Katalog

Curhat

Korek Api Itu Masih Menyala

Curhat: Dhatu Jenar

Kini aku telah resmi bertunangan dengan pacarku. Meski hanya dihadiri oleh dua keluarga, acara berjalan lancar dan penuh haru. Terlebih bagi mamaku. Matanya selalu basah dari awal hingga akhir acara. Aku satu-satunya anak perempuannya yang akan melepas masa lajang. Dua kakak lelakiku belum ingin menikah. Sedangkan adik lelakiku masih SMP.

Dulu, aku dan pacarku sepakat untuk langsung menikah saja. Tak perlu pakai acara tunangan segala. Tapi siapa sangka, bosnya mengirim pacarku untuk mengurus kantor cabang di Palembang selama sebulan. Karenanya, pacarku berubah pikiran. Agar terlihat serius dan romantis katanya.

Sebenarnya, bukan soal pertunanganku yang ingin kuceritakan, tapi soal R. Sebelumnya aku pernah mengatakan kalau akan menemuinya di kafe, sehari setelah perjumpaan awalku dengannya. Waktu itu aku sudah menunggu di kafe yang sama selama hampir sepuluh menit, hingga R mengirim pesan kalau mendadak ibunya masuk rumah sakit. Jadi terpaksa pertemuan itu gagal ia tepati. Aku tidak marah. Saat itu spontan aku khawatir dengan keadaan ibunya. Aku memutuskan menelepon.

Baru dering pertama, R langsung mengangkat panggilanku. Suaranya terdengar lesu.

“Ibu mendadak pingsan,” ujar R.

Aku turut prihatin. Tanpa sadar aku menawarkan diri menemaninya. Aku bahkan tidak membuang banyak waktuku untuk segera menyusul ke rumah sakit yang disebutkan.

Sesampainya di rumah sakit, aku menuju bangsal tempat ibu R dirawat. R terlihat sedang tidur di sofa panjang. Karena tidak ingin mengganggu, aku meletakkan kursi di samping ranjang ibunya. Kedua ibu anak itu terlelap. Bergantian aku memperhatikan mereka. Sejenak, aku ingat sesuatu.

Dulu, jika sedang bertengkar dengan R, aku sering menemui ibunya di rumah. Jika pasangan lain biasanya memilih saling menghindar, aku tidak begitu. Aku senang berdiam diri di belakang rumah bersama ibu R. Menyirami tanaman-tanaman yang ada di sana. Atau sekadar memotong daun-daun kering. Wanita yang dulu juga kupanggil dengan sebutan ibu itu, sangat hafal dengan kebiasanku tersebut. Tanpa berusaha mencari tahu, akulah yang malah lebih dulu bercerita mengenai apa yang menjadi penyebab pertengkaran kami. Meski aku tahu, kadang alasannya hal remeh temeh, tapi ibu tidak pernah memberi respons atau nasihat berlebihan. Kadang, ibu hanya tertawa.

“Kamu sudah lama datang? Kenapa tidak membangunkan aku?” tanya R membuatku agak terkejut. “Ngelamun ya?” lanjutnya.

Aku menggeleng. Refleks aku bangkit, mendekati R dan duduk di sebelahnya.

“Sepertinya kamu kurang tidur,” sahutku.

“Aku hanya butuh kopi.” Kemudian R mengajakku ke kantin rumah sakit. Awalnya aku ragu, mengingat ibu tidak ada yang menunggu. R adalah anak tunggal, dan ayahnya juga sudah meninggal. Bagaimana jika nanti tiba-tiba ibu bangun dan membutuhkan sesuatu, sedangkan kami tidak berada di sisinya. Namun R menjelaskan padaku kalau akan menitipkannya pada suster. Dan lagi, kami hanya pergi sebentar saja. Aku akhirnya menurut.

Di kantin, R memesan secangkir kopi panas dan sepotong donat. Aku hanya minum jus apel.

“Maaf ya, kamu jadi harus repot-repot kemari.” R tampak tidak begitu berselera makan. Ia sangat terlihat memaksakan diri. Sepertinya itu dilakukan sebab dia butuh sesuatu sekadar untuk mengganjal perutnya.

“Jangan begitu, ibumu jauh lebih penting,” ujarku.

“Kamu juga penting,” sahut R cepat.

Aku menatap R yang sedang menatapku juga. Sorot matanya lemah. Wajahnya terlihat lelah. Aku tidak berani membalas kalimatnya. Bukan karena takut salah menanggapi, tapi memang tidak tahu harus bagaimana membalasnya.

R mulai bercerita tentang masa lalu. Tentang apa yang dilakukannya setelah lulus SMA, juga mengapa ia meninggalkanku tanpa kabar. R hanya sempat menitipkan pesan pada ibunya, bahwa jika aku datang menemuinya, maka ibu diminta membertahuku bahwa kelak jika situasi sudah memungkinkan, R akan menghubungiku. Tapi kenyataannya, sampai pertemuan kami kemarin di kafe, dia tidak juga memberiku kabar.

“Aku memang salah. Tapi perlu kamu tahu, aku hanya tidak ingin melihatmu sedih waktu itu,” lanjut R.

Aku tersenyum sinis mendengarnya. Kurasa itu hanya alasan klise yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Aku pikir kalau R tidak benar-benar menganggap serius hubungan kami. Jadi baginya, tidak penting apakah aku setuju atau tidak dengan keputusannya. Toh kenyataannya R memang memilih pergi. Barangkali cintanya saat itu terhadapku dianggap sekadar cinta monyet.

Aku kesal. Entah apa yang membuatku malah merasakan lagi kekecewaan yang kurasakan dulu. Seolah aku kembali ke masa-masa di mana sejak saat itu, waktu seolah berhenti menceritakan kisah tentangku dan R.

“Aku minta maaf,” sesal R.

Aku dapat melihat kesungguhan pada ucapannya.

“Aku benar-benar hanya ingin bekerja dan mengumpulkan banyak uang,” lanjutnya lagi.

Sungguh, aku kembali kesal. Dia pikir aku akan dengan mudah memakluminya. Meski uang bisa berarti segalanya, tapi uang bisa dicari. Di mana pun, jika dia mau. Kenapa harus ke luar negeri? Lalu brengkseknya lagi, kenapa harus seperti penjahat yang melarikan diri.

Aku memilih tidak menanggapi ucapannya. Dan sepertinya, R juga tidak terlihat bersemangat untuk melanjutkan ucapannya. Bagiku, satu kata sudah terpatri di otakku. Kalau dia meninggalkanku karena uang. Dan itu sudah cukup membuatku mengerti.

Aku pulang larut dari rumah sakit. Aku bahkan menghubungi pacarku saat masih di jalan. Beruntung, dia tidak banyak bertanya. Hanya memintaku berhati-hati, dan mengatakan betapa tidak sabarnya ia bertunangan denganku. Aku sedikit lega. Setidaknya hal itu membuatku tidak harus membalas dengan berbohong.

Aku menyetir pelan. Kembali teringat kejadian saat aku masih berada di bangsal rumah sakit bersama R tadi. Sengaja waktu itu aku memberi tahunya soal rencanaku bertunangan. Menurutku itu perlu. Karena R terus saja membahas tentang perasaannya padaku. Juga perihal keinginannya untuk memperbaiki hubungan. Meski R bilang dia mengerti, lalu berkata jika ia menghargai keputusanku, kekecewaan di wajahnya tidak berhasil disembunyikan.

Sejenak aku merasa puas. Seolah telah berhasil menutup masa lalu dengan benar. Hingga saat aku pamit, sesaat sebelum tanganku menyentuh pintu, R menarik tubuhku mendekat ke arahnya. Bukan hanya itu saja, tanpa sempat aku menghindar, R telah meraih bibirku. Celakanya, aku membalasnya. Dan lagi, saat R mengatakan agar memintaku datang kembali keesokan harinya, aku pun menyetujui. Aku bahkan lupa jika esok aku memiliki janji akan menemani pacarku  ke rumah eyang.

Malam itu, aku benar-benar tidak bisa tidur. Memikirkan tentang bagaimana caraku untuk kembali beralasan pada pacarku. Ah, betapa rumitnya. Bukankah dengan mengatakan alasan sebenarnya kepada R, justru semua akan terasa lebih mudah. Kenapa aku malah jadi pusing sendiri.

Benar saja, esok harinya, aku kembali ke rumah sakit menemani R. Termasuk, keesokan harinya lagi. Aku tidak pernah menepati janjiku pada pacarku, hingga hari pertunanganku pun tiba.

Apakah kalian tahu, sepulang dari bandara untuk mengantar kepergian pacarku ke Palembang, aku sudah membuat janji dengan R untuk bertemu lagi. Kurasa, aku akan bisa berteman dengan mantanku itu. Ya, aku akan mencobanya. Sebelum hal itu bisa benar-benar terealisasi, aku akan tetap menyembunyikannya dari pacarku. Soal apakah perlu aku ceritakan sebelum menikah, baru akan kupikirkan nanti saja. Lagipula, pernikahanku masih sebulan lagi.***

Dhatu Jenar

Perempuan penyendiri yang suka buah duku.

Ragam

MINGGU DAN TIGA KAMUS

Kegembiraan itu lawas. Yang dimaksud adalah lawas yang memberi adonan rupa, warna, berat, dan bau. Aku gembira menemukan yang lawas-lawas. Aku membahasakan penemuan ketimbang pembelian. Lawas itu terlihat di media sosial. Mataku bersinar bila melihat tampilan bacaan lawas.

Pada 13 Oktober 2024, sore yang terduga tidak lembut dan puitis. Foto itu tampil saat aku melihat ponsel. Yang muncul serius: foto buku lawas meski mula-mula tampak jelek. Mata beralih membaca keterangan yang dibuat pedagang. Buku itu dianggap asli meski penampilan sampul untuk bundel adalah buatan pemilik terdahulu, buka garapan penerbit atau percetakan. Kondisi isi buku dikabarkan masih bagus.

“Dua kamus lawas,” tulis pedagang. Kamus-kamus dibuat menjadi bundel. Aku tidak perlu berpikir seribu menit. Foto dagangan buku dengan mencantumkan harga 70 ribu rupiah wajib dibeli tanpa menawar. Aku kirimkan kata-kata berkepentingan membeli buku. Janji pun diberikan: “Sehari atau dua hari lagi, transfer.”

Pembelian buku lawas saat Minggu itu menggembirakan. Percayalah tak ada hari libur bagi orang-orang yang berjualan buku dan orang-orang yang “bersumpah” terus membeli buku (lawas). Aku kadang merasakan “dosa-dosa” saat membeli buku. Namun, ada juga “doa-doa” agar diberi uang oleh Tuhan, dipertemukan buku-buku yang bikin merinding, dan mendapat keberuntungan diberi harga-harga murah oleh pedagang. Keraguanku: “sumpah” membeli buku itu banyak “doa” atau “dosa” saat tahun-tahun sulit membakar sambat dan melungkrahkan hari-hari yang terus berganti.

Pada 17 Oktober 2024, bundel buku berwajah lusuh masuk ke rumahku. Siang yang memanggang tubuh berkurang setelah aku membuka bungkusan paket buku. Mataku tak seterang dan segarang matahari tapi mengubah lembaran-lembaran buku itu “bersinar”. Aku yang beruntung bisa bertemu masa lalu. Pertemuan melalui buku.

Aku pun teringat tokoh-tokoh yang hanya mengetahui sepenggal-sepenggal biografinya. Keyakinan yang telah aku wartakan sejak lama jika berbincang dengan orang-orang atau hadir di seminar: “Indonesia tidak cuma negara ribuan pulau. Indonesia adalah negara ribuan kamus.” Keyakinan yang kadang dibantah tapi aku membalas dengan argumentasi-argumentasi sepanjang lokomotif dan gerbong-gerbong kereta api, yang biasa bergerak dari Stasiun Balapan sampai Stasiun Senen.

Koleksi kamus di rumah makin bertambah. Dugaanku jumlahnya belum mencapai seribu. Sejak belasan tahun lalu, aku biasa dan rajin khatam novel-novel. Namun, aku bukan orang yang sombong membaca ratusan kamus dengan kewajiban khatam. Yang harus diketahui orang-orang: cara membaca kamus berbeda dengan membaca novel.

Aku suka membaca kamus tanpa khatam. Yang membuatku untuk selalu suka kamus dipengaruhi tokoh-tokoh yang aku menghormatinya: Poerwadarminta, Sutan Mohammad Zain, Abdul Chaer, Zoetmulder, Goenawan Mohamad, Remy Sylado, Eko Endarmoko, dan lain-lain. Sosok yang tidak aku lupakan adalah Pak Sur. Dulu, ia adalah penjaga perpustakaan di SMA. Aku sering dolan dan mendekam di perpustakaan. Masa lalu yang menguak malu.

Sikapku salah dan sembrono: memilih “berteman” buku-buku ketimbang bergaul dengan teman-teman di sekolah. Di perpustakaan, aku kadang membawa buku tulis khusus yang aku gunakan untuk mencatat kata dan pengertian. Kamus-kamus di lemari yang berketerangan “referensi” menjadi sasaran tangan untuk dibuka mengikuti kepentingan dan penasaran. Murid yang jelek dan bodoh itu senang jika berhasil menambah album kata dalam hidupnya. Yang dibutuhkan tentu pengertian-pengertian agar ia dapat merayakan bahasa.

Keinginan membuka kamus dalam waktu lama diusahakan dengan bertanya kepada Pak Sur. Di perpustakaan, kamus itu masuk daftar buku tidak boleh dipinjam, hanya dibaca di tempat. Pak Sur bilang punya Kamus Umum Bahasa Indonesia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia di kamar kos Mendungan, Sukoharjo, Jawa Tengah. Aku diperbolehkan meminjamnya. Sore, aku naik pit onthel menuju alamat kos. Pengalaman awal meminjam kamus, yang membuatku berbahagia. Di rumah, malam-malam aku menikmatinya dengan membuka kamus dekat jendela. Lelaki yang masih murid SMA itu biasa membuka kamus dan membuat catatan sambil merokok. Ia menyadari dunia itu kata-kata. Jadi, yang memiliki kata-kata yang mengerti dan memiliki dunia. Pemahaman itu pernah dimiliki tapi dianggap “sesat” setelah ia sering mengalami gagal, salah, kalah, dan jahat dalam babak-babak kehidupannya. Namun, ia tetap setia kepada kamus-kamus sampai sekarang.   

Pada saat remaja, yang aku inginkan adalah kata dan pengertian. Peristiwa membuka kamus itu berlanjut dengan “dosa” dan “doa” mengumpulkan kamus-kamus lawas. Aku kadang membeli kamus baru yang harganya terjangkau. Yang membuatku malu adalah kunjungan ke toko buku. Di situ, ada kamus tebal banget. Sampulnya berwarna biru tua. Aku mengetahui itu Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi baru. Harga yang dicantumkan: lebih dari setengah juta rupiah. Aku iseng mengabarkan kepada teman yang bekerja sebagai editor di Jakarta. Jawaban melalui pesan pendek datang cepat. Ia mengirimi uang agar aku membeli kamus mahal, yang menjanjikan memajukan bahasa Indonesia. Duh, kamus mahal berakibat orang-orang malas membuka kamus dan takut membelinya. Aku berhasil memilikinya atas kebaikan teman.

Pada hari berbeda, aku membuat resensi terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia buatan pemerintah. Resensi yang dimuat di koran itu tanda terima kasih dan hormat kepada teman yang ikhlas memberikan uang tidak sedikit.

Pada hari-hari menjelang 28 Oktober 2024 yang masih diadakan peringatan Sumpah Pemuda, aku memiliki kamus-kamus lawas: ikut menentukan sejarah Indonesia. Kamus yang mendahului munculnya Kamus Umum Bahasa Indonesia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamus-kamus lawas itu sekadar kegembiraan yang tidak aku kabarkan kepada Pak Sur (tinggal di Klaten) dan teman di Jakarta.

Adegan membuka bundel kamus. Halaman yang awal terbaca: Logat Ketjil Latin-Indonesia. Aku mengerti pesona dan pengaruh bahasa Latin, sejak beberapa abad yang lalu. Pengaruhnya sampai ke Indonesia dalam masalah agama, keilmuan, seni, dan lain-lain. Kamus itu diterbitkan oleh Seminari Kakaskassen-Tomohon (1954). Keterangan yang dicantumkan: “Tetapi kami berkejakinan bahwa logat (kamus) ini masih djauh dari sempurna. Pertama-tama karena kekurangan pengetahuan bahasa Indonesia pada si penjusun sendiri. Tambahan pula karena kesulitan dalam menterdjemahkan berbagai kata Latin, terutama mengenai kata-kata benda abstrak.” Seumur hidup, aku tidak ada kemauan belajar bahasa Latin. Padahal, bahasa Latin itu sering muncul dalam pelajaran-pelajaran di sekolah. Beragam ilmu (modern) dipastikan mendapat pengaruh dari bahasa Latin.

Selanjutnya, aku melihat sampul buku yang menakjubkan. Sampul itu tidak dipotret pedagang, yang dulu menawarkan di media sosial. Oh, pedagang yang tidak mengetahui bahwa bundel itu memuat tiga kamus, bukan dua kamus. Kaget dan girang! Judul yang terbaca: Woordenboek Nederlansch-Javaansch, (Kamoes) Belanda-Djawa I yang disusun P Darminta. Aku mengetahui nama lengkapnya jika ditulis: Poerwadarminta atau WJS Poerwadarminta. Di Indonesia, ia terkenal dengan Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952). Dulu, penulisan nama agak berbeda. Kamus itu memuat 12.000 “perkata’an”.

Kamus yang bersejarah, yang diterbitkan oleh Boekhandel SM Diwarno, Jogjakarta, 1932. Umurnya hampir seratus tahun. Foto di sampul itu bukan penyusun kamus (P Darminta) tapi pemilik “boekhandel”. Lelaki ganteng dan berduit yang ikut dalam arus industri buku masa kolonial.

Kamus itu membuatku geleng-geleng kepala dan tertawa pelan. Beberapa kata dalam bahasa Belanda diterima dalam bahasa Jawa. Jadi, orang-orang Jawa yang omong dan membuat tulisan sebenarnya menggunakan kata-kata yang diperoleh dari bahasa Belanda atau dipengaruhi bahasa Belanda. Takdir yang lumrah akibat lakon penjajahan. Pada masa kolonial, bahasa Belanda ikut membentuk peradaban Jawa melalui birokrasi, misionaris, sekolah, bacaan, dan lain-lain.

Kaget dan girangku bertambah saat menghadapi sampul buku berjudul Kitab Logat Melajoe (1921) susunan Ch A van Ophuijsen. Aku sudah memiliki buku itu tanpa sampul, terbitan 1929. Kini, aku memegang buku yang usianya lebih tua. Kondisi masih bagus dan lengkap. Buku yang bersampul sederhana tapi nasib bahasa di Indonesia sangat dipengaruhi oleh Ophuijsen. Logat itu kamus. Namun, aku membaca buku Ophuijsen sebagai “daftar kata”. Buku yang mungkin terbaca oleh kaum terpelajar dan memberi bekal dalam Kongres Pemuda I (1926) dan Kongres Pemuda II (1928).

Intelektual asal Belanda itu bakal selalu disebut jika orang mengurusi sejarah dan perkembangan ejaan di Indonesia. Pada 1947 dan 1972, pemerintah mengadakan kebijakan ejaan. Warisan yang diberikan Ophuijsen tetap wajib dipelajari dan diperhatikan untuk kemunculan ejaan-ejaan pada masa kekuasaan Soekarno dan Soeharto.

Tiga kamus bersamaku, melewati hari-hari saat bahasa-bahasa berantakan oleh politik, bisnis, hiburan, dan lain-lain. Aku memilih memeluk tiga kamus tanpa harus mengerti masa silam dan pikat bahasa-bahasa turut membentuk Indonesia. Yang membuatku bahagia: tiga kamus belum punah meski tidak dinantikan atau mendapat pelukan dari kaum intelektual, pengarang, atau pejabat di seantero Indonesia.I Kabut

Cerpen

Kekalahan yang Dimenangkan

Cerpen Septi Rusdiyana

Cerita ini bukan tentang aku, melainkan kisah kakakku, Nun. Perempuan yang mengaku telah jatuh cinta berulang kali pada suaminya. Terdengar sangat romantis, ya? Tapi percayalah, hanya dengan hati kamu baru akan benar-benar mengerti mengapa Nun bisa begitu.

Wonogiri, 28 Desember 2023. Aku turut dalam rombongan bus yang mengantar Nun dan suaminya, Satya, ke acara unduh mantu. Selesai acara, aku dan kedua orangtuaku memutuskan tinggal di rumah Satya, meski hanya semalam. Sebelum pulang, aku sempat ngobrol dengan Nun di kamarnya.

“Apa kau bahagia?” tanyaku.

Nun tersipu. Wajahnya nampak berseri-seri. Nun mengangguk semangat. Saking semangatnya, aku merasa hampir tidak lagi bisa mengenalinya. Benarkah seorang lelaki sanggup membuat wanita berubah begitu cepat? Nun memelukku. Mataku basah. Kali pertama, Nun meminta maaf dan berjanji akan menjadi kakak terbaik untukku.

Sejenak pikiranku melambung ke masa lalu. Di rumah, hubunganku dengan Nun tidak baik. Sejak kecil aku membencinya karena bapak ibu selalu membandingkanku dengannya. Nun beruntung, selain cantik, otaknya juga encer. Apa pun yang ia lakukan tidak pernah gagal. Saking pintarnya, belum juga lulus kuliah, Nun sudah menjadi asisten dosen. Satu hal yang menurutku Nun tidak lebih unggul dariku: aku memiliki jauh lebih banyak teman, baik perempuan atau laki-laki. Tapi bagi Nun, sepertinya itu bukan masalah. Karena hampir seluruh waktunya memang tersita hanya untuk belajar dan bekerja.

Aku tidak banyak berinteraksi dengan Nun. Sejak SMA aku memilih sekolah di luar kota, sekadar ingin terlepas dari beban mental di rumah. Hingga suatu malam yang gerimis, tiba-tiba Nun datang ke kost-ku. Tentu saja aku terkejut. Tidak hanya itu, aku ngomel-ngomel saat ia menerobos masuk lalu berbaring di kasurku. Matanya terpejam. Ia tidak memedulikan ocehanku. Saat aku hampir saja menarik tangannya, tubuh Nun terguncang, disusul isakan yang semakin lama semakin keras. Aku bingung harus melakukan apa, karena selama ini kami tidak dekat. Aku memilih duduk di sampingnya, membiarkannya menangis hingga selesai. Setelah Nun bisa bercerita, aku akhirnya tahu, ia menjadi seperti tadi karena rekan dosen yang ia kira menyukainya, akan menikah dengan perempuan lain. Celakanya, perempuan itu merupakan rekan sesama dosen di kampus tempat Nun bekerja.

Sejak itu, Nun memutuskan resign dan memilih menjadi relawan pengajar di pelosok-pelosok daerah. Sejak itu pula, aku tinggal di rumah. Kebetulan kuliahku sudah selesai dan tinggal mengerjakan skripsi.

Hampir setiap hari Nun menghubungiku. Aku juga mulai membuka diri. Bahkan, aku menjadi orang pertama yang tahu kalau Nun akhirnya menjatuhkan hati pada seorang lelaki bernama Satya. Sayang, saat Nun pulang dan menceritakan perihal rencananya, bapak ibu tidak setuju. Menurut mereka, Satya tidak akan sanggup menghidupi Nun, karena lelaki itu hanya seorang buruh tani. Aku bisa melihat kekecewaan di wajah Nun. Meski tidak menangis, bibirnya terus bergetar. Seolah menahan sesuatu yang hendak meledak dari dalam dirinya.

Hari-hari terlewat dengan biasa saja. Suatu pagi, saat aku masuk ke kamar Nun, kudapati tubuhnya bersandar di dekat lemari. Saat kudekati, tubuhnya tak bergerak. Wajah Nun pucat dan terdapat luka sayat di pergelangan tangannya.

“Aku sangat bahagia. Satya menjadi milikku.” Suara Nun menyadarkanku kembali.

“Terus kabari aku, ya?” sahutku. Nun mengangguk.

Sebelum aku dan kedua orangtuaku pamit, aku sempat berjabat tangan dengan Satya. Entah, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang kurang baik, tapi aku memutuskan mengenyahkan rasa itu.

Dua bulan setelahnya, Nun menelepon saat tengah malam. Ia bercerita kalau Satya belum pulang. Ia sangat cemas. Saat aku menanyakan ke mana suaminya, aku merasa Nun sedang menutupi sesuatu. Apa yang ia tuturkan seperti tidak menjawab apa yang kutanyakan. Namun saat ia mengakhiri panggilan karena Satya sudah pulang, aku kembali mengabaikan rasa itu.

4 April 2024. Setelah mengambil data tambahan di Solo, aku menghubungi Nun. Memberi kabar padanya kalau aku ingin mampir ke Wonogiri. Nun dan Satya menyambutku dengan senang. Aku diminta tinggal selama beberapa hari di sana. Meski rumah dan kehidupan yang mereka jalani sangat sederhana, keduanya terlihat bahagia. Apalagi saat Nun memberitahuku kalau ia sedang hamil. Aku ikut senang mendengarnya.

Pada malam ke-4, aku sulit tidur dan memutuskan duduk di ruang tamu sembari memainkan ponsel. Tidak lama, pintu terbuka. Satya masuk ke rumah. Aku menyapanya, lalu sengaja berbasa-basi agar dia mau menemaniku.

“Dari mana, Mas?” tanyaku memulai obrolan.

“Habis ronda. Kamu sendiri kenapa belum tidur?” tanya Satya balik.

“Nggak bisa tidur.”

“Mbakyumu nggak bangun, kan?”

Aku menggeleng.

“Dia itu paling tidak bisa ditinggal sendirian di rumah. Padahal aku juga nggak ke mana-mana, paling di gardu ronda depan.” Satya mulai menyalakan rokok di mulutnya.

Merasa mendapat angin, aku mulai banyak bertanya untuk memuaskan hasrat keingintahuanku. Maklum, sejak awal aku belum mengenal Satya dengan baik. Entah karena terlalu polos atau bagaimana, dia merespons semua pertanyaanku apa adanya. Aku tidak berhasil menangkap sebuah kebohongan di wajah dan suaranya. Salah satu pertanyaan yang kuajukan adalah alasan mereka memutuskan menikah. Satya kemudian bercerita panjang kalau pertemuan awalnya dengan Nun adalah ketika Nun mengajar anak-anak usia dini di balai desa.

“Saat itu aku datang untuk memperbaiki pintu kamar mandi. Tiba-tiba seseorang memeluk tubuhku dari belakang. Aku kaget. Buru-buru aku melepas pelukan itu. Takut dilihat orang lain yang nantinya bisa muncul fitnah.”

Aku mendengar ceritanya dengan khusyuk. Singkat cerita, aku akhirnya tahu, rupanya Nun yang selama ini mengejar-ngejar Satya agar mau menikahinya. Bahkan, Nun sempat beberapa kali mengancam akan menyakiti dirinya sendiri jika Satya terus menolak.

“Itu yang pada akhirnya membuat Mas luluh?” tanyaku.

Satya menggeleng. Dia mengatakan kalau hanya soal ancaman, dia bisa mencari cara untuk membebaskan diri.

“Dia bilang wajahku mirip sama lelaki yang disukainya, tapi lelaki itu memilih menikahi perempuan lain,” Satya menjeda bicaranya. “Biar orang miskin, aku tetap laki-laki yang punya harga diri. Itu sudah menjelaskan kalau mbakyumu mencintai orang lain. Bukan aku,” lanjutnya lagi.

“Lalu apa alasannya dong?” tanyaku semakin penasaran.

“Simbok,” jawab Satya. “Beberapa hari setelah kejadian itu, malamnya almarhumah simbok datang lewat mimpi. Di situ simbok bilang: Sing sabar yo, Le. Uripmu yen iso manfaat, iso nylametke uriping liyan, berkah uripmu (Yang sabar ya, Nak. Hidupmu jika bisa bermanfaat, bisa menyelamatkan hidup orang lain, maka berkahlah hidupmu),” lanjut Satya menirukan ucapan ibunya.

Aku tercekat. Dadaku berdesir. Orang yang selama ini kupikir menyimpan maksud buruk pada Nun, ternyata memiliki pemikiran seperti itu.

“Sudah dulu ya, ngobrolnya dilanjut besok lagi.” Satya berlalu menuju kamar tanpa menunggu responsku.

Aku terpaku di bangku kayu dengan banyak sekali pertanyaan lanjutan. Apakah Nun mencintai Satya? Apakah Satya mencintai Nun? Apakah mereka sedang saling menyakiti? Kehidupan macam apa yang saat ini mereka jalani? Apakah mereka bahagia? Aku benar-benar tidak mengerti. Dan sepertinya, aku tidak ingin mengerti.***


Septi Rusdiyana, penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu dari dua putri cantik bernama Negar dan Nala. Anggota komunitas menulis Kamar Kata.

Curhat

Potong Kuku

Curhat Padmi

Sebenarnya aku tidak terlalu suka bicara. Lebih tepatnya, hal itu karena aku tidak terbiasa. Aku mengalami kesulitan saat diminta berpendapat terkait pikiranku. Berbeda ketika aku diberi pertanyaan untuk menjelaskan perbandingan siklus pergantian cuaca di negara empat musim dan dua musim. Tentu kamu tahu maksudku. Ya, aku selalu kehabisan kata untuk memahami diriku sendiri.

Aku tahu, setiap orang (tanpa kecuali) memiliki celah sama besar untuk mengalami masalah kepercayaan diri. Namun, aku butuh pendapat kalian. Apakah setelah membaca ceritaku nanti, aku sudah perlu mendapat bantuan dari tenaga profesional? Kuharap kalian bisa memberi masukan kepadaku di kolom komentar. Sungguh, itu akan sangat berarti untukku. Ucapan terima kasih saja menurutku tidak akan cukup untuk membalas kebaikanmu.

Hari ini hari Sabtu. Seperti biasa, tiga keponakanku yang masing-masing berusia sepuluh, tujuh dan empat tahun duduk di dekatku: menunggu giliran untuk ritual potong kuku.

Pertama adalah giliran F, keponakanku yang berusia empat tahun. Melihat kuku-kukunya yang mungil, menempel pada jemari gemuk, membuatku harus lebih berhati-hati. Aku sering memintanya menyanyi atau bercerita. Celotehnya membuatku sejenak lupa kalau semalam aku bertengkar dengan pacarku.

Kami menjalani hubungan jarak jauh. Aku di Surabaya, sedangkan dia di Yogyakarta. Bisa dibilang, kami jumpa tidak tentu kapan. Mungkin saat libur semester saja. Jika aku sedikit beruntung, kadang kami bisa bertemu pada kegiatan atau acara tertentu.

Semalam, aku tidak bisa membendung rinduku padanya. Aku mengirim pesan dan mengutarakan perasaanku dengan apa adanya. Bahwa aku sangat mencintainya, lalu bertanya apakah dia merindukanku juga.

“Aku memilih biasa saja,” jawabnya, seketika membuatku seperti dihempas dari tebing.

“Aku benci kata-kata seperti itu. Cukup kamu tahu di awal tentang perasaanku. Tidak perlu kamu memaksaku untuk terus mengulanginya,” lanjutnya lagi.

“Terima kasih, Tante,” ucap F dengan suara imutnya. Aku tersadar ternyata telah selesai memotong kuku F. Seperti biasa, aku akan memintanya mencium kedua pipiku sebagai imbalan jasa.

Tibalah giliran M, keponakanku yang berusia sepuluh tahun. Kukunya sangat kotor. Meski begitu, aku tetap telaten membersihkannya.

“Buruan, Tan. Aku mau mabar nih,” desak M. Dia memang si paling tak sabaran. Aku hanya menggeleng sembari tersenyum dan melanjutkan proses pembersihan kukunya. M terus saja menggerutu.

Ditemani dengan omelan menggemaskan itu, ingatan semalam kembali lanjut. Pacarku, jika sudah lama merespon pesanku, itu artinya dia sedang malas meladeniku. Aku yakin dia tetap membaca pesanku, entah dari notifikasi pesan belum terbaca. Atau memang sengaja menunda untuk membacanya. Yang pasti, aku terus memberondong dengan pesan-pesan pengharapan agar dia mau menghargai perasaanku, kemudian melontarkan kalimat-kalimat manis yang bisa menenteramkan hatiku. Tapi pacarku tak semudah itu mengalah. Dan semalam, aku berakhir meratap sendirian ditemani rasa sakit tak berkesudahan yang tidak bisa kudeskripsikan rasanya, hingga pagi. Kamu tahu, bagiku kangen memang sebangsat itu.

“Sudah, sudah, sudah. Cepetan, Tan!” omel M lagi. Kali ini aku kecolongan hingga M telah berhasil kabur sebelum aku sempat menghaluskan kukunya. Sebenarnya aku bisa saja mengejarnya, tapi tampang Z sudah memelas ingin segera kulayani. Jadi aku membiarkan M lolos dengan selamat kali ini.

Z memang selalu menjadi yang terakhir. Hal itu karena dia selalu ingin dikuteks setelah kukunya dipotong rapi. Pink, itu warna favoritnya. Aku melakukan treatment spesial sembari ngobrol dengan Z.

Bocah itu mengaku kalau sebenarnya tidak suka menunggu lama. Baginya waktu sangatlah berharga. Z hanya punya kurang dari dua hari sebelum Senin berangkat sekolah, dan aku harus kembali menghapus kuteks itu. Tentu saja karena guru kelasnya pasti marah jika melihat kukunya berwarna.

Z tersenyum bangga melihat hasil pekerjaanku. Ia berjalan meninggalkanku sembari meniup-niup lapisan warna pink penuh glitter di kukunya itu. Aku yakin sebentar lagi dia akan memamerkannya pada ibu dan neneknya. Kemudian, dia juga akan main keluar untuk menunjukkan kepada teman-teman sepermainan tentang betapa cantik kukunya itu. Z pasti akan menjadi sangat berhati-hati memperlakukan kedua tangannya.

Aku meraih ponsel milikku yang masih sepi. Pacarku tidak menghubungiku. Bahkan dia sama sekali tidak membalas pesanku, padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi. Mustahil dia belum bangun. Aku kesal. Karenanya aku bangkit mengambil alat potong kuku milikku yang sudah tumpul dan berkarat untuk memotong kukuku sendiri.

Entah, aku menikmati kesulitanku. Memang perlu waktu berkali lipat lebih lama jika dibandingkan dengan kegiatan potong kuku ketiga ponakanku sebelumnya. Aku merenung. Apakah lelaki memang seperti itu? Sangat mudah mengatasi masalah, dan menganggap perihal kerinduan adalah sebuah kehinaan untuk diperjuangkan?

Dengan susah payah, aku masih terus saja menekan kuku jari tengah yang telah panjang itu. Hingga refleks aku menariknya paksa dan membuat daging jari sebelah dalam nampak dan terluka. Aku meringis perih. Gegas aku menuju wastafel untuk mencuci darah yang terus menetes. Sial, begitu terkena air, aku merasa ada sengatan kecil namun terasa tajam menusuk ke hatiku. Nyeri yang sama seperti semalam. Sesuatu yang membuatku menangis tanpa air mata, namun ajaibnya, kini air mata itu sudah bisa keluar.

Aku bangga pada diriku sendiri. Kurasa, kini aku sudah menemukan cara untuk mengatasi serangan yang dianggap lemah oleh pacarku. Semakin nyeri kurasakan, maka semakin tenang hatiku. Aku bahkan sejenak lupa, kalau pacarku, mungkin sudah tidak pernah merindukanku lagi.***

Padmi

Perempuan yang takut gelap.

Curhat

Permainan Favorit

Curhat: Lintani Noor

Hari ini anakku mendapat tugas sekolah dari guru kelasnya untuk melakukan wawancara kepada orangtua tentang permainan yang biasa dimainkan ketika sekolah dulu. Ada beberapa poin pertanyaan yang sudah ditentukan, jadi anakku hanya membacakannya saja.

Pertanyaan pertama, aku diminta menyebutkan tiga permainan yang biasa kumainkan bersama teman-teman saat SD. Aku menjawab: gobak sodor, lompat tali, dan kasti. Anakku mencatat di bukunya.

“Mengapa Ibu suka memainkan permainan itu? Sebutkan satu saja alasannya!” tanya anakku lagi.

Aku mencoba mengingat-ingat masa kecil dulu. “Soalnya menyenangkan banget. Ibu bisa seru-seruan dengan teman-teman. Mengatur strategi, kerja tim, dan tentu saja sehat, karena sudah pasti berkeringat,” jawabku yang disambut protes dari anakku. Menurutnya aku terlalu cepat bicara sehingga membuatnya kesulitan menuliskan di buku catatan. Akhirnya aku mengulang jawabanku dengan pelan-pelan.

“Pertanyaan terakhir. Kapan biasanya Ibu memainkan permainan itu?”

“Saat istirahat sekolah, atau sore hari sepulang sekolah,” jawabku.

Anakku mengangguk-angguk senang karena tugasnya selesai. Setelah memberesi buku dan alat tulis, dia menghampiriku lagi dan minta dijelaskan tentang permainan lompat tali. Katanya kalau kasti dan gobak sodor, di sekolah saat olahraga dia sudah pernah memainkannya. Aku menjelaskan dengan kalimat-kalimat yang kemungkinan mudah dimengerti. Namun karena memang sulit ditangkap, aku membuka Youtube dan memperlihatkan kepadanya.

“Kapan-kapan aku diajari, ya, Bu?” sahut anakku.

“Siap. Besok ibu beli karetnya dulu ya, biar kita bisa main bareng. Memangnya Kakak belum pernah memainkannya sama teman-teman?”

Anakku menggeleng.

Tidak lama terdengar salam dari arah pintu. Anakku berlari menyambut ayahnya yang baru saja pulang. Dia muncul bersama ayahnya sembari menenteng bungkusan martabak manis cokelat keju kesukaannya. Tak sabar dia ingin segera menikmatinya.

Usai suamiku mandi, dia menyusul kami ke meja makan. Turut menikmati martabak manis yang memang sengaja disisihkan untuknya sedari awal. Anakku menceritakan ulang perihal tugas yang tadi sudah dikerjakan bersamaku. Dia menanyakan ulang kepada suamiku, sekadar ingin tahu.

“Ayah dulu suka main kelereng. Ayah tuh jagonya. Banyak sekali koleksi kelereng ayah waktu kecil dulu,” jawab suamiku semangat.

“Ayah nggak suka main roblox?” tanya anakku.

“Waktu ayah sama ibu kecil dulu belum ada HP, jadi kalau main sama teman-teman pasti di luar rumah. Kadang di lapangan, atau kebun luas milik orang,” jawab suamiku panjang. Ia masih melanjutkan lagi dengan menceritakan beberapa permainan masa kecilnya yang lain. Tampak anakku memerhatikan dengan asyik. Hingga akhirnya suamiku mulai usil dengan menyebut “jelangkung”. Tentu saja anakku semakin dibuatnya penasaran.

Mulailah suamiku bercerita dengan suara yang sengaja dibuat pelan dan rendah. Aku melotot menatap suamiku, memberinya isyarat untuk tidak perlu membahasnya terlalu dalam. Aku khawatir ceritanya akan membuat anaknya malah sulit tidur nanti.

Tapi memang suamiku suka usil, melihat anaknya terlihat tidak takut dan penasaran, dia semakin semangat bercerita. Hingga akhirnya aku yang memutuskan untuk mengajak anakku tidur karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Meski sempat dibalas dengan bibir manyun anakku, namun aku berhasil membujuknya untuk menurut.

Di tempat tidur, aku sedikit kewalahan karena anakku masih saja mengingat cerita ayahnya. Banyak hal yaang membuatnya masih penasaran. Beralasan kalau aku tidak pernah mengetahui atau melakukan permainan itu, anakku menyerah dan terlelap tidak lama kemudian.

Aku kembali keluar dan menyusul suamiku di meja makan. Dia baru saja menyelesaikan makan malamnya. Sembari mencuci piring dan gelas kotor yang baru saja digunakannya, aku mengatakan pada suamiku agar tidak lagi membahas permainan-permainan mistis begitu. Hal itu dijawab dengan tawa menyebalkan dari bibirnya

“Aku kan cuma bercanda. Lagipula anakmu semangat sekali dengarnya,” katanya.

Aku duduk di kursi samping suamiku, mencomot martabak manis yang tersisa satu, lalu memakannya. Kami berbincang kembali soal permainan-permainan kecil kami dulu. Sejenak aku terlupa dengan kekesalanku sebelumnya. Larut dalam nostalgia masa kecil.

“Aku pernah diajak maling mangga sepulang sekolah. Aku yang kebagian menampung mangga-mangga curian itu di tas. Sering tanpa sengaja ada ulat ikut masuk ke tasku. Menyebalkan!” kisahku.

Suamiku menimpali dengan cerita kenakalan saat ia kecil dulu. Katanya dia pernah jatuh saat mencuri jambu milik tetangga. Akibatnya, tangannya patah dan harus menggunakan gips selama beberapa minggu. Dan itu membuatnya tersiksa karena tidak bisa bebas bergerak dan bermain bersama teman-temannya.

Aku merenung. Ternyata waktu terlewat dengan cepat. Kini zaman benar-benar sudah berubah. Menyenangkan sekali jika mengingat masa-masa kecil dulu. Meski hidup tanpa HP, kami tidak pernah terlambat jika sudah membuat janji temu untuk bermain. Saat melihat jangka di rak, aku mengambilnya.

“Kalau jelangkung model ini aku pernah memainkannya,” kataku sembari menunjukkan jangka di depan wajah suamiku. “Ayo main!”

Aku meraih kertas, membuat lingkaran di kertas itu dengan jangka, lalu menuliskan alfabet dari A sampai Z di dalamnya. Lalu aku mengambil tutup pulpen yang akan kuletakkan di atas jangka sebagai pegangan saat mulai permainannya nanti.

Suamiku terlihat memperhatikanku. Meski tidak pernah melakukan, tapi dia pernah melihat teman-teman perempuan di kelasnya sering memainkannya untuk mencari tahu siapa laki-laki yang sedang disukai mereka saat itu.

Aku mulai membacakan mantra untuk memanggil roh sebanyak tiga kali.

“Siapa namamu?” tanyaku pada jangka. Tidak lama jangka itu berputar, menunjuk pada beberapa huruf dan membentuk satu nama: Sinta.

“Dari mana asalmu?” tanyaku lagi. Jangka kembali berputar dan menunjuk huruf-huruf yang menyusun kata: Semarang.

Aku kembali mengajukan beberapa pertanyaan pada roh yang mengisi jangka. Termasuk siapa perempuan yang dicintai suamiku saat ini. Suamiku nyengir keheranan saat susunan huruf memperlihatkan namaku.

“Ah, aku nggak percaya. Pasti tanganmu sengaja kau arahkan sesuai maumu,” protes suamiku.

Aku menggeleng dan memintanya bertanya sesuatu yang mungkin aku tidak tahu. Lalu dia menanyakan siapa nama guru matematikanya saat kelas satu SMA. Saat jangka menunjukkan nama yang sesuai dengan nama gurunya, suamiku mulai tertarik. Dia mulai usil menanyakan terkait siapa cinta pertamanya, siapa cinta pertamaku, juga siapa saja yang pernah menjadi pacarku.

Ketika suamiku bertanya siapa lelaki yang benar-benar kucintai, aku agak terkejut, hingga tanpa sengaja pegangan tutup pulpen di tanganku terlepas. Jatuhlah jangkanya di kertas itu. Permainan akhirnya selesai.

Suamiku sempat ngomel-ngomel dan minta permainannya diulang kembali. Tapi aku menolak, mengatakan padanya kalau aku khawatir akan membuatnya ketagihan dengan permainan yang sebelumnya dia anggap konyol itu. Suamiku tertawa renyah, lalu memelukku. Aku membalas pelukannya. Kurasa, aku tidak akan pernah memainkan permainan itu lagi nanti.***

Lintani Noor

Perempuan biasa

Curhat

Misteri Bangkai Tikus Tanpa Kepala

Curhat  Sal Sabilah

Aku memiliki seekor kucing angora jantan yang kuberi nama Dol. Menurut orangtuaku, penampakan Dol mengerikan. Bulu hitam legam dengan kedua bola mata yang juga berwarna hitam, seringkali membuat mereka kaget saat malam hari. Dol yang memang tidak berada di kandang, membuatnya bebas berkeliaran di dalam rumah. Pernah suatu malam, tanpa sengaja aku menginjak buntutnya saat hendak mengambil minum di dapur. Dol mengeong keras. Aku terjingkat. Selain memang kaget karena suaranya, wujudnya yang hitam di ruangan gelap hanya memperlihatkan taring dan kilatan mata bercahaya. Ya, mama benar, Dol seperti monster kecil.

