Cerpen

Rahasia Mimpi Kastawa

Cerpen Y Agusta Akhir

Saat masih sama-sama bocah ingusan, kami sering mengoloknya dan memanggilnya si Pembual. Itu karena ia sering bercerita tentang hal-hal aneh dan tak masuk akal. Misalnya ia bercerita kalau di rumahnya dijaga tiga makhluk berkepala ular atau kali lain ia mengaku bertemu dengan tuyul dan bicara dengannya. Di hari lain ia mengaku melihat peri terbang di udara mirip layang-layang. Tentu kami percaya tentang adanya hantu atau jin atau setan. Makhluk tak kasat mata. Tetapi kami tak percaya Kastawa memiliki indera keenam.

Sekitar dua bulan lalu, tanpa sengaja aku bertemu dengannya dan ia mengatakan kalau sedang merasa gelisah. Aku bertanya mengapa, dan ia bercerita perihal mimpinya dan kematian-kematian karenanya. Aku memperhatikan wajahnya sepanjang ia bercerita, dan aku tak menemukan jejak bualan di sana. Ia bicara sangat yakin, polos dan aku tak mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang dibuat-buat. Wajah kanak-kanaknya saat menceritakan seputar makhluk astral melintas di benak, dan memang tak seperti orang yang sedang berbohong.

“Ini rahasia,” katanya, “aku belum pernah bercerita kepada siapa pun. Aku takut orang-orang akan salah paham dan berakibat buruk padaku!”

“Tapi kenapa kau menceritakannya kepadaku?” aku iseng bertanya.

“Karena kau bisa menjaga rahasia. Aku percaya padamu. Dan aku tak mungkin memendamnya sendiri. Kau tahu, aku merasa bersalah. Mimpi begitu, menyiksaku alih-alih aku menikmatinya!”

Sebenarnya kurang tepat kalau aku dikatakan bisa memendam rahasia. Yang benar adalah aku orang yang lebih banyak diam, dan selebihnya aku hanya tak memercayainya. Lalu, untuk apa aku mengatakan kepada orang-orang kalau Kastawa, melalui mimpinya, bisa mengetahui akan ada yang meninggal di kampung ini?  

Aku mencoba memahaminya. Tetapi sejujurnya aku merasa apa yang diceritakannya adalah sesuatu yang konyol. Aku tidak menyangka kalau ia masih suka bercerita hal-hal yang tak masuk akal. Sudah mendekati kepala empat. Rupanya itulah watak yang tak bisa berubah.

“Aku ingin hal itu tak lagi terjadi padaku. Kalau memang aku harus mimpi, jangan ada yang mati!”

Aku mengangguk-anggukan kepala, supaya ia menyangka aku mengerti dan merespon apa yang dikatakannya. 

“Barangkali itu suatu kebetulan,” kataku, yang sebenarnya tidak begitu sungguh-sungguh mengucapkannya.

“Tadinya aku juga berpikir begitu. Tetapi setelah berkali-kali aku mengalami mimpi basah, esok atau lusanya ada yang mati. Selalu begitu. Rasanya tak mungkin kalau kebetulan belaka!”

Ia, kemudian dengan serius menyebutkan beberapa tetangga yang meninggal dan itu semua ditandai dengan mimpinya itu. Ia bilang tak tahu pasti siapa yang bakal dijemput maut. Hanya saja, sesaat setelah mimpi basah, ia seperti melihat ada gumpalan asap melayang-layang di udara, lalu masuk ke dalam rumah. Salah satu penghuni rumah itulah nanti yang akan meninggal.

“Tetapi aku tak bisa menebak, siapa dia!”

Aku berpikir, seandainya itu benar, ngeri juga mimpinya itu. Tetapi aku lebih suka menganggapnya sudah gila.

“Gan, kalau nanti aku mimpi basah, aku akan kabarkan kepadamu. Dan kau akan tahu, bakal ada yang meninggal!”

Aku tidak mengiyakannya. Aku hanya tersenyum dan menatap kedua matanya. Sepertinya ia tidak gila.  

