puisi

Puisi Khanafi

menjaga hal-hal utuh tetap kekal

di taman ini

aku adalah ketakhadiran

cuma taman

ya, taman ini

yang ada

selalu terjadi

demikian

di manapun

aku adalah apa-apa yang hilang

adalah hantu

gentayangan

saat aku berjalan

membelah udara

& selalu hampa

bergerak masuk

tuk mengisi ruang

tubuhku berada

sedang aku tiada

kita semua pasti

punya alasan

tuk pergi & kembali

aku pun begitu

demi menjaga

hal-hal utuh tetap kekal

abadi seperti puisi


tak ada yang benar-benar pergi

berapa lama aku bertahan

dari kutuk perpisahan?

aku tak yakin, aku tak tahu

waktu habis

tuk mengingat segala

yang hilang

segala yang kekal

dari kenangan

apa yang berlalu, berlalu

aku telah mencoba yang terbaik

tuk percaya padamu

bahwa tak ada yang benar-benar pergi

(iya, aku imani) meninggalkanku sama sekali


menunggu

seseorang selalu menunggu

dengan sayap patah di punggung

di udara terbayang

dari kegelapan ke kegelapan jauh

dengan pohon & hutan

hujan & air terjun

yang perlahan digusur

peradaban modern

seseorang menunggu

seperti bumi menunggu


dilupakan

segala tempat melemparku jauh

aku tak lagi milik suaraku

atau tangan untuk sentuh

perasaan kelu tanpamu


ke puncak kesepian

dan tiap pergerakan

depan mataku

seolah semua yang berlalu

malam selepas malam

mengupas seluruh warna bintang

berlalu ke laut

mencari pulau

angin mengiring

ke mana aku pulang

kembali ke puncak kesepian


hanya angin yang menyapa

kucoba panggil kembali

alur & sosok dalam mimpi

hidup seperti sebelum pagi

kembali sibuk & sibuk

tak ada jalan untuk mimpi

menjadi kenyataan

segalanya cuma kata-kata

yang tidur di ranjang usia

menggambar daun gugur

di luar jendela terbuka

segalanya terasa akrab

seperti hari-hari yang pernah lewat

dengan kegelapan yang tak lama

bakal menyergap dindingnya

di mana kau gantung puisi-puisi

seperti lanskap cinta yang hancur

tanpa seseorang, hanya pintu

& jendela sesekali terbuka, tak ada

hanya angin yang berhembus

hanya angin yang menyapa


membuang waktu di ranjang

begitu banyak waktu terbuang

seperti guguran kenangan

& malam adalah alegori

untuk nasibmu yang kesepian

mimpi tetap berbaring di sisi lain

tidur yang merindukan seseorang

tapi bukankah kegelapan adalah seseorang

yang berembus di dinding kenyataan

begitu kosong begitu bohong

& kau menjadi tak yakin

jika dalam hidup yang singkat ini

tiap malam adalah sama

hanya memutar film bosan

& yang kau temukan

cuma tubuhmu

yang tidur monoton

yang melamunkan

seseorang yang hilang

yang selalu merasa

begitu terasingkan


mencari ketenangan

hujan jatuh, masuk ke ceruk mimpi

tiap malam kau dengar angin

berhembus seperti pikiran yang lari

di kamar ini, di ruang ini

dinding seperti batu nisan

suasana gerah musim penghabisan

dinding terkunci

& kau pun tak ada

selain seluruh malam

yang berpikir;

di mana tempat untuk tenang

ke mana kau pulang


Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya tersiar di media daring maupun cetak. Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas, penerjemah, perancang sampul buku, dan penjual buku-buku lawas dan baru. Sekarang tinggal bersama keluarga di Yogyakarta, tengah menyelesaikan novelet pertamanya dan sedang mengulik satu buku terjemahan. Ia sesekali melukis untuk kebutuhan pameran pada suatu hari mendatang. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Akar Hening di Kota Kering (2021) mengalami revisi total, buku kumpulan puisi keduanya segera terbit. Penulis bisa dihubungi melalui email: [email protected].

Puisi

Puisi Diana Rustam

Burasa’

Hai anak lelaki

Ambil kulit pokok pisang itu

Jemur dan jadikan tali temali

Ikatlah nasi santan yang ditaburi ibumu dengan garam

Yang telah ia bungkus dalam daun pisang

Ikatlah hai anak lelaki, dua tiga atau empat serumpun

Jagalah api. Lihat ibumu menanaknya di atas tungku semalam suntuk sampai ia terkantuk-kantuk

Burasa’ itu bekalmu dari tangannya, merantaulah

Pulanglah kelak

Jangan pernah lupa cara mengikatnya

Sekalipun dunia telah mengajarkan banyak

Ingat dari mana kau pertama kali berangkat.

