Katalog

Puisi

Puisi S. Prasetyo Utomo

Mantera Cucu

Cucuku lahir dari mantera kecemasan     

bayi merah yang dipuja harta     

dan tiupan angin mengendapkan suratan

untuk sebuah kisah yang memendam teka-teki

Kau berada dalam sebuah panggung    

yang menggelar  harapan palsu

masa depan dan kenangan    

terpilin selubung rahasia    

Tanganmu memainkan lakon   

yang mungkin sudah usang  

dalam hamparan waktu penuh kegaduhan

akankah kau tegar dalam pertikaian?    


Mantera Kakek  

Telah kauendapkan petualangan    

pengalaman yang sia-sia    

dalam pusaran zaman        

dihadapkan ketamakan anak     

Kaususupi titian waktu  

dengan gagah      

dengan tangguh      

tapi pewarismu penghisap candu          

Ketika pohonmu lapuk

anak-cucu abai  petunjuk   

segala ikatan luruh    

tumbang dan terpuruk  


Mantera Pencari Tahta 

Masih tersisa sihir  pencari tahta     

tiap tokoh menebar sugesti    

untuk merenggut kuasa      

dan cuan lebih berharga daripada surga     

hidup melulu didera kegusaran  

berlumur keculasan      

dan tai asu dikais      

dikemas sebagai riasan  

Tiap orang tertambat resah      

berhambur mantera penaklukan    

gugup mencari perlindungan    

tak ada ruang bernaung   

untuk menghindar dari penistaan.    

Kecemasan serupa kudis menggerogoti tubuh        

lesap terisap lembab      

tersembunyi dalam pengap     


Mantera Rubah    

Serupa rubah yang malih rupa   

kaudekati siapa pun yang berkuasa  

mengabdi pada mereka yang punya cuan  

sebagai raja, mungkin sebagai dewa   

dan kau menghambakan diri serupa kacung   

yang culas memainkan kesetiaan

untuk ikut menikmati mangsa  

yang ditangkap raja hutan   

setelah menerkam binatang buruan   

Kau hanya bisa hidup sebagai rubah  

yang berlindung di bawah penguasa rimba  

dengan segala pengabdian

dengan segala pengkhianatan

Kau selalu berada dalam pusat pesta   

mengabdi siapa pun yang bermahkota    

sambil mengendus mangsa   

dan kau akan merenggutnya.


Mantera Ratu Adil        

Labirin  mengendap di sepanjang jalan   

ruang yang kini senyap dari propaganda    

dan kisah penuh janji    

tebaran gugus fantasi       

yang tak mungkin terpenuhi      

dalam lakon  yang menawarkan dusta   

Tak ada lagi cuan, beras, dan kaos    

bergambar  Ratu Adil    

dalam daya pikat fantasi       

kau kembali mengarungi musim-musim getir     

hidup dalam kubangan comberan   

mengais nasib seorang diri.     

Tak seorang pun mengenang janji

kau tersekap ruang sunyi     

dalam lelah menanti   

mereka berpesta lagi.    


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018).  Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit  Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021.  Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).

Curhat

Tahi Kucing

Curhat Sekar

Sebelum aku menceritakan apa yang saat ini terjadi di hidupku, aku ingin memberi apresiasi pada M. A. Edpe, atas keberaniannya berbagi pengalaman saat menjadi ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Kurasa tidak banyak orang memiliki kelapangan hati serta jiwa yang besar untuk mau mengakui. Tentu tidak ada seorang pun berkeinginan menderita, baik itu karena sakit fisik atau mental. Kuharap, semakin ke sini, orang-orang tidak hanya melek teknologi, tapi juga melek kepedulian. Banyak kenakalan dan penyimpangan perilaku yang sebenarnya hanya disebabkan kurangnya perhatian dari lingkungan terkecil: keluarga.

Atas dasar membaca curhatan semacam itu, aku akhirnya berani turut menuliskan apa yang menjadi pengalamanku. Jika ada orang mengatakan: hal tersulit adalah berdamai dengan diri sendiri. Menurutku, tidak sepenuhnya benar. Justru diri sendiri itulah, sesuatu yang paling dekat dan mudah dikendalikan oleh kita sendiri. Pengalaman pengendalian diri itu yang akan sedikit aku bagi. Mungkin bukan kisahnya, karena aku yakin setelah membaca ceritaku nanti, bisa jadi kalian akan kecewa karena sangat biasa-biasa saja.

2 tahun lalu, meski dengan nilai pas-pasan, aku berhasil wisuda bersama sebagian besar adik tingkatku. Semua teman seangkatanku yang 1 jurusan, telah lebih dulu lulus. Jika bukan karena memikirkan biaya yang sudah terlanjur dikeluarkan orangtua, mungkin aku lebih memilih di-DO. Tapi, apa pun alasannya, akulah yang sejak awal ngotot untuk mengambil jurusan di kampus yang kujalani saat itu. Jadi, harga diriku tercambuk. Rasa ingin bertanggung jawab dan gengsi yang tinggi masih lebih kuat menguasai diriku. Seburuk apa pun hasilnya, sesulit apa pun prosesnya, aku harus mendapat gelar sarjanaku. Aku beruntung, meski sempat tertunda lama karena urusan hati, aku berhasil merampungkan apa yang sudah pernah kumulai.

Saat itu aku baru saja menyelesaikan PKL (Praktik Kerja Lapangan), ketika tiba-tiba aku harus putus dengan pacarku. Kami sudah menjalani pacaran hampir setahun. Belum lama memang, tapi lelaki itu berhasil memindahkan hingga hampir 100% gajiku saat menjalani kerja paruh waktu di McD, demi memenuhi kebutuhan hidupnya (meski masih memiliki keluarga, dia punya prinsip: jika sudah lulus kuliah, maka tanggung jawab orangtua sudah terlepas, baik itu belum atau sudah bekerja).

Pacarku telah lulus kuliah dan saat itu dalam pencarian kerja. Sebenarnya menurutku dia bukan pemalas, hanya terlalu kaku. Dia cuma mengajukan lamaran kerja ke perusahaan-perusahaan bonafit, atau yang menawarkan gaji cukup tinggi saja. Padahal, fresh graduate tetaplah fresh graduate. Apalagi dirinya, tidak pernah terlibat dalam kegiatan apa pun di kampus, dan belum pernah sama sekali bekerja. Dia bukan anak pengusaha, juga tidak punya koneksi di tempat-tempat strategis. Apa yang bisa dia harapkan? Tentu saja aku.

Ada orang bijak mengatakan: orang yang sedang mabuk cinta itu ibarat berada di fase tahi kucing berasa cokelat. Banyak teman-temanku memberi nasihat, entah membukakan mataku tentang betapa parasitnya pacarku. Atau terlalu dininya aku mengartikan kesetiaan dalam kondisi tersulit. Tapi yang namanya sedang mabuk, pikiran dan seluruh indera seakan tak berfungsi. Perasaan saja yang mendominasi. Saat itu yang kupikir adalah memberi dukungan padanya agar terus semangat mencari kerja. Dan aku, bukannya fokus pada kuliah, aku malah mencari tambahan 1 lagi kerja paruh waktu.

Sekitar 3 bulan kemudian, pacarku akhirnya mendapat panggilan interview dan diterima kerja di Jakarta. Tentu aku mendukungnya. Ketika itu, bagiku jarak bukanlah masalah. Kami masih sering berhubungan lewat telepon, bahkan hampir setiap hari kami intens memberi kabar. Pacarku bilang biaya hidup di Jakarta sangat tinggi. Gaji yang diperolehnya dengan status fresh graduate masih sangat mepet. Mendengar pacarku mengatakan begitu, terlebih di saat aku pegang tabungan hasil kerjaku, jelas aku tidak tega. Ada perasaan ingin menunjukkan kepadanya kalau aku adalah perempuan yang mau diajak berjuang dari bawah. Mendukung pasangan meraih kesuksesan demi masa depan. Bukankah kelak aku juga yang akan menerima hasilnya?

Oh iya, sampai di sini aku menjadi ingat. Sebelumnya aku juga sempat membaca curhatan yang ditulis Padmi. Dia mengatakan betapa bangsatnya rasa kangen. Kamu tidak sendirian, Padmi. Aku pun pernah merasakannya. Jarak ternyata benar-benar menyebalkan. Aku menganalogikannya dengan rasa gatal di bagian punggung yang aku tidak mampu menggaruknya. Pokoknya sangat menyiksa.

Secara bertahap, pacarku mulai jarang menghubungiku. Awal-awal aku masih bisa berpikir positif jika dia sibuk mengurus pekerjaan. Sampai akhirnya, menjelang lebaran aku bertanya padanya kapan dia pulang.

“Tahun ini aku belum dapat cuti, jadi aku tidak bisa pulang,” jawab pacarku di telepon.

Aku kecewa. Hampir setahun kami tidak pernah bertemu, dan mungkin dia baru akan pulang lebaran tahun depan. Lagi-lagi aku pasrah. Mengatakan padanya untuk tetap semangat dan menjaga kesehatan. Tidak lupa aku bilang kalau aku sangat mencintainya. Dia pun membalas dengan ungkapan yang sama.

Lebaran hari pertama, sengaja aku berencana akan mengunjungi orangtua pacarku. Karena biasanya, aku sekeluarga akan ke Pekalongan di hari kedua. Selepas magrib, aku mengajak seorang temanku ke rumah pacarku. Ketika sampai, di halaman telah terparkir beberapa mobil dan di dalam tampak seperti sedang ada acara. Awalnya aku sempat ragu, takut mengganggu acara keluarga yang sepertinya masih berlangsung. Tapi pikirku, karena sudah sampai, dan lagi maksudku hanya ingin silaturahmi, jadi aku tetap mengetuk pintu.

Betapa terkejutnya aku. Saat pintu terbuka, nampak pacarku tengah berdiri dengan seorang perempuan berhijab di sebelahnya. Memperlihatkan  senyuman terbaik mereka, dengan tangan masing-masing terangkat setinggi dada. Tubuhku membeku. Pikiranku entah ke mana. Meski begitu, aku masih bisa merasakan genggaman erat temanku serta elusan tangannya yang lain di punggungku.

“Aku tidak menyangka kamu membohongiku,” ungkapku saat pacarku membawaku duduk agak jauh dari kerumunaan.

“Aku minta maaf. Aku terpaksa menuruti perjodohan ini,” jawab pacarku.

“Omong kosong!”

“Aku harap kamu bisa mengerti. Aku yakin kamu akan menemukan lelaki yang lebih baik dariku.”

“Tentu saja. Banyak lelaki brengsek di luar sana yang masih lebih baik darimu.”

Aku merasa menjadi wanita paling kuat malam itu. Aku tidak menangis. Aku ingat sebelum pamit pada orangtua pacarku, eh mantan pacarku, aku masih sempat mengucapkan selamat atas pertunangan itu. Bahkan, aku juga sempat bersalaman dengan perempuan berhijab merah jambu. Oh Tuhan, dilihat dari sisi mana pun, aku masih setingkat lebih cantik dari dirinya.

Setelahnya aku memutuskan tidur di rumah temanku. Menangis sejadi-jadinya di kamarnya. Aku benar-benar kacau. Banyak hal berputar di otakku. Mencari di mana letak kesalahanku, hingga lelaki bangsat yang tak tahu diuntung itu lebih memilih perempuan lain. Semakin aku mencari tahu, maka aku semakin sadar betapa tidak beruntungnya aku. Membuang-buang waktu, tenaga, dan perasaan hanya demi lelaki yang tak pernah menghargaiku. Temanku sangat pengertian. Ia sama sekali tidak menasihatiku. Ia memberiku waktu dan tempat seluas-luasnya untuk menumpahkan kekecewaanku. Ia bahkan menemaniku hingga pagi. Mendengar ocehanku tanpa sedikit pun membalas. Malam itu, aku baru sadar, jika selama pacaran dengan lelaki parasit yang sempat begitu kucintai, rupanya setiap harinya aku makan tahi kucing.***

Sekar

Tidak ada keterangan.

Curhat

Masalah Perut, 1000 Hari Kematian, dan Dongeng Prajurit Sandi

Curhat Septi Rusdiyana

Rabu, 6 November 2024. Pagi yang cukup merepotkan untukku. Bukan tentang pekerjaan rumah tangga, anak yang sulit dibangunkan, atau teriakan keras dari ibuku agar kami lekas bersiap-siap. Melainkan, sejak subuh aku sudah mondar-mandir ke toilet akibat diare.

Hari itu kami sekeluarga akan ke Wonosari. Melihat kondisiku, aku berniat untuk tidak ikut saja. Namun setelah ibu bilang kalau adikku tidak jadi ikut karena baru pulang shift malam, rasanya kok tidak tega jika aku pun hanya rebahan di rumah. Aku memutuskan makan 2 pisang ambon dan menenggak segelas besar air putih. Kami (bapak, ibu, aku dan anakku yang paling kecil) akhirnya berangkat, sesaat setelah aku pamit pada suamiku yang akan mengantar anak pertama kami sekolah.

Sepanjang perjalanan, aku memilih tidur. Membiarkan anakku berceloteh dengan kakung dan utinya. Aku baru terbangun saat kendaraan berhenti di bahu jalan. Ibu turun untuk membeli kembang. Sejak itu, mataku sudah tak lagi bisa terpejam. Aku bersyukur, diareku sudah mampet, digantikan rasa mual yang tidak terlalu merepotkan. Kami mampir untuk nyekar ke makam simbah.

Di sepanjang jalan, tanaman trukecu tumbuh subur. Warga desa sering mengonsumsi sebagai lalapan bersama jangan lombok, atau sambelan (tiwul yang dicampur sambal bawang mentah, dimakan bersama-sama di cobek tanah liat). Benar saja, setelah kami selesai nyekar, seseorang menyapa ibu, menawari kami turut gabung untuk sambelan. Bukan dengan lalap daun trukecu, melainkan lauk puthul bacem. Ibu yang memang tidak memiliki masalah alergi, tentu saja tidak menolak saat seplastik puthul diserahkan untuk dibawa pulang. Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah siwo (sebutan untuk pakdhe atau budhe, sering disingkat dengan wo), tempat di mana akan diselenggarakan acara peringatan 1000 hari kematian wo kakung pada malam harinya.

Suasana rumah telah ramai. Banyak tetangga dan kerabat datang membantu mempersiapkan segala sesuatu. Kami, lebih tepatnya aku, agak beruntung karena tiba di saat pekerjaan sudah rampung. Bingkisan sudah siap dibagikan. Berbeda memang dengan yang biasa terjadi di kampung tempat tinggalku. Di sini, bingkisan dibagikan ke tetangga sekitar dan kerabat pada siang hari.

Selepas zuhur, Pak Kaum datang. Usai sebentar macit (minum teh atau kopi ditemani makanan kecil) seluruh kerabat berbondong pergi ke makam bersama Pak Kaum dengan berjalan kaki. Lagi-lagi, aku kembali beruntung, diminta agar tetap tinggal untuk menjaga rumah serta mengawasi anakku dan keponakan saja. Kedua bocah perempuan itu seperti tak kehabisan energi, setelah bosan bermain masak-masakan di dalam rumah, mereka pergi ke belakang untuk memberi makan sapi dan kambing. Sangat bertolak belakang denganku, rebahan di lantai ruang tamu dan sempat beberapa kali terlelap. Aku benar-benar terjaga saat ruang tamu sudah kembali ramai. Hidangan makan siang pun sudah tertata rapi. Aku seperti tamu tak tahu malu.

Kami makan bersama. Menyantap nikmatnya hidangan khas desa. Sejenak membuatku lupa dengan deraan mual dan pusing. Kuambil secentong nasi putih, jangan ndeso, oseng soun serta telur dadar. Kusantap lahap ditemani cerita wo P, wo S dan lik J yang sedang menceritakan kembali perihal pertunjukan ketoprak di lapangan balai desa beberapa hari sebelumnya.

“Aku yo, Ti. Nek mambu sekolah koyo mamakmu, aku yo enjoh dadi sinden (Aku ya, Ti. Kalau merasakan bisa sekolah seperti ibumu, aku juga bisa menjadi sinden),” terang wo P padaku usai menyanyikan dua baris langgam jawa yang aku tidak mengerti dengan suara yang memang khas pesinden.

Aku sempat membantah kalau menjadi sinden tidak perlu sekolah. Tapi wo P protes dengan suara keras, katanya zaman dulu untuk bisa belajar jadi sinden, harus sekolah. Aku akhirnya mengangguk saja. Kembali mencomot telur dadar dan mengambil secentong nasi lagi. Sepertinya nafsu makanku membaik.

Obrolan siwo dan bulik masih berlanjut. Meski kami duduk berdekatan, sudah menjadi kebiasaan bagi mereka berbicara dengan suara keras, bahkan terasa sedang melihat pertengkaran. Aku pikir, hal itu mungkin karena terbiasa bertani di ladang, atau jarak antar rumah yang cukup jauh, sehingga agar bisa tetap ngobrol, mereka harus bicara dengan suara lantang. Tak heran, saat kecil dulu, setiap kali pergi ke rumah simbah dan menginap, aku selalu tidak bisa tidur saat malam tiba. Para siwo atau simbah pasti bercengkrama semalam suntuk. Ah, kadang aku jadi merindukan kembali saat-saat dulu.

“Aku mangkel tenan karo sing main kendang. Wetengku nganti mules leh ngenteni. Kudune wis wayahe kendang muni, lha kok ditunggu-tunggu ora muni-muni (Aku jengkel sekali sama pemain kendang. Perutku sampai mulas menunggu. Seharusnya sudah saatnya kendang dipukul, tapi ditunggu-tunggu tidak juga bunyi).” Wo P kembali mengomel. Setelahnya ia juga memperagakan betapa tidak cocoknya pemeran prameswari. Menurutnya, perempuan itu terlalu kurus, seperti pelepah pisang yang dipakaikan jarik lalu diikat stagen. Bahkan, wo P juga mengatakan kalau ia lebih cocok menjadi pemeran tokoh prameswari. Hal itu disambut tawa oleh wo S dan lik J, juga termasuk aku.

Lik J menimpali, kalau menurutnya pak Dukuh memerankan prajurit Sandi dengan sangat baik. Perawakan yang gagah, serta penghayatan pada lakon, membuat pertunjukan begitu menarik. Ditambah pak RT yang memerankan patih juga sangat cocok. Bahkan wo S menambahi, kalau anak sopir pickup kampung sebelah memerankan begawan dengan sempurna. Tubuhnya yang kekar, tinggi dan bersuara berat itu mampu menarik hatinya. Ketiganya masih lanjut menceritakan kembali kesan tokoh pada pertunjukan.

Aku mengakhiri makan siang nikmatku dengan hiburan yang sangat menyenangkan. Aku bahkan sempat mencari tahu cerita telik sandi yang diceritakan tadi melalui Youtube. Hanya sekadar ingin tahu tokoh-tokohnya saja. Mungkin nanti aku akan melihatnya secara penuh jika sudah ada waktu luang.

Malam akhirnya tiba, acara pengajian 1000 hari siwo diselenggarakan dengan membaca Yasin bersama-sama. Selesai acara, ibu sempat menawariku agar pulang esok hari. Tapi, karena kepalaku semakin sakit, aku menyampaikan untuk pulang sesuai rencana saja, supaya aku bisa istirahat dan tidur di rumah. Ibu mengerti. Kami akhirnya pulang.

Dalam perjalanan, aku merasa terganggu dengan bau tidak sedap, awalnya kupikir anakku kentut, tapi kok terus-terusan. Hingga saat sampai di rest area bukit pathuk, aku tidak bisa menahan keinginan untuk muntah. Kami menepi dan aku mengeluarkan sebanyak-banyaknya isi perut di pinggir jalan. Saat itulah, bapak akhirnya mengaku, kalau di bagasi ia menyimpan sekarung kecil kotoran kambing kering untuk dibawa pulang sebagai pupuk. Aku tidak habis pikir, bukankah di rumah sudah cukup dengan pupuk dari kotoran ayam dan burung? Untuk apa bapak harus membawa pulang sekarung penuh kotoran kambing, padahal tanaman cabainya juga tidak luas.

Aku akhirnya pasrah. Bertukar tempat duduk dengan ibu yang sebelumnya di kursi depan, memakai masker, serta mengoleskan minyak kayu putih di masker itu. Kembali terulang seperti saat berangkat, aku memilih tidur sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah dengan selamat.***

Septi Rusdiyana

Tinggal di Yogya

Ragam

JUMAT, PUISI, HUJAN

Di beberapa masjid, ada sebutan “Jumat berkah”. Yang dimaksud adalah jamaah yang shalat bakal mendapatkan makanan saat mau meninggalkan masjid. Jamaah yang berbahagia dengan menikmati makanan, yang diadakan gratis oleh pengurus masjid atau insan-insan yang bersyukur.

Jumat, 8 November 2024, aku mengartikan “Jumat berkah” dengan berbeda meski berada di dekat Masjid Agung (Solo). Aku tidak ikut shalat berjamaah di situ tapi menikmati berkah: wujudnya majalah, bukan makanan. Aku berada di kubu perdagangan buku, yang dekat Masjid Agung dan Alun-Alun Utara (Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat). Aku masih doyan nasi. Jadi, siang itu aku tidak menjadi lelaki putus asa yang harus makan majalah.

Pada suatu masa, aku biasa berdiri dan duduk di Alun-Alun Utara. Para pedagang menggelar buku dan majalah di atas alas yang menutupi tanah dan rumputan. Peristiwa yang agak “keramat” jika mengenang belasan tahun yang lalu. Para pedagang membiarkan hamparan buku dan majalah dipandang oleh orang-orang yang ikut membaca saja atau membelinya. Sejak remaja, aku menjadi jamaah di Alun-Alun Utara, bukan Masjid Agung.

Aku tidak memiliki foto saat para pedagang dan memberi berjamaah di atas tanah dan rumputan. Akhirnya, tempat untuk berjualan berpindah-pindah, yang membuat kenangan terus bersambung. Kini, perdagangan buku dan majalah itu di lokasi seberang jalan, tidak lagi menempati Alun-Alun Utara.

Siang itu kaget. Aku melihat wajah Alun-Alun Utara yang berubah. Terlihat menghijau dan indah. Beberapa bulan terjadi “perbaikan” atau “penyempurnaan”, yang beranggaran besar. Pohon beringin di tengah masih berdiri gagah. Yang membedakan adalah rumput dan kebersihan. Sisi pinggir bisa digunakan untuk jalan-jalan dalam keteduhan pohon-pohon. Aku sengaja berhenti sebentar di sisi barat, melihat dua remaja SMA sedang pacaran. Pemandangan siang yang lumayan romantis.

Aku segera berkumpul bersama pedagang yang mengantuk dan melamun. Kedatangan yang kadang membuat jumlah jamaah di situ bertambah meski satu orang. Sepi yang ingin dilawan bersama.

Jumat yang tetap berkah. Jumat yang mempertemukanku dengan majalah-majalah. Yang mula-mula membuatku tergoda adalah beberapa majalah Ananda. Majalah yang memiliki slogan: “lambang kasih sayang orang tua dan guru.” Mereka menyayangi anak dengan membelikan majalah. Kasih sayang diartikan membaca halaman-halaman majalah yang banyak pengetahuan, hiburan, dan iklan.

Satu edisi yang membuatku terjebak masa lalu menampilkan wajah Tino Sidin. Lelaki yang kehilangan gigi tapi selalu mengucap “bagus” kepada anak-anak di seantero Indonesia yang suka menggambar. Tokoh yang sangat disayangi anak-anak, yang dulu rajin duduk di depan televisi menonton siaran TVRI. Di majalah Ananda, 15 Agustus 1986, aku melihat pengumuman lomba yang diadakan oleh Chiki. Di situ, dipasang foto Tino Sidin, yang bertujuan agar banyak anak yang ingin menjadi peserta bersaing mendapat hadiah berupa mobil, televisi, sepeda, meja, dan lain-lain. Hadiah-hadiah yang menggiurkan tapi anak-anak wajib mengingat dan keranjingan Chiki dulu.

Aku membeli beberapa Ananda dengan kepentingan ingin membuat kliping puisi anak-anak. Sejak 1 November 2024, aku membuat tafsiran pendek atau tanggapan sembarangan terhadap puisi anak-anak yang dimuat dalam majalah Zaman. Inginku kelak kliping dan tafsiran menggunakan beragam majalah. Ananda itu majalah penting, yang wajib aku koleksi untuk mengetahui kehadiran puisi-puisi yang ditulis dan dikirim anak-anak dari pelbagai kota dan desa. Aku hanya ingin membenarkan kegirangan anak-anak membuat puisi pernah terjadi di Indonesia.

Tercengang saat membuka Ananda, 11 Oktober 1985. Di bagian belakang, aku membaca puisi yang ampuh, ditulis oleh Rudi Kurniawan yang tinggal di Riau. Puisi yang cocok dibaca saat siang menjadi pabrik keringat meski di Solo ada selingan hujan. Rudi Kurniawan melalui puisi berjudul “Matahari Adalah Ibu” mengingatkan: Ketika kita adalah rimbunan bunga jingga/ kita jadi kehilangan warna diri/ jika matahari redup sepanjang hari// Ketika kita adalah kawanan burung pipit/ kita akan jadi elang atau rajawali/ jika padi tak pernah menguning lagi// Tapi kini matahari itu terbit di barat/ yang berlayar tanpa isyarat/ seakan lupa pada kodrat/ sejak pertama ia bercahaya// Kini kita adalah kawanan burung pipit yang bisu/ kini kita adalah bunga jingga layu/ sebab matahari adalah ibu/ yang tak lagi memberi pancaran kasih sayang seperti dulu. Puisi yang menakutkan. Apa itu menandakan kiamat? Aku masih ketakutan membayangkan “matahari terbit di barat”.

Beberapa majalah Ananda ditumpuk, yang nantinya dibeli jika harga cocok. Tanganku terus membongkar tumpukan majalah, yang baunya tidak sedap dan berwajah kotor. Tangan cepat menghitam. Bersin pun biasa terdengar. Aku memilih beberapa edisi majalah Bobo. Majalah yang masih terbit sampai sekarang. Anak-anak di Indonesia abad XXI masih bisa rutin membaca Bobo jika berlangganan. Bobo berumur panjang ketimbang Intisari. Dua majalah itu berada di naungan Gramedia-Kompas. Aku kagum saja mengetahui penjualan majalah Bobo edisi-edisi terbaru tetap lumayan. Yang harus dipentingkan adalah anak-anak yang tangannya akrab dengan kertas, yang membuka dan memegang untuk membaca. Tangannya tidak selalu memegang benda yang ajaib.

Yang wajib menjadi koleksi: Bobo edisi 10 April 1997. Edisi ulang tahun. Umur majalah itu bertambah. Di lembaran puisi, aku menemukan dua puisi yang bertema Bobo. Aku memilih membaca puisi yang ditulis Evalinda Florida Rayon, yang beralamat di Denpasar, Bali. Pembaca yang terharu setelah mengelap keringan di wajah: Aku berasal dari daerah yang jauh/ di seberang lautan/ Pulau Timor/ tempat kelahiranku// Betapa susahnya aku mencari Bobo/ karena di sana-sini/ bahkan tetanggaku pun/ tak pernah tahu apa itu Bobo// Aku yang telah mengenal Bobo/ selalu berusaha untuk mendapatkan/ dengan cara meminta saudaraku/ mengirimkan dari Pulau Dewata, Bali// Sejak itulah/ aku selalu ingat Bobo/ aku selalu rindu Bobo/ Bobo yang lucu, penuh warna cerita// Sekarang/ aku telah berada di Pulau Dewata/ dalam perantauan mencari ilmu/ dan Bobo mudah didapat/ kini Bobo selalu setia/ di hari-hariku. Pengalaman yang sangat mengesankan, yang mengisahkan persekutuan anak dan majalah. Ia yang akhirnya rajin membaca majalah Bobo, yang mungkin berpengaruh dalam kehidupannya sampai dewasa atau tua.

Aku menemukan juga majalah lawas dan bersejarah di Indonesia: Si Kuncung. Majalah itu masih bisa ditemukan bagi yang beruntung atau melek sejarah. Artinya, majalah yang akan membuka masa lalu dan mengisahkan keaksaraan di Indonesia dalam masa kekuasaan Soekarno dilanjutkan masa kekuasaan Soeharto. Majalah yang legendaris. Aku berhasil mengoleksi ratusan edisi. Jumat yang penuh berkah itu aku membeli lagi Si Kuncung.

Yang cukup menggoda adalah Si Kuncung nomor 43, 1983. Di sampul, tampak gambar para petani. Ada yang mencangkul dan membajak bareng kerbau. Aku kangen kerbau meski aku mulai jarang melihatnya. Dulu, tetangga-tetanggaku ada yang memelihara kerbau. Pada saat traktor-traktor masuk desa dan berdatangan ke sawah, kerbau-kerbau itu lekas menjadi nostalgia.

Gambar para petani dan sawah itu sesuai impian-impian besar rezim Prabowo-Gibran yang menghendaki swasembada pangan. Gambar yang sederhana dan berwarna. Aku memberi pujian tapi sadar nasib para petani. Pada saat masih kecil, aku sering bermain di sawah sambil menggembala kambing. Selingan yang menggembirakan adalah naik kerbau yang dibawa teman. Peristiwa yang seru: turun ke sungai memandikan kerbau.

Aku menemukan puisi-puisi dalam halaman-halaman Si Kuncung. Namun, yang terpenting adalah pemuatan cerita-cerita yang mengandung nilai-nilai Pancasila. Sejak dulu, Si Kuncung menjadi majalah yang mengajak anak-anak di Indonesia makin gandrung Pancasila, sebelum ada BPIP atau kurikulum yang diadakan NM dengan pengistimewaan Pancasila.

Siang tetap menghasilkan keringat dan lelah. Aku memang bergairah membaca majalah-majalah lawas tapi lelah tidak bisa dilawan. Di kios, terdengar lagu-lagu Iwan Fals, yang membuatku bersemangat untuk memilih lagi majalah-majalah. Belasan majalah Putera Kita aku beli untuk melengkapi sumber penafsiran puisi anak-anak, dari masa ke masa.

Di tanganku, majalah Putera Kita yang menampilkan gambar anak-anak sedang bermain gembira. Mereka bermain di alam, bersama pohon-pohon. Konon, anak-anak sekarang sering berada di ruangan: sekolah dan rumah. Bermain di alam terbuka itu menyenangkan.

Di majalah Putera Kita, 25 Juli 1988, aku membaca puisi berjudul “Kebebasan dan Kebahagiaan” yang ditulis Ema. Puisi yang berisi gugatan dan rapatan. Aku membacanya sambil mengenang dunia-batin anak-anak. Yang ditulis: Keadaan membuatku bosan bersekolah/ Apalagi bila nilaiku buruk/ Kubayangkan zaman yang semakin kacau/ Masa depan yang cerah semakin menjauh dari kita/ Dapatkah aku dapatkan kegemilangan di masa depan? Puisi yang mungkin menjadi “kritik” atau “noda” dalam mimpi-mimpi pembangunan nasional yang dibesarkan oleh Soeharto. Seingatku, belajar di sekolah itu membosankan. Aku ikut mengalaminya: pernah mendapat nilai buruk dan pernah tidak naik kelas.

Majalah-majalah masuk kresek lorek. Aku membawanya pulang dengan sepeda motor yang tidak mau diajak ngebut. Perjalanan pulang: melintasi Alun-Alun Utara, Pasar Klewer, Singosaren, dan akhirnya menuju Colomadu. Di pinggiran Solo, hujan pun turun. Majalah-majalah itu mendapat air dari atas dan cipratan dari bawah. Selama di jalan, aku sudah sedih jika majalah-majalah basah. Sore, aku berhasil tiba di rumah. Majalah-majalah dikeluarkan dari kresek. Selamat dari air.