Kastawa sempat bertanya kabar adik perempuanku, yang pernah ditaksirnya, ketika kami masih di masa-masa sekolah dulu. Aku jawab baik-baik saja, dan mencandai dia dengan bertanya apakah masih naksir adkikku, tetapi Kastawa hanya tertawa.

Sebelum berpisah, mendadak wajahnya tampak serius dan berkata, “Gan, kuharap kau berhenti. Carilah pekerjaan baik-baik!”

Ucapannya membuatku tersentak. Aku tahu maksudnya. Kupikir mungkin ada teman yang memberitahunya perihal ‘pekerjaanku’ selama ini. Apalagi, aku pernah tertangkap dan dipenjara. Barangkali pula ia sudah mendengarnya. Aku memang seorang pengedar, namun aku sudah memutuskan ingin berhenti. Untuk itulah aku pulang dan tak akan kembali ke ibu kota. Di sana, rasanya tak mungkin bisa kembali ke jalan yang benar. Aku sudah bertekad akan kerja baik-baik. Aku ingin hidup tenang bersama keluargaku. Keluar dari lingkaran setan. Tak ingin lagi berhubungan dengan barang haram itu. Capek jadi buronan polisi.

“Tentu saja, kawan!” sambil tersenyum aku mengucapkan itu, lalu kami berpisah.

***

Sejak pertemuan itu, di hari-hari selanjutnya kami masih bertemu lagi beberapa kali dan ia tak menyinggung perihal mimpinya yang ia sebut sebagai penanda kematian itu. Dan selama itu pula memang tak ada yang meninggal. Tetapi dua hari lalu ia datang ke rumah hanya untuk mengatakan kalau dirinya sudah mimpi basah.

“Besok atau lusa, pasti ada yang meninggal!” katanya sangat yakin.

Sampai detik itu aku masih belum bisa memercayainya. Tetapi ketika esok harinya ada yang meninggal, aku mulai ragu. Ia kembali datang untuk menegaskan kebenarannya. Aku katakan padanya kalau butuh dua atau tiga kali bukti, sehingga aku bisa percaya tentang mimpinya yang bisa menandai adanya kematian itu. Setidaknya aku tak akan lagi berpikir itu suatu kebetulan belaka. Aku juga menambahkan, tepatnya menawarkan padanya untuk bertaruh.

Tetapi ia menolaknya.

“Sebenarnya, kalau kamu tak percaya padaku, tak apa. Aku sendiri ingin lepas dari semua ini. Seperti yang kukatakan, aku justru tersiksa!”

“Baiklah, kalau begitu biar aku saja yang berjanji!” kataku, tak peduli dengan omongannya barusan.

“Terserah kau saja,” katanya.

Aku berjanji, kalau memang setelah ia mimpi basah dan kemudian ada yang meninggal esok pagi atau lusanya, maka pertama, aku akan memercayai bahwa memang mimpinya jadi penanda bakal ada yang meninggal. Kedua, aku akan membujuk adikku agar menerima cintanya.

“Itu kalau kamu masih naksir adikku. Semua kawan kita sudah menikah. Kenapa kamu masih membujang saja?”

Barangkali gagasan itu, walaupun aku tak sungguh-sungguh, dan sama tak masuk akalnya dengan mimpinya. Tetapi ia tak menanggapi. Hanya tersenyum. Senyum yang tak bisa kutebak apa artinya.

“Akan kuberitahu lagi kalau nanti aku bermimpi!”.

Tiga bulan berlalu, dan aku tak mendengar ada kematian di sini, seolah kematian benar-benar ditentukan oleh mimpi Kastawa. Padahal, ada beberapa tetangga yang sudah uzur dan sebagian tampak sakit-sakitan. Ada pula yang sudah bertahun-tahun hanya terbaring di ambin. Kupikir karena memang takdirnya mereka masih diberi kesempatan untuk hidup. 