Dulu, aku mengadopsi Dol dari temanku saat usianya baru tiga bulan. Dibanding ketiga saudara lainnya, Dol satu-satunya yang memiliki bulu hitam pekat. Entah warna itu didapat Dol dari mana, karena kedua induknya berbulu putih. Menurutku dia lucu. Jadi temanku membiarkan aku membawanya pulang.

Kini Dol berusia hampir empat tahun. Tubuhnya tidak terlalu gemuk, lincah dan meski tidak lagi menggemaskan seperti saat kecil dulu, sesekali dia tetap manja. Dol senang tidur di dekat kakiku. Kadang, dia juga melakukan gerakan seperti sedang memijat. Seperti kebiasaan kucing pada umumnya, Dol lebih banyak menghabiskan waktu siangnya untuk tidur.

Suatu hari, Dol tidak terlihat selama dua hari. Mangkuk pakan dan minuman yang kusiapkan untuknya juga masih utuh. Aku mencari di sekeliling rumah sembari terus memanggil-manggil namanya. Biasanya, Dol akan langsung menghampiri jika mendengar suaraku. Karena tidak juga muncul, maka aku meyakini kalau dia tidak berada di rumah. Jadi aku mencari keluar. Berkeliling kompleks perumahan dan bertanya pada tetanggaku, barangkali mereka pernah melihat Dol. Sayang, hampir semua tetangga yang kujumpai mengatakan tidak pernah melihatnya. Aku mulai cemas. Dia kucing rumahan manja yang tidak pernah berada di luar rumah. Apakah dia bisa mencari makan sendiri? Aku berharap dia bertemu orang baik yang mau merawatnya. Atau jangan-jangan, sebenarnya Dol hanya sedang jatuh cinta dengan seekor kucing betina yang tinggal jauh dari rumah. Mungkin kelak dia akan pulang bersama anak-anaknya. Ah, semoga Dol baik-baik saja.

Seminggu berlalu. Aku terbangun di pagi hari mendapati Dol tidur di bawah kakiku. Tentu saja aku senang melihatnya pulang. Kupikir Dol tidak akan pernah kembali lagi. Aku mengelus-elus tubuhnya. Bulu-bulu Dol lembab dan rontok. “Kemana saja kamu, hah? Bau sekali,” gerutuku. Aku memutuskan membawanya ke pet shop. Dol butuh mandi.

Hari-hari terlewat. Saat sarapan, mama bercerita kalau Dol sekarang agak aneh. Menurutnya, makannya sedikit. Selain itu, kebiasaannya menguntit orang saat ke dapur sudah tidak pernah lagi terlihat. Dol kini lebih cuek. Dan yang paling mencolok, Dol sudah tidak pernah mengeong. Aku menyimak cerita mama sambil merenung. Sepertinya selama ini aku kurang peka. Tapi mungkin saja Dol begitu karena kemarin sempat menghilang. Tidak ada yang tahu pasti apa yang dilakukan dan dihadapi Dol di luar sana. Bagaimanapun, sejak kecil Dol terbiasa dilayani.

“Astaga, Dol!” teriak mama suatu pagi.

Aku terbangun dan gegas menuju ruang tengah di mana Dol biasa tidur saat siang hari. Aku melihat penampakan seekor tikus tanpa kepala di sisi Dol. Sisa-sisa darah segar masih nampak. Mendadak perutku mual. Mama memanggil papa untuk membuang bangkai tubuh tikus itu.

“Lihat itu, Dol sudah mulai bisa makan sembarangan sekarang. Pantas saja makannya sedikit. Ternyata sudah berani makan tikus,” omel mama pada Dol yang dilampiaskan padaku.

Dol terlihat seperti tidak berdosa. Biasanya, saat mendengar kami marah, Dol akan mendekat dan mengendus-endus kaki seolah sedang meminta maaf. Tapi saat mama marah-marah, Dol diam saja. Matanya justru memandang tajam bergantian ke arah kami. Papa mengambil potongan tubuh tikus itu dengan kresek hitam, mengikatnya kuat lalu membuangnya ke belakang. Gegas aku berlari mengambil pel untuk membersihkan bekas darah yang menempel di lantai. Setelahnya aku duduk di dekat Dol, mengelus-elus tubuhnya sembari mengajaknya bicara.

“Jangan diulangi lagi, ya? Kamu boleh menangkap tikus, tapi hanya untuk bermain-main. Jangan dimakan, oke? Binatang itu jorok, nanti kamu sakit. Mengerti?” Dol merespons ucapanku dengan merebahkan tubuh di dekat kakiku. Aku mengartikan sikapnya itu sebagai ungkapan penyesalan.

Esok pagi, aku bangun lebih awal dari biasanya. Tenggorokanku kering. aku menuju dapur untuk mengambil segelas air dan membawanya ke ruang tengah. Belum sempat aku meminumnya, aku melihat Dol berbaring ditemani tikus tanpa kepala di sampingnya. Spontan aku meletakkan gelasku begitu saja di meja. Aku mengambil kresek dan mendekat ke arah Dol. Meski jijik, aku memaksakan diriku untuk mengambil tubuh tikus itu dengan kresek, membungkusnya rapat-rapat, lalu membuangnya ke tong sampah belakang rumah. Setelah itu aku kembali masuk dan mengambil alat pel untuk membersihkan ceceran darah segar yang tertinggal.

“Ya Tuhan, kenapa kamu makan kepala tikus lagi? Untung mama belum bangun. Kalau tidak, habis kita kena omelannya.” Dol tidak bereaksi. Dia hanya duduk dan melihatku.

Sejak saat itu, aku sering mendapati bangkai tikus tanpa kepala di ruang tengah. Setiap pagi aku harus berpacu dengan waktu agar bisa membereskan kekacauan itu sebelum mama bangun. Aku menjadi sering memarahi Dol. Kesal karena dia sekarang memiliki kebiasaan buruk. Selama ini aku merawatnya dengan baik. Memberinya makan makanan bersih, membawanya vaksin, serta rutin memandikannya. Kalau sekarang dia begitu, rasanya aku sendiri jijik. Karena bagiku, tikus binatang kotor, tempat tinggal dan makanannya juga kotor. Apa jadinya kalau Dol memakannya?

Sepulang kuliah, aku mencium aroma tidak sedap saat masuk ke rumah. Bersama mama, aku mencari sumber bau itu.

“Ada cicak mati kali ya?” tebak mama.

Aromanya memang tidak menyengat, jadi sepertinya bukan berasal dari bangkai binatang besar. Namun karena hanya lamat-lamat itulah, kami menjadi kesulitan mencari di mana letak sumber masalahnya. Mama memintaku membuang sampah. Berharap jika sampah di dalam rumah sudah dikeluarkan, mungkin saja baunya hilang.

Aku menuju kebun belakang. Bau busuk mulai tercium. Aku berjalan lebih jauh menuju pojokan. Dol meringkuk di dekat pagar. Aku terkejut, mengira Dol telah mati. Dengan menahan napas karena bau semakin menyengat, aku berlari ke arahnya. Dol bangkit dan menggeram dengan suara mengerikan. Semakin aku mendekat, Dol mengeong keras. Dan, betapa terkejutnya aku saat itu. Aku melihat pemandangan kepala tikus berserak di lubang tanah. Dengan mengabaikan rasa takut dan jijik, segera aku meraih tubuh Dol untuk membawanya masuk ke rumah. Beruntung, Dol tidak berontak.

Aku menceritakan kepada mama apa yang kulihat di belakang rumah. Rupanya selama ini Dol tidak memakan kepala tikus. Entah apa yang ada di pikirannya. Untuk apa coba selama ini dia melakukan itu? Mama akhirnya memberikan opsi padaku untuk membeli kandang dan mengurung Dol di sana. Karena aku juga tidak ingin Dol membuat masalah lagi, aku menuruti usul mama.

Malam hari, rupanya Dol kembali berulah. Kami dibuat tidak bisa tidur semalaman karena Dol terus saja mengeong sembari mencakar-cakar kandangnya. Akibatnya, mama dan papa memintaku untuk menyerahkan Dol agar diadopsi orang lain saja. Rasanya sedih, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kami sudah kebingungan bagaimana menghadapinya. Jadi, aku memutuskan menghubungi temanku. Dia seorang dokter hewan. Sejak saat itu, jika aku kangen pada Dol, maka aku akan ke pet shop milik temanku itu. Meski sikap Dol sudah benar-benar berubah, seolah tidak lagi mengenaliku, aku telah memastikan dirinya aman di rumah barunya. Setidaknya hal itu bisa membuatku merasa tidak begitu berdosa padanya.***

Sal Salbilah

Perempuan biasa yang suka melamun.

Curhat

Nasi Padang Paling Nikmat

Curhat Lituhayu

Setelah menidurkan anak lelakiku, aku menyusul suamiku di ruang tengah. Saat aku duduk bersandar di bahunya, dia sedang sibuk memencet-mencet tombol remot. Mungkin karena kesal tidak menemukan saluran televisi yang menarik, remot itu diserahkan padaku. Pilihanku berhenti pada layar yang menunjukkan acara kuliner.

“Halah, apa sih enaknya makan? Bikin tambah gendut kalau cara makannya begitu,” komentar suamiku saat melihat ada banyak sekali piring tertata di meja, sedangkan hanya satu orang saja yang akan mencicipi makanannya.

Aku tidak menanggapi omelan suamiku. Dia memang selalu begitu. Baginya, makan hanya sarana untuk memenuhi kebutuhan energi, tidak penting apakah makanan itu enak atau tidak. Bahkan, tidak harus selalu kenyang, yang penting ketika lapar, ya makan. Menariknya, sebanyak apa pun makanan yang ada di piring (jika tidak sedang sakit), pasti akan selalu tandas. Salah satu keuntungan juga, karena aku tidak terlalu pandai memasak. Tentu memiliki suami dengan sensitivitas indera perasa kurang baik seperti itu menjadi berkah tersendiri untukku. Beban pikiran untuk mendapat komentar pedas hampir tidak pernah ada.

“Ngomong-ngomong, lihat orang makan nasi padang, aku kok jadi kepengin juga,” kataku.

“Nah, buruan beli. Aku juga sudah lapar,” sahut suamiku.

Gegas aku mengeluarkan ponsel untuk membuka aplikasi pesan makanan. Cukup lama aku menghabiskan waktu scrolling. Dan pada akhirnya, aku memutuskan ingin langsung ke warung saja. Rasanya lebih puas jika aku bisa melihat dan memilih langsung.

“Lah, cepat sekali. Sudah sampai?” tanya suamiku saat melihatku beranjak dari sofa.

Aku menggeleng. “Mau langsung ke depan saja, Ayah mau lauk apa?”

“Ya sudah, ayo, bareng saja,” sahutnya.

“Anakmu kalau bangun gimana? Sudah biar aku saja. Nanti Ayah kutelepon ya, ada lauk apa saja.”

Suamiku menyerah. Dia tahu kalau urusan selera, aku setingkat lebih tinggi darinya. Jika ingin selamat dari komplain, memang sebaiknya dia mengalah.

