Katalog

Curhat

Secangkir Kopi di Malam Gerimis

Curhat Linzie

Aku baru saja bangun dari tidur soreku. Tubuhku terasa masih lengket di kasur, karenanya aku meraih ponsel dan membuka Youtube. Setelah bosan menonton short video, aku mengetik ‘film pendek Indonesia’ pada kolom pencarian. Pilihan randomku jatuh pada judul ‘Pick Me’.

Film itu menceritakan perjalanan asmara seorang perempuan populer bernama Alifvia. Banyak teman lelaki di sekolah yang menyukainya. Salah satu lelaki yang tak pernah menyerah adalah Surya. Berulang kali Surya menyatakan cinta, berulang kali juga Alifvia menolaknya.

Suatu hari, saat Alifvia ngobrol di kafe bersama dengan dua temannya, Didi dan Salsa, terjadilah kesepakatan antara Didi dan Alifvia. Jika Alifvia berhasil menaklukan seorang barista bernama Rayyan di kafe itu, maka ia berhak mendapat 1 tiket konser Raisa.

Demi melancarkan aksi pendekatan pada Rayyan, Alifvia selalu datang ke kafe itu dengan modus memesan jenis minuman yang sama. Singkat cerita, keduanya akhirnya dekat. Alifvia yang sebelumnya tak pernah merasakan perasaan tertarik pada lelaki, mulai merasa nyaman dan jatuh cinta pada Rayyan. Namun, saat Alifvia hendak menyatakan cintanya, seorang perempuan bernama Renata tiba-tiba datang. Rupanya perempuaan itu adalah tunangan dari Rayyan. Alifvia kecewa, ia merasa patah hati dan mulai menangis. Namun, sekian detik kemudian, Alifvia teringat ucapan Rayyan perihal memori ikan mas. Ia mengaku bahwa dirinya sama dengan ikan mas, yang hanya memiliki ingatan selama 10 detik saja. Karenanya, Alifvia bangkit dan kembali ke dunianya yang populer. Tak pernah sakit hati karena cinta, luka akan hilang sebab memorinya segera terganti.

Tanpa Alifvia ketahui, rupanya Rayyan hanyalah orang suruhan Surya. Ia dendam pada Alifvia karena terus menolak cintanya. Sehingga muncul keinginan dirinya untuk membalas sakit hatinya dengan membuat Alifvia merasakan cinta sekaligus patah hati yang sama.

Cerita sederhana, relate-lah dengan masa-masa sekolah. Tapi 1 hal yang cukup menarik perhatianku: pernyataan Rayyan kepada Alifvia mengenai ikan mas dan memorinya. Menurutku itu cukup menggelitik. Entah benar atau tidak, aku tak berminat mencari tahu. Tapi jika itu memang benar, maka setiap 10 detik hidupnya adalah sebuah kelahiran yang akan memiliki pengalaman baru. Apakah itu hal menyenangkan? Bisa ya, bisa juga tidak.

Bagiku, jika ada hal yang mampu kuubah, aku tak pernah berniat mengubah apa pun. Karena aku yakin, pertemuanku dengan Zavier, El, Varo, dan Noe, telah mengantarkanku pada pengalaman hidup bersama Saka, pria yang hingga detik ini sangat kucintai.

Saka memang bukan satu-satunya pria yang pernah dekat denganku, tapi bisa kupastikan bahwa ia adalah satu-satunya pria yang sanggup mengubah cara pandangku pada kehidupan itu sendiri.

“Jika warna kulitku menimbulkan keraguan, sampaikan pada papamu kalau sejak awal aku diciptakan tak bisa memilih dari rahim siapa aku akan lahir. Lalu katakan juga pada mamamu, meski aku tak menyembah pada Tuhan yang sama denganmu, aku tetap percaya jika Tuhan itu 1, Sang Maha Pengasih. Apa lagi yang perlu diperdebatkan?” jelas Saka kala itu.

Aku memandang takjub pada dirinya. Meski aku sering menganggap ia hanya membual, ia termasuk the one and only yang dengan nekat mendekatiku. Ia tak pernah menutupi jati dirinya. Ia bangga akan asal usulnya. Bahkan, ia juga sempat mengatakan padaku: biarlah hasil akhir tetap menjadi misteri, selama apa yang kulakukan hari ini bisa masuk sebagai caraku memperjuangkanmu.

2 tahun aku menjalanipacaran dengan Saka. Papa tak pernah bicara dengannya. Dan mama, tak pernah mengizinkan Saka masuk lebih dalam kecuali di teras rumah. Aku merasa tak enak pada Saka. Sering aku memintanya untuk menemuiku di luar saja, taman atau kafe.

“Pria sejati tak pernah sakit hati pada keadaan yang memang tak bisa diubah,” jawab Saka yang membuatku seperti sedang berhadapan dengan Dilan. Aku Milea-nya. Kalimat-kalimat yang terdengar angkuh, juga pernyataan-pernyataan tak biasa justru membuatku semakin menyukainya.

Saka sering ikut denganku ke klenteng. Ia bilang, berdoa bisa di mana pun. Agama adalah perihal keyakinan. Fanatisisme hakikatnya hanya 2 arah, hamba dan penciptanya. Tak boleh ada campur tangan orang lain. Bahkan, sekadar menuduh pun dianggap sudah merupakan sebuah pelanggaran. Pikiran adalah milik kita sendiri, lalu hati menyempurnakan pikiran itu. Tidak ada yang benar-benar tahu, apa isi hati dan pikiran orang lain. Karena yang nampak, sesungguhnya belum tentu apa yang terjadi di dalam keduanya.

Saka kini tak lagi bersamaku, tapi dirinya terasa tetap menyertaiku. Aroma kopi yang biasa dicecapnya setiap kali kami menikmati kebersamaan, membuatku selalu kangen. Di dalam cangkir putih, diseduh dengan air panas kompor yang baru saja mendidih, ditambah gula separuh sendok teh. Ya, aku ingat betul dengan caranya membuat kopi. Baginya, begitulah ia menikmati kopi. Tak peduli barista-barista atau para pecinta kopi akan menganggapnya tak tahu cara memperlakukan kopi dengan benar.

Aku tak pernah suka kopi. Teh menurutku lebih menenangkan. Sama-sama memiliki kafein. Ini hanya soal selera dan kebiasaan saja. Seperti caraku menulis dengan tangan kanan, lalu Saka dengan tangan kiri. Atau kebiasaanku makan nasi padang dengan sendok dan garpu, sedang Saka menggunakan tangannya. Bukan soal benar dan salah seperti apa yang kedua orangtuaku sampaikan. Bukan juga tentang kesetaraan yang juga mereka agung-agungkan.

Sebelum Saka meninggalkanku dengan sangat manis, ia sempat berkata padaku: “Jika kelak reinkarnasi itu benar ada, aku ingin tetap menjadi diriku. Tak peduli berapa kali fase reinkarnasi yang harus kulalui demi mendapatkan dirimu.”

Malam semakin larut. Gerimis mulai turun. Secangkir kopi ala Saka yang sengaja kubuat tadi telah dingin. Aromanya tak lagi tercium. Meski masih terasa berat untukku, tapi kenangan-kenagan bersama Saka adalah hal paling indah di hidupku. Aku tak ingin menjadi seperti ikan mas. Jika boleh, aku ingin terus mengingatnya. Bukan tak mau mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu, tapi sekadar berdamai dengan bagian dari hidupku.

Aku meraih ponsel, memandang kembali pada undangan pernikahan digital yang dua hari lalu Saka kirimkan padaku. Di pesan lain yang sempat juga dituliskannya untukku, Saka berkata: Jika kabar ini membuatmu bahagia, datanglah dan sampaikan selamat untukku. Aku akan berbahagia. Namun, jika aku hanya bisa membuatmu sedih, maka kutuklah aku menjadi kecoa seperti katamu dulu.

Terkadang aku merasa apa yang terjadi di hidupku hanyalah sebuah takdir yang buruk. Walau aku tahu, dunia tak selamanya akan berpihak padaku. Aku tak ingin benar-benar pasrah pada keadaan. Namun Saka, memilih menyerah pada keadaan. Apakah itu membuatku kecewa? Ya. Tentu saja aku sempat mengutuknya. Apa yang ia janjikan padaku seperti memang benar bualan belaka. Nyatanya ia tak pernah berani melawan kedua orangtuaku. Dulu, aku tak pernah sepakat dengan ucapannya. Namun kini, aku telah mengerti. Kebahagiaan sejati tak akan pernah benar-benar didapat jika kita melukai hati orang lain, terlebih kedua orangtua.

Aku belum memutuskan apakah aku akan datang atau tidak di acara pernikahan Saka. Tapi, seminggu mungkin cukup bagiku untuk memikirkannya. Dan yang pasti, seminggu adalah waktu yang cukup panjang untukku menikmati aroma kenangan pada setiap kopi yang coba kubuat menyerupai cara Saka membuatnya dulu. Setelah 7 hari, kupastikan aku tak akan pernah membuatnya lagi.***

Linzie

Perempuan yang ingin segera move on

Cerpen

Pelajaran dari Kegelapan

Cerpen Era Ari Astanto

Dalam sunyi yang pekat, aku berdiri di hadapan kegelapan, bertanya pada diri sendiri apa makna dari hidup ini. Selama ini, aku percaya bahwa segala sesuatu memiliki dualitas: terang dan gelap, baik dan jahat, benar dan salah. Namun, di tengah kekacauan dunia yang terus menerus berderu, aku mulai ragu. Mungkinkah dunia tidak se-hitam-putih yang selama ini kupercaya? Mungkinkah ada kebenaran dalam kebohongan, atau kebaikan dalam keburukan?

Pemikiran ini muncul tiba-tiba, saat aku lelah mencari jawaban pada segala hal umum yang dipuja manusia. Terlebih, semua yang kuketahui tentang Iblis—entitas yang selalu digambarkan sebagai sumber segala kejahatan—seolah terbentang di hadapanku sebagai jalan yang harus kujelajahi. Bukankah untuk memahami cahaya, kita juga harus memahami kegelapan? Bukankah untuk mengantisipasi maling, kita harus tahu cara maling? Dengan pikiran itu, aku melangkah menuju perjalanan yang tak seorang pun sebelumnya berani tempuh.

Di sebuah bukit terpencil, tersembunyi di pedalaman, di antara pohon-pohon kurus yang tak nyaris berdaun, aku mendirikan altar sederhana. Ala kadarnya, karena aku tak pernah tahu cara memanggil Iblis. Aku hanya fokus pada keinginanku: merasakan kehadiran kegelapan. Dengan kehangatan api unggun yang mengelilingiku, aku mencoba memanggil makhluk yang dalam cerita-cerita selalu digambarkan dengan tanduk, ekor, dan tatapan penuh kebencian. Aku tak tahu ritual apa yang tepat; hanya mengikuti apa yang intuisi bisikkan. Malam itu, bulan tersembunyi di balik awan, dan hanya suara angin yang berbisik pelan. Alam seakan mendukung kesunyian, suasana menjadi lebih dingin, seolah kehadiranku di tempat itu memang direstui.

Tidak ada mantra atau jampi-jampi. Aku hanya mengulurkan tanganku ke arah api unggun yang kubuat sambil berkata: wahai makhluk kegelapan, datanglah. Dan tiba-tiba angin kencang datang, menyapu api itu dan mengirimkan kepulan asap ke arahku. Aku terbatuk-batuk dan hampir ngglimpang, sementara di kejauhan, aku melihat sesuatu bergerak dalam kegelapan. Jantungku berdegup kencang. Apakah ini awal dari sesuatu yang buruk? Apakah Iblis akan memakanku atau mencabik-cabikku?

Dalam keheningan itulah dia muncul. Tidak seperti yang kucoba bayangkan. Sosok yang berdiri di hadapanku tidak bertanduk, tidak juga berwajah menakutkan. Ia hanya serupa seorang pria dengan mata tajam dan senyum tipis, seakan tahu lebih banyak dari yang siap ia katakan. Pakaian yang dikenakannya sederhana, tetapi aura yang terpancar darinya membuatku sadar bahwa ia bukanlah makhluk biasa.

“Apa yang kau cari?” suaranya dalam, tetapi terdengar seperti bisikan yang langsung menembus pikiranku.

“Aku mencari kebenaran,” jawabku, mencoba menahan getaran dalam suaraku. “Aku ingin mengetahui sisi lain dari yang selama ini disebut sebagai kegelapan.”

Ia mengamati wajahku dengan saksama, seolah menimbang-nimbang apakah aku layak mendapatkan apa yang kucari. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia membalikkan badan dan melangkah pergi sambil memberi isyarat agar aku mengikutinya. Aku beranjak, melangkah di belakangnya, mengikuti ke mana pun ia akan membawaku. Meski aku sedikit ragu.

Perjalanan kami berlangsung dalam keheningan, tetapi tiba-tiba, suasana berubah menjadi menegangkan. Kami melewati sebuah jembatan yang goyang-goyang, tampaknya hampir ambruk. Aku hampir terpeleset ketika satu papan jembatan patah di bawah kakiku, dan Iblis dengan tenang menangkapku dengan satu tangan, seakan kejadian itu sudah diprediksi. Ketika kami menyeberangi jembatan, perasaanku campur aduk—antara ketakutan dan rasa ingin tahu yang mendesak-desak.

Di sebuah tempat, dia memggeser sebuah batu, lalu tampak lorong kegelapan yang benar-benar gelap. Kami memasukinya. Sangat gelap, bahkan aku tak bisa melihat apa pun selain gelap. Aku terus berpegangan pada jubahnya. Hingga perlahan kulihat samar cahaya.

Kami tiba di sebuah tempat yang menyerupai desa kecil, dengan rumah-rumah tampak kosong, seperti telah lama ditinggalkan. Namun, tidak ada kesan suram di sana, hanya keheningan yang sedikit mencekam. Ia menuju ke sebuah bangunan sederhana, lalu masuk ke dalam. Di dalamnya, hanya ada satu ruangan besar, dengan pelita kecil yang menyala di tengah, memancarkan kehangatan yang menenangkan. Ia duduk di hadapan pelita itu, dan mengisyaratkan agar aku duduk di seberangnya.

“Kenapa kau ingin mengetahui kebenaran dari kegelapan?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Aku lelah dengan semua kebohongan yang ada di dunia ini,” jawabku, mencoba menahan emosi yang tiba-tiba muncul. “Aku ingin tahu apakah ada sesuatu yang bisa dipelajari dari sisi yang selama ini dianggap jahat.”

Ia tersenyum, kali ini lebih jelas, dan untuk pertama kalinya aku melihat kilatan humor dalam matanya. “Manusia selalu takut pada kegelapan, tetapi mereka tidak menyadari bahwa dalam kegelapan, ada banyak hal yang tersembunyi. Aku bukan sekadar wujud kejahatan, seperti yang kalian yakini. Aku adalah cerminan dari keinginan terdalam kalian, sisi yang kalian tolak tetapi tidak mungkin bisa dimusnahkan.”

Mendengar perkataannya, aku merasa seolah terperangkap dalam labirin pemikiran yang rumit. Semua hal yang kukira benar mulai goyah. “Tapi, tidakkah itu berbahaya?” tanyaku. “Menghadapi sisi kelam bisa membuat seseorang terjatuh ke dalam jurang yang dalam.”

Iblis tersenyum sinis, seolah tahu jawaban yang ingin ia berikan. “Kehidupan itu sendiri adalah risiko. Kegelapan tidak selalu berarti kejahatan; ia bisa jadi cermin bagi kebenaran yang kau cari. Yang kau anggap sebagai dosa sering kali adalah cara untuk mencari kebebasan, untuk mencari arti dalam hidup yang terperangkap dalam rutinitas yang membosankan.”

Saat kami sedang berbicara, tiba-tiba pintu ruangan bergetar dan sebuah balok besar jatuh dari langit-langit, hampir menimpa kami. Kami melompat ke samping, dan aku tak bisa menahan tawa ketika melihat Iblis berusaha dengan canggung mengangkat puing-puing itu. Dalam kekacauan kecil itu, Iblis tersenyum, tampaknya merasakan absurditas situasi ini. Dalam sekejap, suasana yang mencekam berubah menjadi komedi hitam yang menggugah.

“Lihatlah,” katanya sambil mengangkat puing-puing dengan susah payah, “bahkan dalam kegelapan, kita bisa menemukan momen-momen lucu yang mengingatkan kita akan kemakhlukan kita.”

Aku terdiam, terpesona oleh cara pandangnya. Iblis itu menyadarkanku bahwa meskipun kehidupan bisa menyakitkan dan tidak terduga, ada keindahan dalam kesedihan itu.

Ia kemudian melanjutkan ceritanya, tentang bagaimana ia dahulu adalah malaikat yang jatuh, bukan karena kejahatan, tetapi karena ia mempertanyakan aturan yang menurutnya tidak adil. “Kebebasan adalah anugerah yang paling berharga,” katanya. “Namun, untuk memiliki kebebasan, kau harus siap menanggung konsekuensinya. Aku memilih kebebasan, dan karenanya aku menjadi apa yang kalian sebut Iblis.”

Aku mendengarkan dengan penuh perhatian, setiap kata yang diucapkannya menggugah sesuatu dalam diriku yang selama ini terpendam. “Manusia,” ia melanjutkan, “sering kali menganggap keburukan sebagai sesuatu yang harus dihindari, tetapi tidak pernah belajar darinya. Padahal, ada pelajaran penting yang bisa diambil dari hal-hal yang kalian sebut sebagai dosa.”

“Apa yang bisa manusia pelajari dari dosa?” tanyaku, merasa semakin tertarik dengan arah pembicaraan ini.

“Kemandirian,” jawabnya tanpa ragu. “Aku mewakili keinginan untuk mandiri, untuk tidak tergantung pada apa pun kecuali pada diri sendiri. Dalam setiap dosa, ada keinginan untuk bebas dari aturan, dari batasan, dari segala yang membatasi manusia menjadi apa yang mereka inginkan. Tapi tentu saja, seperti yang kau tahu, kebebasan tanpa tanggung jawab hanya akan membawa kehancuran.”

Seolah terhipnotis, aku membayangkan bagaimana dunia ini jika dilihat dari perspektif yang berbeda. Seberapa sering kita menjauhi kegelapan, apalagi memikirkannya, padahal sebenarnya ia menyimpan pelajaran berharga. Aku mulai menyadari bahwa hidupku sendiri penuh dengan batasan yang diciptakan oleh ekspektasi sosial. Aku merasa terjebak dalam persepsi yang dibentuk oleh orang lain, hingga kehilangan jejak diri.

Saat fajar tiba, dan aku harus kembali ke dunia nyata, Iblis itu memberiku pesan terakhir. “Jangan pernah takut untuk melihat ke dalam kegelapan,” katanya. “Mendekati bukan berarti melakukan, kau tentu tahu itu. Karena dalam kegelapan, kau akan menemukan bagian dirimu yang selama ini kau abaikan, kau kutuk-kutuk sebagai musuh yang menyesatkan. Tapi ingat, jangan pernah membiarkan kegelapan itu menguasaimu. Mempelajari dosa tidak berarti harus melakukannya. Melakukan kebebasan bukan berarti menindas karena orang lain juga memiliki hak untuk bebas.”

Aku meninggalkan tempat itu dengan pikiran yang penuh, tetapi juga dengan hati yang lebih ringan. Perjalananku untuk mencari kebenaran mungkin belum selesai, tetapi aku merasa telah menemukan arah baru. Iblis bukanlah musuh—yang menjadi musuh nyata adalah godaannya—, melainkan guru yang membimbingku melalui lorong gelap yang selama ini kutakuti. Cara mengalahkan godaannya adalah mempelajarinya. Aku belajar bahwa kebaikan dan keburukan tidak selalu seperti yang terlihat, dan bahwa untuk memahami dunia ini dan diri sendiri, haruslah berani menghadapi setiap sisi gelap-terang dari diri kita sendiri.

Kembali ke kehidupan sehari-hari, aku membawa pelajaran dari Iblis itu. Aku mencoba untuk lebih mandiri, lebih bertanggung jawab atas pilihan-pilihanku, dan yang paling penting, aku berusaha untuk tidak takut pada kegelapan dalam diriku. Karena di sana, tersembunyi kekuatan yang bisa membantuku menjadi manusia yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih bijaksana.