Sial, aku jadi memikirkan apa yang dikatakannya. Tentang kebenaran mimpi senggama dan adanya kematian setelahnya. Bagaimana kalau ternyata apa yang dikatakannya itu benar? Bagaimana kalau selama ini, Kastawa memang benar-benar bisa melihat hantu atau alam ghaib? Ah, seandainya dia memang bisa melihat alam ghaib, memang apa masalahnya? Mungkin malah ia bisa menolongku, misalnya aku harus bagaimana atau melakukan apa supaya bisa memperbaiki nasib.

***

Akhirnya, pada suatu sore ia datang menemuiku. Agaknya ia tampak tidak sedang baik-baik saja. Wajahnya seperti tak memiliki cahaya. Mungkin sedang sakit atau sedang bersedih hati. Aku bertanya apakah sedang ada masalah, tetapi ia bilang tidak ada. Aku juga bertanya apakah ia sedang sakit dan ia menjawab sehat-sehat saja. Lalu ia hanya berkata pendek dan pelan.

“Semalam aku mimpi basah!”

Aku kaget mendengarnya. Aku tidak tahu mengapa kaget. Padahal, menurutku aku tak perlu bereaksi seperti itu. Toh, aku belum sepenuhnya memercayai soal mimpinya yang berhubungan dengan kematian itu. Lagi pula, aku juga sudah tahu kalau ia datang akan mengabarkan bahwa dirinya sudah mimpi basah.

“Siapa yang bakal dijemput ajal?” aku setengah berkelakar.

“Aku tidak tahu. Tapi pasti akan ada yang mati. Besok atau lusa!” ia berkata dengan suara sangat pelan, mirip orang sedang sakit sariawan atau radang tenggorokan.

Hanya begitu saja. Ia lalu pamit pergi. Aku tidak bertanya ia hendak kemana. Mungkin pulang.

Sekarang, aku tinggal menunggu saja, apakah benar akan ada yang mati besok atau lusa, sebagaimana yang tadi dikatakannya. Aku berharap akulah yang benar. Tak ada kematian di kampung ini entah besok atau lusa. Kuharap tak ada yang berduka, setidaknya dalam waktu dekat ini.

Dan esoknya memang tak ada berita duka di kampung ini. Tak ada pengumuman yang disampaikan lewat corong masjid perihal ada yang meninggal. Tak ada pula bendera penanda ada lelayu. Aku cukup senang. Aku masih berharap besok juga demikian.

Sampai pada hari berikutnya, sesaat sebelum matahari terbit, aku melihat Kastawa kembali ke rumahku. Wajahnya masih seperti yang kemarin. Pucat. Mirip orang sakit atau sedang bersedih. Ibuku, dengan wajah yang masih bersaput duka menyambutnya.   

Kastawa memeluk ibu. Keduanya berurai air mata. Keduanya tampak akrab, padahal mereka sesekali saja bertemu. Dan ketika saling melepas pelukan dan bersitatap, mereka kembali bercakap, dan samar aku mendengar ibu berkata.

“Apakah Gandi ada hutang padamu, Nak?”

Kastawa diam sejenak. Ia tampak ragu, tetapi kemudian menjawab, “Hanya sebuah janji. Tetapi tak perlu ibu tanggapi serius!”

Kastawa lalu kembali memeluk ibu. Dan aku mendengar apa yang dibisikkan Kastawa kepada ibu. Rupanya Kastawa bilang kalau aku berjanji membujuk adikku agar menyukai Kastawa. Aku melihat ibu tersenyum samar, mengangguk pelan. Kemudian berpaling pada adikku yang sedang bersimpuh, dan menangis di dekat jasadku. Lalu aku mendengar orang bercakap-cakap, “Kejadiannya dini hari tadi. Ada yang mengejarnya. Barangkali intel. Lalu menembaknya!”***


Y Agusta Akhir menulis puisi, cerpen, dan novel. Beberapa karya pernah dimuat di media baik lokal maupun nasional. Novel pertamanya, Requiem Musim Gugur (Grasindo, 2013). Novel Kita Tak Pernah Tahu ke manakah Burung-burung Itu Terbang terpilih sebagai pemenang ketiga sayembara Novel yang diadakan Penerbit UNSA Press tahun 2017. Novel Seperti Lidah Api Menjilati Bulan di Langit (Lakheisa, 2022) mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Jawa Tengah tahun 2022.

