Puisi

Puisi Listio Wulan Nurmutaqin

Peta Yang Terhapus

                        :  Dari anak-anak Palestina

1/

Telah terhimpun berpuluh tahun

Luka belum cukup

                            Membebaskan

                             Mengikat mimpi-mimpi

                                Masa kecil kami

Debu membahasakan setiap bagian tubuh

                              Memanjangkan retaknya

Pada tulang-belulang

Berserak sepanjang jalan

                             Setelah kami diburu

                              Dirajam peluru 

Maut tertawa berloncat

                             Kegirangan

Dari satu puing runtuhan

Ke reruntuhan lain

                               Sambil terus berteriak

Pergilah dengan bara api ditangan!

Kemanakah kami harus pergi?

2/

Di sini, kami menggambar sebuah peta

                         Yang dicetak

                          Dari darah dan sejarah

Dada-dada rompal meletuskan

Serpihan tajam cahaya kata-kata

                              Menjelma rajah berisi

                            Dosa-dosa

                             Yang tak pernah kami buat

Di bawah matahari yang mekar

Rumah serta sekolah kami

                          Dibom dan dibakar

                          Langit penuh kembang api

Siang dan malam

Jam demi jam        

                      Kaki-kaki musuh

                      Menginjak leher dan jantung

                       Memotong pena dan jari-jari

Tapi kami akan terus menulis

                Dari darah dan sejarah

Menggambarkan rumah ke dalam sebuah peta

Barangkali, rumah adalah denah yang terhapus

Hancur terbawa angin sekejap embus

Mungkikah masih ada tanah yang bisa kami tinggali?

Selain dinding-dinding penuh lubang di sini?

2023


TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS DI SINI

Senin datang tergesa-gesa

Lembur tak pernah alpa

Kerja, kerja, kerja

Kenyataan menampar

Beraduk di kepala, pecah berpendar

Pagi ini Jakarta biasa-biasa saja di antara segala keruwetan

Serta permohonan cuti yang diabaikan

Atau teror bos menjelang deadline kerjaan

Atau teman yang ngajak nongkrong tiap akhir pekan

Atau beli iphone terbaru meski dengan cicilan

Atau hasrat hidup dengan cara fancy di kos-kosan

Sama dengan berhemat gila-gilaan

Bawa bekal telor dadar atau lanjut mi instan

Tidak ada perayaan

Tidak ada makan siang gratis di sini

Segalanya begitu pelik dan naik

Hanya sisa remah-remah impian

Di negara yang enjoy rebahan

2024


DAFTAR BELANJA

Di pasar, mimpi adalah daftar belanja

Terselip di kantong plastik hitam

Labu,wortel dan beberapa sayur pucat

Seperti cemas menyaru sekilo cabai rawit

Yang sering cilukba tiba-tiba

Hidup terasa lebih perih dari merica

Mengingat daftar lain yang tak boleh terlewat

Beli susu formula, bayar cicilan rumah, arisan tiap bulan

Selalu alpa disubsidi

—nyeri inflasi di dada

Berbagai toko mimpi berjejer sepanjang jalan,

Para penjual membawa papan harga dengan huruf besar-besar:

Hanya untuk hari ini

Kau mengantre paling pagi untuk membeli kebahagiaan

Dan kesehatan dengan harga paling

Mahal, agar tak kadaluarsa sepanjang zaman

Setengah kilo harapan dan beberapa ikat kepastian

Sudah diskon habis-habisan, kau tahu: ada harga lain yang harus dibayar untuk sebuah kepastian

2024


MENCICIPI PUISI (1)

Setelah menyantap kesepian

Yang menyedihkan

Mencecap pedasnya hidup

Asin kangen dan gurih kenangan

Kau bepikir untuk memasak banyak puisi

Dengan banyak bahan

Majas -majas segar berwarna cerah

Diksi dan irama 

Yang diolah sepenuh hati

Dicampur bumbu-bumbu kemungkinan

Membuat puisi kadang terlalu manis dan matang

Atau masih amis serupa kecemasan

Puisi tetaplah hidangan terbaik

Yang ingin kau berikan

Dengan banyak rasa dan tafsir

Meski kau sadar

Baginya puisi seperti basi dan hambar

Cintamu telah siap saji

Bekasi, 2023


MENCICIPI PUISI (2)

Puisi adalah santapan 

Diksi-diksi kutumis

Di wajan perenungan yang lama

Dapur sedang membakar dirinya

Frasa-frasa matang dikupas kata

Bekas-bekas ingatan yang dilalui

Patah hati, mimpi-mimpi atau kecewa

-Bercampur

Menjadi santapan sedikit asin atau pedas

Kering atau berkuah

Biarkan kenangan menentukan rasanya

Bekasi, 2023


Listio Wulan Nurmutaqin. Kelahiran Brebes yang kini tinggal di Bekasi. Beberapa karyanya terbit di media cetak dan online. Buku puisi antalogi tunggalnya Tokoh Utama (sastranomina). Bergiat di Kelas puisi Bekasi ( KPB ).

Puisi

Puisi Ilham Wahyudi

Duka Lara

Sekiranya ia datang berkunjung

Segera palingkan wajah ke Magribi

Merah suram gelap lakunya itu

Tak elok memaksa kau layuh

Meski boleh jadi limpahan airnya

Obat percuma bagi luluh lantak rimba raya

Ia hakikatnya pandai menjadi petunjuk

Hadiah yang menawan guna perjalanan

Walakin tetap saja kau harus awas

Bilamana muncul serentak berduyun-duyun

Mengurung kau yang lengah rayuan Lilith

Agar semua yang telah pecah-robek

Tak sempat kau jahit lurus kembali

Akasia 11CT


Tirai

Tirai yang terbengkil-bengkil susah payah kau singkap itu senyata luas terpampang di hadapanku. Meskipun belum sepenuhnya terang kumasuki. Akan tetapi hitam putih yang terhampar di sana halus-halus mekar dalam liat merahku. Tentu saja merah yang bebal-teruk dan bukan main litak pada suluk pencariannya. Bagiku, menjadi salik (serupa kau) patut mengajuk jalan yang kau pajang melintang lepang. Karena itu janganlah cemeeh yang kau tonjolkan, sehingga esok kiranya tumbuh menjulang tiada antara kita yang perlu bertukar belas kasihan.

Akasia 11CT


Hijau

Terberkatilah ibumu telur mata sapi pagi; dan ayahmu luas langit tengah hari. Sampai bentala semata indah oleh halus-tebal budi pekerti; indra kami segar-bugar memandangi.

Dari rambutmu yang mahir menyaru, tahukah kau kami belajar mendirikan rencana (kami simpan yang patut dan kami bagi yang layak dibagi). Agar kelak apa yang belum kami maklumi, mudah percuma kami siasati.

Akan tetapi, (oh daging tak tahu diri) terlampau loba kami mencuri perangaimu tinggi agung tak berperi; namun senyata tak putus terus memberi. Sehingga semua rencana tentang akal budi, sekejap tunggang langgang angkat kaki.  

Maka baris-berbaris kami ingin menakluki; semua yang telah sempurna kau masuki. Seraya diam-diam, kami tebas pula urat leher anak-cucumu yang kokoh berdiri (menahan laju limpahan bah).

Sungguh, betapa hijau kini tubuh kami sekadar mahfum cintamu tak kunjung habis menepi. Oleh karena itu, kutuk saja kami segera! Sebelum hijau budi pekerti tandas merasai jatuh ke bumi.

Akasia 11CT  


Kuning

Belerang, bambu, gersing, India, jagung, janur, jenar, kenari, kepodang, limau, loyang, madu, malam, pepaya, pandang semua senang semata mengenakan mantel mahardikamu. Kau acap pula kupergoki berbaring di antara roti sarapan pagi; kadang dalam piring warteg makan siang kami, pun begitu juga kau terampil mahir menyelinap ke Terang Bulan kami yang legit menggigit (lihat, betapa pelit kami berbagi, sedangkan kau tekun rajin memberi).

O, betapa papa kami, sampai-sampai alpa bila namamu pernah pula duduk mesra bersanding dengan moyang bangsa Huaxia yang maju sejahtera. Begitu pula sungai yang jenjang dari pegunungan Tibet tak kuasa menerima kau sebagai nama. Kekallah; abadilah meski riwayatmu tak selalu terbaca mata. Kaukah cahaya yang menjelma terang siang, atau sebatas ilusi pantulan, belaka? 

Akasia 11CT


Merah

Umpama jantung jelita tertawan gelisah

susah payah menanggung derita rindu,

seperti gaun terang wong cilik di pemerintah

tak cukup buas menjaga amanat rakyat

ibarat selimut orok dalam kantung darah

licinlah; lancarlah jalan melewati liang,

serupa tandik lombok Jawa di lidah

amboi; keringat dingin jua nan mengalir,

(tapi bukan jerawat; bukan pula kecup puan,

walau mekar meriah kala tuan hadir bertandang) –

percayalah itu semata laksana,

misal belaka perihal jubah yang terang menyala,

memelompat bersembunyi dalam kata pun bahasa,

supaya terhalau duga sangka ke tepi jurang

tikai selisih yang tak berguna.

Akasia 11CT


Biru

kemari, datanglah segera laut

biar kucelupkan jari-jari pagi

ke alas tubuhmu yang semrawut

kesini, lekas cepatlah langit

agar kugenapkan putih sepi

menjadi corak terang menggigit

tapi, baik-baiklah memantul

supaya lapang-lempang jisimmu

mudah percuma nubuat menukilkan

selendang rambutmu molek di bait puisi

Akasia 11CT


Putih

Jika hatimu semerah apel di kebun Tuan sukacita. Maka putih hatiku laksana awan selepas hujan sore di gubuk duka lara. Kata orang, hati yang merah tampak memesona. Sehingga segenap yang kering pucat betapa kukuh-ingin tampil menyentak. Namun bila kekasih adalah tujuan, maka yang putih akan selalu rela berkorban. Serupa laron terbang menuju pijar terang; biarlah mati asal wajahnya terang terlihat.

Akasia 11CT


Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Puisi-puisinya ada yang ditolak redaksi ada yang dimuat redaksi. Buku kumpulan puisinya “Pertanyaan yang Menyelinap” akan segera terbit.

Puisi

Puis M.Z. Billal

PAGI

Aku berbisik kepada arthur rimbaud ketika

melihat keluarga kecil – tetanggaku – bertengkar lagi

pukul setengah tujuh pagi di beranda. gadis kembar mereka yang baru

belajar berjalan masih sebagai saksi. takut, sendu, dan tidak tahu.

pasangan itu saling menuding; ingin bercerai tepat ketika

angin menggugurkan daun angsana dan mengecup

kuntum-kuntum marigold yang hendak mekar.

mereka baru berhenti saling memaki dan ambil langkah menjauh

ketika aku pura-pura tidak melihat peperangan itu.

terakhir si wanita meneriaki suaminya: aku tidak butuh cintamu lagi!

“cinta adalah kebiasaan, arthur. dan kebiasaan itu tampaknya sudah berakhir di sana.”

2023


JELANG TENGAH HARI; 10.40

Dari jendela lantai 3 perpustakaan ini, aku melihatnya

lagi. jalan sudirman selalu sejuk dipandang. pepohonan seperti

raksasa penjaga. dan langkah kakinya mengirimkan getaran

lembut sampai ke dalam dadaku. empat jam perjalanan sampai ke sini.

aku memasuki semusim di neraka. lalu ia duduk, tersenyum dan membacakan

sepotong puisi asing tiba-tiba di hadapanku.

You  who have suffered, find where love hides.

Give. Share. Lose. Lest we all die unbloomed.

aku tahu ia mencuri Ginsberg. langsung tertawa cekikikan, seperti biasa.

“otakmu adalah perpustakaan. aku penasaran buku apa yang belum selesai kau baca?”

aku tak bisa mengatakannya; bahwa kau adalah buku favoritku yang belum tuntas.

kau halaman-halaman yang tidak bisa kutinggal begitu saja. aku ingin

sukarela terperangkap di dalam ceritamu, selagi ada waktu.

dan saat kau beranjak mengambil buku di rak, aku berbisik lagi

kepada arthur rimbaud.

“cinta adalah deretan buku di rak perpustakaan umum, arthur. dan di sini dua penulis sedang kasmaran.”

2023


MATAHARI PERLAHAN CONDONG KE BARAT

Aku berbisik lagi kepada arthur rimbaud. kali ini sangat serius.

tiga hal penting telah terjadi di sini. dalam waktu berurutan.

pertama, aku melihat bocah pemulung memberikan sebungkus nasi

kepada sepasang manula difabel yang saling setia; si wanita

bisu dan tuli sementara si pria hanya memiliki kaki kiri.

itu terjadi tepat di depan sebuah resto yang menjual makanan asing

lalu seorang pelayan bertampang sinis menyuruh mereka pergi.

kedua, aku melihat jalan kota berubah jadi buntu.

ratusan mahasiswa berarak seperti semut marah

menuju gedung pemerintah daerah sambil berteriak.

api yang membakar ban adalah amuk bisu yang melahap

segalanya. lalu kudengar salah seorang anak muda membaca

sebuah puisi milik Zawawi dengan lantang,

Dubur ayam yang mengeluarkan telur,

lebih mulia dari mulut intelektual yang menjanjikan telur.

ketiga, aku melihat warga pinggiran kota sedang mengamuk

pada sepasang muda mudi  usai tertangkap basah

bercinta di dalam semak dekat rumah ibadah. mereka

tak berkutik. nafsunya tak tersulut lagi seperti sebelumnya.

dan seorang dari mereka berkata keras sambil meludah:

kalau saling cinta jangan membakar diri di sini!

aku paham maksudnya

“cinta mengajarkan kebajikan dan rasa malu, arthur. ia kuat sekali menanggung segala jenis rasa sakit.”

2023


THE BEATLES, WAKTU PETANG

kudengar ia bersenandung; don’t need to be alone

no need to be alone. it’s real love, it’s real… yes, it’s real love, it’s real…

tapi tidak menatapku. lampu-lampu di sepanjang jalan

senja mencumbu matanya yang sipit. aku suka terbenam

di sana. kota ini akan jadi suvenir. tapi ketahuilah, arthur.

ini tidak baik. ini benar-benar tidak baik.

aku akan mengatakan untuk terakhir kali padanya.

“aku sudah sampai pada bagian akhir puisi. ia adalah bagian akhir puisi.”

barangkali kota ini akan gelap. hatiku akan gelap. jiwanya akan gelap.

2023


TOMBOL OFF – DI JALAN PULANG

aku berbisik lagi;

“cinta tidak konservatif, arthur. hidupku yang terikat adat. etnis ini mengalir di tubuhku.”

lalu kutekan tombol off di tubuh arthur rimbaud; alat perekam suaraku yang puitis dan setia.

mungkin tak akan pernah kunyalakan lagi.

2023


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital serta sejumlah antologi nasional.

Puisi

Puisi Hamzah

Desimal

Mula dari nol
hitung berulang
setelah sembilan
sepuluh jari-jemari
meletakkan zaman
berbuku-buku
berbilang negara
atau res publica
diukur tonggak
satu, dua, tiga.

Sembilan, sepuluh depa
dan usia diejanya
jiwa-jiwa dijatah,
disiapkan; ditentukan.

Karanganyar, 2022


Jenaka

Kembang hijau begitu bungah
nalarnya menjalar beriring angin
bersetelan mahkota, kasut, topeng, dan galah
berseru, “wahai berdiang di angan dan ingin!”

Karanganyar, 2022

Sibak

Mulanya hela nafas begitu jernih.
Kristal-kristal es berhembus
Angin Utara dan Udara Dingin
lembah di sela-sela lereng.
Dibawanya tarikan nafas masa,
waktu, dan musim bersampir
biji-biji disemai oleh ratu
di bawah pertiwi dan tanahnya.
Harusnya desah nafas dihela
kusir-kusir berkumis salju
mengantar gugur dan semi
anak-anak tahun. Diseretnya
dua hingga empat perumpamaan
musim dengan mata panah pada
belikat bernafas setengah terengah,

Angin adalah bedebah
kembar dari waktu.”

Karanganyar, 2022


Kelelahan

Pukul delapan pagi, dia bawa sebuntal mimpi ke kamar mandi,
mimpi-mimpi itu menyisakan kantung matanya, dunia begitu mudah
dihadapi oleh sabun, sampo, pasta gigi, dan conditioner. Begitu dibilas,
luruhlah mimpi-mimpi dan tirai dahinya dibuka oleh air dingin
menjerang harap-harap kucing tersisa dari kantuknya semalam.

Saking marahnya dia, hilangnya satu buntal itu menukar limpitan
bibir terkulum berhias jigong berengut tajam
berseling umpat-umpatan, bahwa:
dia harus memanaskan motornya,                   matahari belum tinggi benar
orang dan mesin yang berkejaran,                   serta alasan agar nyawa bulan itu
tetap utuh.

Dihadapinya layar, mesin, layar, mesin, layar
dengan mesin ia berlayar mengubah nasibnya
agar tidak dijera angan-angan, katanya.
Pukul lima sore, badannya bergetah.
Di tengah mesin dan manusia,
dia melihat mataharinya terbenam.

Karanganyar, 2022


Lob

Empat sudut bingkai kamera,
kehidupan ada dalam kolong lapar
tempat-tempat tercerabut
oleh perasaan lupa. Dinas adalah
wilayahnya luput, luas di mana lepra
meratu lela.

Karanganyar, 2022


Hamzah lebih suka menyebut dirinya bermatra jamak seperti larik Walt Whitman. Poliglot yang beraspirasi menjadi polimatis ini dapat ditemui di https://hamzah.id/

Puisi

Puisi Gandhang Kandhiridho

Tujuh Fragmen Penghabisan

1.

pada sebuah jalan tersembunyi

akhirnya kau temukan

dirimu yang sempat hilang

jalan yang mengarah ke tempat

dengan pintu yang terbuka

untuk kau masuki

tempat yang berisi percakapan-percakapan

silam yang berdebu untuk ditelusuri

kini menemukan kepingan utuh

kepingan wajah yang merekah

muncul terangkai satu persatu

peristiwa demi peristiwa menyembul

ke permukaan

dan kepekatan mulai terurai warnanya

sementara ruang kosong

tadinya penuh tanda tanya

kini kembali terisi

sekalipun itu tak cukup kuat

kalahkanmu dari rasa sunyi.

2024

2.

perlahan kepalaku mulai melupakan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama bercokol menghantuiku sepanjang malam dalam beberapa tahun belakangan ini.

aku tidak tahu ini gejala apa.

kata sebagian orang, ini pertanda baik, sekaligus dalam waktu bersamaan bisa jadi adalah pertanda buruk.

itu kata mereka, atau lebih tepatnya, konon.

namun satu hal, aku, tetap seperti biasa.

tidak merasa baik atau sebaliknya.

yang terjadi justru sikap apatisku atas sekelilingku, bahkan untuk diri sendiri semakin menjadi-jadi.

kupikir orang-orang akan melihat dengan kacamata tersebut.

tapi setelah kupikir-pikir lagi ini sama saja menyimpulkan secara konyol akan hal remeh-temeh.

maksudku, aku tidak perlu lagi menggubris anggapan mereka akan ini.

termasuk apa yang mereka sematkan padaku.

bisa dibilang, dalam derajat tertentu aku cenderung sepakat pada yang terakhir.

lucu, bukan?

dan menurutku ini sangat lucu.

aku lebih suka disebut seseorang yang lucu, atau orang yang suka melucu.

hanya saja tidak untuk orang lain.

2023

3.

terkadang aku merasa seperti seorang yang gemar menulis puisi panjang-panjang kepada kekasihnya.

namun ujung-ujungnya kalimat yang tertulis tidak bisa dibaca sama sekali.

aku tidak mengerti kenapa aku menuliskannya.

sementara pilihan untuk menekan tombol “berhenti” sangat terbuka lebar di depan mata.

bahkan kadangkala aku seperti seorang yang gemar mencipta sajak-sajak pendek yang ujung-ujungnya hanya didengar sekilas untuk akhirnya lesap pada ruang kealpaan.

aku tidak tahu kenapa kalimat-kalimat pendek itu tercetus di kepalaku berulang-kali.

seakan hanya bisa berhenti setelah mataku terpejam dalam pelukan mimpi.

sedangkan bisa saja aku menekan tombol “cukup” yang sebetulnya hanya berjarak hitungan senti.

tapi entah kenapa aku merasa itu tidak perlu.

paling tidak untuk sementara waktu.

2023

4.

setelah percakapan terakhir itu

kau hanya berbicara pada dirimu sendiri

angin berembus dingin

bayangan tubuh yang pergi

ruangan yang gelap

menyelimutimu dari kekalahan

setiap orang pernah kehilangan, paling tidak

sekali dalam hidup mereka.

dan bagian terburuk dari episode itu

adalah mencari cermin yang sama

melalui cermin yang lain

meskipun telah retak.

2024

5.

tak ada apa-apa di sini

tak ada tawa renyah

tak ada wajah polos

tak ada cerita-cerita yang patut dibanggakan

tak ada apa-apa

bahkan jika mungkin ada

tak lebih dari selubung

itu pun makin memudar

sisa rahasia dirimu

jadi apalagi? pergilah!

aku telah habis gairah

kepalaku dipenuhi sejarah

berisi suara-suara darimu

yang menjelma asing di telingaku.

2024

6.

hargailah setiap momentum.

sebab ia hanya datang sekali seumur hidupmu:

perjalanan, peristiwa, pelajaran,

orang-orang baru, orang-orang lama,

yang asing dan yang dikenal.

dalam satu kilasan di sebuah tikungan jalan,

atau di emperan pertokoan karena terjebak hujan,

atau di sebuah antrian ruang tunggu yang terkadang membuat kita gusar.

meskipun sekejap, hargailah.

sebab itu semua akan menjelma kenangan di arsip laci ingatan kita.

2023

7.

kenangan tak pernah bergerak maju.

ia selalu berhenti di belakang sana.

hidup tidak menuntutmu membawa seluruh kenangan itu di sini.

ia hanya menyediakan setangkup ruang kecil yang sesekali bisa dijenguk sebentar

untuk kemudian sebagai penanda bahwa peristiwa itu telah berlalu.

2023


Gandhang Kandhiridho, lahir dan berdomisili di Surakarta. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi. Buku puisi yang sudah terbit; Rahim Waktu (2021) & Separuh Wajahku Bulan (2023).

Puisi

Puisi Tjahjono Widarmanto

Serenada Hitam

hari itu, orang-orang lupa tanggal berapa

mereka bernyanyi memanggil arwah-arwah

ketakutan berlari tersuruk-suruk mencari ceruk

pepohonan gemetar debu-debu bertuba

siapa bisa menggambarkan maut menyentuh pundak kanak-kanak?

seperti lilin-lilin redup menyala

menyanyikan happy birthday

lantas padam begitu saja

namun serenada-serenada hitam itu tetap saja kita lagukan

sambil membayangkan perjalanan tamasya ke kubur kelam

serenada hitam dinyanyikan, ikan-ikan menangis

burung-burung gagak memekik, sajak-sajak menggelepar

membayangkan wali-wali suci sembunyi di perut paus hitam

2023


Siapa yang Dimuliakan, Siapa yang Dilupa

            siapa yang dilupa?

Saat waktu berkelok begitu lembut dan syahdu melaju

dengan meneteskan peluh seperti tetes air mata duyung

keramat menyesali usia

menuju entah perbatasan mana

: disitulah mereka berbaring, mendelik dalam gelap

menangisi puisi-puisi meratapi bunyi.

tinggal doa samar yang gemetar

tersesat di wilayah senja kala.

siapa yang dimuliakan?

segala sunyi, segala yang luruh atau segala yang kembali ke subuh?

matahari sepanjang hari, bulan sepanjang awan

di jalanan masih terdengar raung klakson bersahutan

daun-daun rontok, ranting-ranting berpatahan, segala angin mendesing

: tak ada bilik lain, cuma sepetak ruang membeku dan keraskan

seluruh frase, bunyi dan kilat matamu.

menyerpih tanpa suara hanya desah

mendesiskan kenangan yang segera melapuk

dan putus di tengah-tengah bait sebelum sempat ditulis!

ini bukan akhir puisi sebab segala kata telah dipingit dan disingitkan

tak hanya di kitab-kitab wasiat nan keramat tapi juga disematkan di pusara-pusara

bahkan daun-daun di cecabang sudah menuliskannya sebagai penanda musim

puisi telah menjadi bayang-bayang raksasa menguntit siapa saja

yang melenggang atau bergegas

pun pada sumuk yang mengambang di udara

puisi tak lahir untuk mati namun berpikir untuk jalan kekal yang abai pada waktu

boleh saja semua tak peduli atau menumbuhkannya seperti pohon hayat

yang berbenih dan akarnya berurat ke pusar semesta dan runcing rantingnya

tempat hinggap burung-burung keagungan menyanyikan misteri zaman.

                                                                        Ngawi, maret 2023


Memoria  Desa

/1/

ingin kulihat kembali kisah-kisah lama berikut peta-petanya

tempat para brahmana dan petapa-petapa sakti menuliskan

coretan-coretan usang serupa relief pada dinding ingatan

di sinilah muasal sejarah ditafsir, dicatat, dan dirajut waktu dengan gemericik air sungai mengarus jauh menuju muara hati menjalar ke akar-akar pohon jati, berdenyut ke batang, dahan, ranting, hingga putik daun-daun melangitkan harapan lewat cericit emprit dan bekur dekukur merentang lantangkan doa-doa mumbul ke langit

/2/

: ah, peta-peta itu tak lagi bisa kubaca

seperti arus tak mungkin bakal kembali ke hilir

cuma sisa bekas ingatan, seperti lagu-lagu cengeng tempo dulu

memuja-muja rindu yang bergegas berlalu

kali-kali jernih tak lagi jadi rumah meditasi

tak akan ada lagi wali  menjagai gemericiknya

batang ranting pohon kaku sendiri menatap langit asing  dengan matahari lain.

tembang-tembang kinanti dan asmaradana dikubur bersama dalang-dalang silih berganti mati

kidung-kidung selawat dan barjanji telah dilipat lampu

: semua bagai tamu mencakapkan masa lalu

lantas berdiri satu-satu beranjak pergi tanpa melambai

apalagi bertukar cinderamata

/3/

kebekuan asing merongga di pelupuk mata dan ingatan

rembulan tak lagi menyimpan kemurnian

hutan-hutan tak lagi jadi pohon hayat

semua hanya milik masa silam

seperti aksara-aksara purba di primbon kuno.

Ngawi, 2023   


Hujan dengan Garis Putus-Putus

langkah tersaruk-saruk

kita tetap enggan menepi

dari hujan dengan garis putus-putus

sore terperangkap sabda-sabda gaib

milik para penyair penuh rindu kemarau

menghirup aroma apu di jalan-jalan mengabu

hujan tak reda-reda

kita tetap enggan menepi

dari hujan sore hari

terperangkap sabda-sabda

gaib para penyair mengerang pada kemarau

di sana kepedihan terus berulang

tercipta dari reruntuhan kota

seperti piatu tanpa

cinta

                                    2023


Sepanjang Malam Pintu Diketuk

sepanjang malam pintu diketuk

tamu-tamu asing membawa oleh-oleh

sekeranjang air mata

: inilah ranum untuk penanda mereka yang diabai waktu!

hujan tak lagi tumbuhkan benih yang disemai

di jarum arloji bau peluhmu bertik tok

meratap-ratap pada doa yang sia-sia

seperti perempuan renta tak berdaya

di depan jendela termangu memintal kalender

seperti menjahit luka menyambut dengus si maut

Nov, 2023  


Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April. Tulisannya berupa puisi, esai, artikel dan cerpen dipublikan berbagai media. Beberapa kali menerima penghargaan di bidang kesastraan, antara lain: Penghargaan Seniman dan Budayawan Berprestasi Jatim dari Pemprov. Jatim (2002), Sayembara Penulisan Buku pengayaan Tingkat Nasional dari perpusbuk (2003, 2007, 2010, 2016, 2017), Penghargaan Sutasoma, Kategori Guru Sastra Berdedikasi dari Balai bahasa Jatim (2013), Penghargaan Sastrawan Pendidik Tingkat Nasional dari Pusat Pembinaan bahasa (2013), Sayembara Buku Puisi Terbaik  Nasional versi HPI 2016, dll. Buku puisi terbarunya SULUK PANGRACUTAN dari KAMPUNG PARA ARWAH (2023), QASIDAH LANGIT, QASIDAH BUMI (2023) dan buku tunggal lainnya. Selain menulis juga pernah bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di  SMA 2 Ngawi.

Puisi

Puisi Agus Widiey

Surat yang Kehilangan Alamatnya

Maafkan kerinduanku, dik.

Bila kau harus kuberi tahu

Kota ini menyimpan kesunyianku,

Dan entah kesunyianmu jugakah?

Kini tinggal sisa-sisa kenangan.

Setelah jarak yang katanya hanya dapat diraba angan

Pelan-pelan menebas harapan demi harapan.

Atau barangkali masih ada,

Hal-hal lain yang berharga untuk kita jadikan alamat,

Agar kita bisa kembali pada keselamatan takdir

Meski masa lalu akan melahirkan banjir kerinduan

Dan masa depan menyimpan beragam kegelisahan.

Yogyakarta, 2023


Sebuah Bencana di Masa Lalu

     –Nabi Nuh AS

Telah ia tumpahkan banjir melebihi air mata perempuan

Yang bertahun-tahun menyimpan kesunyian juga kerinduan.

Bagi mereka yang bertuhan pada sosok berhala

Yang mereka cipta dan menganggapnya maha atas segala.

Tiba-tiba Nuh datang

Berbekal sebuah kapal

Dengan niat membawa

Mereka dari duka peristiwa.

“Bismillahi Majreha Wa Mursaha”

Tapi mereka yang mencari Tuhannya sendiri

Tanpa mengikuti catatan nabi,

Bahkan putranya yang bernama Kan’an

Hanyut diantara kesesatan

Karena menolak suatu ajaran

Yang telah dititahkan tuhan

Hingga akhirnya tenggelam

Dalam maut kesedihan.

Tuhan, apakah iman yang ilmiah

Masih kalah ketimbang yang alamiah?

Yogyakarta, 2023


Falsafah Waktu

Demi waktu yang tak pernah tertata dengan rapi

Aku menolak, bila ia hanya diukur dengan angka-angka

Sebab kerangka jam yang kita pandang

Dalam hidup nyaris tak akan pernah sama.

Misal kita berjalan di atas bumi Malioboro

Berbekal cinta dan rindu yang meluap di dada

Sungguh pertemuan adalah kebahagiaan tak terhingga

Bahkan mengutuk waktu yang terasa cepat berlalu

Apabila waktu harus menuntut kita jadi masalalu.

Sebaliknya, misal kita tak sengaja bertemu lagi di Vredeburg

Sebagai mantan kekasih yang saling memendam rasa dendam

Sungguh satu jam akan terasa seperti satu abad lamanya.

Maka, tak ada waktu yang menyimpan kebahagiaan

Kecuali napas kita sedang menghirup peristiwa istimewa

Juga tak ada waktu yang menyimpan malapetaka

Kecuali napas kita sedang menghembuskan peristiwa duka.

Yogyakarta, Desember, 2023


Selamat Membaca, Ibu

; Minatun

Minggu lalu puisiku dimuat

Orang-orang mengucapkan selamat

Tapi aku akan merasa lebih bahagia

Jika ibu jadi pembaca pertama.

Sering kali aku teringat

Pada kecerobohanku sendiri

Dan ibulah yang kerap mengajari

Agar memilih sesuatu dengan cermat.

–Sebagaimana ketika ibu membelikan baju

Dengan ukuran pas, dan sesuai warna kesukaanku–

Maka dari itu,

Aku belajar memilih kata

Dengan hemat dan cermat

Agar pengamat ikut merasa nikmat.

Selamat membaca, ibu

Kutulis puisi ini untukmu.

Yogyakarta, 2023


Falsafah Tuhan

Sebab mata  

Yang terlihat di hadapan kaca

Hanya mampu

Menatap yang ada di hadapanku.

Sedang hati

Yang nyaris tak kuketahui

Mampu menatap dan merasakan

Yang ada di luar nalar pikiran.

Mata yang di luar

Dekat cara ia menatap

Hati yang di dalam

Jauh cara ia menatap.

;begitulah cara kerja mata dan hati, kekasih.

Yogyakarta, 2024


Agus Widiey, Lahir di Sumenep, 17 Mei. Menulis Puisi, Cerpen, Cernak, Cermis, dan Resensi. Tulisannya tersebar di pelbagai media baik lokal maupun nasional. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pernah memenangkan lomba cipta puisi yang diselenggarakan Majelis Sastra Bandung (2021). Anggota di komunitas Damar Korong(Sumenep).

Puisi

Puisi Febriana Widyat Sari

Panggung

Babad, kiranya

percakapan yang tak kunjung usai

Babak demi babak

Berubah jadi cerita yang tak lagi kau bagi

Kita adalah tokoh utama

Panggung siap dibuka

Sorot lampu dipijarkan

Skenario dihayati

Bila saatnya tiba, tak bisa dihindari

Kisah, dirayakan

Runyam meruncingkan ingatan

Mengunci menyimpan kenangan

Simpati menjebak rasa

Kealpaan tiada dikira

Lupa, yang tak disengaja

Kesadaran,

Peredam angkara

Penawar luka

Panggung,

Arena kesadaran tiada tara

Menjalani karma, yang

tak pernah salah alamat

(Febriana – Solo, 19 Juni 2022)


Rumah

Aku adalah rumah

Tempatmu kembali

Pergilah ke manapun kau mau

Lalu pulanglah kepadaku

Aku adalah rumah

Kau boleh pergi ke mana kau mau

London, Paris, Itali

Tapi kau pulang padaku

Aku adalah rumah

Tempatmu berteduh

Dari cuaca yang mendera

Bernaunglah padaku

Aku adalah rumah

Kau boleh bersuka di manapun kau mau

Tetapi jika kau berduka

Pulanglah kepadaku

(Febriana – Solo, 25 Juni 2022)


Lebam Ruam

Lebam..ruam..

Berteman nyamuk-nyamuk

Jalan sunyi yang ditapaki

Berkelok ke sana ke mari

Terombang-ambingkan angin

Nasib adalah kepastian

Dewasa di sebuah ruang waktu

Tahun-tahun hidup dalam bahaya

Penguasa adalah Tuhan

Membiarkan hidup segelintir manusia

Berkuasa atas hilangnya banyak nyawa

Menjadikan mereka jiwa-jiwa yang berkelana

Tahukah kau, jiwa yang malang

Bintang bersinar dalam kegelapan

Masa gelap itu kau hiasi

Dengan jiwa-jiwamu yang terus hidup

Meski ragamu dibinasakan

Jiwamu ada dalam pelangi selepas hujan

Kelembutan sinar mentari

di setiap pagi yang damai dari semesta

Tanpa rekayasa perusuh kemanusiaan

Kau adalah nyanyian indah

Tak tertandingi dari burung-burung mockingbird

(Febriana – Solo, 5 Juli 2022)


Musisi Kekal

Masa depan, tak tertulis

Ucapan dari jiwamu,

Bebas bak burung terbang

Di birunya awan-awan

Bersama para dewa

pecinta suara-suara

Pemuja lema-lema

Aku pemujamu

Pun dia dan mereka

Tapi kau di mana

Menghilang seperti udara

Menguap

Aku menghirupmu

Kau hidup dalam alam pikirku

Dia dan mereka

Aku mendengar sendu teriakmu

Kau pergi berkeliling semesta

Pesanmu kau kan menciumi harum

Makhluk-makhluk jelita

Tapi aku di mana diantara kunang-kunang

Kau mau berdansa semalaman

Kau mau lihat gemerlap kota-kota

Tapi, Joe

Kau petik gitarmu

Sendu rindu menggebu

Lakukan apapun dalam keterbatasan

Lalu kau niatkan

Mohon ampun pada semesta seru sekalian alam

Mengabdi pada Nya selamanya

(Febriana – Solo, 31 Oktober 2022)


Residu Rasa

Cipta menginisiasi temu

Temu dua jiwa yang tersesat

Tersesat di tengah rimba beton

Beton menggiring raga-raga berlarian

Berlarian kian kemari menjemput asa

Asa yang terukir atas sensasi-sensasi menggelora

Karsa meminang kisah

Kisah potongan warna-warna

Warna terpulas polesan kuas

Kuas menggores garis-garis

Garis berbaris-baris dalam pucat malis

Rasa mengembang kuasa

Kuasa menari silih berganti

Berganti jiwa dan raga

Raga mengecapi ampas terhempas

Terhempas diantara buih gelombang

Gelombang menggulung residu rasa

(Febriana – Solo, 21 November 2022)


Febriana Widyat Sari, kelahiran Surakarta, Jawa Tengah tahun 1983. Menamatkan pendidikan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa (UNS) dan Ilmu Hukum (Unisri). Seorang ibu satu anak. Sedang aktif menulis ‘gig report’ musik-musik arus pinggir untuk feedbackzine.blogspot.com.