Tapi perjalanan ini tidaklah tanpa rintangan. Setiap kali aku berhadapan dengan kegelapan, bayangan Iblis itu terlintas dalam pikiranku. Ia adalah pengingat bahwa kegelapan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi diterima dan dikelola. Di dalam setiap pengalaman pahit, ada pelajaran berharga.

Dengan pemahaman yang baru, aku mulai berani mempertanyakan norma-norma yang selama ini membatasi diriku. Aku bertanya pada diriku sendiri—apa yang sebenarnya aku inginkan? Dan ketika aku menjawab, suara Iblis kembali terbayang, menegaskan bahwa kebebasan dan segala perbuatan harus dibayar dengan tanggung jawab.

Di setiap langkahku, aku mulai merasakan kekuatan dari sisi gelap yang selama ini kutakuti. Dalam ketidakpastian, aku menemukan ketegasan. Dalam kegelapan, aku menemukan cahaya. Dalam setiap langkahku, aku selalu ingat: bahwa dalam setiap kegelapan, ada cahaya yang menunggu untuk ditemukan. Dan mungkin, itulah rahasia terbesar dari kehidupan ini. Dalam pengembaraanku untuk memahami diri sendiri, aku belajar bahwa tidak ada yang benar-benar jahat, dan bahwa di balik setiap kegelapan, terdapat kesempatan untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam.

Dan aku tak akan melupakan pengakuan iblis: Aku dibuang bukan karena ingin kekebasan, tapi kebodohanku yang kucoba tutupi dengan berlagak sok paling unggul dengan mengatakan “aku dari api, sedangkan dia hanya dari tanah”, sehingga tak sudi jika harus membungkuk apalagi menyungkur di hadapan moyangmu dan seluruh keturunannya.


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di MYF Randhu Jembagar Boyolali.

Katalog

PADELI Membangun Enrekang dari Sisi Penegakan Hukum dan Satu Tahun Pencapaian Kinerja Kajari Enrekang

“Sebuah kisah inspiratif tentang perjalanan hidup seorang pemimpin di balik penegakan hukum. Buku ini bukan sekadar biografi, tetapi cerminan nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan pengabdian yang tulus. Melalui cerita ini, kita diajak mengenal lebih dekat seorang Kajari yang tidak hanya menjalankan tugasnya dengan integritas, tetapi juga meninggalkan jejak yang berarti bagi banyak orang”

Penulis: S. Lewang

Cetakan: Pertama, Tahun 2024

Penerbit Nomina Ide Karya

83 halaman; 14 x 21 cm

ISBN:

Harga: Rp 100.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Curhat

Bakpia

Curhat Nanda

Sama dengan Mbak Septi, aku juga tinggal di Yogyakarta, lebih tepatnya di dalam ringroad. Aku pernah beberapa kali ke Wonosari, tujuanku hanya 1, ke tempat wisata, karena aku tidak memiliki kerabat yang tinggal di sana. Puthul, aku penasaran seperti apa wujudnya. Jadi ketika aku membaca tulisan Mbak Septi, aku mencari tahu di laman google. Rupanya sejenis kumbang yang biasa menjadi hama tanaman pertanian. Aku pernah melihatnya, bedanya yang kulihat berwarna putih dan memiliki ukuran tubuh lebih besar (ampal, itu nama yang kutahu dan biasanya mereka muncul di malam hari). Binatang itu sama seperti belalang dan beberapa binatang lain yang sering dikonsumsi warga Gunungkidul sebagai lauk, namun bagi orang kebanyakan disebut makanan ekstrem.

Aku pernah menyantap belalang goreng. Rasanya enak kok, seperti udang. Kadang jika teman-teman dari luar daerah memintaku mengantar mereka berwisata, lalu penasaran ingin mencobanya, aku turut makan juga. Bagiku bentol-bentol kecil tak begitu mengganggu, selama gatalnya masih bisa kuatasi. Tapi jika ada pilihan makanan, tentu saja aku memilih yang lain. Setidaknya jika ditanya, aku benar memang sudah pernah mengonsumsinya.

Ada banyak sekali makanan khas Yogya, dari camilan, makanan kecil hingga berat. Kali ini aku ingin berbagi pengalaman tentang salah satu snack kesukaanku: bakpia. Setahuku, Pak Yuditeha juga menyukainya. Tapi aku sengaja mengangkatnya bukan semata berharap agar tulisanku dimuat, melainkan memang “bakpia” adalah hal yang pertama kali muncul di benakku. Terlebih saat ini aku memang sedang menyantapnya ditemani secangkir teh di pagi yang gerimis. Hhmm syahdu rasanya.

Hari ini aku izin tidak masuk kantor. Semalam aku jatuh dari tangga. Beruntung aku sempat meraih pegangan hingga tak sampai menggelinding ke bawah. Lemak-lemak di tubuhku akhirnya menjadi pahlawan. Meski sempat menimbulkan suara dentuman yang membuat seisi rumah kaget dan bergegas menghampiriku, aku jatuh elegan dengan posisi duduk. Bahkan handuk yang membungkus kepala masih bertengger manis. “Aman, aku rapopo,” kataku.

Aku baru saja pulang dari lab untuk melakukan rontgen. Hasilnya baru keluar nanti siang. Kata pacarku, jika hasilnya baik dan tidak ada tanda-tanda retak pada tulang, aku baru boleh pijat urut. Jadi hari ini aku berencana mengisi waktu libur dengan membaca, juga menulis cerita ini tentunya.

Aku ingat saat kecil dulu. Rumahku yang berada tak jauh dari pabrik yang memproduksi bakpia, membuatku terbiasa makan makanan itu. Ibu sering memintaku membelinya ketika ada tamu atau kerabat datang sebagai jamuan. Dengan mengendarai sepeda jengki milik kakakku, aku berangkat membawa selembar uang dan pulang dengan seplastik bakpia. Kadang, karena saking seringnya membeli, aku dibawakan juga bakpia kering sebagai bonus.

Tidak seperti sekarang yang banyak sekali varian rasa, bakpia yang dulu aku tahu hanya mempunyai 1 macam rasa: kacang hijau. Secara bentuk, aku juga hanya tahu 2 saja: basah dan kering. Kukatakan basah karena biasanya memang hanya bertahan 2-3 hari saja. Lalu ketika bakpia basah sudah tak layak konsumsi, maka akan masuk ke oven dan jadilah bakpia kering. Bagiku, aku lebih suka bakpia kering. Bau gosong serta tekstur renyah dan agak pahit menjadi sensasi rasa tersendiri untukku.

Saat aku beranjak remaja, aku sempat termakan omongan teman-teman mengenai rumor pabrik bakpia di dekat rumahku itu.

“Pemilik pabrik memelihara pocong sebagai pesugihan,” kata salah satu temanku.

“Iya, tetanggaku yang punya indera keenam pernah melihat ada pocong ngeces di kuali besar yang dipakai memasak isian bakpia waktu dia beli ke sana,” sahut temanku yang lain.

Sejak mendengar hal itu, aku sudah tak pernah mau lagi makan bakpia. Aku membayangkan, jika benar kata teman-temanku, berarti selama ini aku makan iler pocong dong. Jangankan makan, diminta tolong ibu sekadar membeli pun aku sudah tidak mau. Aku khawatir jika sepulang dari sana, ada pocong yang ikut gonceng sepeda dan turut pulang bersamaku. Aku bergidik ngeri mengingat hal itu.

“Pemiliknya jadi tumbal dari pocong peliharaannya sendiri. Beberapa hari sebelum meninggal, tetangga sekitar sering mendengar keributan seperti perang. Mungkin pemiliknya bertarung dengan pocong. Dan karena tidak ada kesepakatan, akhirnya pocongnya menghabisi tuannya sendiri,” jelas temanku suatu kali.

Sebenarnya aku bukan tak percaya hal-hal begitu, hanya saja ketakutanku lebih besar dari pikiran sehatku. Aku yang memang dasarnya penakut, selalu menelan mentah setiap cerita mistis yang dikisahkan padaku. Tentu saja hal itu yang sering membuatku tersiksa jika malam tiba. Aku menjadi takut ke kamar mandi sendirian. Apalagi, merasa sering diawasi saat berada di kamar seorang diri. Karenanya, aku selalu berusaha menghindar dari obrolan semacamnya.

Seiring berjalannya waktu, terdengar kabar kalau pabrik bakpia bangkrut karena masalah internal. Usaha bersama milik kakak beradik itu mulai koleps sejak keduanya sering bertengkar akibat penjualan yang semakin hari semakin menurun. Entah apa pun alasannya, sebenarnya aku tidak terlalu peduli. Hanya, sejak itu aku mulai menganggap bahwa tidak semua persoalan harus disangkutkan dengan hal-hal mistis.

Aku ingat, aku baru kembali makan bakpia sekitar 5 tahun lalu. Saat itu aku pulang kuliah. Mendapati 3 kotak bakpia di meja makan yang masing-masing hanya tinggal beberapa buah. Karena lapar, dan aku sepertinya sudah lupa dengan cerita masa kecil dulu, aku mencomot bakpia dan menghabiskannya sekaligus. Ada rasa keju, cokelat dan durian. Enak sekali. Kelezatannya seperti berkali-kali lipat dari bakpia yang kukenal dulu. Lebih mewah, lebih gurih, dan yang pasti saat aku memakannya, tak pernah terlintas di otakku bahwa pemiliknya mungkin saja memiliki pocong sebagai penglaris.

