Puisi

Puisi Y Agusta Akhir

Nyantaka

Dalam rupa kera, perempuan yang semula jelita

menjura di depan ramandanya

sesungguhnya, kau sedang menjalani karma, anakku, kata Gotama.

sebagaimana ibumu yang membisu bagai batu, maka jadilah ia tugu batu

nafsu berebut cupu, menjelmakan kebajikan jadi bebendhu.

Atas perintah Gotama pula, ia pergi ke tepian Mandirda

mengambanglah tubuhnya tanpa busana di atas tirta

kini ia kera yang merupa katak: nyantaka

dengan penuh harap, terbebas dari karma

Sampai pada suatu ketika, Manikmaya di atas Andini melihatnya

menggelegak birahi, dan jatuhlah setitik kama di atas daun

daun mengambang, mengalun pelan di atas tirta

yang mengantar masuk ke mulutnya

dan tumbuhlah di tubuhnya – tubuh baru

kelak, sang putra lahir, pun dalam wujud kera

tetapi ia, tersebab karma telah purna

kembali menjadi jelita.

Surakarta, Maret, 2022


Supata Drupadi

Dadu yang dilempar dan jatuh di tengah meja nasib ketakberuntungan

adalah awal mula petaka. Dan, perempuan itu menolak menyebutnya sebagai takdir.

Ia, antara luka dan bermandi ludah, barangkali sempat

berpikir: apakah setiap lelaki adalah jelmaan dari sepotong

lintah atau segumpal nanah?

Sebab nyatanya, setelah ia diperebutkan bak piala dalam perlombaan

di negeri ramandanya, Pancala,

sekarang jadi taruhan dalam perjudian oleh kelima suaminya

: Pandawa

Mendadak terdengar gelegar tawa seratus rupa iblis

membuat telinganya begitu pekak

Lelaki memang diciptakan dari lempung, juga otak dan hatinya

Ia ingin meneriakkan itu, tetapi keburu sadar rambutnya

yang panjang, sudah terurai. Kain jarit setengah terburai, nyaris dirinya telanjang

dan kembali terdengar tawa seratus iblis.

Adalah Dursasana yang menggelegak birahi yang telah menjambak rambutnya

mengurai sanggulnya, tetapi

gagal menelanjanginya.

Ia menahan tangis, namun kesedihannya menjelma sungai

beriak mantra yang menggema sampai ke padang Kurusetra, kelak.

Ia yang mengucap sumpah: tak menyanggul rambutnya, sampai

ajal menemu sang durjana, dan ia akan meminum darahnya!

Surakarta, Maret 2022


Palgunadi

Aku adalah murid yang mencari guru

katamu pada sebongkah batu yang kau pahat

menyerupai Drona

Sejak hari itu, hingga berpuluh purnama kemudian,

kau berlatih kanuragan

merentang sejauh mungkin gendewa

membidikkan jumparing pada mata hidup

yang kian miring.

Tapi kau tahu, tak ada yang boleh mengungguli Arjuna

sebagaimana kata Drona, tersebab akan menjadi

senapati dalam kancah baratayuda yang sudah diramalkan itu.

maka pada sebuah senja yang mokal, sebongakah batu itu

mendadak bisa bicara.

: gerangan apa yang membuat dirimu

bisa sedemikian sakti, anakku, Palgunadi ya

Bambang Ekalaya?

Adalah Manik Sotyaning Ampal, guru. Kau berkata

takzim penuh hormat, sembari menunjukkan

ibu jarimu

Tak sebiji zarah pun ada syakwasangka

di hatimu.

: bahwa, misalnya, seseorang telah bersembunyi

di balik patung Drona.

O, lalu apa yang seharusnya dilakukan seorang murid

terhadap gurunya?

Menghormatinya. Mematuhi perintahnya.

Dan apakah diperkenankan seorang

guru meminjam pusaka milik muridnya?

Tetapi, Manik Sotyaning Ampal tak bisa lepas dari ibu jarimu.

Tak ada cara lain. Kau mesti memotong ibu jari sendiri

demi menghormat pada sang guru.

Memotong ibu jari, adalah menghabisi hidupmu.

Sebuah suara yang entah datang dari mana

mungkin dari ceruk paling jauh dalam jiwamu.

Tetapi, menghormat seorang guru jauh lebih mulia.

Kau abai pada suara itu. Abai pada keselamatan hidupmu.

Dan dengan sebilah belati, maka kau potong jempol tanganmu

tanpa mengaduh

: tak ada tetes darah

terimalah, Guru. Kau berkata. Suaramu bergetar

tetapi mendadak dadamu berlubang

namun yang muncrat adalah cahaya, yang lalu menggumpal

membawamu terbang ke langit

Kelak, dalam gaduh baratayuda

kau manjing di raga Destrajumena

memenggal kepala Drona yang tengah kalap

tersebab kematian Aswatama, di tengah medan Kurusetra.

Solo, Desember 2022


Aswatama

Aku telah menerima takdirku yang terlahir bukan sebagai ksatria

maka betapa pun besar inginku, aku tak layak berdiri di barisan depan

meramaikan pesta darah di Kurusetra.

Begitupun, aku juga telah menerima takdirku yang lain: cinta

tapi betapa celaka hidupku, kau tak ditakdirkan untukku

Ah, Banowati yang molek yang lincah serupa srigunting

Betapa aku merindu padamu

Padamu

Hanya padamu

Bahkan manakala aku tahu lelananging jagat, lelaki paling kurang ajar

di seluruh dunia itu, telah memesonamu, yang datang

menyelinap mengendap mencecap  birahimu

di belakang Duryudana yang tolol.

O, pernikahanmu yang banal yang tak masuk akal

sesungguhnya telah batal.

Tapi mengapa tak juga engkau menangkap isyaratku

yang menyimpan selaksa resah

: rupanya sihir cinta telah melenakan semesta

Tetapi betapa celaka hidupku – betapa malang nasibmu

Banowati.

Justru aku-lah yang merenggut hidupmu

Tetapi kau harus tahu, setelah panah bayi Parikesit menghujam dadaku

Maka sesungguhnya saat itu pula cinta kita bertaut

Solo, Oktober 2019


Duka Duryudana

Ini bukan tentang negeri yang bakal hancur

tetapi hatiku yang lebur

ratap Duryudana pada bayangan sendiri di cermin

yang muram

perempuan itu bernama Surtikanti

yang telah mengepung hatinya dengan

seribu satu panah cinta yang berlesatan

dari setiap inci tubuh sang kekasih

cinta hanya sampai di ambang nyata

tersebab Surtikanti lebih memilih

Karna

Duryudana, sekalipun memendam luka perih

tetap mengalah

merelakannya melabuhkan cinta kepada putra Adirata

Maka Banowati perempuan molek yang binal

sebagai penggantinya

tetapi cinta sang raja betapa sial

perempuan itu bermain mata dengan Arjuna

yang nakal

Apakah aku masih sanggup menampung luka?

