Puisi

Puisi Y Agusta Akhir

Nyantaka

Dalam rupa kera, perempuan yang semula jelita

menjura di depan ramandanya

sesungguhnya, kau sedang menjalani karma, anakku, kata Gotama.

sebagaimana ibumu yang membisu bagai batu, maka jadilah ia tugu batu

nafsu berebut cupu, menjelmakan kebajikan jadi bebendhu.

Atas perintah Gotama pula, ia pergi ke tepian Mandirda

mengambanglah tubuhnya tanpa busana di atas tirta

kini ia kera yang merupa katak: nyantaka

dengan penuh harap, terbebas dari karma

Sampai pada suatu ketika, Manikmaya di atas Andini melihatnya

menggelegak birahi, dan jatuhlah setitik kama di atas daun

daun mengambang, mengalun pelan di atas tirta

yang mengantar masuk ke mulutnya

dan tumbuhlah di tubuhnya – tubuh baru

kelak, sang putra lahir, pun dalam wujud kera

tetapi ia, tersebab karma telah purna

kembali menjadi jelita.

Surakarta, Maret, 2022


Supata Drupadi

Dadu yang dilempar dan jatuh di tengah meja nasib ketakberuntungan

adalah awal mula petaka. Dan, perempuan itu menolak menyebutnya sebagai takdir.

Ia, antara luka dan bermandi ludah, barangkali sempat

berpikir: apakah setiap lelaki adalah jelmaan dari sepotong

lintah atau segumpal nanah?

Sebab nyatanya, setelah ia diperebutkan bak piala dalam perlombaan

di negeri ramandanya, Pancala,

sekarang jadi taruhan dalam perjudian oleh kelima suaminya

: Pandawa

Mendadak terdengar gelegar tawa seratus rupa iblis

membuat telinganya begitu pekak

Lelaki memang diciptakan dari lempung, juga otak dan hatinya

Ia ingin meneriakkan itu, tetapi keburu sadar rambutnya

yang panjang, sudah terurai. Kain jarit setengah terburai, nyaris dirinya telanjang

dan kembali terdengar tawa seratus iblis.

Adalah Dursasana yang menggelegak birahi yang telah menjambak rambutnya

mengurai sanggulnya, tetapi

gagal menelanjanginya.

Ia menahan tangis, namun kesedihannya menjelma sungai

beriak mantra yang menggema sampai ke padang Kurusetra, kelak.

Ia yang mengucap sumpah: tak menyanggul rambutnya, sampai

ajal menemu sang durjana, dan ia akan meminum darahnya!

Surakarta, Maret 2022


Palgunadi

Aku adalah murid yang mencari guru

katamu pada sebongkah batu yang kau pahat

menyerupai Drona

Sejak hari itu, hingga berpuluh purnama kemudian,

kau berlatih kanuragan

merentang sejauh mungkin gendewa

membidikkan jumparing pada mata hidup

yang kian miring.

Tapi kau tahu, tak ada yang boleh mengungguli Arjuna

sebagaimana kata Drona, tersebab akan menjadi

senapati dalam kancah baratayuda yang sudah diramalkan itu.

maka pada sebuah senja yang mokal, sebongakah batu itu

mendadak bisa bicara.

: gerangan apa yang membuat dirimu

bisa sedemikian sakti, anakku, Palgunadi ya

Bambang Ekalaya?

Adalah Manik Sotyaning Ampal, guru. Kau berkata

takzim penuh hormat, sembari menunjukkan

ibu jarimu

Tak sebiji zarah pun ada syakwasangka

di hatimu.

: bahwa, misalnya, seseorang telah bersembunyi

di balik patung Drona.

O, lalu apa yang seharusnya dilakukan seorang murid

terhadap gurunya?

Menghormatinya. Mematuhi perintahnya.

Dan apakah diperkenankan seorang

guru meminjam pusaka milik muridnya?

Tetapi, Manik Sotyaning Ampal tak bisa lepas dari ibu jarimu.

Tak ada cara lain. Kau mesti memotong ibu jari sendiri

demi menghormat pada sang guru.

Memotong ibu jari, adalah menghabisi hidupmu.

Sebuah suara yang entah datang dari mana

mungkin dari ceruk paling jauh dalam jiwamu.

Tetapi, menghormat seorang guru jauh lebih mulia.

Kau abai pada suara itu. Abai pada keselamatan hidupmu.

Dan dengan sebilah belati, maka kau potong jempol tanganmu

tanpa mengaduh

: tak ada tetes darah

terimalah, Guru. Kau berkata. Suaramu bergetar

tetapi mendadak dadamu berlubang

namun yang muncrat adalah cahaya, yang lalu menggumpal

membawamu terbang ke langit

Kelak, dalam gaduh baratayuda

kau manjing di raga Destrajumena

memenggal kepala Drona yang tengah kalap

tersebab kematian Aswatama, di tengah medan Kurusetra.

Solo, Desember 2022


Aswatama

Aku telah menerima takdirku yang terlahir bukan sebagai ksatria

maka betapa pun besar inginku, aku tak layak berdiri di barisan depan

meramaikan pesta darah di Kurusetra.

Begitupun, aku juga telah menerima takdirku yang lain: cinta

tapi betapa celaka hidupku, kau tak ditakdirkan untukku

Ah, Banowati yang molek yang lincah serupa srigunting

Betapa aku merindu padamu

Padamu

Hanya padamu

Bahkan manakala aku tahu lelananging jagat, lelaki paling kurang ajar

di seluruh dunia itu, telah memesonamu, yang datang

menyelinap mengendap mencecap  birahimu

di belakang Duryudana yang tolol.

O, pernikahanmu yang banal yang tak masuk akal

sesungguhnya telah batal.

Tapi mengapa tak juga engkau menangkap isyaratku

yang menyimpan selaksa resah

: rupanya sihir cinta telah melenakan semesta

Tetapi betapa celaka hidupku – betapa malang nasibmu

Banowati.

Justru aku-lah yang merenggut hidupmu

Tetapi kau harus tahu, setelah panah bayi Parikesit menghujam dadaku

Maka sesungguhnya saat itu pula cinta kita bertaut

Solo, Oktober 2019


Duka Duryudana

Ini bukan tentang negeri yang bakal hancur

tetapi hatiku yang lebur

ratap Duryudana pada bayangan sendiri di cermin

yang muram

perempuan itu bernama Surtikanti

yang telah mengepung hatinya dengan

seribu satu panah cinta yang berlesatan

dari setiap inci tubuh sang kekasih

cinta hanya sampai di ambang nyata

tersebab Surtikanti lebih memilih

Karna

Duryudana, sekalipun memendam luka perih

tetap mengalah

merelakannya melabuhkan cinta kepada putra Adirata

Maka Banowati perempuan molek yang binal

sebagai penggantinya

tetapi cinta sang raja betapa sial

perempuan itu bermain mata dengan Arjuna

yang nakal

Apakah aku masih sanggup menampung luka?

Bayangannya mendadak retak di cermin

Dan Baratayuda yang kian dekat gaungnya

menghampar di matanya

: Setelah satu demi satu saudaranya gugur

Banowati, ah, betapa malang

keris Aswatama menancap di dadanya.  

Solo, Desember 2022


Duka Kunthi

Siapa yang paling berduka melihat darah menetes di Kurusetra?

adalah ibu yang melahirkan rahasia-rahasia yang tak

kuasa membendung air mata

mengeja takdir yang penuh galaba

: Baratayudha

dalam kecamuk sawala sesama wangsa

ibu tak akan menakar siapa salah

siapa benar. darah yang tumpah, bukan milik siapa-siapa

setiap darah yang menetes, adalah darah ibu juga, anak-anakku!

adalah Basukarna, ksatria malang sejak dilahirkan

dilahirkan sebagai akibat mantra Adityarhedaya pemberian Duwarsa

tetapi kehamilan adalah aib

maka ibu melarungnya di Gangga yang murung

lalu kutukan demi kutukan, dari seorang Brahmana,

Parasurama hingga Mahaguru Drona

sebelum akhirnya Pasopati Janaka merenggut

hidupnya. dan kesedihan, tak akan bagai katak yang menyanyi riang

di musim penghujan

dan duka ibu mana lagi yang kau dustakan selain

dari kematian seorang anak yang digalang saudara sendiri?

setiap ibu hanya melahirkan kesucian

tak seorang pun bisa lebih memahami

yang dirasakan ibu, selain ibu sendiri

bahkan dewa-dewa

juga Kresna, sang penjaga takdir itu

ibu tetap berduka atas kematian Basukarna

betapapun mencoba

derana

Surakarta, Februari 2022


Y Agusta Akhir, tinggal di Solo. Pernah belajar di Institut Seni (ISI) Surakarta. Menyukai dunia literasi. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Karyanya tersebar di media lokal maupun nasional, serta media online.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *