Cerpen

Tidak Boleh Ada Dua Surga

Cerpen Puput Sekar

Aku berterima kasih kepada Dasim, karena berkat kepiawaiannya menghancurkan rumah tangga salah seorang pesohor, aku pun ikut mendapat keuntungan.

Dasim mendapat bonus dari bos besar, aku pun sama. Dasim mendapat pujian dari para petinggi, aku pun tidak kalah dipuji oleh mereka. Padahal pekerjaanku bisa dibilang teramat mudah. Sekadar mengarahkan mata dan telinga mereka untuk membaca serta mendengar berita kehancuran rumah tangga, maka sudah dengan sendirinya para manusia-manusia dungu itu bereaksi.

Apakah kalian juga mendengar gonjang-ganjing di wilayah yang sering dikatakan sebagai potongan surga yang tercecer ke bumi?

Kondisi alamnya yang indah seperti surga.  Ada tumbuhan menghijau, gunung tinggi, awan biru, dan mutiara kekayaan yang berserakan di daratan, tertimbun di dalam bumi, tersimpan di lautan, dan bergantungan di angkasa. Ada pula sungai-sungai mengalir di bawahnya.

Memang tempat itu seperti potongan surga. Tetapi percayalah, belakangan ini tempat yang dibilang surga itu semakin terasa panas, meski tidak bisa kukatakan seperti neraka, tetapi hawanya tidak sejuk lagi.

Namun tidak mengapa. Terpenting bagiku adalah manusia-manusianya. Di sana hidup manusia yang mudah kuperdaya. Sehingga memudahkan pekerjaanku untuk merekrut kawan-kawan yang akan mengikuti jalanku.

Oh, ya, kita kembali bicara tentang Dasim. Jadi karena keberhasilan Dasim menghancurkan rumah tangga itu sontak memberikan efek domino terhadap kemudahan tugasku.

Sebab setelah rumah tangga pesohor itu berantakan,  lantas aib mereka dapat dengan mudah diketahui oleh semua orang. Hai, tentu saja itu adalah pekerjaanku. Mengembus-embuskan kabar ke penjuru bumi, lalu membumbui dengan berbagai macam aib yang mereka buka sendiri.

Sementara aku bekerja, Dasim saat ini tengah berpesta pora. Ia bak kesatria yang pulang dengan kemenangan dari medan peperangan. Bonus yang Dasim dapatkan dari hasil pekerjaannya sungguh berlimpah. Sebab bukan hanya hancurnya rumah tangga pesohor itu, tetapi juga ada aib rumah tangga yang terbuka luas.

Aibnya bahkan dipergunjingkan oleh siapa saja.Alih-alih sebagai bahan pembelajaran bagi mereka yang mempergunjingkan. Padahal,asal tahu saja, bahwa sesungguhnya rumah tangga mereka- para penggunjing-adalah target Dasim selanjutnya, hanya tinggal kapan Dasim akan mengeksekusinya.

Bukan hanya pergunjingan, tetapi ada pula ujaran kebencian dan hujatan, dan seperti biasa setelah kami bekerja, kami ikut menonton kebodohan mereka. Bagaimana tidak bodoh, mereka menghujat dan membela orang yang tidak mereka kenal, bahkan bertemu sekali saja mereka tidak pernah.

Betapa dungunya kelakuan mereka. Akan tetapi tidak mengapa, itu tandanya kerja kerasku berhasil. Memang benar kata para junjunganku; menggoda orang-orang dungu itu legit dan empuk ketimbang menggoda mereka yang berilmu. Menggoda mereka yang berilmu membutuhkan upaya lebih keras, ketimbang menggoda orang pandir dan mudah menelan berbagai kabar burung yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta senang berceloteh padahal mereka hanya mengetahui sebatas kulit saja.

Kedunguan selanjutnya adalah ketika mereka saling hujat di antara sesamanya. Hujat-menghujat kepada orang yang tidak mereka kenal satu sama lain, untuk urusan remeh-temeh, untuk urusan yang tidak mempengaruhi kehidupan mereka, juga tidak menambah pundi-pundi emas, tetapi jika pun ada orang yang mendapatkan keuntungan materi dari hasil gonjang-ganjing tersebut, kukatakan bahwa itu sedikit sekali, sisanya adalah orang-orang pandir yang berceloteh dengan pemikiran-pemikiran bodoh mereka sendiri.

Namun lagi-lagi tidak mengapa. Aku senang, sangat senang. Dengan begitu- seperti yang kukatakan di awal-aku juga ikut mendapatkan pujian oleh para junjunganku.