Aku agak menyesal, betapa kupernya aku selama ini. Kisah-kisah masa kecil dulu sempat membuatku ketinggalan zaman. Kini ada banyak sekali merk bakpia yang dijual di toko oleh-oleh, mungkin ada puluhan. Juga banyak otlet baru bermunculan dengan produk bakpia sebagai unggulan mereka. Aku telah melewatkan metamorfosis rasa bakpia. Padahal, jika ada teman atau saudara datang, bakpia selalu menjadi opsi pertama untuk diberikan kepada mereka sebagai buah tangan. Tak apa, selama bakpia belum punah dari peredaran, aku tetap masih beruntung bukan?***

Curhat

Alasan Sederhana

Curhat Fathia

Dua hari lalu, sahabat SMA-ku yang biasa kupanggil Nono, mengirim pesan bahwa ia akan ke Semarang dalam waktu dekat. Kakak lelakinya akan bertunangan, jadi ia akan ada di Semarang selama seminggu. Tentu aku senang. Rumahnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku, jadi kami berjanji akan sering bertemu. Entah ia ke rumahku, atau sebaliknya. Dan pada kenyataannya, Nono yang selalu ingin ke rumahku.

“Masakan Ibu memang top,” puji Nono usai menyeruput sayur asem di depannya. Kedua jempol tangannya terangkat sembari menatap ibuku dengan wajah semringah.

Ibu hanya menanggapi dengan senyuman, lalu meminta kami untuk melanjutkan makan. Setelahnya, ibu kembali ke ruang tengah untuk meneruskan menjahit baju pesanan tetangga.

“Kayaknya aku bakalan betah di sini,” lanjut Nono.

“Kalau begitu sering-seringlah pulang kampung,” jawabku.

“Ah, kamu kan tahu sendiri tujuanku merantau. Kalau bukan karena kakakku, rasanya malas pulang.”

Nono dari keluarga broken home. Sejak kedua orangtuanya bercerai saat ia masih SD, ia dan kakaknya tinggal bersama ibunya di Semarang. Sedangkan ayahnya, ada di Lampung dan sudah menikah lagi. Nono pernah bercerita, kalau ibunya sibuk kerja dan mereka jarang berinteraksi kecuali untuk keperluan sekolah. Karena itu, saat SMA, hampir setiap hari ia main ke rumahku. Ibuku yang memang kesehariannya di rumah, ditambah suka cerita dan pintar memasak, membuat Nono betah. Ia bahkan sudah menganggap ibuku sebagai ibunya juga.

Aku mengambil secuil bandeng presto dan kuletakkan di piringnya. “Aku yang goreng tadi, khusus aku masuk ke dapur demi menyambut kedatanganmu,” kataku mengalihkan topik pembicaraan. Sejak dulu, aku memang tidak pandai bicara. Aku lebih senang mendengarkan. Menurutku, setiap cerita tidak harus mendapat reaksi. Meski begitu, bukan aku tak peduli. Aku baru akan memberi komentar atau masukan jika diminta. Dan untuk banyak kasus, orang curhat biasanya hanya butuh pelampiasan.

Aku dan Nono makan sembari mengobrol banyak hal. Tentang pekerjaan Nono, pacarnya, atau Bandung. Sesekali aku juga bercerita tentang pekerjaanku dan beberapa teman-teman SMA yang masih sering kontak denganku.

“Btw kok kamu bisa kerja di rumah sakit sih, bukannya dulu kamu phobia darah ya?” tanya Nono.

“Iya juga ya, kok bisa ya?” sahutku asal.

Nono menanggapi dengan menceritakan ulang saat dulu kami berdua jatuh dari sepeda motor. Ingatanku melayang pada kejadian itu. Aku duduk di depan, karenanya aku lebih siap saat merasa kendaraanku akan menyerempet sepeda motor lain. Karena tak sempat mengerem, aku banting stir ke kiri dan menabrak pohon sebelum akhirnya jatuh. Nono yang saat itu kugonceng, mengalami luka cukup parah. Darah tak berhenti keluar dari bibirnya karena membentur aspal. Aku yang saat itu sebenarnya hanya mengalami luka lecet di tangan, justru membuat banyak orang khawatir dan kami akhirnya dibawa ke UGD. Aku ingat, sesaat setelah aku melihat wajah Nono, perutku tiba-tiba mual, seiring dengan keringat dingin membasahi tubuhku. Aku merasa ada banyak sekali kunang-kunang di atas kepalaku. Dan setelahnya, pandanganku gelap. Aku masih bisa mendengar suara-suara di sekitarku, tapi tubuhku sudah tak berdaya.

“Nih, kenang-kenangan kejadian waktu itu.” Nono memonyongkan mulut. Memperlihatkan keloid yang ada di bawah bibirnya. “Untung nggak sampai mengurangi ketampananku,” lanjutnya lagi.

Dulu, aku sempat merasa sangat bersalah padanya. Hampir setiap hari selama seminggu penuh aku ke rumah Nono menenteng rantang berisi masakan ibu. Aku khawatir 4 jahitan yang nangkring di bawah bibirnya itu akan meninggalkan bekas luka. Meski murni kecelakaan yang tidak kusengaja, tapi aku merasa bertanggung jawab padanya.

Sejak kejadian itu, setiap kali aku melihat darah, reaksi tubuhku hampir sama. Aku hanya berusaha mengantisipasi dengan segera beristirahat, atau minum teh hangat. Jika berada di tempat yang tidak memungkinkan, setidaknya aku berusaha untuk segera mengalihkan pandangan atau pikiranku pada sesuatu yang menyenangkan. Dan sejauh ini, itu sangat membantu. Kalau dipikir-pikir, wajar Nono bertanya seperti tadi. Biasanya, orang cenderung menghindar pada hal-hal yang membuatnya tidak nyaman. Contoh kecil saja, Nono. Ia tidak suka pelajaran matematika. Karenanya dia memilih mengambil jurusan komunikasi, di luar kota pula, karena ia juga tidak nyaman tinggal bersama ibunya.

Sebenarnya, sangat mudah bagiku menjawab pertanyaan Nono. Ibu memang tidak pernah mengatur kedua kakakku dan aku ingin mengambil jurusan apa saat kuliah, tapi di setiap kesempatan, ibu berulang kali cerita mengenai keinginannya menjadi perawat. Ibu bahkan sempat menyesalkan kematian ayah. Kata ibu, jika saja saat itu tidak terlambat merespons keluhan ayah, mungkin saat ini ayah masih berada di tengah-tengah kami. Menurutnya, ketidaktahuan ibu-lah yang menjadi penyebab ayah meninggal. Terkadang, rasa bersalah pada orang yang sangat dicintai lebih berbahaya dibanding penyakit mematikan yang ada di dunia. Ibu pernah jatuh sakit selama beberapa minggu sejak kematian ayah. Seiring berjalannya waktu, ibu mulai bisa menerima kepergian ayah sebagai takdir yang tak terelakkan. Sejak itu, aku sering ketakutan saat ibu sakit. Aku selalu berpikir dan bertindak berlebihan. Kadang-kadang, saat ibu meriang karena flu, aku buru-buru ingin membawanya ke rumah sakit. Ibu bahkan kerap menertawakan tingkahku. Membuatnya harus berulang kali meyakinkanku bahwa dirinya memang baik-baik saja.

Aku sangat menyayangi ibu. Rasa takut akan kehilangan ibu membuatku sering memikirkan ucapannya. Aku tidak mau suatu saat mengalami rasa bersalah seperti yang ibu rasakan terhadap ayah. Apalagi, ibu adalah satu-satunya orangtua yang kumiliki. Karenanya, saat itu dengan mudah aku memutuskan masuk jurusan keperawatan setelah lulus SMA. Aku bahkan tidak menganggap phobia darah yang kumiliki bisa menjadi penghalang. Meski dalam perjalanannya, aku butuh energi ekstra untuk melawannya. Aku sering mual saat membaca teori atau menonton video perawatan pada luka. Belum lagi, beberapa kali aku mengalami keringat dingin saat praktik. Ada 1 kejadian paling berkesan di hidupku, yaitu saat aku mendapat shift malam di puskesmas dan diminta bidan senior untuk mendampinginya saat membantu seorang ibu menjalani proses persalinan. Usai bayi lelaki montok itu berhasil keluar dengan selamat, begitu pun ibunya, aku mohon izin pada bidan senior untuk ke ruang perawat. Segera aku merebahkan diri dan beristirahat. Beruntung saat itu aku tidak sampai pingsan.

Sejak pengalaman itu, aku mulai belajar mengendalikan pikiranku. Aku membayangkan ketika sedang merawat luka, darah yang keluar dari tubuh pasien adalah cat air berwarna merah yang tak sengaja tumpah. Jadi aku hanya perlu membersihkannya. Saat menjahit luka, aku membayangkan sedang menyulam bunga pada sweater. Kadang, meski sudah membayangkan hal-hal indah seperti itu, reaksi-reaksi tak nyaman dari tubuhku tetap saja muncul. Setidaknya, kini aku sudah bisa mengendalikannya. Bahkan sekarang, aku bisa fokus bekerja tanpa perlu khawatir lagi. Aku mulai menikmati pekerjaanku. Apa yang kulakukan pada pasien, dan penerimaan mereka terhadapku menjadi hal yang paling kunikmati.

“Apa aku boleh menghabiskan sayur asemnya?” pinta Nono membuyarkan lamunanku. Wajah memelasnya terlihat konyol sekali.

Aku tertawa. “Tentu saja. Jika masih kurang aku akan minta ibu memasakkan lagi untukmu,” sahutku.***

Fathia

Anak perempuan yang sangat menyayangi ibu.

Ragam

NOVEL DI RUMAH

Rumah bukan dihuni manusia saja. Di rumah, adanya meja, kursi, atau lemari itu sewajarnya. Yang istimewa adalah buku-buku menghuni rumah. Buku yang dimaksud bukan buku pelajaran. Jika mendesak, buku-buku pelajaran mendingan dikeluarkan dengan alasan dijual kepada tukang rongsok keliling. Yang tetap menaruh buku-buku pelajaran di rumah mungkin orang yang bijak atau pemuja pendidikan-pengajaran.

Aku sedang berpikiran buku dan rumah. Sejak lama, aku menulis esai-esai bertema rumah. Kini, aku agak kecewa dengan tulisan-tulisan yang tidak bermutu. Ada tulisan yang tampaknya mengandung kengawuran. Yang membuatku tidak terlalu kecewa, tulisan-tulisan itu hanya dibaca sedikit orang. aku mengerti bila mutu tulisanku setinggi tanaman krokot.

Selama belasan tahun, aku juga menulis esai-esai mengenai buku. Namun, aku pastikan belum ada tulisan yang terpenting. Aku selalu menganggapnya sekadar hadir untuk lenyap.