Jumat yang tetap berkah. Aku yang akan bergirang dengan puisi-puisi dalam belasan majalah lama, yang tiba di rumahku setelah mendapat sinar matahari dan guyuran hujan. I Kabut

Curhat

Korek Api Itu Masih Menyala

Curhat: Dhatu Jenar

Kini aku telah resmi bertunangan dengan pacarku. Meski hanya dihadiri oleh dua keluarga, acara berjalan lancar dan penuh haru. Terlebih bagi mamaku. Matanya selalu basah dari awal hingga akhir acara. Aku satu-satunya anak perempuannya yang akan melepas masa lajang. Dua kakak lelakiku belum ingin menikah. Sedangkan adik lelakiku masih SMP.

Dulu, aku dan pacarku sepakat untuk langsung menikah saja. Tak perlu pakai acara tunangan segala. Tapi siapa sangka, bosnya mengirim pacarku untuk mengurus kantor cabang di Palembang selama sebulan. Karenanya, pacarku berubah pikiran. Agar terlihat serius dan romantis katanya.

Sebenarnya, bukan soal pertunanganku yang ingin kuceritakan, tapi soal R. Sebelumnya aku pernah mengatakan kalau akan menemuinya di kafe, sehari setelah perjumpaan awalku dengannya. Waktu itu aku sudah menunggu di kafe yang sama selama hampir sepuluh menit, hingga R mengirim pesan kalau mendadak ibunya masuk rumah sakit. Jadi terpaksa pertemuan itu gagal ia tepati. Aku tidak marah. Saat itu spontan aku khawatir dengan keadaan ibunya. Aku memutuskan menelepon.

Baru dering pertama, R langsung mengangkat panggilanku. Suaranya terdengar lesu.

“Ibu mendadak pingsan,” ujar R.

Aku turut prihatin. Tanpa sadar aku menawarkan diri menemaninya. Aku bahkan tidak membuang banyak waktuku untuk segera menyusul ke rumah sakit yang disebutkan.

Sesampainya di rumah sakit, aku menuju bangsal tempat ibu R dirawat. R terlihat sedang tidur di sofa panjang. Karena tidak ingin mengganggu, aku meletakkan kursi di samping ranjang ibunya. Kedua ibu anak itu terlelap. Bergantian aku memperhatikan mereka. Sejenak, aku ingat sesuatu.

Dulu, jika sedang bertengkar dengan R, aku sering menemui ibunya di rumah. Jika pasangan lain biasanya memilih saling menghindar, aku tidak begitu. Aku senang berdiam diri di belakang rumah bersama ibu R. Menyirami tanaman-tanaman yang ada di sana. Atau sekadar memotong daun-daun kering. Wanita yang dulu juga kupanggil dengan sebutan ibu itu, sangat hafal dengan kebiasanku tersebut. Tanpa berusaha mencari tahu, akulah yang malah lebih dulu bercerita mengenai apa yang menjadi penyebab pertengkaran kami. Meski aku tahu, kadang alasannya hal remeh temeh, tapi ibu tidak pernah memberi respons atau nasihat berlebihan. Kadang, ibu hanya tertawa.

“Kamu sudah lama datang? Kenapa tidak membangunkan aku?” tanya R membuatku agak terkejut. “Ngelamun ya?” lanjutnya.

Aku menggeleng. Refleks aku bangkit, mendekati R dan duduk di sebelahnya.

“Sepertinya kamu kurang tidur,” sahutku.

“Aku hanya butuh kopi.” Kemudian R mengajakku ke kantin rumah sakit. Awalnya aku ragu, mengingat ibu tidak ada yang menunggu. R adalah anak tunggal, dan ayahnya juga sudah meninggal. Bagaimana jika nanti tiba-tiba ibu bangun dan membutuhkan sesuatu, sedangkan kami tidak berada di sisinya. Namun R menjelaskan padaku kalau akan menitipkannya pada suster. Dan lagi, kami hanya pergi sebentar saja. Aku akhirnya menurut.

Di kantin, R memesan secangkir kopi panas dan sepotong donat. Aku hanya minum jus apel.

“Maaf ya, kamu jadi harus repot-repot kemari.” R tampak tidak begitu berselera makan. Ia sangat terlihat memaksakan diri. Sepertinya itu dilakukan sebab dia butuh sesuatu sekadar untuk mengganjal perutnya.

“Jangan begitu, ibumu jauh lebih penting,” ujarku.

“Kamu juga penting,” sahut R cepat.

Aku menatap R yang sedang menatapku juga. Sorot matanya lemah. Wajahnya terlihat lelah. Aku tidak berani membalas kalimatnya. Bukan karena takut salah menanggapi, tapi memang tidak tahu harus bagaimana membalasnya.

R mulai bercerita tentang masa lalu. Tentang apa yang dilakukannya setelah lulus SMA, juga mengapa ia meninggalkanku tanpa kabar. R hanya sempat menitipkan pesan pada ibunya, bahwa jika aku datang menemuinya, maka ibu diminta membertahuku bahwa kelak jika situasi sudah memungkinkan, R akan menghubungiku. Tapi kenyataannya, sampai pertemuan kami kemarin di kafe, dia tidak juga memberiku kabar.

“Aku memang salah. Tapi perlu kamu tahu, aku hanya tidak ingin melihatmu sedih waktu itu,” lanjut R.

Aku tersenyum sinis mendengarnya. Kurasa itu hanya alasan klise yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Aku pikir kalau R tidak benar-benar menganggap serius hubungan kami. Jadi baginya, tidak penting apakah aku setuju atau tidak dengan keputusannya. Toh kenyataannya R memang memilih pergi. Barangkali cintanya saat itu terhadapku dianggap sekadar cinta monyet.

Aku kesal. Entah apa yang membuatku malah merasakan lagi kekecewaan yang kurasakan dulu. Seolah aku kembali ke masa-masa di mana sejak saat itu, waktu seolah berhenti menceritakan kisah tentangku dan R.

“Aku minta maaf,” sesal R.

Aku dapat melihat kesungguhan pada ucapannya.

“Aku benar-benar hanya ingin bekerja dan mengumpulkan banyak uang,” lanjutnya lagi.

Sungguh, aku kembali kesal. Dia pikir aku akan dengan mudah memakluminya. Meski uang bisa berarti segalanya, tapi uang bisa dicari. Di mana pun, jika dia mau. Kenapa harus ke luar negeri? Lalu brengkseknya lagi, kenapa harus seperti penjahat yang melarikan diri.

Aku memilih tidak menanggapi ucapannya. Dan sepertinya, R juga tidak terlihat bersemangat untuk melanjutkan ucapannya. Bagiku, satu kata sudah terpatri di otakku. Kalau dia meninggalkanku karena uang. Dan itu sudah cukup membuatku mengerti.

Aku pulang larut dari rumah sakit. Aku bahkan menghubungi pacarku saat masih di jalan. Beruntung, dia tidak banyak bertanya. Hanya memintaku berhati-hati, dan mengatakan betapa tidak sabarnya ia bertunangan denganku. Aku sedikit lega. Setidaknya hal itu membuatku tidak harus membalas dengan berbohong.

Aku menyetir pelan. Kembali teringat kejadian saat aku masih berada di bangsal rumah sakit bersama R tadi. Sengaja waktu itu aku memberi tahunya soal rencanaku bertunangan. Menurutku itu perlu. Karena R terus saja membahas tentang perasaannya padaku. Juga perihal keinginannya untuk memperbaiki hubungan. Meski R bilang dia mengerti, lalu berkata jika ia menghargai keputusanku, kekecewaan di wajahnya tidak berhasil disembunyikan.

Sejenak aku merasa puas. Seolah telah berhasil menutup masa lalu dengan benar. Hingga saat aku pamit, sesaat sebelum tanganku menyentuh pintu, R menarik tubuhku mendekat ke arahnya. Bukan hanya itu saja, tanpa sempat aku menghindar, R telah meraih bibirku. Celakanya, aku membalasnya. Dan lagi, saat R mengatakan agar memintaku datang kembali keesokan harinya, aku pun menyetujui. Aku bahkan lupa jika esok aku memiliki janji akan menemani pacarku  ke rumah eyang.

Malam itu, aku benar-benar tidak bisa tidur. Memikirkan tentang bagaimana caraku untuk kembali beralasan pada pacarku. Ah, betapa rumitnya. Bukankah dengan mengatakan alasan sebenarnya kepada R, justru semua akan terasa lebih mudah. Kenapa aku malah jadi pusing sendiri.

Benar saja, esok harinya, aku kembali ke rumah sakit menemani R. Termasuk, keesokan harinya lagi. Aku tidak pernah menepati janjiku pada pacarku, hingga hari pertunanganku pun tiba.

Apakah kalian tahu, sepulang dari bandara untuk mengantar kepergian pacarku ke Palembang, aku sudah membuat janji dengan R untuk bertemu lagi. Kurasa, aku akan bisa berteman dengan mantanku itu. Ya, aku akan mencobanya. Sebelum hal itu bisa benar-benar terealisasi, aku akan tetap menyembunyikannya dari pacarku. Soal apakah perlu aku ceritakan sebelum menikah, baru akan kupikirkan nanti saja. Lagipula, pernikahanku masih sebulan lagi.***

Dhatu Jenar

Perempuan penyendiri yang suka buah duku.

Ragam

MINGGU DAN TIGA KAMUS

Kegembiraan itu lawas. Yang dimaksud adalah lawas yang memberi adonan rupa, warna, berat, dan bau. Aku gembira menemukan yang lawas-lawas. Aku membahasakan penemuan ketimbang pembelian. Lawas itu terlihat di media sosial. Mataku bersinar bila melihat tampilan bacaan lawas.

Pada 13 Oktober 2024, sore yang terduga tidak lembut dan puitis. Foto itu tampil saat aku melihat ponsel. Yang muncul serius: foto buku lawas meski mula-mula tampak jelek. Mata beralih membaca keterangan yang dibuat pedagang. Buku itu dianggap asli meski penampilan sampul untuk bundel adalah buatan pemilik terdahulu, buka garapan penerbit atau percetakan. Kondisi isi buku dikabarkan masih bagus.

“Dua kamus lawas,” tulis pedagang. Kamus-kamus dibuat menjadi bundel. Aku tidak perlu berpikir seribu menit. Foto dagangan buku dengan mencantumkan harga 70 ribu rupiah wajib dibeli tanpa menawar. Aku kirimkan kata-kata berkepentingan membeli buku. Janji pun diberikan: “Sehari atau dua hari lagi, transfer.”

Pembelian buku lawas saat Minggu itu menggembirakan. Percayalah tak ada hari libur bagi orang-orang yang berjualan buku dan orang-orang yang “bersumpah” terus membeli buku (lawas). Aku kadang merasakan “dosa-dosa” saat membeli buku. Namun, ada juga “doa-doa” agar diberi uang oleh Tuhan, dipertemukan buku-buku yang bikin merinding, dan mendapat keberuntungan diberi harga-harga murah oleh pedagang. Keraguanku: “sumpah” membeli buku itu banyak “doa” atau “dosa” saat tahun-tahun sulit membakar sambat dan melungkrahkan hari-hari yang terus berganti.

Pada 17 Oktober 2024, bundel buku berwajah lusuh masuk ke rumahku. Siang yang memanggang tubuh berkurang setelah aku membuka bungkusan paket buku. Mataku tak seterang dan segarang matahari tapi mengubah lembaran-lembaran buku itu “bersinar”. Aku yang beruntung bisa bertemu masa lalu. Pertemuan melalui buku.

Aku pun teringat tokoh-tokoh yang hanya mengetahui sepenggal-sepenggal biografinya. Keyakinan yang telah aku wartakan sejak lama jika berbincang dengan orang-orang atau hadir di seminar: “Indonesia tidak cuma negara ribuan pulau. Indonesia adalah negara ribuan kamus.” Keyakinan yang kadang dibantah tapi aku membalas dengan argumentasi-argumentasi sepanjang lokomotif dan gerbong-gerbong kereta api, yang biasa bergerak dari Stasiun Balapan sampai Stasiun Senen.

Koleksi kamus di rumah makin bertambah. Dugaanku jumlahnya belum mencapai seribu. Sejak belasan tahun lalu, aku biasa dan rajin khatam novel-novel. Namun, aku bukan orang yang sombong membaca ratusan kamus dengan kewajiban khatam. Yang harus diketahui orang-orang: cara membaca kamus berbeda dengan membaca novel.

Aku suka membaca kamus tanpa khatam. Yang membuatku untuk selalu suka kamus dipengaruhi tokoh-tokoh yang aku menghormatinya: Poerwadarminta, Sutan Mohammad Zain, Abdul Chaer, Zoetmulder, Goenawan Mohamad, Remy Sylado, Eko Endarmoko, dan lain-lain. Sosok yang tidak aku lupakan adalah Pak Sur. Dulu, ia adalah penjaga perpustakaan di SMA. Aku sering dolan dan mendekam di perpustakaan. Masa lalu yang menguak malu.

Sikapku salah dan sembrono: memilih “berteman” buku-buku ketimbang bergaul dengan teman-teman di sekolah. Di perpustakaan, aku kadang membawa buku tulis khusus yang aku gunakan untuk mencatat kata dan pengertian. Kamus-kamus di lemari yang berketerangan “referensi” menjadi sasaran tangan untuk dibuka mengikuti kepentingan dan penasaran. Murid yang jelek dan bodoh itu senang jika berhasil menambah album kata dalam hidupnya. Yang dibutuhkan tentu pengertian-pengertian agar ia dapat merayakan bahasa.

Keinginan membuka kamus dalam waktu lama diusahakan dengan bertanya kepada Pak Sur. Di perpustakaan, kamus itu masuk daftar buku tidak boleh dipinjam, hanya dibaca di tempat. Pak Sur bilang punya Kamus Umum Bahasa Indonesia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia di kamar kos Mendungan, Sukoharjo, Jawa Tengah. Aku diperbolehkan meminjamnya. Sore, aku naik pit onthel menuju alamat kos. Pengalaman awal meminjam kamus, yang membuatku berbahagia. Di rumah, malam-malam aku menikmatinya dengan membuka kamus dekat jendela. Lelaki yang masih murid SMA itu biasa membuka kamus dan membuat catatan sambil merokok. Ia menyadari dunia itu kata-kata. Jadi, yang memiliki kata-kata yang mengerti dan memiliki dunia. Pemahaman itu pernah dimiliki tapi dianggap “sesat” setelah ia sering mengalami gagal, salah, kalah, dan jahat dalam babak-babak kehidupannya. Namun, ia tetap setia kepada kamus-kamus sampai sekarang.   

Pada saat remaja, yang aku inginkan adalah kata dan pengertian. Peristiwa membuka kamus itu berlanjut dengan “dosa” dan “doa” mengumpulkan kamus-kamus lawas. Aku kadang membeli kamus baru yang harganya terjangkau. Yang membuatku malu adalah kunjungan ke toko buku. Di situ, ada kamus tebal banget. Sampulnya berwarna biru tua. Aku mengetahui itu Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi baru. Harga yang dicantumkan: lebih dari setengah juta rupiah. Aku iseng mengabarkan kepada teman yang bekerja sebagai editor di Jakarta. Jawaban melalui pesan pendek datang cepat. Ia mengirimi uang agar aku membeli kamus mahal, yang menjanjikan memajukan bahasa Indonesia. Duh, kamus mahal berakibat orang-orang malas membuka kamus dan takut membelinya. Aku berhasil memilikinya atas kebaikan teman.

Pada hari berbeda, aku membuat resensi terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia buatan pemerintah. Resensi yang dimuat di koran itu tanda terima kasih dan hormat kepada teman yang ikhlas memberikan uang tidak sedikit.

Pada hari-hari menjelang 28 Oktober 2024 yang masih diadakan peringatan Sumpah Pemuda, aku memiliki kamus-kamus lawas: ikut menentukan sejarah Indonesia. Kamus yang mendahului munculnya Kamus Umum Bahasa Indonesia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamus-kamus lawas itu sekadar kegembiraan yang tidak aku kabarkan kepada Pak Sur (tinggal di Klaten) dan teman di Jakarta.

Adegan membuka bundel kamus. Halaman yang awal terbaca: Logat Ketjil Latin-Indonesia. Aku mengerti pesona dan pengaruh bahasa Latin, sejak beberapa abad yang lalu. Pengaruhnya sampai ke Indonesia dalam masalah agama, keilmuan, seni, dan lain-lain. Kamus itu diterbitkan oleh Seminari Kakaskassen-Tomohon (1954). Keterangan yang dicantumkan: “Tetapi kami berkejakinan bahwa logat (kamus) ini masih djauh dari sempurna. Pertama-tama karena kekurangan pengetahuan bahasa Indonesia pada si penjusun sendiri. Tambahan pula karena kesulitan dalam menterdjemahkan berbagai kata Latin, terutama mengenai kata-kata benda abstrak.” Seumur hidup, aku tidak ada kemauan belajar bahasa Latin. Padahal, bahasa Latin itu sering muncul dalam pelajaran-pelajaran di sekolah. Beragam ilmu (modern) dipastikan mendapat pengaruh dari bahasa Latin.

Selanjutnya, aku melihat sampul buku yang menakjubkan. Sampul itu tidak dipotret pedagang, yang dulu menawarkan di media sosial. Oh, pedagang yang tidak mengetahui bahwa bundel itu memuat tiga kamus, bukan dua kamus. Kaget dan girang! Judul yang terbaca: Woordenboek Nederlansch-Javaansch, (Kamoes) Belanda-Djawa I yang disusun P Darminta. Aku mengetahui nama lengkapnya jika ditulis: Poerwadarminta atau WJS Poerwadarminta. Di Indonesia, ia terkenal dengan Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952). Dulu, penulisan nama agak berbeda. Kamus itu memuat 12.000 “perkata’an”.

Kamus yang bersejarah, yang diterbitkan oleh Boekhandel SM Diwarno, Jogjakarta, 1932. Umurnya hampir seratus tahun. Foto di sampul itu bukan penyusun kamus (P Darminta) tapi pemilik “boekhandel”. Lelaki ganteng dan berduit yang ikut dalam arus industri buku masa kolonial.

Kamus itu membuatku geleng-geleng kepala dan tertawa pelan. Beberapa kata dalam bahasa Belanda diterima dalam bahasa Jawa. Jadi, orang-orang Jawa yang omong dan membuat tulisan sebenarnya menggunakan kata-kata yang diperoleh dari bahasa Belanda atau dipengaruhi bahasa Belanda. Takdir yang lumrah akibat lakon penjajahan. Pada masa kolonial, bahasa Belanda ikut membentuk peradaban Jawa melalui birokrasi, misionaris, sekolah, bacaan, dan lain-lain.

Kaget dan girangku bertambah saat menghadapi sampul buku berjudul Kitab Logat Melajoe (1921) susunan Ch A van Ophuijsen. Aku sudah memiliki buku itu tanpa sampul, terbitan 1929. Kini, aku memegang buku yang usianya lebih tua. Kondisi masih bagus dan lengkap. Buku yang bersampul sederhana tapi nasib bahasa di Indonesia sangat dipengaruhi oleh Ophuijsen. Logat itu kamus. Namun, aku membaca buku Ophuijsen sebagai “daftar kata”. Buku yang mungkin terbaca oleh kaum terpelajar dan memberi bekal dalam Kongres Pemuda I (1926) dan Kongres Pemuda II (1928).

Intelektual asal Belanda itu bakal selalu disebut jika orang mengurusi sejarah dan perkembangan ejaan di Indonesia. Pada 1947 dan 1972, pemerintah mengadakan kebijakan ejaan. Warisan yang diberikan Ophuijsen tetap wajib dipelajari dan diperhatikan untuk kemunculan ejaan-ejaan pada masa kekuasaan Soekarno dan Soeharto.

Tiga kamus bersamaku, melewati hari-hari saat bahasa-bahasa berantakan oleh politik, bisnis, hiburan, dan lain-lain. Aku memilih memeluk tiga kamus tanpa harus mengerti masa silam dan pikat bahasa-bahasa turut membentuk Indonesia. Yang membuatku bahagia: tiga kamus belum punah meski tidak dinantikan atau mendapat pelukan dari kaum intelektual, pengarang, atau pejabat di seantero Indonesia.I Kabut

Cerpen

Kekalahan yang Dimenangkan

Cerpen Septi Rusdiyana

Cerita ini bukan tentang aku, melainkan kisah kakakku, Nun. Perempuan yang mengaku telah jatuh cinta berulang kali pada suaminya. Terdengar sangat romantis, ya? Tapi percayalah, hanya dengan hati kamu baru akan benar-benar mengerti mengapa Nun bisa begitu.

Wonogiri, 28 Desember 2023. Aku turut dalam rombongan bus yang mengantar Nun dan suaminya, Satya, ke acara unduh mantu. Selesai acara, aku dan kedua orangtuaku memutuskan tinggal di rumah Satya, meski hanya semalam. Sebelum pulang, aku sempat ngobrol dengan Nun di kamarnya.

“Apa kau bahagia?” tanyaku.

Nun tersipu. Wajahnya nampak berseri-seri. Nun mengangguk semangat. Saking semangatnya, aku merasa hampir tidak lagi bisa mengenalinya. Benarkah seorang lelaki sanggup membuat wanita berubah begitu cepat? Nun memelukku. Mataku basah. Kali pertama, Nun meminta maaf dan berjanji akan menjadi kakak terbaik untukku.

