Curhat

Bakpia

Curhat Nanda

Sama dengan Mbak Septi, aku juga tinggal di Yogyakarta, lebih tepatnya di dalam ringroad. Aku pernah beberapa kali ke Wonosari, tujuanku hanya 1, ke tempat wisata, karena aku tidak memiliki kerabat yang tinggal di sana. Puthul, aku penasaran seperti apa wujudnya. Jadi ketika aku membaca tulisan Mbak Septi, aku mencari tahu di laman google. Rupanya sejenis kumbang yang biasa menjadi hama tanaman pertanian. Aku pernah melihatnya, bedanya yang kulihat berwarna putih dan memiliki ukuran tubuh lebih besar (ampal, itu nama yang kutahu dan biasanya mereka muncul di malam hari). Binatang itu sama seperti belalang dan beberapa binatang lain yang sering dikonsumsi warga Gunungkidul sebagai lauk, namun bagi orang kebanyakan disebut makanan ekstrem.

Aku pernah menyantap belalang goreng. Rasanya enak kok, seperti udang. Kadang jika teman-teman dari luar daerah memintaku mengantar mereka berwisata, lalu penasaran ingin mencobanya, aku turut makan juga. Bagiku bentol-bentol kecil tak begitu mengganggu, selama gatalnya masih bisa kuatasi. Tapi jika ada pilihan makanan, tentu saja aku memilih yang lain. Setidaknya jika ditanya, aku benar memang sudah pernah mengonsumsinya.

Ada banyak sekali makanan khas Yogya, dari camilan, makanan kecil hingga berat. Kali ini aku ingin berbagi pengalaman tentang salah satu snack kesukaanku: bakpia. Setahuku, Pak Yuditeha juga menyukainya. Tapi aku sengaja mengangkatnya bukan semata berharap agar tulisanku dimuat, melainkan memang “bakpia” adalah hal yang pertama kali muncul di benakku. Terlebih saat ini aku memang sedang menyantapnya ditemani secangkir teh di pagi yang gerimis. Hhmm syahdu rasanya.

Hari ini aku izin tidak masuk kantor. Semalam aku jatuh dari tangga. Beruntung aku sempat meraih pegangan hingga tak sampai menggelinding ke bawah. Lemak-lemak di tubuhku akhirnya menjadi pahlawan. Meski sempat menimbulkan suara dentuman yang membuat seisi rumah kaget dan bergegas menghampiriku, aku jatuh elegan dengan posisi duduk. Bahkan handuk yang membungkus kepala masih bertengger manis. “Aman, aku rapopo,” kataku.

Aku baru saja pulang dari lab untuk melakukan rontgen. Hasilnya baru keluar nanti siang. Kata pacarku, jika hasilnya baik dan tidak ada tanda-tanda retak pada tulang, aku baru boleh pijat urut. Jadi hari ini aku berencana mengisi waktu libur dengan membaca, juga menulis cerita ini tentunya.

Aku ingat saat kecil dulu. Rumahku yang berada tak jauh dari pabrik yang memproduksi bakpia, membuatku terbiasa makan makanan itu. Ibu sering memintaku membelinya ketika ada tamu atau kerabat datang sebagai jamuan. Dengan mengendarai sepeda jengki milik kakakku, aku berangkat membawa selembar uang dan pulang dengan seplastik bakpia. Kadang, karena saking seringnya membeli, aku dibawakan juga bakpia kering sebagai bonus.

Tidak seperti sekarang yang banyak sekali varian rasa, bakpia yang dulu aku tahu hanya mempunyai 1 macam rasa: kacang hijau. Secara bentuk, aku juga hanya tahu 2 saja: basah dan kering. Kukatakan basah karena biasanya memang hanya bertahan 2-3 hari saja. Lalu ketika bakpia basah sudah tak layak konsumsi, maka akan masuk ke oven dan jadilah bakpia kering. Bagiku, aku lebih suka bakpia kering. Bau gosong serta tekstur renyah dan agak pahit menjadi sensasi rasa tersendiri untukku.

Saat aku beranjak remaja, aku sempat termakan omongan teman-teman mengenai rumor pabrik bakpia di dekat rumahku itu.

“Pemilik pabrik memelihara pocong sebagai pesugihan,” kata salah satu temanku.

“Iya, tetanggaku yang punya indera keenam pernah melihat ada pocong ngeces di kuali besar yang dipakai memasak isian bakpia waktu dia beli ke sana,” sahut temanku yang lain.

Sejak mendengar hal itu, aku sudah tak pernah mau lagi makan bakpia. Aku membayangkan, jika benar kata teman-temanku, berarti selama ini aku makan iler pocong dong. Jangankan makan, diminta tolong ibu sekadar membeli pun aku sudah tidak mau. Aku khawatir jika sepulang dari sana, ada pocong yang ikut gonceng sepeda dan turut pulang bersamaku. Aku bergidik ngeri mengingat hal itu.

“Pemiliknya jadi tumbal dari pocong peliharaannya sendiri. Beberapa hari sebelum meninggal, tetangga sekitar sering mendengar keributan seperti perang. Mungkin pemiliknya bertarung dengan pocong. Dan karena tidak ada kesepakatan, akhirnya pocongnya menghabisi tuannya sendiri,” jelas temanku suatu kali.

Sebenarnya aku bukan tak percaya hal-hal begitu, hanya saja ketakutanku lebih besar dari pikiran sehatku. Aku yang memang dasarnya penakut, selalu menelan mentah setiap cerita mistis yang dikisahkan padaku. Tentu saja hal itu yang sering membuatku tersiksa jika malam tiba. Aku menjadi takut ke kamar mandi sendirian. Apalagi, merasa sering diawasi saat berada di kamar seorang diri. Karenanya, aku selalu berusaha menghindar dari obrolan semacamnya.

Seiring berjalannya waktu, terdengar kabar kalau pabrik bakpia bangkrut karena masalah internal. Usaha bersama milik kakak beradik itu mulai koleps sejak keduanya sering bertengkar akibat penjualan yang semakin hari semakin menurun. Entah apa pun alasannya, sebenarnya aku tidak terlalu peduli. Hanya, sejak itu aku mulai menganggap bahwa tidak semua persoalan harus disangkutkan dengan hal-hal mistis.

Aku ingat, aku baru kembali makan bakpia sekitar 5 tahun lalu. Saat itu aku pulang kuliah. Mendapati 3 kotak bakpia di meja makan yang masing-masing hanya tinggal beberapa buah. Karena lapar, dan aku sepertinya sudah lupa dengan cerita masa kecil dulu, aku mencomot bakpia dan menghabiskannya sekaligus. Ada rasa keju, cokelat dan durian. Enak sekali. Kelezatannya seperti berkali-kali lipat dari bakpia yang kukenal dulu. Lebih mewah, lebih gurih, dan yang pasti saat aku memakannya, tak pernah terlintas di otakku bahwa pemiliknya mungkin saja memiliki pocong sebagai penglaris.

Aku agak menyesal, betapa kupernya aku selama ini. Kisah-kisah masa kecil dulu sempat membuatku ketinggalan zaman. Kini ada banyak sekali merk bakpia yang dijual di toko oleh-oleh, mungkin ada puluhan. Juga banyak otlet baru bermunculan dengan produk bakpia sebagai unggulan mereka. Aku telah melewatkan metamorfosis rasa bakpia. Padahal, jika ada teman atau saudara datang, bakpia selalu menjadi opsi pertama untuk diberikan kepada mereka sebagai buah tangan. Tak apa, selama bakpia belum punah dari peredaran, aku tetap masih beruntung bukan?***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *