
Cerpen Y Agusta Akhir
Saat masih sama-sama bocah ingusan, kami sering mengoloknya dan memanggilnya si Pembual. Itu karena ia sering bercerita tentang hal-hal aneh dan tak masuk akal. Misalnya ia bercerita kalau di rumahnya dijaga tiga makhluk berkepala ular atau kali lain ia mengaku bertemu dengan tuyul dan bicara dengannya. Di hari lain ia mengaku melihat peri terbang di udara mirip layang-layang. Tentu kami percaya tentang adanya hantu atau jin atau setan. Makhluk tak kasat mata. Tetapi kami tak percaya Kastawa memiliki indera keenam.
Sekitar dua bulan lalu, tanpa sengaja aku bertemu dengannya dan ia mengatakan kalau sedang merasa gelisah. Aku bertanya mengapa, dan ia bercerita perihal mimpinya dan kematian-kematian karenanya. Aku memperhatikan wajahnya sepanjang ia bercerita, dan aku tak menemukan jejak bualan di sana. Ia bicara sangat yakin, polos dan aku tak mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang dibuat-buat. Wajah kanak-kanaknya saat menceritakan seputar makhluk astral melintas di benak, dan memang tak seperti orang yang sedang berbohong.
“Ini rahasia,” katanya, “aku belum pernah bercerita kepada siapa pun. Aku takut orang-orang akan salah paham dan berakibat buruk padaku!”
“Tapi kenapa kau menceritakannya kepadaku?” aku iseng bertanya.
“Karena kau bisa menjaga rahasia. Aku percaya padamu. Dan aku tak mungkin memendamnya sendiri. Kau tahu, aku merasa bersalah. Mimpi begitu, menyiksaku alih-alih aku menikmatinya!”
Sebenarnya kurang tepat kalau aku dikatakan bisa memendam rahasia. Yang benar adalah aku orang yang lebih banyak diam, dan selebihnya aku hanya tak memercayainya. Lalu, untuk apa aku mengatakan kepada orang-orang kalau Kastawa, melalui mimpinya, bisa mengetahui akan ada yang meninggal di kampung ini?
Aku mencoba memahaminya. Tetapi sejujurnya aku merasa apa yang diceritakannya adalah sesuatu yang konyol. Aku tidak menyangka kalau ia masih suka bercerita hal-hal yang tak masuk akal. Sudah mendekati kepala empat. Rupanya itulah watak yang tak bisa berubah.
“Aku ingin hal itu tak lagi terjadi padaku. Kalau memang aku harus mimpi, jangan ada yang mati!”
Aku mengangguk-anggukan kepala, supaya ia menyangka aku mengerti dan merespon apa yang dikatakannya.
“Barangkali itu suatu kebetulan,” kataku, yang sebenarnya tidak begitu sungguh-sungguh mengucapkannya.
“Tadinya aku juga berpikir begitu. Tetapi setelah berkali-kali aku mengalami mimpi basah, esok atau lusanya ada yang mati. Selalu begitu. Rasanya tak mungkin kalau kebetulan belaka!”
Ia, kemudian dengan serius menyebutkan beberapa tetangga yang meninggal dan itu semua ditandai dengan mimpinya itu. Ia bilang tak tahu pasti siapa yang bakal dijemput maut. Hanya saja, sesaat setelah mimpi basah, ia seperti melihat ada gumpalan asap melayang-layang di udara, lalu masuk ke dalam rumah. Salah satu penghuni rumah itulah nanti yang akan meninggal.
“Tetapi aku tak bisa menebak, siapa dia!”
Aku berpikir, seandainya itu benar, ngeri juga mimpinya itu. Tetapi aku lebih suka menganggapnya sudah gila.
“Gan, kalau nanti aku mimpi basah, aku akan kabarkan kepadamu. Dan kau akan tahu, bakal ada yang meninggal!”
Aku tidak mengiyakannya. Aku hanya tersenyum dan menatap kedua matanya. Sepertinya ia tidak gila.