Puisi

Puisi Y Agusta Akhir

Nyantaka

Dalam rupa kera, perempuan yang semula jelita

menjura di depan ramandanya

sesungguhnya, kau sedang menjalani karma, anakku, kata Gotama.

sebagaimana ibumu yang membisu bagai batu, maka jadilah ia tugu batu

nafsu berebut cupu, menjelmakan kebajikan jadi bebendhu.

Atas perintah Gotama pula, ia pergi ke tepian Mandirda

mengambanglah tubuhnya tanpa busana di atas tirta

kini ia kera yang merupa katak: nyantaka

dengan penuh harap, terbebas dari karma

Sampai pada suatu ketika, Manikmaya di atas Andini melihatnya

menggelegak birahi, dan jatuhlah setitik kama di atas daun

daun mengambang, mengalun pelan di atas tirta

yang mengantar masuk ke mulutnya

dan tumbuhlah di tubuhnya – tubuh baru

kelak, sang putra lahir, pun dalam wujud kera

tetapi ia, tersebab karma telah purna

kembali menjadi jelita.

Surakarta, Maret, 2022


Supata Drupadi

Dadu yang dilempar dan jatuh di tengah meja nasib ketakberuntungan

adalah awal mula petaka. Dan, perempuan itu menolak menyebutnya sebagai takdir.

Ia, antara luka dan bermandi ludah, barangkali sempat

berpikir: apakah setiap lelaki adalah jelmaan dari sepotong

lintah atau segumpal nanah?

Sebab nyatanya, setelah ia diperebutkan bak piala dalam perlombaan

di negeri ramandanya, Pancala,

sekarang jadi taruhan dalam perjudian oleh kelima suaminya

: Pandawa

Mendadak terdengar gelegar tawa seratus rupa iblis

membuat telinganya begitu pekak

Lelaki memang diciptakan dari lempung, juga otak dan hatinya

Ia ingin meneriakkan itu, tetapi keburu sadar rambutnya

yang panjang, sudah terurai. Kain jarit setengah terburai, nyaris dirinya telanjang

dan kembali terdengar tawa seratus iblis.

Adalah Dursasana yang menggelegak birahi yang telah menjambak rambutnya

mengurai sanggulnya, tetapi

gagal menelanjanginya.

Ia menahan tangis, namun kesedihannya menjelma sungai

beriak mantra yang menggema sampai ke padang Kurusetra, kelak.

Ia yang mengucap sumpah: tak menyanggul rambutnya, sampai

ajal menemu sang durjana, dan ia akan meminum darahnya!

Surakarta, Maret 2022


Palgunadi

Aku adalah murid yang mencari guru

katamu pada sebongkah batu yang kau pahat

menyerupai Drona

Sejak hari itu, hingga berpuluh purnama kemudian,

kau berlatih kanuragan

merentang sejauh mungkin gendewa

membidikkan jumparing pada mata hidup

yang kian miring.

Tapi kau tahu, tak ada yang boleh mengungguli Arjuna

sebagaimana kata Drona, tersebab akan menjadi

senapati dalam kancah baratayuda yang sudah diramalkan itu.

maka pada sebuah senja yang mokal, sebongakah batu itu

mendadak bisa bicara.

: gerangan apa yang membuat dirimu

bisa sedemikian sakti, anakku, Palgunadi ya

Bambang Ekalaya?

Adalah Manik Sotyaning Ampal, guru. Kau berkata

takzim penuh hormat, sembari menunjukkan

ibu jarimu

Tak sebiji zarah pun ada syakwasangka

di hatimu.

: bahwa, misalnya, seseorang telah bersembunyi

di balik patung Drona.

O, lalu apa yang seharusnya dilakukan seorang murid

terhadap gurunya?

Menghormatinya. Mematuhi perintahnya.

Dan apakah diperkenankan seorang

guru meminjam pusaka milik muridnya?

Tetapi, Manik Sotyaning Ampal tak bisa lepas dari ibu jarimu.

Tak ada cara lain. Kau mesti memotong ibu jari sendiri

demi menghormat pada sang guru.

