Puisi

Puisi Imam Khoironi

Fragmen Subuh

Ada dua gelap yang berdiri

di dekat tempat tidurmu

Mereka menunggumu bangun

Untuk mengentaskan rindu

Yang ditabur di sekeliling rumahmu

Sebongkah gelap melaju ke arah yang riuh

Meninggalkan rindu yang rapuh

Sebelum gemericik embun menetes

Di tanah basah tempat dibangkitkannya subuh

Kau akan membaca fragmen,

menguliti doa

dari sajak-sajak yang memanggilmu pulang

tak bisa kau temui ia

dalam buku-buku

tentang hari rindu diutus

Ada dua gelap, yang tidur

di dekat tempatmu berdiri

Mereka sedang menyiapkan

Fragmen-fragmen

Untuk kau baca dengan lirih

Sehingga rindu pulang

Ke pangkal petang

Bandar Lampung, November 2022


Kembara Malam

Aku seorang musafir

Pergi ke sudut malam yang layu

Dengan tubuh lunglai menghardik sunyi

Merapihkan kegelapan

Di ruang-ruang antara kau dan aku

Aku seorang musafir

Kembali menebar benih-benih

Di bawah pijakan kakimu

Menjelang pagi yang terhunjam gerimis

Mengosongkan suara-suara gaduh

di belakang mataku

Aku seorang musafir

Mengitari rindu di lekuk-lekuk waktu

Mengirim surat rahasia

Pada jam terakhir sebelum cahaya

Ke arah laut, ke tepi langit

Aku seorang musafir

Gelap aku tempuh menuju rumahmu

Adakah pulang paling rindu

bagi ruh dan jasad

Selain pada nuraniku

Bandar Lampung, November 2022


Antara Rindu dan Pulang Tidak Mengenal Batas

Aku memeram pagi

Hingga ia beranak pinak

Menjadi tumpukan jerami

Di bawah denting jam yang lirih

Dan memutar ke arah yang dianggap baik

Bagaimana dengan nasib cinta

Yang tertinggal di meja makan malam

Pada perbincangan lusuh itu

Kutebar pilu di bola mataku

Sepahit apa rindu, setelah lepas landas

Dari tubuhmu, kucium wangi dari ribuan

Mawar, sebelum ia mekar

Di kerut keningmu itu, kudaratkan api

Sebelum semuanya padam dan hangus

Hanya saja, subuh akan datang

Menjemputmu ke dalam luka yang sulit

Untuk diurai, sebab di batas itu

Kutaruh namamu, Safira

Tak ada sesiapa dapat menjamahnya

Kecuali jalan yang telah dibuat

Oleh doa-doaku

Bandar Lampung, November 2022


Tidak Ada Maya Hari Ini

Subuh tiba terlalu cepat

Alarm di ponsel masih pulas

Sketsa di mimpi liarmu

Masih berusaha membubarkan diri

Kalender membacakan agenda

Pukul 5 di timur cakrawala

Pagi membuka notifikasi di beranda

Tugas-tugas yang sudah tertunda

Saatnya berangkat kerja

Tidak ada maya hari ini

bayang-bayangmu telah melebur

di belakang hantu resesi

kita terlalu sering sarapan

dengan fyp tiktok

atau instastory

hingga lupa, ada realita yang harus kita hidupi

Tidak ada maya hari ini

kita akan menahan lapar dan haus

dari hidangan lezat di sosial media

kita akan mencoba merindukan

ributnya suasana di lorong “comment”

kita akan menyelami arus

yang lengang dan sunyi

sambil terus memandangi worksheet

atau menyeruput latte

Tidak ada maya hari ini

kita akan menyusuri diskusi

demi menjaga progresi

Bandar Lampung, 29 Oktober 2022


Seorang Milenial kepada Ibunya

Sore pergi begitu saja

sebelum aku sempat menyeruput senja

yang hilang memasuki lorong tanpa cahaya

di beranda rumah,

ada distorsi yang menyerang

dalam bilik-bilik kosong tanpa penjaga

di kepalaku

setelah lilin membakar diri sendiri

aku berbincang dengan Ibu

tentang pendar desa yang padam

dan jalanan bersuluh temaram

tak ada temerang selain cahya api

tak ada listrik selain bau minyak

peradaban kian maju bagi kami

semakin tak beradab bagi bumi

waktu menuju hilang

dan hidup ini semakin ricuh

apakah hanya kita

yang menyingkir dari semarak hari bumi?

kita yang selalu menidurkan daun-daun

dan mengemasi botol-botol

tidakkah pantas bagimu hadiah nobel?

Ibu, konon orang-orang kota

selalu mematikan lampu

satu jam dalam siklus kalender

untuk menghemat bumi

Bagaimana dengan kita,

yang tak bisa mengurai cahaya,

apakah ada pilar setrum di luar sana?

Bandar Lampung, 30 Oktober 2022


Imam Khoironi, lahir di desa Cintamulya 18 Februari. Masih mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Raden Intan Lampung. Tidak terlalu suka seafood dan durian. Penggemar mi ayam dan bakso garis keras ini suka nulis puisi, cerpen kadang-kadang juga esai. Buku puisinya berjudul Denting Jam Dinding (ada di tokopedia). Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai online dan cetak. Puisinya masuk dalam buku Negeri Rantau; Dari Negeri Poci 10 dan banyak antologi puisi lainnya. Ia bisa di-stalking di Facebook : Imam Imron Khoironi, Youtube channel: Imron Aksa, IG : @ronny.imam07 atau di www.duniakataimronaka.blogspot.com.

Puisi

Puisi Ahmad Radhitya Alam

Bianglala

Benar saja,

sekumpulan warna

pulang kampung

di selasela derai cemara

Di batas cakrawala, bias menjelma

            lingkaran roulette di mata penjudi

dan target operasi di mata polisi

Bianglala hilang

dalam hitungan menit

tanpa sempat mengatakan

pesan terakhirnya

Yogyakarta, 2022


Tubuh Waktu di Kota Maya

Di tubuh waktu aku memuai bersama udara kota

menyelisik masa tanpa tanda akan bersua

serupa rumah yang tak kunjung dihuni

kosong dan tak pernah terisi

Dengan seluruh perhitungan waktumu

kembalilah ke punggung masa

sebelum semua benar-benar maya

Di waktu yang makin batu

hidup hanya memupur bahasa

memendam isi hati dalam mulut teknologi

membungkus akal budi dalam wajah Instagram tivi

Dengan segenap wirid  yang dirapal ibu tanpa jeda

jadilah penerang di batas usia, luruh jadi suluh sederahana,

meski maktu memaksamu terus berpura-pura

maka sudahilah kemarau di kepala, kejahatan dunia maya,

lipatan dalam perkawanan masa, nyanyi bising di telinga,

keruh hati harta dunia, dan cintailah semua dengan

angan yang mengambang dalam perenungan

dari lautan taksa kita bermula

lalu hempas di ombak masa

tanpa sempat melepas kata-kata

lalu hilang dalam hitungan angka

Yogyakarta, 2023


Kasih Tak Santai

Dalam syair masa lalu

yang terkubur dalam madah sembilu

ayat peraduan telah mencipta

ritus khayali tentang requiem

yang dinyanyikan tanpa kata

Nada-nada dilantunkan

koda-koda didendangkan

doa nyaris hilang dari persembahan

cinta seakan menunggu ajal ditetapkan

Kuingat engkau, serupa kuingat syair

yang menyisakan titik nadir dalam

seonggok pasir, pongah, lalu mangkir

saat akan disisir, menyisakan tangis tanpa

mata berair, dan kenang yang terus

melekat hingga akhir

Di ujung hari

geram gusarmu mulai

keluar masuk kepala

tanpa kalimat sapa

Mencintaimu bukan soal

bagaimana cara bertahan

mencintaimu adalah seberapa

kuat merawat kehilangan

Yogyakarta, 2021-2023


Malam Tahun Baru

jika ada yang mencariku

aku tidak kemana-mana

aku di rumah

menumpahkan resah yang ruah

maaf.

sebab aku tak bisa menemanimu

merayakan pergantian tahun

ada yang lebih butuh ditemani

dalam riuh ramai kembang api

            tubuh sunyi

            diri sendiri

/2/

setelah sehari penuh

tubuh penuh peluh.

isi tenagamu dengan tidur

            sebab nanti malam perayaan syukur

sorak ramai retak-retak

nyanyi sunyi larik sajak

terdengar sampai ruang-ruang

kamar belakang

seperti biasanya

aku setia mendengar letus kembang api

            hanya dalam kamar

            sunyi geletar

Yogyakarta, 2022-2023


Merakit Cuaca

langit kota masih basah

oleh hujan air mata

yang dirakit dari luka-luka

menganga dan terbuka

lebih dari seharusnya

ikatan adalah musim dendam

yang kupendam dalam sekam

Yogyakarta, 2022


Lintasan Manusia Indonesia

dari ingatan yang pecah berserak

kaususun getas dasar yang retak:

cermin negara

dengan kota dan kata

dengan revolusi yang ledak berkali-kali

serak suara menebal dalam sejarah:

hari kita berserah

biar kita sokong di atas meja

kemana tubuh bangsa menuju berada

menginci tanah, merawat air

membeli percaya:

sila yang lima

Yogyakarta, 2023


Pancaroba Pekerja

di kering keringat menjelang jam istirahat

geletar cecar mengerak di kerah-kerah biru

menebal di kubang lara

bersanding dengan jajaran

gagasan berbalas culas

setiap lintasan waktu adalah

musim gugur untuk tubuh-tubuh suluh

“larilah ke kamar gelap”

melipat waktu yang lengang

macam harap yang kami tanggung

pada utopia menggunung

Yogyakarta, 2023



Ode Amuk Malam

sebelum ksatria mengasah dendam

biarkanlah tuba memeram ode untuk amuk malam

sedang lengking nyanyimu sendu melulu

meniup gebalau ringkik parau

di televisi kata-kata berubah menjadi senjata

saling menerkam tanpa aba-aba

menyusun sajak-sajak tanpa peduli rima

dan kebenaran telah mati dalam hitungan lima

Yogyakarta, 2023


‘65 Setelah Jakarta

Kami dibariskan di tengah jalan

Lalu disuruh jongkok dengan popor di pelipis kanan

aroma anyir menguar dari darah yang memancar

dari dada yang terkoyak lebar

setiap pagi tubuh-tubuh kaku rubuh

mengalir sepanjang Sungai Brantas

tanpa identitas

Blitar, 2022


Fatamorgana

Kita membenci dosa khalayak

Tapi berbuat dosa

lebih banyak

Yogyakarta, 2022


Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar dan sedang bergiat di Yogyakarta. Menulis puisi, fiksi, dan esai yang termuat di beberapa media. Bergiat di Bunker Collective Space dan Teater Terjal. Dapat dijumpai via Instagram: radhityaalam_

Puisi

Puisi Galuh Ayara

Noise Teatrikal

kau void

dan melankolik

setiap waktu aku menyaksikanmu merasakan sebuah dejavu

seakan aku berada di kursi paling depan

sebuah pertunjukan teater yang blur

lalu masa lalu dan masa depan saling membunuh

di dunia kita semua warna menyala seperti neon

sedang kau tidak

tubuhmu redup

seringkali kau tak dilihat

tapi aku selalu berusaha melihatmu dan

ingin berlama-lama menyaksikan segala keredupan itu

aku menyimpanmu

dalam sebuah memori yang kuat dan menyala

tapi

satu persatu peristiwa pergi dari kepalaku

dan kusaksikan teater itu ditutup

dengan penuh kecewa

aku tak mau beranjak dari kursi lalu–

kau kabur

tak meninggalkan pesan apapun bahkan sekelebat bayangan

2023


Buku Mewarnai

bayangkan maut memiliki warna merah muda

malaikat adalah makhluk yang buta warna

dan kau adalah buku dengan sampul kusut dan gelap

maut itu menyelinap ke lembar-lembar dirimu yang putih

kau menjadi buku yang merah muda

lalu engkau berubah menjadi sosok yang gembira luar biasa

tapi orang-orang malah berduka

kau dianggap tiada lalu

terlupa begitu saja

2023


Pengampunan

tubuhku terbelah-

belah jadi seribu

dalam warna hitam yang kental

mirip seperti gumpalan darah

lalu segalanya menjadi persis

masa lalu melintas;

suara bising merenggut segalanya

jadi rasa asing

tubuhku tabah

lenyap dalam

‘sleeping through my fingers’

lalu lahir lagi dari

sepasang tangan yang terbakar

pada sebuah pigura putih;

kosong

bagaimana bisa aku tak mengingkari realitas?

perjalanan menghadiahiku

wajah penuh lebam

tetapi di dunia ini

tidak ada perih yang terlalu sakit

bahkan jika kematian adalah pengampunan

maka bertahan hidup tetap keberuntungan

2023


Maleficent

suatu ketika ia pernah bilang,

‘ibu kamu cantik sekali. beri ia hadiah yang mekar.”

tapi ibuku tak suka bunga

ia suka nonton sirkus dan membiarkan lututnya gemetar setiap kali pertunjukan itu seakan mengingatkannya pada sebuah tragedi.

ia juga mengajarkanku bagaimana cara menikmati gelisah yang menjadi-jadi

“kapan ibu kamu ulang tahun?”

tidak pernah

2023


Setubuh Kesenangan

kepada teman saya; morgot kidder

kepulan-kepulan asap di kepalamu seumpama awan mendung abu atau hitam kelam

o betapa kau tidak perlu pedulikan bunyi-bunyi petir yang acap membuatmu duduk gemetar berpangku tangan di sudut tempat tidur

kau hitung hari ke depan dengan umur tubuhmu yang kian letih

apa yang kau butuh hari ini?

;adalah setubuh kesenangan,

aroma kopi robusta

sebatang rokok kretek, bunyi kampanye-kampanye busuk parade politik yang berputar di instagram

nikmati apa pun yang disediakan dunia

teman saya, morgot kidder

lupakan beban deritamu

kau adalah dewi bulan yang agung

yang sedang bersiap pergi ke langit

dengan seseorang yang sedang setia menunggu cerita-cerita kecilmu berikutnya.

2023


Galuh Ayara, penulis kelahiran Jawa Barat. Karyanya dimuat di berbagai media.

Puisi

Puisi A. Warits Rovi

KESENDIRIAN MESIN KETIK

aku melanjutkan hidup dengan paling sederhananya degup

sambil menikmati kesendirian—sepi terus menyayangi

dan pada setiap rongga tubuhku, anak laba-laba

tekun mengaji:

           mengaji dengan membaca setiap kerangka tulang

yang patah dan berdebu. bibirnya yang pucat pernah

berkali-kali menanyakan

sehelai kertas;

            kertas adalah kekasih masa laluku yang lebih

memilih printer untuk memasrahkan urusan hidup

dengan ukiran huruf-huruf;

                         huruf-huruf telah diperintah zaman

untuk meninggalkanku selamanya, dan tak boleh

interupsi kepada dunia, karena dalam langkah kemajuan

ada yang mesti ditinggalkan.

Rumah Filzaibel, 2023


LAPTOP SEDERHANA, IDE SEDERHANA, DAN

KESEDERHANAAN SEBENTUK SAJAK

1

suatu pagi yang ditinggal embun, laptop memintaku

menulis sajak dengan kedip mata kursor yang memelas

beberapa kali kucari gagasan, beberapa kali kutempuh

gugusan—yang ada hanya kekosongan yang mengakhiri

tatap mata titik di datar layar;

                                       layar dirambah jalan kepiting

yang menjepit rontoknya rambut bulan dan kuku patah

milik angin;

           angin yang mengitari kepalaku—saat diri terus berpikir

tentang sajak apa yang pantas ditulis, sedang di luar sana

sajak-sajak ditulis hanya untuk didustai.

2

dengan sapa rahasia, laptop lalu membisikkan sesuatu

“tulislah saja tentang aku, apa pun bentuknya,” suaranya

serak, gamang, dan gemetar, tiba samar

di lubang telinga:

                 telinga hanya bisa menerjemahkan suara

rontokan daun di halaman rumah tak berpenghuni, sebab

ia berkesimpulan bahwa sajak adalah kata lain dari sepi.

huruf-huruf pun kuketik, saling dekap di balik

tarian jari-jari;

            jari-jari yang sabar menyusun tubuh sajak sederhana,

sesederhana daun jatuh menyapa tanah, sesederhana ide yang

datang tiba-tiba tapi pergi dengan tergesa, sesederhana laptop

yang—diam-diam—mencintai jari-jari dengan sajak

yang tak menemukan kata-kata.

Sumenep, 2023


DUNIA VISUAL

dunia dilahirkan kembali ke dalam cahaya

bernama “maya”—si pesolek yang mahir menutupi sisi yang asli

dengan binar kembang putih, dan usianya kian panjang

setelah orang-orang menggulir

layar gawai:

          gawai dengan wajah berparam barang-barang diskon

yang digemari kaum adam dan hawa, barang sehelai bentang rambutnya

telah ia semir dengan harga-harga, lantas ia mahir memilih

gratis ongkir jasa ekspedisi:

                     jasa ekspedisi  yang rutin mengirim paket berisi

bigorafi dunia cahaya itu sendiri, yang terus menari-nari

tapi terus menyendiri.

Gapura, 2023


SELAMAT MALAM, INSTAGRAM

selamat malam, instagram; bulan warna asam

ceking mengerucut dalam foto unggahanmu

di bawahnya ada namaku yang kautulis

dengan warna lipstikmu;

                        lipstikmu adalah warna langit

dalam mimpi-mimpiku, dalam puisi-puisiku.

karena suatu waktu saat kuoles ke bibirku,

malam jadi pergi dan matahari datang sendiri

sebab pada warna lipstik itu

cintamu-cintaku telah setubuh.