Kastawa sempat bertanya kabar adik perempuanku, yang pernah ditaksirnya, ketika kami masih di masa-masa sekolah dulu. Aku jawab baik-baik saja, dan mencandai dia dengan bertanya apakah masih naksir adkikku, tetapi Kastawa hanya tertawa.
Sebelum berpisah, mendadak wajahnya tampak serius dan berkata, “Gan, kuharap kau berhenti. Carilah pekerjaan baik-baik!”
Ucapannya membuatku tersentak. Aku tahu maksudnya. Kupikir mungkin ada teman yang memberitahunya perihal ‘pekerjaanku’ selama ini. Apalagi, aku pernah tertangkap dan dipenjara. Barangkali pula ia sudah mendengarnya. Aku memang seorang pengedar, namun aku sudah memutuskan ingin berhenti. Untuk itulah aku pulang dan tak akan kembali ke ibu kota. Di sana, rasanya tak mungkin bisa kembali ke jalan yang benar. Aku sudah bertekad akan kerja baik-baik. Aku ingin hidup tenang bersama keluargaku. Keluar dari lingkaran setan. Tak ingin lagi berhubungan dengan barang haram itu. Capek jadi buronan polisi.
“Tentu saja, kawan!” sambil tersenyum aku mengucapkan itu, lalu kami berpisah.
***
Sejak pertemuan itu, di hari-hari selanjutnya kami masih bertemu lagi beberapa kali dan ia tak menyinggung perihal mimpinya yang ia sebut sebagai penanda kematian itu. Dan selama itu pula memang tak ada yang meninggal. Tetapi dua hari lalu ia datang ke rumah hanya untuk mengatakan kalau dirinya sudah mimpi basah.
“Besok atau lusa, pasti ada yang meninggal!” katanya sangat yakin.
Sampai detik itu aku masih belum bisa memercayainya. Tetapi ketika esok harinya ada yang meninggal, aku mulai ragu. Ia kembali datang untuk menegaskan kebenarannya. Aku katakan padanya kalau butuh dua atau tiga kali bukti, sehingga aku bisa percaya tentang mimpinya yang bisa menandai adanya kematian itu. Setidaknya aku tak akan lagi berpikir itu suatu kebetulan belaka. Aku juga menambahkan, tepatnya menawarkan padanya untuk bertaruh.
Tetapi ia menolaknya.
“Sebenarnya, kalau kamu tak percaya padaku, tak apa. Aku sendiri ingin lepas dari semua ini. Seperti yang kukatakan, aku justru tersiksa!”
“Baiklah, kalau begitu biar aku saja yang berjanji!” kataku, tak peduli dengan omongannya barusan.
“Terserah kau saja,” katanya.
Aku berjanji, kalau memang setelah ia mimpi basah dan kemudian ada yang meninggal esok pagi atau lusanya, maka pertama, aku akan memercayai bahwa memang mimpinya jadi penanda bakal ada yang meninggal. Kedua, aku akan membujuk adikku agar menerima cintanya.
“Itu kalau kamu masih naksir adikku. Semua kawan kita sudah menikah. Kenapa kamu masih membujang saja?”
Barangkali gagasan itu, walaupun aku tak sungguh-sungguh, dan sama tak masuk akalnya dengan mimpinya. Tetapi ia tak menanggapi. Hanya tersenyum. Senyum yang tak bisa kutebak apa artinya.
“Akan kuberitahu lagi kalau nanti aku bermimpi!”.
Tiga bulan berlalu, dan aku tak mendengar ada kematian di sini, seolah kematian benar-benar ditentukan oleh mimpi Kastawa. Padahal, ada beberapa tetangga yang sudah uzur dan sebagian tampak sakit-sakitan. Ada pula yang sudah bertahun-tahun hanya terbaring di ambin. Kupikir karena memang takdirnya mereka masih diberi kesempatan untuk hidup.
Sial, aku jadi memikirkan apa yang dikatakannya. Tentang kebenaran mimpi senggama dan adanya kematian setelahnya. Bagaimana kalau ternyata apa yang dikatakannya itu benar? Bagaimana kalau selama ini, Kastawa memang benar-benar bisa melihat hantu atau alam ghaib? Ah, seandainya dia memang bisa melihat alam ghaib, memang apa masalahnya? Mungkin malah ia bisa menolongku, misalnya aku harus bagaimana atau melakukan apa supaya bisa memperbaiki nasib.