Kini, aku ingin menulis lagi tentang rumah dan buku. Tema yang digabungkan untuk menambahi daftar tulisan tidak bermutu sepanjang hidupku. Yang membuatku tergoda menulis: buku-buku tipis yang dijual pedagang di media sosial.

Sabtu, 2 November 2024, tampak di mata: 8 novel “Bunga”. Pedagang memberi harga yang murah. Aku pernah mengetahui iklan novel Bunga di majalah lawas. Iklan yang mengesankan untuk para pembaca masa lalu. Delapan novel yang selama beberapa jam tanpa peminat. Aku memesannya dengan penjelasan 2-3 hari dapat transfer. Terjadilah jual-beli tanpa repot! Beberapa hari selanjutnya, bungkusan buku sampai di rumah.

Buku-buku tipis tidak dijilid lem tapi kawat. Penampilan yang sudah ditentukan coraknya. Yang melihat mudah mengetahui kekhasan terbitan “Bunga”. Sampul depan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang mengingatkan kehadirannya di halaman-halaman majalah. Beberapa penulis “Bunga” memang sering menulis cerita pendek, novelet, atau cerita bersambung di pelbagai majalah.

Di rumah, aku merasakan kedatangan masa lalu saat buku-buku itu datang. Masa lalu yang tidak terlalu jauh. Masa lalu yang mungkin tidak lagi tercatat dalam arus kesusastraan di Indonesia.

Delapan buku yang cepat membuatku akrab dengan industri novel masa 1980-an. Aku tidak bisa meniru siasat pengamatan yang dilakukan Jakob Sumardjo atau Sapardi Djoko Damono. Pengamatan terbitnya novel-novel yang dicap remeh atau tidak bertaraf serius. Aku tidak ingin memasalahkan dengan bertele-tele menggunakan argumentasi-argumentasi akademik. Yang dimunculkan adalah menghormati novel-novel. Pada masa lalu, para penulisnya berpahala, penerbit mengerti untung, dan kemunculan para pembaca yang ketagihan.

Enam nama penulis seri “Bunga” aku mengenalinya. Aku sudah membaca beberapa novelnya. Nama-nama yang dulu tenar dan berpengaruh: Marga T, Marianne Katoppo, Dwianto Setyawan, Wildan Yatim, Kembangmanggis, dan Nina Pane Budiarto. Nama yang belum aku akrabi: AG Barnas.

Yang teringat para pembaca: Marianne Katoppo menulis novel berjudul Raumanen. Novel yang mendapat penghargaan-penghargaan. Pada masa 1980-an, ia “sempat” mendapatkan pujian para pembaca melalui novel seri “Bunga” yang berjudul Rumah di Atas Jembatan (1981). Novel yang tidak pernah atau jarang mendapat ulasan oleh para kritikus sastra. Novel yang tipis, yang tidak terjanjikan cetak ulang.

Aku membacanya dalam waktu puluhan menit. Pembaca di bawah pohon asem dekat SMA Negeri 7 Solo. Pagi, aku membaca saat matahari tidak memberi kehangatan tapi gerah. Aku berlindung dari sinar matahari saat membuka halaman-halaman novel. Pembaca yang cukup apik mengenai adab keintelektualan, persahabatan, dan geografi. Novel dengan latar negara asing. Pada suatu saat, aku bisa menggunakan kutipan-kutipan dalam novel jika menulis esai bertema keintelektualan.

Selanjutnya, Kembangmanggis menulis dua novel: Tante Irma (1981) dan Nilai Sebuah Kepercayaan (1981). Nama yang unik. Beberapa tahun kemarin, buku-buku Kembangmanggis cetak ulang. Ada buku baru. Yang membedakan adalah buku-buku memuat ilustrasi yang memikat. Dua novel tipis seri “Bunga” itu tertinggal di masa lalu.

Nama yang aku sering membacanya di sampul buku-buku anak: Dwianto Setyawan. Kini, aku menghadapi novelnya yang dibaca oleh dewasa. Novel berjudul Rusti Panti (1981). Bagiku, Dwianto Setyawan pantas dinobatkan sebagai pengarang bermutu untuk bacaan anak dan remaja. Pada suatu masa, ia berhak mendapat penghargaan oleh pemerintah Jawa Timur, kementerian, Perpustakaan Nasional, atau universitas. Aku sudah mengoleksi dan menikmati 20-an judul yang dipersembahkan oleh Dwianto Setyawan. Buku-buku yang biasa dikenang para pembaca tentu terbitan Gramedia.

Nama yang mengingatkan pengarang lawas: Nina Pane Budiarto. Pastilah ia adalah keturunan dari pengarang lama yang menggunakan nama Pane. Nina Pane Budiarto biasa aku temukan dalam majalah-majalah wanita dan keluarga. Ia termasuk pengarang yang rajin. Beberapa bukunya diterbitkan oleh Gramedia. Di terbitan seri “Bunga”, ia menulis novel berjudul Mempelai Hari Tua (1982). Anehnya, namanya jarang teringat para peminat novel di Indonesia bila mencari silsilah pengarang.

Wildan Yatim, nama tercatat dan sastra dan sains. Yang sering dibaca publik adalah novel berjudul Pergolakan. Novel yang mengisahkan gejolak keagamaan. Novel yang dijadikan halaman-halaman mengisahkan flora dan fauna. Dulu, novel itu meraih penghargaan. Pada awalnya, novel diterbitkan Pustaka Jaya. Selanjutnya, novel diterbitkan Grasindo, yang diharapkan dapat menjadi bacaan murid-murid di seantero Indonesia. Pengarang itu turut menulis dalam seri “Bunga”. Yang ditulisnya berjudul Mengarung Badai (1981). Novel yang luput dari tepuk tangan sastra.

Nama yang wajib teringat dan dihormati: Marga T. Nama yang ikut membesarkan penerbit Gramedia. Nama yang lekas muncul bagi para penonton film berjudul Badai Pasti Berlalu atau Karmila. Di Indonesia, ia diakui pengarang berpengaruh dan digemari sepanjang masa. Gramedia biasa mengadakan cetak ulang untuk novel-novel Marga T. Penampilan sampul berubah, yang menjanjikan pantas menjadi koleksi.

Yang aku hadapi dalam seri “Bunga” adalah novel berjudul Sembilu Bermata Dua (1982). Sembilu justru mengingatkan lagu yang dibawakan Ella. Lagu asmara picisan, yang dulu aku dengarkan saat remaja. Novel dan lagu itu berbeda. Marga T, pengarang yang menjadi jaminan mutu. Namun, aku sering mengabarkan kepada teman-teman bila Marga T pernah menulis novel anak untuk sayembara. Novelnya menang dan diterbitkan Balai Pustaka.

Pengarang yang aku belum akrab: AG Barnas. Ia menulis novel berjudul Istriku Belahan Jiwaku (1982). Aku belum ingin segera membacanya. Aku sekadar memegang dan membuka halaman-halamannya. Pada suatu hari, aku mungkin memerlukannya jika menulis seri esai bertema pernikahan.

Novel-novel seri “Bunga” dulu dijual dengan harga 400 rupiah dan 500 rupiah. Terbit rutin oleh Gramedia bagi para pembaca yang ingin ketagihan atau fanatik. Seri novel yang pernah menjadi unggulan Gramedia. Dulu, novel diterbitkan sebulan sekali, setiap Kamis pertama. Aku tidak mengetahui jumlah judul novel yang berhasil diterbitkan Gramedia.

Yang dijanjikan adalah seri novel “Bunga” untuk orang tercinta karena cinta adalah bunga yang selalu setia menghiasi meja rumah tangga. Novel-novel yang diterbitkan untuk para ibu. Bacaan yang dimaksudkan dinikmati dalam waktu senggang di rumah. Sodoran cerita-cerita di sela kesibukan mengurusi pekerjaan-pekerjaan di rumah.

Pada suatu hari, aku ingin mencari dan membeli untuk judul-judul lain. Aku ingin merasakan pikat bacaan masa 1980-an. Dulu, para pembaca sering wanita. Kini, aku menjadi pembacanya mumpung sebagai bapak rumah tangga. Kabut

Puisi

Puisi S. Prasetyo Utomo

Mantera Cucu

Cucuku lahir dari mantera kecemasan     

bayi merah yang dipuja harta     

dan tiupan angin mengendapkan suratan

untuk sebuah kisah yang memendam teka-teki

Kau berada dalam sebuah panggung    

yang menggelar  harapan palsu

masa depan dan kenangan    

terpilin selubung rahasia    

Tanganmu memainkan lakon   

yang mungkin sudah usang  

dalam hamparan waktu penuh kegaduhan

akankah kau tegar dalam pertikaian?    


Mantera Kakek  

Telah kauendapkan petualangan    

pengalaman yang sia-sia    

dalam pusaran zaman        

dihadapkan ketamakan anak     

Kaususupi titian waktu  

dengan gagah      

dengan tangguh      

tapi pewarismu penghisap candu          

Ketika pohonmu lapuk

anak-cucu abai  petunjuk   

segala ikatan luruh    

tumbang dan terpuruk  


Mantera Pencari Tahta 

Masih tersisa sihir  pencari tahta     

tiap tokoh menebar sugesti    

untuk merenggut kuasa      

dan cuan lebih berharga daripada surga     

hidup melulu didera kegusaran  

berlumur keculasan      

dan tai asu dikais      

dikemas sebagai riasan  

Tiap orang tertambat resah      

berhambur mantera penaklukan    

gugup mencari perlindungan    

tak ada ruang bernaung   

untuk menghindar dari penistaan.    

Kecemasan serupa kudis menggerogoti tubuh        

lesap terisap lembab      

tersembunyi dalam pengap     


Mantera Rubah    

Serupa rubah yang malih rupa   

kaudekati siapa pun yang berkuasa  

mengabdi pada mereka yang punya cuan  

sebagai raja, mungkin sebagai dewa   

dan kau menghambakan diri serupa kacung   

yang culas memainkan kesetiaan

untuk ikut menikmati mangsa  

yang ditangkap raja hutan   

setelah menerkam binatang buruan   

Kau hanya bisa hidup sebagai rubah  

yang berlindung di bawah penguasa rimba  

dengan segala pengabdian

dengan segala pengkhianatan

Kau selalu berada dalam pusat pesta   

mengabdi siapa pun yang bermahkota    

sambil mengendus mangsa   

dan kau akan merenggutnya.


Mantera Ratu Adil        

Labirin  mengendap di sepanjang jalan   

ruang yang kini senyap dari propaganda    

dan kisah penuh janji    

tebaran gugus fantasi       

yang tak mungkin terpenuhi      

dalam lakon  yang menawarkan dusta   

Tak ada lagi cuan, beras, dan kaos    

bergambar  Ratu Adil    

dalam daya pikat fantasi       

kau kembali mengarungi musim-musim getir     

hidup dalam kubangan comberan   

mengais nasib seorang diri.     

Tak seorang pun mengenang janji

kau tersekap ruang sunyi     

dalam lelah menanti   

mereka berpesta lagi.    


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018).  Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit  Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021.  Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).

Curhat

Tahi Kucing

Curhat Sekar

Sebelum aku menceritakan apa yang saat ini terjadi di hidupku, aku ingin memberi apresiasi pada M. A. Edpe, atas keberaniannya berbagi pengalaman saat menjadi ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Kurasa tidak banyak orang memiliki kelapangan hati serta jiwa yang besar untuk mau mengakui. Tentu tidak ada seorang pun berkeinginan menderita, baik itu karena sakit fisik atau mental. Kuharap, semakin ke sini, orang-orang tidak hanya melek teknologi, tapi juga melek kepedulian. Banyak kenakalan dan penyimpangan perilaku yang sebenarnya hanya disebabkan kurangnya perhatian dari lingkungan terkecil: keluarga.

Atas dasar membaca curhatan semacam itu, aku akhirnya berani turut menuliskan apa yang menjadi pengalamanku. Jika ada orang mengatakan: hal tersulit adalah berdamai dengan diri sendiri. Menurutku, tidak sepenuhnya benar. Justru diri sendiri itulah, sesuatu yang paling dekat dan mudah dikendalikan oleh kita sendiri. Pengalaman pengendalian diri itu yang akan sedikit aku bagi. Mungkin bukan kisahnya, karena aku yakin setelah membaca ceritaku nanti, bisa jadi kalian akan kecewa karena sangat biasa-biasa saja.

2 tahun lalu, meski dengan nilai pas-pasan, aku berhasil wisuda bersama sebagian besar adik tingkatku. Semua teman seangkatanku yang 1 jurusan, telah lebih dulu lulus. Jika bukan karena memikirkan biaya yang sudah terlanjur dikeluarkan orangtua, mungkin aku lebih memilih di-DO. Tapi, apa pun alasannya, akulah yang sejak awal ngotot untuk mengambil jurusan di kampus yang kujalani saat itu. Jadi, harga diriku tercambuk. Rasa ingin bertanggung jawab dan gengsi yang tinggi masih lebih kuat menguasai diriku. Seburuk apa pun hasilnya, sesulit apa pun prosesnya, aku harus mendapat gelar sarjanaku. Aku beruntung, meski sempat tertunda lama karena urusan hati, aku berhasil merampungkan apa yang sudah pernah kumulai.

Saat itu aku baru saja menyelesaikan PKL (Praktik Kerja Lapangan), ketika tiba-tiba aku harus putus dengan pacarku. Kami sudah menjalani pacaran hampir setahun. Belum lama memang, tapi lelaki itu berhasil memindahkan hingga hampir 100% gajiku saat menjalani kerja paruh waktu di McD, demi memenuhi kebutuhan hidupnya (meski masih memiliki keluarga, dia punya prinsip: jika sudah lulus kuliah, maka tanggung jawab orangtua sudah terlepas, baik itu belum atau sudah bekerja).

Pacarku telah lulus kuliah dan saat itu dalam pencarian kerja. Sebenarnya menurutku dia bukan pemalas, hanya terlalu kaku. Dia cuma mengajukan lamaran kerja ke perusahaan-perusahaan bonafit, atau yang menawarkan gaji cukup tinggi saja. Padahal, fresh graduate tetaplah fresh graduate. Apalagi dirinya, tidak pernah terlibat dalam kegiatan apa pun di kampus, dan belum pernah sama sekali bekerja. Dia bukan anak pengusaha, juga tidak punya koneksi di tempat-tempat strategis. Apa yang bisa dia harapkan? Tentu saja aku.

Ada orang bijak mengatakan: orang yang sedang mabuk cinta itu ibarat berada di fase tahi kucing berasa cokelat. Banyak teman-temanku memberi nasihat, entah membukakan mataku tentang betapa parasitnya pacarku. Atau terlalu dininya aku mengartikan kesetiaan dalam kondisi tersulit. Tapi yang namanya sedang mabuk, pikiran dan seluruh indera seakan tak berfungsi. Perasaan saja yang mendominasi. Saat itu yang kupikir adalah memberi dukungan padanya agar terus semangat mencari kerja. Dan aku, bukannya fokus pada kuliah, aku malah mencari tambahan 1 lagi kerja paruh waktu.

Sekitar 3 bulan kemudian, pacarku akhirnya mendapat panggilan interview dan diterima kerja di Jakarta. Tentu aku mendukungnya. Ketika itu, bagiku jarak bukanlah masalah. Kami masih sering berhubungan lewat telepon, bahkan hampir setiap hari kami intens memberi kabar. Pacarku bilang biaya hidup di Jakarta sangat tinggi. Gaji yang diperolehnya dengan status fresh graduate masih sangat mepet. Mendengar pacarku mengatakan begitu, terlebih di saat aku pegang tabungan hasil kerjaku, jelas aku tidak tega. Ada perasaan ingin menunjukkan kepadanya kalau aku adalah perempuan yang mau diajak berjuang dari bawah. Mendukung pasangan meraih kesuksesan demi masa depan. Bukankah kelak aku juga yang akan menerima hasilnya?

Oh iya, sampai di sini aku menjadi ingat. Sebelumnya aku juga sempat membaca curhatan yang ditulis Padmi. Dia mengatakan betapa bangsatnya rasa kangen. Kamu tidak sendirian, Padmi. Aku pun pernah merasakannya. Jarak ternyata benar-benar menyebalkan. Aku menganalogikannya dengan rasa gatal di bagian punggung yang aku tidak mampu menggaruknya. Pokoknya sangat menyiksa.

Secara bertahap, pacarku mulai jarang menghubungiku. Awal-awal aku masih bisa berpikir positif jika dia sibuk mengurus pekerjaan. Sampai akhirnya, menjelang lebaran aku bertanya padanya kapan dia pulang.

“Tahun ini aku belum dapat cuti, jadi aku tidak bisa pulang,” jawab pacarku di telepon.

Aku kecewa. Hampir setahun kami tidak pernah bertemu, dan mungkin dia baru akan pulang lebaran tahun depan. Lagi-lagi aku pasrah. Mengatakan padanya untuk tetap semangat dan menjaga kesehatan. Tidak lupa aku bilang kalau aku sangat mencintainya. Dia pun membalas dengan ungkapan yang sama.

Lebaran hari pertama, sengaja aku berencana akan mengunjungi orangtua pacarku. Karena biasanya, aku sekeluarga akan ke Pekalongan di hari kedua. Selepas magrib, aku mengajak seorang temanku ke rumah pacarku. Ketika sampai, di halaman telah terparkir beberapa mobil dan di dalam tampak seperti sedang ada acara. Awalnya aku sempat ragu, takut mengganggu acara keluarga yang sepertinya masih berlangsung. Tapi pikirku, karena sudah sampai, dan lagi maksudku hanya ingin silaturahmi, jadi aku tetap mengetuk pintu.

Betapa terkejutnya aku. Saat pintu terbuka, nampak pacarku tengah berdiri dengan seorang perempuan berhijab di sebelahnya. Memperlihatkan  senyuman terbaik mereka, dengan tangan masing-masing terangkat setinggi dada. Tubuhku membeku. Pikiranku entah ke mana. Meski begitu, aku masih bisa merasakan genggaman erat temanku serta elusan tangannya yang lain di punggungku.

“Aku tidak menyangka kamu membohongiku,” ungkapku saat pacarku membawaku duduk agak jauh dari kerumunaan.

“Aku minta maaf. Aku terpaksa menuruti perjodohan ini,” jawab pacarku.

“Omong kosong!”

“Aku harap kamu bisa mengerti. Aku yakin kamu akan menemukan lelaki yang lebih baik dariku.”

“Tentu saja. Banyak lelaki brengsek di luar sana yang masih lebih baik darimu.”

Aku merasa menjadi wanita paling kuat malam itu. Aku tidak menangis. Aku ingat sebelum pamit pada orangtua pacarku, eh mantan pacarku, aku masih sempat mengucapkan selamat atas pertunangan itu. Bahkan, aku juga sempat bersalaman dengan perempuan berhijab merah jambu. Oh Tuhan, dilihat dari sisi mana pun, aku masih setingkat lebih cantik dari dirinya.

Setelahnya aku memutuskan tidur di rumah temanku. Menangis sejadi-jadinya di kamarnya. Aku benar-benar kacau. Banyak hal berputar di otakku. Mencari di mana letak kesalahanku, hingga lelaki bangsat yang tak tahu diuntung itu lebih memilih perempuan lain. Semakin aku mencari tahu, maka aku semakin sadar betapa tidak beruntungnya aku. Membuang-buang waktu, tenaga, dan perasaan hanya demi lelaki yang tak pernah menghargaiku. Temanku sangat pengertian. Ia sama sekali tidak menasihatiku. Ia memberiku waktu dan tempat seluas-luasnya untuk menumpahkan kekecewaanku. Ia bahkan menemaniku hingga pagi. Mendengar ocehanku tanpa sedikit pun membalas. Malam itu, aku baru sadar, jika selama pacaran dengan lelaki parasit yang sempat begitu kucintai, rupanya setiap harinya aku makan tahi kucing.***

Sekar

Tidak ada keterangan.