Sejenak pikiranku melambung ke masa lalu. Di rumah, hubunganku dengan Nun tidak baik. Sejak kecil aku membencinya karena bapak ibu selalu membandingkanku dengannya. Nun beruntung, selain cantik, otaknya juga encer. Apa pun yang ia lakukan tidak pernah gagal. Saking pintarnya, belum juga lulus kuliah, Nun sudah menjadi asisten dosen. Satu hal yang menurutku Nun tidak lebih unggul dariku: aku memiliki jauh lebih banyak teman, baik perempuan atau laki-laki. Tapi bagi Nun, sepertinya itu bukan masalah. Karena hampir seluruh waktunya memang tersita hanya untuk belajar dan bekerja.

Aku tidak banyak berinteraksi dengan Nun. Sejak SMA aku memilih sekolah di luar kota, sekadar ingin terlepas dari beban mental di rumah. Hingga suatu malam yang gerimis, tiba-tiba Nun datang ke kost-ku. Tentu saja aku terkejut. Tidak hanya itu, aku ngomel-ngomel saat ia menerobos masuk lalu berbaring di kasurku. Matanya terpejam. Ia tidak memedulikan ocehanku. Saat aku hampir saja menarik tangannya, tubuh Nun terguncang, disusul isakan yang semakin lama semakin keras. Aku bingung harus melakukan apa, karena selama ini kami tidak dekat. Aku memilih duduk di sampingnya, membiarkannya menangis hingga selesai. Setelah Nun bisa bercerita, aku akhirnya tahu, ia menjadi seperti tadi karena rekan dosen yang ia kira menyukainya, akan menikah dengan perempuan lain. Celakanya, perempuan itu merupakan rekan sesama dosen di kampus tempat Nun bekerja.

Sejak itu, Nun memutuskan resign dan memilih menjadi relawan pengajar di pelosok-pelosok daerah. Sejak itu pula, aku tinggal di rumah. Kebetulan kuliahku sudah selesai dan tinggal mengerjakan skripsi.

Hampir setiap hari Nun menghubungiku. Aku juga mulai membuka diri. Bahkan, aku menjadi orang pertama yang tahu kalau Nun akhirnya menjatuhkan hati pada seorang lelaki bernama Satya. Sayang, saat Nun pulang dan menceritakan perihal rencananya, bapak ibu tidak setuju. Menurut mereka, Satya tidak akan sanggup menghidupi Nun, karena lelaki itu hanya seorang buruh tani. Aku bisa melihat kekecewaan di wajah Nun. Meski tidak menangis, bibirnya terus bergetar. Seolah menahan sesuatu yang hendak meledak dari dalam dirinya.

Hari-hari terlewat dengan biasa saja. Suatu pagi, saat aku masuk ke kamar Nun, kudapati tubuhnya bersandar di dekat lemari. Saat kudekati, tubuhnya tak bergerak. Wajah Nun pucat dan terdapat luka sayat di pergelangan tangannya.

“Aku sangat bahagia. Satya menjadi milikku.” Suara Nun menyadarkanku kembali.

“Terus kabari aku, ya?” sahutku. Nun mengangguk.

Sebelum aku dan kedua orangtuaku pamit, aku sempat berjabat tangan dengan Satya. Entah, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang kurang baik, tapi aku memutuskan mengenyahkan rasa itu.

Dua bulan setelahnya, Nun menelepon saat tengah malam. Ia bercerita kalau Satya belum pulang. Ia sangat cemas. Saat aku menanyakan ke mana suaminya, aku merasa Nun sedang menutupi sesuatu. Apa yang ia tuturkan seperti tidak menjawab apa yang kutanyakan. Namun saat ia mengakhiri panggilan karena Satya sudah pulang, aku kembali mengabaikan rasa itu.

4 April 2024. Setelah mengambil data tambahan di Solo, aku menghubungi Nun. Memberi kabar padanya kalau aku ingin mampir ke Wonogiri. Nun dan Satya menyambutku dengan senang. Aku diminta tinggal selama beberapa hari di sana. Meski rumah dan kehidupan yang mereka jalani sangat sederhana, keduanya terlihat bahagia. Apalagi saat Nun memberitahuku kalau ia sedang hamil. Aku ikut senang mendengarnya.

Pada malam ke-4, aku sulit tidur dan memutuskan duduk di ruang tamu sembari memainkan ponsel. Tidak lama, pintu terbuka. Satya masuk ke rumah. Aku menyapanya, lalu sengaja berbasa-basi agar dia mau menemaniku.

“Dari mana, Mas?” tanyaku memulai obrolan.

“Habis ronda. Kamu sendiri kenapa belum tidur?” tanya Satya balik.

“Nggak bisa tidur.”

“Mbakyumu nggak bangun, kan?”

Aku menggeleng.

“Dia itu paling tidak bisa ditinggal sendirian di rumah. Padahal aku juga nggak ke mana-mana, paling di gardu ronda depan.” Satya mulai menyalakan rokok di mulutnya.

Merasa mendapat angin, aku mulai banyak bertanya untuk memuaskan hasrat keingintahuanku. Maklum, sejak awal aku belum mengenal Satya dengan baik. Entah karena terlalu polos atau bagaimana, dia merespons semua pertanyaanku apa adanya. Aku tidak berhasil menangkap sebuah kebohongan di wajah dan suaranya. Salah satu pertanyaan yang kuajukan adalah alasan mereka memutuskan menikah. Satya kemudian bercerita panjang kalau pertemuan awalnya dengan Nun adalah ketika Nun mengajar anak-anak usia dini di balai desa.

“Saat itu aku datang untuk memperbaiki pintu kamar mandi. Tiba-tiba seseorang memeluk tubuhku dari belakang. Aku kaget. Buru-buru aku melepas pelukan itu. Takut dilihat orang lain yang nantinya bisa muncul fitnah.”

Aku mendengar ceritanya dengan khusyuk. Singkat cerita, aku akhirnya tahu, rupanya Nun yang selama ini mengejar-ngejar Satya agar mau menikahinya. Bahkan, Nun sempat beberapa kali mengancam akan menyakiti dirinya sendiri jika Satya terus menolak.

“Itu yang pada akhirnya membuat Mas luluh?” tanyaku.

Satya menggeleng. Dia mengatakan kalau hanya soal ancaman, dia bisa mencari cara untuk membebaskan diri.

“Dia bilang wajahku mirip sama lelaki yang disukainya, tapi lelaki itu memilih menikahi perempuan lain,” Satya menjeda bicaranya. “Biar orang miskin, aku tetap laki-laki yang punya harga diri. Itu sudah menjelaskan kalau mbakyumu mencintai orang lain. Bukan aku,” lanjutnya lagi.

“Lalu apa alasannya dong?” tanyaku semakin penasaran.

“Simbok,” jawab Satya. “Beberapa hari setelah kejadian itu, malamnya almarhumah simbok datang lewat mimpi. Di situ simbok bilang: Sing sabar yo, Le. Uripmu yen iso manfaat, iso nylametke uriping liyan, berkah uripmu (Yang sabar ya, Nak. Hidupmu jika bisa bermanfaat, bisa menyelamatkan hidup orang lain, maka berkahlah hidupmu),” lanjut Satya menirukan ucapan ibunya.

Aku tercekat. Dadaku berdesir. Orang yang selama ini kupikir menyimpan maksud buruk pada Nun, ternyata memiliki pemikiran seperti itu.

“Sudah dulu ya, ngobrolnya dilanjut besok lagi.” Satya berlalu menuju kamar tanpa menunggu responsku.

Aku terpaku di bangku kayu dengan banyak sekali pertanyaan lanjutan. Apakah Nun mencintai Satya? Apakah Satya mencintai Nun? Apakah mereka sedang saling menyakiti? Kehidupan macam apa yang saat ini mereka jalani? Apakah mereka bahagia? Aku benar-benar tidak mengerti. Dan sepertinya, aku tidak ingin mengerti.***


Septi Rusdiyana, penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu dari dua putri cantik bernama Negar dan Nala. Anggota komunitas menulis Kamar Kata.

Curhat

Potong Kuku

Curhat Padmi

Sebenarnya aku tidak terlalu suka bicara. Lebih tepatnya, hal itu karena aku tidak terbiasa. Aku mengalami kesulitan saat diminta berpendapat terkait pikiranku. Berbeda ketika aku diberi pertanyaan untuk menjelaskan perbandingan siklus pergantian cuaca di negara empat musim dan dua musim. Tentu kamu tahu maksudku. Ya, aku selalu kehabisan kata untuk memahami diriku sendiri.

Aku tahu, setiap orang (tanpa kecuali) memiliki celah sama besar untuk mengalami masalah kepercayaan diri. Namun, aku butuh pendapat kalian. Apakah setelah membaca ceritaku nanti, aku sudah perlu mendapat bantuan dari tenaga profesional? Kuharap kalian bisa memberi masukan kepadaku di kolom komentar. Sungguh, itu akan sangat berarti untukku. Ucapan terima kasih saja menurutku tidak akan cukup untuk membalas kebaikanmu.

Hari ini hari Sabtu. Seperti biasa, tiga keponakanku yang masing-masing berusia sepuluh, tujuh dan empat tahun duduk di dekatku: menunggu giliran untuk ritual potong kuku.

Pertama adalah giliran F, keponakanku yang berusia empat tahun. Melihat kuku-kukunya yang mungil, menempel pada jemari gemuk, membuatku harus lebih berhati-hati. Aku sering memintanya menyanyi atau bercerita. Celotehnya membuatku sejenak lupa kalau semalam aku bertengkar dengan pacarku.

Kami menjalani hubungan jarak jauh. Aku di Surabaya, sedangkan dia di Yogyakarta. Bisa dibilang, kami jumpa tidak tentu kapan. Mungkin saat libur semester saja. Jika aku sedikit beruntung, kadang kami bisa bertemu pada kegiatan atau acara tertentu.

Semalam, aku tidak bisa membendung rinduku padanya. Aku mengirim pesan dan mengutarakan perasaanku dengan apa adanya. Bahwa aku sangat mencintainya, lalu bertanya apakah dia merindukanku juga.

“Aku memilih biasa saja,” jawabnya, seketika membuatku seperti dihempas dari tebing.

“Aku benci kata-kata seperti itu. Cukup kamu tahu di awal tentang perasaanku. Tidak perlu kamu memaksaku untuk terus mengulanginya,” lanjutnya lagi.

“Terima kasih, Tante,” ucap F dengan suara imutnya. Aku tersadar ternyata telah selesai memotong kuku F. Seperti biasa, aku akan memintanya mencium kedua pipiku sebagai imbalan jasa.

Tibalah giliran M, keponakanku yang berusia sepuluh tahun. Kukunya sangat kotor. Meski begitu, aku tetap telaten membersihkannya.

“Buruan, Tan. Aku mau mabar nih,” desak M. Dia memang si paling tak sabaran. Aku hanya menggeleng sembari tersenyum dan melanjutkan proses pembersihan kukunya. M terus saja menggerutu.

