
Nyantaka
Dalam rupa kera, perempuan yang semula jelita
menjura di depan ramandanya
sesungguhnya, kau sedang menjalani karma, anakku, kata Gotama.
sebagaimana ibumu yang membisu bagai batu, maka jadilah ia tugu batu
nafsu berebut cupu, menjelmakan kebajikan jadi bebendhu.
Atas perintah Gotama pula, ia pergi ke tepian Mandirda
mengambanglah tubuhnya tanpa busana di atas tirta
kini ia kera yang merupa katak: nyantaka
dengan penuh harap, terbebas dari karma
Sampai pada suatu ketika, Manikmaya di atas Andini melihatnya
menggelegak birahi, dan jatuhlah setitik kama di atas daun
daun mengambang, mengalun pelan di atas tirta
yang mengantar masuk ke mulutnya
dan tumbuhlah di tubuhnya – tubuh baru
kelak, sang putra lahir, pun dalam wujud kera
tetapi ia, tersebab karma telah purna
kembali menjadi jelita.
Surakarta, Maret, 2022
Supata Drupadi
Dadu yang dilempar dan jatuh di tengah meja nasib ketakberuntungan
adalah awal mula petaka. Dan, perempuan itu menolak menyebutnya sebagai takdir.
Ia, antara luka dan bermandi ludah, barangkali sempat
berpikir: apakah setiap lelaki adalah jelmaan dari sepotong
lintah atau segumpal nanah?
Sebab nyatanya, setelah ia diperebutkan bak piala dalam perlombaan
di negeri ramandanya, Pancala,
sekarang jadi taruhan dalam perjudian oleh kelima suaminya
: Pandawa
Mendadak terdengar gelegar tawa seratus rupa iblis
membuat telinganya begitu pekak
Lelaki memang diciptakan dari lempung, juga otak dan hatinya
Ia ingin meneriakkan itu, tetapi keburu sadar rambutnya
yang panjang, sudah terurai. Kain jarit setengah terburai, nyaris dirinya telanjang
dan kembali terdengar tawa seratus iblis.
Adalah Dursasana yang menggelegak birahi yang telah menjambak rambutnya
mengurai sanggulnya, tetapi
gagal menelanjanginya.
Ia menahan tangis, namun kesedihannya menjelma sungai
beriak mantra yang menggema sampai ke padang Kurusetra, kelak.
Ia yang mengucap sumpah: tak menyanggul rambutnya, sampai
ajal menemu sang durjana, dan ia akan meminum darahnya!
Surakarta, Maret 2022
Palgunadi
Aku adalah murid yang mencari guru
katamu pada sebongkah batu yang kau pahat
menyerupai Drona
Sejak hari itu, hingga berpuluh purnama kemudian,
kau berlatih kanuragan
merentang sejauh mungkin gendewa
membidikkan jumparing pada mata hidup
yang kian miring.
Tapi kau tahu, tak ada yang boleh mengungguli Arjuna
sebagaimana kata Drona, tersebab akan menjadi
senapati dalam kancah baratayuda yang sudah diramalkan itu.
maka pada sebuah senja yang mokal, sebongakah batu itu
mendadak bisa bicara.
: gerangan apa yang membuat dirimu
bisa sedemikian sakti, anakku, Palgunadi ya
Bambang Ekalaya?
Adalah Manik Sotyaning Ampal, guru. Kau berkata
takzim penuh hormat, sembari menunjukkan
ibu jarimu
Tak sebiji zarah pun ada syakwasangka
di hatimu.
: bahwa, misalnya, seseorang telah bersembunyi
di balik patung Drona.
O, lalu apa yang seharusnya dilakukan seorang murid
terhadap gurunya?
Menghormatinya. Mematuhi perintahnya.
Dan apakah diperkenankan seorang
guru meminjam pusaka milik muridnya?
Tetapi, Manik Sotyaning Ampal tak bisa lepas dari ibu jarimu.
Tak ada cara lain. Kau mesti memotong ibu jari sendiri
demi menghormat pada sang guru.
Memotong ibu jari, adalah menghabisi hidupmu.
Sebuah suara yang entah datang dari mana
mungkin dari ceruk paling jauh dalam jiwamu.
Tetapi, menghormat seorang guru jauh lebih mulia.
Kau abai pada suara itu. Abai pada keselamatan hidupmu.
Dan dengan sebilah belati, maka kau potong jempol tanganmu
tanpa mengaduh
: tak ada tetes darah
terimalah, Guru. Kau berkata. Suaramu bergetar
tetapi mendadak dadamu berlubang
namun yang muncrat adalah cahaya, yang lalu menggumpal
membawamu terbang ke langit
Kelak, dalam gaduh baratayuda
kau manjing di raga Destrajumena
memenggal kepala Drona yang tengah kalap
tersebab kematian Aswatama, di tengah medan Kurusetra.
Solo, Desember 2022
Aswatama
Aku telah menerima takdirku yang terlahir bukan sebagai ksatria
maka betapa pun besar inginku, aku tak layak berdiri di barisan depan
meramaikan pesta darah di Kurusetra.
Begitupun, aku juga telah menerima takdirku yang lain: cinta
tapi betapa celaka hidupku, kau tak ditakdirkan untukku
Ah, Banowati yang molek yang lincah serupa srigunting
Betapa aku merindu padamu
Padamu
Hanya padamu
Bahkan manakala aku tahu lelananging jagat, lelaki paling kurang ajar
di seluruh dunia itu, telah memesonamu, yang datang
menyelinap mengendap mencecap birahimu
di belakang Duryudana yang tolol.
O, pernikahanmu yang banal yang tak masuk akal
sesungguhnya telah batal.
Tapi mengapa tak juga engkau menangkap isyaratku
yang menyimpan selaksa resah
: rupanya sihir cinta telah melenakan semesta
Tetapi betapa celaka hidupku – betapa malang nasibmu
Banowati.
Justru aku-lah yang merenggut hidupmu
Tetapi kau harus tahu, setelah panah bayi Parikesit menghujam dadaku
Maka sesungguhnya saat itu pula cinta kita bertaut
Solo, Oktober 2019
Duka Duryudana
Ini bukan tentang negeri yang bakal hancur
tetapi hatiku yang lebur
ratap Duryudana pada bayangan sendiri di cermin
yang muram
perempuan itu bernama Surtikanti
yang telah mengepung hatinya dengan
seribu satu panah cinta yang berlesatan
dari setiap inci tubuh sang kekasih
cinta hanya sampai di ambang nyata
tersebab Surtikanti lebih memilih
Karna
Duryudana, sekalipun memendam luka perih
tetap mengalah
merelakannya melabuhkan cinta kepada putra Adirata
Maka Banowati perempuan molek yang binal
sebagai penggantinya
tetapi cinta sang raja betapa sial
perempuan itu bermain mata dengan Arjuna
yang nakal
Apakah aku masih sanggup menampung luka?
Bayangannya mendadak retak di cermin
Dan Baratayuda yang kian dekat gaungnya
menghampar di matanya
: Setelah satu demi satu saudaranya gugur
Banowati, ah, betapa malang
keris Aswatama menancap di dadanya.
Solo, Desember 2022
Duka Kunthi
Siapa yang paling berduka melihat darah menetes di Kurusetra?
adalah ibu yang melahirkan rahasia-rahasia yang tak
kuasa membendung air mata
mengeja takdir yang penuh galaba
: Baratayudha
dalam kecamuk sawala sesama wangsa
ibu tak akan menakar siapa salah
siapa benar. darah yang tumpah, bukan milik siapa-siapa
setiap darah yang menetes, adalah darah ibu juga, anak-anakku!
adalah Basukarna, ksatria malang sejak dilahirkan
dilahirkan sebagai akibat mantra Adityarhedaya pemberian Duwarsa
tetapi kehamilan adalah aib
maka ibu melarungnya di Gangga yang murung
lalu kutukan demi kutukan, dari seorang Brahmana,
Parasurama hingga Mahaguru Drona
sebelum akhirnya Pasopati Janaka merenggut
hidupnya. dan kesedihan, tak akan bagai katak yang menyanyi riang
di musim penghujan
dan duka ibu mana lagi yang kau dustakan selain
dari kematian seorang anak yang digalang saudara sendiri?
setiap ibu hanya melahirkan kesucian
tak seorang pun bisa lebih memahami
yang dirasakan ibu, selain ibu sendiri
bahkan dewa-dewa
juga Kresna, sang penjaga takdir itu
ibu tetap berduka atas kematian Basukarna
betapapun mencoba
derana
Surakarta, Februari 2022

Y Agusta Akhir, tinggal di Solo. Pernah belajar di Institut Seni (ISI) Surakarta. Menyukai dunia literasi. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Karyanya tersebar di media lokal maupun nasional, serta media online.