Curhat

Masalah Perut, 1000 Hari Kematian, dan Dongeng Prajurit Sandi

Curhat Septi Rusdiyana

Rabu, 6 November 2024. Pagi yang cukup merepotkan untukku. Bukan tentang pekerjaan rumah tangga, anak yang sulit dibangunkan, atau teriakan keras dari ibuku agar kami lekas bersiap-siap. Melainkan, sejak subuh aku sudah mondar-mandir ke toilet akibat diare.

Hari itu kami sekeluarga akan ke Wonosari. Melihat kondisiku, aku berniat untuk tidak ikut saja. Namun setelah ibu bilang kalau adikku tidak jadi ikut karena baru pulang shift malam, rasanya kok tidak tega jika aku pun hanya rebahan di rumah. Aku memutuskan makan 2 pisang ambon dan menenggak segelas besar air putih. Kami (bapak, ibu, aku dan anakku yang paling kecil) akhirnya berangkat, sesaat setelah aku pamit pada suamiku yang akan mengantar anak pertama kami sekolah.

Sepanjang perjalanan, aku memilih tidur. Membiarkan anakku berceloteh dengan kakung dan utinya. Aku baru terbangun saat kendaraan berhenti di bahu jalan. Ibu turun untuk membeli kembang. Sejak itu, mataku sudah tak lagi bisa terpejam. Aku bersyukur, diareku sudah mampet, digantikan rasa mual yang tidak terlalu merepotkan. Kami mampir untuk nyekar ke makam simbah.

Di sepanjang jalan, tanaman trukecu tumbuh subur. Warga desa sering mengonsumsi sebagai lalapan bersama jangan lombok, atau sambelan (tiwul yang dicampur sambal bawang mentah, dimakan bersama-sama di cobek tanah liat). Benar saja, setelah kami selesai nyekar, seseorang menyapa ibu, menawari kami turut gabung untuk sambelan. Bukan dengan lalap daun trukecu, melainkan lauk puthul bacem. Ibu yang memang tidak memiliki masalah alergi, tentu saja tidak menolak saat seplastik puthul diserahkan untuk dibawa pulang. Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah siwo (sebutan untuk pakdhe atau budhe, sering disingkat dengan wo), tempat di mana akan diselenggarakan acara peringatan 1000 hari kematian wo kakung pada malam harinya.

Suasana rumah telah ramai. Banyak tetangga dan kerabat datang membantu mempersiapkan segala sesuatu. Kami, lebih tepatnya aku, agak beruntung karena tiba di saat pekerjaan sudah rampung. Bingkisan sudah siap dibagikan. Berbeda memang dengan yang biasa terjadi di kampung tempat tinggalku. Di sini, bingkisan dibagikan ke tetangga sekitar dan kerabat pada siang hari.

Selepas zuhur, Pak Kaum datang. Usai sebentar macit (minum teh atau kopi ditemani makanan kecil) seluruh kerabat berbondong pergi ke makam bersama Pak Kaum dengan berjalan kaki. Lagi-lagi, aku kembali beruntung, diminta agar tetap tinggal untuk menjaga rumah serta mengawasi anakku dan keponakan saja. Kedua bocah perempuan itu seperti tak kehabisan energi, setelah bosan bermain masak-masakan di dalam rumah, mereka pergi ke belakang untuk memberi makan sapi dan kambing. Sangat bertolak belakang denganku, rebahan di lantai ruang tamu dan sempat beberapa kali terlelap. Aku benar-benar terjaga saat ruang tamu sudah kembali ramai. Hidangan makan siang pun sudah tertata rapi. Aku seperti tamu tak tahu malu.

Kami makan bersama. Menyantap nikmatnya hidangan khas desa. Sejenak membuatku lupa dengan deraan mual dan pusing. Kuambil secentong nasi putih, jangan ndeso, oseng soun serta telur dadar. Kusantap lahap ditemani cerita wo P, wo S dan lik J yang sedang menceritakan kembali perihal pertunjukan ketoprak di lapangan balai desa beberapa hari sebelumnya.

“Aku yo, Ti. Nek mambu sekolah koyo mamakmu, aku yo enjoh dadi sinden (Aku ya, Ti. Kalau merasakan bisa sekolah seperti ibumu, aku juga bisa menjadi sinden),” terang wo P padaku usai menyanyikan dua baris langgam jawa yang aku tidak mengerti dengan suara yang memang khas pesinden.

Aku sempat membantah kalau menjadi sinden tidak perlu sekolah. Tapi wo P protes dengan suara keras, katanya zaman dulu untuk bisa belajar jadi sinden, harus sekolah. Aku akhirnya mengangguk saja. Kembali mencomot telur dadar dan mengambil secentong nasi lagi. Sepertinya nafsu makanku membaik.

Obrolan siwo dan bulik masih berlanjut. Meski kami duduk berdekatan, sudah menjadi kebiasaan bagi mereka berbicara dengan suara keras, bahkan terasa sedang melihat pertengkaran. Aku pikir, hal itu mungkin karena terbiasa bertani di ladang, atau jarak antar rumah yang cukup jauh, sehingga agar bisa tetap ngobrol, mereka harus bicara dengan suara lantang. Tak heran, saat kecil dulu, setiap kali pergi ke rumah simbah dan menginap, aku selalu tidak bisa tidur saat malam tiba. Para siwo atau simbah pasti bercengkrama semalam suntuk. Ah, kadang aku jadi merindukan kembali saat-saat dulu.

“Aku mangkel tenan karo sing main kendang. Wetengku nganti mules leh ngenteni. Kudune wis wayahe kendang muni, lha kok ditunggu-tunggu ora muni-muni (Aku jengkel sekali sama pemain kendang. Perutku sampai mulas menunggu. Seharusnya sudah saatnya kendang dipukul, tapi ditunggu-tunggu tidak juga bunyi).” Wo P kembali mengomel. Setelahnya ia juga memperagakan betapa tidak cocoknya pemeran prameswari. Menurutnya, perempuan itu terlalu kurus, seperti pelepah pisang yang dipakaikan jarik lalu diikat stagen. Bahkan, wo P juga mengatakan kalau ia lebih cocok menjadi pemeran tokoh prameswari. Hal itu disambut tawa oleh wo S dan lik J, juga termasuk aku.

Lik J menimpali, kalau menurutnya pak Dukuh memerankan prajurit Sandi dengan sangat baik. Perawakan yang gagah, serta penghayatan pada lakon, membuat pertunjukan begitu menarik. Ditambah pak RT yang memerankan patih juga sangat cocok. Bahkan wo S menambahi, kalau anak sopir pickup kampung sebelah memerankan begawan dengan sempurna. Tubuhnya yang kekar, tinggi dan bersuara berat itu mampu menarik hatinya. Ketiganya masih lanjut menceritakan kembali kesan tokoh pada pertunjukan.

Aku mengakhiri makan siang nikmatku dengan hiburan yang sangat menyenangkan. Aku bahkan sempat mencari tahu cerita telik sandi yang diceritakan tadi melalui Youtube. Hanya sekadar ingin tahu tokoh-tokohnya saja. Mungkin nanti aku akan melihatnya secara penuh jika sudah ada waktu luang.

Malam akhirnya tiba, acara pengajian 1000 hari siwo diselenggarakan dengan membaca Yasin bersama-sama. Selesai acara, ibu sempat menawariku agar pulang esok hari. Tapi, karena kepalaku semakin sakit, aku menyampaikan untuk pulang sesuai rencana saja, supaya aku bisa istirahat dan tidur di rumah. Ibu mengerti. Kami akhirnya pulang.

Dalam perjalanan, aku merasa terganggu dengan bau tidak sedap, awalnya kupikir anakku kentut, tapi kok terus-terusan. Hingga saat sampai di rest area bukit pathuk, aku tidak bisa menahan keinginan untuk muntah. Kami menepi dan aku mengeluarkan sebanyak-banyaknya isi perut di pinggir jalan. Saat itulah, bapak akhirnya mengaku, kalau di bagasi ia menyimpan sekarung kecil kotoran kambing kering untuk dibawa pulang sebagai pupuk. Aku tidak habis pikir, bukankah di rumah sudah cukup dengan pupuk dari kotoran ayam dan burung? Untuk apa bapak harus membawa pulang sekarung penuh kotoran kambing, padahal tanaman cabainya juga tidak luas.

Aku akhirnya pasrah. Bertukar tempat duduk dengan ibu yang sebelumnya di kursi depan, memakai masker, serta mengoleskan minyak kayu putih di masker itu. Kembali terulang seperti saat berangkat, aku memilih tidur sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah dengan selamat.***

Septi Rusdiyana

Tinggal di Yogya

Ragam

JUMAT, PUISI, HUJAN

Di beberapa masjid, ada sebutan “Jumat berkah”. Yang dimaksud adalah jamaah yang shalat bakal mendapatkan makanan saat mau meninggalkan masjid. Jamaah yang berbahagia dengan menikmati makanan, yang diadakan gratis oleh pengurus masjid atau insan-insan yang bersyukur.

Jumat, 8 November 2024, aku mengartikan “Jumat berkah” dengan berbeda meski berada di dekat Masjid Agung (Solo). Aku tidak ikut shalat berjamaah di situ tapi menikmati berkah: wujudnya majalah, bukan makanan. Aku berada di kubu perdagangan buku, yang dekat Masjid Agung dan Alun-Alun Utara (Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat). Aku masih doyan nasi. Jadi, siang itu aku tidak menjadi lelaki putus asa yang harus makan majalah.

Pada suatu masa, aku biasa berdiri dan duduk di Alun-Alun Utara. Para pedagang menggelar buku dan majalah di atas alas yang menutupi tanah dan rumputan. Peristiwa yang agak “keramat” jika mengenang belasan tahun yang lalu. Para pedagang membiarkan hamparan buku dan majalah dipandang oleh orang-orang yang ikut membaca saja atau membelinya. Sejak remaja, aku menjadi jamaah di Alun-Alun Utara, bukan Masjid Agung.

Aku tidak memiliki foto saat para pedagang dan memberi berjamaah di atas tanah dan rumputan. Akhirnya, tempat untuk berjualan berpindah-pindah, yang membuat kenangan terus bersambung. Kini, perdagangan buku dan majalah itu di lokasi seberang jalan, tidak lagi menempati Alun-Alun Utara.