Memotong ibu jari, adalah menghabisi hidupmu.

Sebuah suara yang entah datang dari mana

mungkin dari ceruk paling jauh dalam jiwamu.

Tetapi, menghormat seorang guru jauh lebih mulia.

Kau abai pada suara itu. Abai pada keselamatan hidupmu.

Dan dengan sebilah belati, maka kau potong jempol tanganmu

tanpa mengaduh

: tak ada tetes darah

terimalah, Guru. Kau berkata. Suaramu bergetar

tetapi mendadak dadamu berlubang

namun yang muncrat adalah cahaya, yang lalu menggumpal

membawamu terbang ke langit

Kelak, dalam gaduh baratayuda

kau manjing di raga Destrajumena

memenggal kepala Drona yang tengah kalap

tersebab kematian Aswatama, di tengah medan Kurusetra.

Solo, Desember 2022


Aswatama

Aku telah menerima takdirku yang terlahir bukan sebagai ksatria

maka betapa pun besar inginku, aku tak layak berdiri di barisan depan

meramaikan pesta darah di Kurusetra.

Begitupun, aku juga telah menerima takdirku yang lain: cinta

tapi betapa celaka hidupku, kau tak ditakdirkan untukku

Ah, Banowati yang molek yang lincah serupa srigunting

Betapa aku merindu padamu

Padamu

Hanya padamu

Bahkan manakala aku tahu lelananging jagat, lelaki paling kurang ajar

di seluruh dunia itu, telah memesonamu, yang datang

menyelinap mengendap mencecap  birahimu

di belakang Duryudana yang tolol.

O, pernikahanmu yang banal yang tak masuk akal

sesungguhnya telah batal.

Tapi mengapa tak juga engkau menangkap isyaratku

yang menyimpan selaksa resah

: rupanya sihir cinta telah melenakan semesta

Tetapi betapa celaka hidupku – betapa malang nasibmu

Banowati.

Justru aku-lah yang merenggut hidupmu

Tetapi kau harus tahu, setelah panah bayi Parikesit menghujam dadaku

Maka sesungguhnya saat itu pula cinta kita bertaut

Solo, Oktober 2019


Duka Duryudana

Ini bukan tentang negeri yang bakal hancur

tetapi hatiku yang lebur

ratap Duryudana pada bayangan sendiri di cermin

yang muram

perempuan itu bernama Surtikanti

yang telah mengepung hatinya dengan

seribu satu panah cinta yang berlesatan

dari setiap inci tubuh sang kekasih

cinta hanya sampai di ambang nyata

tersebab Surtikanti lebih memilih

Karna

Duryudana, sekalipun memendam luka perih

tetap mengalah

merelakannya melabuhkan cinta kepada putra Adirata

Maka Banowati perempuan molek yang binal

sebagai penggantinya

tetapi cinta sang raja betapa sial

perempuan itu bermain mata dengan Arjuna

yang nakal

Apakah aku masih sanggup menampung luka?

Bayangannya mendadak retak di cermin

Dan Baratayuda yang kian dekat gaungnya

menghampar di matanya

: Setelah satu demi satu saudaranya gugur

Banowati, ah, betapa malang

keris Aswatama menancap di dadanya.  

Solo, Desember 2022


Duka Kunthi

Siapa yang paling berduka melihat darah menetes di Kurusetra?

adalah ibu yang melahirkan rahasia-rahasia yang tak

kuasa membendung air mata

mengeja takdir yang penuh galaba

: Baratayudha

dalam kecamuk sawala sesama wangsa

ibu tak akan menakar siapa salah

siapa benar. darah yang tumpah, bukan milik siapa-siapa

setiap darah yang menetes, adalah darah ibu juga, anak-anakku!

adalah Basukarna, ksatria malang sejak dilahirkan

dilahirkan sebagai akibat mantra Adityarhedaya pemberian Duwarsa

tetapi kehamilan adalah aib

maka ibu melarungnya di Gangga yang murung

lalu kutukan demi kutukan, dari seorang Brahmana,

Parasurama hingga Mahaguru Drona

sebelum akhirnya Pasopati Janaka merenggut

hidupnya. dan kesedihan, tak akan bagai katak yang menyanyi riang

di musim penghujan

dan duka ibu mana lagi yang kau dustakan selain

dari kematian seorang anak yang digalang saudara sendiri?

setiap ibu hanya melahirkan kesucian

tak seorang pun bisa lebih memahami

yang dirasakan ibu, selain ibu sendiri

bahkan dewa-dewa

juga Kresna, sang penjaga takdir itu

ibu tetap berduka atas kematian Basukarna

betapapun mencoba

derana

Surakarta, Februari 2022


Y Agusta Akhir, tinggal di Solo. Pernah belajar di Institut Seni (ISI) Surakarta. Menyukai dunia literasi. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Karyanya tersebar di media lokal maupun nasional, serta media online.

Cerpen

Hutan itu Berwarna Kelabu, Sayang

Cerpen Y Agusta Akhir

Vila itu masih vila yang dulu juga. Bahkan setelah tigapuluh tahun berlalu, rasanya tak ada yang berubah: warna cat yang kusam dan tak bergairah, yang dulu kau berkata, kalau kabutlah yang membuatnya seperti itu. Ada begitu banyak vila di sini, tapi entah kenapa, kala itu kau lebih memilih vila itu daripada yang lain, yang kupikir lebih bagus dari vila pilihanmu. ‘Vila yang terasing’. Begitulah kau menyebut, lantaran hanya bangunan itu yang berada di anak bukit sana itu; berbeda dengan vila-vila lain yang berjajar dan berhimpit satu sama lain di kanan dan kiri jalan . Dan kita tak pernah tahu, mengapa ada orang yang sengaja membangun vila di sana. Hari ini, aku datang sengaja mengenang kebersamaan kita di sini. Kau tahu, inilah kali pertama aku kembali datang ke sini, sejak kau menghilang entah kemana, yang sampai detik ini masih jadi misteri.   

Seolah kau baru saja pamit pergi beberapa waktu lalu, dan aku menunggumu di sini, di beranda vila yang menghadap hutan yang merenggutmu dariku itu. Dan tak bisa kusangkal, sepotong peristiwa itu berbondong-bondong menyerbu ingatanku yang sesungguhnya mulai merapuh ini. 

Hutan itu berwarna kelabu, bisikmu pada sebuah pagi yang masih berkabut, tigapuluh tahun lalu. Kala itu aku sedang mencoba mengakrabi dingin yang agaknya tak ingin bersahabat denganku. Kini, kau tahu, dingin kala itu kembali menyiksaku. Meremukkan tulang belulangku. Menyesakkan napasku.

Sungguh, kesunyian ini maha panjang. Jauh lebih menyiksa dari sekadar dingin yang membekukan darahku.

Hutan itu berwarna kelabu. Kalimat pendek di pagi buta, yang bahkan mendung masih menyembunyikan matahari (atau bersembunyi di balik cakrawala?). Semula aku mengira itu akan menjadi kalimat paling romantis untukku. Rupanya aku salah. Atau, akulah yang justru membuatnya jadi salah. Aku menyangkal apa yang kau katakan perihal hutan itu. Hutan yang menghampar di hadapan kita; seperti hanya beberapa jengkal dari beranda vila itu, tempat dimana kita sedang bercakap.

Apalagi, kalau sedang turun hujan. Itu kalimatmu yang berikutnya. Masih dengan suara berbisik; kukira hanya beberapa inci saja jarak bibirmu dengan daun telingaku. Bahkan, aroma parfum yang mulai samar di tubuhmu, masih bisa kubaui sampai saat ini. Ah, wangi yang kautabur sebelum akhirnya kita bercinta habis-habisan malam itu.

“Hujan itulah yang membuatnya bertambah kelabu, Sayang!” ucapmu lagi.    

Beberapa kali aku terbatuk sebelum kusangkal ucapanmu itu. “Aku bahkan tak bisa melihat hutan itu!”

“Ayolah, Sayang. Bukan waktunya bercanda. Atau kau sedang mengolokku? Mataku tak mungkin rabun!”