Makassar 2023


Tamu

Ada yang pamit

Ada yang bersedih

Bukan sebab yang pamit akan pergi

Tetapi yang bersedih menangis apabila yang pergi datang kembali sementara dirinya sudah tiada lagi

Makassar 2023


Lebaran dan Dua Orang Tua

Takbir bersahut

Nasu palekko

Burasa’

Di tata di atas nampan

Ada dua orang yang ompong giginya bungkuk punggungnya

Laki-laki dan perempuan bersarung berkerudung

Duduk berhadapan di lantai menekuri nampan

Perempuan berkerudung harap cemas membaca

Pesan yang datang di telepon genggam bututnya

“Maaf lahir bathin. Ananda masih sibuk, tak jadi mudik”

Lantas ia berkata pada laki-laki bersarung, “Anak kita ketinggalan kapalnya”

Makassar 2023


Bocah dan Kata-kata

Bocah laki-laki itu memunguti kata-kata yang melompat garang dari bibir bapaknya. dikulumnya kata-kata itu hingga gembung pipinya. pipinya kempis dan di kepalanya kata-kata itu telah duduk-duduk manis

Bocah laki-laki itu rajin sekali mengabsen kata-kata yang duduk manis setiap hari. Mahir pula ia mengawinkan kata-kata itu hingga mereka beranak-pinak di mulutnya.

Makassar 2023.


Eboni

Tahukah kamu? Eboni itu

Sekarang tidak lagi ia dipanggil begitu

Ia patung ia kapal-kapalan ia mobil-mobilan ia vas

dalam lemari atau di atas meja pajangan untuk dipandang dikagumi tetamu kadang pula diabaikan sampai berdebu

Pernahkah kau bertanya?

Adakah ia gundah?

Rindukah ia pulang menjadi dirinya di hutan berdiri sebagai pohon bersama semak belukar dan kijang dan burung-burung dan kabut yang turun menciumi pucuk-pucuknya?

Mari kita tanyakan

Pasang telingamu tajam-tajam

Mungkin ada sesuatu yang ia ingin ia katakan

Makassar 2023


Diana Rustam, menulis puisi dan cerpen di media sosial. Beberapa karyanya telah dimuat di media sastra online dan koran lokal.

Puisi

Puisi Joe Hasan

Puasa 3

orang-orang itu

datang mencari surga

di meja biru

menuju lobang paling hasrat

harum vodka di mejanya

abadi di mataku

dejavu datang tergesa-gesa

klik

aku buka jendela

mengeja suara mereka

pemuda kampung

badan ringkih

yang tidak mencari surga di perut ibu

lalu hening

sementara

saja

pagi aku diserang

bola-bola yang saling memukul

puasa ini

sungguh menguras kesabaran

aku masih sabar

menanti kedatangan perempuan tua

perawan

kita sama-sama mencari

surga yang tidak ke mana-mana

 (Baubau, 2023)


Puasa 6

apa yang mati

tak lagi mati

macet hanya menunaskan sabar

kini tumbuh

berdaun…

berbuah…

malam-malam

aku tidak lagi memetik kutuk

telah sembuh

bibir yang seharian

dengan kata yang super keramat

puasa hampir batal

ah, apa benar

jiwa yang bangun tengah malam

jiwa yang mudah marah

ialah yang dirindui Tuhan

untuk tak lupa Asmaul Husna?

(Baubau, 2023)


Perut Imam

subuh nanti

aku ingin berkelana

di perut imam

memetik doa-doa rapat

membaginya pada anak-anak jalanan

yang kehilangan peluk

dan di sana

kutemukan dusta paling purna

sisa-sisa ayat yang terapal tak berbekas

katanya telah berkali-kali khatam

apa mungkin aku yang tersesat di perutnya?

karena subuh belum sampai di rumah Tuhan

lalu aku berjanji pagi ini

tidak akan berkelana ke mana-mana

selain pada puisi

 (Baubau, 2023)


Puasa Kelima Belas

di rumah tuamu

hujan yang jatuh menjadi tua

tidak seperti biasa

kau meminta bunga sakura

untuk dibagi pada para musafir

tentu tidak gratis

semua letih ada bayaran lebih

tuturmu pada suatu petang

meski pahala dan amal tetap utama

bukankah pahala dan amal mudah terselesaikan

kala bayaran tercukupi sesuai keringat yang keluar

untuk hari kelima belas

permintaan itu tergolong terlambat

tapi kuingat petuah lama

yang masih hidup di segala dinding rumah tua ini

bahwa tak ada kebaikan yang terlambat

dan makin malam

hujan makin redup

redup…

redup…

tinggal ringkih tubuh terbungkus gigil

(Baubau, 2022)


Setiap Menit

setiap menit di pagi hari adalah menantikan

pesan-pesan yang mengudara

aku membunuh suara

lelah menjadi raja dalam rumah

pagi datang buru-buru

ketukan pintu tak ada perasaan lagi

mengejar uang dan begitulah setiap harinya

setiap menit adalah penantian

untuk kubalas lagi tanpa berlama-lama

berjanji bertemu di bawah pohon tomat

biar bekerjalah dulu

aku akan pamit pulang

meneguk izin sanak saudara

begitu pula kau

bukankah waktu tak pernah berlari

hanya kita yang begitu tergesa-gesa

setiap menit adalah menunggu pagi

dan setiap pagi adalah hadirmu

 (Baubau, 2020)


Tubuh Lain

mengaduh pada tubuh lain

seperti dejavu

permintaan 10 tahun lalu

datang menyerempet

tapi tubuh telah menegak

mimpi sudah bertemu tuan

sementara dia masih tidak mau pulang

dan kau kejar lewati puluhan pulau

berkali-kali

aku perlu menyelamatkan aku

yang terlalu lama diam

pada kegelisahan

biarkan kali ini puisi bersuara

meski tetap tak mampu

kepada tubuh lain

yang tidak menanam rindu

tiada lagi pengorbanan

pengalaman cukup memberi tahu segala

aku ingin pergi dengan tidak mengingat pulang

di sana letak segala gelisah

yang sulit mengaduh

saat ini

pada tubuh lain

aku mencatat sejarah sendiri

dengan tinta yang semakin hari

semakin purba

(Baubau, 2022)


Suara Subuh

hanya telinga yang terjaga

diam-diam menyebut asma Tuhan

suara subuh dari jauh

terbang mendekat

mendekap pada embun daun

mengintip lewat jendela telanjang

lalu memaksa masuk

seketika itu

debu-debu yang bertandang

ikut sujud

melunasi rindu

(Baubau, 2020)


Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Tulisannya pernah dimuat di media cetak dan online.

Puisi

Puisi Eko Setyawan

DI KAMP PLANTUNGAN

di tanah ini

dunia yang telah dibangun

seperti ditelan bencana

lantas porak-poranda.

sejak negara tak baik-baik saja

seseorang bebas menuduh

dan memenjarakan siapa saja

dengan alasan tak suka

atau barangkali hanya rasa iri semata.

seperti bangkai

hidup berlanjut menguar tak menentu

diterbangkan ke arah

tanpa tahu

ke mana hendak dituju.

taman dan bunga mekar seketika layu

dunia lindap dan ditelan kekuasaan.

akhirnya

di Plantungan

semua bermuara.

tangan yang semula ringan jadi ringkih

langkah yang indah jadi gundah.

semua tak baik-baik saja.

politik bergejolak

hati yang semringah jadi gundah.

setelahnya, hari demi hari

akan berjalan dan berakhir di sini.

di tanah ini,

sebagai tapol

bertaruh hidup dan mati.

(Karanganyar, 2023)


BERSETIA PADA LEPRA

penderitaan tak pernah berakhir

dalam hidup ini

ketika lepra menghinggapi

dan semakin bersetia dengan diri.

di bekas rumah sakit ini

apa yang ditempati

tak jauh beda dengan neraka

sebab di sini kami bisa mati kapan saja.

lepra

adalah karib

bahkan jauh sebelum keberangkatan

menuju Plantungan.

konon, kebencian adalah wajah lain

dari penderitaan.

penderitaan itu nyata

kematian beterbangan

dan bisa hinggap kapan saja

tanpa memberi aba-aba.

entah lewat lepra

atau diembuskan mereka yang berkuasa.

mengapa dunia begitu kejam sejak manusia mengenal kekuasaan?

(Karanganyar, 2023)


TUDING

1/

hidup adalah nasib yang tergantung

di ujung jari telunjuk

orang-orang yang mengorbankan saudaranya

demi nyawa diri sendiri.

tanpa peduli kelak hidup atau mati.

nasib itu telah raib

sejak jari tangan diacungkan:

“Ia PKI, Ia penari,

Ia Gerwani, Ia penulis puisi.”

2/

apa yang diimpikan lesap.

apa yang dibayangkan hilang

tanpa sisa.

sebab, cap dan stigma sangat mahal

dan seringkali menakutkan.

segala yang ditunjuk

telah berubah jadi firman.

lantas, langit yang cerah

akan berubah kelabu

tanpa hujan, hanya rintihan.

3/

dunia ini

tak lebih dari kebohongan

demi menutupi siapa diri sendiri

sebab, ujung jari telah menjadi belati.

jika tak ingin mati,

maka jari telunjuk harus bekerja

agar bisa dipercayai.