“Yawis, hati-hati kalau begitu,” balas suamiku pasrah sembari memberi selembar uang lima puluh ribuan padaku. Aku menerima ulurannya. Spontan punggung tangannya diarahkan ke mulutku. Aku meringis.

Dengan mengendarai vespa milik suamiku, aku menuju warung nasi padang. Awalnya aku ingin ke tempat langgananku, tapi belum jauh aku berkendara, aku melihat warung di sisi sebelah kiri yang terlihat sepi. Aku memutuskan berhenti.

Seorang pegawai perempuan berhijab menghampiriku. “Dibungkus atau makan sini?”

“Dibungkus,” jawabku pendek. Aku menelepon suami untuk menanyakan lauk yang tersedia dan apa yang diinginkannya. Setelah itu, dua bungkus nasi telah siap. Gulai tunjang untukku, ayam goreng untuk suamiku.

Sampai di rumah, suamiku masih saja sibuk memainkan remot di tangannya. Aku menuju dapur mengambil dua piring. Suamiku menyusul untuk mencuci tangan. Kami sempat berdebat karena dia ingin makan di meja makan saja, sedangkan aku tetap ingin makan di ruang tengah agar bisa sambil menonton televisi. Tentu saja aku yang memenangkan perdebatan itu.

Suamiku telah mulai makan lebih dulu. Aku mencari-cari saluran dengan tangan kiri dan pilihanku jatuh pada acara komedi. Sepertinya gabungan antara ajang pencarian bakat dan stand-up comedy. Salah satu yang berperan sebagai juri adalah Deddy Corbuzier. Kontestan yang muncul pertama adalah Uus bersama rekannya. Atraksi panggung yang mereka suguhkan adalah menyanyi diiringi gitar akustik. Sesekali, riuh tawa penonton terdengar. Aku pun turut tertawa kecil.

“Kenapa ya, aku selalu nggak bisa ikut ketawa lihat begituan?” Suamiku menggumam. Mungkin sebenarnya hanya ditujukan untuk dirinya sendiri.

Empuknya gulai tunjang, serta kuah berempah dengan tambahan bumbu rendang dan serundeng membuatku tidak berhenti menyuapkan nasi ke mulut. Begitu pun suamiku.

“Selera humorku terlalu tinggi kayaknya. Menuntut harus selalu lebih,” lanjut suamiku.

Aku tidak menanggapi ucapannya. Tetap makan dengan lahap, juga tetap menonton acara itu, termasuk ikut tertawa bersama penonton di studio. Sedangkan suamiku, bertahan dengan teguh menampilkan ekspresinya yang datar itu.

Pernah suatu kali kami menonton acara yang berisi cuplikan-cuplikan video lucu. Entah menampilkan seseorang yang jatuh karena ulahnya sendiri. Seseorang dengan mimik wajah terkejut yang sangat menggelikan. Atau sekelompok orang sedang berjoget lucu diiringi lagu viral. Aku sering dibuat terpingkal-pingkal hingga sakit perut. Tidak jarang sampai keluar air mata. Dan suamiku, tetap saja datar. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala, atau malah tersenyum mengejek melihat reaksiku.

Kadang aku menuduhnya sedang akting. Mengatakan padanya kalau sebenarnya dia ingin ikut tertawa, tapi gengsi, jadi lebih memilih menahan diri. Lalu suamiku menjawab tegas kalau itu tidak benar. Kenyataannya memang begitu. Ekspresi yang ditunjukkannya alami dan tanpa dibuat-buat.

Pernah juga, saat kami berdua menonton pertandingan badminton, aku berteriak semangat saat menyaksikan perang smash antar kedua lawan, lalu memekik girang saat poin berhasil diperoleh atlet Indonesia. Sedangkan suamiku, hanya terlihat sesekali tersenyum. Terkadang malah meledekku, mengatai aku lebay. Kalau sudah begitu, biasanya ada dua respons yang kutunjukkan. Pertama diam saja, tetap santai menonton tanpa memedulikan komentarnya. Kedua kutanggapi, entah dengan pura-pura jengkel atau balik meledek. Respons apa pun yang kupilih, ada kalanya malah bisa membuat suamiku tiba-tiba tertawa lepas, memperdengarkan suara khasnya yang besar itu.

Sebenarnya, menonton televisi hanya salah satu cara kami menikmati kebersamaan. Aku tahu meski suamiku tidak tertarik dengan tontonannya, dia tetap mau menemaniku. Termasuk saat dia sedang asyik menonton film yang mungkin saja aku tidak suka, tapi aku tetap menemaninya. Kadang ada sesuatu, entah candaan atau bahasan yang tiba-tiba muncul di sela-selanya. Itulah yang membuatku merasa tidak diabaikan dan betah berlama-lama duduk menonton televisi bersama suamiku.

“Gimana, enak tidak?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan. Suamiku hanya mengangguk.

“Kapan-kapan kita makan langsung di sana saja ya. Tempatnya sepi, bersih, jual teh talua juga. Tadi aku ingin bungkus, tapi mana enak minuman begitu dibungkus,” lanjutku panjang lebar yang dibalas dengan satu kata saja oleh suamiku, oke.

Aku kembali menikmati makananku yang hampir habis. Sesekali aku melirik ke arah suamiku. Tersenyum melihatnya kepedasan karena tadi aku lupa mengatakan pada mbak-mbaknya untuk menaruh sedikit saja sambal pada bungkusan suamiku. Aku agak menyesal, tapi aku diam saja. Sengaja, barangkali sebentar lagi akan ada omelan kecil dari mulutnya. Tapi sampai suapan terakhir, meski butir-butir keringat membasahi keningnya, tidak ada kalimat apa pun yang terlontar. Hal seperti itu justru menunjukkan ekspresi yang paling ekspresif dari suamiku.***

Lituhayu

Ibu rumah tangga

Curhat

Lorong Kesadaran

Curhat M.A. Edpe

Jika aku mengaku sebagai seorang disabilitas mental atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), apakah kalian percaya? Mungkin sebagian orang tidak akan percaya bahwa aku adalah bagian dari mereka. Dilihat dari ciri fisikku yang terlihat seperti orang pada umumnya, bisa berkomunikasi dengan cukup baik, serta pakaian yang tidak compang-camping seperti ODGJ yang sering berkeliaran di jalanan. Sebelum aku bercerita tentang pengalaman sebagai ODGJ, aku ingin menjelaskan sedikit tentang disabilitas mental.

Menurut undang-undang No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, disabilitas mental merupakan gangguan fungsi pengendalian emosi dan atau perilaku. Dikutip dari Halodoc, gangguan kesehatan mental merupakan gangguan kesehatan yang dapat memengaruhi pola pikir, emosi, dan perilaku seseorang. Menurut WHO (2022), gangguan kesehatan mental dicirikan dengan kondisi kombinasi abnormal pada pikiran, emosi, perilaku dan hubungan dengan orang lain. Contohnya adalah gangguan kecemasan, depresi, gangguan bipolar, gangguan stress pascatrauma, skizofrenia, gangguan makan, perilaku mengganggu dan gangguan disosialisasi, serta gangguan perkembangan saraf.

Akhir bulan Februari tahun 2022, beberapa hari menjelang ulang tahun ke 27, aku menunjukkan gejala yang tidak normal. Hampir satu hari penuh tidak tidur, emosi yang tidak terkontrol, bicara yang tidak runut dan terstruktur, serta mengalami delusi. Saat itu aku di basecamp, tempat tinggal yang disediakan oleh tempat kerjaku di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Surakarta. Hari itu seakan melambat bagi teman-teman yang datang ke sana, sebab harus menghadapi kelakuan tak wajarku. Dariyanto, Wachid, dan Maulana adalah saksi hidup yang melihat serta menceritakan padaku setelah beberapa bulan.

Bagong dan Ronggo datang malam hari ke basecamp untuk melihat kondisiku, mereka datang setelah ditelepon oleh Daryanto. Setelah ajakan yang cukup alot, akhirnya malam dini hari di awal Maret, aku mau dibawa ke Solo, alasannya jalan-jalan.  Aku baru tahu saat tiba di lokasi bahwa aku dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta. Spontan aku mengucap, “Jancok, aku dibawa ke RSJ, dikira aku gendeng!”

Menurut penuturan Ronggo, Aku tidak bisa masuk menjadi pasien saat itu karena bukan keluarga yang membawa ke sana. Peraturan mewajibkan untuk mendapatkan rekomendasi dari salah satu keluarga agar aku bisa dirawat inap. Akhirnya aku hanya diberi obat penenang dan dibawa ke kantor yang letaknya di Karanganyar.

Sempat dapat beristirahat sejenak, gejala yang aku alami di Klaten kembali lagi, meracau tidak jelas, membuat keributan di kantor. Ada beberapa bagian cerita yang tidak aku ingat, semuanya blank. Menurut cerita bosku, seorang praktisi kesehatan mental kenalan dari bosku didatangkan. Ia mengajak berbicara dan menemani apapun kegiatan yang aku lakukan. Dari hasil pengamatannya dan persetujuan keluargaku, akhirnya aku dirujuk ke RSJD Surakarta. Hari-hari berat harus kulalui di sana, tiga kali sehari harus minum obat dan tidak boleh dijenguk karena masih waspada dengan pandemi Covid. Bahkan aku merasa seperti robot, badan kaku semua.

Setelah melewati proses pengobatan selama kurang lebih tiga minggu, dokter mendiagnosaku sebagai orang dengan skizofrenia. Kau tahu apa pertama kali yang muncul dipikiran aku? “Betapa keren nama penyakitku ini.” Setelah keluar dari rumah sakit, aku mendapat obat untuk 10 hari dan kembali lagi untuk kontrol. Setelah kontrol selesai, satu hari sebelum puasa, aku diantarkan pulang ke Mojokerto oleh Bagong, Daryanto, dan Ronggo. Orang tua sangat terkejut melihat kondisiku, ibuku berkata bahwa aku tidak seperti diriku sebelumnya, pandangan mata sayu dan fisik yang tidak normal-bergerak seperti robot.

Selama bulan puasa aku minum obat sebelum sahur dan saat berbuka, secara rutin tanpa putus. Setiap jam 9 pagi, ditemani ibuku, aku keluar rumah untuk bergerak, menghirup udara pagi dan yang paling penting adalah terkena sinar matahari. Orang tuaku meyakini bahwa dengan terpapar sinar matahari bisa membantu proses penyembuhan lebih cepat.

Setelah hari raya, Ibuku bercerita bahwa dulu setelah melahirkan kakakku yang pertama sekitar tahun 90-an, pernah mengalami gangguan mental. Mungkin orang sekarang menyebutnya sebagai baby blues syndrome. Di lain kesempatan, Bapak bercerita bahwa saat itu belum ada psikiater di kota kecil kami, adanya dokter umum. Ibuku diberi obat untuk meredakan gejala gangguan kesehatan mentalnya, tetapi ia memutuskan untuk tidak lagi minum obat. Dengan tetap hidup bersosial, bertemu dengan teman-temannya, berangsur-angsur keadaannya membaik. Sampai saat ini penyakit Ibu tidak pernah kambuh. Bapak dan Ibu memintaku untuk tidak meminum obatnya, diganti dengan minum degan ijo atau kelapa wulung saja.

Suatu ketika kawanku KKN menjenguk di rumah, Cahyo beserta istrinya dan Puput memberiku motivasi. Selain itu ada tukang pijit yang memberi saran untuk mandi wuwung-mandi jam 5 pagi sisa air bak semalam. Setelah beberapa hari tidak minum obat dan memilih untuk minum degan ijo, keajaiban Tuhan datang padaku. Aku tidak tahu mana yang menjadi lantaran aku sembuh. Tiba-tiba aku kembali seperti semula, bisa bergerak normal tidak seperti robot, dan wajah yang memancarkan kecerahan. Di situlah aku memutuskan tidak minum obat lagi. Aku takut ketergantungan terhadap obat, dan masih denial bahwa kejadian kemarin adalah faktor obat (Ibuprofen) dan kopi yang aku minum sehari sebelum kejadian.

Setelah kembali ke kantor, aku belum dilibatkan dalam pekerjaan berat seperti pendampingan di lapangan. Orang-orang masih takut untuk melepaskanku kembali bekerja seperti dulu. Singkat cerita, Februari-Juni 2023 aku mulai turut dalam kegiatan pemetaan di Klaten. Kepercayaan diriku muncul kembali, aku bisa melakukan tanggung jawab yang diberikan. Mulai cukup nyaman aku di sana. Rentang bulan tersebut, aku berkonsultasi dengan seorang hipnoterapi untuk mengatasi masalahku. Selang beberapa waktu itu juga aku meminta tolong kepada teman untuk menjadi Caregiver-orang yang merawat orang lain yang memiliki keterbatasan untuk merawat diri sendiri, baik sebagian atau keseluruhan, karena keterbatasan fisik atau mental. Hal ini aku lakukan karena melihat informasi di internet bahwa Skizofrenia bisa kambuh sewaktu-waktu.

Sekitar awal Juli 2023 aku dipindahkan ke Wonosobo, aku sangat ingin ke sana membantu kegiatan teman-teman di kantor cabang tempatku bekerja. Ada salah satu senior yang aku rasa cukup dekat dan itu menjadi alasanku mau dipindahkan ke sana. Aku merasa sudah baik-baik saja saat itu. Namun, akhirnya nasib berkata lain, hampir masuk akhir Agustus, seniorku diterima di Bawaslu Pekalongan. Aku mendapatkan limpahan pekerjaan yang ditinggalkannya. Aku juga merasa seperti ditinggalkan begitu banyak masalah. Awalnya aku menerima dengan lapang dada, namun entah kenapa ada perasaan yang begitu mengganjal dan terpendam.

Singkat cerita, seperti menyimpan bom waktu, kemarahanku meledak saat aku berada di kantor pusat pada 24 November 2023. Dengan sangat sadar, semua orang yang mendekat kumaki-maki, aku seperti menjadi orang lain, atau ini memang diriku yang lain. Saat itu, ada dua temanku namanya Imam Fathori alias Bejo dan Hanung. Mereka menjadi saksi dari beberapa hari sebelum kejadianku kambuh, hingga aku dibawa ke RSJD Surakarta untuk kedua kalinya,

Sebelum kambuh, aku seperti sudah memprediksi akan kembali ke RSJD lagi. Walaupun digiring secara paksa, dengan tangan diborgol, aku masuk ke dalam mobil. Jika Bejo tidak meredam amarahku dengan ikut masuk ke mobil, aku mungkin akan melakukan perlawanan yang brutal.

Aku masuk kembali ke RSJD dengan kesadaran penuh, dalam arti menerima bahwa memang kondisiku tidak baik-baik saja. Sangat berbeda dengan kejadian yang pertama. Di bangsal perawatan hampir setiap hari aku berkaraoke, menghibur pasien lain dan juga mantri jiwa-perawat. Aku minum obat dengan teratur, berkomunikasi dengan mahasiswa magang, membantu pasien lain yang kondisinya lebih parah dariku, dan konsultasi dengan dokter.

Setelah dirawat selama 3 minggu, diagnosa dokter adalah Bipolar, berbeda dengan dokter yang kejadian pertama. Implikasinya obat yang aku minum berbeda dengan obat yang dulu tahun 2022 diberikan. Sampai detik ini aku berusaha untuk minum obat dengan rutin, kontrol setiap bulan ke RSJD, dan menjaga diri untuk tidak kambuh lagi. Kambuh ternyata merepotkan banyak orang, dan aku membenci itu.

Isu kesehatan mental mungkin masih menjadi hal yang dianggap tidak penting dan belum dipahami oleh banyak orang.  Keterbatasan pengetahuan dan stigma soal orang dengan gangguan jiwa sama dengan ‘gila’ masih mengakar kuat yang menjadi penyebabnya. Aku pernah bertanya pada diriku sendiri, “mengapa aku mengalami ini?” Ternyata, setiap orang, siapapun itu bisa mengalaminya. Setidaknya, semoga tulisan ini bisa menggerakkan orang lain untuk tertarik dengan isu kesehatan mental. Sehat secara fisik belum tentu dibarengi dengan sehat jiwa, maka mari bersama-sama untuk aware dengan masalah ini. Salam sehat jiwa.

Palur, 2024

M.A. Edpe

Leleki sederhana penikmat gerimis dan suka bernyanyi.

Curhat

Bermain Korek Api

Curhat Dhatu Jenar

Hari ini, setelah lebih dari 14 hari usai membaca satu tulisan di kolom Curhat media sastra Nomina, aku memutuskan menulis juga. Bagiku, iming-iming dari redaktur: apresiasi karya hanyalah “pemuatan”, sangat keren. Bagaimana tidak, aku bisa bercerita tentang apa pun: yang kulihat, kurasa, kupikir, bahkan kulakukan, tanpa harus terselip beban bahwa tulisanku haruslah “nyastra”. Jadi, meski karyaku belum tentu lolos kurasi, rasanya bukan hal berlebihan jika aku tetap ingin menyampaikan terima kasih kepada redaktur. Bilik khusus yang sengaja diciptakan ini, sangat berarti bagi orang berkebutuhan khusus sepertiku, perempuan pendiam yang tak mudah percaya orang lain, tapi ingin tetap waras.

Sebelum mulai, aku akan membuat sebuah pengakuan: nama yang kucantumkan hanyalah nama samaran. Jika hal itu tidak dianggap penting, tidak apa-apa. Menurutku, ini adalah cara menghargai diriku, juga menghargai siapa saja yang kelak membaca ceritaku. Kuharap, hal itu bisa dimaklumi. Aku akan mudah bercerita setelahnya, seperti merasa tidak berdosa karena itu.

Lima hari lagi, aku akan bertunangan. Lalu, sebulan setelahnya, aku akan menikah. Menurut teman-teman dan keluarga, aku termasuk perempuan beruntung. Di usiaku yang ke-25, aku sudah menyandang gelar magister dan langsung diminta bekerja sebagai dosen di kampusku dulu. Pria yang akan menikah denganku juga pacar yang telah membersamaiku sejak 5 tahun lalu. Bisa dibilang, kami berdua telah mapan dan dianggap siap untuk berumah tangga. Terlihat cukup menyenangkan, bukan? Sepertinya begitu, jika saja tadi sore aku tidak bertemu dengan R, lelaki yang dulu pernah sangat kusayangi, jauh sebelum aku mengenal pacarku.

Kata orang, sebelum menikah, orang-orang di masa lalu akan hadir kembali untuk menguji seberapa tangguh dirimu. Mungkin memang tidak bermaksud merusak sebuah hubungan, tapi bagi jiwa yang lemah sepertiku, hal itu bisa sangat mengganggu, bahkan berhasil membuatku sempat berpikir ulang. Apakah keputusanku untuk segera menikah sudah tepat? Ah, sepertinya aku memang sedang benar-benar diuji. Aku selemah itu. Sampai-sampai cinta pertamaku saat SMA, berhasil membuat perasaanku berantakan.

Sore tadi, sepulang mengajar, aku menyempatkan mampir ke kafe tidak jauh dari kampus. Sembari menunggu pesanan kopi dan croissant-ku diantar, aku menekuri ponsel di tangan. Seseorang mendekat dan memanggil namaku. Aku ingat suara itu, bahkan selama beberapa detik aku belum berani mengangkat wajah untuk memastikan siapa pemilik suara itu.

“Ya, aku tidak salah. Tentu saja itu kamu,” katanya lagi.

Meski jantungku barusaja berhenti, dan kini mulai memompa jauh lebih cepat dari sebelumnya, aku memantapkan hati menatap wajahnya. Benar, dia R, lelaki yang pernah meninggalkanku pergi begitu saja. Jarak. Sesuatu yang sejak diperkenalkan R padaku, sejak itu pula aku menjadi sangat membencinya.

“Apa kabar?” tanya R basa-basi. Atau memang bukan sekadar basa-basi. Kami sudah lama sekali tidak bertemu, tentu saja pertanyaan itu sangat wajar terlontar. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.

R bercerita panjang tentang kegiatannya saat ini. Ia memutuskan pulang dari luar negeri, dan menggunakan tabungannya untuk membangun perusahaan miliknya sendiri. Rupanya ia sudah hampir setahun di kota ini, tapi Tuhan baru mempertemukan kami sekarang. Betapa ajaibnya. Termasuk reaksi tubuhku terhadap R. Suaranya membuatku seolah kembali ke masa itu. Masa-masa di mana aku menghabiskan tiga tahun belajar di SMA dengan penuh warna.

Seorang waitress mendekat, meletakkan pesananku di atas meja. Membuyarkan lamunan yang sempat membawaku seperti jet, kembali dari masa lalu. Aku menawarkan R untuk memesan sesuatu, tapi ia tolak. R menjelaskan kalau barusaja ia selesai meeting bersama klien.

“Lama sekali ya kita nggak ketemu? Kamu masih tetap sama seperti dulu. Irit bicara.” R berkomentar sembari mengeluarkan tumbler hijau tua dari dalam tasnya.

Ya Tuhan, tumbler itu pemberianku. Apa yang ada di pikiran lelaki itu dengan masih menyimpannya, bahkan tetap menggunakannya. Aku merutuki diriku sendiri karena menganggapnya istimewa. Bisa saja tumbler itu hanya mirip. Lagipula barang itu bukan sesuatu yang eksklusif, hingga hanya aku saja yang pernah memilikinya untuk kuberikan pada R.

“Awet ya, ini tumbler pemberianmu,” kata R usai meneguk sedikit air dari tumbler.

“Kenapa kamu masih menyimpannya?” tanyaku yang sesaat kemudian kusesali. Seharusnya aku tidak perlu membahas sesuatu yang sangat sentimentil begini.

“Tidak hanya tumbler, hampir semua barang pemberian darimu masih kusimpan. Termasuk kenangan-kenangan bersamamu.”

Nah, kan. Mampuslah aku yang tidak bisa menutupi rasa canggung. Lelaki itu memang benar-benar membuatku tidak nyaman. Beruntung ponselnya tiba-tiba berdering, jadi aku bisa sedikit leluasa untuk menguasai perasaan dan diriku kembali. Setelah R mengakhiri telepon, buru-buru dia pamit karena harus segera kembali ke kantornya. Ia juga mengatakan kalau akan menghubungiku lagi nanti.

Sesampainya di rumah, grup WhatsApp alumni SMA yang sebelumnya kuarsipkan, kini kembali kubuka. Aku tidak berminat untuk menyimak ribuan percakapan yang selama ini terlewat kuikuti. Entah, aku hanya tiba-tiba ingin mencari nomor kontak R. Berhasil. Aku menemukannya. Cukup lama aku hanya memandangi jendela chat kosong tanpa percakapan itu. Hingga tiba-tiba terlihat keterangan “mengetik”, membuatku terkejut dan buru-buru keluar dari beranda chat kontaknya.