Kau memelukku dari belakang. Aku bisa merasakan bagian tubuhmu yang aku yakin berukuran sama dan proposional itu menekan punggungku. Tapi itu tak cukup penting untuk dipanjang-panjangkan di sini. Sejak awal, cerita ini tidak dibangun berdasarkan asas kemesuman. Kukira kau setuju itu.

“Kukira, aku ingin pergi ke sana,” bisikmu lagi.

Aku hanya bergeming. Kau mencium tengkukku. Bibirmu yang basah dan dingin, serupa sepotong es batu kristal yang menempel di belakang leherku. Dan mendung tiba-tiba tersibak. Perlahan-lahan cahaya matahari berpendar, menerobos sela-sela antara awan hitam dan putih, jatuh di atap-atap rumah yang tampak suram oleh suasana pagi yang entah kenapa, terasa sedikit muram. Cahaya itu, lalu sampai juga di ujung-ujung daun pepohonan hutan itu.

 “Lihatlah, hutan itu berwarna kelabu!” Kau bersorak, merenggangkan pelukanmu. Mengguncangkan bahuku, seolah memintaku untuk membenarkan apa yang sedang kau saksikan.

Hutan kelabu. Dalam hujan…

Kau bersenandung lirih. Aku masih mengingatnya dan di kemudian hari tahulah aku itu penggalan puisi Sapardi.

Sungguh, aku belum sepenuhnya mengerti; ada apa dengan hutan yang berwarna kelabu itu, sehingga bisa membuatmu bergitu gembira. Tentu saja, hutan itu berwarna kelabu, terutama saat matahari pagi menyiramkan sinarnya ke bumi, ke atas hutan itu. Dan itu sesuatu yang biasa. Warna kelabu itu, entah karena oleh kabut atau hal lainnya, bagiku bukanlah suatu yang istimewa. Tapi aku tak mengatakan itu padamu. Aku tak hendak memupus kegembiraanmu. Seperti biasanya, aku lebih baik diam yang kemudian kau artikan sebagai sikap persetujuan.

“Aku ingin pergi ke sana! Ayolah. Aku bukan perempuan konyol yang menginginkan seekor anak kucing seperti dalam cerita Hemingway, yang sudah kaubaca berulang-ulang itu! Aku hanya ingin pergi ke hutan itu. Kau kira, untuk apa kita berkunjung ke sini, hah?”

“Kita baru sampai tadi malam. Setidaknya kau bisa menundanya besok,” Akhirnya aku membuka suara juga. Datar saja.

Kau bersorak. Memutar tubuhku, lalu menghujaniku dengan ciuman yang bertubi-tubi. Padahal, seandainya kau tahu, aku sungguh berharap hujan datang malam nanti atau esok pagi, sehari penuh. Tapi nyatanya, harapanku tak terkabul.

Sepanjang hari itu, kita bersepakat tak kemana-mana, kecuali hanya untuk makan di warung seberang vila. Atau membeli Koran meski kita sudah membawa beberapa novel yang belum sempat terbaca. Sepanjang hari itu, kau tampak begitu sumringah dan bersemangat. Berulang-ulang kau melihat hutan itu. Kau juga banyak bercerita tentang hutan-hutan di belahan bumi yang pernah kau kunjungi atau pernah kaubaca entah di buku apa.

Kau bercerita tentang Schwarzwald, yang oleh orang Romawi dinamai Black Forest. Kau bercerita tentang Sherwood Forest, hutan tempat bersembunyinya Robin Hood dan Merry Man, katamu. Kau bercerita tentang Aokigahara, di utara dasar Gunung Fuji,Jepang. Hutan yang mengerikan. Hutan yang sangat gelap, dipenuhi gua-gua besar, pohon-pohon raksasa tapi tak memiliki margasatwa dan menjadi tempat bunuh diri. Kau, bercerita tentang Dark Entry Forest, hutan sangat lebat di Connecticut. Hutan yang menjadi sarang hantu-hantu. Kau juga bercerita tentang  Betung Kerihun, Lore Lindu, Arfak, dan hutan-hutan lain yang ada di negeri ini.