Puisi

Puisi Ian Hasan

Menara Api

aku pernah bersumpah

atas darah jalang si Dursasana

bara api yang telanjur menyala

menanam nyeri di rahim luka

sejak kehormatanku dipertaruhkan

dan kebenaran berdiri bungkam

di mulut para ksatria

wahai Sang Guru Drona

akulah Pancali yang tercipta dari api yadnya

wahai Bhisma yang Agung

akulah Parsati, sendi kehormatan yang kau usung

wahai para ksatria luhur Dinasti Kuru

adakah hak kalian merestui pertaruhan atasku?

kebenaran hanya omong kosong

dan melaksanakannya bukan lagi darma

karena kebungkaman telah menjelma iblis

yang menelanjangi kepalsuan kalian

seraya kontan memakan korban

orang kalah sepertiku

jika perempuan selalu menjadi tumbal

dan kesuciannya gampang disingkap paksa

adakah lelaki yang bisa dipercaya?

selamanya akan kuingat

segenap penjuru Bharatawarsha adalah perebutan

dan kemenangan Arjuna melucuti kemerdekaan

agar kelima Pandawa bisa berkata,

“dia kini menjadi milik kami.”

selamanya tak pernah kulupa

Rajasuya adalah pesta muslihat para ksatria Kurawa

supaya terlindung di balik tirai darma

seraya tertawa di antara mereka,

“dia kini menjadi milik kita!”

maka izinkan kubangun menara ini

kelak berdiri di tengah padang Kurusetra

adakah sumpah ini kalian terima?

Karanganyar, 2023


Mantra Ulu-Ilir

kuikuti arah datangnya air

bening menyusuri hulu sungai

yang terjepit di antara dua tebing

kaki mendaki pundak bukit telanjang

yang ditanami kubis, wortel, sawi, dan kentang

seraya tampak berserakan di sana-sini

tumpukan botol bekas kemasan pestisida

dan jejak luka yang kerap menguap

dari wajah para petani tanpa dosa

penghujan datang

dan mata air adalah gadis perawan

yang ditinggal pergi kekasihnya

bumi telah mencatat silsilah ketamakan

yang tekun mengabadikan kabar kehilangan

cacing, humus, burung, serangga, ikan

batu logam amblas, gunung bukit dikepras

sedang sampah dan racun kian mengendap

di mimbar dan meja orang-orang beradab

kemarau datang

dan mata air adalah ingatan buram

yang menguning disengat penyesalan

rindu kali ini bermuara pagi

serupa hujan pertama disengat matahari

menguar bersama keharuman tanah basah

di halaman senja yang masih menyala

aromanya melambung di langit-langit

kepala dan sebagian darinya membatu

di ujung cangkul dan pena

Karanganyar, 2023


Selawat Bumi

riwayatmu adalah ibu

yang kini terbaring murung

dengan tangan menggenggam zikir

dan senja mengapung di bola mata

maka kesetiaan menasehatiku tentang akhir

satu bait puisi yang luluh lantak akibat kelalaian

penutur kata membubuhkan tanda baca

kelangkaan air

kekacauan musim

kerusakan genetik

kemandulan fertil

kepunahan spesies

kelanjutan hidup

aku butuh separuh lembaran langit

untuk menghapus garis ajalmu

setelah kurendam terlebih dulu dalam bejana

berisi ramuan limabelas macam bumbu:

luka, tangis, dendam, mimpi, sunyi, rasa, niat, laku,

hasrat, giat, cermat, gerak, cipta, karya, dan iman,

serta pada seduhan terakhir

—setetes nyali kutambahkan

sebelum kiamat benar-benar menjemput

di hari keberangkatan kata sekarat

aku tetap berkhidmat pada kesembuhan

dan berharap kekuatan seorang diri

mendapati sekawanan burung kenari

menumpahkan rindu yang menghijau,

menyiramkan kasih yang membiru

melukis harmoni serupa pelangi

dan kasih manusia terajut sebagai  helai kapas

selembut udara memenuhi rongga dada

—setiap makhluk ciptaan-Nya

karena tuhan mengangkat khalifah

bukan sebagai izin untuk menjarah

menghancurkan atau sekadar mengambil

tanpa memberi imbal balik yang adil

Karanganyar, 2023


Kado Pengantin

: Rasih M. Hilmy

andai putaran waktu terhenti di awal lembaran baru

nyatanya ia masih bergerak di luar sana melawan beku

air sungai mengalir ke hilir, dedaunan menua lalu gugur

awan-awan pun sedia bergilir, butiran hujan setia bertabur

sebab kini kau bukan lagi seorang diri, tapi berdua

merayakan takdir demi segenggam bahagia

seiring sejalan kalian saling menerima

semua kenyataan apa pun adanya

“denganmu, kesialan macam apa

yang membuat derita?”

tandasmu padanya

jika tahun ini kita ibaratkan jam di dinding kamar

pada angka dua belas, sepasang jarum terhenti sebentar

setelah melewati satu episode petualangan gamang

detik ini adalah kenyataan yang berumur panjang

dan semoga inilah pengadilan suci, ganjaran

atas kebebalan yang direstui semesta raya

puisi yang kalian terima tanpa pilihan

hanya kasih sayang, tiada penyesalan

“tanpamu, keindahan macam apa

yang bisa kunikmati?”

tegasmu padanya

aku menyaksikan langit tergelar di dadamu

dengan putik dan tunas yang segera saja bersemi

pada satu pagi yang terbit dari sepasang mata istrimu

mutiara berwarna biru, perak, kelabu, jingga, dan ungu

adalah jenis-jenis musim yang kini kau himpun

setulus mungkin tanpa kehendak melawan kepastian

dan seketika itu pula kutahu, kau telah menyerah

untuk hidup merawat puisi yang kau sebut rumahmu

Karanganyar, 2023


Menjala Angin

kita telah lama belajar terbang

membuntuti angin dari negeri tanpa musim

lesap tanah dan air diserobot maling

dan kota-kota di permulaan pagi,

melahirkan anak-anak yang tumbuh dari tumpukan sampah

masa depan berpinak dari rahim hologram ladah

arus tinggi informasi

laju kemajuan teknologi

pesat kembangnya industri

dan waktu adalah panggung perayaan

senjakala kemenangan

mimpi-mimpi di meja makan,

tak peduli gizi dihidangkan setengah matang

menimbun racun yang bersekutu dengan penawarnya

layanan medis ahli

kemujaraban farmasi

kepastian polis asuransi

dan rumahsakit-rumahsakit makin subur

ragam penyakit menjamur

kita agaknya terbiasa patuh dan tabah

menirukan kegilaan dinding-dinding sekolah

kalut menghafal larik mantra dan rajah

kita pun sejatinya kerap lalai menghitung

jala angin yang ditinggalkan sayap burung-burung

dan langit lebih murung ketimbang resah gunung

Karanganyar, 2023


Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022. Penulis dapat disapa memalui akun instagram @ian_hasan