Rumah Filzaibel, 2023


PETANI DUSUN BUNGDUWAK

ia menegur dirinya sendiri dengan

seutas cemeti yang memecut

punggung sapi:

                  sapi betina yang membagi tugas dengan si jantan

                  si jantan harus tangguh membaca medan tanah karapan

                  agar di seberang alam; moyang bisa bertepuk tangan

                  sedang si betina bertugas menarik tenggala, menanam isi dada ke

                  guritan tanah:

                               tanah masih berupa sajadah pada makna yang lain

                               agar kedaulatan terus bersembahyang

                               indah berdiri tak harus berduri

                               tapi berisi seperti padi;

                                                            padi yang merelakan bijinya kepada petani

                                                            dan merelakan daunnya kepada sapi

                                                            supaya sapi dan petani

                                                            sama-sama kuat menghadapi cemeti

                                                            cemeti hakiki dan cemeti majasi

                                                            yang dilecut pelaku kapitalisasi.

Rumah Filzaibel, 2023


A.Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah “Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki” (Basabasi, 2020), “Bertetangga Bulan” (Hyang Pustaka, 2022). Sedangkan buku puisinya yang berjudul “Ketika Kesunyian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela” memenangkan lomba buku puisi Pekan Literasi Bank Indonesia Purwokerto 2020. Ia aktif di Komunitas Damar Korong dan mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jl. Raya Batang-Batang PP. Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472.

Puisi

Puisi Faustina Hanna

Tuguran*

        sejam berlalu semenjak jurit waktu berpiuh bersama

                   keranjang dosa

                                         yang kumuh

/1/

dari kejauhan ada yang menanti;

pada jalur utama sepeda motorku: gapura-gapura teguh

penuh paru lampu. maka mulailah kuhitung teliti  

     −lembar per lembar

kerabat jauh langit merah telah lengkap. semestinya hanya

satu yang termuda akan terlambat melapor.

/2/

perlahan, begitu berhati-hati dan khidmat

induk-induk angin datang berkabar tentang sepenggal kidung

baru. mengapa ada yang sebegitu lembut dan mulia seperti cara

Bunda berbisik di sisi telingaku

/3/

sebelum tiba saatnya, izinkan kami terlebih dahulu kelola hati

berarak serupa larva iman yang mentah, lapar dan kian bergerak

hingga jarak;

bisa saja segala telaten ditanami menjadi sederet kebun jiwa

yang rapat. di sana akan banyak yang bersahutan mesra

tentang lesung usia yang menyimak secara santun setiap wadah

hingga ketukan,

terdengar jelas, bukan? aku, dia, dan sejatinya tentang setiap tubuh.

tak perlu tungku dipesan untuk memasak setiap nama yang

sulit teringat pada daftar panjang kekeliruan serta kesalahan.

sudi pandanglah ketika ranting yang geram itu bisa saja melubangi

beratus pasang mata kami (menuju lantas menggempur nurani

yang terkadang kerdil).

     tidak!

asalkan kami dieratkan oleh aroma dupa nan syahdu milik-Mu.

milik-Mu

yang kerap memulangkan kembara senja kepada kanak-kanaknya.

/4/

semenit lalu aku baru saja mengambil air suci, membuat

tanda salib, lalu biarkan rindu paling abadi yang kumiliki sejatinya

akan bermuara di dada. memperbarui tiap janji darah dan tulangku.

ya, persis hari itu di antara lebat temaram Kau bersabda agar kami

berbuah banyak.

     Tuhan…

kami sungguh ingin menjadi cinta yang bersahaja di dalam rumah-Mu.

/5/

pada altar suci;

induk-induk angin masih bercerita akan kasih mahasempurna dan

segenap anak-anak-Mu serupa gapura-gapura teguh penuh paru lampu

/6/

tiba saat bagi lilin-lilin mungil untuk segera dipadamkan. berilah waktu

sejenak, kepada baris cahaya untuk segera terkatup,

biar hening ini tercipta untuk-Mu. biar kami berdoa kemudian berjaga-jaga

bersama Engkau.

     “Berjaga-jagalah dan berdoalah,

     supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan:

     roh memang penurut, tetapi daging lemah.”**                       

5-6 April 2012-2022

* Tuguran adalah Ibadat dalam umat Katolik yang dilakukan setelah Misa

Kamis Putih Malam. Memiliki makna penting: umat akan berjaga-jaga

bersama Yesus Kristus dalam doa kepada Bapa-Nya di Taman Getsemani.

Umat berdoa bersama di hadapan Sakramen MahaKudus yang telah dipindahkan

dari Altar Utama. Untuk merenungkan wafat Kristus demi umat manusia,

keesokan harinya pada Jumat Agung.

** Injil Matius 26:41


Jantung Hati

− bagi ‘wajah Silentium’ yang dilukis oleh Adikku, Jefron (Viktorinus Dale Hikon)

#1

Maka merupalah bayanganku,

niscaya kau takkan berkhianat

kepada apa yang terjamah

dan terpangkas oleh

cahaya

sepanjang tubuhku.

#2

Terima kasih.

Telah bersedia menjadi biji mata tersendiri

yang teramat kukasihi. Tatkala aku

memutuskan menutup raga,

sepasang mata

pun hatiku

dari setiap kemungkinan

— duka maupun suka cita.

Juli 2023


Risalah Rambut, 1

tanpa sepengetahuanmu −namun sedalam ingatanku− bibir ini

selalu gagal membujuk pulang setiap jejak senyum masamku

yang tertinggal, dan berserakan pada simpanan cermin kamar

mandi. aku tahu, aku telah menghafalnya: segala peristiwa itu

seperti harus terjadi sewaktu kau berhari-hari menjadi lugu,

dan tak tersentuh oleh gemetar jari-jemari di tanganku. kau

acuh tak acuh, seolah bukan lagi bagian dari diriku yang utuh.

kepada cinta yang terasa sulit mengeratkan wewangi sampo

dengan ujung-ujung halusmu, pagi kembali datang bersama gerak

sendu hari kemarin yang dukanya mudah memecahkan vas bunga.

