Bagi generasi milenial ke atas, perpustakaan bisa jadi rekomendasi tempat paling asyik untuk nongkrong. Tapi jangan harap bisa sambil merokok atau ngopi, apalagi ngomongin si A yang habis beli Z, atau si B yang lagi patah hati. Biasanya, murid yang berhasil lewat pintu perpustakaan selalu punya alasan kuat. Meski tak sekuat Gatotkaca.
Aturan pertama, di perpustakaan tidak diperbolehkan makan dan minum. Hal itu bisa dimanfaatkan untuk mengalihkan perhatian. Kadang orangtua memang sengaja kasih uang saku mepet. Saking mepetnya sampai habis di jam istirahat pertama. Supaya tidak dianggap tak tahu diri karena keseringan incip-incip jajanan teman, maka masuk perpus akan lebih terhormat. Tinggal pilih buku tebal acak di rak. Ambil tempat di pojokan. Lalu duduk manis, taruh buku di atas meja, maka jadilah bantal keras paling nyaman untuk tidur. Jangan cemas jika tidak ada yang membangunkan. Suara bel tanda masuk biasanya lebih sumbang dan mengagetkan dari bentakan kepala sekolah saat lupa memakai sepatu warna hitam waktu upacara.
Aturan kedua, meminjam buku maksimal hanya 2 dan harus kembali dalam seminggu. Kalau ini bisa untuk sekadar gaya-gayaan. Dulu, cewek yang suka baca biasanya jadi idola. Apalagi cantik. Apalagi pintar. Wah, kalau sudah begitu biasanya akan jadi rebutan. Slogan “siapa cepat dia dapat” akan tiba-tiba menghantui pikiran-pikiran cowok. Kadang, mereka main halus. Sengaja ikut-ikutan masuk perpus untuk pinjam buku, 2 lagi, biar si cewek terkesan. Kalau perlu, buku yang judulnya agak berat, jadi akan maklum kalau tidak pernah berhasil terbaca tuntas yang akhirnya kena denda karena lupa mengembalikan tepat waktu.
Aturan ketiga, wajib mengganti jika buku hilang. Nah ini, biasanya kalau sudah suka dengan 1 buku, apalagi novel, pengarangnya terkenal, lebih lagi pujaan hati ngefans. Kadang pikiran bisa jauh lebih pendek dari akal. Demi bisa punya koleksi novel keren, hilang bisa jadi alasan untuk tidak mengembalikan. Tinggal pasang muka paling melas dan penyesalan mendalam, biasanya penjaga perpus akan luluh. Paling banter hanya akan kasih denda, dan nominalnya pasti di bawah harga buku itu. Biasanya sih, murid-murid begini sudah bestie-an dengan penjaga perpus.
Aturan keempat, di perpustakaan tidak boleh berisik. Lagi-lagi soal perasaan. Pedekate generasi milenial ke atas itu ibarat puisi: singkat, padat, tapi penuh arti. Tidak perlu banyak bicara, cukup tatapan mata dan senyuman tipis sudah bisa menjadi bahasa paling lugas bagi dua sejoli yang sedang di mabuk asmara. Bahkan, buku-buku puisi Chairil Anwar yang tergeletak di atas meja, tidak menarik lagi untuk dibaca. Karena apa yang ada di depan mata jauh lebih puitis dan memabukkan.
Percayalah, perpustakaan memang memiliki sisi semanis itu. Meski kadang banyak sekolah selalu menempatkan ruang perpustakaan di sudut paling jauh, hingga tampak menyeramkan layaknya rumah kosong. Tapi buku-buku yang terlihat masih bersampul rapi, dengan bangku dan meja yang hampir selalu tak pernah penuh sesak, menyimpan banyak kenangan dan kenakalan-kenakalan masa sekolah. Jadi, jika ada di antara kalian masuk generasi Z, apakah kalian pernah punya pengalaman semacam itu di perpustakaan? [] Redaksi
Dulu, orang yang hobi baca dijuluki kutu buku. Identik dengan kacamata tebal, rambut lepek, dan kehidupan sosial yang sekering daun gugur. Tapi zaman sudah berubah, Bung! Sekarang, orang berkacamata belum tentu doyan baca, bisa jadi cuma buat gaya atau sekadar menutupi mata panda akibat begadang nonton serial. Lagipula, siapa sih yang masih ribet bawa buku tebal kalau semua bisa diakses lewat gawai?
Buku fisik mulai tergeser. Baca berita? Tinggal buka portal online. Butuh resep masakan? Google punya segalanya. Mau baca novel? E-book banyak, audiobook lebih praktis, tinggal dengerin sambil rebahan. Bahkan ada yang malas baca tapi pengen pintar, akhirnya cuma ngandelin thread X atau video singkat yang katanya mencerahkan. Tanpa perlu khawatir buku lecek, terlipat, atau kena tumpahan kopi. Cuma satu musuh: baterai habis!
Tapi tunggu dulu, bukan berarti buku musnah dari peredaran kayak dinosaurus. Masih ada perpustakaan, toko buku, dan kios buku bekas yang setia menunggu pembeli. Sekolah pun masih pakai buku paket dan LKS, meski muridnya lebih sering mengandalkan hasil copy-paste dari internet. Intinya, buku fisik dan digital punya penggemarnya masing-masing. Tidak ada yang lebih unggul, semua tergantung selera dan kebutuhan.
Dulu kita percaya, membaca adalah jendela dunia. Sekarang? Jendelanya udah makin banyak: podcast, video, infografis, bahkan komentar-komentar netizen yang kadang lebih seru dari berita utamanya. Setiap orang punya cara sendiri untuk menyerap informasi. Ada yang suka membaca dalam diam, ada yang lebih nyaman mendengar orang lain bercerita, ada juga yang tidak bisa diam sambil baca, harus sambil ngemil atau goyang-goyang kaki.
Bahkan dunia pendidikan yang dulunya bergantung pada buku cetak, sekarang sudah mulai beralih ke materi digital. Tugas sekolah bisa diketik di Google Docs, PR tinggal difoto pakai aplikasi, dan kalau malas membaca, ada AI yang bisa merangkum isi buku dalam hitungan detik. Dengan kemudahan ini, buku cetak memang makin tersingkir, tapi bukan berarti kehilangan makna.
Meski begitu, buku tetap punya nyawa. Dia bukan sekadar benda mati yang tergeletak di rak. Buku bisa menyimpan sejarah, mengabadikan cerita, dan menjadi saksi perjalanan peradaban. Hidup ini memang tentang hari ini, tapi buku bisa membawa kita ke masa lalu dan masa depan dalam sekejap. Dan yang menarik, buku tidak pernah memaksa dibaca. Dia cuma diam, menunggu seseorang membukanya. Seperti jendela kamar, kadang dibuka lebar, kadang ditutup rapat. Semua tergantung penghuninya, mau menikmati udara segar atau betah dalam kegelapan sendiri?