Puisi

Puisi Ilham Nuryadi Akbar

Merapal Getir Masa Lalu

[Aceh-26 Desember 2004]

di tanah kami

geladir palagan belum kering

dan suara rentetan api adalah memar

yang pecah dalam memori.

mata kami bersaksi, ihwal dosa-dosa

kerap menandak melewati betis kami

hingga dua pena yang dicangking Raqib-Atid

tampak patah

lantaran pundak kami bergoyang

sepanjang musim menghindari peluru.

di atas rumah-rumah nestapa

kami persilakan desir angin

membawa murka ke rahim laut

meminta peran malaikat maut;

yang memberi kematian

pada minggu paling tenang.

hari itu, Tuhan menyuguh kafan ke punggung lautan

debur ombak mengantar seribu cawan air mata

ikan-ikan yang kerap bersengkela di jala para nelayan

berjatuhan dari langit berlumpur

memenuhi ladang yang kami garap

bumi yang kami huni

sebagai neraka kecil.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Tamsil Peradaban

usai Hawa memetik hukum Tuhan

bumi menjadi tempat bagi Adam

menebus dosa-dosa

dan menggumbuk roda nasib.

tapi kini,

bumi hanya lautan merah tak bertepi

dan anak-anak Adam

menjala perkara haram di atas perahu emas

mengantarkan tanah leluhur

rumah para dulur

ke dermaga penuh abu.

nanti, setelah tanggal-tanggal terpenggal

rahim bumi akan mengandung seribu catatan

dan kita akan berlomba

mengarungi pulau-pulau sastra

menerjang ombak-ombak lini masa

menganju ajang pamer

pada sesuatu yang ciri

dengan beberapa cara.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Mengadu Nasib

: 19 tahun berlalu

dan ratusan ribu jisim

adalah bangkai tak bernisan

ladang yang dipersilakan untuk kami menanam doa

memanen perpisahan

menanak rasa sakit.

sedang di hari yang bukan Ramadan

kami berpuasa atas kerinduan

memeluk orang-orang yang hingga sekarang

tak pernah lunas kami temui

melainkan sekubit tulang

kulit dan daging hitam

berkelindan syair-syair gamang.

seraya mengadu nasib

kami menabur doa-doa paling ranum

di atas pusara yang tak lagi wangi

alangkah rasa sakit yang banglas di dada kami

adalah air mata—yang selalu tumpah

namun entah ke jasad siapa!

Bekasi, 29 Januari 2024.


Dermaga Masa Depan

atas nama leluhur

kami menanam kebaikan di ladang syukur

menanak seribu doa di dapur

yang tak pernah merugi.

pun memantik nyala api—membakar nyali pada sumbu yang enggan padam

hingga pemikiran kami berkobar matang

tanpa tungku arang.

di tanah yang kami cintai ini

secangkir literasi terhidang sepanjang malam

dan kami bersumpah di dalam rumah yang sama

bahwa semangat kami enggan berbeda

meramu darah yang satu, bangsa yang satu, bahasa yang satu

menggisil perkara haram

yang sekali waktu

menjelma perkara hasai.

demi menulis peradaban

mendaras kehidupan

kami menatah perahu

mengantarkan generasi

ke dermaga masa depan

dan mengarungi

luasnya kebijaksanaan Tuhan.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Dua Kubu

sekali waktu

aku lihat geliat ibu

bersujud runcing kepada Tuhan

dan ibu bersaksi;

bahwa dirinya kerap buta

menyayangi darah daging

melebihi yang Mencipta.

di lain waktu

ayah menyergah ingatanku:

puisi tetang ibu selalu bermula dari tunggul pohon di hutan rimbun, Nak

kala desir angin menampar-nampar tubuhnya

ia berdansa penuh birahi

menyetubuhi jari-jemari di atas secarik kertas

sampai terkulai lemas, menggelinjang

mengandung benih-benih sastra

pecah sebagai bahasa

menjelma satu puisi.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Falsasah Seorang Ibu

ibu adalah cinta yang setiap kali hampir mati

direinkarnasi dengan doa-doa

sedang di dada anak piatu

merindukan ibu

adalah doa paling sakit.

kendati demikian

kebohongan ibu hanyalah jujur

yang dibungkam dalam waktu sementara

ibu berkata “silahkan berkelana”

meski aku tahu

bahwa kepulangan

adalah inginnya yang paling rahasia.

di tempat berbeda

aku menghitung hari-hari yang terkelupas

sembari mengingat masa kecil

yang dahulu:

ibu mencariku di antara adzan magrib

menyapih mataku di waktu subuh

menyulam nasibku yang masih setengah jadi.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Anasir Kehidupan

mengislah mawar

sebab suamimu yang bernama langit

takkan pulang membawa hujan

dan tubuhmu itu

begitu hasai

haus keadilan.

pun tanah di sekelilingmu

kian merengek

ingin memeluk basah paling berkelas

dari ceruk matamu yang gegas

untuk merekah

rindu bersudah.

kau pun tahu, mawar

bahwa hidup bukan tembikar

yang semakin dibakar

meraup tawar-menawar

dari tangan seorang pembeli.

hidup; hanya bangku sekolah kedua

yang di atasnya

kita duduk mengernyitkan dahi

mampus berpikir

kapan ujian ini berakhir?

Bekasi, 29 Januari 2024.


Ilham Nuryadi Akbar lahir di Banda Aceh dan saat ini sedang merantau di Kota Bekasi. Buku pertamanya diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau Di Matamu Hujan Di Mataku. Puisi dan cerpen dimuat pada beberapa media lokal dan nasional.