— vas bunga di sisi kiri hatiku. maka; kini kau yang lebih dulu

berani memutuskan berantakan mendahului segala pikiran,

membilangkan isi gumamanku, mendamparkan bagian-bagian

remeh dirimu yang belum lama tumbuh, di keningku.

September 2013-2020


Risalah Rambut, 2

   (bisikanku bagi ujung rambut yang telah mencapai pinggul)

tumbuh, teruslah tumbuh memanjang. hingga cinta menjadi

sedemikian alpa akan keberpihakan malam ini; entah kepada

ujung penghabisanmu, atau kepada mabuk yang dijanjikan

oleh sentuhan bibirnya. abaikan! sebab tentu kau perlu

durhaka pada sepanjang kisah yang ditentang sebagai batas

kewajaran dan keteraturan dalam kembar cermin muram di

hadapanku ini. 

Mei 2020


Anuptaphile

Ada kalanya cinta berupaya mengetuk pintu hati saya.

Dengan teramat santun, saya meminta kepadanya

Agar sabar menunggu, namun tiada sekali pun saya

Bergerak maju untuk membuka pintu dan menyambutnya.

Saya ngeri menghadapi setiap kemungkinan; bahwa saya

Akan mabuk meski tanpa anggur, hingga alpa membedakan

Warna-warna pelangi.

2019


Aksentuasi

Di belantara puisi,

tiada yang dapat menyesatkan sekaligus

menyelamatkan dirimu

selain

bisamu sendiri.

18 September 2023

(17.05)


Faustina Hanna, lahir di Jakarta, 5 April 1987. Penikmat seni budaya dan kearifan lokal. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta di Jakarta, aktif menulis puisi, freelance Graphic Design, menekuni fotografi dan ragam kuliner Nusantara. Sajak-sajaknya telah tersiar di pelbagai media cetak dan online. Silentium (Teras Budaya Jakarta, 2023) adalah buku kumpulan puisi pertamanya. Beberapa sajaknya tergabung dalam antologi. Pernah menjuarai lomba penulisan puisi dan berencana melanjutkan studi ke Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Puisi

Puisi Ludira Lazuardi

RHAPSODY OF LONGING

Kekasih,

tak pernah alpa dalam kepala

kala debar pertama

melebur bersama debur-debur

ombak di karang dan pantai

dan rayleigh biru menghambur memburai

angkasa berwarna jingga

seketika rindu tak terhingga

Lalu setelah itu

tiap kedatanganmu

adalah tantangan bagi nyaliku

mampukah aku nyalakan

rasa di kedalaman relungmu yang misteri

mimpikan cinta mengaliri vena-arteri

karena kau begitu indah

sebab kau begitu rapuh

Bila tiba waktu untuk berpisah

aku ingin berkesah

namun tak ingin buatmu resah

sungguh, pergimu

adalah perigi setiap sunyi

terasingku di sunyaruri

sepi bersepai-sepai

di antara dersik angin sepoi-sepoi

Kekasih,

seumpama kaudedah dada

geledahlah dengan seksama

kau akan menemu gundah gelebah tiada sudah

berkelindan pada asa

pada rasa

pada karsa

Kekasih,

bilamana aku bangun setiap pagi

itu untuk mencintamu sekali lagi

Jogja, 2023


REPENTANCE

Aku telah sampai di sini

di mana apa yang layak kuingat hanya sebatas senyummu yang terkembang

membawamu berlayar jauh dariku.

Tiap pagi aku bangun untuk memungut hari-hari kemarin

yang tercecer ketika kita melewati jalanan dengan riang pun amarah

lalu pulang dengan sebuket kenangan dalam genggaman

 hadiah dari semesta untukku merayakan malam dalam diam

(Empedu malam pecah, kuarkan pahit di ujung-ujung lidah)

Bunyi-bunyi sunyi mulai berani keluar dari tempat sembunyi

Ah, berisik sekali keheningan ini

Dulu bersama kita pernah mengunjungi dunia mimpi-mimpi

sengaja lupa cara bangun

menutup mata pada realita

Dulu bersama kita pernah berdiri di puncak dunia

dengan angkuh hendak melampaui yang namanya selamanya

Ketika kita tak lagi saling paham

tersesatku dalam angan sangat dalam,

ingin yang dingin aku menggigil di ujung asa

Ketika kita saling mendiamkan

diam-diam memendam dendam

Kekosongan berdesak-desak memenuhi jemala

Sungguh sesak, aku nyaris meledak

Adakah punggungmu masih menanggung

reruntuhan tahun-tahun yang kita bangun dengan tangan kita?

Karena di tiap tapak langkah kakimu menjejak jarak

 menjelma jenggala kelam

kediaman bagi sesal yang terkutuk

Aku lelah sampai di sini

di mana aku telah berhenti menghitung usia

hanya demi mendapati waktu tersia-sia

dalam penantian yang tak kenal kata usai

Katanya, kita tidak akan ada tanpa waktu

sementara definisinya masih saja menyusahkanku.

Jogja, 2023


DALAM

dalam matamu

badai abadi

dalam hatimu

luka tiada terperi

dalam ingatmu

aku mati

dalam hidupmu

aku tak lagi berarti

dalam kamusmu

tak ada kata

kembali

dalam sesalku

kamu

Jogja, 2023


LUAR ANGKASA

hampa udara

diam

melayang dalam arus abadi yang diam

sedetik adalah selamanya

selamanya yang tak berarti apa-apa

Jogja, 2023


HINGGA PENANTIAN USAI

Hingga penantian usai

Yang aku sendiri tak tahu kapan akan terjadi

Barangkali nanti kala kita telah berhenti menghitung usia

Dan mendapati waktu tersia-sia

Kau tahu aku masih akan di sini

Hingga penantian usai

Dan musim-musim kesedihan berhasil dilerai

Ketika benih-benih rindu yang ditabur

Berbuah manis nan menggiur

Kubayangkan kamu dalam dekap

Mengisi setiap gelap dengan harap

Hingga penantian usai

Dan kelopak bunga jiwa terakhir jatuh

Kau masih akan menemukanku di situ

Berlutut di sebuah batu berlumut menunggu

Hingga penantian usai

Di mana aku tak lagi mengumpat jarak yang tak sudi dilipat

Ataupun mengutuk penantian yang tak punya usai

Sehingga aku selesai.

Jogja, 2022


SOLAR PLEXUS

Pada suatu ketika

: Ganglion terinfeksi kecupan mesra

: Impulse teraktivasi kerlingan mata

Kemudian

Di kedalaman rongga gulita ini,

rahim cinta sekaligus makamnya

Antagonisme dada dan kepala tak berkesudahan

Bergumul kalut kalang kabut saling serang jatuh menjatuhkan

Ada kalanya pencipta rasa berdiri tegak di tengah hamparan

            : biarkan mawar mekar di atas akar-akar

            : biarkan burung-burung bercinta di luar sangkar

Seketika produsen logika datang membadik, harapan

tumbang tepat di ujung lantunan

tembang

            : cinta, bentangan sepi berduri

              tak mungkin mampu kauseberangi.

Dan demikianlah mereka terus bertarung

Hingga deras darah yang naik terjun mencipta halimun

Di kedalaman liang abdomen ini

Sang pencinta yang sekarat, penguasa kelam masa silam

Lunglai luruh di tubir nestapa, menatap, meratap sesaat

Perasaan dan penalaran laksana makan buah simalakama

Mana kalah mana menang

Dia tetap binasa.

Jogja, 2022


Ludira Lazuardi, perempuan yang memendam bara di hatinya.

Puisi

Puisi Diana Rustam

UBAN

kuucapkan terima kasih kepada uban

yang memperingatkanku kepada layu setelah mekar

kepada padam setelah menyala

kuucapkan terima kasih kepada uban

yang mengajariku menghitung sebuah penghabisan

bahwa fajar akan menjadi senja

kulihat diriku kepada uban

aku ada, dan akan menjadi tiada


LIDAH

suatu ketika aku tiada lagi mengenal dirinya

bagai kuda yang lepas dari kekang di padang pasir gersang

yang telah merasuk ke dalam rongga-rongga tubuhnya nafsu buta

tiada timur kepada barat kepada utara kepada selatan

penjuru-penjuru tertabir badai

kemana kata-kata yang bersilaju ditambat

aku tiada lagi mengenal dirinya

lidahku yang suatu ketika memagut berbongkah-bongkah hati

dan menjadikan mereka berdarah dan mati.


MATA

maafkan aku

telah kunodai beningmu, asal mula yang sejati itu

yang ditetesi kasih ibu dan peluh di dahi ayah

hari-hariku adalah memupuk noktah hitam

dan membiarkanmu tumbuh menjadi buta kepada cahaya


TELINGA

dapatkah aku mengulang, duhai?

akan kuletakkan engkau dimana kicau burung mendendangkan kidung pagi

dimana angin berkesiur menimpali ombak yang membelai karang ketika senja menjinggakan langit

dimana gemericik air sungai yang pecah menabrak bebatuan

dan serangga-serangga menimang malam di perut-perut dedaunan

dan bersemayamlah engkau dalam ketenangan

dapatkah aku mengulang, duhai?

akan kuletakkan dirimu di mana seruan Tuhan digaungkan

dan teguhlah engkau di atas kebenaran


KAKI

sepasang kaki yang diam

gentar kepada onak

gamang memandang jalan-jalan bercabang

Menimbang- nimbang pada neraca hati yang bimbang

sepasang kaki yang diam

menunggu sampai waktu menjadi usang

lapuk kemudian roboh sebelum berjuang

alangkah menyedihkan dan pengecutnya


Diana Rustam. menulis puisi dan cerpen di media sosial. Beberapa karyanya telah dimuat di media sastra online dan koran lokal.

Puisi

Puisi Rizka Umami

Sejak Biyung Pergi

Sajak-sajak nyaring itu berhenti

Kelopak mata sembab sudah seperti kemarau di khatulistiwa

Mimpi-mimpi sebatas lewat di awang-awang

dan semua lagu jadi alpa tak bermakna

Kau, tanggal

Sejak biyung pergi

Kau tak lagi punya hasrat berpuisi

Semua kata-kata jadi kaku dan asing

Musikalisasi dan instrumen-instrumen yang memelintir keningmu, ikut kering

Jalan Panjang dan juang yang kau elukan pupus

Tersisa luput yang belum sempat kau tebus

Begini nasib mendewakan manusia

yang hanya berjarak sepenggal napas dari mautnya

Ketika ia kembali

Kau jatuh sendiri.

Pesarean, Oktober 2023


Kepada Sang Maut

Sebuah motor bebek melesat pesat ke depan

Membawa tubuh lelaki tanpa tuan yang bersiap lepas

Ia hantam tabebuya yang baru mekar di pinggir jalan beraspal

Dengan lantam memecah batok kepala

            bersamanya aroma wine bercampur peluh menyeruak beradu anyir

Kepada maut,

Betapa kerdil nyali seorang manusia yang melihat kematian tepat di hadapannya

Betapa sukar memelintir ingatan untuk pura-pura lupa

bahwa tiap-tiap manusia bakal punya cerita perihal kematian yang menggelikan

Aku pernah bermimpi

Di sisa napas penghabisan seonggok tubuh disepuh terik dan lava pijar yang lembut

yang hangat memeluk jasad sampai sukma

Kepada maut yang tak berjarak, yang leluasa mematahkan arteri – vena

Bisakah manusia bersiasat sebelum kematiannya?

Menemukenali tiap-tiap wujud Tuhan pada sepersekian detik terakhirnya

perkara hitam atau putih dan abu-abu yang ranum itu

Kepada maut,

Bagaimana kematianku kelak?

Tulungagung, Oktober 2023


Buat emPuan

Seorang perempuan duduk di satu batang pohon besar di tepi pantai sendirian

Menyulut satu dua batang kretek mendongak ke atas mengingat-ingat

Petaka hidup menjadi perempuan

Haruskah ombak membawa mimpi-mimpinya ke tengah laut lalu tenggelam sampai palung?

Mimpi-mimpi yang lebih banyak pupus dari tercapai yang hilang sebab ia perempuan

Haruskah ia mengubur tubuhnya pada pasir hitam biar tercerabut segala kalut hidup yang ia tahan?

Sebab jadi perempuan harus dan tak boleh sekena hati mencapai tujuan

Biar biarlah kau sekarat di tegur ombak

Biar dirampas dipapas seperti bukit-bukit yang bakal koyak hilang punuknya

Bakal hilang daun-daun rindangnya bakal jadi aspal pekat jalang

Seorang perempuan terperanjat

Bangkit berdiri dari lamunan panjang mencari-cari alasan

Kenapa Tuhan masih giat memberi umur panjang?

Dayang Seni, 13 Maret 2023


Surat Buat Tole

Seorang ibu sedang menggendong putranya

Duduk menunggu pembeli di pasar subuh

Menuju terbit matahari

Ia biarkan bocahnya menetek sampai pulas lagi

Ia bertanya dalam batin

Sudah sampai di mana kita, Le?

Aku yakin kelak kau dewasa tak sudi hidup seperti aku

Tapi jangan menghukumku

Ini pilihanku jadi mandiri sebab bapakmu tak mau ambil bagian menghidupi

Ini pilihanku sebab aku tahu masih mampu

Jika suatu hari kau temui tubuhku lebih lusuh, Le percayalah

Aku masih teguh pendirian pilihanku sebagai ibumu

Sebab hidup berkalang lelaki bukan pilihanku

Sebab menghamba harusnya bukan pada sesama manusia.

Dayang Seni, 13 Maret 2023


Ritual Menuju Akhir

Suara tokek bersahutan dari kamar 04 sampai 08

Di balik pintu-pintu yang terkunci dari dalam

Sedang sebuah ritual dijalankan

Mereka saling mendebat warna baju

Yang mencolok menarik perhatian sang ratu

Lalu tahun-tahun melesat jauh

Daun-daun beringin makin lebat disusul suhu ruangan yang naik

Membuat semua jerih payahmu koyak

Ada yang tak segan datang

Dari ujung imajimu

Menebas mencuri napas terakhir.

17 Januari 2023


Perihal Batas

matamu menatap nanar ke perempuan di sebelahmu

ia lebih keriput setengah renta

kaki kirinya sudah mulai penuh borok

kau kira separuh usianya digerogoti Diabetes

perkara ia telah sampai limit

kau menyaksi kematiannya lamat-lamat

kau bergegas lari menyeru ke toa ada yang mati – ada yang mati

lalu ia minta kau jangan kembali

– sedang kau percaya ia datang serupa bekal buat diri yang papa untuk waspada

Tapi kepada siapa kau kembali?

Tulungagung, 02 Juni 2023



Rizka Umami, perempuan kelahiran Tulungagung yang masih menyenangi sastra, isu perempuan dan lingkungan.

Puisi

Puisi Lailah Nurdiana

Tak Ada Pintu Setelah yang Ke 28

:matroni moserang

Setelah menyudahi

Huruf-huruf dengan gelombangnya masing-masing

Tak ada pintu lain

Selain semua yang sudah tertutup

Dengan knop yang terkatup

Perjumpaan rasa dan samudera

Berada di titik paling terang

Antara pertemuan gelombang dan puisi

Kuharap tak ada pintu lain

Di mana-mana, kecuali pintu kembali

Ke puisi dan alam imaji

: pertemuan kembali, tentang pisah

  Yang secara perlahan terbaca

Pangabasen, 2023


Kata Si Penyair

/I/ lantas apa selain kata

    Yang akan menciptakan dingin

    Menjadi hangat dalam tulisan

/II/ sedangkan kalimat

     Dapat Menafkahi hidup

     Di saat surat-surat dari pejabat

     Tak ada yang menyokong tenagaku

/III/ haruskah bait ini disia-siakan

       Untuk semua andai-andai

        tanpa ada bait yang terlahir

      Dari metafora mimpi malam ini

       Malam sebelumnya dan selanjutnya

    :Maka si penyair

     Berada pada pilihan

    Yang tak pernah ada dunianya

Pamgabasen 2023


Hakikat Pertemuan di Dhamar Korong

Di tengah penyair berkepala puisi

Kita mendiamkan diri

Dengan tubuh yang hilang kata

Hanya mengunci tatap yang menggigil

Di lautan yang sama-sama pasang

Di mata kita.

Tanpa mereka tahu,

Kita dalah perjanjian yang ingkar

Nyeri yang bertemu untuk sebuah sembuh yang gagal

Emtah kita sudah sama-sama melupakan

Atau memperbaiki dengan sebuah perdebatan

(dalam batin kita yang masih sama lukanya)

Dan di bagian mana kita bahagia?

: ya! Saat dunia masih setia

  Dengan kepalanya yang sepi

20 februari 2023


Kembali yang Hampir Sama

Dari sebuah jamuan tak diundang

Kita berada di atas alas hitam

Dengan puisi yang melatarbelakangi pertemuan

Tanpa sengaja, tanpa ada kontak kata

Kita sama-sama menyepikan ramai

Merangkai ucapan, hingga mengambang

Menjadi awan yang menggumpal  di

Kepala kita masing-masing

Masihkah kau memiliki peran yang sama

Di dunia baruku?

21 februari 2023


Kepada yang Khianat

Kepada lambungmu yang menyimpanku

Menjadi problematik hidup yang tandus

Aku menjadi liar dalam laut

Yang segalanya tawar,

(sebab ucapan yang rahasia di balik mata bumi)

Menjelma bayang di ruang kosong

Membawa matamu yang tanpa tubuh

Dari balik jendela yang terkatup

Oh, pemilik rupa-rupa

Dan kaubiarakan segalanya hancur

Menjadi gemeretak waktu yahng tak terkendali.

Jika diriku api di dadamu,

Maka jadikan aku kobar paling bara,

Yang setelah padam

Otakmu tak dapat melahirkanku Kembali

Dalam pujian yang kau haturkan pada Tuhan.

Ruang Tengah, 2023


Selepas Menidurkanmu

Setelah kususun bantal-bantal

Di kepalaku yang kosong

Kutimang kau di depan wajahku yang pucat

Sesekali termenung,

Dengan bibirku yang gemetar.

Harapan semua tanggal

Sisa tubuhmu yang tak bernyawa, Kaku dalam rengkuhanku.

Baju-baju yang kupakai

Sudah serupa daun yang lusuh

Di tanah yang tanpa wajah

Hai malaikat kecilku

Kulepas tubuhmu Bersama maut

Dengan Nasib yang abadi

:dan selepas menidurkanmu

Tak ayal mimpiku kambuh

Tentang kau yang pergi

Saat jam berkelana

Tak sesuai keinginanannya sendiri.

Gapura, 2023


Lailah Nurdiana, lahir di Sumenep juruan laok batu putih, sekarang masih duduk di bangku Ma Al-Huda, merupakan santri aktif di PP Miftahul Huda Gapura Timur, penggiat sastra di komonitas sanggar 7 KEJORA dan komunitas sanggar Dhamar Korong, mulai menulis sejak duduk di bangku MTs Al-Huda II. Karyanya bisa ditemui di media nasional dan lokal. Email: [email protected] dan Instagram:  @_xdynaaa

Puisi

Puisi Galuh Ayara

SADTEMBER

bulan adalah telur yang menetas

di matamu

menjadi anak-anak burung yang tersesat

yang lupa cara memeluk

dan menggenggam jari

di ruang ini kau bukan hanya kelebat

tubuhmu tak beranjak dari bawah selimut

aku suka kulit lehermu

ketika kutaruh lidahku

matamu terkatup

dan udara dingin hanya sanggup menggantung di kusen jendela

lalu menyelinap ke pahaku

lalu ke telingamu

september dan bulan-bulan di matamu

sudah terlalu gelap

aku sedang lupa

pada warna bola matamu

pada garis bibir

pada merk rokok kesukaanmu

pada coklat

pada schubert

pada sepenuhnya

dan pada

udara dingin di sekitarmu

meski tanganku

belum juga fasih meraba kehilangan

meraba ketiadaan

mataku penuh bulan-bulan abu

yang menetas jadi kepedihan

sementara kau sudah terbang jauh dari kepalaku

ke luar angkasa

ke luar aku

ke luar bulan

di ruang terjauh di tubuhmu

yang tak ada kita

kau sedang apa?

2023


Death Ceremony

1

o kekasih hati yang tak pernah kuberi nama

kau bisa pergi hari ini

dari napas

dan denyut nadi

sebab maut sangat erat di tanganku

menggantikan genggamanmu

sebab maut sangat dekat

di bawah kulitku

mencium dadaku sebagai kekasih yang baru

hingga aku sangat lekat

dan tak pernah ingin lepas

aku takut kau cemburu

2

di depan matamu aku ingin meleleh,

menjadi ketiadaan

sementara dalam kekosongan itu

aku masih bisa melihatmu

bersedih dan

memeluk lutut

3

hey, kau seperti anak kecil

yang kehilangan mainan

sini aku ajari cara bermain

kuberi tangan kiri yang gemetar

dan tangan kanan yang keibuan

serta kedua pahaku yang pucat tapi hangat

kau betah tidur di sana, kan?

4

kau bilang

lebih baik jadi ibu

dari pada jadi tuhan

dalam pelukan ibu

kau tidak akan diberi dua pilihan

ke sorga atau ke neraka

dalam pelukanku

kau bisa nakal seperti anak kecil

yang minta susu

2023

Ruang Kosong

ada yang berdarah di mataku

ketika aku sampai pada satu halaman

yang hitam

sementara teh mulai dingin

aku terpejam

membiarkan angin pagi merasuk ke tubuhku seperti iblis yang dibenci

lalu aku dibawa pada satu lelaki

dia pernah mencium leherku ketika masih bayi

tiba-tiba kepalaku sakit luar biasa

aku terbangun kemudian

di sebuah ruang kosong berupa pelukan seseorang yang tak punya wajah

aku boleh menangis, katanya

sebab ia telah siapkan seluruh kekosongannya untuk aku penuhi

tapi aku tak punya apa pun untuk diberi

2023


Pertunjukan Malam

setiap malam tubuhku jadi dua

satu mayat satu bayi punya sayap

tapi bahkan tidak tahu cara bergerak dan beranjak

aku merawat mereka dengan penderitaan yang–

tumbuh di kepalaku

seperti rambut seseorang yang wangi roti panggang keju

seseorang itu yang suka alice in wanderland

yang wajahnya pucat dan beku

setelah aku bercerita tentang

mayat dan bayi

yang–

tak perlu kuberi makan

selain susu yang berubah jadi darah

dan napas

yang menetes dari punggung tuhan

yang

gelap tapi gemerlap

lalu segalanya lenyap;

tubuh dan waktu

2023


Pengantar Tidur

tuhan menjaga jariku yang gemetar

setiap malam setelah

lagu-lagu lullaby

berdenging dan berdengung

dari sebuah telepon genggam

lalu tubuhku retak

lantah jadi seribu pecahan

mengubur roda waktu yang

terus bergerak ke depan

setelah itu

aku lupa wujud tubuhku

dan kehidupan

tak bisa lagi kuraba

2023


Galuh Ayara, suka menulis cerpen dan puisi. Karya-karyanya dimuat di beberapa media. Menulis dua buku; ‘Nyanyian Origami’ (2020) dan ‘Pohon Insomnia’ (2023).