Pada akhirnya, membaca tetap menjadi cara terbaik untuk memahami dunia, entah itu lewat buku fisik atau digital. Yang penting, jangan sampai kita lebih sering membaca komentar media sosial ketimbang buku. Karena kalau begitu, yang ada bukan membuka jendela dunia, tapi malah nyangkut di jendela gosip dan hoaks! [] Redaksi
Orang sering berkata, “Tulis yang indah-indah, yang menginspirasi, yang penuh harapan.” Seakan-akan menulis hanya boleh menjadi lentera di tengah gelap. Tapi bagaimana kalau justru yang ingin kutulis adalah kegelapan itu sendiri? Bagaimana kalau aku ingin menulis tentang luka yang membusuk, bukan yang sembuh? Tentang tokoh yang tidak bangkit dari keterpurukan, melainkan tenggelam lebih dalam, mencium dasar kehancuran tanpa ada tangan yang menariknya naik?
Menulis adalah cermin. Dan cermin tidak selalu menampilkan wajah yang cantik. Kadang-kadang ia memantulkan wajah seseorang yang baru bangun tidur, dengan rambut acak-acakan dan mata bengkak karena tangisan semalam. Kadang ia menampilkan noda yang sudah kita coba hapus, tapi tetap ada di sana, membandel, mengingatkan bahwa beberapa hal memang tidak bisa dihapus begitu saja.
Kenapa cerita harus berakhir bahagia? Kenapa tokoh utama harus menemukan makna hidupnya di akhir cerita? Bagaimana kalau ia justru makin tersesat? Bagaimana kalau, di halaman terakhir, ia tidak menjadi lebih baik, tapi lebih buruk? Kita suka berpura-pura bahwa dunia ini penuh harapan, padahal kita tahu tidak semua orang mendapat akhir yang baik. Tidak semua korban mendapatkan keadilan. Tidak semua cinta menemukan jalannya. Tidak semua luka bisa sembuh.
Dan itu tidak apa-apa.
Kadang, menulis kisah buruk justru lebih jujur. Menulis tentang seseorang yang berusaha melawan hidup, tapi tetap kalah. Tentang seseorang yang mencintai, tapi dikhianati. Tentang seseorang yang memimpikan sesuatu, hanya untuk melihatnya hancur di depan mata. Dunia nyata penuh dengan itu semua, dan menulisnya bukanlah dosa. Justru, menulis adalah cara untuk tidak berpaling dari kenyataan.
Barangkali ada yang berkata, “Tapi bukankah kita harus menyebarkan hal baik?”
Tentu, jika itu yang ingin kau tulis. Tapi jangan paksakan semua tulisan untuk menjadi pelipur lara. Sebab dunia ini tidak hanya tentang yang baik-baik saja. Dunia juga milik mereka yang gagal, mereka yang jatuh, mereka yang dikhianati, mereka yang memilih mengakhiri hidupnya karena tidak kuat lagi.
Menulis bukanlah pekerjaan untuk menutup-nutupi kenyataan. Kadang ia harus menjadi pisau yang mengiris, menunjukkan luka dengan kejujuran yang menyakitkan. Dan kalau itu terasa menyesakkan, mungkin karena kita tidak terbiasa melihat kenyataan tanpa filter.
Tapi menulis bukan untuk membuat nyaman. Menulis adalah untuk membuat kita merasa sesuatu—apa pun itu. Bahkan jika yang kita rasakan adalah sesak, kecewa, atau bahkan marah.
Jadi kalau kau ingin menulis kisah yang buruk, yang pahit, yang tidak ada pembelajaran moral di ujungnya, yang tidak memberikan secercah harapan… silakan. Tidak ada yang melarang. Karena menulis bukan hanya soal memberikan harapan. Menulis adalah soal merekam kenyataan—bahkan yang paling bangsat sekalipun. [] Redaksi
Orang sering berpikir bahwa ide tulisan harus datang dari wahyu besar. Seakan-akan kalau bukan tentang revolusi dunia, cinta yang menggetarkan semesta, atau perjalanan heroik melawan monster berkepala tujuh, maka idenya tidak layak ditulis. Padahal, seringkali, yang paling menarik justru hal-hal remeh yang biasanya kita abaikan begitu saja.
Coba lihat sekeliling. Apa yang ada di depanmu sekarang? Segelas kopi yang mulai mendingin? Kenapa kopi selalu dibiarkan dingin saat orang sibuk? Apakah kopi yang dingin itu merasa tidak dihargai? Bisa saja ada teori konspirasi bahwa kopi sebenarnya lebih suka diminum dalam keadaan dingin, tapi manusia yang keras kepala memaksanya untuk tetap panas. Nah, ini bisa jadi ide tulisan.
Atau, pernahkah kamu memperhatikan orang yang mengetik dengan sangat keras di keyboard, seakan mereka sedang marah pada dunia? Apakah mereka sedang menulis email penuh emosi, atau mungkin hanya memainkan Minesweeper dengan penuh semangat? Bisa saja ada cerita tentang seorang hacker yang menulis kode dengan penuh dendam, atau seorang penulis novel yang mengetik keras hanya agar tampak produktif di hadapan orang lain.
Intinya, ide menulis tidak harus berasal dari pengalaman besar. Justru, hal-hal kecil yang sering diabaikan bisa jadi tambang emas bagi tulisan yang unik. Sebuah lampu yang berkedip di kamar? Mungkin ia adalah morse dari dimensi lain. Sebuah sandal jepit yang hilang sebelah? Bisa saja ia bosan dengan pemiliknya dan memutuskan mencari kehidupan baru. Atau mungkin ada sindikat sandal jepit sebelah yang punya ambisi besar perihal pembunuhan?
Kalau kamu masih merasa buntu mencari ide, coba ambil benda acak di dekatmu. Misalnya, tisu. Apa yang bisa ditulis tentang tisu? Seberapa sering tisu terjebak dalam saku baju lalu ikut masuk ke mesin cuci, hancur berkeping-keping, dan menciptakan miniatur badai salju di seluruh pakaian? Apakah tisu punya perasaan dan merasa gagal menjalankan tugasnya?
Menulis itu tidak harus selalu serius. Tidak perlu menunggu momen ketika petir menyambar dan ilham turun dari langit. Cukup lihat sekeliling, pilih hal yang tampak sepele, lalu tanyakan: Bagaimana kalau? Bagaimana kalau stopkontak di rumah punya kepribadian dan selalu bersedih saat tidak ada yang mencolokkan kabelnya? Bagaimana kalau ada spesies kucing yang hobi mencuri kata-kata dari kepala manusia, membuat orang lupa apa yang ingin mereka katakan?
Jadi, kalau kamu ingin mulai menulis, berhentilah mencari “ide besar.” Sebaliknya, mulailah memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin selama ini luput dari perhatian. Ide tidak harus masuk akal sejak awal. Kadang yang paling ngawur justru yang paling menarik. Yang penting, tulis saja dulu. Karena kalau kamu tidak menulis, ide itu hanya akan tetap jadi sekadar ide, dan itu jauh lebih sia-sia daripada segelas kopi yang keburu dingin.[] Redaksi
Jika seseorang melihat Teaz Sugita saat ini sebagai seorang fashion desainer yang semakin dikenal di industri mode, mungkin tak banyak yang tahu bahwa perjalanan menuju titik ini penuh dengan lika-liku. Perjalanan Teaz bukanlah kisah instan tentang kesuksesan, melainkan kisah ketekunan, kerja keras, dan perjuangan dari bawah hingga akhirnya berdiri sebagai desainer yang diperhitungkan.
Awal Mula: Cita-Cita yang Terpendam
Sejak kecil, Teaz Sugita sudah memiliki impian besar. Saat masih anak-anak, ia bercita-cita menjadi seorang artis, namun seiring berjalannya waktu, ketertarikannya terhadap dunia fashion semakin kuat. Saat duduk di bangku SMP, ia sudah yakin ingin menjadi seorang desainer. Karena itulah, ia memilih melanjutkan pendidikan di SMK Negeri 4 Surakarta, mengambil jurusan Tata Busana, dan lulus pada tahun 2007.
Namun, menjadi desainer bukanlah jalan yang bisa langsung ia tempuh. Seperti banyak orang lainnya, setelah lulus sekolah, Teaz harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia tidak langsung terjun ke dunia fashion, melainkan mencoba berbagai pekerjaan, mulai dari bekerja di pabrik, menjadi sales elektronik, hingga akhirnya menjadi pedagang kaki lima (PKL) pada tahun 2011.
Membangun dari Nol: Perjuangan sebagai PKL
Menjadi PKL bukanlah pilihan yang mudah, tetapi itulah yang Teaz jalani untuk bertahan hidup dan memperbaiki kondisi finansialnya. Ia berjualan di depan pabrik dari subuh hingga pukul 7 pagi, terkadang harus meninggalkan anaknya yang masih bayi demi mencari nafkah.
Perjuangan sebagai PKL penuh tantangan. Ia pernah mengalami kejadian menyakitkan, seperti dagangannya rusak karena tenda roboh akibat hujan dan angin kencang, bahkan beberapa kali diusir oleh Satpol PP. Namun, semangatnya tidak pernah surut. Baginya, selama usahanya halal dan tidak merugikan orang lain, maka ia akan terus melangkah.
Dari hasil berjualan sebagai PKL, ia sedikit demi sedikit memperbaiki kondisi keuangan. Setelah memiliki cukup modal, ia mencoba membuka usaha di bidang kecantikan dengan membuka salon serta usaha persewaan baju pengantin.
Langkah Menuju Dunia Fashion
Meskipun sibuk dengan usahanya, kecintaannya terhadap dunia fashion tidak pernah pudar. Hampir semua baju yang disewakan dan digunakan dalam usahanya dibuat sendiri. Kualitas karyanya mulai menarik perhatian banyak orang. Dari mulut ke mulut, namanya mulai dikenal sebagai seseorang yang bisa membuat baju pesanan, seragam, hingga kostum-kostum khusus.
Tak hanya itu, Teaz bahkan pernah bekerja di belakang layar dengan membuat produk untuk desainer-desainer senior. Meski namanya belum banyak dikenal saat itu, pengalamannya terus bertambah dan kepercayaan terhadap kemampuannya semakin kuat.
Berani Berdiri Sendiri sebagai Desainer
Setelah bertahun-tahun bekerja di balik layar, akhirnya pada tahun 2020, Teaz memberanikan diri untuk berdiri sebagai seorang fashion desainer. Awalnya, ia hanya membuat baju show untuk anaknya sendiri, namun dari situ ia mulai lebih percaya diri untuk memproduksi karyanya bagi orang lain.
Keputusan ini bukan tanpa risiko, tetapi ia yakin bahwa ini adalah jalannya. Dengan pengalaman bertahun-tahun dan pemahaman mendalam tentang dunia fashion, ia mulai membangun brand sendiri. Tak butuh waktu lama, desain-desainnya mulai mendapat perhatian lebih banyak orang.
Menjadi Nama yang Dikenal di Industri Fashion
Puncak perjalanan Teaz sebagai fashion desainer dimulai pada tahun 2022, ketika namanya semakin berkembang dan dikenal luas di industri fashion. Karyanya semakin diminati, dan ia mulai mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.
Salah satu pengalaman paling membahagiakan dalam kariernya adalah ketika ia mendapat kesempatan untuk mengadakan fashion show bersama artis Abah Lala, di mana ia menjadi salah satu pengisi acara. Momen ini menjadi salah satu pencapaian yang sangat membanggakan baginya, sekaligus menandai bahwa usahanya selama ini telah membuahkan hasil.
Tantangan dan Cobaan dalam Perjalanan
Perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu mulus. Selain tantangan sebagai PKL di awal perjuangannya, Teaz juga pernah mengalami pengalaman pahit dalam bisnis fashion. Salah satu yang paling menyakitkan adalah ketika ia ditipu oleh pelanggan yang membawa kabur pesanan tanpa membayar, dengan nilai kerugian mencapai jutaan rupiah.
Namun, semua cobaan itu tidak membuatnya menyerah. Baginya, setiap kesulitan adalah bagian dari proses. Prinsip hidupnya yang selalu dipegang teguh adalah: Jalani, nikmati, dan syukuri. Selagi halal dan tidak merugikan orang lain, sikat saja!” Sebagai seseorang yang pernah mengalami berbagai rintangan dalam hidup, Teaz memiliki motto yang selalu ia pegang: Bermanfaat yang positif untuk orang lain.
Baginya, keberhasilan bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang bagaimana ia bisa memberikan manfaat bagi orang lain, baik melalui karya-karyanya maupun semangat perjuangan yang ia bagikan.
Dari Impian ke Kenyataan
Perjalanan Teaz Sugita adalah bukti bahwa impian bisa menjadi kenyataan, asalkan diperjuangkan dengan tekad yang kuat. Dari seorang anak yang bercita-cita menjadi desainer, ia menempuh perjalanan panjang—bekerja di pabrik, menjadi sales, berjualan sebagai PKL, hingga akhirnya membangun namanya sendiri di dunia fashion.
Kini, ia terus berkembang dan semakin dikenal di industri fashion. Dengan akun Instagram pribadi @teazsugita_makeover dan akun fashionnya @zimaefashionnew, ia terus membagikan karya-karyanya dan menginspirasi banyak orang untuk berani mengejar mimpi mereka.