***
Akhirnya, pada suatu sore ia datang menemuiku. Agaknya ia tampak tidak sedang baik-baik saja. Wajahnya seperti tak memiliki cahaya. Mungkin sedang sakit atau sedang bersedih hati. Aku bertanya apakah sedang ada masalah, tetapi ia bilang tidak ada. Aku juga bertanya apakah ia sedang sakit dan ia menjawab sehat-sehat saja. Lalu ia hanya berkata pendek dan pelan.
“Semalam aku mimpi basah!”
Aku kaget mendengarnya. Aku tidak tahu mengapa kaget. Padahal, menurutku aku tak perlu bereaksi seperti itu. Toh, aku belum sepenuhnya memercayai soal mimpinya yang berhubungan dengan kematian itu. Lagi pula, aku juga sudah tahu kalau ia datang akan mengabarkan bahwa dirinya sudah mimpi basah.
“Siapa yang bakal dijemput ajal?” aku setengah berkelakar.
“Aku tidak tahu. Tapi pasti akan ada yang mati. Besok atau lusa!” ia berkata dengan suara sangat pelan, mirip orang sedang sakit sariawan atau radang tenggorokan.
Hanya begitu saja. Ia lalu pamit pergi. Aku tidak bertanya ia hendak kemana. Mungkin pulang.
Sekarang, aku tinggal menunggu saja, apakah benar akan ada yang mati besok atau lusa, sebagaimana yang tadi dikatakannya. Aku berharap akulah yang benar. Tak ada kematian di kampung ini entah besok atau lusa. Kuharap tak ada yang berduka, setidaknya dalam waktu dekat ini.
Dan esoknya memang tak ada berita duka di kampung ini. Tak ada pengumuman yang disampaikan lewat corong masjid perihal ada yang meninggal. Tak ada pula bendera penanda ada lelayu. Aku cukup senang. Aku masih berharap besok juga demikian.
Sampai pada hari berikutnya, sesaat sebelum matahari terbit, aku melihat Kastawa kembali ke rumahku. Wajahnya masih seperti yang kemarin. Pucat. Mirip orang sakit atau sedang bersedih. Ibuku, dengan wajah yang masih bersaput duka menyambutnya.
Kastawa memeluk ibu. Keduanya berurai air mata. Keduanya tampak akrab, padahal mereka sesekali saja bertemu. Dan ketika saling melepas pelukan dan bersitatap, mereka kembali bercakap, dan samar aku mendengar ibu berkata.
“Apakah Gandi ada hutang padamu, Nak?”
Kastawa diam sejenak. Ia tampak ragu, tetapi kemudian menjawab, “Hanya sebuah janji. Tetapi tak perlu ibu tanggapi serius!”
Kastawa lalu kembali memeluk ibu. Dan aku mendengar apa yang dibisikkan Kastawa kepada ibu. Rupanya Kastawa bilang kalau aku berjanji membujuk adikku agar menyukai Kastawa. Aku melihat ibu tersenyum samar, mengangguk pelan. Kemudian berpaling pada adikku yang sedang bersimpuh, dan menangis di dekat jasadku. Lalu aku mendengar orang bercakap-cakap, “Kejadiannya dini hari tadi. Ada yang mengejarnya. Barangkali intel. Lalu menembaknya!”***

Y Agusta Akhir menulis puisi, cerpen, dan novel. Beberapa karya pernah dimuat di media baik lokal maupun nasional. Novel pertamanya, Requiem Musim Gugur (Grasindo, 2013). Novel Kita Tak Pernah Tahu ke manakah Burung-burung Itu Terbang terpilih sebagai pemenang ketiga sayembara Novel yang diadakan Penerbit UNSA Press tahun 2017. Novel Seperti Lidah Api Menjilati Bulan di Langit (Lakheisa, 2022) mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Jawa Tengah tahun 2022.