Sungguh kau ini, perempuan pencinta hutan. Kadang aku berpikir, kau yang gila atau aku yang gila karena telah mencintai perempuan sepertimu. Mendengar ceritamu saja, nyaliku sudah ciut. Lalu, keindahan macam apa yang bisa kaunikmati dari hutan-hutan yang menakutkan itu?

 “Menulislah cerita tentang hutan, Sayang!”  

  Kau membisikkannya usai kita bercinta untuk ke tiga kalinya di malam itu. Tapi segala minat seperti menguap kecuali tidur dan memimpikanmu. Tapi dalam tidur pun kau enggan hadir. Setidaknya untuk malam itu. Mungkin hutan kelabu itu telah mencurinya dari mimpiku.

Pagi berikutnya aku tak mendapati dirimu di sampingku. Aku tak mendapatimu di beranda vila. Aku juga tak mendapati dirimu di manapun di sekitar vila itu. Maka hutan yang kausebut kelabu itu satu-satunya tempat yang menyembunyikan keberadaanmu. Dan semakin jelas ketika kubaca tulisanmu di sehelai tisu yang kutemukan di atas lantai. Mungkin terjatuh. Mungkin semula kau menaruhnya di atas bantal.

Itu hutan yang sangat indah. Penghuni kamar sebelah memberitahukan padaku. Aku duluan. Kau begitu pulas. Tampaknya kecapaian. Maaf, semalam sebagai ungkapan rasa terimakasihku padamu.

Tapi aku tak menemukan jejakmu di hutan itu. Selain suara-suara asing yang membuatku gemetar, adalah hening yang mencekam. Kuteriakkan namamu, tapi hanya gaung yang menjelaskan ketiadaanmu. Suatu kali kau pernah berkelakar, hutan itu tempat yang begitu misteri. Kalau ingin aman, simpanlah rahasiamu di dalam hutan!

Itukah yang sedang kaulakukan?

Sampai sekarang aku tak kuasa menjawabnya selain hanya menganggapmu hilang. Hutan itu telah menelanmu. Dan kukira aku sedang membuat cerita tentang hutan, sebagaimana yang pernah kaubisikkan bertahun-tahun lalu.

***

Tigapuluh tahun berlalu. Hutan itu terbakar, entah sudah ke berapa kali sejak kau menghilang di sana. Hutan itu akan tumbuh, lalu dibakar atau terbakar. Tumbang atau ditebang lalu tumbuh lagi meski butuh waktu yang panjang untuk kembali seperti sedia kala. Tapi kau?

Tigapuluh tahun berlalu. Aku kembali ke vila ini. Vila yang dulu juga. Aku memandang ke hutan yang baru saja terbakar. Memang berwarna kelabu. Kali ini aku tahu, hutan itu kelabu oleh asap pepohonan yang terbakar.  

Hutan itu berwarna kelabu, Sayang. Aku bisa merasakan bulu-bulu lembut di tengkukku tiba-tiba meremang. Aku mencium wangi tubuhmu. Aku bisa merasakan kembali bagian tubuhmu yang kuyakini berukuran sama, proporsional, yang menekan lembut punggungku. Dan belakang leherku yang dingin seperti ada sebutir es kristal. Aku mendengar suara sendiri bergetar: menyebut namamu.*** 


Y Agusta Akhir, penikmat sastra dan aktif di komunitas sastra alit, Solo. Menulis puisi, cerpen dan novel. Beberapa karyanya berupa puisi dan cerpen pernah dimuat di harian joglosemar(Solo), Solopos (Solo), buletin sastra Pawon (Solo), antologi cerpen Waktu yang Bercerita dan Secabik jejak (Alit, Solo), antologi cerpen Joglo (TBJT Surakarta), dll. Novelnya yang berjudul Requiem Musim Gugur terpilih sebagai salah satu pemenang pada lomba Grasindo Publishers tahun 2013 dan Novel Kita Tak Pernah Tahu Kemanakah Burung-burung Itu Terbang menjadi juara III sayembara novel yang diadakan oleh UNSA Press tahun 2017.