Kisah Teaz Sugita adalah pengingat bahwa tidak ada keberhasilan yang instan. Kesuksesan adalah hasil dari perjuangan panjang, ketekunan, dan keberanian untuk terus melangkah meski menghadapi berbagai rintangan. Dan yang paling penting, selama kita tetap menjalani dengan penuh rasa syukur dan tidak merugikan orang lain, maka setiap langkah yang kita ambil akan membawa kita lebih dekat ke impian kita. [] Redaksi
Di hari ketika Musa dan pengikutnya berbondong-bondong meninggalkan Mesir, kumpulan mega berarak persis menuju laut dan seketika permukaan air jadi gelap, tetapi ikan-ikan tetap berenang seperti biasa seakan-akan tidak ada sesuatu yang sedang terjadi dan seakan-akan segalanya masih dan akan terus berjalan normal, meski sebenarnya telah muncul beberapa potong pertanda sepele yang barangkali tidak terlihat oleh mata makhluk biasa, tentang lahirnya sesuatu yang agung dan tercatat di sebuah kitab suci dan terkenang hingga berabad lamanya dan bahkan hingga kiamat: perahu nelayan putus asa, beberapa kuda yang berbincang dengan burung-burung, dan diri saya yang tak terlibat apa-apa, kecuali sebagai penonton, tetapi tentang diri saya itu tidaklah penting, karena ada ataupun tidak diri saya ini, toh Musa dan para pengikutnya tetap menuju tanah yang dijanjikan, di seberang yang jauh dan tak terjangkau oleh imajinasi ikan-ikan, sehingga saat kabar dari masa lalu tentang raja yang mengaku sebagai tuhan itu sampai ke telinga saya, saya tidak akan menduga ada peristiwa sehebat ini; ribuan orang berjalan setengah berlari ke arah laut dalam formasi yang terlihat tanpa direncana dan terburu-buru dengan jumlah yang dapat membuat tanah di dekat pantai bergetar-getar seiring dekatnya jarak mereka dari kemerdekaan, dan itu sambung-menyambung tanpa henti sampai ikan-ikan sadar bahwa jumlah manusia yang lari dari raja zalim itu tidaklah tanggung-tanggung, oleh karena getaran dahsyat yang diakibatkan derap langkah mereka memang mencapai titik yang memungkinkan dalam membuat air di laut turut bergetar, dan tentu perahu sang nelayan yang putus asa juga turut bergetar, tapi yang ada di kepala orang udik itu hanya bahwa dirinya sedang tak waras dan kegelapan di langit, juga gempa serupa tabuhan perkusi dari bawah air di balik lantai perahu, seakan bukan kenyataan dan cuma terbit dari pikiran sendiri, dan semua ini menjadi bahan lelucon burung-burung yang sejak dulu kerap membawa kabar dari Mesir untuk ikan-ikan, dan siapa pula yang tidak paham jikalau burung-burung ini mendapat kabar dari beberapa kuda dan terkadang bangsa belalang atau bahkan katak dan unta, dan tidak jarang juga arwah orang-orang yang tidak lama meninggal di kawasan proyek ambisius sang raja yang ingin disembah sebagai tuhan dan ingin menang sendiri, yang berupa piramid dan patung dan segala bangunan yang entah bagaimana lagi saya menyebutkannya, tetapi mereka, burung-burung itu, tidak mungkin bicara dengan manusia yang putus asa dan bingung demi mengakhiri hidupnya sendiri, sehingga mereka hanya tertawa sekaligus menangis karena tidak bisa berbuat lebih, dan karena inilah ikan-ikan lalu menghibur setiap ekor burung yang terlibat dalam perkara aneh ini dengan bilang bahwa segala kematian itu urusan Tuhan yang Mahaesa, termasuk kematian seseorang yang secara konyol terjadi di waktu bersamaan dengan hikayat agung yang bakal tercatat dalam lembar sejarah dan kitab suci, dan lagi pula mereka juga sadar pada akhirnya nanti si nelayan itu juga kaget lantaran Musa dan seluruh pengikutnya berjalan ke arah yang sama, dan barangkali di saat yang sama dia akan melihat betapa malu dia jika harus mati dengan ditonton oleh ribuan orang, tapi siapa pun tak bisa membaca masa depan, dan nasib sang nelayan tidak ada yang tahu sampai seluruh manusia, yang ribuan jumlahnya tadi, yang dipimpin Musa, benar-benar tiba di tepian pantai, sehingga seluruh semesta pun, pada detik saat mega pekat berarak ke sini, memutuskan menunggu; burung-burung, ikan-ikan, beberapa kuda yang telah kabur dari tuan mereka, beberapa belalang, semut, kadal, katak, dan lain-lain; tak ada satu pun yang sanggup melewatkan apa yang akan terjadi, dan semua bakal terus bertanya-tanya: dengan mukjizat macam apa Musa bisa membawa para pengikutnya lolos dari raja dan pasukannya, sementara di sini, tidak lama lagi, mereka menjumpai titik akhir berupa air yang hanya sanggup dilalui oleh ikan-ikan, perenang andal, dan perahu dan bukannya orang-orang tua renta, bayi-bayi, para wanita lemah, lelaki loyo, orang-orang pemalas, dan siapa pun yang tidak sanggup berenang dan tidak kuasa melawan ganasnya Laut Merah, dan saya sendiri yakin tak ada yang selamat kalau harus memaksa terjun ke air, kecuali tidak ada pilihan lain selain mati ketimbang menjadi budak raja yang mengaku sebagai tuhan, dan itu sungguh akan menjadi kisah paling menyedihkan yang akan saya saksikan, tapi saya berharap di detik-detik genting ini agar mukjizat Musa—yang tak kalah hebat ketimbang mengubah tongkat menjadi ular atau mengeluarkan cahaya dari telapak tangan—benar-benar lahir atas izin Tuhan yang Mahaesa, dan ini membuat saya terus saja berdoa, bahkan meski getaran di bumi akibat derap langkah ribuan pengikut Musa mulai bikin kacau tempat bernaung saya, dan bahkan meski suatu ketika saya harus berhenti oleh karena menyadari betapa perahu nelayan itu kini berada tidak jauh dari sekumpulan ikan-ikan yang terlihat cemas (yang mungkin membuat sang nelayan semakin terbenam dalam emosi yang tidak terkendali sehingga tanpa berpikir panjang membunuhi ikan-ikan itu untuk pelampiasan, karena sejatinya dirinya tak bisa benar-benar menghabisi dirinya sendiri dengan terjun ke laut dan pasrah didekap air hingga tewas—entah karena mulai memikirkan tentang neraka yang kelak menelannya bulat-bulat dalam keabadian atau entah karena mulai terpikir tentang solusi yang lebih baik ketimbang lari dari masalah dengan mencabut nyawanya sendiri), saya tetap berdoa, dan memang terkabullah doa itu setelah beberapa saat Musa berdiri di tepi suatu tebing di salah satu bagian pantai ini, dan dia terlihat bersujud dengan khusyuk, lalu bangkit dan berjalan ke dekat batas air dan tanah, dan di sanalah dia jamah permukaan air laut dengan ujung tongkat sebelum laut yang telah bergejolak karena angin dan pergerakan tidak wajar dari seisi semesta, terbelah menjadi dua, dan tentu saja ini membuat saya dan burung-burung dan ikan-ikan dan beberapa kuda yang telah kabur dari tuan masing-masing dan para belalang, semut, kadal, katak, dan lain-lain, dan juga seluruh pengikut Musa, serta tak ketinggalan: si nelayan yang bermaksud bunuh diri di laut, melongo berjamaah, seakan-akan barusan kami disuguhi sihir paling dahsyat yang pernah ada di muka bumi, tetapi tentu saya tahu itu bukan sihir, karena sihir sangat dibenci oleh Tuhan dan siapa pun hamba yang terlibat dengan ilmu sihir, apa pun alasannya, diharamkan menyentuh wanginya surga, sehingga ini tentunya tidak lain hanyalah suatu mukjizat, dan jujur saja, inilah pertama kali saya menonton Musa memperagakan mukjizat atas seizin Tuhan yang Mahaesa, karena dari setiap mukjizat lama yang telah dia tampilkan di luar sana, yang hikayatnya disampaikan kuda dan belalang dan burung-burung dan entah makhluk hidup jenis apa lagi kepada saya dan beberapa makhluk lain di sekitar sini, tidak pernah saya lihat dengan mata kepala sendiri, dan pada titik ini saya benar-benar merasa dada saya mulai penuh dan boleh jadi bakal meledak, sehingga saya juga yakin si nelayan yang kini perahunya oleng tak keruan dan malah terseret ke tepi atau batas pembelahan laut yang serupa air terjun di tengah laut, juga merasakan sensasi yang sama atau lebih gila di dadanya, dan ini membuat lelaki itu terlihat bersujud di atas perahu lalu bangkit dan menangis dan seluruh makhluk, yang melihat keberadaan perahu kecil itu sebagai titik kecil yang nyaris mencapai batas pembelahan air laut, tampak berteriak dan mulai khawatir orang tolol itu bakal mati karena jatuh ke dasar laut yang berupa jalanan pasir berbatu yang basah, tetapi ternyata nelayan itu dapat melompat dari perahu lalu berenang menuju batas pembelahan dan membiarkan tubuhnya meluncur begitu saja ke bawah selagi ribuan pengikut Musa mempercepat laju mereka agar tak terkejar oleh rombongan Fir’aun yang ternyata mencapai titik yang tidak jauh dari laut, dan karena rombongan raja itu mampu menghabisi mereka sewaktu-waktu, Tuhan memberi hukuman yang setimpal, dan hukuman ini tidak sampai berimbas pada nelayan tolol yang keburu bergabung bersama Bani Israil yang masih memenuhi jalan dadakan di dasar laut yang kanan-kirinya ditemboki air setinggi bangunan-bangunan yang dulu mereka dirikan dengan darah dan air mata demi raja yang kini mengejar mereka, dan tentu beberapa orang bertanya-tanya terkait apa yang dilakukan nelayan tolol itu sehingga dia seakan terjun dari atas, dari langit yang mendung, tapi nelayan itu hanya bilang, dia nyaris tersesat dan kini bertekad meluruskan hidupnya, dan para pengikut Musa membiarkan orang itu berlari bersama mereka, lalu seiring lenyapnya detik demi detik hukuman Tuhan yang tak lagi ditunda, karena persis setelah Musa dan ribuan orang yang bersamanya mencapai seberang, saya melihat Fir’aun dan pasukannya dilumat habis oleh laut karena kini tembok air raksasa itu roboh dan bergejolak, kembali ke asal, kembali ke takdir dirinya sebagai laut, sebagai kumpulan air dalam jumlah besar yang akan dan selalu setia memenuhi setiap lubang atau celah yang tersisa karena memang begitulah hukum alam bekerja untuk air, dan tentu saja situasi ini merugikan siapa pun yang masih tertinggal di jalan yang terbentuk akibat mukjizat Musa yang terhebat, kecuali saya dan ikan-ikan lain yang memang dilahirkan untuk bernapas dalam air.
Gempol, 2018-2024
Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, puisi, esai, dan skenario FTV sejak 2012. Karyanya tersebar di pelbagai media. Buku yang ia tulis: Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), Dosa di Hutan Terlarang (2018), Buku Panduan Mati (2022), dan Pengetahuan Baru Umat Manusia (2024). Bisa dijumpai di FB ‘Ken Hanggara’ atau IG kenhanggara.
Hari-hari tidak sama. Nama-namanya berbeda. Rasanya pasti berbeda. Apakah warna hari-hari pun berbeda? Aku tidak tahu jawabannya. Jika menghitung: berapa jumlah Rabu yang aku miliki, sejak lahir sampai sekarang? Bagi yang belajar, Rabu itu sekolah. Bagi yang mencari nafkah, Rabu itu hari kerja. Aku belum bisa memastikan Rabu yang sering aku alami memiliki makna atau klise.
Rabu, 20 November 2024, aku bukan pemenang hidup. Hari yang anggaplah tetap “sama” bagi orang yang terbebani masa lalu buruk, penyesalan, dan menyeret sekarung kutukan. Rabu yang datang rasanya biasa saja. Yang sedikit membedakan saat siang terlalu benderang dan membara.
Yang masih mungkin dilakukan adalah melihat Alun-Alun Utara (Keraton Surakarta Hadiningrat) dan memandang kesibukan para pedagang pakaian di sekitarnya. Tidak lupa, mengamati para pedagang mi ayam, tahu kupat, es teh, soto, dan lain-lain. Mereka yang merayakan Rabu dengan berdagang. Rabu yang jual-beli, berhitung laba dan kepuasan.
Aku tidak bisa menjadi pedagang mi ayam, hanya dapat menikmati mi ayam. Hari yang ditunggu belum tiba. Yang aku inginkan adalah makan mi ayam dengan cara ditraktir pengarang kondang, yang beberapa hari lalu pergi ke Jakarta untuk menerima anugerah besar. Membayangkan makan mi ayam dan berbagi cerita. Aku sekadar ingin terhubung dengan situasi sastra mutakhir, yang teristimewa novel. Aku masih membaca novel tapi pengalaman dan pengetahuanku justru makin surut.
Duduk di bawah pohon beringin. Di sampingku, pemuda yang biasa berkeliling kota naik sepeda onthel. Ia membaca lembaran-lembaran yang memuat huruf-huruf Arab. Yang terdengar: ia sedang mengaji. Di dekatku, ada juga lelaki tua yang tangannya memegang buku primbon. Pengetahuan lama yang masih terbaca saat berteduh dari sinar matahari. Telingaku mendengar orang membaca kitab suci. Mataku tergoda kesibukan lelaki yang bereferensi primbon.
Sebenarnya, aku ingin menikmati siang yang lambat. Bergerak menuju belakang deretan kios yang berjualan buku. Duduk lama untuk memandangi buku-buku di rak dan tumpukan buku, yang tidak rapi. Beberapa tangan telah membuatnya agak berantakan. Aku kadang berharap dapat kejutan: melihat sampul buku dan menginginkannya tanpa berpikir 3 detik.
Jadi, aku tidak mau terlalu menyibukkan tangan dengan menggeser atau mengubah posisi buku. Percaya mata saja. Melihat! Menemukan! Pengalaman yang terwujud. Mataku melihat sampul buku yang anggun. Judul buku: Seni Hidup Bersahaja. Gambar yang dipasang adalah bangku dan sandal. Apa maksudnya benda-benda di sampul buku? Aku yakin bukan buku petunjuk duduk yang benar atau cara-cara menggunakan sandal.
Buku ditulis oleh Shunmyo Masuno. Nama khas Jepang. Pastinya ia berasal dari Jepang. Buku dibuka halaman-halamannya, dibaca di lorong mendapat embusan angin. Yang disampaikan penulis Jepang: “Daripada mengernyitkan dahi untuk memahami gagasan Zen, cobalah berdiri di depan salah satu taman. Ini dapat menyegarkan pikiran dan semangat kita. Celotehan dan riak pikiran tiba-tiba menjadi diam dan hening. Saya menemukan bahwa pertemuan dengan sebuah taman Zen akan bisa menyampaikan lebih banyak tentang konsep-konsep Zen daripada membaca buku-buku yang menjelaskan falsafahnya.”