Bayangannya mendadak retak di cermin

Dan Baratayuda yang kian dekat gaungnya

menghampar di matanya

: Setelah satu demi satu saudaranya gugur

Banowati, ah, betapa malang

keris Aswatama menancap di dadanya.  

Solo, Desember 2022


Duka Kunthi

Siapa yang paling berduka melihat darah menetes di Kurusetra?

adalah ibu yang melahirkan rahasia-rahasia yang tak

kuasa membendung air mata

mengeja takdir yang penuh galaba

: Baratayudha

dalam kecamuk sawala sesama wangsa

ibu tak akan menakar siapa salah

siapa benar. darah yang tumpah, bukan milik siapa-siapa

setiap darah yang menetes, adalah darah ibu juga, anak-anakku!

adalah Basukarna, ksatria malang sejak dilahirkan

dilahirkan sebagai akibat mantra Adityarhedaya pemberian Duwarsa

tetapi kehamilan adalah aib

maka ibu melarungnya di Gangga yang murung

lalu kutukan demi kutukan, dari seorang Brahmana,

Parasurama hingga Mahaguru Drona

sebelum akhirnya Pasopati Janaka merenggut

hidupnya. dan kesedihan, tak akan bagai katak yang menyanyi riang

di musim penghujan

dan duka ibu mana lagi yang kau dustakan selain

dari kematian seorang anak yang digalang saudara sendiri?

setiap ibu hanya melahirkan kesucian

tak seorang pun bisa lebih memahami

yang dirasakan ibu, selain ibu sendiri

bahkan dewa-dewa

juga Kresna, sang penjaga takdir itu

ibu tetap berduka atas kematian Basukarna

betapapun mencoba

derana

Surakarta, Februari 2022


Y Agusta Akhir, tinggal di Solo. Pernah belajar di Institut Seni (ISI) Surakarta. Menyukai dunia literasi. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Karyanya tersebar di media lokal maupun nasional, serta media online.

Puisi

Puisi Dzikron Rachmadi

Tragika Bala Trunajaya

: Sendang Drajat, Canggu

— di petirtaan keputren itulah, Tuan, muasal Tuan

bersikejar dengan prajurit Majapahit yang berang

akan perangai Tuan, akan perangai

yang tak diajarkan oleh Kebenaran

kepada Tuan sekalian!

/bata putih/

bata-bata itu mungkin tak ingin mengimajinasikan dirinya

sebagai gumpalan-gumpalan salju, tatkala Tuan Irapati

hantamkan kepada prajurit Majapahit yang terus menyerbu

tapi Tuan hanya bermaksud mendinginkan murka prajurit,

“tak ada salju, bata pun jadi!” batin Tuan, barangkali

sedang di genggaman tangan Tuan, bongkahan bata

masihlah bersikeras mengeraskan dirinya;

ia tak mengerti mencairkan tubuh sendiri,

mencairkan hati prajurit apa lagi

tapi Tuan hanya bermaksud mencairkan murka prajurit,

“tak ada salju, bata pun jadi!” batin Tuan, berulangkali

hantam! hantam! hantam!

“toh, bata, kau juga berwarna putih, bukan?”

gumam Tuan tatkala kian digigilkan gamang

tatkala Tuan kian tersudut di ujung pengejaran

/kepung/

sungguh kami tak ‘kan pernah mampu

membayangkan, Tuan, tak ‘kan mampu,

gerangan apa kaki Tuan melaju ke situ:

ke tempat dialamatkannya mautmu itu!

sebab barang tentu, Tuan, barang tentu

tiada lagi haribaan paling lindung

setelah panas lelava cemas kadung menggunung

dalam dada Tuan yang kadung linglung

o Tuan yang linglung, Tuan Iramenggala yang teramat linglung

: adakah tulah paling pahit dari gerombol prajurit Majapahit

malainkan Tuan telah terkepung

melainkan Tuan telah terkepung?

/bloran/

maka barangkali tidak ada seekor vertebrata paling setia

melainkan hanya Belo Anak Jaran yang sudi memberikan

punggungnya; untuk kemudian Tuan Gantarpati kendara

“tapi aku yakin,” batin Tuan, “Anak Jaran yang pintar

ialah yang tak membawa Tuannya ke mana pun, kecuali

menyerahkan kepada prajurit yang tengah mengejar!”

Anak Jaran yang pintar rupanya lebih memikirkan peradaban;

ia mengenyahkan Tuannya demi menyediakan dirinya

untuk sebuah dukuh dengan menjelma sebuah nama

dengan begitu ia akan selalu hidup & akan tetap hidup

sepanjang zaman & sepanjang peradaban

selamanya hidup sebagai Belo Anak Jaran

selamanya hidup sebagai nama Dukuh Bloran

/surawana/

di rahim belantara hutan Surabawana, Tuan,

sintru yang wingit menolak satru yang sengit

(pamali Tuan Irabuwana & prajurit Majapahit)

“maka tiada lagi persatruan musti diabadikan!”

di rahim belantara hutan Surabawana, Tuan,

Tuan membangun kerajaan dari kesunyian,

o meski tak semegah dalam benak sejarah—

sebagai sebuah markah Tuan pernah singgah

sedang Trunajaya memilih untuk menghilang:

melesat entah ke telatah liyan

melesat entah ke telatah liyan

Pare, 01-03-2023


Memorabilia Candi Surawana

: kerinduan pada Raja Hayam Wuruk

1.

pada Saka Tiga Badan &

Bulan (1283) Waisaka:

Raja Hayam Wuruk—

yang padanya rakyat

patuh & tunduk—tengah

melawati & melewati

sepanjang jangkauan kelana,

lalu mengantukkan

ujung jangkahnya di

telatah Surabawana,

demi membaringkan

kantuk, bermalam di

Candi Wishnubhawanapura,

sebelum kemudian

sinar fajar mengantar

Ia kembali ke istana

2.

(tibalah kemudian Raja

Hayam Wuruk di istana)

maka setelah itu, tiada lagi

malam semanis rembulan

madu, selain malam bersama

Raja Hayam Wuruk kala itu,

lantaran, malam-malam

setelahnya—bagi candi batu itu

—hanyalah malam-malam

bersama angin tajam

yang cuma paham

memahatkan

dingin kerinduan

paling candu; pada

dinding tubuh batunya

yang kian mengerang

& mengeras itu

sementara

kesepian malam,

kesepian malam masihlah

satu-satunya selimut

paling rawan; akan

tajam angin malam

yang memahatkan

dingin kerinduan,

sepanjang zaman

sepanjang peradaban—

hingga kini zaman kita datang!

“o adakah kini Hayam Wuruk

juga berkenan kembali datang?”

3.

kini, setelah abad-abad

lelah merengkuh waktu:

rindu yang begitu candu

telah membatu pada

tubuh candi batu itu,

hingga seluruh

tubuh candi batu itu

adalah rindu,

adalah rindu!

Pare, 07-03-2023


Candi Tegawangi Mengharumi Ingatan Kami

: Bhre Matahun

& orang-orang menamai Tegawangi, dahulu,

dahulu sekali, setelah tiga orang anak lahir dari rahim waktu

menimang hidupnya di telatah itu, lalu mengubah

segala yang beraroma sunyi menjadi wangi—

menjadi bakal singgasana bersemayamnya sebuah candi

maka pada Sraddha 12 Warsa Pendharmaan

Sri Ratu Matahun di Kusumapura:

alkisah, Tuhan sendirilah yang

memetik setangkai bunga dari Surgaloka

lalu dijatuhkannya ke dalam jagat

atman para pendiri candi sewangi tiga,

sewangi bunga, sewangi dupa,

sewangi api kremasi yang memandikan

daksha Sri Ratu dari segala dosha

sebelum kemudian ia bertakhta

di dalam tenteram kesuwungan moksha

& kini, masih ada yang dapat kami rasakan

serupa sesuatu yang tak letih mengulurkan tangan

ke dalam liang-liang kepala kami; serupa kisah

masa silam -yang tulus menaburkan

kelopak bunga mewangi—

adalah taburan kisah sejarah Candi Tegawangi, yang masih

setia mengharumi ingatan kami

setia mengharumi ingatan kami

masih

Pare, 05-03-2023


Binatang-binatang yang Masih Terkenang

di Pertigaan Patung Kuda Macan

: Tawang

/piton kembang & kera/

dukuh kami punya pesulap kondang, ia berumah

tepat di sudut tenggara pertigaan

pada suatu Pagelaran Agustusan, pernah ia

menyetrika sendiri punggung anak gadisnya yang masih belia

di atas panggung di depan sekalian pemirsa, namun

ia menganggap hal itu bukanlah suatu siksa, lantaran tiadanya

torehan luka bahkan rasa

& ia dapat mengeluarkan dari kotak pandora kosong miliknya

beberapa uang kertas serta logam

& berbagai macam jajan pasar: apem, lemper, bikang, pisang,

pakaian dalam, pembalut wanita,

& kemudian ia lempar-lempar ia bagikan ke sekalian pemirsa

di kotak pandora yang lain, ia memiliki seekor piton kembang,

terkadang ia kandangkan di depan rumah, & seringkali

membikin orang terhenyak ketakutan saat melintasi pertigaan,

di samping kandang itu, ia memelihara pula seekor kera jantan

yang ia ikatkan di pohon rambutan: kemudian

ia jadikan mereka berdua sepasang saudara saling menyayangi

& pesulap itu sangat menyayangi mereka, menyayangi

/sapi/

dulu, tetangga kami berduka, setelah seekor sapi

miliknya lolos dari kandang & berlarian melintasi pertigaan

lalu melanggar pengendara sepeda motor sehabis

mengambil air mujarab dari suatu sumur

di dukuh nun jauh

orang itu mencari sembuh, ia malah terjatuh,

sementara si sapi rubuh & orang-orang menuntunnya

ke bawah pohon mangga yang teduh di

sekitar pertigaan lantaran kakinya yang pincang

tiba malam mengguyur sekujur dukuh

sapi itu hanya merebah tubuh, kakinya yang pincang

tiada lagi bisa digunakan untuk berdiri

bahkan berjalan bahkan berlarian

malam meradang & membakar pertigaan,

orang-orang dukuh kami ramai-ramai berjuang menggotong

tubuh gempal sapi itu ke atas bak pick-up,

pemilik sapi menjualnya kepada penjagal

dengan separuh harga semula

& ia masih berduka

/burung & kucing/

pohon mangga sekitar pertigaan telah ditebang,

pemilik tanah itu mendirikan bangunan, lalu menyewakan,

lalu jadilah sebuah toko burung & kucing beserta pakannya

dari cerita Luis Sepúlveda yang kita baca, kita dapat mengetahui bahwa:

kucing yang baik hati mengajari anak burung untuk dapat terbang sebab

induk burung tidak lagi dapat mengajarinya setelah terbang & jatuh akibat

tumpahan minyak kapal tanker di laut melengketkan bulu-bulu sayapnya

di situ, di toko itu, kucing-kucing begitu pemalu & tidak ada

pula burung terbang & jatuh akibat tumpahan minyak kapal

tanker di laut melengketkan bulu-bulu sayapnya

di situ, di toko itu, tidak ada burung-burung

yang boleh terbang bebas, tidak ada

semua pakan sudah tersedia

/kuda & macan/

beberapa tahun silam, di pertigaan itu,

seorang pematung menaruh sepasang

karyanya dalam wujud binatang:

sisi utara untuk kuda

sisi selatan untuk macan

tak lama si pematung pergi dari dukuh kami,

kami menduga, barangkali:

kedua patung itu adalah reinkarnasi dari

binatang-binatang pada gunungan wayang

di situ, di pertigaan itu, ia menaruhnya

sebagai penjaga dukuh kami yang purwa

Pare, 14-02-2023


Lampu-lampu Menggelantung & Bercahaya

di Sepanjang Jalan Dahlia

kita mulai dari selatan, memasuki mulut gang kecil yang

terbuka lebar, kita menyebut ini Jalan Dahlia ketika kita

membiarkan ini jalan terus menelan kita ke utara

sembari menyaksikan lampu-lampu yang

menggelantung & bercahaya

terkadang, aku suka membayangkan, lampu-lampu itu

seperti buah-buah yang menggelantung

di dada langit sana; bintang-bintang ranum yang mampu

menggelegakkan gairah para penujum kuna,

lalu penujum itu, penujum itu adalah kita,

adalah kita yang begitu mendamba nasib bahagia

senantiasa baka, o senantiasa baka

namun terkadang, aku juga suka membayangkan,

Jalan Dahlia tak ubahnya Taman Sorga

di tengah kota kecil kita, lalu lampu-lampu itu &

kabel-kabel itu: adalah sepasang Apel & Ular,

sedang tiang-tiangnya Pohon Kehidupan,

namun di sini, di sini tidak ada sepasang Hawa & Adam,

tidak ada, hanyalah ada berpasang-pasang mata

pedestrian juga pengayuh sepeda; mata yang

senantiasa memakan pijaran lampu-lampu bercahaya

o betapa lampu-lampu itu bercahaya kuning

begitu tulus mengecupkan cahayanya sampai ke kening

pada setiap pedestrian juga pengayuh sepeda,

sampai mereka tiada ingin berpaling

dari gang kecil di tengah kota Panglerenan kita—

dari gang kecil bernama Dahlia,

                                                            o bernama Dahlia

Pare, 10-02-2023


Dzikron Rachmadi, lahir dan berdomisili di Pare, Kabupaten Kediri. Pernah belajar di PAI FTIK Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri. IG: @_dzikroch.

Puisi

Puisi Ilham Wahyudi

Nangka

Masih kau sebut durikah beskap hijau tua tak bergigi itu—seraya terus bersembunyi dari mata licik orang iseng tengah malam—sedang harummu, amboi, laksana kawinnya setandan pisang matang dengan nenas madu, apel merah dan mangga harum manis; yang memanggil-manggil janin mungil di perut ibu muda yang mulai kepayahan berjalan. Terberkatilah kuning dagingmu yang mencolok itu, meski sumpah akibat putih getah darahmu acap pula membuat kami waswas semata.  Tetapi benarkah moyangmu lahir dari hujan yang rajin menuruni hutan raya India? Atau sebenarnya kau hanya biji belaka yang tekun menjalar kemana suka? Lihat, betapa kaya kau pada segala guna; sampai keringat batang jisimmu, jubah pendeta Buddha tampak kian berwarna. Kini, pantaskah wajah kau muram percuma bila legit tubuhmu kami lahap gembira?

Akasia 11CT


Belenggu

Bagai ikan dalam lemari pendingin; serupa kapuk yang ditekan-tekan ke dalam kasur maupun bantal muda pengantin. Bersusun-susun kami; tak pantas sekadar menyepadan jenjang kaki barang sejenak. Pun telah kami minta sedikit luas padang gurun atau secuil lebat rimba raya. Akan tetapi lancip daun pendengar senyata tak kuasa menerima maklumat dukacita. Lihat, tinja siapa itu? Mana ada tinja di sini! Itu busuk kaki kami yang menempel di lantai. Amboi, betah nian kita mengejami; bukan main lalai mereka mendiami, arca itu mungkin adalah kami yang pemalu lagi buta-tuli. Sememangnya engkaukah yang terkurung atau kaulah semestinya Gitamara nan bengis lagi erat menggigit?

Akasia 11CT


Lepas

Jikalau kau patuh menyeluruh

Alamat luput berita buruk

Luruslah jalan ke semenanjung

Lapanglah tanjak ke gunung

Apabila madah kau jaga

Isyarat rantai sungkan memasung

Mestilah lengang kabar burung

Pastilah lancar niat meluncur

Ke selokan sukma muara Sang Raja.

Akasia 11CT


Puisi

Bilamana engkau enggan bertamu. Atau kedua kaki terlampau lejar tamasya ke rimbun anggur yang menggantung. Cukup ceritakan saja bagaimana budi pekerti mampu lolos dari sergapan tentara waham.

Sungguh, betapa benci kami pada kisah siluman serigala. Itu sebab datuk moyang kami senang belaka menuturkannya kali berulang. Dan kuping kami teramat tekun menakzimkannya; seraya terus bibir berdoa semoga jauh pergi marabahaya.

Mungkin bisa jadi kami risih. Dimasuki keruwetan yang sebetulnya bukan semata keinginan kami. Namun kenapa engkau rajin pula turut-menurut, sehingga putih daging dan hitam darah kami mudah percuma tersamarkan.

Barangkali kita musti tutup mulut sekejap: menunggu paus biru dilahirkan sekali lagi atau reinkarnasi si jalang hadir memilah-memilih; menyambung-memotong apa-apa yang patut dan elok tangan tuliskan serta lidah bunyikan.

Setakat ini, masihkah kau jantan menghakimi—suntingan ini benar puisi atau sekadar curahan hati?

Akasia 11CT


Belajar Ikhlas dari Buku Buku

Berjilid-jilid buku lolos mencatat cara adiluhung memasukinya; menyelaminya. Supaya yang rusak parah segera embus pergi tak perlu kembali. Akan tetapi alangkah benua tubuhnya, mungkin juga luas semesta; sehingga tak pernah genap kita menaklukinya. Maka muncul dan terus muncul kitab-kitab segar membahas-mengulitinya. Sampai kita luput mendedahkan ibu bapak kitab dari segala kitab yang sesungguhnya ialah obat bagi ragam penyebab. 

Akasia 11CT 


Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Puisi-puisinya ada yang ditolak redaksi ada yang dimuat redaksi. Buku kumpulan puisinya “Pertanyaan yang Menyelinap” akan segera terbit. Akun Facebook: Ilham Wahyudi dan Instagram: @ilhamwahyudi_ilham

Puisi

Puisi Khanafi

menjaga hal-hal utuh tetap kekal

di taman ini

aku adalah ketakhadiran

cuma taman

ya, taman ini

yang ada

selalu terjadi

demikian

di manapun

aku adalah apa-apa yang hilang

adalah hantu

gentayangan

saat aku berjalan

membelah udara

& selalu hampa

bergerak masuk

tuk mengisi ruang

tubuhku berada

sedang aku tiada

kita semua pasti

punya alasan

tuk pergi & kembali

aku pun begitu

demi menjaga

hal-hal utuh tetap kekal

abadi seperti puisi


tak ada yang benar-benar pergi

berapa lama aku bertahan

dari kutuk perpisahan?

aku tak yakin, aku tak tahu

waktu habis

tuk mengingat segala

yang hilang

segala yang kekal

dari kenangan

apa yang berlalu, berlalu

aku telah mencoba yang terbaik

tuk percaya padamu

bahwa tak ada yang benar-benar pergi

(iya, aku imani) meninggalkanku sama sekali


menunggu

seseorang selalu menunggu

dengan sayap patah di punggung

di udara terbayang

dari kegelapan ke kegelapan jauh

dengan pohon & hutan

hujan & air terjun

yang perlahan digusur

peradaban modern

seseorang menunggu

seperti bumi menunggu


dilupakan

segala tempat melemparku jauh

aku tak lagi milik suaraku

atau tangan untuk sentuh

perasaan kelu tanpamu


ke puncak kesepian

dan tiap pergerakan

depan mataku

seolah semua yang berlalu

malam selepas malam

mengupas seluruh warna bintang

berlalu ke laut

mencari pulau

angin mengiring

ke mana aku pulang

kembali ke puncak kesepian


hanya angin yang menyapa

kucoba panggil kembali

alur & sosok dalam mimpi

hidup seperti sebelum pagi

kembali sibuk & sibuk

tak ada jalan untuk mimpi

menjadi kenyataan

segalanya cuma kata-kata

yang tidur di ranjang usia

menggambar daun gugur

di luar jendela terbuka

segalanya terasa akrab

seperti hari-hari yang pernah lewat

dengan kegelapan yang tak lama

bakal menyergap dindingnya

di mana kau gantung puisi-puisi

seperti lanskap cinta yang hancur

tanpa seseorang, hanya pintu

& jendela sesekali terbuka, tak ada

hanya angin yang berhembus

hanya angin yang menyapa


membuang waktu di ranjang

begitu banyak waktu terbuang

seperti guguran kenangan

& malam adalah alegori

untuk nasibmu yang kesepian

mimpi tetap berbaring di sisi lain

tidur yang merindukan seseorang

tapi bukankah kegelapan adalah seseorang

yang berembus di dinding kenyataan

begitu kosong begitu bohong

& kau menjadi tak yakin

jika dalam hidup yang singkat ini

tiap malam adalah sama

hanya memutar film bosan

& yang kau temukan

cuma tubuhmu

yang tidur monoton

yang melamunkan

seseorang yang hilang

yang selalu merasa

begitu terasingkan


mencari ketenangan

hujan jatuh, masuk ke ceruk mimpi

tiap malam kau dengar angin

berhembus seperti pikiran yang lari

di kamar ini, di ruang ini

dinding seperti batu nisan

suasana gerah musim penghabisan

dinding terkunci

& kau pun tak ada

selain seluruh malam

yang berpikir;

di mana tempat untuk tenang

ke mana kau pulang


Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya tersiar di media daring maupun cetak. Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas, penerjemah, perancang sampul buku, dan penjual buku-buku lawas dan baru. Sekarang tinggal bersama keluarga di Yogyakarta, tengah menyelesaikan novelet pertamanya dan sedang mengulik satu buku terjemahan. Ia sesekali melukis untuk kebutuhan pameran pada suatu hari mendatang. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Akar Hening di Kota Kering (2021) mengalami revisi total, buku kumpulan puisi keduanya segera terbit. Penulis bisa dihubungi melalui email: [email protected].

Puisi

Puisi Diana Rustam

Burasa’

Hai anak lelaki

Ambil kulit pokok pisang itu

Jemur dan jadikan tali temali

Ikatlah nasi santan yang ditaburi ibumu dengan garam

Yang telah ia bungkus dalam daun pisang

Ikatlah hai anak lelaki, dua tiga atau empat serumpun

Jagalah api. Lihat ibumu menanaknya di atas tungku semalam suntuk sampai ia terkantuk-kantuk

Burasa’ itu bekalmu dari tangannya, merantaulah

Pulanglah kelak

Jangan pernah lupa cara mengikatnya

Sekalipun dunia telah mengajarkan banyak

Ingat dari mana kau pertama kali berangkat.

Makassar 2023


Tamu

Ada yang pamit

Ada yang bersedih

Bukan sebab yang pamit akan pergi

Tetapi yang bersedih menangis apabila yang pergi datang kembali sementara dirinya sudah tiada lagi

Makassar 2023


Lebaran dan Dua Orang Tua

Takbir bersahut

Nasu palekko

Burasa’

Di tata di atas nampan

Ada dua orang yang ompong giginya bungkuk punggungnya

Laki-laki dan perempuan bersarung berkerudung

Duduk berhadapan di lantai menekuri nampan

Perempuan berkerudung harap cemas membaca

Pesan yang datang di telepon genggam bututnya

“Maaf lahir bathin. Ananda masih sibuk, tak jadi mudik”

Lantas ia berkata pada laki-laki bersarung, “Anak kita ketinggalan kapalnya”

Makassar 2023


Bocah dan Kata-kata

Bocah laki-laki itu memunguti kata-kata yang melompat garang dari bibir bapaknya. dikulumnya kata-kata itu hingga gembung pipinya. pipinya kempis dan di kepalanya kata-kata itu telah duduk-duduk manis

Bocah laki-laki itu rajin sekali mengabsen kata-kata yang duduk manis setiap hari. Mahir pula ia mengawinkan kata-kata itu hingga mereka beranak-pinak di mulutnya.

Makassar 2023.


Eboni

Tahukah kamu? Eboni itu

Sekarang tidak lagi ia dipanggil begitu

Ia patung ia kapal-kapalan ia mobil-mobilan ia vas

dalam lemari atau di atas meja pajangan untuk dipandang dikagumi tetamu kadang pula diabaikan sampai berdebu

Pernahkah kau bertanya?

Adakah ia gundah?

Rindukah ia pulang menjadi dirinya di hutan berdiri sebagai pohon bersama semak belukar dan kijang dan burung-burung dan kabut yang turun menciumi pucuk-pucuknya?

Mari kita tanyakan

Pasang telingamu tajam-tajam

Mungkin ada sesuatu yang ia ingin ia katakan

Makassar 2023


Diana Rustam, menulis puisi dan cerpen di media sosial. Beberapa karyanya telah dimuat di media sastra online dan koran lokal.

Puisi

Puisi Joe Hasan

Puasa 3

orang-orang itu

datang mencari surga

di meja biru

menuju lobang paling hasrat

harum vodka di mejanya

abadi di mataku

dejavu datang tergesa-gesa

klik

aku buka jendela

mengeja suara mereka

pemuda kampung

badan ringkih

yang tidak mencari surga di perut ibu

lalu hening

sementara

saja

pagi aku diserang

bola-bola yang saling memukul

puasa ini

sungguh menguras kesabaran

aku masih sabar

menanti kedatangan perempuan tua

perawan

kita sama-sama mencari

surga yang tidak ke mana-mana

 (Baubau, 2023)


Puasa 6

apa yang mati

tak lagi mati

macet hanya menunaskan sabar

kini tumbuh

berdaun…

berbuah…

malam-malam

aku tidak lagi memetik kutuk

telah sembuh

bibir yang seharian

dengan kata yang super keramat

puasa hampir batal

ah, apa benar

jiwa yang bangun tengah malam

jiwa yang mudah marah

ialah yang dirindui Tuhan

untuk tak lupa Asmaul Husna?

(Baubau, 2023)


Perut Imam

subuh nanti

aku ingin berkelana

di perut imam

memetik doa-doa rapat

membaginya pada anak-anak jalanan

yang kehilangan peluk

dan di sana

kutemukan dusta paling purna

sisa-sisa ayat yang terapal tak berbekas

katanya telah berkali-kali khatam

apa mungkin aku yang tersesat di perutnya?

karena subuh belum sampai di rumah Tuhan

lalu aku berjanji pagi ini

tidak akan berkelana ke mana-mana

selain pada puisi

 (Baubau, 2023)


Puasa Kelima Belas

di rumah tuamu

hujan yang jatuh menjadi tua

tidak seperti biasa

kau meminta bunga sakura

untuk dibagi pada para musafir

tentu tidak gratis

semua letih ada bayaran lebih

tuturmu pada suatu petang

meski pahala dan amal tetap utama

bukankah pahala dan amal mudah terselesaikan

kala bayaran tercukupi sesuai keringat yang keluar

untuk hari kelima belas

permintaan itu tergolong terlambat

tapi kuingat petuah lama

yang masih hidup di segala dinding rumah tua ini

bahwa tak ada kebaikan yang terlambat

dan makin malam

hujan makin redup

redup…

redup…

tinggal ringkih tubuh terbungkus gigil

(Baubau, 2022)


Setiap Menit

setiap menit di pagi hari adalah menantikan

pesan-pesan yang mengudara

aku membunuh suara

lelah menjadi raja dalam rumah

pagi datang buru-buru

ketukan pintu tak ada perasaan lagi

mengejar uang dan begitulah setiap harinya

setiap menit adalah penantian

untuk kubalas lagi tanpa berlama-lama

berjanji bertemu di bawah pohon tomat

biar bekerjalah dulu

aku akan pamit pulang

meneguk izin sanak saudara

begitu pula kau

bukankah waktu tak pernah berlari

hanya kita yang begitu tergesa-gesa

setiap menit adalah menunggu pagi

dan setiap pagi adalah hadirmu

 (Baubau, 2020)


Tubuh Lain

mengaduh pada tubuh lain

seperti dejavu

permintaan 10 tahun lalu

datang menyerempet

tapi tubuh telah menegak

mimpi sudah bertemu tuan

sementara dia masih tidak mau pulang

dan kau kejar lewati puluhan pulau

berkali-kali

aku perlu menyelamatkan aku

yang terlalu lama diam

pada kegelisahan

biarkan kali ini puisi bersuara

meski tetap tak mampu

kepada tubuh lain

yang tidak menanam rindu

tiada lagi pengorbanan

pengalaman cukup memberi tahu segala

aku ingin pergi dengan tidak mengingat pulang

di sana letak segala gelisah

yang sulit mengaduh

saat ini

pada tubuh lain

aku mencatat sejarah sendiri

dengan tinta yang semakin hari

semakin purba

(Baubau, 2022)


Suara Subuh

hanya telinga yang terjaga

diam-diam menyebut asma Tuhan

suara subuh dari jauh

terbang mendekat

mendekap pada embun daun

mengintip lewat jendela telanjang

lalu memaksa masuk

seketika itu

debu-debu yang bertandang

ikut sujud

melunasi rindu

(Baubau, 2020)


Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Tulisannya pernah dimuat di media cetak dan online.

Puisi

Puisi Eko Setyawan

DI KAMP PLANTUNGAN

di tanah ini

dunia yang telah dibangun

seperti ditelan bencana

lantas porak-poranda.

sejak negara tak baik-baik saja

seseorang bebas menuduh

dan memenjarakan siapa saja

dengan alasan tak suka

atau barangkali hanya rasa iri semata.

seperti bangkai

hidup berlanjut menguar tak menentu

diterbangkan ke arah

tanpa tahu

ke mana hendak dituju.

taman dan bunga mekar seketika layu

dunia lindap dan ditelan kekuasaan.

akhirnya

di Plantungan

semua bermuara.

tangan yang semula ringan jadi ringkih

langkah yang indah jadi gundah.

semua tak baik-baik saja.

politik bergejolak

hati yang semringah jadi gundah.

setelahnya, hari demi hari

akan berjalan dan berakhir di sini.

di tanah ini,

sebagai tapol

bertaruh hidup dan mati.

(Karanganyar, 2023)


BERSETIA PADA LEPRA

penderitaan tak pernah berakhir

dalam hidup ini

ketika lepra menghinggapi

dan semakin bersetia dengan diri.

di bekas rumah sakit ini

apa yang ditempati

tak jauh beda dengan neraka

sebab di sini kami bisa mati kapan saja.

lepra

adalah karib

bahkan jauh sebelum keberangkatan

menuju Plantungan.

konon, kebencian adalah wajah lain

dari penderitaan.

penderitaan itu nyata

kematian beterbangan

dan bisa hinggap kapan saja

tanpa memberi aba-aba.

entah lewat lepra

atau diembuskan mereka yang berkuasa.

mengapa dunia begitu kejam sejak manusia mengenal kekuasaan?

(Karanganyar, 2023)


TUDING

1/

hidup adalah nasib yang tergantung

di ujung jari telunjuk

orang-orang yang mengorbankan saudaranya

demi nyawa diri sendiri.

tanpa peduli kelak hidup atau mati.

nasib itu telah raib

sejak jari tangan diacungkan:

“Ia PKI, Ia penari,

Ia Gerwani, Ia penulis puisi.”

2/

apa yang diimpikan lesap.

apa yang dibayangkan hilang

tanpa sisa.

sebab, cap dan stigma sangat mahal

dan seringkali menakutkan.

segala yang ditunjuk

telah berubah jadi firman.

lantas, langit yang cerah

akan berubah kelabu

tanpa hujan, hanya rintihan.

3/

dunia ini

tak lebih dari kebohongan

demi menutupi siapa diri sendiri

sebab, ujung jari telah menjadi belati.

jika tak ingin mati,

maka jari telunjuk harus bekerja

agar bisa dipercayai.

(Karanganyar, 2023)


MARS

            : Paduan Suara Dialita

kenangan itu getir di bibir

dan tak pernah jadi senyum

ketika lagu-lagu didengungkan.

senyum itu

tak lebih dari penghibur dan pengabur

dari kisah masa lampau

yang tak akan pernah diampuni.

sebab masa depan telah beku.

tak ada lagi harapan

selain bersandar dan bertumpu

pada nyanyian.

lagu-lagu yang dikumandangkan

telah jadi penghibur

ketika masa lalu mencoba dikubur.

tapi tentu, seluruhnya lamat-lamat menguar begitu saja.

apa yang bisa dipercaya dari hidup ini?

seluruhnya kegamangan

seperti nada-nada sumbang

dari mulut orang-orang yang membenci

dan seringkali menuduh tanpa bukti.

(Karanganyar, 2023)


PELAJARAN DARI PENGASINGAN

dituduh tak jelas

dibuang paksa

diseret

diperkosa

dikencingi

diinjak-injak

dimaki-maki

disiksa

tak dimanusiakan

seutas tali panjang

sebuah jarum

sehelai kain panjang

tikar dari daun pandan

kebun bunga

menyiangi rumput

menyiram kembang

Bagaimana cara membalas dendam dengan baik dan benar?

(Karanganyar, 2023)


Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), Mengunjungi Janabijana (2020), Peristiwa yang Kami Sepakati (2022), & Manten (2022). Buku Mengunjungi Janabijana meraih Penghargaan Prasidatama 2021 Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.

Puisi

Puisi Gandang Kandirido

Epifani

kesunyian datang

meringkus keterasingan

menyergap kebisuan

seiring gelap malam.

tubuh ini ringkih

berjalan makin tertatih

menangkap sosok di retak cermin

sorot matanya kulihat letih.

kekosongan pada akhirnya

menemukan jalan pulangnya sendiri

sekalipun sebatas tafsir ulang

dari sejarah yang sengaja dibenam kedalam

sajak-sajak gagak hitam.

epifani! epifani!

aku ingatkan selalu padamu

untuk jangan mati terlalu dini!

sebab mimpi-mimpi kini lupa

merangkai dirinya sendiri.

(2022)


Sepenggal Ingatan di Hari Lain

Di hari lain terkadang aku

masih ingat akanmu

kadang-kadang tak utuh

kadang-kala cuma

selintas bayangan

yang mengabur dan

samar

seperti adegan ganjil

dalam sebuah film bisu

tak bersuara.

(2023)


Semesta Kepalamu

Setelah hujan barangkali

Segala hal yang keluar dari mulutku

Akan dipenuhi huruf-huruf

dengan sayap Icarus

Sebelum nantinya terbang rendah

Mengitari semesta kepalamu

Dan bermukim di dalam sana

Sepanjang musim berganti.

(2023)


Diam Segala Ucap

bukan pulangmu yang buatku sekarat

tapi sepimulah yang datang

begitu rambat

lalu dari dalam sunyi gelap

diam-diam menyelinap

segala ucap

entah jadi ratap

entah jadi senyap

entah jadi apa-apa yang mungkin

akan mengendap.

(2022)


Pada Sebuah Pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita tak lagi duduk bercerita

Sambil rasakan ombak kecil menerpa

Pukuli kedua telapak kaki

Pada sebuah pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita tak lagi bicara apa-apa

Sekalipun cuma bertukar sapa

Apalagi berbincang tentang suatu masa

Yang lewat dan yang akan tiba

Pada sebuah pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita saling berjalan menjauh

Dan tak mungkin menoleh lagi.

(2022)


Pada Beku Wajahnya Aku Menemukan Tebing

Curam

Terjal

Menganga

Jalan menujunya

Nyaris

Sepi tak habis

Habis.

(2022)


Aku Katakan Kepadamu Seperti Apa Sepi yang Membunuh Itu

Mula-mulanya ia merangkulmu

Seperti kawan lama

Bertandang ke rumah

Bertamu tanpa memberimu

Kabar lebih dulu

Kemudian ia mendekapmu

Seperti seorang kekasih

Dimana dari wajahnya kau yakin

Dialah satunya-satunya orang

Yang akan kau lihat

Setiap pagi

Setiap kau bangun

Dari tempat tidurmu

Lalu entah oleh apa

Seperti bayangan

Ia menyelinap

Mengendap-endap

Pergi ke dalam

Mengambil pisau dan

Menikammu saat lengah

Setelah tersadar

Kau cium gelagat janggal

Dari sebuah kedatangan.

Solo, 2022


Pada Apa-Apa yang Mungkin

Kini kita hanya bisa bersandar pada apa-apa yang mungkin

Hanya bisa bersandar pada apa-apa yang terlihat mustahil

Maka untuk semua waktu yang pernah nyaris itu

Sesekali jenguklah ruangan yang membeku kini

Fragmen fragmen yang tak lagi membicarakan percakapan–percakapan kecil

Percakapan sederhana

Kalaupun harus dipecah, pecahlah

menjadi bagian-bagian kecil

Bahkan jika harus menyelam, selamilah

Sekalipun harus ke jurang paling dasar

Paling dalam

Paling sukar

Dan tak terbahasakan

Oleh kata-kata.

Solo, 2022


Lautan Ini Kembali Tenang

langit menghangat

sore menguning

cahaya keemasan tak lagi

merah membakar pucat

wajah seseorang

Lautan ini kembali tenang

meski deru-debur ombak itu

pernah menggulung tubuhnya

sampai tenggelam

di kegelapan paling dasar.

Lautan ini kembali tenang

Tiada lagi gemuruh badai itu

yang sempat hantam-karamkan

seluruh kehidupan

di kedua matanya yang redup.

(2022)


Gandang Kandirido, lelaki insomnia. Berdomisili di kota kelahiran, Surakarta, Jawa Tengah. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi.

Puisi

Puisi Daruz Armedian

Mungkin Ada

& Mungkin Tak Ada

mungkin ada,

seseorang

duduk di bawah

pohon purba.

matanya menatap kota

yang jauh—

dan meski jauh,

tetap terasa panas,

bau, pengap, sesak

& membosankan.

matanya menatap

kerumunan manusia

            yang jauh—

            dan meski jauh,

            tetap terasa berisik,

            jahat, licik, ambisius,

            penuh dendam

            & sangat menyedihkan.

tapi mungkin juga

tak ada

siapa pun

di sana.

tak ada kota,

tak ada manusia.

angin ketiadaan

berembus dengan percuma.

2022


Perbincangan Tengah Malam

dengan caranya

yang aneh,

sunyi meledak.

serpihnya berserak,

& semesta dimulai.

kekosongan berserakan,

di serpih yang satu,

juga di serpih

yang lain.

apa tak ada

sedikit pun angin?

tanyamu

mencari celah

pada yang mungkin.

dari arah yang jauh,

s  a  n  g  a  t   j  a  u  h ,

bertahun kemudian,

angin bergemuruh.

menyentuh serpihan itu,

menjadikannya basah,

&

kehidupan

dimulai.

cuma di bumi maksudmu?

kau tak memberi waktu.

       tak memberi jeda,

untuk persoalan

selanjutnya.

apa tak ada kehidupan

di planet lain?

di bintang-bintang,

& sejumlah tempat

dari kesunyian?

mungkin ada. mungkin tak ada.

hidup selalu soal menduga-duga.

lalu makhluk hidup yang naif,

dengan keterbatasan

pikirannya,

memberi nama-nama;

ini pohon,        ini gunung,

ini danau,        ini bunga.

itu sungai,        itu laut,

itu teluk,          itu muara.

kau membuka jendela.

biar angin masuk, katamu.

tapi di luar tak ada apa-apa.

udara akhir-akhir ini,

jarang sejuk

meski dini hari.

lalu makhluk hidup yang naif,

dengan keterbatasan

pikirannya,

memberi ruang tumbuh

untuk kehancuran,       kebisingan,

kegaduhan,                  kesemrawutan,

kerusuhan,                   polusi udara

dan lain sebagainya.

kau mengambil sebatang

rokok, dan membakarnya.

mari kita akhiri perbincangan ini.

istirahat.

lalu terjaga.

lalu bekerja.

orang miskin

seperti kita

tak punya banyak waktu

untuk membicarakan semesta.

2022


Cara Terbaik Membuka Mata

Setelah Kehilanganmu

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah waktu pelan-pelan jadi gerbong kereta,

membawamu ke arah yang tak ada aku di sana.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah bertahun-tahun sebelumnya, aku terjaga

dalam keadaan jatuh cinta.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah aku paham kau melambaikan tangan,

yang bukan untuk sapaan.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu.

cara yang sama sekali belum pernah kupelajari,

sebelum kau memilih pergi.

2021


Aku Bermimpi

aku bermimpi

menjadi bayi

yang menangis

karena paham

tangannya tidak

menggenggam

apa pun

kecuali

ketiadaan.


Desember Pada Sebuah Elegi Dini Hari

desember mengubah malam

            menjadi bahasa yang

            tak mudah dikatakan.

orang-orang tampak lebih

            murung dan segalanya

            yang mereka genggam

            hanyalah kekosongan.

orang-orang merencanakan

            sesuatu untuk hari depan

yang mereka sudah tahu

            itu adalah kegagalan,

            atau sekumpulan kemustahilan.

malam jadi tambah kosong,

            langit padam & hujan

            jatuh sebagai gesekan biola

            pada lagu-lagu melankolia.

Mata didera insomnia & Pikiran lelah

bertarung dengan angan-angan

tentang hari dan nasib baik

di tahun yang akan datang.

desember mengubah malam

            menjadi luka yang

            tak mudah disembuhkan,

            menjadi tubuh yang rentan

            jatuh dan dikecewakan.

Jogja, 2021


Menepi

selalu ada hari

di mana seharusnya

kau menepi

dan menyembuhkan

            luka-lukamu sendiri.

orang-orang mungkin

bisa memberikan pelukan,

tapi tidak untuk ketenangan

            jangka panjang.


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan cerpen se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya tersiar di pelbagai media cetak dan daring.

Puisi

Puisi Galuh Ayara

Buku Dongeng

sehabis membacakan buku dongeng

ibu pergi menutup pintu kamar

kepalaku jatuh ke lantai

lalu aku tidak mengenali apa pun

tokoh-tokoh dalam dongeng

mengubur tubuhku di negeri yang jauh

2023


Dalam Spons Cake Mocca Rich

ketika aku diserang demam

dan kepalaku ditusuk-tusuk memori buruk

aku tidak ingin menutup mata

sebab kulihat ia terbang

lalu hinggap di dahan awan

aku senang bukan kepalang

ia turun kemudian

memberiku potongan spons cake mocca rich yang besar

yang punya mulut dan gigi

maka tubuhku masuk ke dalam spons cake mocca rich

seolah aku dimakan

lalu dari kepalaku

tumpah adegan-adegan mengerikan

seperti iblis yang meleleh jadi saus cokelat

tumpah ke mana-mana

di mana-mana

ia kuingat kemudian

dan perlahan

tak pernah datang

tak pernah pulang

ke dalam pelukan

atau pun kutukan

lenyap seperti disihir

evanesco

abrakadabra

hilang

di dalam spons cake mocca rich

tubuhku 40°

sendirian

2022


Ketika Aku Cemas

kierkegaard duduk di kamarku dan melemparkanku seribu lembar kain sutera

tidurlah aku sembari masuk ke matanya yang seperti lorong putih kosong

maka aku berada di antara ketiadaan yang amat luas

ke mana aku dilemparkan?

pada ketiadaan atau kekosongan?

malaikat berwarna putih memegang tanganku

ia tidak memiliki sayap

tapi memiliki ekor yang panjang seperti naga

ketika kuinjak ekornya

matanya terbakar

dan seluruh tubuhnya menjadi semerah neraka

aku di mimpi atau di neraka?

aku ingat pada setiap pertemuan dan perjamuan

yang datang dan yang hilang

lalu penderitaan meminjam wajah kehidupan

aku di mimpi atau di neraka?

begitu hidup masih saja kuterka

2023


Mimpi

seorang perempuan wangi susu

berdiri di ujung jariku ketika aku tidur

dari matanya yang sayu

aku menyaksikan;

seorang ibu yang beranak

dari perutnya keluar api

lalu mengental menjadi daging

lalu tuhan menyuruh menangis

lalu terbelalak;

iblis berjalan semakin dekat

semakin cepat

dan perlahan kelopak mataku jadi beku

2023


Di Meja Makan

fla yang warna merah

yang meleleh dari dalam roti itu

bukan rasa stroberi

darahku mendidih

muncrat ke atas meja

2023


Galuh Ayara, suka menulis cerpen dan puisi. Beberapa karyanya dimuat di beberapa media. Sudah menerbitkan Buku kumcer ‘Nyanyian Origami’ (2020) yang berisi kumpulan cerita pendek, dan ‘Pohon Insomnia’ (2022) yang berisi kumpulan puisi.