Siang itu kaget. Aku melihat wajah Alun-Alun Utara yang berubah. Terlihat menghijau dan indah. Beberapa bulan terjadi “perbaikan” atau “penyempurnaan”, yang beranggaran besar. Pohon beringin di tengah masih berdiri gagah. Yang membedakan adalah rumput dan kebersihan. Sisi pinggir bisa digunakan untuk jalan-jalan dalam keteduhan pohon-pohon. Aku sengaja berhenti sebentar di sisi barat, melihat dua remaja SMA sedang pacaran. Pemandangan siang yang lumayan romantis.

Aku segera berkumpul bersama pedagang yang mengantuk dan melamun. Kedatangan yang kadang membuat jumlah jamaah di situ bertambah meski satu orang. Sepi yang ingin dilawan bersama.

Jumat yang tetap berkah. Jumat yang mempertemukanku dengan majalah-majalah. Yang mula-mula membuatku tergoda adalah beberapa majalah Ananda. Majalah yang memiliki slogan: “lambang kasih sayang orang tua dan guru.” Mereka menyayangi anak dengan membelikan majalah. Kasih sayang diartikan membaca halaman-halaman majalah yang banyak pengetahuan, hiburan, dan iklan.

Satu edisi yang membuatku terjebak masa lalu menampilkan wajah Tino Sidin. Lelaki yang kehilangan gigi tapi selalu mengucap “bagus” kepada anak-anak di seantero Indonesia yang suka menggambar. Tokoh yang sangat disayangi anak-anak, yang dulu rajin duduk di depan televisi menonton siaran TVRI. Di majalah Ananda, 15 Agustus 1986, aku melihat pengumuman lomba yang diadakan oleh Chiki. Di situ, dipasang foto Tino Sidin, yang bertujuan agar banyak anak yang ingin menjadi peserta bersaing mendapat hadiah berupa mobil, televisi, sepeda, meja, dan lain-lain. Hadiah-hadiah yang menggiurkan tapi anak-anak wajib mengingat dan keranjingan Chiki dulu.

Aku membeli beberapa Ananda dengan kepentingan ingin membuat kliping puisi anak-anak. Sejak 1 November 2024, aku membuat tafsiran pendek atau tanggapan sembarangan terhadap puisi anak-anak yang dimuat dalam majalah Zaman. Inginku kelak kliping dan tafsiran menggunakan beragam majalah. Ananda itu majalah penting, yang wajib aku koleksi untuk mengetahui kehadiran puisi-puisi yang ditulis dan dikirim anak-anak dari pelbagai kota dan desa. Aku hanya ingin membenarkan kegirangan anak-anak membuat puisi pernah terjadi di Indonesia.

Tercengang saat membuka Ananda, 11 Oktober 1985. Di bagian belakang, aku membaca puisi yang ampuh, ditulis oleh Rudi Kurniawan yang tinggal di Riau. Puisi yang cocok dibaca saat siang menjadi pabrik keringat meski di Solo ada selingan hujan. Rudi Kurniawan melalui puisi berjudul “Matahari Adalah Ibu” mengingatkan: Ketika kita adalah rimbunan bunga jingga/ kita jadi kehilangan warna diri/ jika matahari redup sepanjang hari// Ketika kita adalah kawanan burung pipit/ kita akan jadi elang atau rajawali/ jika padi tak pernah menguning lagi// Tapi kini matahari itu terbit di barat/ yang berlayar tanpa isyarat/ seakan lupa pada kodrat/ sejak pertama ia bercahaya// Kini kita adalah kawanan burung pipit yang bisu/ kini kita adalah bunga jingga layu/ sebab matahari adalah ibu/ yang tak lagi memberi pancaran kasih sayang seperti dulu. Puisi yang menakutkan. Apa itu menandakan kiamat? Aku masih ketakutan membayangkan “matahari terbit di barat”.

Beberapa majalah Ananda ditumpuk, yang nantinya dibeli jika harga cocok. Tanganku terus membongkar tumpukan majalah, yang baunya tidak sedap dan berwajah kotor. Tangan cepat menghitam. Bersin pun biasa terdengar. Aku memilih beberapa edisi majalah Bobo. Majalah yang masih terbit sampai sekarang. Anak-anak di Indonesia abad XXI masih bisa rutin membaca Bobo jika berlangganan. Bobo berumur panjang ketimbang Intisari. Dua majalah itu berada di naungan Gramedia-Kompas. Aku kagum saja mengetahui penjualan majalah Bobo edisi-edisi terbaru tetap lumayan. Yang harus dipentingkan adalah anak-anak yang tangannya akrab dengan kertas, yang membuka dan memegang untuk membaca. Tangannya tidak selalu memegang benda yang ajaib.

Yang wajib menjadi koleksi: Bobo edisi 10 April 1997. Edisi ulang tahun. Umur majalah itu bertambah. Di lembaran puisi, aku menemukan dua puisi yang bertema Bobo. Aku memilih membaca puisi yang ditulis Evalinda Florida Rayon, yang beralamat di Denpasar, Bali. Pembaca yang terharu setelah mengelap keringan di wajah: Aku berasal dari daerah yang jauh/ di seberang lautan/ Pulau Timor/ tempat kelahiranku// Betapa susahnya aku mencari Bobo/ karena di sana-sini/ bahkan tetanggaku pun/ tak pernah tahu apa itu Bobo// Aku yang telah mengenal Bobo/ selalu berusaha untuk mendapatkan/ dengan cara meminta saudaraku/ mengirimkan dari Pulau Dewata, Bali// Sejak itulah/ aku selalu ingat Bobo/ aku selalu rindu Bobo/ Bobo yang lucu, penuh warna cerita// Sekarang/ aku telah berada di Pulau Dewata/ dalam perantauan mencari ilmu/ dan Bobo mudah didapat/ kini Bobo selalu setia/ di hari-hariku. Pengalaman yang sangat mengesankan, yang mengisahkan persekutuan anak dan majalah. Ia yang akhirnya rajin membaca majalah Bobo, yang mungkin berpengaruh dalam kehidupannya sampai dewasa atau tua.

Aku menemukan juga majalah lawas dan bersejarah di Indonesia: Si Kuncung. Majalah itu masih bisa ditemukan bagi yang beruntung atau melek sejarah. Artinya, majalah yang akan membuka masa lalu dan mengisahkan keaksaraan di Indonesia dalam masa kekuasaan Soekarno dilanjutkan masa kekuasaan Soeharto. Majalah yang legendaris. Aku berhasil mengoleksi ratusan edisi. Jumat yang penuh berkah itu aku membeli lagi Si Kuncung.

Yang cukup menggoda adalah Si Kuncung nomor 43, 1983. Di sampul, tampak gambar para petani. Ada yang mencangkul dan membajak bareng kerbau. Aku kangen kerbau meski aku mulai jarang melihatnya. Dulu, tetangga-tetanggaku ada yang memelihara kerbau. Pada saat traktor-traktor masuk desa dan berdatangan ke sawah, kerbau-kerbau itu lekas menjadi nostalgia.

Gambar para petani dan sawah itu sesuai impian-impian besar rezim Prabowo-Gibran yang menghendaki swasembada pangan. Gambar yang sederhana dan berwarna. Aku memberi pujian tapi sadar nasib para petani. Pada saat masih kecil, aku sering bermain di sawah sambil menggembala kambing. Selingan yang menggembirakan adalah naik kerbau yang dibawa teman. Peristiwa yang seru: turun ke sungai memandikan kerbau.

Aku menemukan puisi-puisi dalam halaman-halaman Si Kuncung. Namun, yang terpenting adalah pemuatan cerita-cerita yang mengandung nilai-nilai Pancasila. Sejak dulu, Si Kuncung menjadi majalah yang mengajak anak-anak di Indonesia makin gandrung Pancasila, sebelum ada BPIP atau kurikulum yang diadakan NM dengan pengistimewaan Pancasila.

Siang tetap menghasilkan keringat dan lelah. Aku memang bergairah membaca majalah-majalah lawas tapi lelah tidak bisa dilawan. Di kios, terdengar lagu-lagu Iwan Fals, yang membuatku bersemangat untuk memilih lagi majalah-majalah. Belasan majalah Putera Kita aku beli untuk melengkapi sumber penafsiran puisi anak-anak, dari masa ke masa.

Di tanganku, majalah Putera Kita yang menampilkan gambar anak-anak sedang bermain gembira. Mereka bermain di alam, bersama pohon-pohon. Konon, anak-anak sekarang sering berada di ruangan: sekolah dan rumah. Bermain di alam terbuka itu menyenangkan.

Di majalah Putera Kita, 25 Juli 1988, aku membaca puisi berjudul “Kebebasan dan Kebahagiaan” yang ditulis Ema. Puisi yang berisi gugatan dan rapatan. Aku membacanya sambil mengenang dunia-batin anak-anak. Yang ditulis: Keadaan membuatku bosan bersekolah/ Apalagi bila nilaiku buruk/ Kubayangkan zaman yang semakin kacau/ Masa depan yang cerah semakin menjauh dari kita/ Dapatkah aku dapatkan kegemilangan di masa depan? Puisi yang mungkin menjadi “kritik” atau “noda” dalam mimpi-mimpi pembangunan nasional yang dibesarkan oleh Soeharto. Seingatku, belajar di sekolah itu membosankan. Aku ikut mengalaminya: pernah mendapat nilai buruk dan pernah tidak naik kelas.

Majalah-majalah masuk kresek lorek. Aku membawanya pulang dengan sepeda motor yang tidak mau diajak ngebut. Perjalanan pulang: melintasi Alun-Alun Utara, Pasar Klewer, Singosaren, dan akhirnya menuju Colomadu. Di pinggiran Solo, hujan pun turun. Majalah-majalah itu mendapat air dari atas dan cipratan dari bawah. Selama di jalan, aku sudah sedih jika majalah-majalah basah. Sore, aku berhasil tiba di rumah. Majalah-majalah dikeluarkan dari kresek. Selamat dari air.

Jumat yang tetap berkah. Aku yang akan bergirang dengan puisi-puisi dalam belasan majalah lama, yang tiba di rumahku setelah mendapat sinar matahari dan guyuran hujan. I Kabut