(Karanganyar, 2023)


MARS

            : Paduan Suara Dialita

kenangan itu getir di bibir

dan tak pernah jadi senyum

ketika lagu-lagu didengungkan.

senyum itu

tak lebih dari penghibur dan pengabur

dari kisah masa lampau

yang tak akan pernah diampuni.

sebab masa depan telah beku.

tak ada lagi harapan

selain bersandar dan bertumpu

pada nyanyian.

lagu-lagu yang dikumandangkan

telah jadi penghibur

ketika masa lalu mencoba dikubur.

tapi tentu, seluruhnya lamat-lamat menguar begitu saja.

apa yang bisa dipercaya dari hidup ini?

seluruhnya kegamangan

seperti nada-nada sumbang

dari mulut orang-orang yang membenci

dan seringkali menuduh tanpa bukti.

(Karanganyar, 2023)


PELAJARAN DARI PENGASINGAN

dituduh tak jelas

dibuang paksa

diseret

diperkosa

dikencingi

diinjak-injak

dimaki-maki

disiksa

tak dimanusiakan

seutas tali panjang

sebuah jarum

sehelai kain panjang

tikar dari daun pandan

kebun bunga

menyiangi rumput

menyiram kembang

Bagaimana cara membalas dendam dengan baik dan benar?

(Karanganyar, 2023)


Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), Mengunjungi Janabijana (2020), Peristiwa yang Kami Sepakati (2022), & Manten (2022). Buku Mengunjungi Janabijana meraih Penghargaan Prasidatama 2021 Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.

Puisi

Puisi Gandang Kandirido

Epifani

kesunyian datang

meringkus keterasingan

menyergap kebisuan

seiring gelap malam.

tubuh ini ringkih

berjalan makin tertatih

menangkap sosok di retak cermin

sorot matanya kulihat letih.

kekosongan pada akhirnya

menemukan jalan pulangnya sendiri

sekalipun sebatas tafsir ulang

dari sejarah yang sengaja dibenam kedalam

sajak-sajak gagak hitam.

epifani! epifani!

aku ingatkan selalu padamu

untuk jangan mati terlalu dini!

sebab mimpi-mimpi kini lupa

merangkai dirinya sendiri.

(2022)


Sepenggal Ingatan di Hari Lain

Di hari lain terkadang aku

masih ingat akanmu

kadang-kadang tak utuh

kadang-kala cuma

selintas bayangan

yang mengabur dan

samar

seperti adegan ganjil

dalam sebuah film bisu

tak bersuara.

(2023)


Semesta Kepalamu

Setelah hujan barangkali

Segala hal yang keluar dari mulutku

Akan dipenuhi huruf-huruf

dengan sayap Icarus

Sebelum nantinya terbang rendah

Mengitari semesta kepalamu

Dan bermukim di dalam sana

Sepanjang musim berganti.

(2023)


Diam Segala Ucap

bukan pulangmu yang buatku sekarat

tapi sepimulah yang datang

begitu rambat

lalu dari dalam sunyi gelap

diam-diam menyelinap

segala ucap

entah jadi ratap

entah jadi senyap

entah jadi apa-apa yang mungkin

akan mengendap.

(2022)


Pada Sebuah Pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita tak lagi duduk bercerita

Sambil rasakan ombak kecil menerpa

Pukuli kedua telapak kaki

Pada sebuah pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita tak lagi bicara apa-apa

Sekalipun cuma bertukar sapa

Apalagi berbincang tentang suatu masa

Yang lewat dan yang akan tiba

Pada sebuah pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita saling berjalan menjauh

Dan tak mungkin menoleh lagi.

(2022)


Pada Beku Wajahnya Aku Menemukan Tebing

Curam

Terjal

Menganga

Jalan menujunya

Nyaris

Sepi tak habis

Habis.

(2022)


Aku Katakan Kepadamu Seperti Apa Sepi yang Membunuh Itu

Mula-mulanya ia merangkulmu

Seperti kawan lama

Bertandang ke rumah

Bertamu tanpa memberimu

Kabar lebih dulu

Kemudian ia mendekapmu

Seperti seorang kekasih

Dimana dari wajahnya kau yakin

Dialah satunya-satunya orang

Yang akan kau lihat

Setiap pagi

Setiap kau bangun

Dari tempat tidurmu

Lalu entah oleh apa

Seperti bayangan

Ia menyelinap

Mengendap-endap

Pergi ke dalam

Mengambil pisau dan

Menikammu saat lengah

Setelah tersadar

Kau cium gelagat janggal

Dari sebuah kedatangan.

Solo, 2022


Pada Apa-Apa yang Mungkin

Kini kita hanya bisa bersandar pada apa-apa yang mungkin

Hanya bisa bersandar pada apa-apa yang terlihat mustahil

Maka untuk semua waktu yang pernah nyaris itu

Sesekali jenguklah ruangan yang membeku kini

Fragmen fragmen yang tak lagi membicarakan percakapan–percakapan kecil

Percakapan sederhana

Kalaupun harus dipecah, pecahlah

menjadi bagian-bagian kecil

Bahkan jika harus menyelam, selamilah

Sekalipun harus ke jurang paling dasar

Paling dalam

Paling sukar

Dan tak terbahasakan

Oleh kata-kata.

Solo, 2022


Lautan Ini Kembali Tenang

langit menghangat

sore menguning

cahaya keemasan tak lagi

merah membakar pucat

wajah seseorang

Lautan ini kembali tenang

meski deru-debur ombak itu

pernah menggulung tubuhnya

sampai tenggelam

di kegelapan paling dasar.

Lautan ini kembali tenang

Tiada lagi gemuruh badai itu

yang sempat hantam-karamkan

seluruh kehidupan

di kedua matanya yang redup.

(2022)


Gandang Kandirido, lelaki insomnia. Berdomisili di kota kelahiran, Surakarta, Jawa Tengah. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi.

Puisi

Puisi Daruz Armedian

Mungkin Ada

& Mungkin Tak Ada

mungkin ada,

seseorang

duduk di bawah

pohon purba.

matanya menatap kota

yang jauh—

dan meski jauh,

tetap terasa panas,

bau, pengap, sesak

& membosankan.

matanya menatap

kerumunan manusia

            yang jauh—

            dan meski jauh,

            tetap terasa berisik,

            jahat, licik, ambisius,

            penuh dendam

            & sangat menyedihkan.

tapi mungkin juga

tak ada

siapa pun

di sana.

tak ada kota,

tak ada manusia.

angin ketiadaan

berembus dengan percuma.

2022


Perbincangan Tengah Malam

dengan caranya

yang aneh,

sunyi meledak.

serpihnya berserak,

& semesta dimulai.

kekosongan berserakan,

di serpih yang satu,

juga di serpih

yang lain.

apa tak ada

sedikit pun angin?

tanyamu

mencari celah

pada yang mungkin.

dari arah yang jauh,

s  a  n  g  a  t   j  a  u  h ,

bertahun kemudian,

angin bergemuruh.

menyentuh serpihan itu,

menjadikannya basah,

&

kehidupan

dimulai.

cuma di bumi maksudmu?

kau tak memberi waktu.

       tak memberi jeda,

untuk persoalan

selanjutnya.

apa tak ada kehidupan

di planet lain?

di bintang-bintang,

& sejumlah tempat

dari kesunyian?

mungkin ada. mungkin tak ada.

hidup selalu soal menduga-duga.

lalu makhluk hidup yang naif,

dengan keterbatasan

pikirannya,

memberi nama-nama;

ini pohon,        ini gunung,

ini danau,        ini bunga.

itu sungai,        itu laut,

itu teluk,          itu muara.

kau membuka jendela.

biar angin masuk, katamu.

tapi di luar tak ada apa-apa.

udara akhir-akhir ini,

jarang sejuk

meski dini hari.

lalu makhluk hidup yang naif,

dengan keterbatasan

pikirannya,

memberi ruang tumbuh

untuk kehancuran,       kebisingan,

kegaduhan,                  kesemrawutan,

kerusuhan,                   polusi udara

dan lain sebagainya.

kau mengambil sebatang

rokok, dan membakarnya.

mari kita akhiri perbincangan ini.

istirahat.

lalu terjaga.

lalu bekerja.

orang miskin

seperti kita

tak punya banyak waktu

untuk membicarakan semesta.

2022


Cara Terbaik Membuka Mata

Setelah Kehilanganmu

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah waktu pelan-pelan jadi gerbong kereta,

membawamu ke arah yang tak ada aku di sana.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah bertahun-tahun sebelumnya, aku terjaga

dalam keadaan jatuh cinta.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah aku paham kau melambaikan tangan,

yang bukan untuk sapaan.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu.

cara yang sama sekali belum pernah kupelajari,

sebelum kau memilih pergi.

2021


Aku Bermimpi

aku bermimpi

menjadi bayi

yang menangis

karena paham

tangannya tidak

menggenggam

apa pun

kecuali

ketiadaan.


Desember Pada Sebuah Elegi Dini Hari

desember mengubah malam

            menjadi bahasa yang

            tak mudah dikatakan.

orang-orang tampak lebih

            murung dan segalanya

            yang mereka genggam

            hanyalah kekosongan.

orang-orang merencanakan

            sesuatu untuk hari depan

yang mereka sudah tahu

            itu adalah kegagalan,

            atau sekumpulan kemustahilan.

malam jadi tambah kosong,

            langit padam & hujan

            jatuh sebagai gesekan biola

            pada lagu-lagu melankolia.

Mata didera insomnia & Pikiran lelah

bertarung dengan angan-angan

tentang hari dan nasib baik

di tahun yang akan datang.

desember mengubah malam

            menjadi luka yang

            tak mudah disembuhkan,

            menjadi tubuh yang rentan

            jatuh dan dikecewakan.

Jogja, 2021


Menepi

selalu ada hari

di mana seharusnya

kau menepi

dan menyembuhkan

            luka-lukamu sendiri.

orang-orang mungkin

bisa memberikan pelukan,

tapi tidak untuk ketenangan

            jangka panjang.


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan cerpen se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya tersiar di pelbagai media cetak dan daring.

Puisi

Puisi Galuh Ayara

Buku Dongeng

sehabis membacakan buku dongeng

ibu pergi menutup pintu kamar

kepalaku jatuh ke lantai

lalu aku tidak mengenali apa pun

tokoh-tokoh dalam dongeng

mengubur tubuhku di negeri yang jauh

2023


Dalam Spons Cake Mocca Rich

ketika aku diserang demam

dan kepalaku ditusuk-tusuk memori buruk

aku tidak ingin menutup mata

sebab kulihat ia terbang

lalu hinggap di dahan awan

aku senang bukan kepalang

ia turun kemudian

memberiku potongan spons cake mocca rich yang besar

yang punya mulut dan gigi

maka tubuhku masuk ke dalam spons cake mocca rich

seolah aku dimakan

lalu dari kepalaku

tumpah adegan-adegan mengerikan

seperti iblis yang meleleh jadi saus cokelat

tumpah ke mana-mana

di mana-mana

ia kuingat kemudian

dan perlahan

tak pernah datang

tak pernah pulang

ke dalam pelukan

atau pun kutukan

lenyap seperti disihir

evanesco

abrakadabra

hilang

di dalam spons cake mocca rich

tubuhku 40°

sendirian

2022


Ketika Aku Cemas

kierkegaard duduk di kamarku dan melemparkanku seribu lembar kain sutera

tidurlah aku sembari masuk ke matanya yang seperti lorong putih kosong

maka aku berada di antara ketiadaan yang amat luas

ke mana aku dilemparkan?

pada ketiadaan atau kekosongan?

malaikat berwarna putih memegang tanganku

ia tidak memiliki sayap

tapi memiliki ekor yang panjang seperti naga

ketika kuinjak ekornya

matanya terbakar

dan seluruh tubuhnya menjadi semerah neraka

aku di mimpi atau di neraka?

aku ingat pada setiap pertemuan dan perjamuan

yang datang dan yang hilang

lalu penderitaan meminjam wajah kehidupan

aku di mimpi atau di neraka?

begitu hidup masih saja kuterka

2023


Mimpi

seorang perempuan wangi susu

berdiri di ujung jariku ketika aku tidur

dari matanya yang sayu

aku menyaksikan;

seorang ibu yang beranak

dari perutnya keluar api

lalu mengental menjadi daging

lalu tuhan menyuruh menangis

lalu terbelalak;

iblis berjalan semakin dekat

semakin cepat

dan perlahan kelopak mataku jadi beku

2023


Di Meja Makan

fla yang warna merah

yang meleleh dari dalam roti itu

bukan rasa stroberi

darahku mendidih

muncrat ke atas meja

2023


Galuh Ayara, suka menulis cerpen dan puisi. Beberapa karyanya dimuat di beberapa media. Sudah menerbitkan Buku kumcer ‘Nyanyian Origami’ (2020) yang berisi kumpulan cerita pendek, dan ‘Pohon Insomnia’ (2022) yang berisi kumpulan puisi.

Puisi

Puisi Deny Firmansyah

Nelayan Kata

Biar saja hujan menggenang

menjadi sungai

di belantara sajakmu

yang banal

agar ikan-ikan yang berenang

di kamusmu tahu bahwa hujan

masih setia

mengunjungi mereka

Biar saja biduk air itu

Membuat kau

Jadi satu-satunya nelayan

Yang menjaring sajak

Biar rindu menggenang

Bagai hujan yang setia

Mengunjungi kamus

Dan ikan-ikan


Pranajiwa

Mata hati yang bisu

Lidah yang kelu

Belulang

Yang menyimpan

rahasia masa depan

lampu jalanan yang redup

dan langit yang diterangi bintang-bintang

lima jam perjalanan

atau beribu menit lagi

menuju putaran bumi

Indera mencium

Dan hati merasa

Tetapi tubuh hanya pasrah

Terhanyut

Negeri yang menyediakan sembilu

Dan belati, bedil dan peluru

Kapan waktu saling membidik

Dan menusuk

Bola mata melintas kota kecil

Makin rabun oleh uap dan embun

Menuju tepi-tepi yang sama

Rumah-rumah hancur

Dan dada yang berdebar

Yang ringkih

Mengepakkan sayapnya

Mengatasi nyeri

Akan maut


Tak Terasa

Tak terasa sunyi terbelah dua

dan cintamu masih awet saja

Kumismu tak terasa beranjak dewasa

Makin jantan dan memesona

Tak terasa berapa dekade

Merdeka telah jadi penjara

Dan kanakmu yang lucu

Sudah tumbuh jua taringnya

Mau ngembara dan merdeka

Dari kungkungan dan pelukan waktu

Mau berpotret diri di sini

Untuk luka yang tak terasa

Dan tampang waktu

yang makin merana


Cinta Si Alex

Cuma sepotong kampus

Yang mesti dilipat

Dan sepotong sastra

Yang mesti digunting

Untuk isyarat cinta yang cuma angin lalu

Si Alex pria bermasalah itu

Belum siap menerima

bayangan di kamar mandi

dan hologram

di kejauhan pantai

Alex dilanda sepotong cinta

yang mosaiknya

ibarat badai sepi

tak berkesudahan


Filter Ketakutan

Aku pasang filter ketakutan

Supaya bisa sikat gigi dengan tenang

Filter etika untuk letupan tak terduga

Daun sirih dalam rangka kumur-kumur

Filter kejujuran untuk aku

Yang semakin tolol

Filter ketololan untuk bisa dikenang

Sebagai penampil berbakat

Kapal sandar tanpa filter untuk

Merompak dan menyisakan

Kuburan pembajak

Filter kenaifan agar tidak dituduh

Berpolitik hingga aku

Hancur menjadi pecahan filter

Yang bukan siapa-siapa lagi


Luka Kita

Semoga waktu sudi

Meminjamkan dirinya

untuk takdir yang menunggu


Bola Mata Adam

Pada adam ada satu kata atau satu nama

Yang masih rahasia

Testimoni: jangan beri dia bola matamu

Bola matanya bola mata Adam

Semua pesona ada pada Adam

Ia kesayangan Tuhan

Dari-Nya Adam belajar nama-nama

Dalam Adam ada Hawa

Nama baru bagi Adam

Testimoni: jangan sodorkan padanya namamu

Di lubuk hati Adam tersimpan

Segala nama yang dirahasiakan

Jangan kagumi Adam

Nanti ada yang cemburu

Jangan jebak Adam

Nanti lahir kisah-kisah baru

Pada Adam ada satu kata atau satu nama

Yang hingga kini masih rahasia

Di bola matamu.


Deny Firmansyah, S.S, bekerja sebagai staf litbang lembaga pendidikan di Bekasi.

Puisi

Puisi Khanafi

Bunuh Diri

: n

kau ingin berhenti bunuh diri

aku tahu.

pikiran-pikiranmu yang berkicau kacau itu

ingin kau padamkan dengan tembakan

dan dalam peluru panas itu

kuburanmu memisahkanmu pada rumah

tapi kau ingin selalu pulang, segera

katamu melayang-layang sungguh perih

tapi hidup pun tak menagih

jangan minum pil tidur lagi

sebab ia memakamkanmu perlahan-lahan

2022


Bekas Tembakan

: kurt cobain

di bekas tembakan itu

udara saling menjenguk

dalam suhu yang beku

di simpang waktu

kau mengucapkan dada!

sambil melambaikan tangan

bagi lubang bekas peluru leleh itu

ingatanmu tak juga rampung

kepalamu tetap riuh seperti suara penonton

saat konser sedang berlangsung

2022


Setelah Kepergian

setelah kepergianmu yang mendadak itu

tiba-tiba seluruh hari menjadi baik?

aneh kiranya memikirkan apa yang terjadi

kau begitu sulit mempertahankan diri

nyaris setiap hari kau merasa sepi

dan ingin mati saja

hari baik-baik saja, dan memang begitu

tapi kamu yang tidak baik-baik saja

lagu gelap itu terputar

mematahkan udara kamar

seorang perempuan cemas

tubuhnya lebam-lebam seperti

bakpao isi kacang hijau

yang nampak isinya dari luar

sehabis selamat tinggal itu

melayang memotong nadimu

darah menangis sepanjang lantai kamar

yang mulai dingin, lembab, dan

dikerumuti semut-semut

selembar puisi jatuh dipeluk darah

kata-katanya lebih merah dari darah

2022


Mendengarkan Musik-Musik Sedih

seorang perempuan suka

mendengarkan musik-musik sedih

ia memutarnya siang dan malam

waktu mengaku lelah dan bosan

memperingatkan maunya

yang tak pernah mengalah

tapi seperti halnya perempuan lain

yang sedang dilanda kepiluan

semua hari terasa beterbangan

mustahil disentuh dan ia

seperti berada di sebuah sudut terpencil

hanya ditemani dinding muram

dan suara lagu dari musik yang terputar

aku ingin sekali berkata padanya

kalau sepi dan musik bisa membawanya

hanyut pada makam-makam tua

tapi tentu saja aku tak bisa

sebab aku tak pernah mengenalnya

perempuan yang suka

mendengarkan musik-musik sedih itu

2022


Usaha Mengobati Patah Hati

ketika kau patah hati berbaringlah di ranjang puisi

bantal yang empuk dan selimut yang hangat akan memelukmu

sehingga kau tak merasa sendiri lagi

pandang pula langit-langit kamar puisi. kau temukan bintang-bintang

kau temukan angin menggulung awan dan udara putih lagi sejuk

dadamu tak usah berkobar-kobar api

rasakanlah semilir yang datang dan pergi

terkadang pikiran sumpek dan cupet itu berasal

dari dendam yang diam-diam merencanakan penyesalan

maka tak usahlah jalan-jalan di luar ada peperangan

lebih baik memasuki kamar puisi

membaringkan diri di ranjangnya yang peduli

dan sejenak letakkan kesedihan dekat jendela

sebentar lagi ia akan berubah jadi pot dengan bunga

atau guguran daun saja atau burung yang terbang ke angkasa

2022


Ibadah Sepi

jam dua pagi aku bangun dari kasur

suara detik nyaring

menyisir ke sudut ruangan terpencil

dingin memutih pada udara

air kran berbunyi menyentuh hati

aku terpaku pada bayang-bayang gaib

sajadah yang tergelar

kubah megah masjid entah

kepalaku seolah telah lepas dari tubuhku

dan mataku seakan menghapus ketakutan

dan menyisakan cuma keindahan

nyaris ke puncak puisi

2022


Putih

adalah buih-buih di pantai

adalah awan gemawan di langit

adalah lampu-lampu kota

adalah bulu-bulu burung

adalah hati seorang pecinta

yang serupa cermin bagi Kekasihnya

2022


Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya berupa puisi, cerpen dan esai tersiar di berbagai media massa, serta terikut dalam buku-buku antologi bersama. Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas, penerjemah lepas, dan penjual buku-buku baru maupun lawas. Sekarang tinggal di Srandakan, Bantul, Yogyakarta bersama istri, sembari melukis dan bikin aneka kerajinan dan tentu saja masih terus aktif menulis. Penulis bisa dihubungi melalui email: [email protected].

Puisi

Puisi Ian Hasan

Mata Biru Gadis Penjaja Tisu

berburu waktu subuh

dikerumuni anak-anak waktu

bocah-bocah penjaja tisu

“belilah tisuku, Tuan!”

mereka berebut merajuk

saling berburu tangan

kuambil lembaran real

kubagi rata tanpa imbalan

sadari akulah sang tuan

seorang gadis berambut kepang dua

membuntuti sisa-sisa jemawa

“hei, tuan!”

“ya?”

“belilah tisuku, kataku!”

“tapi aku tak butuh.”

angin gurun terpiuh embun

luruh di tatapan mata biru

manakala kakiku tertahan

kata haram yang ia lontarkan

Karanganyar, Oktober 2022


Merpati Aisyah

di bibir pelataran masjidil haram

sejumlah bait tanya

kutuliskan berulang-ulang

mengapa saban hari

puluhan orang berdiri

dalam antrean panjang

demi giliran mendapat makanan

lalu mengapa sekali waktu

bocah kecil harus menjerit

setelah makanan yang ia dapat

koyak tumpah jadi rebutan

lantas mengapa pula

seorang perempuan berparas legam

yang bukan ibu kandung bocah itu

membagikan jatahnya

masih terbayang

jutaan puisi berhamburan

tersapu kepak sayap

merpati-merpati megan

Karanganyar, Oktober 2022


Tiga Biji Kurma

\ untuk ibuku,

berharap tersimpan rasa manis

di langit-langit kerinduanku

\ untuk istriku,

berharap tersampaikan rasa rindu

di setiap tengadah jemariku

\ untuk anak perempuanku,

berharap terpelihara rasa takwa

dari segala tindakan dosaku

Karanganyar, Oktober 2022


Trotoar Madinah

di bawah naungan pohon sukarno

kuhisap kretek sembari menghitung

betapa dekat jarak kepura-puraan

ke makam al-amin, sang terpercaya

di tengah alir gelombang manusia

dengan langkah-langkah tergesa

kulihat betapa luhur hasrat berlomba

menyiapkan hari-hari fana

pada wajah-wajah petugas kebersihan

yang selalu menghadang arah datang

kubaca alif ba ta nada meminta

tak sesulit melihat mereka bekerja

di sepanjang trotoar madinah

kurasa masih ada resah

terbawa dari rumah

Karanganyar, Oktober 2022


Surat Pendek

kutulis surat ini

pada tengah hari jumat suci

di jantung masjid nabawi

selesai al-insyirah di rekaat pertama

dan al-ma’un di rekaat kedua

kubetulkan kain ihram

sembari menulis kalimat pertama,

“Tuhan, betapa hanya kemudahan

dari yang kau maksudkan.”

namun terbukti

kesulitanku menuliskan

kalimat berikutnya

Karanganyar, Oktober 2022


Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022.