Ditemani dengan omelan menggemaskan itu, ingatan semalam kembali lanjut. Pacarku, jika sudah lama merespon pesanku, itu artinya dia sedang malas meladeniku. Aku yakin dia tetap membaca pesanku, entah dari notifikasi pesan belum terbaca. Atau memang sengaja menunda untuk membacanya. Yang pasti, aku terus memberondong dengan pesan-pesan pengharapan agar dia mau menghargai perasaanku, kemudian melontarkan kalimat-kalimat manis yang bisa menenteramkan hatiku. Tapi pacarku tak semudah itu mengalah. Dan semalam, aku berakhir meratap sendirian ditemani rasa sakit tak berkesudahan yang tidak bisa kudeskripsikan rasanya, hingga pagi. Kamu tahu, bagiku kangen memang sebangsat itu.

“Sudah, sudah, sudah. Cepetan, Tan!” omel M lagi. Kali ini aku kecolongan hingga M telah berhasil kabur sebelum aku sempat menghaluskan kukunya. Sebenarnya aku bisa saja mengejarnya, tapi tampang Z sudah memelas ingin segera kulayani. Jadi aku membiarkan M lolos dengan selamat kali ini.

Z memang selalu menjadi yang terakhir. Hal itu karena dia selalu ingin dikuteks setelah kukunya dipotong rapi. Pink, itu warna favoritnya. Aku melakukan treatment spesial sembari ngobrol dengan Z.

Bocah itu mengaku kalau sebenarnya tidak suka menunggu lama. Baginya waktu sangatlah berharga. Z hanya punya kurang dari dua hari sebelum Senin berangkat sekolah, dan aku harus kembali menghapus kuteks itu. Tentu saja karena guru kelasnya pasti marah jika melihat kukunya berwarna.

Z tersenyum bangga melihat hasil pekerjaanku. Ia berjalan meninggalkanku sembari meniup-niup lapisan warna pink penuh glitter di kukunya itu. Aku yakin sebentar lagi dia akan memamerkannya pada ibu dan neneknya. Kemudian, dia juga akan main keluar untuk menunjukkan kepada teman-teman sepermainan tentang betapa cantik kukunya itu. Z pasti akan menjadi sangat berhati-hati memperlakukan kedua tangannya.

Aku meraih ponsel milikku yang masih sepi. Pacarku tidak menghubungiku. Bahkan dia sama sekali tidak membalas pesanku, padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi. Mustahil dia belum bangun. Aku kesal. Karenanya aku bangkit mengambil alat potong kuku milikku yang sudah tumpul dan berkarat untuk memotong kukuku sendiri.

Entah, aku menikmati kesulitanku. Memang perlu waktu berkali lipat lebih lama jika dibandingkan dengan kegiatan potong kuku ketiga ponakanku sebelumnya. Aku merenung. Apakah lelaki memang seperti itu? Sangat mudah mengatasi masalah, dan menganggap perihal kerinduan adalah sebuah kehinaan untuk diperjuangkan?

Dengan susah payah, aku masih terus saja menekan kuku jari tengah yang telah panjang itu. Hingga refleks aku menariknya paksa dan membuat daging jari sebelah dalam nampak dan terluka. Aku meringis perih. Gegas aku menuju wastafel untuk mencuci darah yang terus menetes. Sial, begitu terkena air, aku merasa ada sengatan kecil namun terasa tajam menusuk ke hatiku. Nyeri yang sama seperti semalam. Sesuatu yang membuatku menangis tanpa air mata, namun ajaibnya, kini air mata itu sudah bisa keluar.

Aku bangga pada diriku sendiri. Kurasa, kini aku sudah menemukan cara untuk mengatasi serangan yang dianggap lemah oleh pacarku. Semakin nyeri kurasakan, maka semakin tenang hatiku. Aku bahkan sejenak lupa, kalau pacarku, mungkin sudah tidak pernah merindukanku lagi.***

Padmi

Perempuan yang takut gelap.

Curhat

Permainan Favorit

Curhat: Lintani Noor

Hari ini anakku mendapat tugas sekolah dari guru kelasnya untuk melakukan wawancara kepada orangtua tentang permainan yang biasa dimainkan ketika sekolah dulu. Ada beberapa poin pertanyaan yang sudah ditentukan, jadi anakku hanya membacakannya saja.

Pertanyaan pertama, aku diminta menyebutkan tiga permainan yang biasa kumainkan bersama teman-teman saat SD. Aku menjawab: gobak sodor, lompat tali, dan kasti. Anakku mencatat di bukunya.

“Mengapa Ibu suka memainkan permainan itu? Sebutkan satu saja alasannya!” tanya anakku lagi.

Aku mencoba mengingat-ingat masa kecil dulu. “Soalnya menyenangkan banget. Ibu bisa seru-seruan dengan teman-teman. Mengatur strategi, kerja tim, dan tentu saja sehat, karena sudah pasti berkeringat,” jawabku yang disambut protes dari anakku. Menurutnya aku terlalu cepat bicara sehingga membuatnya kesulitan menuliskan di buku catatan. Akhirnya aku mengulang jawabanku dengan pelan-pelan.

“Pertanyaan terakhir. Kapan biasanya Ibu memainkan permainan itu?”

“Saat istirahat sekolah, atau sore hari sepulang sekolah,” jawabku.

Anakku mengangguk-angguk senang karena tugasnya selesai. Setelah memberesi buku dan alat tulis, dia menghampiriku lagi dan minta dijelaskan tentang permainan lompat tali. Katanya kalau kasti dan gobak sodor, di sekolah saat olahraga dia sudah pernah memainkannya. Aku menjelaskan dengan kalimat-kalimat yang kemungkinan mudah dimengerti. Namun karena memang sulit ditangkap, aku membuka Youtube dan memperlihatkan kepadanya.

“Kapan-kapan aku diajari, ya, Bu?” sahut anakku.

“Siap. Besok ibu beli karetnya dulu ya, biar kita bisa main bareng. Memangnya Kakak belum pernah memainkannya sama teman-teman?”

Anakku menggeleng.

Tidak lama terdengar salam dari arah pintu. Anakku berlari menyambut ayahnya yang baru saja pulang. Dia muncul bersama ayahnya sembari menenteng bungkusan martabak manis cokelat keju kesukaannya. Tak sabar dia ingin segera menikmatinya.

Usai suamiku mandi, dia menyusul kami ke meja makan. Turut menikmati martabak manis yang memang sengaja disisihkan untuknya sedari awal. Anakku menceritakan ulang perihal tugas yang tadi sudah dikerjakan bersamaku. Dia menanyakan ulang kepada suamiku, sekadar ingin tahu.

“Ayah dulu suka main kelereng. Ayah tuh jagonya. Banyak sekali koleksi kelereng ayah waktu kecil dulu,” jawab suamiku semangat.

“Ayah nggak suka main roblox?” tanya anakku.

“Waktu ayah sama ibu kecil dulu belum ada HP, jadi kalau main sama teman-teman pasti di luar rumah. Kadang di lapangan, atau kebun luas milik orang,” jawab suamiku panjang. Ia masih melanjutkan lagi dengan menceritakan beberapa permainan masa kecilnya yang lain. Tampak anakku memerhatikan dengan asyik. Hingga akhirnya suamiku mulai usil dengan menyebut “jelangkung”. Tentu saja anakku semakin dibuatnya penasaran.

Mulailah suamiku bercerita dengan suara yang sengaja dibuat pelan dan rendah. Aku melotot menatap suamiku, memberinya isyarat untuk tidak perlu membahasnya terlalu dalam. Aku khawatir ceritanya akan membuat anaknya malah sulit tidur nanti.

Tapi memang suamiku suka usil, melihat anaknya terlihat tidak takut dan penasaran, dia semakin semangat bercerita. Hingga akhirnya aku yang memutuskan untuk mengajak anakku tidur karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Meski sempat dibalas dengan bibir manyun anakku, namun aku berhasil membujuknya untuk menurut.

Di tempat tidur, aku sedikit kewalahan karena anakku masih saja mengingat cerita ayahnya. Banyak hal yaang membuatnya masih penasaran. Beralasan kalau aku tidak pernah mengetahui atau melakukan permainan itu, anakku menyerah dan terlelap tidak lama kemudian.

Aku kembali keluar dan menyusul suamiku di meja makan. Dia baru saja menyelesaikan makan malamnya. Sembari mencuci piring dan gelas kotor yang baru saja digunakannya, aku mengatakan pada suamiku agar tidak lagi membahas permainan-permainan mistis begitu. Hal itu dijawab dengan tawa menyebalkan dari bibirnya

“Aku kan cuma bercanda. Lagipula anakmu semangat sekali dengarnya,” katanya.

Aku duduk di kursi samping suamiku, mencomot martabak manis yang tersisa satu, lalu memakannya. Kami berbincang kembali soal permainan-permainan kecil kami dulu. Sejenak aku terlupa dengan kekesalanku sebelumnya. Larut dalam nostalgia masa kecil.

“Aku pernah diajak maling mangga sepulang sekolah. Aku yang kebagian menampung mangga-mangga curian itu di tas. Sering tanpa sengaja ada ulat ikut masuk ke tasku. Menyebalkan!” kisahku.

Suamiku menimpali dengan cerita kenakalan saat ia kecil dulu. Katanya dia pernah jatuh saat mencuri jambu milik tetangga. Akibatnya, tangannya patah dan harus menggunakan gips selama beberapa minggu. Dan itu membuatnya tersiksa karena tidak bisa bebas bergerak dan bermain bersama teman-temannya.

Aku merenung. Ternyata waktu terlewat dengan cepat. Kini zaman benar-benar sudah berubah. Menyenangkan sekali jika mengingat masa-masa kecil dulu. Meski hidup tanpa HP, kami tidak pernah terlambat jika sudah membuat janji temu untuk bermain. Saat melihat jangka di rak, aku mengambilnya.

“Kalau jelangkung model ini aku pernah memainkannya,” kataku sembari menunjukkan jangka di depan wajah suamiku. “Ayo main!”

Aku meraih kertas, membuat lingkaran di kertas itu dengan jangka, lalu menuliskan alfabet dari A sampai Z di dalamnya. Lalu aku mengambil tutup pulpen yang akan kuletakkan di atas jangka sebagai pegangan saat mulai permainannya nanti.

Suamiku terlihat memperhatikanku. Meski tidak pernah melakukan, tapi dia pernah melihat teman-teman perempuan di kelasnya sering memainkannya untuk mencari tahu siapa laki-laki yang sedang disukai mereka saat itu.

Aku mulai membacakan mantra untuk memanggil roh sebanyak tiga kali.

“Siapa namamu?” tanyaku pada jangka. Tidak lama jangka itu berputar, menunjuk pada beberapa huruf dan membentuk satu nama: Sinta.

“Dari mana asalmu?” tanyaku lagi. Jangka kembali berputar dan menunjuk huruf-huruf yang menyusun kata: Semarang.

Aku kembali mengajukan beberapa pertanyaan pada roh yang mengisi jangka. Termasuk siapa perempuan yang dicintai suamiku saat ini. Suamiku nyengir keheranan saat susunan huruf memperlihatkan namaku.

“Ah, aku nggak percaya. Pasti tanganmu sengaja kau arahkan sesuai maumu,” protes suamiku.

Aku menggeleng dan memintanya bertanya sesuatu yang mungkin aku tidak tahu. Lalu dia menanyakan siapa nama guru matematikanya saat kelas satu SMA. Saat jangka menunjukkan nama yang sesuai dengan nama gurunya, suamiku mulai tertarik. Dia mulai usil menanyakan terkait siapa cinta pertamanya, siapa cinta pertamaku, juga siapa saja yang pernah menjadi pacarku.

Ketika suamiku bertanya siapa lelaki yang benar-benar kucintai, aku agak terkejut, hingga tanpa sengaja pegangan tutup pulpen di tanganku terlepas. Jatuhlah jangkanya di kertas itu. Permainan akhirnya selesai.

Suamiku sempat ngomel-ngomel dan minta permainannya diulang kembali. Tapi aku menolak, mengatakan padanya kalau aku khawatir akan membuatnya ketagihan dengan permainan yang sebelumnya dia anggap konyol itu. Suamiku tertawa renyah, lalu memelukku. Aku membalas pelukannya. Kurasa, aku tidak akan pernah memainkan permainan itu lagi nanti.***

Lintani Noor

Perempuan biasa

Curhat

Misteri Bangkai Tikus Tanpa Kepala

Curhat  Sal Sabilah

Aku memiliki seekor kucing angora jantan yang kuberi nama Dol. Menurut orangtuaku, penampakan Dol mengerikan. Bulu hitam legam dengan kedua bola mata yang juga berwarna hitam, seringkali membuat mereka kaget saat malam hari. Dol yang memang tidak berada di kandang, membuatnya bebas berkeliaran di dalam rumah. Pernah suatu malam, tanpa sengaja aku menginjak buntutnya saat hendak mengambil minum di dapur. Dol mengeong keras. Aku terjingkat. Selain memang kaget karena suaranya, wujudnya yang hitam di ruangan gelap hanya memperlihatkan taring dan kilatan mata bercahaya. Ya, mama benar, Dol seperti monster kecil.

Dulu, aku mengadopsi Dol dari temanku saat usianya baru tiga bulan. Dibanding ketiga saudara lainnya, Dol satu-satunya yang memiliki bulu hitam pekat. Entah warna itu didapat Dol dari mana, karena kedua induknya berbulu putih. Menurutku dia lucu. Jadi temanku membiarkan aku membawanya pulang.

Kini Dol berusia hampir empat tahun. Tubuhnya tidak terlalu gemuk, lincah dan meski tidak lagi menggemaskan seperti saat kecil dulu, sesekali dia tetap manja. Dol senang tidur di dekat kakiku. Kadang, dia juga melakukan gerakan seperti sedang memijat. Seperti kebiasaan kucing pada umumnya, Dol lebih banyak menghabiskan waktu siangnya untuk tidur.

Suatu hari, Dol tidak terlihat selama dua hari. Mangkuk pakan dan minuman yang kusiapkan untuknya juga masih utuh. Aku mencari di sekeliling rumah sembari terus memanggil-manggil namanya. Biasanya, Dol akan langsung menghampiri jika mendengar suaraku. Karena tidak juga muncul, maka aku meyakini kalau dia tidak berada di rumah. Jadi aku mencari keluar. Berkeliling kompleks perumahan dan bertanya pada tetanggaku, barangkali mereka pernah melihat Dol. Sayang, hampir semua tetangga yang kujumpai mengatakan tidak pernah melihatnya. Aku mulai cemas. Dia kucing rumahan manja yang tidak pernah berada di luar rumah. Apakah dia bisa mencari makan sendiri? Aku berharap dia bertemu orang baik yang mau merawatnya. Atau jangan-jangan, sebenarnya Dol hanya sedang jatuh cinta dengan seekor kucing betina yang tinggal jauh dari rumah. Mungkin kelak dia akan pulang bersama anak-anaknya. Ah, semoga Dol baik-baik saja.

Seminggu berlalu. Aku terbangun di pagi hari mendapati Dol tidur di bawah kakiku. Tentu saja aku senang melihatnya pulang. Kupikir Dol tidak akan pernah kembali lagi. Aku mengelus-elus tubuhnya. Bulu-bulu Dol lembab dan rontok. “Kemana saja kamu, hah? Bau sekali,” gerutuku. Aku memutuskan membawanya ke pet shop. Dol butuh mandi.

Hari-hari terlewat. Saat sarapan, mama bercerita kalau Dol sekarang agak aneh. Menurutnya, makannya sedikit. Selain itu, kebiasaannya menguntit orang saat ke dapur sudah tidak pernah lagi terlihat. Dol kini lebih cuek. Dan yang paling mencolok, Dol sudah tidak pernah mengeong. Aku menyimak cerita mama sambil merenung. Sepertinya selama ini aku kurang peka. Tapi mungkin saja Dol begitu karena kemarin sempat menghilang. Tidak ada yang tahu pasti apa yang dilakukan dan dihadapi Dol di luar sana. Bagaimanapun, sejak kecil Dol terbiasa dilayani.

“Astaga, Dol!” teriak mama suatu pagi.

Aku terbangun dan gegas menuju ruang tengah di mana Dol biasa tidur saat siang hari. Aku melihat penampakan seekor tikus tanpa kepala di sisi Dol. Sisa-sisa darah segar masih nampak. Mendadak perutku mual. Mama memanggil papa untuk membuang bangkai tubuh tikus itu.

“Lihat itu, Dol sudah mulai bisa makan sembarangan sekarang. Pantas saja makannya sedikit. Ternyata sudah berani makan tikus,” omel mama pada Dol yang dilampiaskan padaku.

Dol terlihat seperti tidak berdosa. Biasanya, saat mendengar kami marah, Dol akan mendekat dan mengendus-endus kaki seolah sedang meminta maaf. Tapi saat mama marah-marah, Dol diam saja. Matanya justru memandang tajam bergantian ke arah kami. Papa mengambil potongan tubuh tikus itu dengan kresek hitam, mengikatnya kuat lalu membuangnya ke belakang. Gegas aku berlari mengambil pel untuk membersihkan bekas darah yang menempel di lantai. Setelahnya aku duduk di dekat Dol, mengelus-elus tubuhnya sembari mengajaknya bicara.

“Jangan diulangi lagi, ya? Kamu boleh menangkap tikus, tapi hanya untuk bermain-main. Jangan dimakan, oke? Binatang itu jorok, nanti kamu sakit. Mengerti?” Dol merespons ucapanku dengan merebahkan tubuh di dekat kakiku. Aku mengartikan sikapnya itu sebagai ungkapan penyesalan.

Esok pagi, aku bangun lebih awal dari biasanya. Tenggorokanku kering. aku menuju dapur untuk mengambil segelas air dan membawanya ke ruang tengah. Belum sempat aku meminumnya, aku melihat Dol berbaring ditemani tikus tanpa kepala di sampingnya. Spontan aku meletakkan gelasku begitu saja di meja. Aku mengambil kresek dan mendekat ke arah Dol. Meski jijik, aku memaksakan diriku untuk mengambil tubuh tikus itu dengan kresek, membungkusnya rapat-rapat, lalu membuangnya ke tong sampah belakang rumah. Setelah itu aku kembali masuk dan mengambil alat pel untuk membersihkan ceceran darah segar yang tertinggal.

“Ya Tuhan, kenapa kamu makan kepala tikus lagi? Untung mama belum bangun. Kalau tidak, habis kita kena omelannya.” Dol tidak bereaksi. Dia hanya duduk dan melihatku.

Sejak saat itu, aku sering mendapati bangkai tikus tanpa kepala di ruang tengah. Setiap pagi aku harus berpacu dengan waktu agar bisa membereskan kekacauan itu sebelum mama bangun. Aku menjadi sering memarahi Dol. Kesal karena dia sekarang memiliki kebiasaan buruk. Selama ini aku merawatnya dengan baik. Memberinya makan makanan bersih, membawanya vaksin, serta rutin memandikannya. Kalau sekarang dia begitu, rasanya aku sendiri jijik. Karena bagiku, tikus binatang kotor, tempat tinggal dan makanannya juga kotor. Apa jadinya kalau Dol memakannya?

Sepulang kuliah, aku mencium aroma tidak sedap saat masuk ke rumah. Bersama mama, aku mencari sumber bau itu.

“Ada cicak mati kali ya?” tebak mama.

Aromanya memang tidak menyengat, jadi sepertinya bukan berasal dari bangkai binatang besar. Namun karena hanya lamat-lamat itulah, kami menjadi kesulitan mencari di mana letak sumber masalahnya. Mama memintaku membuang sampah. Berharap jika sampah di dalam rumah sudah dikeluarkan, mungkin saja baunya hilang.

Aku menuju kebun belakang. Bau busuk mulai tercium. Aku berjalan lebih jauh menuju pojokan. Dol meringkuk di dekat pagar. Aku terkejut, mengira Dol telah mati. Dengan menahan napas karena bau semakin menyengat, aku berlari ke arahnya. Dol bangkit dan menggeram dengan suara mengerikan. Semakin aku mendekat, Dol mengeong keras. Dan, betapa terkejutnya aku saat itu. Aku melihat pemandangan kepala tikus berserak di lubang tanah. Dengan mengabaikan rasa takut dan jijik, segera aku meraih tubuh Dol untuk membawanya masuk ke rumah. Beruntung, Dol tidak berontak.

Aku menceritakan kepada mama apa yang kulihat di belakang rumah. Rupanya selama ini Dol tidak memakan kepala tikus. Entah apa yang ada di pikirannya. Untuk apa coba selama ini dia melakukan itu? Mama akhirnya memberikan opsi padaku untuk membeli kandang dan mengurung Dol di sana. Karena aku juga tidak ingin Dol membuat masalah lagi, aku menuruti usul mama.

Malam hari, rupanya Dol kembali berulah. Kami dibuat tidak bisa tidur semalaman karena Dol terus saja mengeong sembari mencakar-cakar kandangnya. Akibatnya, mama dan papa memintaku untuk menyerahkan Dol agar diadopsi orang lain saja. Rasanya sedih, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kami sudah kebingungan bagaimana menghadapinya. Jadi, aku memutuskan menghubungi temanku. Dia seorang dokter hewan. Sejak saat itu, jika aku kangen pada Dol, maka aku akan ke pet shop milik temanku itu. Meski sikap Dol sudah benar-benar berubah, seolah tidak lagi mengenaliku, aku telah memastikan dirinya aman di rumah barunya. Setidaknya hal itu bisa membuatku merasa tidak begitu berdosa padanya.***

Sal Salbilah

Perempuan biasa yang suka melamun.