Kalimat-kalimat cukup berat. Di dekatku, yang terlihat alun-alun, bukan taman. Setahuku, taman-taman di Jepang itu unik dan indah. Tempat kadang kecil tapi kemuliaan dan keanggunan terasakan. Konon, “seni” taman di sana sulit ditandingi meski aku kada membaca taman-taman dalam novel-novel Eropa dan Amerika Serikat.
Yang ada di tanganku adalah buku mengenai ajaran Zen untuk panduan hidup. Nasihat yang terbaca: “Di setiap hari, yang kita butuhkan hanya sepuluh menit. Cobalah meluangkan waktu untuk kekosongan, untuk tidak memikirkan apa pun. Cobalah untuk membersihkan pikiran, dan tidak terperangkap dalam hal-hal di sekitar kita. Berbagai pikiran akan mengapung di benak kita, tetapi cobalah mengirimnya pergi, satu per satu…” Rabu bertemu nasihat. Siang yang berimajinasi taman dan keinginan tenang.
Aku sedang tidak menjadi pembantah atau pengejek nasihat. Rabu yang memerlukan kalimat-kalimat bukan berasal dari novel atau puisi. Akhirnya, buku itu menjadi pembelian yang wajar. Rabu itu buku. Aku mengalami Rabu yang buku. Rabu yang menerima nasihat-nasihat.
Berpindah ke kios lain. Aku melihat bapak yang semula memegang buku primbon berganti memegang buku tentang Tao. Selintas, aku melihat buku itu dibuat untuk menasihati orang-orang yang menanggung banyak masalah dan ingin harmonis dalam kehidupan. Aku belum tergoda memegang dan membelinya. Di tanganku, buku yang memuat ajaran-ajaran Zen.
Di tumpukan buku yang hampir jatuh, aku melihat punggung buku yang bertuliskan: Lentera Hati. Buku yang berulang aku baca saat resah dan ingat agama. Beberapa teman aku hadiahi buku yang dibuat Quraish Shihab meski dalam kondisi bekas. Buku memuat artikel-artikel pendek, berpijak agama. Aku mudah membaca dan menyukainya. Pada suatu hari, aku ingin meniru dengan membuat artikel-artikel pendek tapi tanpa keharusan bertema agama.
Buku berukuran kecil dan tebal terbitan Mizan. Di rumah, aku mungkin sudah punya 4 atau 5 eksemplar. Rabu itu aku membeli lagi. Aku segera membuka halaman-halamanya sambil diselingi mengarahkan mata ke Alun-Alun Utara. Tempat yang terang oleh matahari, bukan lentera.
Quraish Shihab memberi tafsir atas ayat dalam Al Quran: “Demikianlah, perintah membaca merupakan perintah paling berharga yang pernah dan yang dapat diberikan kepada manusia.” Kalimat yang memadai saat aku memiliki Rabu yang buku. Namun, aku belum pasti pembaca. Apa aku cuma penonton buku, pemegang buku, dan pembeli buku?
Konon, jumlah pembaca buku di Indonesia bertambah. Pemerintah mungkin senang. Yang aneh, toko buku di beberapa kota makin sepi dan tutup. Pasar buku bekas pun merana atau lesu. Di media sosial, para pedagang buku pamer keluhan ketimbang mendapat uang.
Hari mau sore, aku tidak bisa terlalu lama bersama buku dan majalah bekas di Gladag (Solo). Sebelum pergi dan pamitan, aku masih berhasil melihat setumpuk buku yang di sampulnya tampak logo perusahaan minuman. Aku mengambilnya dan membelinya tanpa menawar. Empat buku adalah “Ensiklopediku: Serial Pengetahuan Anak.” Yang terbawa adalah “sains di sekitar kita”, “tubuh manusia”, “bumi kita”, dan “burung”. Buku-buku tipis yang dulu diminati anak-anak. Mereka membava buku setelah minum Frisian Flag.
Lima buku dalam seri “Tokoh Inspirasiku”. Aku mendapatkan buku mengenai Louis Pasteur, Marie Curie, Alexander Graham Bell, Christopher Columbus, dan Thomas Alva Edison. Semua orang asing dari negara-negara yang jauh. Mereka yang mengubah dunia, yang memberi gairah peradaban manusia. Anak-anak di Indonesia menjadi pembaca dan kolektor buku, setelah memenuhi syarat minum Frisian Flag. Aku tidak ingin mengejek atau setor kritik. Aku mengangguk sebagai tanda maklum siasat industri dalam mencipta laris dan turut membentuk masyarakat-baca. Buku-buku itu siasat bisnis dan godaan keaksaraan.
Aku memiliki Rabu yang bermutu. Rabu itu buku. Rabu dengan bacaan-bacaan bergelimang nasihat. Aku pun menjadi pembaca mengandaikan seperti anak atau mengikuti definisi industri, yang menghendaki: jadilah konsumen, sebelum berlagak menjadi pembaca buku. Kabut
Sejak pagi, Yogyakarta cerah. Ada rasa percaya diri untuk mengisi daftar hadir ke pertemuan rutin Kamar Kata. Sudah beberapa pekan, setiap sore, di hari yang sama, Negar (anak pertamaku) kerap bertanya, “Ibuk nggak ke Kamar Kata?”
Aku tahu pertanyaan itu sebenarnya selalu ingin mendapat jawaban tidak dariku. Tapi sore ini, ketika melihatku mengisi list, ia hanya bilang, “Inget ya, Buk, besok aku ikut jemput ke stasiun. Jadi jangan ke mana-mana sebelum aku nyampek.”
Aku menjawab dengan anggukan. Tentu saja aku cukup kaget karena itu kali pertama ia memberi respons begitu. Biasanya, aku harus menggunakan trik dan ritual khusus sebelum meninggalkan anak-anak. Dan syarat untukku mendapat izin dari suami pastilah soal anak-anak.
“Asal anak-anak aman (red: tidak rewel),” jawab suamiku.
Semua terlihat lancar. Sampai menjelang jam 7 malam, gerimis mulai turun. Nala (anak keduaku) sudah panik. Ia yang sebelumnya bermain di rumah utinya, berlari masuk ke rumah. Gegas ditutup semua pintu dan jendela. Saat hujan menderas, ia berteriak, “Ibuk tolong.” Nala mendekat dan mengajakku masuk ke kamar. “Gimana doanya biar nggak jadi hujan?” katanya lagi. Ia sudah hampir menangis.
Aku menuntunnya membaca doa yang kubisa. Nala mengikuti. Saat hujan tak juga reda, ia menangis. Aku berusaha menenangkannya. Ya, tantanganku selama musim hujan 2 tahun terakhir adalah mendampingi Nala. Aku tidak tahu apa yang membuatnya takut hujan. Padahal sejak kecil, aku sering membiarkannya bermain hujan di depan rumah bersama Negar. Jika tahun lalu ia hanya ingin dipeluk dan dikeloni hingga tertidur. Reaksinya kali ini berubah. Agresif dan sangat ketakutan. Terlebih jika ada aku di rumah. Sepertinya di depan orang lain (kakung utinya) ia masih bisa bertahan. Karenanya, aku akhirnya kembali izin di grup untuk tidak berangkat.
Sering aku memberi sugesti pada Nala dengan mengatakan beberapa kalimat baik terkait hujan. Hujan adalah anugerah dari Tuhan. Jika tidak ada hujan maka manusia, tumbuhan dan binatang bisa mati kehausan. Juga, hujan itu bukan sesuatu yang buruk hingga harus dihindari. Tapi Nala tak pernah merespons. Jika aku beruntung, ia bisa lekas tenang lalu tertidur. Tapi malam ini ia sepertinya belum terlalu mengantuk. Jadi aku membiarkannya meluapkan kecemasannya hingga tangisnya berhenti.
“Mbak Nala kenapa takut hujan?” tanyaku usai anak itu kembali tenang. Aku menyerahkan sekotak susu vanila yang baru saja kuambil dari kulkas. Di luar menyisakan gerimis.
“Aku pernah ketemu iblis,” jawab Nala sambil duduk dan meraih susu dari tanganku. “Iblisnya bilang gini: Aku datang pas hujan. Ayo temenan sama aku! Aku kan nggak mau. Makanya aku kunci pintu sama jendela biar iblis nggak bisa masuk,” sambungnya.
Aku bertanya padanya kapan iblis itu menemuinya, namun tidak mendapat jawaban. Ia sibuk menghabiskan minumannya.
“Hujan itu temennya iblis.” Nala bangkit dan menuju jendela ruang tamu. Ia mengatakan kalau gerimis itu baik, jadi ia akan kembali bermain ke rumah utinya.
Nala memang agak lain dari Negar. Meski sama-sama kelebihan energi, pikiran dan imajinasi Nala lebih terbuka. Jika Negar mudah diberi pengertian akan sesuatu, Nala lebih suka protes. Ia juga tidak suka diberi semangat saat melakukan sesuatu. Ia cenderung melakukan apa yang disenanginya dengan suka-suka.
Aku akan memberitahu beberapa kerandoman Nala yang sering membuatku geleng-geleng kepala. Ia pernah sembunyi-sembunyi naik ke lantai 2 rumah. Memanjat balkon dan bersandar pada pojokan pagar. Aku mengetahuinya saat utinya tiba-tiba berteriak memanggilku, “Ya Allah, Ti. Anakmu gandulan neng pager (Ya Allah, Ti. Anakmu gelantungan di pagar).”
Gegas aku mematikan kompor dan berlari ke atas menyusul Nala. Aku meraih tubuhnya, lalu menangis. Rasanya jantungku seperti ketinggalan di bawah. Lututku lemas.
“Maaf ya, Buk. Kalau aku jatuh, nanti kepalaku berdarah-darah ya, Buk. Lalu hatiku putus. Lalu aku meninggoy,” jelas Nala panjang lebar.
Ia juga melanjutkan, kalau saat itu ia mendapat telepon dari Tuhan, disuruh naik ke balkon karena akan diberi mainan. Jadi ia menunggunya di sana.
Pernah juga, saat aku menemaninya tidur siang, sebelumnya dia bertanya padaku, “Ibuk mau meninggal ya?”
“Semua orang pasti akan meninggal, tapi nggak tahu kapan,” jawabku.
“Aku juga mau meninggal?”
“Kenapa kok kamu tanya begitu?”
“Nggak papa, kalau Ibuk meninggal aku mau ikut. Aku anterin naik pesawat ke rumah Allah.”
“Kok naik pesawat?”
“Rumah Allah kan jauh. Di langit. Aku pernah diajak main ke sana. Dikasih duren sama susu cokelat. Tapi aku nggak mau, aku kan sukanya susu putih.”
Dan yang belum lama terjadi, entah apa yang baru dilihat olehnya. Nala yang baru saja mahir naik sepeda roda 2, meletakkan begitu saja sepedanya dan berlari mendekatiku yang saat itu santai di ayunan depan rumah.
“Buk, kenapa kamu menikah sama ayah?” tanya Nala.
Belum sempat aku memikirkan sebuah jawaban, ia melanjutkan bicaranya. “Aku nggak mau menikah. Aku mau jomblo aja. Anak kecil kan nggak boleh pacaran.”
“Memang. Tapi kalau nanti kamu sudah besar, boleh menikah dong,” komentarku.
“Ibuk sedih kalau aku jomblo?”
“Enggak.”
“Kalau gitu aku mau jomblo aja.”
Nala kembali bermain sepeda dan meninggalkanku sendirian. Kadang aku khawatir salah menjawab. Nala tidak suka dibuat menunggu. Jadi setiap saat aku seperti dituntut harus berpikir cepat dan cerdas dalam menghadapinya.
Nala telah kembali pulang dan memintaku menemaninya tidur. Tak lama ia sudah terlelap. Sedang mataku, masih jernih. Jujur aku berharap dalam waktu dekat Kamar Kata mengadakan acara lagi. Aku kangen berada di sekitar orang-orang keren. Masing-masing telah memberikan kesannya sendiri di mataku. Pak Yudi dengan suara besarnya. Mbak Erna dengan semangat menulisnya. Mas Panji yang sempat kaget saat pertama kali tahu aku sudah tua (bersuami dan beranak 2) hingga membuat lidahnya tergigit saat makan gatot. Mas Rudi yang selalu bersemangat. Mas Beri dengan logat bicara dan suara tawanya yang khas. Mas Deni yang cool. Mas Kesit yang sangat cantik saat rambutnya digerai. Mas Andri yang sempat percaya aku merokok. Mas Ian yang (sepertinya) kalem. Bu Yayuk yang baik hati dan gemar nraktir. Mas Yuan yang serius. Hasna yang awalnya anak anteng, sekarang jadi anak aktif. Yusna yang lembut dan tertata saat bicara. Lintang yang cantik. Yulita yang sampai dia kembali ke kampung, belum sempat keretaan bareng. Mas Ruly yang slengekan tapi kalau komentar bab karya, pedas. Mas Eko yang belum lama menikah. Mas Nafi yang kalau ngomong suaranya ganteng (maksudnya gimana ini ya?). Mbak Siti yang manis. Mas Bejo yang gayeng. Mas Allan yang suaranya keren. Mas Fadli yang pernah goncengin aku pas acara Sastra di Gunung. Serta teman-teman lain yang barangkali belum kesebut. Bukan berarti tidak berkesan, hanya terlupa belum meninggalkan kesan saja.
Bagi orang lain, bisa jadi aku dianggap wong selo yang belum berhasil menghasilkan karya apa pun sejak memutuskan belajar di komunitas. Tapi sesungguhnya, untuk diriku pribadi, aku merasa telah berhasil menemukan lingkungan yang membuatku merasa nyaman. Jika sebelumnya, kasur adalah tempat yang paling menenangkan untukku. Maka sekarang, meski healing terbaik tetap rebahan seharian, namun bisa KRL-an Yogya-Palur setiap Jumat juga menjadi salah satu alternatif liburanmenyenangkan. Bagiku, berbahagia di antara teman-teman yang mau menerima apa adanya, adalah sebuah pencapaian juga. Selain belajar tentang menulis, sastra, dan kehidupan tentunya.***
Berdiri di pinggir jalan untuk menunggu kedatangan mobil. Aku berpikir bakal ikut pergi ke tempat yang jauh. Mobil itu datang. Teman sudah berada di dalam mobil, berjanji mengantar menuju suatu tempat yang bergelimang buku. Di mobil, kami berbincang macam-macam berharap segera sampai ke alamat tujuan.
Salah! Sopir malah mengajak berputar dan belak-belok. Yang terjadi: puluhan menit berada di jalan. Kami merasa jauh untuk sampai tempat idaman. Kelucuan dan kejengkelan setelah kami minta turun. Dugaan: sopir sengaja linglung dan ingin jumlah duit di layar terus bertambah. Perjalanan yang jauh telanjur terjadi meski tempat itu seharusnya dekat.
Di mulut temanku, sebatang rokok yang menyala. Mulutku mengumbar kata. Perbuatan membuang kecewa dan sial gara-gara ongkos mobil yang menguras duit dan menghilangkan menit-menit. Aku tetap saja bersyukur setelah beberapa tahun absen. Akhirnya, kakiku berada lagi di Blok M, Jakarta. Aku bukan turis tapi cuma pengunjung yang berharap dapat membeli satu buku saja.
Oh, ribuan buku di puluhan lapak! Yang terlihat: sedikit pembeli. Aku mau hadir di situ menjadi pembeli, bukan sekadar pemandang buku-buku. Di saku celana, hanya ada sedikit uang. Cita-cita terendah adalah membeli satu buku.
Mata sudah melihat buku-buku yang apik dan menggoda. Susah membuat keputusan. Teman masih merokok. Kami kadang omong sebentar tak keruan. Perlahan, aku menanyakan harga buku. Pembelian yang memang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Menanti kepastian harga. Duitku cuma 40 ribu rupiah. Harga tiga buku itu 55 ribu rupiah. Penyelesaian: teman yang membayar dulu.
Nah, novel berjudul Siklus gubahan Mohammad Diponegoro untuknya saja. Aku membawa dua novel mengenai asmara dan pohon. Aku tidak berhasrat lekas membaca novel asmara. Pohon! Aku ingin membaca yang pohon. Konon, 21 November 2024, diperingati sebagai Hari Pohon di dunia. Aku berada di Blok M mendapat novel mengisahkan pohon saat tanggal yang “berpohon”. Novel itu berjudul Tree Grows in Brooklyn gubahan Betty Smith. Tebal tapi harganya murah. Yang menjatuhkan harga adalah halaman-halaman belakang dimakan rayap.
Berpindah lapak. Lampu-lampu putih membuat pemandangan buku-buku kurang puitis. Aku mudah lelah jika tempat itu benderang, ditambah suara orang-orang yang terdengar ramai banget.
Yang menjadikan mataku redup: majalah lama. Di hadapanku, tumpukan majalah Hai. aku mendapatkan edisi yang di sampulnya tertulis nama Enid Blyton. Aku meyakini dalam majalah ada sisipan biografi Enid Blyton, pengarang terkenal di dunia dan berpengaruh di Indonesia. Buku-bukunya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Gramedia. Majalah yang dihargai 25 ribu rupiah. Murah! Aku sebenarnya mampu menurunkannya menjadi 10 ribu atau 15 ribu. Aku memilih harga di atasnya agar bahagia tidak murahan. Yang ikut terbeli adalah novel mengisahkan anjing. Pembayaran dengan cara berutang lagi. Penemuan yang menakjubkan: Hai.
Bingung membuat keputusan: terus berbelanja buku atau berhenti. Utang pasti bertambah jika memberi mata untuk buku-buku yang menggoda. Sebelumnya, senja dimiliki ketika di pinggir jalan. Setelah membeli beberapa buku, aku teringat senja yang berakhir. Namun, posisiku “salah” yang diterangi lampu-lampu menyilaukan. Apakah buku-buku itu menderita akibat lampu?
Magrib telah tiba. Pembeli tetap sedikit. Pedagang-pedagang yang termangu, merokok, dan memilih obrolan. Buku-buku agak ditelantarkan. Aku mendatanginya untuk dilihat dan dipegang. Berharap tidak membeli buku-buku lagi.
Gagal! Di hamparan buku yang diobral, tanganku cekatan mengambil buku-buku apik. Akhirnya, aku menyerah dengan berpesta buku berharga murah. Buku-buku ditumpuk dan utang ditumpuk lagi. Sejak awal, aku tidak boleh menyesal. Yang terpenting: senyum dan menambah bawaan saat pulang ke rumah.
Buku-buku yang terpilih: Madicken dan Lisabet (Astrid Lindgren), Mehrunnisa the Twentieth Wife (Indu Sundaresan), Coloured Lights (Leila), The History of Love (Nicole Krauss), The Seven Good Years (Etgar K), dan lain-lain. Pilihan banyak yang novel. Aku mulai memanjakan novel-novel meski tidak semuanya untuk dibaca. Oh, siapa bakal bersumpah membaca novel sampai mati? Siapa berani mengubah dirinya menjadi novel? Yang aku lakukan adalah menjadi pembaca novel. Selanjutnya, pengutip dari novel-novel. Kebiasaan sulit dihilangkan: menulis esai beragam tema dengan mengutip novel.
Tumpukan buku yang bukan obralan, beberapa bermutu dan penting. Aku tidak mau menanyakannya! Perkara tersulit jika mufakat harga sulit tercapai. Kutukan berutang bakal memberatkan lagi. Aku mengerti hidup dan bacaanku mulai murahan ketimbang memburu mutu. Maka, aku meramal akan menjadi pembaca yang keok dan tersungkur dalam murahan.
Yang aku bayangkan: nasib ribuan buku di Blok M. Apakah para pedagang itu sabar menunggu sampai kiamat. Siapa-siapa yang rela datang berpredikat pembeli buku? Aku tidak berjanji bakal datang lagi ke Blok M (Jakarta).
Buku-buku dalam tiga kresek. Berat. Pikiranku pun berat untuk membayar utang. Di sekitar, ratusan orang menikmati beragam makanan. Pemandangan kelezatan di Blok M. Mereka yang berbahagia. Mereka ingin kenyang. Aku tidak ingin makan di situ. Aku juga tidak akan makan buku.
Magrib yang selesai. Kaki yang lelah. Tubuh yang makin berbau tidak sedap. Aku tidak mau mengulangi ketololan saat mendatangi Blok M. Keputusan: aku memilih berjalan meninggalkan Blok M sambil melihat keramaian jalan. Berjalan membawa buku-buku (murahan). Lelaki murahan yang masih menerima takdirnya membaca buku-buku walau hidupnya tidak bermutu.
Malam yang menumpas sunyi. Jalan yang tidak mengasihi pengembara-huruf. Aku berjalan terengah-engah sekadar ingin menunda azab. Malam itu aku tidur bersebelahan tumpukan buku tanpa lampu. Kabut