Hai, sudah sampai rumah?

Kuharap kita bisa bertemu lagi besok sore di kafe.

R

Aku tidak langsung membuka pesannya. Hanya membaca lewat notifikasi yang sempat terbaca. Ini benar-benar konyol. Aku salah tingkah. Perasaanku tidak keruan. Ada rasa senang, sekaligus bimbang. Merasa ada sesuatu di masa lalu yang belum benar-benar tuntas. Ada hal yang ingin kupastikan, dan rasa penasaran itu tidak bisa kukendalikan.

Foto pacarku muncul di layar. Setelah dering ke-3, aku menjawab panggilannya. Dia mengingatkanku untuk menemaninya ke rumah eyang sepulang kerja. Sejenak aku berpikir.

“Sayang, kamu kenapa?” tanya pacarku.

“Ah iya, aku lupa. Apakah bisa lusa saja? Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku agar bisa tenang menjalani cuti,” jawabku berbohong. Ini adalah kali pertama aku membohonginya. Bodohnya, hanya karena terngiang pesan R yang sempat kubaca tadi. Aku cemas menunggu respons pacarku. Ketika dia tidak mempermasalahkan, aku menjadi sangat lega. Lalu dia pun mengakhiri telepon sesaat setelah mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku. Aku membalasnya dengan kalimat yang sama.

Setelah itu, aku kembali membuka pesan WhatsApp. Tanpa ragu aku membuka pesan R, lalu mengetik sebuah balasan, Oke. Sampai jumpa besok sore. Usai menekan tombol kirim, aku meletakkan ponsel di atas nakas. Apakah aku jahat? Apakah ini termasuk sebuah pengkhianatan? Jika benar begitu, bolehkah aku khilaf sekali saja? Aku benar-benar merasa perlu untuk menyelesaikan masa laluku. Hanya itu. Aku yakin hanya akan seperti itu. Tidak lebih.

Aku meraih kembali ponselku. Mencari kontak pacarku dan mengetik sebuah pesan untuknya, Sayang, izinkan aku selingkuh sekali saja, ya? Ada sesal di hatiku. Tapi aku berusaha mengabaikannya. Setelah membaca berulang kali pesan itu, aku memutuskan untuk menghapusnya. Meletakkan ponselku di atas nakas, lalu menuju kamar mandi. Berharap guyuran air dingin akan mengembalikan kesadaranku.***

Dhatu Jenar

Perempuan penyendiri yang suka buah duku.

Ragam

JANJI DAN SELERA

Sabtu, bukan hari yang istimewa bagi orang yang tidak bekerja. Aku tidak bakal menerima gaji. Aku tak mengalami “liburan” setelah setiap hari libur. Hari-hari yang bernama tapi sering biasa-biasa saja. Sabtu, 26 Oktober 2024, aku masih di rumah: membuka buku-buku lawas dan mengetik tulisan yang ditakdirkan tidak bermutu, yang hanya dijanjikan mendapat sebelas pembaca sepanjang masa. Namun, aku belum ingkar janji untuk menulis hal-hal yang tidak bermutu, yang tidak dikehendaki langit dan bumi.

Mengetik itu membutuhkan kekuatan tapi tidak seperti penanam padi, pemasang bata, atau penyapu jalanan. Aku pun berkeringat, yang dijawab dengan minum air putih beberapa gelas. Pernah terpikirkan: makanan dan minuman menentukan mutu tulisan yang sedang diketik. Pagi, aku sarapan berisi nasi, sayur sop, dan tempe. Makanan yang cukup memberi kekuatan. Aku tidak ingin menyia-nyiakannya. Maka, aku mengetik dan mengutip kalimat-kalimat dari buku lama, buku-buku yang makin kehilangan pembaca.

Pagi, jadilah satu tulisan yang berjudul “Irama (Sejarah) 1928”. Hari agak siang, aku tidak ingin menghabiskan kekuatan sarapan cuma dengan mengetik. Di atas Supra, aku menyerahkan diri kepada matahari. Di jalan, aku menyerap asap. Perjalanan, dari rumah menuju Gladag (Solo), memberi sedikit hiburan. Peruntungan tidak bisa ditebak bagi orang yang masih mau mendatangi buku-buku atau majalah-majalah lama. Perjalanan ke bacaan.

Pedagang-pedagang yang masih menata buku dan majalah. Ada yang sudah rampung, mengelap keringat. Ada yang duduk merasakan lelah, yang datangnya terlalu cepat saat hari belum siang sempurna. Aku berbincang dengan pedagang, yang baru saja terbangun dari tidur. Wajah yang lelah. Namun, ia mudah bergairah membagikan cerita-ceritanya pada masa lalu. Yang disampaikan padaku: peristiwanya mendapat sekarung dagangan yang menggemparkan. Ia mendapat buku-buku Pramoedya Ananta Toer dan majalah-majalah masa pendudukan Jepang. Dagangan yang dibeli dengan harga murah. Yang dijual dengan harga berjuta-juta. Ia terlalu beruntung. Aku mendengarnya sambil melihat matanya yang berduit. Pembayangan saja gara-gara masa sekarang sulit mendapatkan dagangan yang “sakti” atau “bergizi”. Menjual buku atau majalah pun susah. Gladag yang makin sepi. Tempat itu murung seperti diriku yang sering murung.

Semula, aku berjanji hanya ingin melihat pemandangan buku dan majalah. Ikhtiar agar tidak mengikuti nafsu: insaf kondisi duit di kantong celana. Tiga kios berhasil didatangi dan ditinggalkan, tidak membeli apa-apa. Mataku sudah senang memandang. Tanganku telah bergirang dengan sentuhan-sentuhan.

Di kios berikutnya, aku menyerah. Nafsu itu membara ketimbang sinar matahari yang menerobos kios-kios. Pedagang yang terlalu bersemangat menawarkan dagangan. Ia mengabarkan ada majalah-majalah Concept. Aku mengetahui itu majalah unik. Perayaan desain! Gagal membeli empat majalah Concept. Yang tiba-tiba terjadi adalah tumpukan tiga bundel majalah. Bundel masih menyisakan tanah-tanah mengering.

Aku membukanya sejenak. Mata lekas sadar. Wah, majalah berselera! Maksudku, yang ada di hadapanku adalah beberapa edisi majalah Selera masa 1980-an. Aku harus memilikinya. Aku ingin membawanya pulang. Beberapa hari sebelumnya, aku sudah menumpuk puluhan buku lawas bertema pangan (makanan). Niatku membuat ratusan tulisan bertema pangan mengikuti arus kekuasaan Prabowo-Gibran. Penguasa yang memerintahkan pemberian makanan bergizi gratis untuk jutaan orang di Indonesia, yang bakal membuat pengeluaran besar: triliunan.

Selera, majalah yang wajib dibaca dan digunakan dalam menghasilkan tulisan-tulisan. Dulu, majalah itu diterbitkan di naungan Gramedia. Aku sudah memiliki puluhan edisi, sejak beberapa tahun lalu. Majalah yang apik pada masanya, yang tidak dapat berumur panjang. Yang diulas dalam majalah adalah upaboga. Aku senang dengan pengisahan para tokoh dan makanan. Ada rubrik kebahasaan. Yang tidak boleh dilewatkan kehadiran cerita pendek bertema pangan, yang sering tampil adalah gubahan SNG. Sosok yang menjadi pemimpin redaksi Selera, yang rajin menulis cerita.

Aku pun memiliki buku-buku SNG, yang mendokumentasi resep-resep makanan warisan keluarga besar RA Kartini. Ada juga buku besar mengenai upaboga, yang bersifat ensiklopedia. Buku kumpulan cerita pendek juga sudah aku khatamkan. SNG, sosok yang membuatku penasaran: ingin mengetahui biografinya. Yang ingin aku tulis tentu predikatnya sebagai pengarang “kuliner” yang tekun dan istikomah di Indonesia. Nama yang belum sering diulas atau digosipkan dalam sastra Indonesia.

Aku membatin perkiraan harga tiga bundel majalah Selera. Suami-istri yang menunggu kios itu malah ribut. Mereka rapat dulu dalam penentuan harga. Wajahku menunduk merasa takut harga bakal mahal. Rapat itu berbahaya! Sekian detik berlalu. Harga sudah ditentukan dengan mufakat tak boleh ada bantahan atau interupsi. Rapat yang sederhana dibandingkan rapat di gedung parlemen atau istana kepresidenan. Yang diucapkan: 20 ribu tiap bundel. Tuhan, telingaku tak salah dengar. Aku bersumpah tidak menawar.

Selembar merah diberikan dengan tangan yang agak gemetaran. Pedagang yang wajahnya semringah. Menanti uang pengembalian. Pedagang itu menawarkan untuk membersihkan tanah-tanah yang menempel di bundel majalah. Aku bilang tidak usah. Namun, ia tetap membersihkan: tanda syukur mendapatkan rezeki. Aku malah kalah dalam bersyukur. Seharusnya, aku yang lebih bersykur. Ia berkata: tiga bundel itu diperoleh pagi. Hari agak siang sudah terbeli olehku. Pedagang yang merasa senang, tidak perlu menunggu waktu seribu hari untuk mendapatkan untung. Pasti harganya murah saat ia membeli di penampungan rongsok atau bakul bronjongan. Namun, aku yang sesumbar bahwa harga yang diberikan itu (terlalu) murah untuk aku bisa membaca dan memenuhi janji membuat ratusan tulisan.

Siang itu aku berkeringat dan kecut. Hariku berselera! Aku tak bakal malu dengan kemproh dan kecut. Di kresek besar, tiga bundel Selera menjanjikan hari-hariku berpikiran mengikuti lakon besar makanan bergizi gratis di Indonesia. Aku tidak lekas pulang, mampir dulu bertemu dan belajar bareng murid-murid SMP. Di situ, aku sedikit berkelakar tentang makanan, yang memberi hukuman-hukuman besar dalam kehidupan. Makanan yang dianggap menghidupkan justru mematikan. Kelakar yang keji tapi para remaja itu segera paham tentang dampak-dampak industri makanan mutakhir.

Di rumah, aku bergairah membaca pengalaman makan Sutan Takdir Alisjahbana, JS Badudu, dan Umar Kayam. Aku membaca lomba mengenai padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk kata-kata asing dalam pangan atau gastronomi. Di situ, ada juri yang dikenal sebagai pakar bahasa Indonesia: Anton M Moeliono.

Yang membuatku sedih: pengalaman makan terbatas. Aku jarang mengetahui warung atau restoran. Sejak lama, aku takut jajan atau ngiras. Padahal, halaman-halaman Selera mengajak pengembaraan upaboga di pelbagai pulau di Nusantara. Godaan mengetahui upaboga di dunia.

Majalah yang wajib dipelajari dan dikoleksi. Aku yakin banyak orang yang akan tercengang atau geleng-geleng kepala membaca pengetahuan upaboga-gastronomi-kuliner-pangan yang termuat dalam Selera. Bacaan yang benar-benar berselera, berbeda dengan jengkelku mengetahui acara-acara kuliner di televisi dan persaingan orang makan di media sosial. Berjumpa dan membaca Selera membuat murung mungkin berkurang tiga derajat.I Kabut