Sejak Adam terlempar dari surga ke dunia, hingga aku hidup di dunia yang sekarang ini, berbagai perubahannya telah kulalui. Kemudahan teknologi menjadi sebuah landasan untuk memudahkan tugasku. Sesungguhnya aku ingin berterima kasih juga kepada manusia pandai pencipta media.

Bayangkan jika tanpa media, pekerjaan kami menjadi berat. Kami harus terbang dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengembuskan kabar bohong maupun nyata yang tidak menyenangkan untuk didengar. Kami harus membisikan ke telinga manusia satu demi satu untuk membuat mereka saling berseteru.

Tetapi dengan adanya media, kami bisa dengan mudah membuat mereka saling membenci dengan mempertontonkan aib mereka. Ya, ya, ya, aku tahu, bagi mereka menonton kesalahan orang lain adalah hiburan yang mengasyikan. Melihat aib orang lain dibuka, adalah kenikmatan yang tidak mereka sadari.

Aku telah berhasil mencabut rasa malu dari hati mereka, sama halnya dengan keberhasilanku mencabut rasa empatinya. Tanpa empati mereka mudah melakukan tuduhan dari apa yang mereka lihat. Mereka hanya percaya dari pandangan mata saja. Lalu tanpa mengetahui kejadian sebenarnya, mereka dengan mudah membuat tudingan-tudingan keji.

Aku telah berhasil membalik pandangan mereka, menulikan pendengaran mereka untuk tidak mau menerima kebenaran. Aku telah berhasil mengarahkan jemari mereka untuk mengetikan ujaran-ujaran kebencian sehingga sewaktu-waktu bisa berakibat fatal bagi mereka sendiri.

Tentu saja itu bukan hanya buah dari kerja kerasku. Kebodohan dan kemalasan mereka dalam mendekat kepada Tuhan menjadi andil yang besar untuk kesuksesanku. Apakah mereka lupa, berapa banyak orang yang telah dekat kepada Tuhan saja bisa kutipu dan kuperdaya, apalagi sekumpulan orang-orang lemah yang hanya mengaku dekat dengan Tuhan, namun sejatinya hati mereka mencintai gemerlap dunia dan isinya?

Jadi sekarang aku sedang menonton hasil kerja Dasim dan hasil kerjaku. Kini mereka meributkan hal-hal remeh-temeh. Mereka saling berseteru, padahal mereka tidak saling mengenal. Mereka mengatakan puas ketika telah memberikan ujaran kebencian, ketika telah menghujat, ketika telah mengatakan bahwa yang mereka sampaikan adalah kebenaran.

Ah, kebenaran macam apa yang mengikutsertakan hawa nafsu untuk dibilang benar? Mereka mengira apa yang dilakukannya adalah sebuah amal, ha-ha-ha, sungguh mereka tertipu dengan bisikanku.

Untung saja mereka lupa, eh, atau barangkali tidak tahu, bahwa syarat sebuah amal adalah jika niat murni karena Allah, Tuhan semesta alam, dan juga dilakukan dengan cara yang sesuai dengan aturan yang telah dibuat oleh Tuhan.

Kelakuan mereka membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Begitu mudahnya mereka kutipu. Lucunya telah berulang kali kutipu, mereka tetap tidak menyadarinya. Kau tahu? Sesungguhnya kubisikan di telinga mereka, bahwa dengan menghujat, memaki, membela sesuatu yang mesti dibela merupakan amal baik pula, tidak peduli bagaimana caranya, dan tidak peduli siapa sasarannya.

Jadi, ya, aku tengah bergembira. Jangan rusak kegembiraanku dengan kabar baik lainnya. Aku menikmati pekerjaanku sebagai si penipu. Sebab semakin banyak orang yang tertipu, maka akan semakin besar kesempatanku untuk menarik para manusia itu untuk hidup kekal bersamaku.

Di mana? Ah, ya, sudah barang tentu bukan di surga. Sebab aku begitu dengki melihat mereka yang kini hidup enak di tempat yang katanya potongan surga ini. Tentu saja, tidak boleh ada dua surga untuk mereka.***

Sleman, Mei 2024


Puput Sekar, lulusan Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Jakarta. Menulis novel Elang dan Bidadari, Republika 2012, Beo Zelga, Prudencia 2020, Splash Love in Seoul, Prudencia, 2021, Joko Klobot dan Nyi Kemretek, NAD Publishing, 2023. Kegiatan saat ini adalah aktif menulis di komunitas Nulis Aja Dulu, Terus Saja Tulis, dan Opinia. Penulis bisa dihubungi di Facebook: Puput Sekar, IG: @puputsekar_putse, dan email: [email protected]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *